NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

"Donuts, Mess, and Truth"

By: Setshuko Mizuka

Rate: nggak jauh dari rate T

Genre: Friendship and Romance

Pairing: NaruHina selalu… ^^ nyelip juga pair lainnya

Inspirate from Mizuka's life

Warning: GaJe, OOC, OC, AU, Typo (s)!

Summary: Berawal dari donat dan berakhir jadi kejujuran. Konflik yang membuat kekacauan dan kebimbingan dalam hati, tak luput menyertainya. Bisakah hanya dengan membuat donat bisa membawa keajaiban bagi pembuatnya? Three-shoot.

~_~ Chap 3: TRUTH ~_~

"Ha~h, sekolah masih sepi banget ya?" gumam gadis berambut indigo panjang sambil berjalan menyusuri tangga menuju lantai tiga. Begitu sampai di lantai tiga, ia pun langsung pergi ke kelasnya yang tepat berada di sebelah tangga. Mata amethyst-nya menangkap sepasang manusia tengah berdiri di depan pintu kelas. "Tenten-chan?" ujar gadis itu ketika melihat sahabatnyalah yang ada di sana dengan Neji.

Hinata Hyuuga, itulah nama gadis yang kini tengah bersembunyi di balik tembok. 'Gawat juga nih, kalau aku tiba-tiba datang,' ujarnya dalam hati. Ia miringkan kepalanya sedikit agar ia bisa melihat mereka. 'Aduh, kenapa aku jadi mengintip seperti ini ya?'

"Ada perlu apa kau mencariku?"

Suara Tenten yang datar membuat Hinata menengok lagi.

"Kenapa kau tak membalas e-mailku sejak dua hari yang lalu?" tanya Neji. "Memang, aku harus membalasnya?" Pertanyaan Tenten sukses membuat Hinata dan Neji yang mendengarnya kaget. 'Tumben?' heran Hinata dalam hati. "Kau marah padaku, Tenten?" tanya Neji lagi. Hinata menengok lagi.

"Tidak."

Neji diam sebentar. "Lalu kenapa?"

"Tidak apa-apa," ujar Tenten masih mempertahankan nadanya yang datar. "Aku tau, kau marah padaku. Tapi, apa yang membuatmu marah? Apa aku berbuat salah padamu?" Tenten diam lalu menatap ke luar jendela. "Siapa bilang aku marah? Kalau aku marah, nggak mungkin aku mau berbicara denganmu."

"Bohong, kau pasti marah padaku," ujar Neji.

Tenten menatap Neji. "Sudah kubilang 'kan, aku tidak marah!"

"Tapi tidak biasanya kau bicara seperti itu, Tenten!" Hinata menatap kedua sejoli yang tengah bertengkar itu dengan tatapan miris. 'Pasti gara-gara e-mail Yume-chan… Astaga! Kenapa aku melihat orang bertengkar sih!' Hinata mengacak-acak rambutnya karena frustasi melihat orang bertengkar. Gadis ini sedikit trauma dengan yang namanya pertengkaran. Hinata lebih memilih untuk pergi meninggalkan mereka. Kita lihat lagi Neji dan Tenten yang tengah bertengkar.

Setelah diam sebentar, Tenten pun mengaku.

"Ya! Aku MEMANG marah padamu! Puas!" serunya tepat di wajah Neji. Hal itu tentu saja membuat jarak keduanya jadi dekat. "Perbuatan apa yang membuatmu marah padaku?"

"Semuanya!"

Neji menahan tangan Tenten saat Tenten melangkahkan kakinya untuk masuk kelas. "Apa maksudmu!" tanyanya lagi sambil menarik Tenten untuk mendekat. Melihat Tenten yang hanya membuang muka, Neji pun mendengus dengan kesalnya. "Jawab aku, Tenten!" desaknya.

"Aku tau semuanya, Neji! Kau hanya memanfaatkanku!"

Neji sedikit tersentak begitu melihat air mata Tenten yang mulai keluar dari pelupuk matanya. Ia juga kaget mendengar ucapan Tenten barusan. "Aku… memanfaatkanmu? Astaga! Kau dapat informasi dari mana soal itu, Tenten?" Neji menepuk keningnya pelan sambil tetap mempertahankan tangan Tenten yang digenggamnya.

Tenten menarik paksa tangannya, "kau tak perlu tau siapa orangnya."

"Jadi, kau lebih percaya orang itu daripada aku?"

