Disclaimer: Bleach?
Hanya milik Tite Kubo!
Chapter 3: Repair The Broken Heart
Di sinilah aku, terpaku dalam gelap malam dan kesendirian.
Hukuman.
Tidak ada teman, tidak ada cahaya, tidak ada hiburan, tidak ada ponsel, tidak ada apapun.
Sudah seminggu aku begini. Dan dia itu selalu bikin aku susah. Ada saja yang membuatku makin bersalah di depan ayah.
"Jangan pernah keluar dari kamarmu, kecuali untuk sekolah," ujar Isshin tegas dengan tatapan murka pada Ichigo.
Heh. Seperti anak kecil saja. Sudah sebesar ini aku masih diberi hukuman ketinggalan jaman seperti ini. Tidak ada kehidupan sosial selama 1 bulan untukku, begitu hukumannya. Menyebalkan!
Oh, 'dia' itu sungguh menyebalkan. Sialan.
"Ichigo…?" suara itu memanggilku dari seberang pintu kamarku. Mengetuk pelan.
Tapi tidak kuberi jawaban, karena itu suara'nya'. Mau apa lagi dia? Belum cukup membuatku bernasib begini?
"Ini makan malammu. Bukalah, semua sudah tidur, kamu bisa keluar sebentar dan makan. Ayah tidak akan tahu. Kamu belum makan sejak siang tadi 'kan?" peduli apa dia?
Aku masih tetap diam, menatap langit-langit kamarku yang gelap. Menahan agar tidak berteriak padanya supaya dia pergi.
"...sudah tidur ya?" hening sesaat, "...selamat tidur, Ichigo."
Terdengar langkah kaki yang menjauh. Baguslah.
01.03 am. Yup! Saatnya melancarkan rencana.
Kusambar jaket cokelat bertudung yang sudah dari tadi kupersiapkan. Kemudian perlahan membuka pintu kamarku, memastikan tidak ada orang di koridor.
Berjinjit-jinjit berusaha tidak mengeluarkan sedikit suarapun, sekecil apapun tidak boleh. Karena rata-rata pendengaran orang-orang di rumah ini bisa mendengar yang bahkan tidak bisa di dengar kelelawar, terutama Karin, jadi harus hati-hati.
Dengan langkah yang nyaris terasa melayang, akhirnya aku menjejak lantai di depan rak sepatu, di dekat pintu depan. Benar! Aku mau minggat! Pergi tanpa pamit, jika kau tidak tahu minggat itu apa.
Untuk apa lagi aku bertahan di sini jika keberadaanku sudah digeser. Tidak ada gunanya. Kukira pergi –untuk sementara, adalah yang terbaik.
Kemana?
Itu urusan nanti, yang penting harus keluar dulu, sebelum para zombie bangkit dari tidur mereka.
"Ichigo?"
Setaaaaaaaaaaaaaaaannn! Kaget! Sumpah kaget!
Bisa saja tadi itu yang minggat bukan aku, tapi jantungku.
"Kamu…mau ke mana?" tanyanya berdiri di belakangku. Aku tak mendengar seorang pun turun tangga tadi, kenapa dia tiba-tiba di sini? Terbang?
"Bukan urusanmu," jawabku ketus.
Sesaat dia tidak merespon, tidak seperti biasanya yang selalu ngotot ingin dapat jawaban dari setiap pertanyaannya.
"...so,soal yang kemarin...aku minta maaf." Wah! Sedang kerasukan apa dia, tiba-tiba minta maaf.
"Heh, bukankah itu yang kamu harapkan? Ayah mengira aku yang salah dan tidak beradab? Itu 'kan maksudmu datang kemari?," aku tidak peduli kini wajahnya tertunduk dalam. Seolah memandangku adalah dosa.
"…harusnya kamu senang, karena sekarang aku akan pergi dari sini, dengan begitu tidak ada lagi penghalang bagimu," lanjutku.
"Ku,kumohon…," ujarnya lirih, nyaris tak terdengar olehku.
"Apa lagi yang kamu tunggu, tidurlah…," suruhku. Kini kukenakan sepatu snicker bututku, siap pergi.
