Disclaimer: Bleach? Hanya milik Tite Kubo!

Chapter 2: …dan Aku Benci Dia

Berisik!

Beginilah kalau makin banyak spesies perempuan di rumah ini, tidak hanya keributan tapi juga bisa dipastikan tidak ada lagi yang namanya privacy di dalam kamarmu sendiri.

Bahkan hari belum menggapai fajar, tapi lihatlah yang dilakukan kakak tercintaku ini di dalam kamarku. Seenaknya saja dia masuk kamarku sebelum jam 4 dini hari, dengan hanya mengetuk pintu sekali tadi, membuatku terpaksa bangun dengan mata seperempat tertutup, melongo sambil terduduk di atas kasurku, memeluk bantal favoritku. 'mau apa sih dia malam-malam begini?'.

Tidak banyak yang bisa kulakukan, terus terang saja aku masih sangaaaaaaaaat mengantuk, jadi aku hanya meliahatnya mondar-mandir di kamarku, memunguti semua yang dianggapnya layak dicuci dan kalau bisa dibuang, ya dibuang saja, sambil menanyaiku hal-hal aneh seperti,

"Ichigo, pakaian kotormu kuambil, ya?"

"Hufftt…ini pakaian sejak jaman apa, Ichigo? Bau semua. Kenapa kamu tumpuk di sini? Jorok."

"Ya ampun, apa ini? Yang seperti ini masih disimpan? Pantas saja kamarmu ini baunya aneh sekali, ada yang beginian sih."

Entah apa isi orasi yang dia sampaikan gelap-gelap begini, aku tidak terlalu ambil pusing.

Masa bodoh!

Aku masih mengantuk.

"Kamu jangan tidur lagi, ini sudah pagi, nanti telat ke sekolah. Bangun!," begitu ujarnya saat aku mau menjatuhkan diri ke atas kasurku lagi.

"Gila!," terlontar dari mulutku begitu saja.

"Apa?" sontak dia menatapku tajam, padahal tadi sudah di ambang pintu kamar. Jelas-jelas dia dengar, kenapa harus tanya lagi. Dasar tuli!

"Tulimu itu belum sembuh juga, ya?" tanyaku tanpa melihat ke arahnya. Kualihkan pandanganku ke jendela yang sedikit terbuka. Di luar masih gelap, tampak belum ada kehidupan satu pun, bahkan lampu mercury jalanan pun berkedip-kedip seolah ingin mati saja.

"Aku tidak tuli, bodoh," elaknya.

"Yah, tapi kurang pendengaran," aku masih enggan melihatnya.

"..hmm…dengar ya, Tuan Muda…" alih-alih keluar kamarku dengan membawa setumpuk entah-apa di tangannya, dia malah mendekati tempat tidurku, manusuk dahiku dengan jarinya yang lentik, "…aku tidak gila dan juga tidak tuli. Tapi kamulah yang pemalas. Aku masuk kemari untuk mengambil semua barang-barangmu yang lebih jorok daripada sampah di pojokan jalan sana. Jadi ada baiknya kamu bangun dan segera sapu kamarmu ini sebelum berangkat sekolah. Mengerti?"

Apa-apaan dia ini? Memangnya dia siapa menyuruhku ini dan itu? Terserah aku 'kan mau bangun kapan, mau nyapu apa nggak, mau mati apa hidup?

Baru tiga minggu dia di sini sudah membuatku lebih gila daripada seorang gila yang lebih gila dari orang paling gila di dunia kegilaan. Intinya, dia membuatku stress!

"Hey! Mengerti tidak?" dia bertanya lagi dengan nada lebih mengancam, dan tatapan mengintimidasi padaku.

Meski keadaan kamarku yang memang tidak bisa dibilang terang, karena cuma ada lampu belajar yang menyala, dan dengan bau kamar –yang memang harus kuakui beraroma tikus mati, bisa kulihat kilatan cahaya di matanya yang sebenarnya...hmm apa ya?