"Awalnya aku tak percaya, tapi…." Tenten menghapus air matanya dengan punggung tangan kanannya. "Tapi setelah kupikir-pikir, memang itu yang kau lakukan. Kau selalu seenaknya saja mencontek PR-ku dulu dan kau selalu menyuruhku melakukan ini itu sesukamu. Itu 'kan alasanmu mendekatiku? Kau hanya memanfaatkan kelemahanku untuk kepentinganmu saja," ujar Tenten dengan kesalnya. #Author: maaf ya, Neji. Di sini Mizuka buat Neji bersikap seperti itu# #Author bungkuk-bungkuk di hadapan Neji# #Author: eeehhh!#

Neji menatap intens wajah Tenten yang mulut serta hidungnya ditutupi punggung tangan kanannya. "Tenten… kenapa kau berpikir aku sudah memanfaatkanmu? Apa kau tak tau kalau selama ini aku berbuat seperti itu hanya untuk menarik perhatianmu saja?" Neji berucap sambil menengok ke arah samping.

Tenten berhenti menangis lalu menatap Neji.

"Inilah yang kutakutkan selama ini, aku takut kau salah paham."

Tenten terus menatap Neji. "Salah… paham katamu?" lirihnya.

Neji mengangguk dan menengok pada Tenten. Mata amethyst-nya tertuju pada mata caramel milik Tenten. Baru kali ini ia melihat wajah Tenten yang tengah menangis di hadapannya ini. "Aku takut akan seperti ini jadinya. Aku takut kau marah dan menjauhiku. Aku takut kehilanganmu, Tenten."

Ucapan Neji yang tulus membuat hati Tenten terenyuh.

Neji menghela napas pelan lalu menatap kembali mata caramel Tenten. "Sebenarnya aku tak pernah bermaksud untuk memanfaatkanmu, aku hanya ingin dekat denganmu sejak pertama kali kita bertemu. Hanya itu, tidak ada maksud lain karena aku…." Neji menggaruk kepala belakangnya, wajahnya pun sedikit merona. "Karena aku… j-jatuh cinta padamu," ujarnya pelan.

Tentu saja Tenten terkejut mendengar pengakuan Neji. 'A-apa Neji bermaksud untuk menembakku?'

"A-ah! Maaf, omonganku jadi ngawur! T-tapi itu jujur kok, sungguh!"

Tenten menunduk menahan malu.

Hening seketika, keduanya kalut dalam pikiran masing-masing. Neji memilih untuk memulai pembicaraan kembali. "Jadi, bagaimana?" tanya Neji sambil mengusap-usap tengkuk lehernya dengan tangan kiri. "B-bagaimana a-apanya?" tanya balik Tenten dengan gugup. Tangis air mata kini sudah tak terlihat lagi di wajah dan matanya. "Kau mau jadi kekasihku, Tenten?"

Ucapan Neji yang serius dan gentle itu membuat Tenten malu bukan main.

"Tenten? Jawab aku," desak Neji.

Tenten menunduk sambil memainkan kaki kanannya yang ia putar. Sementara ujung kaki ia jadikan tumpuan. "Kau serius? Tidak bercanda 'kan?" tanya Tenten ragu-ragu. Tenten menatap Neji, yang ditatap juga ikut memandang Tenten. "Sejak kapan aku main-main soal perasaan? Kau tau sendiri, aku itu paling nggak bisa mempermainkan perasaan. Apalagi jika itu perempuan." Tenten tersenyum tulus ketika melihat mata Neji yang terlihat serius.

"Aku mau j-jadi kekasihmu," lirih Tenten namun masih bisa didengar Neji.

Neji tersenyum lembut pada Tenten lalu mengusap pipi kiri Tenten dengan tangan kanannya. "Sekarang, aku tak peduli siapa yang menceritakan hal tadi padamu. Terima kasih, kau sudah mau mencintaiku. Kau mencintaiku 'kan?" Melihat Tenten menunduk, Neji sudah tau jawaban Tenten. Dia juga mencintainya.

Cup!

Tenten sedikit tersentak ketika Neji mencium keningnya. "N-Neji?"

"Jaa ne!" Dengan sekejap Neji menghilang di balik tembok yang ada di ujung tembok. Tenten tak mampu berkata lagi, ia langsung meraba bekas ciuman Neji di keningnya. "Mimpi apa aku semalam?" lirihnya dengan wajah merona. "Cieee, pagi-pagi dapat hadiah manis dari pacarnya!" Tenten menengok, terlihat ketiga sahabatnya tengah berjalan mendekatinya.

"Cieee, Tenten-chan! Bisa kali PJ-nya," tagih Sakura sambil tersenyum usil.