"…kumohon …jangan…," ujarnya makin lirih.
"…tidurlah, mimpi indah…"
"…jangan bicara seperti itu…"
"...dan ketika kamu bangun besok pagi…"
"bukan seperti ini yang kumau…," aku masih tidak peduli dengan ucapannya.
"…kamu akan mendapatkan yang kamu mau," kataku, membuka pintu dan melangkah keluar, hembusan angin malam bisa kurasakan.
"Bukan seperti ini, Ichigo!"
Tiba-tiba saja dia menyeretku masuk kembali ke rumah. "He,Hey!"
Wajahnya bisa kulihat dengan sempurna, meski hanya dengan bantuan beberapa lampu yang menyala. Kulitnya yang pucat, kontras dengan rambut hitamnya yang tergerai tak beraturan. Tatap matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya, begitu hidup namun sembab, membuat desiran aneh dalam diriku. Entahlah.
Nafasnya terengah-engah, seolah ditahannya lama. Dia genggam erat tanganku, bisa kurasakan dia sedikit gemetar, tanpa bicara apapun. Jadi kuputuskan juga untuk diam, tidak bicara apapun.
Kami berdua berdiri di lantai depan rak sepatu, begitu saja, dalam diam, entah berapa lama. Aku menikmatinya, aku lupa niatku untuk pergi, ada yang lebih menarik daripada sekedar minggat dari rumah.
Dia tetap menatapku dalam diam, menatapku dalam, membuatku seolah bisa terbaca olehnya, seolah niatku untuk pergi dari rumah ini hanya sebuah gertakan dengan mudah diketahuinya.
Kusadari mata indah itu mulai membentuk permukaan kaca, yang rapuh, yang bisa pecah kapan saja hanya dengan sentuhan kecil. Tapi kemilau kaca itu tak kunjung runtuh, melainkan bertahan, tetap teguh mempercantik mata itu.
Ingin kusentuh, biar serpihannya mengalir, biar aku bisa menghentikan derasnya. Biar aku saja...
Tunggu! Apa yang kupikirkan?
Oh, ya ampun. Sesaat aku lupa kalau aku sangat benci padanya.
"Mau apa menahanku?" tiba-tiba suaraku parau, namun tetap kupertahankan supaya terdengar biasa, "...supaya ayah tahu kalau aku pergi? Supaya hukumanku ditambah, begitu?"
Akhirnya dia bicara,"..aku yang akan pergi. Aku akan kembali ke Sapporo, tempatku. Akan kubicarakan dengan ayah pagi nanti. Jadi, kumohon jangan punya niat aneh lagi seperti ini."
Genggamannya melemah, dan akhirnya lepas dariku. Oh, tanpa sadar akulah yang menggenggam tangannya, bukan dia. Semoga dia tidak menyadarinya.
Dia berjalan gontai, kembali ke ruang rumah yang lain, tampaknya dia menuju dapur. Kepalanya tertunduk, seakan begitu berat.
Sekarang, aku diserang rasa bersalah. Kenapa? Harusnya aku senang dia akan pergi. Kenapa sekarang rasanya aku terlalu seenaknya? Kenapa?
Kulepasakan sepatuku, mengaturnya kembali di deretan sepatu dalam rak. Kususul dia ke dalam, ke dapur. Tampaknya dia sedang mecuci sesuatu di bak cuci piring. Kulihat cardigannya menggelayut di salah satu kursi tinggi di kitchen counter, sekotak kertas tissue, beberapa gumpalan tissue habis pakai berserakan di lantai dapur, apa dari tadi dia di sini? Apa yang dia lakukan tengah malam begini? Sendirian di dapur?
"Aku hanya mencuci gelas yang kupakai tadi, akan segera kubereskan yang ini juga. Tidurlah," ujarnya begitu melihatku berdiri terheran-heran di belakangnya. Dia menolak menatapku.
Entah apa yang terjadi padaku, tapi begitu berat melihat keadaan seperti ini, tepatnya perasaanku tidak enak padanya. Kupunguti kertas-kertas tissue habis pakai itu, membuangnya dalam tempat sampah.
