Disclaimer: Bleach?
Hanya milik Tite Kubo!
Chapter 6: Ra-ha-si-a-!
"..." Rukia membuka lemari es di dapur.
Belum mandi, bahkan mungkin tidak diperkenankan mandi oleh dokter aneh di ruang periksa klinik sana.
Rambutnya kusut, matanya masih menandakan dia mengantuk, pakaiannya juga tidak kalah runyam, ya celana panjang dan kaos lengan panjang dua hari yang lalu masih melekat di tubuhnya.
"Kalau mencari cake cokelatmu, sudah tidak ada lagi. Kumakan kemarin," aku yakin pasti dia mencari kue itu. Kutiriskan piring-piring yang baru kucuci ke rak piring dekat bak, mengeringkan tangan, kemudian menaruh perhatianku hanya untuknya yang kini menutup kembali lemari es itu.
"Oh," hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Wajahnya tanpa ekspresi tertarik atau apa. Padahal tadinya kukira dia akan mengamuk sejadi-jadinya, menghajarku habis-habisan karena melahap kuenya hingga lenyap selagi dia tidak berdaya, atau mungkin malah merengek manja padaku untuk membelikannya lagi.
Rukia tidak sadarkan diri selama dua hari karena sakitnya waktu itu. Ayah bilang dia hanya influenza, tapi daya tahan tubuhnya benar-benar tidak bagus saat itu sehingga demam tinggi hingga penurunan kesadaran. Dan baru dini hari tadi dia bangun.
Aku, sebagai informasi, aku sehat-sehat saja.
Tidak ada yang sakit, tidak ada keluhan.
Ha! Semua hal konyol yang diocehkan teman-teman sekolahku adalah BOHONG, dan aku BODOH sempat mempercayainya. Yah, walaupun hal yang kulakukan kemarin pada Rukia bukan semata-mata karena teori aneh itu.
Aku menyadari apa yang kulakukan beberapa waktu yang lalu, aku menyadari perasaanku padanya saat ini. Seratus persen SADAR.
Rukia berjalan meninggalkanku di dapur tanpa bicara sepatah kata pun lagi padaku, seolah keberadaanku yang berdiri dan mencoba tersenyum padanya adalah salah satu alat dapur.
Kenapa dia? Masih demam? Mengigau? Marah?
"Hey! Akan kubelikan lagi kalau kamu mau," ujarku buru-buru sebelum dia keluar dari dapur. Terus terang aku ingin bersamanya sejenak lebih lama. Tapi tetap tidak ada respon darinya, berlalu begitu saja.
"Ruki-chan! Kamu sudah sehat, Nak? Jangan jalan-jalan dulu. Mau makan apa? Biar Ayah suruh Ichigo mencarikannya untukmu," Tiba-tiba ayah berlarian dan memeluk Rukia seperti sudah satu abad Rukia tidak bangun.
"Sepertinya dia mau cake cokelatnya kemarin, Ayah," jawabku atas pertanyaan ayah pada Rukia. Asal serobot saja sih.
Sambil nyengir, kutatap Rukia dari balik kitchen counter, berharap dia balas senyumanku atau mungkin berteriak padaku karena asal menjawab, atau apa saja. Tapi nyatanya, dia hanya memandangku sekilas dengan ekspresi yang….yah bisa kukatakan apa ya? Sedih? Lesu? Galau? Entahlah. Dari yang kutangkap dia menghindari tatapanku. Menghindariku.
Alih-alih membalas senyumanku, dia malah senyum pada ayah, "tidak perlu, Ayah. Tadi Yuzu sudah membuatkan sarapan untukku. Aku sudah kenyang," kemudian tersenyum, dan lagi-lagi bukan untukku.
"Baiklah, Nak. Sekarang ke klinik dulu, biar Ayah periksa sebentar," Rukia hanya mengangguk dan mengikuti ayah ke klinik.
Kenapa dia seolah menghindariku begitu?
"Onii-chan! Bawa pakaian kotor Onii-chan ke tempat cuci baju! Kalau tidak, Onii-chan cuci dan seterika sendiri ya!" pekik Yuzu membuyarkan lamunanku tentang sikap Rukia.
Sejak Rukia sakit, Yuzu kembali mengurusi rumah. Kali ini dia tampak lebih galak daripada biasanya soal kebersihan.
Begitu juga Karin, "Ichi-nii, kenapa piringnya cuma ditiriskan begitu saja? Dikeringkan, dikeringkan, gunakan lap!" tuh 'kan.+
T_T_T_T_T_T_T_T_T_T_T_T_T_T+
Heh.
Itu yang dia bilang hanya teman?
Semesra itu?
Pembohong.
Mengabaikanku selama kalender hampir memasuki musim semi.
Menghindariku di sekolah juga di rumah, dengan alasan dia sedang ujian.
