Disclaimer: Bleach?
Hanya milik Tite Kubo!
Chapter 4: Memulainya…
'…badai salju diperkirakan akan me-'
'Youkoso! Welcome to Chappy wo-'
'..gi Anda yang tengah da-'
'…o, go, go,…Cha-'
'kami beralih pada berita selanjutnya. Diper-'
'..na? Kalian senang? Ayo nyanyikan lagi Chappy's song ber-'
'ntri Thailand, menyetujui pemberla-'
'Chappy Chappy Yay ! Chappy Yay Yay! Na na na na na na na na na'
Ingin kumakan kepalanya saat itu juga!
Perempuan yang satu ini tidak bisa melihatku damai menonton televisi. Selalu saja seperti ini. Padahal hukuman kurungan kamarku menjadi ringan, ayah memperbolehkan aku keluar kamar, tapi tetap saja tidak keluar rumah kalau tidak sekolah.
Tapi lihat! Yang dilakukan makhluk di sampingku ini, merebut remote televisi, menggantinya dengan Chappy's Channel,semacam siaran makhluk asing, yang mereka sebut Chappy. Oh, ayolah ini siaran siswa taman kanak-kanak, bahkan aku ragu mereka menontonnya dengan serius. Kurebut lagi remotenya menggantinya dengan News Channel. Dia rebut lagi, menggantinya lagi. Hufft…
"Rukia," panggilku padanya yang sedang senyum-senyum melihat kelinci berlompatan di layar kaca.
"Hmm?"
"Ini bukan tontonan anak yang sebentar lagi masuk universitas," ujarku, merasa mual dengan kelinci bohongan yang mencoba bertingkah lucu itu.
"…" dia diam saja.
"Hey! Dengar tidak? Atau tulimu kambuh lagi ya?"
Kelinci-kelinci itu akhirnya terabaikan karena perhatian mata indah itu jatuh padaku.
"Kamu lapar, Ichigo? Kubuatkan sesuatu ya?"
"Cih! Jangan harap hari ini kamu bisa menyuapku dengan makanan lagi seperti kemarin, supaya perhatianku pada makanan dan kamu bisa menjarah tivi itu dariku!"
"Aduhai adikku yang manis, kemarin kamu makan pudding jeruk buatan kakakmu yang cantik ini dengan lahap. Masa' hari ini tidak mau lagi?" apa-apaan rayuannya ini.
Tidak bisa!
Aku tidak akan terpengaruh lagi. Tapi memang harus kuakui semua masakannya sesuai seleraku—ingat! Jangan harap aku mengaku hal ini di depannya, bisa besar kepala dia.
Dan hampir seluruh pekerjaan yang biasanya dilakukan Yuzu, kini ia ambil alih. Semuanya.
Aku jadi berpikir, sebenarnya kedatangannya kemari sebagai bagian keluarga ini atau sebagai pelayan. Dan karena kutanyakan langsung padanya, subuh tadi kepalaku ditebas dengan pemukul kasur olehnya.
"Hm? Ichigo? Tidak lapar? Butuh camilan?" tanyanya lagi.
"Tidak!"
"Oh, baiklah. Kurasa kamu sedang diet, karena kudengar Senna tidak suka pria gendut," ujarnya, kembali menatap kelinci-kelinci bodoh itu lalu tertawa.
"A-apa urusanmu?"
"Wah, jadi benar ya gossip itu? Dulu kamu putus dengannya karena waktu kelas satu pipimu itu chubbyyyy..." spontan dia menatapku lagi, lalu mengoyak-ngoyak kedua pipiku.
Jangan percaya! Aku tidak gendut dan tidak chubby waktu kelas satu, dan bukan karena itu alasan kami putus.
"Akh! Kamu dengar gossip dari mana? Amatir!" dia malah tertawa.
"Dari teman-temanku, Rangiku cs...lalu dari-,"
"Para pecandu gossip..." ujarku menerawang layar televisi yang isinya tak kunjung kumengerti. Dia tertawa lagi.
Semuanya buyar, obrolan kami pun buyar oleh dering telepon, nyaring, nyaris mengganggu. Mengganggu? Haha, tidak tidak. Ini hanya obrolan antar teman a.k.a musuh, tidak akan merasa terganggu hanya dengan dering telepon. Iya 'kan? Kuharap iya.
"Angkat!" dia mulai memerintah lagi.
