Hah. Saya senang banget para senpai-senpai me-riview fanfic pertama saya. Sebenarnya chapter 1 yang kemarin, saya mau jadikan 3 chapter tapi karena kecerobohan saya, jadi semuanya tergabung menjadi satu. Jadi ceritanya begini, waktu saya ketik tuh fic saya satuin semua dari chap 1 sampai chap 3, n pas saya upload, saya lupa hapus chap 2 dan 3nya. Jadi semuanya tergabung jadi satu chapter. Hikz, maafkan saya yang telah membuat para readers jadi bingung. So, anggap aja tulisan chapter 2 dan chapter 3 itu nggak ada yah ^.^v. Soal typo maafkan saya lagi. Di chapter ini saya akan lebih teliti lagi deh…
Oh ya, mengenai pertanyaan-pertanyaan senpai, semuanya akan terjawab pada chapter ini jadi di baca yah. Dan fic ini memang terinspirasi dari drama Taiwan yang berjudul "Romantic Princess". Soalnya filmnya keren dan bagus kalau di jadikan fic.
Dan terima kasih banyak buat para senpai yang me-riview, itu sangat berarti banget dan sangat membantu ^.^
Enjoy read….
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Desclaimer Romantic Princess : Lin He Long as Director
: Comic Production Co. as Production Company
Apakah kalian punya impian? Tentu saja semua khalayak di muka bumi ini mempunyai impian mereka masing-masing. Tak terkecuali aku, aku juga mempunyai impianku sendiri. Dan impianku adalah menjadi seorang tuan putri. Dan ternyata aku adalah seorang putri!
And my story as a princess will begin….
Romantic Princess Sakura
Chapter 2
The Princess…
Sementara itu…
" Hei Teme, kau sudah dengar apa yang dikatakan Quee tadi, kau harus…"
" Diamlah Dobe! Aku sudah tahu itu!" Gerutu Sasuke.
Flashback
. Tok. Terdengar suara ketukan pintu dari balik pintu sebuah ruangan besar.
" Masuklah!" perintah seseorang dari dalam yang sedang duduk membelakangi meja kerjanya.
Cklek. Pintu terbuka bersamaan dengan masuknya keempat tuan muda itu.
" Maaf membuat anda menunggu." Kata Sasuke sopan, " Jadi perlu apa anda memanggil kami kesini?"
Kursi itu berputar menampakkan wajah anggun seorang wanita, " Kalian sudah tahu kalau cucuku akan datang hari ini, bukan?"
Tsunade atau lebih akrab dipanggil Quee. Pemilik rumah megah ini. Tidak hanya rumah ini yang dimilikinya, ia mempunyai banyak rumah dan perusahaan yang tersebar di hampir seluruh penjuru dunia. Pemilik saham terbesar dari perusahaan terbesar, yaitu Jewel Coorperation.
Keempat tuan muda itu mengangguk.
Wanita berpigmen mata warna madu itu tersenyum tipis, " Baguslah. Dan apa kalian masih ingat perjanjian kita saat saya mengangkat kalian menjadi cucuku?"
Keempat tuan muda itu kembali mengangguk.
" Tujuan saya mengangkat kalian adalah untuk mendidik kalian menjadi calon penerus perusahaan saya. Tapi selain itu tujuan saya juga ingin menikahkan salah satu dari kalian dengan cucuku. Dan kita sudah menyepakati, tuan muda pertama yang akan menikahi cucuku dan menjadi penerus dari perusahaan. Dan itu berarti kau, Uchiha Sasuke. Kau harus memperlakukan cucuku layaknya seorang nona sekaligus calon istrimu. Kau paham?" Tegas Tsunade
" Hai. Saya mengerti." Jawab Sasuke
" Dan untuk kalian bertiga, kalian harus memperlakukan cucuku layaknya saudara perempuan kalian sendiri. Paham?"
" Hai. Kami mengerti." Sahut ketiga tuan muda itu serempak
" Baiklah, kalau begitu kalian boleh kembali bersenang-senang."