"Ti, tidak perlu, biar aku saja," dia berjongkok di depanku, tetap menyembunyikan wajahnya di bawah geraian rambut hitam itu.
Sesaat hanya kuperhatikan tingkahnya.
"Jangan pergi," aaaakkhh! Keluarlah kalian para setan yang membuatku tiba-tiba berucap seperti itu. Ya, aku bilang padanya 'jangan pergi'. Pasti terjadi gangguan pada arus listrik di saraf motorikku.
"Ha?" sontak dia menatapku dengan heran. Matanya sembab. Menangiskah? Kapan?
"Ma,maksudku...kamu tidak perlu pergi dari sini. Yah, tidak perlu kembali ke Sapporo," jelasku agar tidak terjadi salah paham.
"Eh? Ti,tidak perlu berusaha sekeras itu untuk menerimaku di sini. A,aku akan bilang pada ayah ti-"
"Ya, dan nanti aku lagi yang kena masalah, atau kamu memang selalu ingin aku yang dipersalahkan sekalipun kamu sudah pulang ke Sapporo? Kamu dendam padaku ya?" elakku sebelum kalimatnya selesai.
"Bukan. Tentu saja bukan begitu maksudku. Hanya saja-"
"Tentu saja ayah akan berpikir begitu."
"Tidak akan begitu, Ichigo. Akan kujelaskan pada ayah, yang sejelas-jelasnya, ja-"
"Akan begitu. Ayah pasti berpikir kepergianmu dari sini karena suruhanku, memangnya siapa lagi yang selalu mengintimidasimu di rumah ini selain aku," paparku lagi, masih konsentrasi memungut sampah.
Dia tidak merespon, cukup lama. Sesaat kuabaikan sampah-sampah yang kami berdua bersihkan dari lantai, kuangkat kepalaku, mendongak untuk menatapnya. Dia tersenyum, tertawa kecil.
"Jadi si Kurosaki yang terhormat, mengakui sifatnya yang suka mengintimidasi orang baru, hm?"
Sial. Dia menggodaku. Kenapa lidahku terus terpeleset dini hari begini sih?
"Ti, tidak," setidaknya aku harus membela diri.
"Hm, tidak salah lagi," godanya lagi.
"Tidak! Aku tidak mengintimidasi," harus terus membela diri.
"Ya, tapi kamu menyudutkan orang," akulah yang tersudut.
Alih-alih menjawab, aku hanya diam dan bersungut. Kekanakan sekali.
Lalu dia tertawa. Tawa yang begitu bebas, yang tidak pernah kudengar selama dia serumah denganku. Tawanya benar-benar menyenangkan. Sembab di matanya, terlihat tak begitu berarti lagi. Wajah pucatnya merona karena tawa.
Sebuah perasaan yang sudah lama tidak kurasakan kembali muncul saat melihat orang yang sangat tidak kusukai ini tertawa, bahkan dia gagal menahan gelak tawanya agar tidak terdengar para manusia yang terlelap.
Senang.
Jangan tanya aku kenapa tiba-tiba jadi seperti ini. Kubiarkan saja seperti ini. Sebab ini yang kurindukan sejak lama. Sejak seorang yang sangat berarti bagiku, bagi keluarga ini, pergi dari lingkaran kehidupan kami.
Bersandar di lemari es yang berada di belakangnya, masih berusaha menghentikan tawanya, namun gagal. Dasar dia ini!
"Hey! Kamu bisa membangunkan ayah, dan wajahku yang tampan ini bisa kena tampar lagi. Hentikan tawamu!" kataku dengan suara yang benar-benar kupelankan.
Dia berhenti sesaat lalu,"Ha, hapa? Pfft...coba ulangi. Hahaha...tampan katamu? Hhhahaha...Ich,Ichigo merasa dirinya tampan rupanya..." dan tertawa lagi.
Jadi, daripada salah bicara lagi aku diam saja di situ. Bersila di hadapannya, di atas lantai dapur yang macam es ini. Kunanti sambil menopang dagu dengan siku di atas lututku, menanti hingga tawanya berhenti sendiri.