"Tidak mau! Kamu saja sana!" dan seperti biasa aku tidak mau diperintah.
Kali ini aku yang menang! Dia beranjak dari alam ke-lelet-an kami berdua yang sejak sore tadi bergelayutan di sofa depan televisi di ruang kerja ayah, seakan tak bertulang. Hehe...jarang-ja-
"AAAW!" kakiku, kakiku diinjak, "sss-sakit!"
"Rasakan," seringai menyebalkan itu membuat kakiku lebih sakit. Sialan!
Tidak ada yang berubah dari kami berdua sejak saat itu. Masih berorasi mengenai kekuasaan masing-masing untuk saling memerintah, malah terkadang aku masih sangat jengkel dengan sikapnya.
Tidak banyak pula yang kuketahui dari gadis ini, seolah dia membangun benteng kasat mata yang tidak boleh ditembus siapa pun, sekalipun orang terdekatnya. Setiap kuajak bicara serius, eh entah kenapa alurnya malah ke arah caci maki ala Hollywood.
Kesepakatan kami untuk memulai semua dari awal memang terlaksana dengan canggung. Terutama aku, terkadang aku tidak tahu harus bersikap seperti apa, terkadang perasaanku jadi aneh terhadapnya. Membingungkan? Aku lebih bingung.
"...hm...iya...na-nanti kukerjakan. Hm, ya baiklah," kurasa itu ayah yang menelepon dari Nagasaki.
Ayah dan dua saudaraku pergi ke Nagasaki siang tadi. Sebenarnya hanya ayah yang punya kepentingan di sana. Tapi, orang tua aneh itu memohon-mohon pada Karin agar dia dan Yuzu turut serta. Orang tua mana yang mengajak anaknya bolos sekolah di tengah ramainya bursa ulangan akhir semester begini? Hanya ayahku tentunya.
Dan, oh, manusia yang sedang berbincang di telepon itu sebenarnya juga sempat diajak. Tapi ketika aku sedang kelaparan dan membongkar isi lemari es untuk mendapatkan sesuap nasi pulang sekolah sore tadi, dia masuk rumah.
"Kamu cari apa, Ichigo?"
"Oh, kamu pulang. Bukannya ikut mensukseskan program 'Ichi-nii's home alone' nya ayah?"
Dia senyum, "bisa-bisa kamu jadi gembel kalau tidak ada yang mengurusi."
"Oh," ujarku salah tingkah. Kenapa? Tidak tahu.
Jadilah kami berdua di rumah sendirian.
"Baiklah. Oh, Yuzu?...hyaa…iya iya…aku juga rindu padamu. Iya bye!"
Setelah menutup telepon, dia kembali duduk di sebelahku, "Awas kakimu, atau kuinjak lagi."
"Ayah?" tanyaku basa-basi saat dia berusaha mencari posisi yang pas untuk duduk setengah tiduran di sofa empuk ukuran sedang ini.
Rukia hanya menjawab dengan anggukan. Setelah itu tidak ada seorang pun dari kami berdua yang berbicara, kecuali presenter sinting di televisi itu.
Oh, matahari. Kenapa engkau tak pernah berpihak pada murid SMA seperti diriku ini? Kenapa begitu cepat dikau nampang? Setidaknya beri aku waktu tidur dua hari lagi.
Kalau Ochi-sensei masih ngotot memberi tugas sastra bebas, puisi moderen seperti minggu lalu, pasti yang kutulis adalah soal cahaya menyilaukan ini.
Rasanya baru sebentar aku tidur, tapi jam sudah menunjukan pukul 06.30 a.m. Sial. Terpaksa dengan separuh jiwa, beranjak dari tempat tidur.
"Ichigooo…banguuunn. Kamu mau ke sekolah tidak?" kudengar suaranya memangggilku dari dapur. Terdengar seperti perintah daripada bertanya. Sungguh tidak punya adat. Kubiarkan saja, tidak kujawab. Lagi pula dia tidak tahu kalau aku sudah berdiri di belakangnya.
Dia sudah dengan seragam lengkap, tinggal pakai sepatu saja. Berusaha tanpa suara sedikit pun aku berdiri di belakangnya. Dia sedang menyiapkan sarapan dan bento untuk kami berdua, konsentrasi penuh kelihatannya.
"Ichigo! Tidak bangun juga akan kulemparkan granat ke kamarmu!" teriaknya lagi, masih sembari konsentrasi menyiapakan bento.