Bahkan aku tidak pernah benar-benar bicara dengannya sajak waktu itu.
Sekarang malah membuatku ingin membunuh seseorang, ya Ashido itu.
Kenapa sih dia itu sebenarnya?
Kuputuskan untuk kembali ke kelasku sendiri, mengurungkan niatku untuk mengajaknya makan siang berdua denganku.
Koridor-koridor sesak ini dipenuhi hampir seluruh siswa yang berkepentingan dengan acara perpisahan murid kelas tiga. Ke sana, kemari. Berlalu lalang tanpa permisi.
Brugh!
"Ah, sorry!" tanpa sengaja kutabrak seorang kakak kelas yang kelihatan sekali sedang buru-buru.
"Yo!" ujarnya singkat sembari melambai dan berlari menuyusuri koridor penuh itu.
Uh, heran sekali yang mau lulusan itu anak kelas tiga, tapi kenapa pasukan kelas dua dan satu juga ikut ribut?
Lihat saja, si Tatsuki itu dari tadi kulihat belum selesai juga merengek ingin pergi dari kerumunan gadis-gadis paduan suara yang menyuruhnya ikut bernyanyi juga.
"Aahh, sudahlah. Tidak bisa, aku tidak maauuuuuu...," Tatsuki mencoba melepaskan diri dari cengkraman gadis-gadis garang akhir tahun itu.
"Ayolah, Tatsuki-chan! Aku juga ikut. Daripada kita berdua disuruh menari," bujuk Orihime yang kelihatannya juga jadi tahanan.
Sementara teman-temanku yang lain, Ishida sedang mengukur atau mungkin mendesain beberapa kostum untuk pertunjukan di acara perpisahan, dia sibuk mendiskusikannya dengan beberapa pimpinan klub.
Keigo, tetap tidak lebih baik dari Mizuiro yang gencar menggaet cewek di saat-saat akhir.
Chad, tetap tenang dengan pembuatan dekorasi.
Kelasku jadi markas persiapan. Oh, berisik.
Aku hanya berdiri di ambang pintu kelas, bersandar padanya, melihat keadaan kelasku dengan pikiranku melayang ke tempat lain.
"HA! ICHIGO! Ajak dia juga, suaranya lumayan," pekik Tatsuki tiba-tiba, sembari menunjukku terang-terangan.
"Kurosaki! Kemari dan bantu aku dengan desain ini," komando tuan besar Ishida.
O'o! Dua ancaman besar.
Aku harus pergi dari sini. Segera.
Aku berbalik dan berusaha menghilang dari balik dinding kelas.
Mencari tempat yang hanya aku dan pikiranku saja.
.-.
Kutapaki anak tangga menuju atap belakang sekolah, anak tangga yang sepi dan jarang dilalui siswa.
Melangkah pelan hingga kudengar suara yang kukenal.
"Hihihi…kau serius denganku?" ujar suara itu.
"Tentu saja, Cantik," kata suara lainnya.
Kudekati sumber suara itu, tepatnya di tangga yang lebih atas dari yang kujejaki sekarang.
"Hmm..bagaimana ya? Aku masih pacar Ichigo, yah meski aku sedikit bosan dengan sikapnya," kata suara yang kukenal lagi.
"Ah, akhiri saja dia. Kurasa dia itu...gay," kata seseorang yang tidak kukenal itu lagi diiringi tawa geli dan genit ala...siapa lagi kalau bukan pacarku.
"Senna," panggilku. Aku hanya berdiri di anak tangga yang lebih bawah dari mereka.
Dua manusia itu terkejut. Senna segera melepaskan rangkulannya pada laki-laki itu, aku bahkan tidak pernah melihatnya di sekolah ini.
"I-Ichi! Ah, eh…i-ini, bisa kujelaskan," kutampik tangan Senna yang berusaha menggapai wajahku.
"Sudahlah, Senna. Kurasa hubungan ini memang tidak akan berhasil untuk kedua kalinya," ujarku tanpa memandangnya. Aku merasa...muak.
"Ichi. Hubungan ini pasti berjalan baik karena aku mencintaimu. Sungguh-sungguh mencintaimu, Ichi."
"Sungguh-sungguh mencintai seorang gay, heh?" kini kutatap laki-laki yang bersama Senna, yang sedari tadi tidak berkata apapun.
"Ichii, jangan dengarkan dia. Dia hanya iri kau memiliki aku. Aku bahkan tidak mengenalnya. Percayalah padaku," rengek Senna seperti biasa.
Kali ini aku benar-benar penat mendengarnya. Tidak ada yang kukatakan padanya.
"Ha? Aku iri karena dia memilikimu? Heh! Yang benar saja, Senna. Untuk apa aku iri untuk seseorang yang punya gadis yang punya kekasih di setiap sudut sekolah sepertimu. Murahan!" kalimat itu akhirnya meluncur dari laki-laki itu.