Tenten hanya menunduk.

"Traktir kami sarapan yuk, sekarang!" ajak Ino seraya nyengir.

Melihat Ino yang nyengir begitu, Tenten malah tersenyum karena ia baru teringat kejadian kemarin. "Sepertinya kau sudah baikan, Ino-chan." Ino senyum saja sambil mengangguk pelan. Mata caramel Tenten menatap Hinata, sahabatnya yang sedari tadi tak berbicara. "Kenapa Hinata-chan?" tanya Tenten.

"T-tidak apa-apa!" ujar Hinata dengan nada panik.

"Baiklah! Ayo kutraktir sarapan sebagai Pajak Jadian!" seru Tenten. Mereka pun pergi ke kantin.

~ TRUTH ~

"Aku nggak nyangka, hari ini Neji menembakku," ujar Tenten sambil duduk di kursi panjang yang ada di pojok kantin dan mengingat-ingat kejadian yang terjadi di depan kelasnya.

"Haha, selamat ya! Mudah-mudahan bisa sampai ke hubungan yang lebih serius lagi," do'a Ino yang langsung diberikan deathglare dari Tenten.

"Lho! Kau tidak mau dido'ain begitu?"

Hinata dan Sakura tertawa pelan melihat kelakuan Tenten dan Ino.

"Sudahlah, sekarang kita pesan makanan keburu masuk nih," lerai Hinata. Tenten pun memesan empat mangkok bubur. Sambil menunggu, Ino terlihat melamun saja. Tentu saja hal itu membuat semua khawatir. "Ino-chan, ada masalah?" tanya Sakura.

Ino tersenyum getir. "Mmm, ternyata Sai pacaran dengan Shion."

"HAH! YANG BENAR!"

Sakura, Tenten, dan Hinata kaget mendengar penuturan Ino. Hinata dan Tenten sih, sudah menduganya karena ikut melihat kejadian kemarin. Tapi lain dengan Sakura yang tak ikut melihat. Ino tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksi mereka semua. "Kalian ini terlalu berlebihan tau," ujar Ino.

"H-habis, aku baru dengar soal itu. Kau tau dari mana memangnya?"

Ino berpikir sebentar. "Dari Sasori, Sakura-chan."

"Kapan?"

"Kemarin." Ino menundukan kepalanya. "Waktu itu aku yang tanya duluan ke dia lewat e-mail, 'apa benar Shion pacaran dengan Sai?' Lalu Sasori balas iya. Ya ampun, rasanya sesak banget begitu tau cintaku bertepuk sebelah tangan," cerita Ino.

"Ino-chan…," lirih Hinata sambil memegang bahu Ino yang duduk di sebelahnya.

Tenten dan Sakura ikut menyemangati sambil memegang tangan Ino.

"Ini pesanan empat mangkok bubur!" ujar si anak pemilik kantin sambil menaruh empat mangkok bubur ke meja. "Arigatou gozaimasu!" seru keempat sahabat itu dan dibalas senyuman dan anggukan dari anak pemilik kantin tersebut.

Setelah memanjatkan do'a terima kasih, mereka pun makan.

"Ino-chan, jangan melamun seperti itu terus," tegur Tenten.

Ino hanya tersenyum lalu makan sesuap bubur.

Sakura manyun melihat tingkah Ino yang seperti itu. Ia menghentikan acara makannya lalu menyangga dagu dengan tangan kiri. " Sebenarnya, apa cantiknya coba si Shion itu? Kalau menurutku sih, lebih cantikkan Ino dan mantannya yang dulu," gumam Sakura.

"Memang aku cantik ya?" tanya Ino sebelum menyuap sesendok bubur.

Sakura, Hinata, dan Tenten mengangguk.

Ino hanya tersenyum tipis. "Di novel punya Hinata-chan, saat ini ada di bab berapa ya?" Pertanyaan Ino membuat semuanya bingung. "Maksudnya?" tanya balik Hinata, si pemilik novel yang dimaksud Ino tadi. "Kejadianku yang sekarang ini…."

"Mungkin saat Kazuto lupa ingatan dan Yuri datang," potong Hinata yang mulai mengerti arah pembicaraan Ino.

"Aku nggak ngerti," ujar Sakura dan Tenten pun mengangguk.

"Sudahlah, kalian makan saja."

Ucapan Ino yang terdengar seperti menyuruh itu pun membuat keduanya cemberut. "Maklumi saja, Ino sedang kesal," ujar Hinata dengan nada bercanda. "Kira-kira, apa aku bisa seperti Keiko ya?" Mendengar gumaman Ino membuat Hinata menengok padanya sambil menyuap bubur yang sedari tadi belum disentuhnya.