"ICHI- eh!" dia berbalik dan tampaknya kaget aku tepat berada di belakangnya, dengan jarak yang tidak bisa kukatakan jauh.
Aku enggan beranjak dan memberi ruang di antara aku dengannya.
'...berhentilah waktu untuk sesaat,' bahkan aku tidak percaya aku mengatakan itu dalam hati.
Menatapnya sedekat ini...
Melihat lagi mata itu yang juga menatapku.
Berbeda dengan beberapa waktu lalu, mata itu kini dipenuhi kilatan menyenangkan, seolah punya jiwa yang lebih hidup. Membuatku lebih hidup.
Entah berapa lama kami berdiam di situ hingga, "eh,..um...I-Ichigo ki-kita bisa terlambat."
"A! Oh, y-ya...," ah, ada apa denganku?
Kami berpisah jalan sekitar 100 meter mendekati gerbang sekolah. Jadi aku jalan sendirian setelah itu.
"Ichiii...!"
Hm? Aku berbalik dan mendapati Senna menabrakku-meloncat dan memelukku.
"Se-Senna!"
"Ichi, Ichi, Ichi! Aku rindu padamuuu!" ujarnya bersemangat masih merangkulku-erat!
Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ukh!
"Kau…tidak marah lagi padaku?" tanyaku.
"Hmm…kapan aku marah padamu, Ichi? Aku selalu sayang padamuuu," lagi-lagi memelukku.
'…kalau begitu, kenapa kau lari waktu Rukia mengacau waktu itu?' pikirku.
Selalu seperti ini. Seolah masalah antara aku dan Senna tidak pernah ada. Senna, dia selalu bersikap melupakan masalah yang sebenarnya ada dan perlu diselesaikan. Dan aku tidak pernah bisa memaksanya, atau setidaknya membuatnya mau.
Sejak kesepakatan itu, Rukia tidak menampakkan dirinya di sekolah, maksudku, tidak di hadapanku. Kurasa sekarang dia akan lebih banyak berkutat dengan teman-temannya, pelajarannya, kegiatannya, dan apa-apa saja yang tidak ada hubungannya denganku. Dia membawa 'musuh' itu jauh terlampau serius.
"Ichigo!" panggil Senna, saat istirahat makan siang. Aku baru saja akan beranjak dan pergi ke atap bersama rombongan yang biasanya. Yah, siapa lagi kalau bukan Ishida, Chad, Keigo, Mizuiro. Tapi siang ini bukan hanya sekedar makan siang yang biasanya, ada bahan diskusi yang harus kami bahas kemudian menyerahkannya kepada Ochi-sensei sepulang sekolah nanti.
"Ada apa, Senna?" tanyaku sambil mengambil beberapa buku dari tasku.
"Uhm, kenapa cuek begitu sih?"
Haahhhh, "Kenapa Senna sayang?" akhirnya kuberikan perhatianku padanya alih-alih pada buku tadi.
"Hehe. Ikut aku!" spontan dia menarikku. Kurasa teman-teman yang lain memasang tampang 'kurang asem' padaku.
"Se-Senna…" kuhentikan geraknya, "Ada apa? Bicara saja di sini."
Senna mulai merajuk lagi. Merajuk yang berlebihan tanpa alasan, seperti biasa, seperti dulu.
"Ayolah, Senna. Jangan lagi," ujarku mencoba membujuknya.
"Ummm…baiklah. Hari ini kau makan siang denganku ya, Ichi?" katanya tersenyum manis.
"Ya, di atap bersama yang lain 'kan?" kubalas senyumnya, sembari memegang tangannya.
Senna menggeleng, "denganku saja. Khusus denganku. Di belakang sekolah."
"Aku harus mengerjakan sesuatu dengan Ishida dan yang lain, jadi di atap saja ya?" harus terus membujuknya, kalau tidak Ishida yang akan mencincangku, mencoret namaku dari daftar kelompok, dan pada akhir kisah aku dibantai Ochi-sensei.
"Ichi!" pekik Senna.
"Ayolah, Senna. Tugas ini penting. Harus kami serahkan sepulang sekolah nanti," aku benar-benar tidak bisa menuruti kemauannya kali ini, meskipun ingin.
"Heh! Baiklah kalau begitu. TAPI…!" pekiknya lagi. Oh, ya ampun sisa-sisa manusia yang tertinggal di kelas menatapku antusias.
