Disclaimer: Bleach?

Hanya milik Tite Kubo!


Chapter 5: Thank's


Terkutuklah semua spesies kecoak di muka bumi ini!

Terkutuklah untuk semua makhluk ini, yang malam ini, membuatku menjerit layaknya perempuan!

Brengsek!

Mau tidak mau, kupanjat kitchen-set di dapur, menghindari kecoak terkutuk yang beterbangan tanpa adapt ini. Aku tidak takut dengan kecoak, aku hanya…ge… "liiiiiiii…!"

Kutebas kecoak itu dengan penggaruk sayuran yang ada di situ, memakai tutup panci sebagai perisai. Semakin kulayangkan senjataku, kocoak itu semakin terbang mendekat.

"Aaa! Pergi! Menjauh! Kecoak brengsek! AAAA!" semakin diusir malah semakin dekat. Tidak sengaja kakiku menyenggol barang-barang di atas kitchen-set itu, dan suasana pun menjadi ramai. Ramai yang kubuat sendiri.

Kenapa kecoak ini harus muncul di saat moodku sedang buruk begini? Sial! Sial!

"Waa!" lagi-lagi kecoak ini terbang mendekat. Sementara aku masih dengan posisi yang sama di atas kitchen-set. Memalukan.

Moodku benar-benar buruk dua hari ini, padahal seharusnya aku senang aku ada kencan dengan Senna. Tapi yang kulihat dua hari yang lalu dan hari ini di sekolah sungguh menyebalkan. Dan kecoak ini memperburuk keadaan.

- Flashback –

13.07 p.m, koridor SMA Karakura.

Entah apa yang hendak dilakukannya di koridor yang didominasi pelajar tahun akhir ini. Entah alasan apa yang membuat Kurosaki junior ini berkeliaran mencari Kurosaki yang satu lagi.

Menjilat ludah sendiri rupanya. Mengingkari kata-katanya sendiri tempo hari bahwa Rukia tidak boleh mendekati kehidupannya di sekolah bahkan sejengkal pun. Buktinya, kini dialah yang mencari gadis itu –meski PASTI berkelit mengenai maksud kedatangannya ke area siswa kelas tiga.

Tidak butuh waktu lama untuk menemukan 'musuh' kesayangannya itu, karena yang dirindukan sedang berdiri di ujung koridor sambil menyandar pada jendela.

Oh, tapi raut wajah si jeruk malah mendadak ketus.

Terang saja, sang musuh tampak ceria dengan seorang teman, teman dekat, gebetan, pacar, kekasih, atau hanya sekedar kenalan? Tidak peduli siapa si orang asing itu, yang jelas Ichigo merasa ...orang itu harus dibunuh seketika itu juga atau merasa…entahlah hanya dia yang tahu.

Hari berikutnya, Kurosaki Ichigo masih melangkah pasti menuju tempat Kurosaki Rukia. Berharap bahwa hari ini Rukia sendirian, tidak sedang –tidak boleh- ditemani siapapun. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan, tapi pada dasarnya, sebenarnya, tidak ada yang benar-benar harus dibicarakan, atau kalaupun ada sudah jelas itu merupakan topik yang tidak punya mutu untuk dibicarakan.

Sayangnya hari ini pun, Rukia masih ditemani orang asing itu. Bahkan terlihat lebih akrab.

"Hei, kau lihat tidak, dari cara pandangnya ke Rukia-chan, kurasa Ashido-kun menyukainya, benar tidak?" tanya seorang siswi yang tampaknya teman sekelas Rukia, pada siswi lain yang berkumpul di situ.

Seketika itu juga telinga Ichigo menangkap, dan memprosesnya dengan cepat dalam otak, 'APA?' pekiknya dalam hati.

"Hm, kurasa juga begitu, sejak Kurosaki-chan masuk kelas kita, Kano-kun perhatian sekali padanya. Aah, Kurosaki-chan bikin iri saja. Hihihi...," siswi yang lain menambahkan, diikuti cekikikan centil dari segerombolan gadis-gadis lain yang sedang bergabung membangun gossip baru yang bermutu.

'Amatir,' kata Ichigo dalam hati, 'mana ada yang suka pada gadis galak macam begitu?'

"Ah, iya, iya! Kudengar selain Ashido, Grimmjow yang urakan itu juga kemarin menyatakan perasaannya pada Rukippe,"

"Ooh! Benarkah? Benarkah?"

"Lalu, lalu? Apa kata Ruki-chan? Apa? Apa?"