Dan...hey, apa dia sudah mandi dini hari begini? Baunya...

BUK!

"Aaww!," sukses besar! Dia akhirnya kehilangan kesabaran menanti jawaban dariku, tampakya sih begitu. Bisa kulihat.

Baru saja dia memukulku keras dengan bantal yang tergeletak di sampingku. Pukulannya lumayan, bisa membuat dunia mimpi manapun bergoncang.

"Kenapa setiap kutanya, kamu selalu tidak menjawab? Menyebalkan!"

"Tadi itu sakit, bodoh!"

"Aku tidak tanya tadi sakit atau tidak,"

"Tapi tadi itu sakit! Kena mataku!" sial! Memang kena mataku. Perih.

"Makanya, kalau ditanya ya menjawab. Dasar. Coba sini kulihat...," kini nadanya terdengar sedikit pelan, sembari mengulurkan tangannya ke wajahku, seolah dia bisa menghilangkan perih dalam sekejap hanya dengan menyentuh dan melihatnya.

"Akh! Tidak usah!," kutampik tangannya. Aku tidak butuh pertolongannya.

"Huh! Ya, sudah...,tapi nanti bereskan kamarmu ini," akhirnya dia menjauh. Menutup pintu kamarku dengan pelan, sambil membopong tumpukan barang-barangku yang dijarahnya tadi.

Tidak di rumah, tidak juga di sekolah, selalu ada saja serangga pengganggu seperti yang ini, "Ichiiiiggooo...yuhuuu! Saatnya makan siang, ayuuukkkss kita makan bareng di atap!" siapa lagi kalau bukan Keigo.

"Tidak perlu bilang juga aku tadi dengar bel makan siang," ujarku bangkit dari tempat dudukku.

Rasanya lapar sekali. Benar saja tadi pagi aku tidak sempat sarapan, aku benar-benar kesiangan dan nyaris tewas diseret ke sekolah oleh kau-tahu-siapa.

Karena sudah di atap, ya mari kita makan! Tapi...

"Ichigo...kakakmu tidak ikut bergabung dengan kita?," tanya Mizuiro asal jeplak.

"Oh iya benar! Ayo ajak Rukia-senpai juga! Pasti suasana makan siang akan leeeebih ceraaaaaaaaahhh!," tambah Keigo girang.

"…hari ini bekalmu kau bawa sendiri. Kukira kakakmu akan membawakannya lagi untukmu," Ishida nimbrung.

"Kalau dibawakan lagi, Ichigo terkesan manja sekali pada kakaknya, ha-ha..," bahkan Chad juga ikut-ikutan dengan kalimat lumayan panjang begitu. Oh, Chad sungguh kemajuan pesat!

Apa-apaan mereka ini? Dia bukan kakakku. Bukan! Dia cuma...cuma orang asing yang terdampar di rumahku. Jadi...

"Jadi, Ichigo,..mmm..apa Rukia-senpai sudah punya pacar?," tanya Mizuiro lagi.

"Tidak tahu dan tidak mau tahu," jawabku datar. Memang apa urasannya denganku? Bahkan aku tidak ingin tahu dia tinggal seatap denganku, menyandang nama keluarga yang sama denganku. Dan mau tahu kenapa manusia-manusia di sekitarku ini dan hampir dua lusin guru di sekolah ini tahu dia kakaku?

- Flashback -

Rukia Kurosaki, hari ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, menginjakkan kaki di SMA Karakura.

"Kurosaki? Kau ...," ujar kepala sekolah dengan tatapan heran kepada nona mungil di depannya yang hanya melayangkan senyum dan menganggung.

"Ya, saya Rukia Kurosaki," ujar Rukia mantab.

"Sudah kuduga, Ichigo si bocah badung itu suatu saat akan melakukan hal-hal tidak senonoh seperti ini...ck," kepala sekolah SMA Karakura pasang tampang sedih dan menyesal, seolah gagal mendidik seorang siswa dengan benar.

