gimme the F-I-N-A-L,
FINAL CHAP!!
-teriak ala cheerleader-
final chapter...
aduh, jadi terharu...
:')
standard disclaimer applied
WARNING
OC,
OOC,
fluff,
pairing,
and so many things I coldn't even list...
langsung sajjjaaaaa.
XDD
Sosok pria itu hanya terdiam.
Kadang tersenyum.
Di hadapannya, terlihat 3 bentuk yang sangat berharga baginya. Mungkin tidak pernah ia sebutkan secara nyata—kita semua tahu ia terlalu 'tinggi' untuk melakukan hal semacam itu—tapi hal itu sangat ia sadari dan yakini. Sulit mengatakannya. Bagaimana perasaannya pada seorang wanita. Bagaimana pentingnya ia dan 'malaikat-malaikat' kecilnya.
Damn..., it's so hard for me to say...
Secret feelings lock away...
Bagaimana nafasnya akan tertahan di berbagai kesempatan. Seperti saat-saat yang spesifik berikut;
Saat ia terbangun pada malam hari, hanya untuk mendapati seorang wanita sedang menggendong seorang bayi—atau malah dua—di pelukannya.
Saat ia berjalan masuk rumah untuk menerima sambutan selamat datang dari wanita tadi, dan mendengar ceritanya soal bayi-bayi di hari itu.
Saat ia akan menjalankan sebuah misi, dan ada satu tangan lembut yang mengelus lengannya dan kata 'hati-hati' atau 'aku menunggu'.
Tidak, bukan aku menunggu.
Tapi kami menunggu.
Dan si pria kembali tersenyum.
Heaven knows I always felt so much for you...
"Sasuke-kun, sarapan sudah siap.."
"Baik, apa yang ingin kau tanya, teme?", pria pirang bertanya dan menatap serius pada sosok sahabatnya.
"Hn.", Uchiha Sasuke menghela nafas, "Tidakkah kau merasa ada yang aneh pada- err.. 'hubungan'..-ku dan Sakura?"
Uzumaki Naruto menatapnya dengan sebelah alis terangkat dan gelengan kepala. "Tidak ada."
Kali ini Sasuke yang menatap heran, "Benarkah?"
Naruto mengangguk lagi. "Kecuali..., kenyataan kalau kau dan dia sudah mempunyai dua anak dan tinggal serumah selama empat bulan tapi tidak ada kejelasan status."
"Untuk sesaat, kau terdengar pintar, dobe.", Sasuke merasa sedikit terhina. "Menurutmu aku harus bagaimana?"
"Melamarnya."
Dead silent.
"Memang salah bertanya padamu.", Sasuke mendengus.
"Kenapa, teme?? Oh, ayolah! Jangan bilang kau tidak paham?? Kau dan Sakura saling mencintai dan bahkan sudah punya anak!! Dua!!", Naruto mengedepankan kedua jarinya. "Sudah seharusnya kalian menikah! Atau kau..."
Sasuke melirik tajam, "Apa?"
"Kau takut...?", Naruto mengakhiri kalimat dengan senyum mengejek.
Sasuke menghela nafas—kali ini untuk menahan amarah, "Tidak."
"Kau tidak punya ide bagaimana akan melamarnya??", Naruto tidak mendapat jawaban, "Gampang! Kau tinggal pergi membeli cincin dan bunga, pulang dan bertanya 'Sakura, maukah kau menjadi istriku?', yang, aku harus bilang, sudah sangat jelas terlihat seperti itu."
I'm not that romantic...
Even worse I'm sarcastic...-
"Hn, dobe."
-...sometimes
-
-
Sasuke memutuskan untuk meninggalkan Naruto dan 'ide bodohnya'.
Dia tidak usah bertanya pun, Sakura sudah mengiyakan menjadi istrinya!...kan?
Tanpa ia sadari, dua tangannya terkepal. Tidak pernah ia sebingung ini. Hanya karena persoalan sepele.
Menikah.
Hah, tanpa cincin pun bisa.
Benar kan...?
Sekali lagi Sasuke menghela nafas. Seharian ia kembali menggeser harga dirinya. Ya, mungkin secara tidak sadar pula. Setiap ia bertemu orang yang ia kenal, ia akan bertanya soal ini. Dan semua mengatakan hal yang sama.