"EH! Mana mungkin ada manusia yang suka gadis galak tanpa adat seperti itu. Yang menyukainya sama saja sakit jiwa!" sembur Ichigo saat itu juga. Entah sengaja atau tidak, tampaknya siswi-siswi di situ langsung melepas reiatsu tingkat hollow.

Dari kejauhan sana, yang sedang digossipkan ternyata fungsi pendengarannya masih sangat baik, Rukia menoleh ke sumber keributan, diikuti dengan Ashido yang menghentikan pembicaraannya dengan sang gebetan.

"Apaaa katamu, bocah? Perkataanmu itu sama saja merendahkan kualitas gossip yang kami buat. Isane, mau diapakan anak ini?" ujar seorang siswi kelas tiga, lalu bertanya pada siswi lain yang bernama Isane.

"Eh? Bukannya ini Kurosaki, kelas dua 'kan?" ujar siswi lainnya.

"Ah! Iya. Menguntit Kurosaki-chan ya? Dasar usil!"

"Hajar kawan-kawan, kata-katanya tadi membuat kontraindikasi pada gossip kita!" ujar siswi yang tadi dipanggil Isane.

Sesaat Ichigo menangkap pandangan Rukia dari jarak jauh itu. Sebenarnya Rukia akan menghampirinya, tapi Ichigo malah buang muka.

Antisipasi akan dikeroyok, berpikir tidak akan menang dari segerombolan perempuan calon presenter acara gossip, Ichigo akhirnya mengambil langkah seribu.

- End- of Flashback -

Gya! Aku benar-benar geli!

Kecoak ini terus terbang kian kemari, seolah ini rumah nenek moyangnya.

"Aaaa!"

"Ap-apa, Ichigo? Kenapa teriak-teriak? Kamu tidak apa-apa 'kan?" tiba-tiba saja Rukia berlari menuju dapur, tempat di mana aku tersiksa.

"Apanya yang tidak apa-apa? Li-," aku tidak melanjutkan kalimatku. Maksudku tadi ingin mengamuk padanya, karena alasan yang aku sendiri tidak mengerti.

Tapi kalau melihatnya masuk dapur dengan penampilan seperti itu...-telan ludah- siapa juga yang tidak bengong.

"Ke-kenapa pakai handuk begitu, bodoh?" semburku seketika. Oh, semoga rona wajahku tidak berubah.

"Kamu yang tolol! Aku sedang di kamar mandi tadi, lalu kamu teriak, kukira ada apa. Dan... kenapa harus naik-naik ke kitchen-set begitu? Turun!"

"Ta-tapi setidaknya pakai pakaianmu dulu!"

"Sudah kubilang aku sedang mandi, orang sinting mana yang mandi dengan pakaian?"

Aku belum pernah melihat gadis setengah, eh, maksudku tidak berpakaian lengkap seperti ini, Yuzu dan Karin tidak termasuk.

A, eh, …apa yang harus kukatakan, dia pakai handuk merah maroon yang hampir mendekati hitam, kontras sekali dengan kulit putihnya itu, bahkan handuknya tidak mencapai lututnya. Kurasa itu handuk Karin atau Yuzu yang asal diambilnya.

Lagi-lagi rasanya tenggorokanku kering. Aku bingung mendeskripsikan keadaan saat ini, otakku beku, beku, beku!

Yang kulakukan hanya menatapnya berdiri di sana, wajah khawatirnya kelihatan sekali, kukira tadi dia pikir terjadi sesuatu di dapur dan bergegas kemari.

"Turun dari situ, brengsek!" perintahnya padaku.

"Hey! Tidak perlu menyebutku 'brengsek', aku akan turun," tapi nyatanya aku tidak turun dari kitchen-set ini. Bagaimana mungkin? Di bawah sana sang kecok merayap bahkan tampaknya dia menari girang melihatku seperti ini.

"Tentu saja kamu BRENGSEK! Apa-apaan tatapanmu itu?"

"Ta-tatapan apa, hah?"

"Kamu kira aku tidak sadar atau apatis? Tatapan intensmu itu, bodoh! Apa begitu kamu melihat cewek?"

"Hee? Oh, bagus 'kan? Karena melihatmu dengan handuk begitu aku percaya kalau kamu benar-benar cewek," aku nyengir, saatnya pembalasan dendam dengan menggodanya seperti ini.

Aku yang salah lihat atau memang pipinya merona merah? Aku suka melihatnya seperti itu.

"Akh! Ichigo bodoh!" setelah mengatai aku seperti itu, dia langsung putar balik dan pergi begitu saja.

