Disclaimer: Bleach?

Hanya milik Tite Kubo!


Chapter 7: …That U Feel The Same Way Too.


Satu yang aku tahu, menyimpan rahasia itu memuakkan.

Aku muak, Rukia!

"Yo, Ichigo-san!" sapa Kaien dari depan rumah, melambai padaku. Hanya kubalas senyum seadanya.

Dia pikir, si Kaien itu, jam berapa sekarang? Seenaknya mengembalikan anak perempuan orang lewat tengah malam begini. Ah, hampir pagi.

Rukia juga! Apa dia tidak punya mulut untuk minta diantar pulang? Atau memang kencannya oh-sangat-membahagiakan? Cih!

Hari ini, entah sudah keberapa belas ratus juta kali si Kaien itu mengajak Rukia keluar untuk yah...kencan. Meski yang aku lihat dia lebih nampak memaksa daripada mengajak.

Setelah manusia menyebalkan itu menghilang dari depan rumah, lenyap dengan mobilnya yang mentereng, kubanting pintu rumah menutup.

"Kamu bisa membangunkan semua yang sudah tidur, Ichigo! Termasuk Komamura-san yang meninggal tadi pagi di rumah sebelah. Tutup pelan-pelan kenapa sih?" 'tuh 'kan pulang-pulang main perintah, banyak maunya. Ujar Rukia sambil melepas sepatu boot kesayangannya, yang menurutku sangat tidak layak lagi dipakai.

"Kamu juga, pulang jam segini juga menggangguku tahu?" balasku tak mau kalah.

"Mengganggumu? Heh! Yang benar saja. Memang aku mengganggu apa?" tanyanya melawan tanpa melihatku, masih tertunduk di lantai, konsentrasi melepas sepatunya.

"Mengganggu jam tidurku. Aku sudah tidur dari tadi kalau saja tidak harus menyambutmu di depan pintu seperti tadi. Tidak sadar ini tengah malam..," tandasku.

"Aku tidak minta kamu menunggu dan membukakan pintu. Aku bawa kunci cadangan," ujarnya ketus.

"Oh, jadi kamu sudah merencanakan pulang larut? Bagus."

"Apa urusanmu?"

"Tidak ada. Hanya saja kenapa tidak pulang pagi saja sekalian? Empat jam lagi matahari terbit," saranku padanya yang tak jua menatapku.

"…," dia diam saja.

Karena bosan tidak ditanggapi, dan Rukia masih juga berlama-lama –sengaja- dengan sepatunya, kumainkan saja saklar lampu di dekat situ, sehingga lampunya mati-nyala-mati-nyala-mati…

"Lampunya putus, bodoh!" ujarnya ketus sembari bangkit dan berjalan melewatiku. Sama sekali tidak peduli padaku.

Tidak tahukah dia bahwa aku sangat merindukannya akhir-akhir ini?

Kucegah dia melangkah lebih jauh dariku, membuatnya dengan terpaksa menatapku dalam keadaan gelap.

Rukia mengernyit kesal padaku, tanpa bicara apa pun. Ekpresinya terbaca olehku, ngantuk, lelah, sebal, marah, dan...

"Dia melakukan sesuatu padamu?" tanyaku serius, tanpa tahu apa maksud dari pertanyaanku sendiri.

Tidak ada jawaban darinya, hanya ekpresi yang benar-benar tidak ingin diganggu saat itu.

"Katakan, Rukia!" aku hanya curiga si Kaien itu bukan orang baik.

Aku ingin memastikan dia mati jika memang telah melakukan sesuatu yang tidak semestinya pada Rukia.

Ataukah aku yang terlalu paranoid? Tapi Rukia sudah terlalu sering pulang hampir pagi seperti ini. Ini tidak baik.

"Ka-."

"Bukan urusanmu, Ichigo!" belum juga sempat kutanya sekali lagi, tapi sudah dijawabnya. Kali ini tampaknya benar-benar tidak ingin diganggu, Rukia tampak begitu lelah, dan banyak pikiran. Justru membuatku ingin tahu apa yang begitu mengganggu pikirannya saat itu.

"Dengar. Kalau dia me-."