End of Flashback
" Hahaha, jika melihat wajahmu tadi, kau seperti menelan tomat utuh." Ejek Naruto. " Lagipula kenapa sih kau seperti keberatan dijodohkan dengan nona. Tidak ada ruginya tahu kalau kau menikah dengan nona. Kalau aku jadi kau, aku pasti akan menikahi nona secepatnya."
" Hn, kalau begitu kau saja yang menikah dengan nona." Kata Sasuke sarkatis
" Hee? Benar nih?"
" Sudahlah Naruto, berhenti menggangu Sasuke." Cegah Sai sebelum nanti terjadi perang mulut antara si Dobe dan Teme itu.
Back to Sakura…
Oh Kami, Oh Kami bangunkan aku jika ini mimpi. Batin Sakura. Lalu ia mencubit lengannya untuk memastikan ini mimpi atau tidak.
" Awww, Sakit!" Rintih Sakura. Ternyata bukan mimpi.
Si pria masker itu hanya terkekeh geli melihat tingkah Sakura.
Kami, rumah ini besar sekali. Aku belum pernah melihat rumah sebesar ini. Rumah ini seperti istana saja. Batin Sakura
Rumah ini memang megah. Ruang tamunya saja hampir seluas lapangan bola. Malah lebih. Belum juga dengan hiasan-hiasan yang terlihat mahal dalam ruangan ini. Dindingnya dipenuhi dengan lukisan-lukisan yang mungkin berkelas internasional. Kristal-kristal dan guci-guci juga turut meramaikan isi bufet.
Tapi dibandingkan dengan semua itu, yang paling menarik perhatian Sakura adalah lukisan yang mungkin ukurannya paling besar diantara semuanya. Karena ingin melihat dengan jelas obyek lukisan itu, ia perlahan berjalan mendekat ke arah lukisan itu terpajang.
Lukisan itu memang indah. Bingkainya dipenuhi dengan ukiran-ukiran indah. Tapi bukan hal itu yang menarik perhatiannya. Tapi yang menarik perhatiannya adalah dua orang sosok yang menjadi obyek lukis itu.
Gambar seorang pria tampan dan wanita cantik yang Sakura simpulkan adalah sepasang suami istri. Sang wanita errr, dapat dikatakan sangat mirip sekali dengannya. Kesamaan mereka adalah rambut merah mudanya yang merupakan cirri khas seorang Haruno Sakura. Bedanya hanya terdapat pada mata. Mata wanita itu berwarna hitam legam. Tapi justru kesamaan iris matanya terdapat pada pria disampingnya. Iris mata zamrud.
Tiba-tiba tepukan di bahu sedikit mengagetkannya, " Ada apa, nona?"
" Umm, tidak ada apa-apa. Hanya saja bisa kau beritahu orang-orang ini siapa?" Sakura menunjuk obyek lukisan itu.
" Meraka adalah mendiang Akira-sama dan Hikari-sama. Orangtua anda, nona." Jelas Pria masker itu.
" Huh? Orang tuaku?"
Sakura Pov
Heh? Orangtua katanya. Dia pasti ngawur. Orang tuaku tidak setampan dan secantik orang ini. Ayahku orangnya botak. Sedangkan ibuku rambutnya keriting tak keruan. Darimana miripnya denganku yah? Ah, lupakan!
" Anda tidak mengenalnya?" Tanya Si Masker
Demi rambut alamarhum ayahku, aku tidak mengenalnya. Sumpah!
Si masker menghela nafas panjang, " Aku mengerti permasalahan disini."
Hah? Si masker tadi bilang apa? Aku tidak terlalu mendengarnya.
" Baiklah, nanti Quee yang akan menjelasakannya pada nona. Mari silahkan, Quee sudah menunggu anda."
Aku kembali mengekor dibelakangnya. Sekali-kali melirik-lirik rumah ini. Dan sekali lagi ada seseatu yang menarik perhatianku. Kali ini bukan lukisan. Tetapi empat sosok pemuda tampan berjas putih. Blush! Pipiku terasa menghangat. Apalagi saat melihat seseorang dari mereka. Pemuda tampan dengan model rambut yang mencuat ke belakang. Hahh, dia sangat tampan…
" Nona, kenapa bengong disini?"