"Mungkin saja, ke depannya Sai bisa melihat ke arahmu, Ino."

"Mudah-mudahan," sahut Ino membalas ucapan Hinata.

"Oh ya, bagaimana denganmu, Sakura-chan?" tanya Tenten pada Sakura. Yang ditanya diam saja walaupun tangannya selalu menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya. "Aku tak tau," ujar Sakura setelah menelan suapannya itu.

"Kau ini, pokoknya nanti sepulang sekolah kamu harus bicara pada Sasuke."

Hinata dan Tenten mengangguk, menyetujui ucapan Ino barusan.

"Tapi…."

"Nggak ada tapi-tapian, Sakura-chan," ujar Tenten.

"Semangat, Sakura-chan!" seru Hinata.

Sakura hanya menunduk lalu mengangguk. Ketiga sahabatnya itu pun tersenyum puas karena Sakura mau bilang akan minta maaf pada Sasuke.

~ TRUTH ~

"Sakura-chan, itu Sasuke!" ujar Tenten sambil menunjuk seseorang berambut model aneh yang tak lain dan tak bukan adalah Sasuke, kekasih dari Sakura tengah berdiri di depan perpustakaan. Pemuda itu tidak sendiri, ia bersama teman segengnya yaitu Suigetsu, Juugo, dan tunggu! Sakura menyipitkan matanya ketika melihat seorang gadis berambut merah dan berkacamata yang dengan tenangnya memegang lengan kiri Sasuke. Melihat itu pun, Sakura jadi menunduk.

Ino berdencak kesal. "Ngapain sih, si Karin itu di situ!"

"Nggak jadi deh."

"Eeehhh! Nggak bisa! Sakura-chan harus bilang dulu baru pulang!" cegah Hinata sambil mendorong Sakura untuk berjalan ke tempat Sasuke berada. "Nggak mau, Hinata-cha~n!" Hinata menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil memanyunkan bibirnya. "Ayolah, Sakura-chan. Ya ya ya?"

"Semangat, Sakura!" Tenten dengan antusiasnya menyemangati.

Ino dan Hinata hanya tersenyum dan mengangguk.

"Baiklah, do'akan semoga aku sukses."

"Iya!" jawab ketiganya dengan kompak.

Sakura menarik napas, mencoba mengatur detak jantungnya yang berdetak dengan cepat. Mata emerald-nya tertuju pada sosok Sasuke yang selama beberapa minggu ini menjadi kekasihnya. Dilihatnya Sasuke tengah ditarik dengan pelan oleh Karin, mantan Sasuke itu untuk membawa Sasuke memasuki perpustakaan. Melihat itu pun, Sakura langsung berlari kecil. "Sasuke!"

Yang dipanggil menengok lalu menarik paksa tangannya dari tangan Karin.

"Hosh! Hosh!" Sakura berhenti tepat di hadapan Sasuke.

"Kau masuk saja duluan," suruh Sasuke pada Karin. Karin mau tak mau masuk juga dan meinggalkan mantannya dengan kekasihnya itu. Sebelum Karin pergi, ia sempat menatap sinis pada Sakura. "Ada apa memanggilku?" tanya Sasuke pada Sakura yang masih terengah-engah sambil memegang kedua lututnya.

"Sebentar!"

Sasuke menatap Sakura dengan keheranan lalu tersenyum tipis. "Kau ini, kalau tak kuat lari jangan lari dong," ujar Sasuke. Tangannya yang putih memegang kepala Sakura lalu mengacak-acaknya pelan.

Sakura yang sadar akan tangan Sasuke langsung berdiri dengan tegap. Betapa kagetnya ia ketika wajahnya dengan wajah Sasuke sangat dekat. Reflek, ia memundurkan tubuhnya ke belakang. "Hehe. H-habis, kalau aku tak lari, kau tak mungkin mendengarkan panggilanku," ujar Sakura gugup.

Lagi-lagi Sasuke tersenyum tipis. "Memangnya ada apa?"

"I-itu…," Sakura menggaruk pelan kepala belakangnya lalu menunduk. Ia bingung ingin bicara apa. 'Langsung bilang maaf atau basa-basi dulu nih! Aduuuh! Bingung!' Sakura melirik sebentar ke arah sahabat-sahabatnya dan dibalas anggukan oleh mereka. Sakura kembali menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Mata emerald-nya terlihat berkaca-kaca di balik kesenduannya.