"Ho-hoy! Rukia! Rukia!" dia tidak peduli, dan tetap berlalu.

"Rukia! Hey! Setidaknya usir dulu kecoak ini. Kamu tahu 'kan aku tidak suka dengan yang begini! Rukia!"

"Usir saja sendiri!" jawabnya dari kejauhan, kedengarannya dari kamar mandi.

"Kalau begitu, ambilkan pembasmi serangga di gudang! Cepat!"

"Ucapkan 'tolong'!" ujarnya lagi.

"Tolong, Rukia!" aku benci minta tolong padanya.

"Turun dari situ dan pergi ambil sendiri, Tuan Muda!"

Siaaall! Sepertinya dia benar-benar marah. Aku juga tidak sengaja menatapnya seperti itu tadi, itu, itu terjadi begitu saja.

"Ta-tapi, Rukia. Kamu jadi 'kan membantuku membuat alasan untuk keluar kencan?" harus kupastikan sekarang, kalau tidak bisa gagal acara kencanku kalau dia ngambek.

"BODO',"jawabnya.

Sial!

"OH! BAIKLAH! AKU TIDAK BUTUH BANTUANMU! KAMU PERGI SAJA DENGAN SI ASHIDO ITU, KURASA KAMU JUGA PUNYA KENCAN DENGANNYA JADI TIDAK BISA MEMBANTUKU!"

"BERISIK! JANGAN CAMPURI KEHIDUPAN PRIBADIKU!"

"AHA! JADI BENAR KAMU SUKA PADANYA!"

"AK-"

"HEY ! KALIAN BERDUA, BERBICARALAH SESUAI ADAT ISTIDAT! JANGAN PRIMITIF BEGITU!" tiba-tiba saja Karin muncul ditengah-tengah ruangan antara dapur dan koridor menuju kamar mandi, dengan menggunakan toa dia berteriak lebih keras daripada aku dan Rukia. Wajahnya sangar sekali, aku tidak berani bicara lagi, kukira Rukia juga begitu.

T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T

Chappy Giant World Arena, benar-benar tempat terkonyol yang pernah kudatangi.

Menurutku ini lebih buruk dari taman bermain biasanya. Di sini semuanya serba kelinci, mau yang asli atau yang palsu tersedia, lengkap.

Kukira hanya aku, manusia yang tidak lagi dikatakan anak-anak, saja yang berkunjung ke sini. Ternyata, ada saja yang dilakukan ratusan atau mungkin ribuan, aku tidak tahu, anak seumuranku di sini. Tempat kencan yang aneh dan kekanak-kanakan.

Tidak sulit sampai ke sini. Karena Rukia ngambek, jadi aku sendiri yang minta ijin ke ayah, dan entah angin apa yang membuat ayah langsung bilang, "Huweee! Silakan Ichigo!" dengan tingkah aneh seperti biasa.

Hufft, tapi sampai di sini pun, di kepalaku bukan ada Senna yang sedang tertawa bersamaku ini, melainkan saudara angkatku itu.

Rukia, apa dia masih marah ya?

Atau kubelikan sesuatu saja, hmm...dia suka Chappy aneh ini 'kan?

Atau..-

"Ichi!" panggil Senna, lamunan konyolku langsung saja buyar.

"Ah? Ada apa Senna?" tanyaku.

"Huft! Kau dari tadi melamun saja. Setiap kuajak bicara tidak merespon. Kenapa? Kau tidak suka ya kencan denganku?" dari raut wajahnya tampaknya memang benar dari tadi aku mengabaikannya.

"Baiklah, sekarang kau mau ke mana lagi Senna-chan? Aku siap mengantarmu," ujarku padanya. Cukup satu orang saja yang marah padaku, jangan tambah lagi.

Segera Senna mulai tersenyum kembali. Kuraih tangannya, menggandengnya, dan mengajaknya untuk beristirahat sebentar di sebuah cafe dengan telinga kelinci di atapnya. Ugh, aku benar-benar mual.

"Kita cari camilan dan istirahat sebentar di cafe itu, bagaimana?" usulku padanya.

"Hmm, baiklah. Tapi setelah itu kita jalan-jalan lagi," tanggapan yang melegakkan.

Kesanku masih tetap sama seperti pertama kali melihat café ini, aneh. Luar, dalam, atas, bawah, ANEH. Rukia pasti suka tempat aneh ini. Karena dia juga aneh. Aku juga aneh karena su-

"ICHI!"

"I-iya."

Senna memanggilku sejak tadi rupanya, untuk menanyakan menu apa yang akan ku pesan. Aku sama sekali tidak dengar.