Sekarang ia berpikir Naruto telah menghasut semua orang untuk berkata sama.
Atau mungkin itu memang harus ia lakukan...
"Selamat datang, Sasuke-kun...!", Sakura muncul dari dapur.
"Hn."
"Kau ke mana saja?? Aku sedang menyiapkan makan malam... Tapi aku hanya memasak sup. Ryuu dan Ichigo tidak bisa diam setelah mereka bisa berbalik sendiri... Aku takut mereka berguling dan jatuh.", Sakura menghampiri crib di tengah ruangan.
Sasuke memperhatikan Sakura yang mengangkat Ryuu. "Hn... Berjalan-jalan..."
"Benarkah??", Sakura membenarkan posisi sarung tangan Ryuu—ia sudah mulai menggigiti boneka di sarung tangan itu. "Kenapa kau tidak mengajak kami...?"
Tubuh Sasuke menegang, mengingat apa yang orang-orang bilang padanya hari ini. "Hn..."
And now it's time I tell you this...
Sakura tersenyum, "Ya sudah, aku akan memandikan Ryuu dulu. Jaga Ichigo ya?"
Dengan itu, Sakura berlalu ke kamar bayi.
Sasuke mendekati anak perempuannya yang telungkup dengan kepala menyamping. Ketika ia melihat sang ayah, ia memukul-mukulkan tangan kecilnya dan mengeluarkan suara 'pffa!' ke arah Sasuke. Isn't that just adorable...?
Dengan kedua lengan, Sasuke mengangkat Ichigo. "Kau bermain apa saja dengan ibu...?", ia bertanya pada sang bayi.
"Chaa.", Ichigo mendekatkan tangan ke mulut mungilnya.
Sasuke tersenyum.
What's always been my only wish...
-
-
Makan malam yang mengerikan.
Setidaknya itu yang dipikirkan Sasuke.
Bukan makanannya tidak enak.
Atau Ryuu – Ichigo terus menangis.
Tidak, bukan itu.
Tapi suasana tenang dengan Sakura di hadapannya membuat ia tidak nyaman.
"Sasu-"
"Ya??", Sasuke menjawab terlalu cepat.
Sakura memandangnya heran, lalu tertawa kecil. "Kau kenapa...??"
Sasuke menggelengkan kepala, "Tidak apa..."
"Benar...?"
"Hn..."
"Baiklah...", Sakura meletakkan peralatan makannya, "Aku mengecek anak-anak dulu..."
Sasuke menahannya, "Tidak usah! Kau...- makan saja. Aku yang mengecek mereka."
Sosok pria Uchiha begitu cepat berlalu dari ruang makan. Membuat Haruno menggelengkan kepala, "Aneh..."
-
-
"Mereka sudah tidur...?", tanya Sakura pelan.
Sasuke mengangguk.
"Terima kasih, Sasuke-kun...", Sakura mendekati sang ayah. Ia tertawa kecil ketika melihat bayi-bayinya.
"Apa...??", Sasuke bertanya.
"Kau meletakkan mereka terbalik, Sasuke-kun...", Sakura memandangnya bergantian dengan ranjang bayi, "Ryuu ada di tempat adiknya, dan Ichigo di tempat kakaknya..."
Sasuke merasa sedikit memanas pada wajah, "Hn."
Tidak salah kalau Sasuke sampai menempatkan si kembar terbalik. Tanpa mata mereka terbuka, akan sulit membedakannya. Rambut mereka yang segelap rambut sang ayah terlihat sama. Begitu juga kulit putih pucatnya. Hanya mata mereka yang berbeda; Ryuu onyx dan Ichigo turquoise.
"Kita juga harus tidur... Ayo.", Sakura menarik lengan Sasuke.
And yes, that's a microscopic blush on his face...
"Kau yakin??", Sakura bertanya dengan raut muka khawatir.
"Hn."
Di perbatasan Konoha, terlihat Sasuke sedang berdiri dengan roda bayi kembar di hadapannya. Dan Sakura membawa tas besar.
Even though I'm no Spiderman...
Or a Superman...
Wonder where's our pinky's gonna get going...
