Apakah kalian punya impian? Tentu saja semua khalayak di muka bumi ini mempunyai impian mereka masing-masing. Tak terkecuali aku, aku juga mempunyai impianku sendiri. Dan impianku adalah menjadi seorang tuan putri. Dan ternyata aku adalah seorang putri!
And my story as a princess will begin….
Romantic Princess Sakura
Chapter 3
Waltz and The Party
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Desclaimer Romantic Princess : Lin He Long as Director
: Comic Production Co. as Production Company
Sakura Pov
Kira-kira ada apa yah nenek memanggilku. Ah, masa bodoh. Malas untuk memikirkannya yang penting sekarang aku serumah dengan Sasuke-kun. Hihihi
" Astaga." Aku menepuk jidat lebarku. " Aku belum memberitahu soal ini pada Pig. Kuhubungi saja deh." Aku merogoh sakuku, dan akhirnya kutemukan juga ponsel baruku. Hihihi.
Aku mencari nama Ino, ahh… setelah kudapatkan kontak bertuliskan Pig, aku langsung menyentuh layar teleopn genggamku. Maklum, Hp baruku ini touch screen.
Terdengar bunyi Tut, tut, tut dan, 'Haloo, ada apa jidat?'
" Hei Pig, ada yang ingin kuceritakan padamu. Bisa kita ketemu. Besok jam 9?"
' Memangnya ada apa sih jidat? Kau cerita langsung saja.'
" Ceritanya panjang. Besok akan kuceritakan se-detail mungkin deh. Janji." Aku membuat tanda peace
' Baiklah. Bagaimana kalau kita ketemuan di kafe Spring? Di samping supermarket.'
" Baiklah. Sampai ketemu besok. Oyasumi."
' Oyasumi.' Telepon pun terputus.
Aku tidak sabar melihat wajah Pig besok jika aku menceritakan apa yang terjadi padaku.
.
.
.
Aku mengetuk pintu. " Nenek, aku datang."
" Masuklah Sakura." Sahut nenek dari dalam kamar.
Krieet, Aku membuka pintu. Di sana terlihat nenek sedang duduk. " Ada apa, nek?"
" Duduklah."
Aku segera mengikuti perintah nenek. Kok suasana jadi agak canggung begini sih? Aku tidak suka suasana seperti ini!
" Nenek perlu seseatu, yah?" Tanyaku hati-hati
Nenek tersenyum, " Sebelum itu, berhentilah memanggilku nenek, Sakura."
Glek! Apa maksudnya berehenti memanggil dia nenek. Atau mungkin aku memang bukan cucunya. Ahh, matilah aku.
" Maksud nenek?"
" Iya berhentilah memanggilku nenek. Panggilan itu berkesan seperti aku sudah tua sekali."
Doeenggg, Aku kira ada apa. Tapi dia kan memang sudah nenek-nenek. " Jadi aku harus memanggil apa?"
Nenek tampak berfikir, " Bagaimana kalau kau panggil aku Baa-chan saja. Terdengar lebih muda, kan?" Nenek tertawa.
Memeang beda nenek dangan Obaa-san apa? Hanya beda penggunaan embel-embel –San dengan – Chan saja. Huh!
" Baikalah, kalau itu mau Baa-chan."
Muka Baa-chan berubah serius, " Baiklah Sakura, kau sudah tahu aku akan merayakan pesta penyambutanmu. Tapi sebelum itu kau harus mempelajari tentang seseatu."
Seseatu? Huh, tambah bikin penasaran saja.
" Kau harus mempelajari tentang tarian. Lebih tepatnya disebut dansa." Jelas Baa-chan
Huufft, kukira apa. Ternyata hanya menari. Itu mudah.
" Baa-chan tenang saja. Aku paling mahir dalam soal menari. Lihat." Aku mulai memperagakan berbagai gerakanh yang entah namanya apa. Kan yang penting menari.
" Maksudku bukan seperti itu Sakura. Kau akan berdansa Waltz pada pesta itu." Jelas Baa-chan
Aku tertegun, " Apa? Wa-waltz? Tarian macam apa itu." Aku menggaruk-garuk kepalaku. Sumpah, aku baru pertamna kali mendengar nama itu.
Normal Pov
Tsunade menghela nafas panjang. Sudah kuduga ini tidak akan mudah. Pikirnya.
" Kau tidak mengetahui dansa waltz?" Tanya Tsunade
Sakura menggeleng.
Sekali lagi Tsunade menghela nafas. " Untunglah aku sudah menyiapkan guru untukmu. Mulai besok pagi, kau akan berlatih dengan Ebisu." Jelas Tsunede. " Ebisu adalah salah satu guru terbaik dala bidang dansa waltz. Dia jugalah yang sudah mengajari keempat tuan muda."
Sakura mengangguk. " Baiklah."