Dan akhirnya, "haha...air, Ichigo. Tolong ambilkan air," kahausan karena tertawa. Aku berdiri dan mengambilkannya air putih, air keran lebih tepatnya, dalam gelas yang baru ia cuci tadi.
"Nih!" kusodorkan padanya. Lalu dia meminumnya, yang kelihatan hanya dengan sekali teguk dan gelas lumayan besar itu kosong.
Mengatur kembali nafasnya yang beraturan. Sesekali masih tertawa kecil.
"Kenapa tidak tertawa sampai kamu dehidrasi sekalian? Menyebalkan," ujarku sembari duduk kembali di tempat aku duduk tadi.
"Haaahhh…Ichigo, Ichigo, Ichigo yang tampan, digandrungi banyak perempuan, hm?" ujarnya yang disenandungkan, seperti orang mabuk.
"Hey, air keran tidak membuatmu mabuk," kataku begitu saja.
Hening lagi. Aku menunduk, membuat garis-garis khayal di lantai. Sedangkan dia, memainkan gelas kosong itu kukira.
"Ichigo…" ucapnya memecah keheningan.
"Hmm?" lantai masih lebih menarik bagiku saat itu.
"Untuk yang waktu itu, aku minta maaf."
"Untuk yang waktu itu yang mana? Kesalahanmu banyak sekali padaku," tanyaku tanpa memandangnya.
"Yang waktu itu, waktu kamu dan Senna sedang pacaran, ya? Ah itulah pokoknya, saat jadian itu. Harusnya aku tidak asal nimbrung seperti itu," jelasnya.
"Hmm, sadar juga ya?" tanyaku, membenarkan posisi duduk.
"Hehe, aku tidak tahu kalau sedang berduaan seperti itu akan sangat menyebalkan kalau diganggu. Maaf juga buat Senna ya?" dia kembali memberiku senyum.
"Sudah berlalu, tidak akan ada pengaruhnya lagi." Ingin sekali kubalas senyum itu, tapi kutahan. Tidak boleh.
"Kenapa sampai kamu tidak tahu hal-hal sepele macam itu? Tidak pernah punya pacar?" tanyaku asal. Tentu saja pernah 'kan?
Tapi dia menggeleng, "tidak, tidak pernah, tidak boleh."
"Apa?" aku tidak percaya. Maksudku untuk manusia se, se, se, semanis dia tidak mungkin tidak ada yang tertarik 'kan?
Dia diam saja. Tidak menjawab.
"Hmm, ka,kamu pasti lapar 'kan? Tadi kuantar makan malam ke kamarmu, kukira kamu sudah tidur untuk merencanakan pelarian ini," tiba-tiba dia mengganti topik, dan berdiri lalu mengambil sesuatu dari lemari es.
"Y,ya."
"Akan kuhangatkan dulu, duduklah di kursi, akan kusiapkan untukmu."
Tidak ada di antara kami yang bicara lagi. aku hanya duduk menunggu makanan di kitchen counter. Sebenarnya aku tidak terlalu lapar. Tapi yah, daripada tidur lagi.
Bunyi 'ting' dari microwave mangagetkanku yang setengah mengantuk. Sambil mengerjap-ngerjapkan mata, kulihat makananku sudah selesai dipanaskan.
"Makanlah. Akan kubuatkan cokelat panas untukmu."
"Bagaimana? Masih enak tidak?" tanyanya sambil mengaduk cokelat dalam dua cangkir merah itu.
"Hmm, masakan Yuzu tetap enak meski hasil dipanaskan," jawabku, terus melahap rakus makanan itu.
"Itu buatanku, bodoh."
Aku tersedak, benar-benar tersedak. Jadi bukan buatan Yuzu. Sial, kenapa kalimat pujian yang kulemparkan tadi?
Belahan bumi tempatku tinggal sebentar lagi menggapai fajar. Sudah saatnya aku kembali ke peraduan sebelum ayahku tahu aku keluar kamar bukan untuk sekolah. Cukup 1 bulan saja aku terkurung, jangan lebih. Hufft...