"...kau harus kencan denganku akhir pekan ini. Sudah kudapatkan dua tiket terbatas untuk ke Chappy's Giant World Arena! Kali ini kau tidak boleh menolak, Ichi. Yaaaa?"
"Ta-tapi…" hukumanku belum berakhir.
"YA! Oke, Ichi sudah setuju! Yuhuw! Akhir pekan kencan!"
Belum sempat kujelaskan, belum sempat kutolak, Senna sudah berlari sembari setengah meloncat keluar kelas. Kelihatan sekali kalau dia senang, meskipun hasil pemaksaan.
Bagaimana ini? Masa hukumanku dari ayah baru akan berakhir satu minggu lagi. Itu artinya mustahil aku bisa kencan dengan Senna akhir pekan ini, kecuali kalau aku ingin diikat dalam kamar mandi tiga hari tiga malam.
"Masalah, Kurosaki?" Ishida lagi-lagi muncul di sampingku layaknya iblis.
"Cieee, yang mau kencan," Keigo ikut-ikutan.
"Hehe, Ichigo akhir pekan ini aku juga ada kencan di Chappy's Giant World Arena. Bagaimana kalau kita kencan ganda?" tidak perlu menyebut nama tempatnya dengan lengkap begitu 'kan, Mizuiro?
Ah, untunglah si Chad ini selalu mengerti – atau mungkin tidak- dengan situasiku. Dia jarang komentar.
"Huaaaaahhmmm…," melelahkan. Akhirnya selesai juga urusan merepotkan hari ini, apalagi kalau bukan sekolah?
"Jeruk! Jangan lambat!" itu Tatsuki, sempat-sempatnya memukul punggungku, padahal kelihatan buru-buru begitu.
Semuanya sudah bubar. Hari ini selesai.
Semua kembali kepada sesuatu yang disebut keluarga.
Hmm..bicara soal keluarga, aku tidak melihat 'musuh'ku yang satu itu. Apa dia pulang duluan? Atau tertinggal di sekolah? Atau jangan-jangan dia tersesat? Selain tuli, setahuku dia juga buta arah. Wah, gawat! Harus mencarinya dulu di sekolah.
Oh, tapi tunggu dulu. Tidak mungkin dia masih di sekolah, semua siswa kelas tiga sudah pulang setengah jam yang lalu. Ba-
Akh! Apa-apaan dengan pikiranku ini?
Tersesat atau apa, juga bukan urusanku 'kan!
Tapi, bagaimana kalau dia benar-benar hilang? Aku harus kembali ke sekolah dulu atau melewati jalan yang biasanya dia lewati saat pulang seko-.
Oh, ayolah, Ichigo. Hentikan.
Aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi denganku. Kenapa harus kukhawatirkan dia sejauh ini? Dia bukan siapa-siapa. Dia musuh. Musuh. Musuh!
Ya, musuh yang bisa jaga diri.
Tapi bagaimana kalau...?
Kubuang pikiran-pikiran aneh dalam kepalaku. Kulanjutkan langkahku sampai di depan rumah, depan klinik. Oh, ada ambulans? Tiga ambulans?
Kumasuki daerah yang tampaknya sedang sibuk. Yuzu ke sana kemari, membantu petugas ambulans mendorong tempat tidur berisi seorang pasien yang tampaknya perdarahan hebat di kepalanya.
Sedangkan petugas yang lain, juga sibuk mengangkut pasien lainnya ke dalam ambulans.
Ada apa jelasnya, aku tidak begitu mengerti. Tapi kukira ada kecelakaan lalu lintas lagi seperti waktu itu.
"Onii-chan! Minggir! Minggir!" perintah Yuzu. Karena disuruh minggir, ya aku minggir, mepet dinding, layaknya cicak on the wall.
"Ada apa sih?" pertanyaan yang sungguh bodoh terlontar dari lidah kering nan kehausan milikku ini.
"Ichi-nii! Panggilkan ayah! Sekarang!" kali ini Karin yang memerintah.
"Ay-!" baru saja mau kupanggil ayah sudah muncul dari balik ruang kerjanya. Sudah pulang dari Nagasaki rupanya.
"Apa? Tidak bisa! Semuanya sudah kurujuk ke rumah sakit Karakura! Tentu saja!" teriak ayah dengan seorang malang diseberang jalur telepon sana.