"Sakura? Kau tidak apa-apa?"

Sakura yang tersadar akan lambaian Sasuke tepat di depan wajahnya itu pun langsung menatap Sasuke. Ia tersenyum tulus dan menunduk kembali. Hal itu tentu saja membuat Sasuke khawatir, "Saku-."

"Maaf!"

Sasuke menatap Sakura yang tengah membungkukan tubuhnya. "Sebenarnya ada apa denganmu, Sakura? Kenapa tiba-tiba…."

"Maafkan aku, Sasuke," lirih Sakura sambil menegapkan tubuhnya kembali.

"Maaf untuk apa?"

Sakura memegang rambutnya lalu menjambaknya pelan. "Maafkan aku karena aku bukan kekasih yang baik. A-aku selalu saja egois dan hiks, selalu m-mendiamkan dirimu saat k-kau ada di dekatku seolah-olah kau bukan k-kekasihku, hiks." Sakura mengucapkannya sambil terisak dan menutup mulutnya dengan tangan kiri yang sempat ia gunakan untuk menjambak rambutnya sendiri.

Sasuke diam tak bergerak melihat Sakura menangis.

"A-aku tau aku memang kekasih yang buruk, hiks. Bahkan aku jauh lebih buruk dari mantanmu," ujar Sakura sambil mengingat sosok Karin. "Hiks, a-aku… aku memang gadis bodoh dan terlalu m-malu untuk berhadapan langsung d-dengan laki-laki yang kucinta yaitu kau."

Sasuke tersenyum mendengar ucapan Sakura. "Kau tidak buruk, Sakura."

"Tidak buruk b-bagaimana? Aku selalu mencuekimu d-dan bukannya sekarang kau sedang marah padaku? Hiks, kau pasti marah karena sifatku ini." Sakura menghapus air matanya dengan tangan lalu menatap Sasuke. Tanpa diduga, ia malah melihat Sasuke tengah tersenyum tulus padanya. Sakura sempat tertegun setelahnya. "K-kenapa tersenyum?"

"Kau ini, selalu saja menyimpulkan seenaknya," ujar Sasuke.

Sakura menatapnya heran dengan mata berkaca-kaca.

"Ya~, memang aku sedikit marah denganmu."

Sakura menunduk mendengar ucapan Sasuke namun ditahan Sasuke yang memegang dagunya. "Jangan menunduk, kau jadi mirip Hinata, sahabatmu." Sakura menarik lembut tangan Sasuke dari dagunya. "Dari awal, memang kau sudah marah padaku 'kan karena aku telah membohongimu?" gumam Sakura.

"Aku tak marah, dan lagi…."

"Lalu kenapa kau menolak pemberian donatku?"

"Donat? Jadi waktu itu kau serius?" tanya Sasuke setelah terdiam. "Tentu saja aku serius ingin membuatkannya untukmu! Tapi kau dengan mudahnya bilang 'tidak'. Padahal aku sudah membuatnya dengan susah payah tau!" Sasuke menatap Sakura yang tengah menatapnya dengan kesal. Dalam hati ia tertawa karena melihat reaksi Sakura yang terlalu cepat berubah-ubah sikap.

"Ya~, tapi aku tau. Perbuatanku memang salah, jadi tak heran kalau kau marah padaku dan memintaku untuk putus."

Ucapan Sakura membuat Sasuke kaget. "Putus?"

"Dari sikapmu akhir-akhir ini memang itu maumu 'kan?"

"Siapa bilang aku ingin kita putus?" tanya balik Sasuke. "Aku." Dengan cepat kedua tangan Sasuke memegang kedua pipi Sakura agar Sakura menatapnya karena sedari tadi ia terus menunduk. Untung saja di depan perpustakaan hanya ada mereka dan beberapa orang yang melintas, kalau tidak pasti sudah jad tontonan. "Aku tak ingin putus denganmu, Sakura," ujar Sasuke pelan.

"Sasuke…."

"Aku memang marah padamu karena kau selalu cuek padaku di tempat umum seolah-olah aku ini bukan kekasihmu bahkan seperti orang yang tak dikenal olehmu. Dan soal donat itu…." Sasuke menarik kembali tangannya dari wajah Sakura yang sudah merona. "Soal donat, sungguh aku tak tau. Kukira kau hanya bercanda, tapi ternyata kau benar-benar membuatkannya. Maaf."

Sakura menunduk setelah melihat wajah bersalah Sasuke.

"Sakura?"