"Ichigo, sebelum kamu masuk kamar, ganti sandal rumahmu," dia mulai lagi sok mengatur ini itu.
"Tidak usah, yang ini masih bagus," jawabku.
"Masih bagus tapi sudah kotor. Ganti!" perintahnya.
"Hih! Iya,iya. Cerewet!"
Kulepas sandal rumahku, kulepas dengan kulempar begitu saja di koridor depan kamarku.
"Lepaskan dengan cara yang benar!"
"Kamu juga, minta dengan cara yang benar!"
Lalu dia jatuhkan sandal penggantinya.
"WAKH! Apa itu?" jeritku kaget. Lihatlah sandal itu, ya ampun.
"Sandal," jawabnnya santai. Ta,tapi lihat sandal pengganti ini.
"Kenapa ada telinganya begitu? Tidak mau!" yang benar saja, aku harus pakai sandal bertema taman kanak-kanak begitu. Ogah!
"Itu sandal beruang, lihat bertelinga beruang, berwarna cokelat, lembut seperti boneka. Pakai!" perintahnya lagi.
"Tidak ada urusannya denganku, mau beruang atau ayam. Kembalikan sandal yang tadi," berusaha kurebut lagi sandal dekilku. Tapi tidak berhasil.
"Pakai saja! Lihat! Serupa dengan punyaku. Tapi ini kelinci, bagus 'kan?" pamernya padaku tentang sandal kelincinya yang tampak lebih menyebalkan lagi.
"Tidak mau! Kembalikan sandalku yang tadi!"
"Pakai saja!"
"Tidak!"
"Pakai!"
PLAK, dia berhasil menghantam kepalaku, nyut-nyutan rasanya. Ukkhh!
Kemudian dia berlari menuju kamarnya di loteng, berbalik sebentar dan menjulurkan lidahnya padaku, "weeeeekk.."
"RUKIAAAA!" untuk pertama kalinya sejak dia hadir di sini, kusebut namanya.
"Bagaimana kalau kita mulai dari awal?" tanya Rukia pada Ichigo yang sedang lahap menyantap makan malam di dini hari.
"Mulai apa?"
"Mulai berteman. Kamu tidak perlu mengganggapku kakakmu, tidak perlu panggil aku nee-san. Kita berteman saja," tawar Rukia, berharap Ichigo setuju.
"Tidak!" jawab Ichigo ketus.
"Eh?"
"Kita musuh."
"Hmm…Baiklah."
"Oke MUSUH, namamu?"
"Rukia."
"Aku Ichigo. Ichigo Kurosaki."
End Of – Chap THREE
Hmm...Apa alurnya terlalu cepat?
Kenapa rasanya akan semakin sulit menulis Chap berikutnya?
ZieraInc0ol : Terima kasih reviewnya. Ah, Ichigo saja yang lebay, makanya keliatan ancur. Padahal hidupnya baek-baek aja kalau dia ikhlas dan redo' menerima Rukia di keluarganya. Hehe…
Arlheaa : Terima kasih reviewnya. Ichigo ngamuk nggak jelas. Butuh psikiater.
Chappynk : Wah, komen lagi mengenai penname juga nggak apa. Bebas! Hehe…'Kan waktu di Memories of Nobody Ichigo keliatan cinlok gitu sama Senna, yah, jadilah saya mewujudkan impian Ichigo yang tertunda itu. Terima kasih reviewnya.
Fun-Ny Chan: Nggak apa baru repiuw, terima kasih ya. Maaf nggak bisa update kilat, karena hampir semua orang di ruang guru sedang dalam status 'emosi' jadi harus jaga sikap dan waktu melamun saya terpotong sebab itu. Hohoho…
Micon : Anda akan segera tahu apa yang terjadi. Kalau Anda tidak tahu maka setidaknya akan tempe. Wih, pengertian banget sama Ichi. Maaafff…nggak bisa update kilat. Maaaf. *bungkuk-bungkuk nyaris sujud*