Kata terakhirnya. Aku tidak suka mendengar kata terakhirnya pada Senna.
Spontan saja. Cepat kutapaki anak tangga yang membatasi aku dengannya. Kuhantam wajahnya. Berdarah hebat seketika itu juga. Kurasa, tulang hidungnya patah.
"ICHI!" pekik Senna terkejut, menutupi mulutnya dengan telapak tangannya. Dia nyaris menangis.
"Jangan katakan hal itu pada perempuan. Kaulah yang seharusnya membuatnya lebih dari sekedar bernilai," pecundang itu hanya memegangi hidungnya yang terus berdarah.
"Ichi," Senna memelukku, "oh, aku tahu kau juga aku."
Tapi kulepas pelukannya dengan paksa.
"Kita berakhir di sini, Senna. Kurasa kau harus membawanya ke rumah sakit."
"Ichi…ICHI!"
.-.
Kutinggalkan mereka berdua di situ. Tidak kuhiraukan jerit Senna memanggilku.
Kuakui yang dilakukan Senna mungkin bisa dijelaskan, aku tidak perlu memutuskannya secepat itu tadi.
Hanya saja, ugh, entahlah.
Aku sedang dalam keadaan yang tidak menyenangkan sekarang.
Dalam kepalaku hanya ada seseorang, dan itu bukan lagi Senna.
'Maafkan aku, Senna'
.-.
.-.
Menangadah pada langit di atasku ketika kujejaki halaman depan sekolah, depan ruang loker sepatu.
Langit mendung di awal musim semi.
Oh, menyedihkan.
Belum genap selangkah aku berjalan, perhatianku terpikat pada hal lain. Hal lain yang menjadi kecemburuanku. Yah, setidaknya itulah yang kurasakan. Aku bukan remaja yang pertama kali menyukai seseorang, jadi aku tahu rasanya.
Dia berjalan bersama Ashido melewati gerbang sekolah.
Di bawah satu payung merah.
Cih. Ini bahkan belum gerimis, kenapa sudah pakai payung begitu?
Entah berapa lama aku terpaku di situ menahan sesuatu pada pemandangan yang kulihat.
Dalam kepalaku terus saja mengulang semua ucapannya waktu itu, bahwa Ashido cuma teman.
'Kamu bohong, Rukia.'
"Heh, gadis yang sungguh menyenangkan. Kakakmu itu," tiba-tiba saja ada manusia aneh dengan angkuhnya berdiri di sampingku.
Tidak kutanggapi perkataan kakak kelasku yang aneh ini. Tidak ada gunanya bicara dengan orang urakan macam Grimmjow.
"Tidak kusangka bahkan Ashido si playboy tengik itu bisa benar-benar luntur," komentarnya.
"Bukannya kau juga sama saja, Senpai," ujarku hanya dengan meliriknya saja.
"A? Ahahaha, benar juga. Yah, walaupun aku ditolak sih hihihi," dasar! Sudah ditolak masih juga cengar-cengir kege-eran.
"Orang aneh," ujarku asal, kulanjutkan langkahku yang tertunda, meninggalkan Grimm-kun di situ. Yah, begitulah Rukia memanggilnya 'kan?
"Ah! Apa kau kata, anak kecil?" eh, dia dengar ternyata.
Kubalikkan lagi badanku, sambil berjalan mundur, "ORANG ANEH!"
"Hey! sudah kubilang 'kan? Kau harus memanggilku 'Senpai-sama'. Kau tidak ingat ya waktu kau kelas satu aku bi-," kalimat angkuhnya itu kuputus.
"Iya, aku ingat. Saat kau masih jadi ketua Osis, tapi sekarang 'kan murid biasa. Wek!" haha, senang juga mengejek orang ini. Ekspresinya macam-macam. Ternyata dia hanya mengerikan saat menjabat ketua Osis, sekarang tampangnya bahkan lebih konyol dari Keigo yang gagal mengerjakan soal kimia di papan tulis.
"Bocaaahh sialaaaann! Kemari kau!" Grimmjow mengejarku, sambil melambai-lambaikan helm yang dipegangnya.
Dan ….pada akhirnya aku dibonceng pulang oleh Senpai-sama yang tak lagi berkuasa. Setelah aku disuruh mendorong skuter semi vespa (?) sialannya ini.
"Senpai," panggilku dari belakang boncengannya.
"Apa, Bocah?" jawabnya tanpa menoleh, ya, kalau menoleh seorang nenek tadi pasti mati ditabraknya. Tidak menoleh saja nyaris menabrak polisi.
"Kenapa menyukai Rukia sampai-sampai nekad nembak?" tanyaku serius.
"Rukia? Siapa Rukia?" dia malah tanya balik.