"Jangan campuri urusanku. Bukankah sudah kukatakan padamu, Ichigo, bahwa tidak ada celah, tidak ada kesempatan untuk kita berdua?" dia sungguh tampak sangat tidak baik, aku tahu.

"Jadi…kumohon berhentilah bersikap seolah semua urusanku adalah kepentinganmu untuk mengetahui detilnya," jelasnya lagi, dengan suara yang terdengar lelah.

Lengannya masih kupegang, bisa kurasakan tubuhnya gemetar, sinar matanya begitu sayu.

"Aku perlu tahu, Rukia. Kamu tinggal di rumah keluargaku, jadi semua urusanmu juga urusanku. Rumah ini punya aturan, kamu tidak bisa sembarangan pergi dan pulang seenaknya, " aku tahu kalimatku tidak masuk akal, tapi apapun akan kusemburkan agar aku bicara dengannya.

"Apa urusanmu, Ichigo? Kamu cuma anak-anak di keluarga ini, sama seperti Yuzu dan Karin," tanya Rukia dengan suara yang tertahan, seolah akan meledak membesar kapan saja, menunduk dalam genggamanku.

"Jadi apa urusanmu jika anak angkat sepertiku pulang dan pergi semaunya?" tanyanya lagi, dengan nada suara yang meninggi, dan makin tinggi, keras, "apa urusanmu aku pergi dengan pacarku hingga pagi? Apa urusanmu aku menyukainya LEBIH DARI AKU MENYAYANGIMU? APA URUSANMU KALAU AKU MUNGKIN TIDUR DENGANNYA? KAMU– akh!" pekiknya.

Tanpa sadar genggamanku pada lengan Rukia menjadi lebih erat, sangat erat mungkin, aku tidak tahu.

Apa katanya tadi?

Seolah jantungku benar-benar pergi, meninggalkan rongganya saat Rukia mengatakan hal yang tadi benar-benar melayang dalam kepalaku, yang kukhawatirkan darinya sejak dia sering pergi dengan Kaien hingga selarut ini.

Mungkinkah fantasi paling liar seorang manusia bisa menjadi kenyataan?

Karena kurasa fantasi terliarku itu sungguh menjadi benar-benar buas jika Rukia...Kaien...

Aku hanya menatapnya dalam keterejutan, menggenggam lebih erat lengannya, seolah memaksanya untuk bilang 'hanya bercanda, bodoh'.

"Apa katamu? Rukia... kamu …tidak benar 'kan?," rasanya tenggorokanku kering, sakit.

Sesaat hanya ada diam yang menusuk antara kami.

Rukia terus menunduk, nafasnya terengah-engah tak beraturan.

Lalu dia bicara, "…kehidupanmu tidak serumit miliku. Kamu tidak akan pernah mengerti masa laluku, Ichigo."

Kemudian dengan sekuat tenaganya, Rukia lolos dari genggamanku. Aku tidak sanggup lagi mengekangnya lebih lama.

Masih tidak percaya dan terus bertanya, kulihat Rukia menghilang di undakan anak tangga paling atas menuju kamarnya.

Siapa sebenarnya Kaien?

Masa lalu? Masa lalu yang seperti apa, Rukia?

_.

_.

_.

"Aduh, Onii-chan! Kenapa pinggiran rotinya ditelantarkan seperti itu sih? Dimakan dong, Onii-chan!" semakin banyak populasi perempuan di rumah akan semakin banyak keluhan untuk hal-hal sepele.

"Aku bilang, aku mau sarapan nasi, Yuzu. Bukan roti!" jawabku sekenanya pada Yuzu.

"Ichi-nii aneh. Akhir-akhir ini makin manja, kemauannya banyak. Kenapa? Kurang perhatian dari Ruki-nee sejak dia punya tunangan, hm?"

Ap-apa? Apa-apaan Karin ini? Statementnya sungguh mematikan!

"Karin! Hentikan cengiran anehmu itu! Tidak mau roti, tidak ada hunbungannya dengan Rukia. Dan dia belum tunangan," paparku, memperjelas sesuatu, kemudian melahap dengan terpaksa pinggiran roti tadi.

"Hehe…"

"Kubilang hentikan!"