Rukia malah dibuatnya bingung, "Eh?"

Kepala sekolah angkat bicara lagi, "Jadi, kau terpaksa menikah dengannya karena dia sudah melakukan 'sesuatu yang itu' padamu 'kan?,"

"Eh? Ap-..ti,tidak! Aku …", elak Rukia. Tentu saja, siapa yang menikah, dan apa pula yang dimaksud sesuatu-itu? Salah paham! Begitu batin Rukia.

Belum juga Rukia menjawab, dua orang guru lain ikut bergabung, manatap lurus-lurus pada Rukia, "Katakan saja, Nona. Kami sudah tahu Ichigo itu bandelnya macam iblis, angkuhnya macam dia itu kaisar, tapi tidak kami sangka dia tipe yang bertanggung jawab seperti ini. Jujurlah, Nona!,"

"..eh, maaf. Tapi dia itu adikku," seolah kalimat Rukia adalah serangan bom atom, seketika itu juga dua orang guru dan sang kepala sekolah nafasnya terjebak dalam alveolus dan tak kunjung keluar bertukar dengan yang baru. Dan entah bagaimana caranya, berita itu tersebar di seluruh ruang guru.

"Jadi, kalasku dimana?" tanya Rukia yang sudah tidak ingin berlama-lama di antara kominitas gossip itu.

"Halo Bapak, bisa kutahu dimana kelasku?" tanya Rukia lagi sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah aneh kepala sekolah yang masih shock.

"..oh..iya..iya. Kelasmu di 3-4. Ibu Yoshie akan mengantarmu, kebetulan beliau wali kelas 3-4," jelas kepala sekolah itu kelihatan masih terkejut.

'Apa semua orang di Karakura tidak bisa langsung menjawab saat ditanya, ya?' tanya Rukia dalam hati.

Hal yang sama juga terjadi di kelas 3-4.

Rukia berdiri di depan kelas, siap memperkenalkan dirinnya.

"Namaku Rukia Kurosaki, pindahan dari Sapporo, salam kenal semuanya!" ujarnya biasa saja. Tapi responnya, "WHAAAAAATTT? KUROSAKI?"

Respon yang lebih kurang sama, terjadi di sini, di kelas sang kaisar yang dibicarakan.

Sudah 15 menit waktu istirahatnya terbuang hanya untuk mencari kelas 2-3, kelas Ichigo. Rukia berputar-putar sekolah itu hingga, "Aha! Ini dia kelasnya," ujarnya pelan di depan kelas yang dimaksud, tersenyum senang.

Rukia melongo sesaat di pintu kelas, mencari sesuatu yang bersinar lebih terang daripada mentari Jepang. 'Oh, itu dia'

Dengan langkah mantab, dan perkasa Rukia memasuki danger area. Kelas itu ramai sekali. Di sini dan di sana semuanya mengoceh, tertawa, saling lempar, saling rayu, mengejek, bahkan tidur tidak beradab di pojokan kelas. 'huh, bisa-bisanya..'

"Ini!," ujar Rukia sambil mendaratkan kotak bekal di atas buku yang sedang dibaca dengan sepenuh hati dan seember penuh konsentrasi oleh Ichigo.

"Tadi pagi kamu lupa membawanya," dentuman kotak makan siang itu, bagi Rukia, biasa saja, bahkan tidak mengeluarkan bunyi yang berarti. Tapi cukup membuat seluruh penghuni kelas 2-3, DIAM.

Ichigo mengangkat kepalanya, manatap lekat-lekat perempuan di depan mejanya.

Semua manusia di situ masih DIAM lima ribu bahasa, dan seolah menunggu reaksi berikutnya.

"Tidak perlu," kata Ichigo kembali menatap bukunya, menggeser kotak bekal tadi.

"Kenapa?," tanya Rukia.