Argghhh! Sekali lagi si masker ini mengagetkanku, akan kutendang dia samapai ke Amerika!
" Ano, itu karena… karena tadi ada kecoak. Ya, ada kecoak!" Jawabku spontan. Ahhh! Bodoh di rumah sebesar ini mana ada kecoak. Pria ini pasti mengira aku cewek aneh.
" Hah kecoak?"
" I..iya. tadi…dia keluar dari tas saya." Kau betul-betul bodoh Sakura. Pasti dia menganggapmu selain aneh dia juga pasti menganggapmu sebagai cewek menjijikkan yang memelihara kecoak di dalam tasmu! Menyebalkan.
Pria itu tambah bingung.
" Mmm, ngomong-ngomong ruangan Quee dimana?" Safe, kali ini kau pintar Sakura. Mengalihkan pembicaraan adalah hal terbaik sekarang.
" Oh, ruangan Quee ada di ujung koridor ini."
Pria itu kembali jalan dan aku kembali mengekor. Tak lama, akhirnya kami tiba di depan ruangan itu.
Si Masker kemudian mengetuk pintu. Tak lama seseorang yang berada di dalam mempersilahkan kami masuk. Dan sekarang aku berada di dalam ruangan itu. Ruangannya cukup luas.
" Kami datang. Dan sesuai dengan perintah Quee , saya bersama cucu anda." Ujar Si masker.
Kemudian wanita yang daritadi berdiri membelakangi kami, berbalik. Oh Kami! Dia sangat cantik! Apa benar dia ini seorang nenek-nenek?
" Kerja bagus Kakashi."
Hatake Kakashi. Pri yang sudah mengabdi pada Tsunade sejak dulu. Orang yang merupakan kaki-tangan Tsunade.
" Terima kasih." Kakashi menunduk.
Hah! Bagaimana denganku? Haloo….
" Selamat datang cucuku. Nenek sudah mencarimu sejak lama. Tapi baru menemukanmu sekarang."
" Saya rasa anda salah orang. Saya Sakura bukan Ai, cucu anda."
Normal Pov
Walaupun Sakura berkata seperti itu, wajah wanita itu tetap tenang tidak nampak bingung.
" Saya mengerti masalahnya. Baiklah saya akan menceritakan semuanya. Dan jika saya sudah menceritakan semuanya kau pasti akan mengerti."
Flashback
20 years ago…..
Langit Tokyo malam ini tak begitu indah dan berbintang. Dikarenakan hujan deras sedang mengguyur kota Tokyo pada malam itu.
Disebuah rumah mewah terlihat tiga sosok yang sedang berdiri di beranda rumah
" Akira, Hikari, apa kalian yakin akan membawa Ai ikut bersama kalian?" Tanya Tsunade cemas. Baru kali ini ia merasa sangat cemas pada cucu pertamanya itu.
" Tentu saja ibu. Ibu tak perlu khawatir, kami akan baik-baik saja. Jaa…"
Akhirnya mobil yang ditumpangi keluarga kecil itu melaju meninggalkan kediaman.
Tsunade menghela nafas, " Anak itu dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah."
30 menit kemudian…..
Tsunade dikejutkan dengan kedatangan Kakashi yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Apa-apaan kau ini Kakashi. Masuk tanpa mengetuk pintu." Omel Tsunade
" Maafkan saya. Tadi saya dapat berita kalau mobil Akira-sama telah disabotase oleh orang suruhan Orochimaru."
Orochimaru. Saingan bisnis Tsunade.
" Apa? Bagaimana itu bisa terjadi? Kalau begitu kalian cepat susul mereka, barangkali mereka belum sampai ke Hokkaido. Aku akan coba menghubungi mereka" Perintah Tsunade
" Hai!"