" Besok Ebisu akan datang jam 10. Usahakan kau jangan terlambat. Kau akan berlatih di ruangan musik."
" Tapi Baa-chan. Besok aku sudah janji pada Pig. Oops, maksudku temanku." Ralat Sakura. " Tapi hanya jam 9. Boleh kan aku menemuinya besok. Sepulang dari sana, aku langsung latihan deh."
" Baiklah, tapi kau jangan sampai terlambat. Ebisu tidak suka dengan orang yang suka terlambat. Dia itu orang yang disiplin waktu."
" Terima kasih, Baa-chan. Oh ya, ngomong-ngomong Baa-chan mau memberiku apa?" Kata Sakura mengingatkan
Tsunade menepuk jidatnya, " Oh, aku hampir lupa." Tsunade membuka laci mejanya lalu mengambil seseatu yamg berbentuk amplop di dalamnya. " Sekarang ini milikmu." Tsunade menyerahkan amplop itu pada Sakura. " Bukalah."
Sakura menerima amplop tersebut. Ia kemudian melihat isi amplop tersebut. Rupa-rupanya isinya adalah credit card.
" Ini untukku?" Tanya Sakura.
Tsunade mengangguk pelan. " Iya, itu adalah uang bulananmu. Isinya ada sekitar lima juta yen."
Sakura tiba-tiba shock. " Lima-lima juta yen?"
Sakura Pov
Apa? Lima juta? Oh Kami, seumur-umur aku tidak pernah memegang uang sebanyak ini.
" Lima juta ini untukku?"
Baa-chan mengangguk lagi, " Kenapa? Kurang?"
Kurang katanya? Ini malah terlalu berlebihan hanya untuk jajanku perbulan. " Ti-tidak Baa-chan. Ini malah terlalu banyak untukku. Sebaiknya Baa-chan ambil kembali ini saja." Aku menyerahkan kartu itu.
" Tidak apa Sakura. Para tuan muda juga kuberi ini. Jadi kau berhak mendapatkan ini." Baa-chan menyerahkan kartu itu kembali.
Aku meraih kartu itu, " Terima kasih."
" Biklah, sekarang kau boleh tidur. Ingat besok jangan sampai terlambat." Baa-chan mengecup sekilas dahiku. " Have a nice dream."
.
.
.
Normal Pov
" Uhhh~" Sakura menggeliat di tempat tidurnya. " Sudah pagi rupanya."
Dengan mata yang masih berat, ia memaksa kakinya untuk menginjak lantai marmer dingin. Ia melirik ke arah lemari, di sana sudah tergantung pakaian yang akan ia gunakan untuk bertemu Ino.
Ia kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Mandi air hangat dengan aromaterapi mint mungkin meyegarkan untuk pagi ini. Pikirnya
Skip Time
" Selamat pagi semuanya!" Sapa Sakura saat menuruni tangga. Ia segera menuju ke meja makan.
" Selamat pagi, Baa-chan." Sapa Sakura
Huh, Baa-chan? Sejak kapan Quee dipanggil dengan sebutan seperti itu. Pikir keempat tuan muda.
" Selamat pagi Sakura-chan. Kau ceria sekali pagi ini." Sapa Naruto.
Sakura nyengir. " Hehehe, iya Naruto-kun. Hari ini aku mau bertemu temanku." Jawab Sakura diiringi dengan mulut membulat dari tuan muda kedua itu.
" Baa-chan aku pergi dulu yah. Jaa…"
" Tapi kau tidak mau sarapan dulu Sakura?" Tanya Tsunade
Sakura menggeleng. " Aku akan sarapan bersama Ino saja. Jaa…"
.
.
.
" Jadi begitulah ceritanya." Kata Sakura yang baru saja cerita panjang lebar.
Mulut Ino membulat," Wahh... nasibmu beruntung sekali Sakura. Apalagi kau bisa serumah dengan empat pemuda yang tampannya bukan main. Aku jadi penasaran sama Uchiha Sasuke, pasti dia saaangaaat tampan."
" Hei!" Sakura menjitak pelan kepala Ino, " Sasuke-kun itu milikku."
" Iya iya, aku bercanda kok. Tapi aku juga cukup penasaran sama Sai, yang kau katakan tuan muda ke-empat." Pipi Ino memerah.
" Ciee, pig lagi jatuh cinta..." Goda Sakura, " Lain kali, aku akan mempertemukanmu dengan Sai-kun."
" Benarkah? Janji loh." Kata Ino.
Sakura hanya mengangguk, " Oh ya jam berapa sekarang?" Sakura melirik sekilas ke arah jam tangannya. " Oh God! Aku terlambat." Sakura buru-buru mengambil tasnya. " Dan oh ya, ini untukmu." Sakura merogoh dompetnya dan mengeluarkan uang sebesar seratus ribu yen dan meletakkannya di tangan Ino. " Aku pergi dulu pig, Jaa~"
Sakura meninggalnkan Ino yang terpaku dengan uang yang telah di berikan oleh Sakura.