"Lah! Gadis galak di kelasmu, yang tadi pulang dengan Ashido!" jawabku sedikit emosi.
"Oh, kakakmu itu. Jadi namanya Rukia ya?"
"APA? Kau bahkan tidak tahu namanya. Keterlaluan!" ada apa sebenarnya dengan orang ini? Terbentur apa kepalanya? Dia tidak tahu nama gadis yang disukainya.
"Ahahaha. Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa dia tulus padaku, jadi langsung menyatakan cinta padanya tanpa menanyakan namanya," jawabnya menerawang jauh ke jalanan di depannya.
"Sesepele itu?" tanyaku lagi kurang –tidak- percaya.
"Kau jatuh cinta pada seseorang karena hal-hal sepele, anak kecil. Hal sepele yang diam-diam membuatmu sadar, dan kemudian… mengubah duniamu selamanya. " aku berani bertaruh, Senpai tersenyum saat mengatakan itu.
Serentak, hujan deras menyapu kami.
Aku basah kuyup, Senpai lebih basah kuyup.
Gah! Kalau begini lebih baik tadi aku jalan kaki seperti biasa, setidaknya tidak harus tersendat dengan skuternya yang ogah-ogahan.
"Aku pulang…," kataku lemas ketika masuk rumah.
Kulepas begitu saja sepatu basahku di dekat pintu, kutendang saja biar lepas, kemudian tanpa peduli berjalan masuk rumah dengan pakaian basah meleleh di sepanjang tempat yang kulalui, menuju kamar.
'Sial!' runtukku dalam hati.
"Ah, selamat datang, Ichigo. Ng? Kenapa basah kuyup begitu, Nak?," berpapasan dengan ayah yang tengah menunggu makan malam di meja makan, sambil bolak-balik channel televisi sembarangan.
Tidak kujawab pertanyaan ayah, aku sedang tidak minat untuk berkomunikasi, berhubung seseorang juga tidak mau berkomunikasi denganku akhir-akhir ini. Jadi untuk apa berkomunikasi? Percuma. Sia-sia. Tidak ada gunanya.
Gah! Aku bingung dengan kata-kataku sendiri. Membuatku gila.
"Onii-chan, kalau turun nanti tolong panggilkan Ruki-nee sekalian untuk makan malam ya?"
"Hmm," hanya 'hmm' yang kuperdengarkan pada Yuzu, entah berarti tidak atau ya, kenapa dia tidak datang dan makan seperti biasanya saja? Kenapa harus dipanggil segala? Kenapa pula harus aku yang memanggilnya? Kenapa tidak suruh Karin yang kelihatannya tidak ada pekerjaan itu? Tidak tahu ya, dia itu sedang mengadakan terapi bisu denganku? Menyebalkan.
Tas sekolahku bernasib tidak jauh beda dengan sepatuku. Setelah mengosongkan isinya yang rata-rata adalah barang tidak penting dan basah, buku sekolah, kaos olahraga yang 3 minggu lalu belum kukeluarkan, ponsel mati, dan beberapa barang lainnya,. Mengeluarkannya dengan serampangan, lalu melempar tas itu dengan kasar dalam keranjang pakaian kotor yang ada di pojokan kamar.
Semua pakaian kotor yang ada di situ kupungut dan kulempar dalam keranjang itu dengan kasar. Setiap benda makin kasar. Dan yang terakhir adalah seragamku sendiri, kulempar dengan marah. Marah?
Sesaat aku berjongkok dalam kamar gelap itu, mengacak-acak rambutku, mengusap-usap wajahku serampangan.
"Arhhh,…kenapa aku ini?" ah, aku bahkan berbicara sendiri.
Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri. Aku tidak mungkin sefrustasi ini hanya karena putus dengan Senna. Atau hanya karena Grimmjow mengatakan sesuatu yang membuat Rukia begitu berarti? Atau karena terapi bisu bodoh ini? Atau ... entahlah.
.-.
Kubawa keranjang berisi penuh pakaian kotor itu ke lantai bawah, tempat cuci pakaian.
Pintu geser tempat itu kugeser membuka. Memperlihatkan isinya yang diterangi lampu yang aku yakin paling terang di antara lampu lain di rumah ini. Kerjaan aneh ayah lagi.
Baru selangkah kumasuki tempat silau buatan itu, masih menggendong keranjang yang semakin dirasa semakin berat dan bau, "...oh, Ichigo?" aku tidak sendirian di sini rupanya.
Aku berdiri ditempat di mana langkahku terhenti, hanya melihatnya begitu saja, berusaha sebisa mungkin tidak menampakkan perubahan ekspresi pada wajahku, meski itu menghianati jantungku yang menjerit begitu melihatnya sedang memakai pakaian.