"Ma-maaf, aku tidak dengar," jelasku padanya yang kelihatannya mulai kehilangan kesabaran.

"Kau ini kenapa sih?"

"Maaf, Senna," aku tidak bisa bilang kalau dari tadi yang kupikirkan bukan dia.

"Aku sudah pesan, jadi mau tidak mau kau harus ikut seleraku. Salah sendiri dari tadi kutanya tidak menjawab," ujarnya dengan nada kesal.

"Hehe…apa saja yang kau pesan pasti aku makan," meski tidak pandai merayu, setidaknya mencoba untuk membujuk.

Aku dan Senna menghabiskan sebagian waktu kencan di café ini. Berbincang dan bercanda hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Tapi satu yang kurasakan adalah tidak sama.

Hubunganku, kebersamaanku, kencanku dengan Senna tidak sama seperti dulu.

Seolah tidak lagi kurasakan gejolak jatuh cinta padanya seperti pertama kali kami bertemu dulu. Semuanya seakan berubah tetapi aku tidak tahu bagian mana yang berubah.

Senna masih gadis yang sama yang kusukai dulu, masih seceria dulu, aku masih menyukainya tapi perasaanku tidak lagi sama. Apa yang salah denganku kalau begitu?

Rukia.

Gadis aneh dan galak itu. Menyebalkan. Dia selalu muncul dalam kepalaku.

"Ichi, kau tahu, sulit sekali mendapat tiket Chappy Giant World Arena. Kita beruntung sekali lho bisa dapat dan kencan. Aku senaaaang sekali!" Senna mendadak menceritakan perasaannya.

"Hm? Benarkah? Lalu bagaimana kau bisa dapat tiketnya? Kudengar antriannya panjang sekali," tanyaku basa-basi.

"Oh, itu. Hehe," dia malah cekikikan.

"Apanya yang 'hehe'?"

"Sebenarnya, kakakmu waktu itu menemuiku di perpustakaan, dia minta maaf karena mengganggu hubunganku denganmu, lalu sebagai permintaan maaf dia memberikan dua tiket film, supaya kau pergi denganku," jelas Senna sembari memainkan sedotan dalam minumnnya yang tinggal setengah.

"Rukia?"

"Iya," dia mengangguk,"aku kurang suka padanya, kau juga begitu 'kan, Ichi? Bisa kulihat dari cara bicaramu padanya waktu itu."

Aku tidak menjawabnya. Kubiarkan Senna melanjutkan. Aku ingin tahu.

"Tiket film itu kutolak, kau tahu kenapa? Karena dia punya dua tiket Chappy Giant World ini, kulihat terselip di antara halaman buku yang dibawanya. Langsung saja, kurebut, aku bilang 'kalau dengan tiket ini, aku memaafkanmu'. Hihihi dia mengangguk. Dasar bodoh," ujar Senna diselingi tawa yang kurang suka kudengar.

"Jadi ini tiket milik Rukia?"

"Tidak lagi. Ini milikku. Balas dendam karena menggangguku denganmu waktu itu. Kau tidak suka padanya 'kan?"

Aku tidak memberi respon apapun pada penjelasan Senna.

Kencan kami hanya berputar-putar, dan menurutku sangat tidak menyenangkan.

Hingga semua berakhir saat Senna dijemput oleh supirnya untuk pulang. Dia menawari –lebih tepatnya memaksaku, pulang sekalian bersamanya, tapi kutolak.

Aku pulang dengan bus terakhir malam itu.

Pikiranku melayang. Dua tiket itu, yang kugunakan untuk bersenang-senang adalah milik Rukia, yang diminta secara paksa oleh Senna.

Ya ampun.

Aku tidak tahu harus senang dengan kencan ini atau malah merasa bersalah.
Mungkin saja Rukia mendapatkan tiket itu dengan susah payah, entah dengan cara apa, yang jelas pasti dia sangat menginginkan untuk ke tempat aneh itu.

Pandanganku hanya menerawang jauh ke jalanan lewat jendela bus ini. Bertongkak dagu pada lengan yang kusandarkan di pinggir jendela.

Udara di luar tampaknya makin dingin. Hamburan salju mulai mengaburkan pandangan.

Dan…-

Rukia?

Kulihat dia duduk di sebuah halte yang baru saja dilewati bus ini. Duduk sendirian di situ.

Aku yakin itu Rukia meski wajahnya terhalang topi coklat pudar berstempel monyet menyebalkan itu. Dia pakai jaket abu-abu dengan rok selutut, serta sepatu boot yang aku ingat itu boot butut kesayangannya.