.
.
.
" Baru hari pertama latihan, kau sudah terlambat nona Haruno?" Sembur Ebisu.
Sakura hanya tertunduk, " Maafkan aku Ebisu-san."
Ebisu hanya menghela nafas panjang, " Baiklah, kali ini saya maafkan. Tetapi dengan catatan kau tidak mengulanginya lagi."
Sakura hanya mengangguk.
" Baiklah dansa Waltz merupakan dansa yang tidak dapat digolongkan menjadi dansa yang mudah. Dansa ini berbeda jauh dari dansa salsa ataupun dansa kontemporer. Dansa ini memerlukan kelihaian, kelenturan, dan tenntu saja keanggunan bergerak. Baiklah kita mulai gerakan dasar. Kemarikan tanganmu."
Sakura haya menurut.
Ebisu lalu memperagakan gerakan-gerakan dasarnya hanya bergerak ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang, berputar, dan yang terakhir menjatuhkan diri.
Ini mudah saja. Pikir Sakura. Tetapi kalian tahu Sakura sudah salah besar menganggap ini mudah.
Dan tanpa ia sadari seseorang di kursi pojok ruangan yang mirip panggung theater ini sedang mengamatinya. Mulai dari ia diomeli sampai ia berlatih sekarang ini.
" Ck. Dasar bodoh."
.
.
.
" Ouch. Nona kau menginjak kakiku lagi!" Erang Ebisu buntuk yang kesekian kalinya. Dia berlatih bersama Sakura hanya baru sekitar satu jam, dan setiap menit pula Sakura menginjak kakinya.
" Maaf."
Tak lama...
" Sudah beberapa kali kukatakan, kaki kiri yang melangkan terleih dahulu ke samping, bukan malah ke depan!"
" Maaf."
Tak lama kemudian...
" Nona kau terlalu cepat berputarnya!" Erang Ebisu( lagi) frustasi.
" Maaf."
Dan yang terakhir, kesalahan yang dibuat Sakura sudah cukup membuat Ebisu angkat tangan.
" Nona, kau akan menjatuhkan dirimu setelah hitungan yang ke delapan, bukan malah hitungan yang ke-enam kau sudah menjatuhkan dirimu. Lihat, sekarang kau jatu.h"
Sakura yang baru saja jatuh karena terlalu cepat menjatuhkan dirinya hanya bisa meringis kesakitan.
" Sudah cukup! Aku menyerah! Baru kali ini aku mengajar murid yang seperti nona. Baru gerakan dasar saja, nona sudah seperti ini! Aku akan katakan kepada Quee, kalau aku menyerah dalam mengajarimu. Cari saja guru yang lebih profesional dariku. Dan selamat siang!" Ucap Ebisu lalu meninggalkan Sakura yang terduduk lemas.
" Padahal pestanya sudah dekat." Kata Sakura terbata, " Tapi aku belum bisa menguasainya."
Sakura makin tertunduk.
Tanpa ia sadari, seseorang yang dari tadi mengawasinya berjalan ke arahnya.
" Kemarikan tanganmu. Aku yang akan mengajarimu dansa."
Sakura mendapatkan kaki jenjang sudah berdiri di depannya. Ia sedikit mendongakkan kepalanya dan memperlihatkan mata yang sudah berkaca-kaca dan pipi yang telah memerah.
" Sa-Sasuke-kun..." Kata Sakura pelan.
.
.
.
SKIPTIME
.
.
.
Party...
Malam ini kediaman Tsunade sangatlah ramai. Para tamu-tamu undangan sudah datang memenuhi aula utama yang telah di dekor secantik dan seindah mungkin. Suasana di bawah sudah ramai tetapi tidak dengan suasana hati Sakura.
Hatinya sangatlah kacau, ia terus meracau tidak jelas. Yap! Ini dikarenakan ia nervous karena ia harus berdansa. Padahal ia belum terlalu mahir berdansa.
Walaupun wajahnya kini telah dipoles sedemikian rupa, tetapi wajah nervousnya sangatlah terlihat.
" Nona tidak usah nervous. Lihat riasan nona luntur karena keringat." Ucap Tenten sambil merias kembali wajah Sakura.
" A..aku takut Tenten. Nantinya aku hanya membuat malu Baa-chan di depan banyak orang."
" Yang penting nona harus percaya diri. Saya yakin nona pasti bisa berdansa dengan baik."
Dan kata-kata Tenten cukup menenangkan hati Sakura.
.
.
.