Disaat yang sama di sebuah jalan sepi menuju Hokkaido…..
" Akira-kun kayaknya hujan semakin deras. Bagaimana kalau kita cari tempat penginapan. Kasihan Ai, tampaknya dia mulai kedinginan." Hikari membelai lembut rambut merah jambu anak pertamanya.
" Hn, baiklah. Kayaknya di depan sana ada penginapan sederhana." Akira menginjak pedal rem-nya. Tapi entah kenapa rem-nya tidak berfungsi
" A-ada apa Akira-kun?" Tanya Hikari cemas. Ia mengeratkan pelukannya terhadap Ai.
" Remnya blong. Cepat selamatkan Ai!"
" Hah? Bagaimana caranya?"
" Turunkan dia dari mobil menggunakan keranjangnya gunakan jas yang ada di belakang untuk melindunginya dari hujan." Perintah suaminya. Tangannya mulai gemetar
" Hah! Jadi kau mau aku untuk membuang putriku sendiri. Tidak akan!"
" Kau mau Ai mati, HAH?" Emosi Akira mulai tidak terkontrol, " Setidaknya ibu akan menemukannya."
" Bagaimana jika ibu tidak menemukannya?" Air mata Hikari mulai jatuh, " apa kau tidak memikirkan itu! Pokoknya aku tidak akan melepaskan Ai!" Tegas Hikari
" Cepat lakukan! Di depan sana ada jurang. Kau mau Ai mati?"
" Ta-tapi…"
" Cepat lakukan!" Akira tambah tidak terkontrol
" Ba-baik." Hikari melakukan apa instruksi Akira. Tapi sebelum ia menjatuhkan keranjang bayinya, ia sempat mengecup dahi putrinya. " Apapun yang ibu lakukan itu karena ibu sayang padamu, nak." Hikari akhirnya menjatuhkan keranjang itu tepat di tepi jalan
Dan tak berselang lama, mobil itu jatuh ke jurang dan meledak hebat.
End of Flashback
" Dan saat kami menemukan bangkai mobil orangtuamu, kau sudah tidak ada di dalamnya. Kami sudah mencarimu kemana-mana. Kami pun sudah mengedarkan berita tentangmu tapi tidak ada yang berhasil menemukanmu." Cairan bening dari mata Tsunade meleleh. Ia terlalu sedih untuk membuka kepingan tentang kecelakaan anak semata wayangnya.
" Jadi anda adalah nona Ai. Tapi waktu orangtua angkat nona menemukan nona, ia telah mengganti nama nona dari Ai menjadi Sakura." Jelas Kakashi
Sakura tidak percaya akan apa yang telah di dengarnya, " Bagaimana saya bisa mempercayai anda. Mungkin saja anda bohong."
" Kami tahu bahwa nona memiliki tanda lahir berbentuk bunga sakura di tengkuk nona."
Hah? Darimana dia tahu aku mempunya tanda lahir bunga sakura? Pikir Sakura
" Hah, itu hanya kebetulan saja."
" Kami juga telah memekrisa DNA anda. Golongan darah nona adalah dengan Quee dan Akira-sama." Jelas Kakashi lagi.
Sakura Pov
Oh Kami-sama, haruskah aku percaya dengan mereka? Tapi muka Quee dan Kakashi sangat meyakinkan
Aku menghela nafas, " Baiklah, aku percaya."
Quee terlihat sangat gembira. Aku juga entah mengapa merasa gembira. Beginikah rasanya bertemu dengan keluarga kandungmu?
" Jadi, kau akan tinggal disini Ai?"
Ai? Namaku bukan Ai tahu!
" Umm, bisakah nenek memanggilku Sakura?"
" Kenapa? Bukankah itu adalah nama aslimu?" Tanya Tsunade heran
" Karena… nama itu terasa sangat asing bagiku. Jika nenek tetap kekeh memanggilku dengan Ai, aku tidak akan tinggal disini!"