"Aku tidak lapar. Bawa pergi," kata Ichigo BOHONG besar, tanpa melihat Rukia yang tensi darahnya mulai naik dari 120/80 ke angka 130/90.

"Makan!"

"Tidak!"

"Atau kusuapi!"

"AP- Tidak! Kubilang bawa pergi!"

"Sudahlah, Kurosaki, terima saja," celetuk Ishida memang dengan niat memanaskan suasana yang sudah membara.

"Ishida-kun…" Orihime yang di belakang Ishida, tampak was-was, karena pacarnya nekad plus kurang ajar.

Eh, tapi ternyata orang-orang melenceng di kelas itu berseru tanda setuju. Niat Ishida terlaksana. Ichigo terlihat makin geram dan kelaparan, seolah bisa menelan si pensil Ishida hanya dengan sekali kunyah.

Kemudian Mizuiro ambil bagian, "Tenang dulu teman-teman! Kita tanya dulu siapa gadis manis ini. Aku belum pernah melihatnya. Jadi, Nona, siapa kau?"

Mizuiro mengeluarkan bakat alaminya untuk menggaet wanita. Hoho. Tapi sayangnya Rukia tidak merespon lebih dari yang diharapkan Mizuiro.

"Ak,..aku Rukia, kelas 3-4," ujar Rukia ragu-ragu karena seluruh penghuni 2-3 menatapnya. Bahkan Keigo sudah ngiler di depannya.

'Wah! Kelas 3...!'

"Usia mu berapa?" tanya Mizuiro makin intens.

"..de., delapan belas tahun.."

'Wiiihh...hampir mendekati seleraku' batin Mizuiro.

"Margamu?" tanyanya lagi.

Sesaat Rukia melirik ke arah Ichigo, berharap ada kode persetujuan dari Ichigo untuk menyebutkan marganya. Tapi yang dilirik tak kunjung memberi respon berarti, malah makin acuh pada buku yang dibacanya.

Rukia tahu, Ichigo belum bisa menerimanya masuk dalam keluarganya, dan Rukia juga tidak ingin memaksanya untuk menerima. Untuk itulah dia selalu berhati-hati, tertutama untuk keadaan yang seperti ini. Namun, sebaliknya yang dimaksud malah bersikap menyebalkan.

"Kurosaki. Margaku Kurosaki," jawab Rukia dengan menahan nafasnya. Sebenarnya dia takut dengan reaksi Ichigo.

"APAAAAAA?," yah, orang-orang di kelas itu serempak dan kompak berseru seperti itu. Sontak memindahkan bola mata mereka kepada Ichigo, yang masih tidak memberi respon apa-apa.

"Kau apanya Ichigo?"

"Hubungan apa dengan jeruk ini?"

"Kurosaki, jangan-jangan kau..."

"Ichigo, jelaskan semua ini...hiks...kau... gadis ini punyamu?"

"Hei, Rukia-senpai kalian berdua saudara atau hanya kebetulan bermarga sama?"

"Ah, tidak mungkin kebetulan bermarga sama."

"Bisa saja 'kan. Banyak yang punya marga sama."

"Hey, tapi mereka berdua ini mencurigakan sekali."

Dan demikianlah was-wes-wos di antara teman-teman sekelas Ichigo, karena tiba-tiba saja Ichigo bangkit dari tempat duduknya.

"Dia cuma saudara jauh."

Menggapai legan Rukia, dan menggeretnya keluar kelas. Semuanya masih berceloteh tak tentu topik, Ichigo tidak peduli, yang terpenting saat itu adalah melempar Rukia kembali ke kelasnya.

Tapi , Oo! Tak semudah itu jalannya.

Di pintu kelas, Ichigo berpapasan dengan Senna yang hendak masuk kelas.

"Ah! Ichigo. Ada yang ingin ku-..," kalimat Senna terputus ketika menyadari Ichigo tak sendiri saat itu.