Meski bus ini tetap melaju, aku yakin itu Rukia.

Tidak salah lagi.

Sedang apa dia di situ? Ini, kulirik jam tanganku, pukul 10.45 p.m, melewati jam malam yang ditentukan ayah.

Akhirnya aku memutuskan untuk turun di halte berikutnya. Lumayan agak jauh, tapi kalau dengan lari terasa sedikit lebih dekat.

Nafasku terengah-engah begitu sampai di dekat halte di mana Rukia berada. Kulihat dia duduk dan terus merunduk, memasukkan tangannya dalam kantong jaketnya, menghentakkan pelan kakinya pada lantai halte. Kelihatan sekali dia kedinginan.

"Rukia," panggilku, melangkah pelan mendekatinya, sambil mengatur kembali nafasku.

Dia mengangkat kepalanya, dan mencari sumber suara yang memanggilnya tadi, dan tepat menatapku, " Ichigo?"

Wajahnya pucat sekali, rambutnya acak-acakkan di balik topinya, sebagian tak beraturan di depan wajahnya. Mimiknya kaget begitu melihatku. Langsung saja kujatuhkan tubuhku di bangku halte tepat di sebalahnya. Aku tidak bicara apa-apa setelah itu, begitu pula dia.

Lampu di halte ini terang sekali. Belum lagi di tambah gambar L'Arc~en~Ciel, Hamasaki Ayumi, Utada serta beberapa artis lainnya yang dipasangi neon di belakang kami ini, menambah terang halte sepi ini. Sepi yang entah kenapa sangat menyenangkan bagiku.

"Bus terkahir sudah lewat tadi. Sedang apa kamu masih di sini?" tanyaku tiba-tiba.

"Ah! Apa? Sudah lewat?" ujarnya kaget.

Jadi dari tadi dia tidak sadar kalau ada bus lewat.

"Jadi dari tadi apa yang kamu lakukan di sini? Tidur?" tanyaku lagi, tanpa memandangnya.

"Hufft...bukan urusanmu," jawabnya ketus.

Aku tidak ingin teriak-teriak membalas jawaban ketusnya barusan. Aku sedang tidak mood karena teringat sesuatu.

"Ashido tidak mengantarmu pulang? Tidak bertanggung jawab, hanya meninggalkanmu di halte," kalimat itu meluncur begitu saja tanpa rencana.

"Ashido?" tanyanya dengan nada heran.

"Kamu kencan dengannya 'kan, tadi?" aku balik bertanya, berharap jawabannya tidak.

"Siapa yang kencan? Dari tadi sore aku nonton dan jalan-jalan sendiri. Kalaupun aku kencan, bukan urusanmu juga."

Sejak sore tadi?

Sendiri?

Aku tidak habis pikir.

Sementara aku sedang berputar dalam pikiranku sendiri, mencoba menghubungkan semua peristiwa yang terjadi hari ini, tiba-tiba dia bersuara lagi.

"Ashido, hanya teman. Grimm-kun juga begitu," ujarnya.

Grimm-kun? Apa-apaan panggilannya itu?

"Jangan berpikiran macam-macam," dia bilang begitu, kemudian menoleh ke arahku dan tersenyum.

"Bukan urusanku," aku buang muka darinya. Pura-pura tidak tertarik.

"Kalau begitu jangan menyinggungnya."

Hening lagi-lagi menyapa kami berdua. Tapi buru-buru kutepis.

"Jadi keluar rumah dan jalan-jalan sendiri adalah rencanamu agar aku bisa keluar rumah juga, begitu 'kan?" tebakku asal.

Rukia hanya tesenyum, dan mengangguk.

"Supaya ayah mengira aku pergi denganmu, pasti kamu bilang 'Ayah nanti Ichigo menyusulku, jadi biarkan dia keluar hari ini..'," aku meniru gaya bicaranya saat membayangkan bagaimana dia membohongi ayah. Ayah yang malang, bisa-bisanya dikerjain.

Dia tertawa kecil, memandangi kedua sepatunya.

"Itu sama saja bohong, Rukia."

"Sudah kubilang 'kan, aku akan menolongmu," ujarnya pelan tanpa memandangku.

Aku tidak menyangka ada orang yang mau tanpa tujuan yang jelas, berjam-jam di tengah kota, hanya untuk mensukseskan kencan orang lain, yang bahkan tidak membawa keuntungan baginya.