"Sudahlah, Sakura...! Sasuke kan sudah bilang iya!", sahabat Sakura—Ino—terdengar tidak sabar.
Sakura melihat Sasuke sekali lagi, "Baiklah... Aku pergi dulu..."
Dan dengan itu, Sakura dan Ino pergi keluar gerbang perbatasan Konoha.
Sasuke melihat bayi-bayinya. "Kita mulai...?"
-
-
Bukan Sakura melepas tanggung jawab atau dengan egois pergi begitu saja meniggalkan Sasuke dan bayi-bayi, hanya saja misi dari sang Hokage langsung yang mengharuskan ia pergi dengan sahabatnya untuk mengecek kesehatan penduduk di perbatasan negara—salah satu sumber bilang mereka keracunan air dari keran yang terkontaminasi limbah satu pabrik.
Dan ya, Sakura pergi.
Meninggalkan Sasuke dengan bayi yang—boleh diingat lagi—ada dua.
But we all expected more, don't we...??
Semua misi, keharusan, waktu, dan semua kondisi sudah diatur oleh—terima kasih kepada—Naruto. Semua untuk satu momen spesial yang diharapkan akan berjalan baik tanpa keributan.
I'll be the one who court to you...
Night and day...
Rencananya sederhana; buat Sakura pergi selama beberapa hari, siapkan kebutuhan yang diperlukan, latih ekspresi Sasuke, dan—BOOM—event inti.
Karena rencana itu pula-lah sekarang Sasuke sedang berada di toko perhiasan.
"Baik, tidak usah yang aneh-aneh. Hanya cincin emas putih dengan berlian mungil—tapi tidak berarti yang murah—di atasnya, kan?", seorang wanita tua membaca ulang kertas yang berisi permintaan Sasuke tentang cincin spesial itu.
"Hn."
"Baiklah, tuan... Anda bisa mengambilnya lusa pada jam yang sama.", wanita tadi berkata ramah.
Tanpa kata-kata lagi, Sasuke berjalan keluar toko. Mendorong kereta bayi bersamanya.
"Teme...!!!", suara itu membuat Sasuke berhenti. Naruto mendekatinya. "Baiklah, kau ingin ungu atau merah muda??"
Di penyebutan dua warna itu Sasuke menaikkan alis. "Tidak dua-duanya."
"Apa?? Kau harus memilih, teme...! Atau kau ingin aku yang pilihkan...????"
Mata Sasuke mengecil dengan horor, "Tidak."
"Kalau begitu kau harus memilih...!"
"Tidak bisa cari warna lain??", Sasuke bertanya tegas.
Naruto terlihat berpikir, "OH!!"
And trust me,
I don't need a spiderweb...,
Or a laser eyes...
'cause you're giving me the strength to say...
Share your life and be my wife...
-
-
"Sudah kau siapkan semuanya??", Uchiha Aika bertanya pada Shino.
"Sudah.", Shino menjawab singkat.
"Shino-kun, kita harus menyiapkan ruangannya!", Suzuran berkata dari pintu sebuah gedung besar.
Shino menjawab iya dan pamit pada Aika, berlalu ke dalam gedung besar yang dipenuhi orang dari klan Aburame tadi.
"Hai, Aika-chan!!", Naruto menghampiri Aika yang sedang akan memasuki gedung.
"Selamat pagi, Uzumaki-san.", jawab Aika sopan.
"Bagaimana persiapan dalam ruangannya??", Naruto melihat lembaran yang dipegang Aika.
"Baik... Sekarang tinggal mengatur lightning dalam gedung.", Aika tersenyum, "Berapa waktu yang kita punya?"
Naruto menjawab cepat, "Hanya besok, lusa mereka pulang..."
Aika mengangguk mengerti, "Kalau begitu kita harus bergerak cepat...!"
-with Sakura-
Two days later...
"Baiklah, selesai!", Sakura tersenyum pada seorang anak kecil yang baru ia sembuhkan.
"Terima kasih!", anak itu berkata dan melompat turun dari ranjang periksa, berlari ke arah ibunya yang menunggu di luar tenda.
Sakura tersenyum, mengingat ia akan mempunyai dua anak yang nantinya berlari memeluknya kala ia pulang ke rumah.
"Sakura?"
Said girl turns around, "Ya, Ino?"