"Senna?" hanya itu yang keluar dari mulut Ichigo.

Sedangkan Rukia, hanya tersenyum pada Senna, sambil menahan sakit dilengannya yang masih dicengkram erat oleh Ichigo.

End of- Flashback

Dia itu... mantan pacarku.

Senna.

Meski sudah putus 5 bulan lalu, tapi kulihat dia masih memakai pita merah maroon yang kuberikan sampai sekarang.

Dan entah sudah berapa lama aku berdiri di sini, memandanginya dari jauh. Waktu istirahatku selalu terbuang sia-sia beberapa minggu terakhir hanya untuk hal ini.

Eh? Dia berjalan mendekati tempat di mana aku berdiri sekarang. Senyum mengembang dari bibirnya.

"Hai...Ichigo?" sapanya padaku.

Tanpa ragu kubalas, "Hey, Senna."

"Hmm...ada yang ingin kukatakan padamu." Ujar Senna sambil menunduk di depanku.

"Yang waktu itu terputus di depan kelas?" dia mengangguk.

"Be, begini...kau ingat tidak 3 bulan lalu kita berdua memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kita karena hal itu?"

'Hal itu'?

Oh, ya. Alasan konyol yang membuatku menyetujui untuk putus dengan Senna. Alasan yang meurutku terlalu dipaksakan.

"Oh itu...aku ingat."

"Ja, jadi kupikir...alasan itu sangat tidak masuk akal. Ma, makanya...aku...aku..." kalimatnya terputus-putus dan suaranya pun makin mengecil. Mustahil bisa kudengar. Kenapa? Dia keliatannya...malu-malu?

Kutunggu kalimatnya hingga selesai.

"Kenapa, Senna?"

"...aku, kalau kau mau, bagaimana kalau kita jadian lagi?" Senna langsung menatapku, meminta jawaban, tapi buru-buru dia tambah, "Aah! Kalau kau tidak setuju ju,juga tidak apa-apa, aku-"

"Baiklah.", kata itu keluar begitu saja.

"Apa?"

Jujur, aku memang masih menyukainya. Hehe.

Senna tersenyum.

Jadi kukira, tidak ada salahnya memulai lagi. Yes! Diam-diam aku kegirangan sendiri dalam hati.

"Wah! Jadian ya, Ichigo?" suara itu... Waakkh!

"Sedang apa kamu di sini? Pergi!" siapa lagi kalau bukan 'dia' itu.

"Iya-iya, aku akan pergi. Aku ke sini hanya ingin bilang pesanan Yuzu yang tadi pagi jangan lupa, atau kita serumah tidak makan malam." ujarnya santai di depanku, seolah tidak paduli –tidak ingin peduli, kalau aku sedang dalam suasana yang HARUS berduaan saja dengan Senna.

"Hiih! Iya! Aku belum pikun!" benar-benar bikin emosi orang ini.

"Ini catatannya. Jangan lupa satu barang pun. Mengerti?" sok memerintah sekali, "Hai, Senna 'kan?" sempat-sempatnya bilang 'hai' padanya.

Senna tersenyum, tapi kali ini berbeda.

"Kalian...serumah?" tanya Senna pada'nya'.

"Yah, begitulah," jawab'nya'.

Bisa kulihat raut wajah Senna, yang tadi secerah langit gunung Fuji, berubah menjadi langit di atas segitiga bermuda.

Aku tahu sejak dulu, Senna sangat pencemburu, bahkan untuk hal-hal sepele. Dan ini benar-benar harus dijernihkan.

"Umm…Senna..bi-," maksudku untuk menjelaskan, sejelas-jelasnya pada Senna tentang siapa si tengik ini. Tapi…

"Kalian berdua akrab?" tanya Senna lagi, menyelaku.

"Hmm...mungkin sangat akrab, sampai-sampai aku tahu semua isi kamarnya. Iya 'kan, Ichigo?" bisa-bisanya dia balik tanya padaku dengan tatapan tanpa dosa begitu.