" Baiklah jika itu maumu, Sakura." Nenek tersenyum. " Kalau begitu pergilah ke kamarmu lalu mandi. Kita akan makan malam bersama sekalian nenek akan memperkenalkanmu dengan para tuan muda. Kakashi akan mengantarmu."
Skip Time
Wah! Kamar ini besar sekali. Sangat berbeda jauh dari kamarku yang sebelumnya. Malah tempat tidurnya empuk lagi.
.Tok. Ah,,,ada orang rupanya
" Masuklah." Kataku
Saat itu juga masuklah seorang gadis bercepol dua mengenakan baju pelayan. Ia membungkukkan badannya, " Saya Tenten, nona. Saya kepala pelayan yang akan mengurusi semua keperluan nona."
Aku hanya manggut-manggut. Senangnya jadi nona besar.
" Nona sekarang saatnya mandi." Tenten kemudian menepuk-tepuk tangannya. Dan masuklah beberapa pelayan. Masing-masing pelayan ada yang membawa baju mandi, gaun, dan beberapa guci-guci kecil
" Mmm, apa kalian tidak akan keluar? Saya akan mandi kok." Kataku gugup
" Kami tidak akan meninggalkan nona. Kami akan menemani nona mandi. Itu peraturannya." Kata Tenten
Apa? Orang-orang ini sudah pada gila ya? Tapi sudahlah, toh mereka juga semua adalah perempuan.
Tenten menuntunku ke kemar mandi. Dan wah! Kamar mandi saja besar begini? Kamar mandi di dominasi warna putih dan merah jambu. Di sana juga terdapat bak besar yang entah apa namanya ( baca : bathup ) yang sudah terisi dengan air dan busa
" Nona akan menggunakan aromaterapi apa? Mawar, mint, atau teh hijau?"
Aroma apa? Kujawab asal-asalan saja deh yang penting cepat mandi soalnya badanku sudah gerah.
Seorang pelayan maju dan menaburkan serbuk kedalam bak. Oh jadi begitu, hanya sekedar wangi-wangian saja toh.
Saatnya mandi!
Skip Time
Segarnya sudah mandi. Seluruh badanku terasa seperti bau teh hijau saja. Aku keluar mengenakan baju mandi biasanya aku hanya menggunakan handuk.
" Baiklah ini gaunnya. Sudah disiapkan." Tenten meyerahkan selembar gaun merah mencolok yang agak sedikit terbuka
" Bisakah saya pakai kaus dan jeans saja?"
" Tidak bisa nona. Quee sudah berpesan kepada kami, kalau nona harus mengenakan gaun."
" Tapi tidak bisakah saya memilih gaun sendiri? Saya tidak begitu suka gaun ini."
" Baiklah." Tenten menepuk tangannya lagi dan bersamaan dengan itu, beberapa pelayan masuk dengan membawa banyak gantungan baju berjalan. Jadi putri kadang susah juga ya, berpakaian saja mesti repot.
" Silahkan pilih nona. Semua model dan warna tersedia disini."
Aku melihat-lihat gaunnya dan akhirnya pilihanku jatuh pada gaun putih sederhana selutut. " Yang ini saja."
Tenten menepuk tngannya lagi. Pelayan pembawa baju pergi tapi malah disusul dengan pelayan yang membawa perlengkapan rias.
Huh, apalagi sekarang? Waktunya dandan, huh?
" Dandani nona!" Perintah Tenten. Dan mereka langsung menyerangku. Yang benar saja?
Beberapa saat kemudian….
Akhirnya mereka selesai juga. Aku mematut diriku didepan cermin. Tidak buruk juga. Riasannya simpel tapi tetap berkesan cantik. Rambut sepunggungku yang biasanya terikat kini dibiarkan terurai lurus tapi ujungnya agak dibuat sedikit keriting. Dan gaun ini ukurannya sangat pas sekali di badan.
" Nona sangat cantik." Puji Tenten, " Sekarang tinggal sepatu" Tenten menepuk tangannya, lagi? Dan masuklah lagi beberapa pelayan yang membawa beberapa model sepatu.