Sakura menengadahkan kepalanya ke atas, menatap Sasuke yang lebih tinggi darinya. "Hm?"

"Kau mau memaafkanku?"

"Lalu kau sendiri, mau memaafkanku, Sasuke?" tanya balik Sakura.

"Tentu saja aku akan memaafkanmu, Sakura. Asal kau mau memaafkanku juga tentunya," ujar Sasuke dengan nada bercanda. Melihat Sakura yang cemberut langsung membuat Sasuke kembali dengan muka seriusnya. "Aku serius memaafkanmu dan aku tak mau putus denganmu, Hime."

Sakura tertegun mendengar ucapan Sasuke yang sangat tulus itu. Demi menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba melandanya, Sakura tersenyum kaku sambil menunduk.

"Jadi?"

"Aku memaafkanmu. Aku juga tak mau putus denganmu."

Sasuke dan Sakura sama-sama tersenyum. "Baiklah, kurasa masalahnya sudah selesai. Aku pulang dulu ya, Sasuke-kun," pamit Sakura dengan muka memerah karena memanggil Sasuke dengan suffix-'kun'. Sebelum Sakura melangkah pergi, Sasuke menahan lengan kanan Sakura. "Eeeh?" kaget Sakura.

"Temani aku ke perpustakaan," pinta Sasuke dan tanpa persetujuan Sakura, Sasuke sudah menarik gadis itu masuk ke perpustakaan sekolah.

"Masalah Sakura selesai dan mereka kembali lagi," ujar Tenten.

Hinata tersenyum menanggapi ucapan Tenten.

"Ah, sebaiknya aku pulang sebelum Dei-nii kuliah." Ucapan Ino membuat Tenten heran. "Kuliah siang ya, kakakmu?" tanya Tenten sambil menyamai langkahnya dengan langkah Ino. Ino mengangguk. Tanpa disadari oleh mereka, Hinata masih terdiam di tempat sambil memandangi tas selempangnya.

"Aku lupa memberikannya…," lirih Hinata.

"Oi, Hinata-chan! Ayo pulang!"

Seruan Tenten dan Ino membuat Hinata tersentak dan langsung menghampiri kedua sahabatnya yang sudah berdiri di depan gerbang. "Maaf, tadi aku melamun," ujar Hinata sambil tersenyum. "Ya, tak apa, Hinata-chan." Ucapan Tenten dan Ino yang kompak itu membuat ketiganya tertawa.

~ TRUTH ~

Gadis manis dan cantik bernama lengkap Hinata Hyuuga itu terus saja melamun. Entah itu di bis bersama Tenten atau di jalanan seperti sekarang ini. Dalam pikirannya kini tengah memutar kembali memori kejadian yang terjadi kemarin, yaitu saat ia tengah duduk berdua dengan Naruto, orang yang dicintainya itu.

"Tak apa, asal tak merepotkanmu saja."

Ucapan Naruto kala menjawab tawaran Hinata soal donat terus saja berputar-putar di benaknya. Hal itu tentu saja membuat Hinata gelisah. 'Sepertinya memang benar. Jawabannya waktu itu hanya terpaksa karena tak mau menyakitiku. Kurasa, donat ini akan sia-sia saja,' ujar Hinata dalam hati sambil menatap tasnya.

"Malang sekali nasibmu, donat."

Mata amethyst-nya menatap ke depan karena ia merasa sudah sampai di rumahnya. Langkahnya terhenti ketika ia melihat sesosok pemuda yang sangat dikenalinya tengah berdiri di depan gerbang rumahnya.

Hinata pun reflek berlari menghampirinya.

"Naruto?" panggilnya ragu-ragu.

Ternyata dugaan Hinata tidak salah karena memang pemuda itu adalah Naruto. Naruto tesenyum lebar bahkan hampir terlihat menyeringai ketika tahu bahwa Hinata-lah yang memanggilnya. "Kukira kau sudah di rumah, ternyata baru pulang," ujarnya ceria. Hinata tersenyum mendengar nada ucapan Naruto yang ceria itu.

"Maaf, tadi aku ada urusan sebentar di sekolah. Jadi agak lama pulangnya. Apa Naruto sudah menungguku terlalu lama?" tanya Hinata.

Naruto tertawa pelan. "Hanya lima menit saja kok, tak apa."

"Kalau gitu, ayo masuk ke dalam. Dari pada di luar seperti ini," ajak Hinata.