"Sebesar apa tanggung jawabmu untuk menolongku, hah?" sontak aku tidak suka dengan sikapnya, sikapku, ketidaktahuanku tentang apa yang sudah dilakukannya untukku.

"Ke-kenapa tiba-tiba marah?" Rukia menatapku kaget, bingung, itu yang tergambar pada parasnya yang terlihat makin pucat.

Pucat.

Entah berapa lama dia di sini.

Sendiri. Di cuaca sedingin ini.

Sementara aku dengan Senna bersenang-senang dengan tiket miliknya, yang-hanya-Tuhan-yang-tahu bagaimana dia bisa mendapatkan tiket itu dari panjangnya antrian pembeli. Dan entah dari mana dia dapatkan uangnya untuk itu.

"Tiket itu, tiket itu milikmu. Tiket Chappy sialan itu, milikmu 'kan? Kenapa kamu berikan begitu saja saat Senna memintanya? Bukannya kamu hampir mati karena tergila-gila pada Chappy, ha!"

Rukia hanya menatapku heran, tak sepatah kata pembelaan atau jawaban yang keluar dari mulutnya yang kini mengeluarkan asap karena dingin.

"Dan…setahuku itu pembukaan Chappy Giant World perdana, tiketnya pasti mahal, dari mana kamu dapat uangnya? Uang jajan dari ayah untukku dan kamu tidak cukup membeli dua tiket... Kenapa, Rukia?"

Masih tidak ada jawaban darinya.

"Tidak perlu terkejut seperti itu. Senna sudah bercerita panjang lebar padaku tadi," ujarku akhirnya, mengatur nafas kembali.

Aku hanya merasa bersalah padanya. Tidak seharusnya dia melakukan hal-hal yang terlihat sepele sejauh ini.

Udara makin dingin. Aku bisa mati beku di sini, jika lebih lama lagi.

"Tidak masalah kalau tiket itu kuberikan pada Senna. Itu hanya dua lembar tiket yang bisa didapatkan kapan saja," akhirnya dia bicara, kupikir tadi dia sudah jadi batangan es di situ.

"Itu," lanjutnya, "sebenarnya kubeli agar aku bisa pergi berdua denganmu, atau pergi dengan Yuzu. Haha, maksudnya sih, mau beli empat atau lima, untukku, kamu, Karin dan Yuzu, juga mungkin ayah. Tapi tabunganku dari Sapporo waktu itu tidak cukup, jadi hanya beli dua, hehehe," jelasnya sambil tertawa kecil, dan menatapku. Tidak kubalas tawanya itu, aku tidak bisa. Akhirnya tawanya berhenti mendadak.

"Fyuuhh…baiklah baiklah. Tiket itu kuberikan pada Senna sebagai permintaan maaf dan sebagai ucapan terima kasihku padamu," embun dingin mengepul setiap kali ia bicara.

"Terima kasih?" tanyaku tidak mengerti.

Rukia mengangguk, "Ya, terima kasih karena kamu mau menerimaku di keluargamu. Kukira kamulah yang paling berat menerima keberadaanku, dan pada akhirnya setuju."

"Oh, kamu membuatku pusing, Rukia," aku sungguh tidak mengerti. Kusandarkan punggungku di gambar-gambar ber-neon di belakangku. Mengusap-usapkan tanganku dengan wajahku yang mulai mati rasa karena dingin secara sembarangan.

Sambil memainkan kakinya dengan lantai halte, Rukia kembali bicara, "memang tiket itu tidak sepadan dengan persetujuanmu untuk menerima orang asing sepertiku di keluargamu. Aku tahu itu. Tapi ketahuilah Ichigo, aku sungguh senang saat kamu bilang kita 'musuh', dan bersedia memulai semuanya dari awal. Rasanya ingin berteriak saat itu juga, saking senangnya."

Aku enggan menanggapinya. Lebih tepatnya aku tidak tahu harus menanggapi bagaimana.

Begitu berartikah penerimaanku atas dirinya di keluargaku?

Sebesar apa arti keluargaku untuknya?

"Kau tahu, Ichigo. Punya keluarga adalah impian terbesarku. Impian yang sama sekali tidak pernah kuharapkan akan jadi kenyataan. Tapi, saat Isshin-san datang ke Sapporo dan mengatakan bahwa aku anaknya…," ia berhenti di tengah-tengah kalimatnya, menerawang ke angkasa gelap yang menghamburkan bubuk-bubuk salju yang terbawa angin.

Lalu Rukia tersenyum senang, "…saat itu…seolah surga jatuh menimpa kepalaku."