Seketika itu juga Senna berbalik, dan berlari menjauhiku, tanpa berbicara apapun, tanpa memberiku kesempatan.

"Lho? Kok kabur?"

Saat itu juga, ingin sekali aku berteriak di depan kakak tercintaku itu. Memakinya habis-habisan. Tidak bisakah dia menggangguku di kesempatan selanjutnya? Tidak bisakah dia membiarkanku bebas kalau di sekolah?

Aku benar-benar tidak suka dengan dia ini. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan selain menatapnya dengan penuh benci.

"Heh, kenapa melihatku seperti itu?" tanyanya masih juga belum sadar dengan tingkahnya dan efek yang ditimbulkan oleh sikapnya itu.

Kutinggalakan saja dia di situ, memanggil namaku beberapa kali, kuabaikan.

Aku tidak bisa marah di sini. Tidak di sekolah.

"Selamat datang, Onii-chan!" sapa Yuzu seceria biasanya.

Akhirnya, kuputuskan untuk pulang setelah berusaha mencoba bicara pada Senna tadi. Hasilnya sama saja, dia tidak mau bicara padaku. Sial! Padahal baru saja kudapatkan hatinya lagi.

Moodku benar-benar buruk, lebih buruk dari dua minggu lalu.

Aku bisa meledak kapan saja.

Ingin ke kamar, dan langsung tidur.

"Ini pesananmu," kataku sambil menyerahkan belanjaan pesanan Yuzu, tidak ingin memperpanjang percakapan.

"Terima ka-, hmm? Onii-chan, kenapa beli yang ini? Yaahh…" rajuk Yuzu begitu melihat isi bungkusan yang kubawa tadi.

"Ng? Bukan yang itu? Tapi di catatan yang kamu berikan yang itu," kubuka kembali catatan yang 'orang' itu berikan padaku.

"Bukan catatan yang ini, Onii-chan," kata Yuzu.

"Tapi ini dia yang berikan." Nah, orang yang kumaksud baru saja masuk rumah.

"Aku pulang," pekiknya riang.

"Ruki-nee, Onii-chan salah membeli pesanan yang kumaksud, jadi…hari ini kita batal untuk-," entah apa yang akan mereka berdua buat, tapi Yuzu kelihatan kecewa.

"Tenang, Yuzu! Sudah kubelikan yang kamu maksud. Ta-Da! Ini 'kan?" dia mengeluarkan benda itu dari kantong belanjaannya, dengan penuh kebanggaan.

Apa-apaan ini? Apa maksudnya memberiku catatan yang berbeda dari yang dimaksudkan Yuzu?

"Ah! Terima kasih, Ruki-nee," Yuzu kembali secerah biasanya. "Untung, Ruki-nee beli."

Ada yang tidak beres di sini. Aku merasa dikerjai olehnya.

Tiba-tiba Karin menambahkan sesuatu yang sungguh membuatku ingin pergi ke kamar dan tidak akan keluar untuk selamanya. "Ichi-nii tidak berguna seperti biasanya, ya."

Kalimat itu terdengar biasa dan memang biasa saja saat Karin ucapkan padaku saat-saat sebelum ini. Karin sering mengataiku begitu, dan aku sama sekali tidak merasa itu sebagai sesuatu yang mengganggu atau menjegkelkan.

Tapi, kini, keadaannya berbeda. Aku merasa dikerjai oleh 'orang asing' ini. Aku tidak berpikir panjang, kutinggalkan mereka semua, menuju kamarku. Aku harus sendiri dulu, kalau tidak…

"Hey!" dia lagi.

"Tinggalkan aku," kataku dengan nada yang hampir tidak bisa kukendalikan lagi. Tapi dia masih mengikutiku sampai lantai atas.

"Kamu kenapa?" pake nanya lagi.