Eh, maksudku dia sudah memakai celana panjang, dan sekarang berusaha memakai sweeter bertudung melewati kepalanya. Tapi bisa kulihat dia hanya pakai tank-top –kalau tidak salah namanya itu- hitam di bawah sweater bertudung itu, yang hampir tidak menutupi seluruh badannya, bisa kulihat kulit putihnya mengintip. Tanpa sadar napasku tertahan. Huufff...
Tidak ingin mendapat serangan jantung di usia muda, kuabaikan dia.
Kubuka penutup mesin cuci yang memang tujuanku tadi.
Memasukkan, lebih tepatnya melempar, semua muatan keranjang yang kubawa, termasuk tas sekolahku. Kujejalkan begitu saja. Padahal kalau Yuzu tahu aku memasukkan tas sekolah tanpa membilasnya lebih dahulu di luar, bisa dipastikan dia akan berubah menjadi monster kecil yang menggemaskan.
"Ah,… maaf ini, ini hoodie punyamu kupakai. Semua sweaterku sedang dicuci, jadi Yuzu menyuruhku memakai milikmu. Umm, untuk sementara saja," hey! dia masih bisa bicara ternyata. Ah, kupikir aku tidak layak diajak bicara lagi oleh tuan putri Rukia. Heh!
Dari yang kulihat sekilas, itu memang hoodie milikku. Berwarna cokelat yang sudah sangat pudar, bahkan tidak akan muat lagi untuk diriku yang sekarang.
"Tidak perlu berbicara padaku jika tidak mau," kataku memunggunginya, mencari-cari detergen di rak di atas mesin cuci.
"Eh? Apa?" tanyanya, sepertinya terkejut daripada tidak dengar.
"Kamu dengar aku tadi," jawabku. Ah! Ini dia detergennya.
Sesaat aku maupun Rukia tidak bicara lagi.
Entah apa yang dilakukannya di situ, aku tidak lihat, aku masih memunggunginya. Enggan melihatnya meski sangat ingin.
Diam.
Kumasukkan detergen dalam cucianku yang siap dibanting oleh mesin cuci. Kemudian yang terdengar hanya bunyi tombol pengaturan mesin cuci yang kupencet dengan paksa.
"Ichigo, dengar, aku…," Rukia tiba-tiba bersuara.
"Kubilang tidak perlu bicara, kalau kamu memang tidak suka dan tidak mau lagi bicara padaku," potongku ditengah kalimatnya dengan nada yang sedikit meninggi. Aku sebal.
"Aku bukannya tidak mau bicara padamu ta-,"
"Lantas apa? Hanya memberiku terapi bisu?" potongku lagi, masih memunggunginya, masih menekan-nekan tombol-tombol pengaturan dengan lebih kasar, pelampiasan.
Dia diam sesaat, kemudian angkat bicara lagi, "...aku hanya merasa yang kita lakukan waktu itu tidak pantas dilakukan antar saudara, kakak dan adik maksudku."
"Waktu itu? Ah, ya yang itu. Haha. aku yakin kamu masih sadar saat itu sebelum akhirnya pingsan, karena kamu menciumku balik, " ujarku dengan tawa garing yang sengaja, kemudian menoleh sebentar ke arahnya.
Rukia menunduk, "…ja,jangan ungkit lagi. Yang jelas itu salah, tidak seharusnya itu terjadi. Maafkan aku."
Maaf? Untuk apa? Dia tidak suka?
"Salah? Apa maksudmu salah? Itu alasanmu menghindar dariku, mendiamkanku, bahkan sengaja mesra dengan orang lain di depanku? Hah?" spontan aku berbalik dan menghadapnya, bersandar pada mesin cuci yang belum sempat kuaktifkan.
"Jelas salah, Ichigo!" kini nada suaranya seolah mengatakan dia benar-benar frustasi, bingung dengan perasaannya sendiri. Persaaan yang seharusnya membuatnya senang.
Aku hanya bisa menatapnya dalam diam, ingin dengar penjelasannya.
"Kita…kita berdua saudara, kakak adik. Tidak seharusnya kita memiliki perasaan macam ini, Ichigo," ujarnya dengan nada bergetar.
"Perasaan?" aku mengerti maksudnya, aku hanya memancing agar dia mengatakannya.
"Ohh, kamu tahu maksudku. Jangan buat aku mengatakannya," ternyata gagal, dia mengelak.
"Dan," lanjutnya, "...kurasa menghindarimu adalah cara agar kita tahu posisi masing-masing. Agar aku sadar dan benar-benar mengerti kamu itu adikku dan aku kakakmu."
"Tidak hanya menghindariku, tapi juga menolak berbicara denganku," ujarku biasa.
"Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana, Ichigo. Mengertilah,… aku berusaha untuk menjadi bagian keluarga ini, menjadi bagian dari sesuatu yang kuinginkan selama ini, menjadi bagian yang benar bukan malah merusaknya. Aku tidak mau kalau,…kalau karena hal ini kamu kena masalah."