"Kau harus berhenti melakukan itu.", ujar Ino sambil memasukkan peralatan penyembuhan ke dalam tas besar. "Atau kita tidak akan pernah pulang."
"Melakukan apa??", Sakura bertanya dan ikut membereskan alat-alatnya.
"Menyembuhkan semua orang! Anak kecil tadi hanya tergores!", Ino berkata tinggi, "Ingat, kita di sini hanya untuk menyembuhkan penduduk yang keracunan—yang mana sudah kita lakukan. Tapi bukannya pulang, kita malah menetap hanya untuk menyembuhkan luka anak-anak yang terjatuh. Kau tahu kita sudah terlambat, kan??"
Sakura tertawa kecil, "Maaf, Ino. Aku tidak tega melihat mereka tidak bisa bermain. Lagipula kenapa kau sangat mengharuskan kita pulang, sih??"
"Karena Sasuke akan-", Ino berhenti, "Er...- maksudku anak-anakmu dan Sasuke menunggu!"
Sakura merasa sedikit janggal, tapi lalu membenarkan pernyataan Ino.
Damn, so hard for me to say...
Secret feelings locked away...
Ino menghela nafas, hampir saja ia mengacaukan kejutannya!
"Baik, kita berangkat sekarang! Dengan itu kita tidak akan pulang terlalu larut.", Ino mengangkat tasnya.
"Baik baik...", Sakura tersenyum—sekali lagi mengingat anak-anaknya dan Sasuke yang menunggu...
-with Konoha-
"Apa mereka sudah datang??", Naruto yang bertanya pada Neji yang baru berjalan dari arah gerbang besar Konoha.
"Hn.", Neji menempatkan diri di samping Tenten dan Takeuchi, "Mungkin sepuluh menit lagi mereka sampai."
Naruto terlihat 'mencerah', ia melihat pada Sasuke yang memegangi kereta bayi. "Kau jemput ia, aku jaga mereka.", katanya seraya tersenyum ke dalam kereta bayi yang berisi Ryuu dan Ichigo.
"Hn..."
-
-
"Sakura, kau pulanglah. Aku yang melapor pada Hokage-sama.", Ino berkata.
Sakura melihat sahabatnya, "Terima kasih, Ino. Aku duluan..."
"Ya ya, pulanglah Nyonya Uchiha!", Ino tersenyum lebar.
Dengan senyum pula, Sakura berjalan pulang ke arah distrik Uchiha.
Hanya butuh beberapa menit untuk Sakura hingga sampai di pintu masuk distrik Uchiha tempat ia dan keluarga barunya tinggal.
Dan di sana, sudah menunggu pria yang ia cintai.
Dan mencintainya...
"Hn. Kau sudah pulang..."
Heaven knows I've always felt this much for you...
Sakura tersenyum dan mendekatinya, "Anak-anak sudah tidur...??"
Sasuke menatapnya lama, "Bisa dibilang begitu..."
Tangan Sasuke menarik lengan Sakura, "Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan..."
Tidak perlu kecurigaan, Sakura berjalan mengikuti arah yang Sasuke tunjukkan. Mereka sampai di sebuah gedung besar dengan pintu yang sedikit terbuka. Tidak terlihat cahaya dari dalam ataupun luar gedung. Hanya sedikit sinar dari bulan di atas mereka.
"Aku harap kau suka...", Sasuke menuntun Sakura masuk ke dalam gedung tadi.
I'm not that romantic...
Even worse I'm sarcastic...-
-...sometimes
Sakura memegangi lengan Sasuke—yang memeluknya dari belakang. Kegelapan membuatnya tidak bisa melihat apapun. "Ada apa...?", tanyanya berbisik.
Sasuke hanya tersenyum kecil, "Kau akan tahu..."
--satu titik cahaya muncul dari dalam kegelapan.
And now it's time I tell you this...
(for you to know what I feel...)
What's always been my only wish...
"Mungkin aku sudah banyak melakukan kesalahan di masa lalu...", Sasuke memulai.
Even though I'm no Spiderman...
--satu lagi titik cahaya muncul di hadapan mereka.
"...dan aku sudah membuatmu menderita karenanya..."
Or a Superman...