Ngomong-ngomong, yang jadi omongan belum tampak juga.

Apa dia masih tidur?

Atau selera makannya juga enggan melihatku?

Dua hari berlalu sejak malam itu.

Rukia tak jua tampak. Tidak jika ada aku di dekatnya. Aku tidak pernah benar-benar bicara padanya lagi.

_.

_.

_.

Apa enaknya kalau tidak sekolah tapi mengepel rumah lantai atas, lantai bawah, plus klinik?

Dan apa enaknya melakukannya sendiri? Sendirian di rumah ini siang bolong begini!

Ayah-pergi ke Universitas Yokohama untuk mengurus beberapa penelitian. "perusahaan Shiba mengundang ayah untuk bergabung." Aneh. Sejak kapan ayah tertarik dengan laboratorium?

Karin-mencari kesenangan di luar selain sepak bola, "yang rajin ya, Ichi-nii! Wek!"

Yuzu-menghadiri pesta ulang tahun temannya, "ah, Onii-chan. Pel dua kali ya dapurnya."

Sialan!

Tapi, tidak apa juga sih. Mungkin dengan konsentrasi pada lantai pikiranku tidak terus melayang pada...

Rukia... apa lagi kalau tidak pergi dengan Kaien.

Aku sudah tidak ingin membahas percakapan kami beberapa malam lalu.

Aku sadar aku tidak punya hak untuk melangkah lebih jauh dalam hatinya, itu masalahnya, masalah berat tentang perasaannya, masa lalunya, kehidupannya.

Memaksa masuk, dengan alasan ingin membantu sekalipun, hanya akan mengoyak lukanya lebih dalam.

Setidaknya aku mencoba memahaminya dan…menunggu jika dia memang ingin mengungkapkannya suatu saat nanti.

Lalu, apa salahku sekarang?

Aku sudah menurutinya untuk merahasiakan perasaanku, menutup mulutku rapat-rapat, tidak adakah keinginannya untuk setidaknya bersikap biasa padaku? Dengan tidak mengabaikan keberadaanku di dekatnya. Atau apa saja yang membuatku merasa... merasa bahwa perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Karena aku tahu, aku tidak se-menyedihkan itu.

Paling tidak hanya itu yang harus bisa kuterima. Tidak lebih.

Aku tidak bisa menyalahkannya.

Dua keadaan ini, antara menjadi bagian dari keluarga Kurosaki dan menjadi bagian dari hati Ichigo, keduanya adalah keinginannya. Mungkin, kurasa.

Sekarang kupikir, seandainya… kami bertemu dengan cara yang berbeda.

Kucelupkan kain pel kotor itu, kutanggalkan bagian tongkat pelnya, dalam ember berisi air yang masih bersih di dekat kaki meja ruang tamu, dengan pikiran yang melayang tak tentu arah. Kemudian mulai membersihkan sisa lantai yang masih tertinggal, lalu melanjutkan hingga bagian depan pintu masuk, dekat rak sepatu dekat pintu, merapikannya sebentar, DAN...!

Muncul manusia brengsek yang menjeblak masuk rumah tanpa salam, menginjak hasil kerja banting tulang yang hampir mematahkan vertebra.

"HEY!" pekikku kesal, setengah marah, sepertiga dendam, seperempat dengki, dan seperdelapan ingin membunuh manusia itu!

"OH, Ichigo-san!" Ka-Kaien? Sedang...

"Waa! Lepaskan, brengsek! Apa-apaan kau ini? Hey!" tiba-tiba saja bocah Shiba ini memelukku tak karuan. Ekspresinya bahagia sekali. Mengerikan.

Setelah bebas dari ranggutan Kaien, "Brengsek…apa-apan dia ini…," gumamku pelan.

"Maafkan aku. Hehe…," ujarnya dengan nada biasa, mengembalikan aura kharismatik khas konglomerat.

"Singkirkan kaki dan sepatu baumu itu dari lantaiku," ancamku pelan, namun berusaha mematikan.

Sembarangan, tidak lihat apa itu lantai masih basah, lembab, berair?

"Oh, maaf," dia melompat turun dari lantai kayu itu, sedikit terkejut.

"Ichigo-san," panggilnya, "mana ayahmu?"