Aku melihat-lihat dan akhirnya mataku tertuju pada sepatu high heels perak. Aku menunjuknya.
" Boleh kami pakaikan?" Tanya Tenten
" Tidak usah, saya bisa sendiri." Dipakaikan? Terlalu berlebihan
Dan… sempurna sudah penampilanku malam ini.
" Nona, Quee sudah menunggu di ruang makan." Ujar Tenten.
" Baiklah, aku sudah siap"
At Dining Room…
Tsunade bersama keempat tuan muda sudah siap di meja makan. Malam ini tuan-tuan muda kita terlihat sangat tampan dengan riasannya masing-masing.
Si pemuda Namikaze mengenakan blouse putih lenagn panjang yang dikombinasikan dengan jas hitamnya. Terlihat sangat santai tapi juga elegan. Si pemuda lukis dan pemuda nanas mengenakan setelan jas putih. Terlihat sangat mempesona. Sedangkan si bungsu Uchiha mengenakan blouse putih dikombinasikan dengan blazer warna kebanggaannya yakni biru tua. Sangat kasual tapi tidak mengurangi kesan elegannya.
" Mulai hari ini, kalian jangan memanggil cucuku dengan nama Ai, tapi Sakura." Jelas Tsunade
Semua tuan muda heran. " Tapi bukankah nama nona adalah Ai?" Sela Sai
" Turuti saja kataku. Mengerti." Tegas Tsunade, " Ahh, itu dia sudah datang"
Sontak tuan muda berbalik menuju ke arah tangga. Tempat nona muda kita turun. Tidak dapat dipungkiri para tuan muda kita ini terkesima dengan nona muda.
Cantik. Batin Naruto dan Sai. Hn, lumayan. BatinSasuke dan Shikamaru. Dasar!
Sakura Pov
Kyaaa! Aku gugup sekali. Bagaimana tidak, ternyata para pemuda tampan yang kulihat mereka adalah tuan muda disini. Dan blush pipiku memanas. Karena tidak lain dan tidak bukan karena si tampan ada di sana juga. Duduk di bangku paling ujung.
" Kesini Sakura." Ah, nenek sudah memanggilku. Sebaiknya aku cepat.
Aku terus menunduk selama nenek memperkenalkanku pada tuan muda. Aku juga sudah tahu nama mereka. Si pirang namanya Naruto, si pemuda yang agak mirip dengan si tampan namanya Sai, ada lagi yang si pemuda rambut nanas namanya Shikamaru, dan si tampanku namanya adalah Sasuke. Boleh kuulang Sa-su-ke.
" Kau duduk di samping…" Di samping Sasuke, di samping Sasuke, " Naruto saja." Ahh, pupus sudah harapanku duduk di samping Sasuke.
" Hai, Sakura-chan." Sapa Naruto. Hah, di memanggilku dengan embel-embel chan? Huh dia kira dia siapa?
" Hai juga Naruto-kun." Mau tidak mau kupakai juga embel-embel kun.
" Ah iya, saya hampir lupa. Untuk menyambut kedatangan Sakura, saya akan mengadakan pesta penyambutan besar-besaran. Sekaligus saya akan mengumumkan seseatu." Kulihat semua mata mendelik ke arahku dan kyyaa ke arah Sasuke juga.
" Kira-kira pestanya akan diadakan tiga hari lagi. Dan untukmu Sakura, selesai makan malam ini, kau ke ruanganku. Ada seseatu yang akan kusamapaikan dan kuberikan padamu. Mengerti!"
" Hai! Wakaremashita (mengerti)" Ujarku. Kira-kira apa yah. Jadi penasaran.
To Be Continued….
Akhirnya chapter ini selesai juga. Hehehe, sekarang para senpai sudah tahu kalau Ai itu siapa. Maaf ya ceritanya agak berbelit. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih pada senpai yang sudah me-riview. Dan terima kasih juga kepada para silent reader. Lain kali me-riview yah.
Akhir kata, sampai ketemu di chapter depan dan jangan lupa….
Review please
Jaa nee….
"