--cahaya kecil itu mulai bermunculan lagi, mengelilingi mereka.
"...dan aku ingin meminta maaf dengan berjanji untuk terus melindungimu..."
I'll be the one who court to you...
Night and day...
"...selamanya..."
--Sakura tersenyum ketika mendengar kata-kata Sasuke dan menyadari cahanya itu berasal dari kunang-kunang.
"Dan aku hanya butuh satu hal untuk melakukannya..."
And trust me,
I don't need a spiderweb...,
Or a laser eyes...
"...hanya satu kata 'iya'..."
'cause you're giving me the strength to say...
"Menikahlah denganku.."
Share your life and be my wife...
Mata Sakura terpejam ketika kata-kata itu meluncur dari mulut Sasuke. Tiba-tiba saja ia merasa lemas—beruntung ada Sasuke yang menahannya dari terjatuh. Ia tersenyum dalam tangis harunya. Apa ini benar...? Semua kata-kata itu dari mulut Sasuke?? Karena semua ini begitu indah...
-woman singing-
Can't believe your heart...
It's so beautiful fillin my soul...
Makes me think that I'm dreaming...
Will you be my wife, baby...?
Sakura berbalik menghadapi Sasuke yang melihatnya di bawah sinar redup dari kunang-kunang di sekeliling mereka.
Mereka hanya bertatapan—dan memang hanya itu yang mereka perlukan.
Even though I'm no Spiderman...
Or a Superman...
Ya, cinta kadang tidak membutuhkan kata-kata.
I'll be the one who court to you...
Night and day...
Dan tidak satupun dari mereka yang menyadari wajah mereka sudah saling mendekat untuk mencium lembut.
And trust me,
I don't need a spiderweb...,
Or a laser eyes...
Sakura melepas ciuman yang lama dan lembut itu.
'cause you're giving me the strength to say...-
Sasuke menarik Sakura ke dalam pelukannya, "Aku rasa itu berarti iya..."
'cause you're giving me the strength to say...
Share your life and be my wife...
Yes, we all love happy ending...
--THE END--
SUCKY ENDING!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
DDDDDDDDDDX
maaf ya..., endingnya tidak se-fluff yang diharapkan...
jelek sekali!!!!
x-x
ya...
tapi Yvne senang akhirnya Lagu Sedih tamat...:')
I'm so proud of myself...
-narsiiiis-
VOTE terakhir dari Lagu Sedih...
dan sangat diharapkan kalian memilih...
apakah Yvne harus membuat 'The Deleted Scene of Lagu Sedih'...??
and yes, it contains LEMON.
X3
-LOL-
Yvne wanna say thanks to...
Yuuichi93 ; Hasheo the Terror of Death ; Phillip William Wammy ; Akina Takahashi ; Nakamura Arigatou ; Rin Kajuji ; Myuuga Arai ; Inuzumaki Helen ; M4yura ; naomi misaki ; TheSyaoranSakuraLover ; Hikari hime ; uzumaki khai ; miyu201 ; jann juraquile ; wawa ; pink violin ; Whitepurple ; ; Deeandra Hihara ; -mika- ; dark aphrodite ; X-tee ; Faika Araifa ; Hyacinthoides ; dilia shiraishi ; k ii b u l-chan ; Ayumi ; -anon- ; .momoshiro ; sa3 ; Karupin.69 ; YuLaan ; Hayouky-chan ; 5 sekawan ; Rosalinda Georgia ; x Hinamori Sakura x ; ; Aika Uchiha ; Reina Uchiha ; kawaii-haruna ; kakkoii-chan ; Genevieve Rousseau ; uchietam ; Hakar4s1n ; Nara Kamizuki ; Uchiha ; Mayu Asuka ; dan yang lainnya di chap 15 inii..
for reviewing Lagu Sedih...
and for telling me not to stop...
duh, terharuuuu~
:')
dan pastinya para readers yang setia baca dan nunggu update-nya...
THANK YOU SO MANY MUCH!!!!!!!
GOD BLESS YOU ALL...!!!!
XDDDDD
also, I wanna say sorry if there's any mistakes I've made along the story of Lagu Sedih.
I've tried my best, ttebayo! X)
see you in 2009! :D
xo xo,
Yvne F.S. Devolnueht