"Ayah, ada yang-?" maksud hati bertanya.
"Tidak ada, Ichigo! Kau lebih baik di pojokan saja sana! Biar tidak mengganggu." hufft…seperti waktu itu lagi.
Ya, sudah ke pojokan saja.
"Aw!" kutabrak seseorang.
"Ma-maaf, Ichigo! A-aku buru-buru. AYAH!" kutabarak Rukia yang kelihatan sekali terlibat dalam urusan ini. Dia berlari ke arah ayah, membicarakan sesuatu dan kemudian berbaur dengan kesibukan di klinik.
Aku selalu terasingkan. Terkadang. Yah, di saat-saat seperti ini, terkadang memang begini.
Lalu, "kemari!" lenganku tiba-tiba ditarik oleh Rukia, masuk dalam ruang makan rumah kami.
"He-hey!"
"Duduk!" dia memerintah lagi.
"Apa sih?" elakku.
Tanpa banyak bicara, dia tarik bahuku, membuatku duduk di salah satu kursi meja makan.
"Kamu pasti lapar, haus, gerah, ingin mandi, dan segera tidur. Iya 'kan?" kicaunya padaku.
Aku hanya mengangguk blo'on.
Segera saja di depanku tersedia makan malam. "Makan!" ujarnya padaku.
"Ha?"
"Makan, bodoh!" perintahnya.
"Aku belum lapar, cerewet!" padahal BOHONG.
Dan 'TAK'. Sendok nasi indah itu mengetuk kepalaku dengan keras. Kurasa kepalaku benjol seketika itu juga.
"Sakit!"
"Makanya jangan berkelit!"
"Kubilang aku belum lapar!"
"Penipu!"
"Apa?"
Sejenak hening.
Rukia akhirnya diam saja, dan malah duduk di kursi berikutnya.
"Aku tahu setiap keadaan klinik sedang sibuk seperti ini, kamu pasti sering dibentak ayah tanpa sebab. Kukira rasanya akan sedikit tidak enak di hati. Tapi kuharap kamu sudah mengerti bahwa profesi seperti ayah kadangkala harus seperti ini."
"Aku tahu," jawabku singkat.
"Aku hanya mencoba, melakukan yang kubisa. Seperti ini, menyiapkan makan malam untukmu, supaya kamu tidak terlalu memikirkan bentakkan ayah tadi," lalu dia tersenyum padaku. Oh, senyuman itu lagi.
"Hmm…" gumamku.
"Baiklah. Aku kembali ke klinik dulu. Kurasa Karin kerepotan," lalu dia beranjak dari kursi dan merapikannya seperti semula.
Kutatap makan malam itu.
"Rukia," panggilku pelan.
"Ya?"
"A-aku ingin minta tolong sesuatu padamu. Bisa?" minta tolong? Kurosaki Ichigo tidak pernah minta tolong, saudara-saudara. Akh! Kenapa lagi aku iniiiiii?
Rukia tersenyum lagi, tatapannya penuh keyakinan.
"Tentu. Kapanpun, Ichigo."
"Ruki-chan!" terdengar ayah memanggil. Memecah tatapan itu.
"Ah! Iyaa!" dan dia pun berlalu, meninggalkan hening antara aku, makan malam, dan benjolan kepalaku yang mulai nyut-nyutan.
Huaaa…akhirnya chap 4 pointless begini. Benar begitu tidak?
Maaf, update saya super lelet. Saya sedang kecewa pada seseorang, pada Adam Lambert, dan pada flash-disk yang merupakan penampung seperdelapan nyawa saya di dalamnya. Tugas akhir semester saya lenyap. Oh, sudahlah. Saya sudah pasrah nilai saya tidak cukup memuaskan.
Arlheaa : Wah, maaf Anda bukan orang pertama yang review chap 3. hehe. Tapi thanks a bunch for ur review.
Zie-raInc0ol & rukiahinataika & Kurochi agitohana : Terima kasih atas review kalian bertiga. Semuanya mungkin terjawab di chap 4 ini.
Micon : Ah? Masa' sih? Hehe, terima kasih.
Fu-Ny Chan : Oh, nggak apa kok. Hehe. Makasih ya. Maaf tidak bisa update kilat karena alasan di atas.
tara : Tenang. Harapanmu sudah tersimpan dalam lobus memoriku. Nantikan saja yak. Terima kasih.