"Pergi. Bukannya perusahaanmu yang mengundangnya?" jawabku sekenanya, sambil kembali mengepel bagian lantai tercemar itu.

"Ah, benar juga."

"Ada apa mencarinya? Urusanmu 'kan dengan Rukia, bukan dengan ayahku," tanyaku basa-basi sebenarnya.

"Itu, ada kabar yang harus kusampaikan dan aku harus minta ijin dulu padanya. Tapi kurasa kau juga harus tahu," katanya dengan ekspresi yang, entahlah, senang?

"Oh," aku benar-benar tidak tertarik mengobrol apapun itu dengannya, atau mendengar kabar dengan ocehannya.

Lalu Kaien berbalik, tersenyum ke arah pintu, yang ternyata di sanalah Rukia berdiri.

Kembali menatapku, dan tersenyum penuh arti, "aku dan Rukia, pertunangan kami akan dilaksanakan tiga hari lagi. Tadi aku bicara pada Rukia, dan gadis cantik yang berdiri di situ mengangguk setuju. Benar 'kan Rukia?"

Ha?

"Dan," ujar Kaien lagi, masih ada lanjutannya? "...minggu depannya kami akan menikah."

WHAT?

Buru-buru sekali! Ada apa dengan orang ini?

Bahkan minggu depan pengumuman kelulusan SMA Karakura baru akan dipampang di halaman sekolah.

Dan Rukia belum tentu lulus, aku bahkan berharap dia tidak lulus sehingga harus mengulang satu tahun ajaran lagi bersamaku.

Tidak bisakah orang tampan di depanku ini sabar sebentar?

Tapi...

Apakah alasan mereka begitu terburu-buru adalah karena hal yang Rukia katakan malam itu? Bahwa dia...dan Kaien...

Kutatap Rukia dalam-dalam dari tempatku berdiri memegangi kain pel dekil yang terlupakan.

Mencari konfirmasi atas pernyataan yang baru saja kudengar.

Mencari kebenaran bahwa yang kudengar adalah salah.

Memastikan bahwa ucapan Kaien hanyalah bualannya.

Tapi tidak ada yang kudapatkan dari Rukia, selain senyum datar darinya.

"Baiklah. Kurasa aku akan menelepon Kurosaki-san nanti malam dari tempatku. Agar urusan ini cepat selesai," putusnya, melangkah mendekati tempat di mana Rukia berdiri, memberinya kecupan di pipi, kemudian pergi, "Kita akan segera jadi saudara, Ichigo-san. Sampai jumpa." Saudara, saudara kepalamu...?

Menutup pintu perlahan, Rukia melangkah melewatiku yang masih tak bergeming di tempatku berdiri.

Hanya keheningan dalam rumah ini meski ada dua orang hidup yang cukup untuk mengadakan dialog apa pun.

Dalam diam itulah, aku...menyerah.

Senyum kecut kulepaskan begitu saja, aku tahu aku sudah kalah.

Tawa hening yang kupersembahkan untuk diri sendiri seolah mengejekku, 'pecundang'.

_.

_.

Selesai dengan pekerjaanku, kuhampiri kamar Rukia.

Kamar loteng yang dulu begitu berdebu, yang kini kurasa akan segera berdebu lagi minggu depan.

Kuketuk pelan, dan tak lama kemudian terdengar langkah kaki pada lantai papan kamar itu, pintunya terbuka memperlihatkan Rukia dengan rambut acak-acakan, wajah pucat seperti biasa dalam pakaian yang masih dikenakannya sejak pulang tadi.

Dengan mata berair, bukan menangis, kurasa dia tadi sedang tidur, "..hm? Ichigo? Apa lagi?"

Lagi? "hey! Hari ini baru sekali ini aku mengganggumu."

Wajahnya mendadak kusut dan dengan segera akan menutup kembali pintu kamarnya tetapi kutahan.

Kemudian kuperlihatkan dua lembar benda paling menarik baginya di dunia ini, yang dengan segera menghidupkan mimik wajahnya, sulit dijelaskan.

"Bagaimana? Kamu mau pergi denganku?" aku tahu dia tidak bisa menolak untuk yang satu ini.