"Aku senang," lanjutnya kemudian, "aku senang bertemu dengan ayah, diperkenalkan pada ibu. Aku bahagia bertemu Yuzu yang selalu tersenyum, bicara dengan Karin yang selalu menyembunyikan tawa riangnya. Dan… aku sangat bersyukur bertemu denganmu, Ichigo."

Bersyukur katanya?

Bersyukur bertemu orang yang selalu menolak kehadirannya?

Ada apa dengan gadis ini sebenarnya? Harusnya dia benci padaku, atau setidaknya tidak mengatakan hal semacam itu tadi.

Aku tidak menyangka dia akan bilang seperti itu, kupikir dia ini tipe yang menolak semua orang yang mendekat padanya, membangun benteng keras yang tidak akan bisa dilalui seorang pun. Tapi ternyata aku salah besar.

Tatapannya padaku terlihat sendu ditambah rona kehidupan di wajahnya yang terhalang dingin, terlihat pucat, kulit putihnya seolah kehilangan nyawa, seperti hantu. Benar-benar kedinginan.

Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya, berdiri di bawah serpihan salju, tepat di depanku yang masih terduduk ini, dengan senyum mengembang di bibirnya. Kemudian dia membungkukkan badan dan bilang, "doumo arigatou gozaimashu!"

Aku berdiri dan meraih tangannya, menariknya ke arah berlawanan dengan arah stasiun.

"Eh? Mau kemana, Ichigo?" tanyanya sembari menyamakan langkah denganku.

"Kemana lagi? Kita ke Chappy Land, seharusnya kamu ke sana tadi," jawabku tanpa melihatnya.

"Apa? Bukan Chappy Land, bodoh! Chappy Giant World Arena!" protesnya. Akh! Sama saja 'kan. Isinya juga Chappy.

"Iya itulah. Kita ke sana," kataku kehabisan argumen.

"Tu-tunggu!" cegahnya lagi, mencoba melepas genggamanku pada tangannya.

"Apa lagi, Rukia? Tiket itu milikmu, harusnya hari ini kamu senang-senang di sana. Aku akan menggantinya, jadi sekarang kita ke sana!"

Pokoknya aku harus mengahapus rasa bersalah ini, kalau tidak aku tidak aku akan mati penasaran.

"Se-sebentar. Kamu punya tiketnya?" tanya Rukia yang kini menghentikan langkahnya, masih kugenggam tangannya.

Aku menggeleng, tanda tidak punya tiket.

"Kamu tahu tiket hanya bisa didapatkan seminggu sebelum kunjungan untuk pembukaan perdana?"

Aku mengangguk.

"Kamu tahu juga tidak akan ada artinya ke sana, tanpa tiket, dan tidak bisa beli tiket?"

Aku mengangguk lagi.

"Chappy Giant World Arena tutup pukul 9 malam, dan sekarang sudah lewat pukul 11. Paham hal itu juga 'kan?" tanyanya untuk terakhir kali.

Aku hanya mengangguk bodoh.

PLAK, dia memukul kepalaku.

"Pintar!" ujarnya sembari mengacungkan jempol. Kemudian berbalik dan berjalan meninggalkanku terpaku dalam kebodohan.

Akh! Bisa-bisanya aku tidak berpikir itu tadi.

"Ru-Rukia! Hey!"

Kukejar dia yang sudah lumayan jauh dariku. Menyamakan langkah dengannya. Maraih lengannya, "tunggu."

"Hal bodoh apa lagi yang mau kamu perbuat, hm?" menatapku dengan tatapan merendahkan begitu. Dasar.

"Kedinginan 'kan? Kita ke toko kue itu dulu, kubelikan cokelat hangat untukmu," tunjukku pada sebuah café bernuansa cokelat yang buka 24 jam.

T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T

"Selamat datang!" sapa pemiliknya ketika Rukia menyeruak masuk, dengan aku yang mengikutinya dari belakang.

"Wah, pasangan yang serasi. Melarikan diri dari rumah ya malam-malam begini," ujar seorang pelayan di situ.

"Ti-," belum sempat aku mengelak, tapi si kurcaci ini malah sembarangan pilih kue yang diinginkannya.

"Ichigo! Aku mau yang itu! Itu! dan itu!" tunjuk Rukia.

"Hey, pelan-pelan saja minumnya, tersedak begitu," ujarku sambil menepuk-nepuk punggungnya.

Kami berdua akhirnya duduk di sebuah meja di café itu. Meski sudah malam, tempat ini lumayan ramai.