"Lalu apa maumu sekarang? Memanggilmu 'nee-sama' begitu? Menghormatimu sebagai orang yang lebih tua dariku? Jaga jarak darimu?" aku mulai tidak suka obrolan ini.
"Aku memang lebih tua darimu," akunya.
"Tapi kamu bukan kakakku."
"Anak angkat orang tuamu adalah tetap saudaramu."
"Ibuku bahkan tidak menyusuimu, tidak ada ikatan saudara antara kita."
"Menjadikan aku sebagai anak mereka cukup untuk menjadi saudara denganmu."
"Hanya anak angkat, tidak ada larangan."
"Tapi ada batas kelayakan dan kepantasan."
"Kamu hanya mengarangnya."
"Hutang budi ku pada keluarga ini, pada orang tuamu, bukan sesuatu yang bisa kukarang, Ichigo. Mengertilah bahwa tidak seharusnya aku memiliki perasaan seperti ini padamu."
Sejenak aku diam saja, entah apa yang harus kukatakan lagi padanya.
Seolah semua yang aku, dia, kami berdua rasakan adalah salah.
Terlarang.
"Omong kosong," ujarku akhirnya.
Kembali menghadap mesin cuci, melanjutkan aktifitasku yang tertunda tadi.
Aku bahkan lupa kalau kaos hitam yang kukenakan sedari tadi basah karena hujan, segera kubuka sebelum mesin cuci ini mulai memutar. Kemudian melemparnya ke dalam mesin cuci.
Berjalan menuju meja dengan tumpukan pakaian yang siap didistribusikan ke setiap kamar anggota keluarga di rumah ini, meja yang sedang disandari Rukia selama obrolan kami tadi.
Aku tidak peduli ada dia di situ, kuraih sebuah kemeja abu-abu berkerah yang ada di tumpukan paling atas dari pakaianku.
Kulirik Rukia yang menunduk ketika aku mendekat. Menunduk, menghindari kehadiranku.
"Kenapa? Tidak enak melihat adikmu tanpa pakaian?" aku sengaja mengatakan itu. Hanya ingin tahu reaksinya, hanya ingin tahu argumennya tadi mengenai kakak-adik adalah benar-benaar bisa dipegang.
"E-eh? Ti-tidak," sebut aku sok tahu, tapi bisa kupastikan meski tipis dia tidak nyaman, rona wajahnya berubah.
"Heh. Sudah kubilangkan omong kosong," sudah kuduga, dia memaksakan dirinya sendiri. Bertindak diluar keinginannya, demi sesuatu yang juga diinginkannya.
Baru saja mau kupakai kaos pengganti melewati kepalaku, dia berujar sambil menyodorkan handuk padaku, "keringkan dulu badanmu. Basah, kamu bisa sakit."
"Tidak perlu. Nanti juga kering sendiri," aku tolak perintahnya, sok memerintah lagi.
Tapi, hey!
"Balikkan badanmu, bodoh! Biar aku keringkan," sekarang dia memaksa. Dasar! Setelah berbicara seserius itu tadi kupikir sikapnya padaku akan berubah, nyatanya sama saja.
Tanpa bicara lagi, dikeringkannya punggunggu dengan handuk tadi.
Jujur, setiap sentuhannya menuntunku menuju rumah sakit jiwa!
"Balik!" perintahnya lagi.
Seakan-akan dia ingin membuktikan bahwa tidak ada perasaan lebih padaku, tidak boleh ada, Rukia melakukan hal yang biasa dilakukan sesama saudara lainnya.
Namun, kurasa dia gagal.
Sesaat dalam keadaan diam, kemudian kuraih sisi samping wajahnya dengan tanganku, mengangkat wajahnya yang menolak menengadah.
Tanpa ragu, kini kupegang rahang kirinya perlahan, pelan membujuknya agar menatapku. Membujuk agar mata itu menatap diriku yang sangat merindukan pemiliknya.
Tidak ada kata yang keluar dari kami berdua.
Sesaat hanya diam di antara kami, diam yang begitu kurindukan ketika berada di dekatnya.
"Kamu… benar-benar membuatku sinting, Rukia." ujarku lirih.
Tidak ada tanggapan darinya, Rukia hanya diam. Kupersempit jarak antara kami.
Namun kemudian, seakan baru tersadar dari lamunannya, Rukia mendorongku menjauh darinya, "a-aku, aku mau makan. Kamu, keringkan rambutmu," ujarnya sembari menyodorkan handuk yang sudah setengah basah itu ke dadaku.
Sudah kuduga teori-teorinya tadi hanya omong kosong.
Segera kusambar pinggangnya, membuatnya kembali berhadapan dekat denganku.
Kutatap dia lekat-lekat, membuatnya tak bisa melepas matanya dari tatapanku.