"Aku mau menagih donat yang kemarin," ujar Naruto setelah menggelangkan kepalanya pelan. Dilihatnya Hinata tengah menatapnya dengan terkejut. "Kau masih ingat janji yang kemarin?" Pertanyaan dari Hinata sontak saja membuat Naruto ikut terkejut. "Tentu saja aku ingat. Bagaimana kalau kita makan donatnya di sawah kemarin? Kau bawa donatnya 'kan?"

Hinata mengangguk.

"Ayo naik!" suruh Naruto yang tengah duduk di jok sepeda depan sambil menatap jok belakang, bermaksud untuk menyuruh Hinata mendudukinya. Mau tak mau Hinata duduk juga. Terlihat jelas sekali kalau Hinata tengah malu karena wajahnya memerah tak karuan. Begitu sampai, Hinata langsung turun dari sepeda Naruto.

Setelah Naruto memarkirkan sepedanya di bawah pohon jambu, ia pun ikut duduk di kursi panjang di samping Hinata yang sudah lebih dulu duduk. Naruto melemaskan otot tangannya ke depan sementara Hinata sibuk mencari kotak bekal berisi donat buatannya di dalam tas.

"I-ini donatnya, Naruto. M-maaf kalau rasanya kurang enak," ujarnya gugup.

Naruto tersenyum tipis sambil menerima kotak bekal Hinata. "Seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah merepotkanmu." Naruto menunduk dan menatap kotak bekal tersebut.

"A-ah, tidak merepotkanku kok." Hinata tersenyum.

Naruto ikut tersenyum melihat Hinata tersenyum.

"Silahkan dimakan donatnya, N-Naruto."

Naruto mengangguk lalu membuka kotak tersebut. Betapa terkejutnya ia begitu melihat donat buatan Hinata yang membentuk kata 'RAMEN'. Tak lupa juga ada dua donat bertaburkan mesis rasa coklat berbentuk bulat di pojokan kotak. "Kau tau ya, aku suka ramen?" tanya Naruto dengan nada melamun.

"Emm, i-itu…." Hinata salah tingkah langsung memainkan kedua jari telunjuknya.

"Terima kasih ya. Aku suka donatnya. Boleh kumakan sekarang 'kan?"

Hinata mengangguk cepat sambil menatap Naruto yang tengah memakan donat yang berbentuk huruf 'R'. Gadis itu memerhatikan Naruto dengan tatapan harap-harap cemas. Ia takut rasanya jadi tak enak karena digoreng sampai dua kali. "G-gimana rasanya?"

"Eeemmm… Enak banget rasanya! Aku suka!"

Jawaban Naruto membuat Hinata tersenyum sumringah.

"Hinata, ayo makan donatnya! Masa' cuma aku saja yang memakannya," ajak Naruto sambil mengerucutkan bibirnya dengan tangan kirinya masih memegangi donat yang belum ia habiskan sementara tangan kanannya memegang kotak bekal Hinata. Melihat Hinata menggeleng, membuat Naruto makin mengerucutkan bibirnya. Andaikan kau tahu, Naruto. Hinata sangat ingin sekali mencubit pipimu karena wajahmu terlihat menggemaskan sekali.

Cukup dengan 30 menit mereka memakan donat di atas bukit, Hinata pun pamit pada Naruto untuk pulang karena si bungsu, Hanabi ingin minta dibantu Hinata mengerjakan PR-nya. Lalu Naruto pun mengantarkan Hinata karena tak enak juga pada Hinata. Masa' hanya menggoncenginya saja nggak mau padahal Hinata saja sudah membuatkan donat untuknya.

"A-arigatou gozaimasu atas tumpangannya, Naruto."

Naruto nyengir, "seharusnya aku yang berterima kasih karena sudah dibuatkan donat olehmu. Terima kasih ya, donatnya enak banget sampai ketagihan tadi."

"Kalau Naruto mau lagi, a-aku akan buatkan donat lagi besok," tawar Hinata.

"Besok? Kalau besok aku ada kerja kelompok jadi nggak bisa main ke sini," ujar Naruto sambil memasang tampang berpikir. "Oh, begitu." Mendengar ucapan Hinata yang terdengar kecewa itu pun membuat Naruto sedikit panik. "Kapan-kapan aku mau kok dibuatkan lagi," ujarnya. Naruto turun dari sepedanya sementara kedua tangannya masih memegang stang sepeda.

"Benarkah?"

Naruto mengangguk.

Melihat Naruto mengangguk membuat Hinata tersenyum sumringah lagi. Ia tak sabar ingin membuatkan donat lagi untuk Naruto. "Kalau gitu, aku pulang dulu ya?" Hinata menatap Naruto seperti halnya Naruto menatapnya. "Tapi sebelum itu…." Hinata berdiri kaku karena Naruto mendekatinya.