"Ugh, Ichigo. Tepukkanmu itu justru membuatku sesak nafas," sudah tersedak protes pula. Kue yang dia pesan tadi lenyap dalam hitungan detik, kini tinggal cokelat hangatnya saja yang tersisa.

Lucu sekali, masih ada sisa cokelat di pinggir bibirnya. Aku bahkan tidak berpikir dua kali untuk mengusapnya dengan jariku. "Seperti anak-anak saja."

"Eh?"

"Hmm. Untuk pasangan paling mesra malam ini kutambahakan satu cake cokelat yang baru kami buat. Gratis, sayang!" kata kasir saat aku membayar pesanan kami tadi.

"Kami bukan-"

"Terima kasih, Lady cantik!" hih, selalu saja menyelaku. Rukia ini sebenarnya mengerti tidak sih artinya 'pasangan'?

Haaahhhh...sudahlah.

T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T-T

Akhirnya kami naik, kereta terakhir malam itu.

Sudah sangat sedikit penumpang. Suasananya jadi sangat hening, dan lengang.

Rukia duduk di sebelahku sambil memeluk cake cokelatnya tadi. Kepalanya menunduk.

Kurasa dia mengantuk.

Kemudian kurasakan, kepalanya bersandar di bahuku. Kudengar nafasnya memburu, seolah habis berlari jauh. Kenapa dia?

Kucoba untuk melihat wajahnya lebih jelas. Keadaannya tampak tidak baik. Wajahnya makin pucat, berkeringat dingin.

"Rukia?" kurapatkan dia denganku, merangkul bahunya.

Dahinya bersentuhan dengan pipiku saat kudekatkan posisi duduknya, teraba panas. Kurasa dia demam.

Dia terlalu lama di luar sejak tadi. Terlalu lama.

"Rukia, kamu demam."

"Ichigo..." panggilnya pelan.

"Ya?"

"...dingin," jawabnya lemah.

Ini salahku. Kalau saja aku tahu lebih awal, rencananya membantuku dengan cara seperti ini, kalau saja...

Kudekap dia lebih erat. Mendekapnya, berharap mengurangi rasa dinginnya.

Tidak banyak yang bisa kulakukan saat ini, kereta masih terus melaju, aku hanya bisa menuggu sampai di rumah untuk melakukan sesuatu untuknya.

Nafasnya memburu, badannya makin panas, sekarang ditambah tubuhnya yang sedikit gemetaran. "Bertahanlah, sebentar lagi."

Cengkraman tangannya pada bajuku seolah dia berusaha melawan dingin yang dirasakan.

Matanya sayu, berair, dan hampir menutup, suaranya serak "…Ichigo, maaf merepotkanmu."

Spontan kutatap dia lekat-lekat, "bicara apa kamu ini?"

Rukia hanya tersenyum lemah, "hehehe.."

Bisa-bisanya senyum di saat aku panik begini. Dasar!

Aku teringat satu hal konyol saat itu. Hal konyol yang sering diproklamirkan oleh siswi-siswi di kelasku.

|["Katanya kalau mencium seseorang yang sedang sakit, sakitnya akan berpindah ke kita, dan orang tersebut akan sembuh."

"Oh, benarkah?"

"Romantisnya, kalau Ishida-kun melakukan itu saat aku demam, wah, pasti aku langsung sembuh dan bisa melompat seketika itu juga."

"Hahaha, mustahil."

"Eh! Tapi benar lho. Waktu itu Shuhei-kun menciumku saat aku sakit. Besoknya aku sembuh, justru Shuhei-kun yang sakit."

"AH! Benarkah? Hahahahaha ….."]|

Lupakan, jangan pedulikan sisa penumpang yang ada di gerbong kereta terakhir ini.

Perlahan kukurangi jarak antara wajahku dengan Rukia.

Sebenarnya aku ragu untuk melakukan ini, tapi…

Sesaat kemudian, bisa kurasakan lembut bibirnya mengatup denganku.

Biarkan saja jantungku lepas dari pertautannya.

Biarkan saja semua sel tubuhku menjerit akan oksigen.

Biarkan saja dinginnya berpindah padaku.

Biarkan yang akan terjadi nanti.

Biarkan…

Kumohon, biarkan aku jatuh cinta padanya.


Terima kasih banyak untuk semua yang telah me-review fic ini sebelumnya. Siapapun kalian, tanpa terkecuali semua pembaca, sekali lagi terima kasih banyak.

Maaf, kali ini tidak bisa membalas review kalian satu persatu.

Saya harap chap 5 ini tidak membosankan.

Untuk Chap 6 ….hmm..entahlah.