Membuatnya terjerat dengan jiwaku, agar aku tahu yang dirasakan jiwanya.
"Kamu merasakan hal yang sama denganku, iya 'kan, Rukia? Kamu tahu bahwa perasaan ini sungguh menyiksa?" tanyaku padanya dengan sedikit nada memaksa.
Rukia tidak menjawab, tatapannya seakan goyah, selubung kristal di matanya itu tampak semakin hidup di bawah lampu terang ini.
"Benar 'kan, Rukia?" tanyaku lagi.
Rukia tetap tidak menjawab.
"JAWAB AKU RUKIA!" sekarang aku berteriak, aku tidak peduli jika ayah, Yuzu, atau Karin mendengarnya. Yang kubutuhkan adalah kepastian darinya, bahwa yang dia katakan tadi adalah omong kosong menjijikan.
"Kamu tahu jawabannya, Ichigo. Kamu tahu," jawab Rukia akhirnya. Dengan suaranya yang bergetar pelan, lirih, nyaris tidak terdengar olehku. Tapi itu cukup. Cukup untuk memberiku jawaban yang sesungguhnya.
Entah apa yang merasukiku, mendorongku saat itu, untuk kedua kalinya kurenggut bibirnya menjadi milikku.
Ingin kutunjukan semua yang ingin kukatakan, ingin dia tahu bahwa...
Bahwa aku harus menjadi rajanya.
Bahwa aku bisa menjadi pelindungnya.
Bahwa aku lebih dari sekedar peduli padanya.
Bahwa aku menyayanginya bukan sebagai saudara.
Bahwa aku,… aku sungguh-sungguh mencintainya.
Kurasakan detail lembut bibirnya melawanku.
Enggan melepasnya begitu saja, kudekap ia lebih dekat.
Hinga akhirnya kukira dia menyerah, dan mengikuti arus yang kuinginkan.
"Masih merasa ini salah, huh?" tanyaku, setelah kubebaskan dia.
Rukia mundur beberapa langkah dariku, menyentuh bibirnya dengan punggung tangannya, menghindari tatapanku, seakan takut kalau aku mengulangi hal yang sama.
Desah napasnya yang saling mengejar bisa kudengar. Meski sedikit terdengar sedikit seperti isakan, tampaknya dia tidak menangis.
Tidak ada jawaban darinya.
Kupakai kaos yang belum sempat kukenakan tadi, melangkah lebar menuju pintu geser ruangan ini, setelah mengatakan, "akan kuberitahu ayah soal ini. Jadi tidak ada lagi alasan bagimu untuk terus mengelak."
"Ichigo!" sontak dia terperanjat dan sedikit berteriak memanggilku.
Mengikuti derap langkahku, meraih tanganku, digenggamnya erat. Aku terhenti, berbalik menghadapnya yang kini tertunduk dalam dengan helaan napas yang terdengar sesak.
"Jangan. Kumohon jangan lakukan itu, jangan beritahu ayah," kalimat pertentangan lagi yang terucap darinya.
"Kenapa? Ap-"
"Ini salah. Salah. Salah. Salah!" aku masih tidak melihat dia menangis, padahal kukira saat seperti ini akan membuat perempuan manapun mengeluarkan air mata.
Aku tidak peduli dengan ucapannya. Aku ingin ayah tahu, semua tahu.
Kulepaskan genggamannya, melanjutkan langkahku yang kupercepat menuju ke tempat ayah.
"Ichigo!" panggilnya lagi, tidak kuhiraukan.
"Ayah!" panggilku begitu menjejak ruang makan. Kulihat tadi ayah di situ.
"Ayah di klinik, ada tamu jangan berisik!" aku tidak peduli ada tamu perdana menteri atau shogun sekalian. Ini penting.
Ah, jantungku berdebar tidak karuan.
"Ayah!" panggilku lagi begitu kulihat ayah, sedang bersalaman dengan seseorang, tidak, beberapa orang.
"Ichigo!" rupanya Rukia mengikutiku. Terpancar rasa khawatir, mungkin juga takut dari wajahnya. Napasnya tersengal tak karuan.
Sekalian saja kutarik tangannya, agar aku dan dia sama-sama menghadap ayah, mengatakan yang sebenarnya.
"Ichigo, hentikan. Kumohon," pinta Rukia, masih berusaha mencegahku.
"Ayah, aku…" sekarang kami berdua tepat di depan ayah, dan orang-orang alias tamu ayah itu, siap mengatakan bahwa…
"Nah, ini Ichigo. Oh, dan ini dia Rukia yang kita tunggu. Dia sudah akrab dengan Ichigo sekarang," tiba-tiba ayah bicara dan seolah memperkenalkan kami berdua pada tamu tersebut.
"Ayah, aku..." belum sempat kuselesaikan, seorang dari tamu itu menghadang kalimatku.