" Para hadirin yang terhormat saya ucapkan terima kasih atas kehadirannya dalam pesta perayaan menyambut cucu saya dan sekaligus pesta pertungangan antara cucu saya dan putra kebanggaan saya Uchiha Sasuke." Ucap Tsunade, " Untuk itu saya tidak ingin berlama-lama berkomentar, karena saya juga ingin melihat cucu saya. Baiklah kita panggilkan cucu saya tercinta, Haruno Sakura."
Tepuk tangan menggema. Tiba-tiba suasana di ubah menjadi gelap. Hanya lampu sorot yang menyorotkan cahaaya ke arah tangga dimana seorang Sakura akan turun.
Perlahan Sakura menuruni tangga dengan anggun. Ia mengenakan gaun selutut berwarna perak mengkilap, rambut yang dibiarkan tergerai sampai punggung, dan sepatu hak tinggi senada dengan warna gauunya. Wajah yang telah dipoles sederhana tapi mampu menunjukkan kecantikan dari luar maupu dari dalam. Pipi yang bulat dan memerah bak delima, hidung yang mancung, bibir tipis yang telah dipoles berwarna cherry mengkilap, dan tak lupa kan kulit mulus bak porselen.
Seluruh tamu undangan terkesima. Apalagi para tamu undangan pria. Banyak yang menggumamkan kata 'cantik' 'anggun' dan pujian-pujian indah lainnya.
Tiba-tiba Tsunade menyenggol bahu Sasuke yang berada tepat di sebelahnya. Sasuke yang mengerti maksud Quee-nya segera menuju ke depat. Tepatnya di bibir anak tangga paling dasar. Berdiri dengan tangan yang siap meraih tangan Sakura bak Julius Caesar yang siap menyambut Cleopatra kapan saja. Bak Romeo yang siap menggandeng Juliet untuk membawanya bersamanya.
Sakura yang kini sudah berada di bibir tangga kedua terbawah, terseyum simpul menyambut tangan Sasuke, pangerannya.
Ditariknya dengan lembut Sakura menuju ke tengah aula tersebut. Siap memamerkan keserasian mereka.
Saat itu juga musik mengalun lembut menghipnotis indera pendengar para tamu.
Sakura yang kini merasa bak pelakon utama drama, merasa melayang. Ia sungguh tidak percaya akan berdansa dengan pangerannya. Ia merasa waktu terhenti. Terhenti sejenak untuknya. Hanya untuknya dan tentu saja untuk Sasuke.
Ia menggerakkan badanma dengan lantunan musik yang mengalun, bergerak kearah kana dan kiri, ke depan dan kebelakang, memutar, dan menjatuhkan dirinya pada sepasang tangan kekar yang siap menerimanya kapan saja. Ya, sang waktu telah berhenti untuk dirinya dan Sasuke.
Tapi, bak drama, Naruto yang daritadi setia menjadi penonton akhirnya maju ke depan seperti siap menunjukkan bahwa ia lebih baik daripada Sasuke. Mengerti, Sasuke akhirnya menyerahkan gadis itu ke arah Naruto, Sakura berputar dan akhirnya jatuh kembali ke tangan Naruto. Mereka berdansa sejenak, tetapi Sakura malah mendorong halus Naruto dan bergerak kembali menuju sang pangerannya.
Gerakan akhir, Sasuke eraih pinggang Sakura, mengangkatnya ke udara laluu membuangnya ke awang-awang dan siap menerimanya kembali. Dan Jeng! Sakura sudah berada di dalam pelukan Sasuke.
" Terima kasih." Gumam Sakura pada Sasuke. Peluh dari keduanya menetes dan kini telah menyatu di lantai.
Naruto, yang tadi sempat melakon, kembali ke penonton, seperti pada awalnya. Membiarkan kedua bintang utama saling berpandangan satu sama lain. Saling memperlihatkan ketampanan dan kecantikan mereka masing-masing.
Tanpa mereka sadari, sang takdir telah menunjukkan takdir mereka ke depannya. Sang takdir sengaja memperlihatkannya semua lewat tari. Tetapi ketiga anak manusia ini tidak menyadarinya.
.
.
.
Sakura dan Sasuke kii telah bergabung menjadi para tamu undangan.
" Baiklah, setelah dansa tadi, saya akan mengumumkan bahwa malam ini. Telah diresmikan dan semoga saja Kami-sama merestuinya bahwa cucu saya dan Uchiha Sasuke, putra bungsu dari keluarga Uchiha, telah resmi bertungan."
Dan saat itu juda tepuk tangan untuk yang ketiga kalinya menggema memenuhi seluruh ruangan.
" Oh Kami, mungkinkah?" Ucap Sakura.
.
.
.
TBC
A/N
Maaf baru apdet. Typo mungkin masih berserakan. Dan terima kasih atas reviewnya. Hehehe.
Author tidak mau banyak bacot..
And see ya in next chapter...
Mind to review?