CUP!

Bagaikan petir di siang bolong, Naruto mencium pipi kiri Hinata! Ciuman itu tidak sebentar, kalau diperkirakan mungkin ada satu menitan. Hinata yang mendapat ciuman pipi dari orang yang dicintainya itu pun hanya terbelalak tak percaya dengan mulut terbuka sedikit. Maklum, reflek. Naruto pun melepas ciumannya lalu menatap Hinata yang masih syok, sedikit merona juga wajah Naruto.

"M-maaf kalau lancang!" ucap Naruto pelan namun terdengar pula nada panik di dalamnya. Ia pun menaiki sepedanya bermaksud untuk pergi. Namun ditahan oleh Hinata yang memegang lengan kiri Naruto. "T-tunggu!"

Naruto menatap Hinata begitu pun sebaliknya.

"N-Naruto… k-kenapa?"

Naruto kaget langsung menunduk. "Kenapa gimana?"

"K-kenapa kau m-menciumku padahal kau tak kenal d-dekat denganku?" tanya Hinata sambil menunduk. Wajahnya yang memerah terlihat sekali walau tengah menunduk. "Tidak kenal? Kita 'kan pernah sekelas waktu kelas 10." Hinata menatap Naruto. "T-tapi kata temanku, kau ti-."

"Nama Hinata banyak bahkan di kelas kita dulu juga ada."

Hinata terkejut begitu dengar ucapan Naruto. Padahal ia belum menyelesaikan ucapannya tapi sudah dipotong Naruto duluan. "Lalu… kenapa tadi k-kau-." Lagi-lagi Naruto memotong ucapan Hinata. "Karena aku mencintaimu. Aku ingin mengerti semua tentangmu dan sekali lagi aku minta maaf karena perbuatanku tadi terlalu lancang."

'Naruto… mencintaiku?'

"Kau pasti marah ya, Hinata?"

Hinata menggeleng cepat lalu tersenyum tulus. "Sungguh… kau mencintaiku?"

Naruto menatap Hinata dengan tampang serius namun tersungging pula senyumin tipis dan tulus di wajahnya. "Ya." Mendengar ucapan Naruto, Hinata langsung melingkarkan kedua tangannya ke leher Naruto. Naruto yang dipeluk hanya diam dengan wajah memerah. Tak lama kemudian, ia membalas pelukan Hinata. "Hinata, boleh tanya sesuatu?" tanya Naruto.

Hinata mengangguk sambil melepaskan pelukannya.

"Kenapa kau tidak mengkonfirm pertemananku?"

"Eeehh! K-kapan?"

"Semalam aku add FB-mu tau," ujar Naruto. "A-aku nggak tau, bahkan aku juga belum buka FB-ku sejak kemarin," dusta Hinata. Naruto hanya ber-oh ria. "Kalau gitu aku pulang dulu. Kita… sudah jadian 'kan, Hinata?" Hinata memalingkan wajahnya karena malu tanpa menjawab pertanyaan Naruto. Naruto tertawa lalu pergi pulang ke rumahnya. Hinata tersenyum menatap kepergian kekasih barunya itu.

Ia pun masuk ke rumah sambil terus menatap kotak bekal yang sedari tadi dipegangnya. "Donat, terima kasih," gumam Hinata. Ya, gadis itu merasa kalau tanpa donat itu mungkin ia takkan pernah jadi seperti ini padahal bukan gara-gara donat hidupnya menjadi seperti sekarang. Tapi memang sudah takdir yang digariskan untuknya dari Tuhan namun lewat perantara donatlah semuanya terjadi.

THE END

Bingungkah? Endingnya terlalu menggantungkah? Chara-nya OOC semuakah? Alurnya kecepatankah? Mizuka sudah memaksimalkan otak Mizuka yang lola ini untuk hasil chap terakhir ini. Maaf, karena kelamaan update, habis netbook nya dipinjam terus dan karena otak Mizuka juga sih yang buntu. Terima kasih sudah mampir ke fic Mizuka, Mizuka harap semuanya senang membacanya. Terima kasih untuk Hwang Energy, Fariz-San, dan naruhina lovers atas reviewnya. Oh iya, Mizuka kok ngerasa pair NaruHina menipis ya? Mizuka jadi sedih liatnya. Baiklah, sampai ketemu di fic Mizuka yang lainnya. Boleh minta review nya nggak? Hehehe. ^_^a