"Rukia,.." panggilnya, panggilnya pada Rukia.
Kulihat Rukia yang masih kugandeng, terbelalak melihat lelaki yang memanggil namanya itu.
"Ka-Kai..en?" apa? Rukia mengenalnya. Ada apa ini?
Lalu seorang pria hampir, mungkin lebih, seusia ayah berkata, "wah Kaien, kau memang jagoan kalau memilih wanita. Kurasa kau tidak salah memilih Rukia sebagai calon istrimu," pria berambut putih dikuncir itu tersenyum, dan menoleh pada seorang wanita di sampingnya yang mengangguk setuju.
"ISTRI?" pekikku seketika, sungguh diluar kendali.
"Hahaha, Ichigo kagetmu berlebihan deh ah! Perkenalkan, Nak. Tuan ini adalah Juushiro Ukitake dan yang disebelahnya itu Nyonya Ukitake, Retsu-san. Mereka ini paman dan bibi dari Kaien Shiba, datang untuk melamar Rukia," jelas ayahku.
"Ay..ay..ayah…ap-" aku tidak mengerti semua ini. Membingungkan. Melamar? Maksudnya….?
"Rukia, kau makin cantik dan dewasa sejak kita terakhir bertemu," ujar si Kaien itu, seenaknya menyambar Rukia dari genggamanku.
"Kau, ke-kenapa…" ujar Rukia tergagap.
"Aku ingin menikahimu, setidaknya bertunanganlah dulu denganku. Secepatnya."
HEY! Seseorang jelaskan ini padaku.
"Ruki-chan kamu sudah kenal Kaien 'kan?" tanya ayah memecah obrolan aneh kedua orang itu.
"Ah, y-ya. Dia-" jawab Rukia yang masih tampak terkejut. Aku malah lebih SHOCK!
"Dia adalah orang kusukai selama ini," lanjut si brengsek Kaien ini.
Aku tidak mengerti. Aku sungguh tidak mengerti. Dan aku benar-benar ingin tahu.
"Ichi-nii, siapa orang tampan sok agresif itu? Berani-beraninya menyentuh Ruki-nee seperti itu," tiba-tiba Karin muncul dengan kalimat pertanyaan yang benar-benar langka yang keluar dari mulut seorang anak SD kelas 6.
Aku lemas, sesak, tidak tahu, "...aku tidak tahu, Karin."
.-.
.-.
Setelah orang-orang itu pulang, aku masih tidak mengerti, tidak percaya yang kudengar, yang kulihat, dan aku bingung harus bertanya pada siapa dan bagaimana.
Ayah setuju dengan pengajuan lamaran Kaien untuk bertunangan dengan Rukia. Apa-apaan ini?
Bahkan Rukia tidak menolak. Meski dia juga tidak meng-iya-kan.
Kenapa begini?
Kenapa Rukia?
Kenapa di saat aku menyadari perasaanku?
Kenapa harus di saat akan kuumumkan pada dunia bahwa aku menyayangimu?
"Kamu lihat 'kan? Tidak ada kesempatan untuk kita berdua," ujar Rukia tiba-tiba saat aku masih mengambang di antara ratusan pertanyaan dalam kepalaku.
Aku tidak menjawabnya, tidak tahu harus menanggapi apa.
"Kumohon, biarkan perasaan ini hanya menjadi rahasia di antara kita berdua. Hanya rahasia saja, Ichigo. Tidak lebih, dan tidak boleh ada."
Rukia...
End of – Chap SIX.
Arrhh...I'm lack of romance!
Maaf saya update terlalu lelet, karena alasan di atas. Saya benar-benar tidak tahu mau menulis apa, sampai pada suatu hari wall saya ada yang nodong pake golok *nglirik yg nodong.
TERIMA KASIH buat:
Bunny de Gaje; Arlheaa; Zheone Quin; girlinlightblue; bl3achtou4ro(demam nggak nular);Hinazuka Airin; master of bankai(makasi dah di fav); Azalea Yukiko(maaf kalau di chap ini jg byk typo); aRaRaNcHa; ikachan; sava kaladze; Thanatos Avatar; RukiaRizkaMala; So-Chand 'Luph pLend'; Yuu Ika(bag. mana dr saya yg lucu, Yuu-cha?); sarsaraway20; darkseyren; aya-na rifa'i & aya-na rifa'i g login(tdk tau mau blg apa pdmu); Kurosaki Kuchiki; Zie-raInc0ol; Fun-Ny Chan; tara(sdh dicium, sayang); dan semua yang telah membaca.
Misalnya ada yang belum saya sebut mohon maaf, ampuni saya, saya cuma manusia biasa yang selalu lupa.
Oh, dan maaf chap ini banyak kekurangan. Jika layak direview saya ucapkan terima kasih, jika tidak, terima kasih sudah membacanya.
Chao!