"Bukan urusanmu!" aku hampir lepas kontrol.

Saranku adalah dia harus menyingkir dari hadapanku dan jangan mendekat kurang dari radius 12 kilometer.

"Kena-,"

"KUBILANG PERGI!" oke aku marah.

"Tidak perlu berteriak begitu, bodoh," aku benar-benar tidak ingin diganggu.

"Lakukan yang kamu suka di rumah ini, jadilah yang kamu mau di rumah ini, dan ambil semua yang kamu ingin miliki. Kuharap setelah itu kamu lenyap."

Aku sendiri tidak tahu apa yang kuucapkan. Kalimat itu terlontar begitu saja.

"Apa sih masalahmu? Setiap kuajak bicara selalu seperti itu," dia ingin tahu sepertinya.

"KAMU. Kamu itu masalahnya. Masalah bagiku! Dan bagi keluarga ini!"

Ingin kukeluarkan semuanya. Semua!

"Pertama, kamu seenaknya masuk keluarga ini, dan bertingkah seolah kamu penting di sini. Kedua, kamu terlalu banyak mengganggu kehidupanku, dengan sikapmu yang pura-pura tanpa dosa itu, apa kamu tidak bisa membiarkan aku bebas di sekolah, hah? Bebas dengan seseorang yang kusuka, tanpa mengendus baumu di sekitarku?" harus kukeluarkan semua yang ada di kepalaku. Supaya dia tahu, kalau dia itu benar-benar mengganggu.

"Heh! Dan kalau kamu mau perhatian dari Yuzu, tidak perlu mengerjaiku seperti tadi, membuatku seolah memang benar-benar tidak berguna di depan keluargaku sendiri."

Nafasku memburu, terengah-engah tak karuan. Tak pernah sekalipun aku begitu emosional seperti ini, bahkan untuk hal-hal paling laknat di sekitarku.

"Ak-," tidak kuberi dia kesempatan untuk menyelaku.

"Ambil semuanya dariku! Ambil saudaraku, ambil ayahku, terserah! Tapi perlu kamu tahu, mereka hanya kasihan padamu," ujarku memang sedikit...menghina? Mungkin.

Tapi seketika itu juga kurasakan nafasku sesak, sesuatu menghantam wajahku, pipiku. Perih, panas, sakit...

"Ayah!" pekik gadis itu histeris.

Kemudian kusadari, bahwa tadi adalah tamparan pertama dari ayah. Tepat di pipi kananku. Aku bahkan tidak sadar keberadaan ayah, aku terlalu marah.

Kulihat mimik wajah ayah yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Begitu marah, kecewa, sedih?

Aku tidak tahu.

Hmmm...

Saya ucapkan terima kasih banyak kepada seluruh reviewer yang telah memberi apresiasinya pada fic 'kecelakaan' perdana saya sebelumnya. Kepada yang reviewnya belum saya balas lewat PM, silakan baca tulisan di bawah ini.

Chappynk : reviewer pertama saya yang terhormat, komentar Anda sungguh mengharukan. Saya menulis fic, Anda malah komentar pen-name saya. Hyaaaaahhh…tapi terima kasih banyak telah mereview. (Oh! Dan saya tidak suka kucing, juga benci kupu-kupu)

Micon : maafkan atas mulut mereka berdua yang memang harus disemprot karbol. Terima kasih telah menyukai fic saya. Maaf juga tidak bisa update kilat, karena ketua kelas saya sedang dinas keluar kelas, jadi waktu melamun saya di kelas tersita untuk bolak-balik ruang guru, dan berusaha berkomunikasi dengan orang-orang melenceng di dalam kelas.

ZieraInc0ol : terima kasih Zie-san! Jadi terharu. Oh, Anda rela atau tidak, Ichigo akan saya buat tergila-gila padanya. Hohoho.

Fun-Ny Chan : terima kasih! Chappy berikutnya still in progress, pyon!