Rukia tak memberi jawaban.

Antara bimbang, curiga, dan mau.

Cepat-cepat kuperjelas, " ...aku membelinya tiga hari yang lalu. Mengganti milikmu yang dulu kamu berikan pada Senna. Yah, kupikir yang ini sebagai permintaan maaf dari Senna dan ..."

Masih tak ada respon darinya. Malah dia memandangku dengan enggan, aku tahu dia akan menolak, meski sangat ingin.

"Kita..pergi..," tambahku, "…sebagai…saudara."

Sesaat kemudian Rukia tersenyum simpul, "kenapa harus menolak untuk pergi ke Chappy Giant World Arena? Segalanya untuk Chappy."

_.

_.

_.

Setelah berputar-putar tak tentu arah di hampir seluruh penjuru Chappy Land yang cukup membuat kaki selembek agar-agar kadaluarsa, akhirnya kami berhenti di sebuah café yang dulu kudatangi bersama Senna.

Perasaanku saja atau apa? Tempat ini jauh lebih tampak hidup dari sebelumnya.

Kesannya lebih ceria daripada sebelumnya, atau hanya karena orang yang duduk di depanku saat ini tak henti-hentinya tersenyum dan terkekeh saat mata indahnya menangkap kelinci-chappy yang berkeliaran di dekat situ. Memaksaku untuk ikut dalam alunan tawa memikatnya.

"Pacarmu…Kaien, tidak pernah mengajakmu ke sini?" ups! Harusnya tidak kutanyakan itu. Saat ini hanya aku dan Rukia 'kan, sebagai saudara yang mencoba bersenang-senang?

Toh, aku juga sudah tahu jawabannya.

Kini, matanya lepas dari kelinci di luar jendela café dan mengarah menatapku. Menatapkau heran. Tawanya lenyap. Hanya diam.

"Tidak perlu dijawab," ujarku, tertawa kecil, menghindar dari tatapannya. Mencoba memancing senyumnya, mengembalikan suasana.

"Maaf menunggu. Ini pesanan Anda!" tiba-tiba saja pelayan datang ke meja kami, mengantar pesanan kami beberapa menit yang lalu. Tapi aku kenal orang ini...

"Senpai?" sapaku ragu-ragu pada pengantar pesanan berambut biru urakan itu.

"Woh! Jeruk!" sapanya balik, "dan...oh, siswi pindahan. Ap-apa kabar?" tanyanya begitu menyadari Rukia ada di situ juga melihatnya keheranan.

"Hai! Aku baik. Sedang apa kau di sini, Grimm-kun?" hm, aku masih tidak senang Rukia memanggilnya begitu. Tapi cukup lega senyumnya kembali.

"Heh! Apa lagi..," ujarnya bergaya, memikul baki yang dibawanya di pundak, "Chappy Land terkutuk ini milik ayahku. Jadi aku bekerja sampingan di sini, pada ayahku secara teknis, selama aku tidak ada kerjaan di rumah atau mungkin selama ibuku sedang bosan melihatku. Hehe."

"Chappy Giant World Arena, Grimm-kun," koreksi Rukia segera.

"Yah sama saja," kataku dan Grimmjow bersamaan.

Daripada Grimmjow kupikir Rukia akan lebih bahagia jika di posisinya.

"Ah, baiklah. Kalian berdua kencanlah. Aku sedang sibuk. Daa!" ujar si rambut biru itu sambil lalu, kemudian pergi.

Beberapa menit dalam keadaan kembali hening yang tidak nyaman di antara kami berdua, Rukia akhirnya membuat sedikit keributan. Kurasa suasana hatinya kembali mencair dengan obrolan Grimmjow tadi.

"Kaien…," ujarnya pelan, setelah menelan spagetinya, "hmm..dia tidak tahu kesukaanku akan chappy. Aku tidak memberitahunya. Hehe … akan sangat memalukan."

"Jadi kamu tidak malu padaku?" tanyaku main-main, setelah beberapa saat.

"Untuk apa malu padamu. Kurasa kamu sudah tahu segalanya sejak kita serumah, bahkan satu sekolah," jawabnya sambil tersenyum padaku, terkekeh pelan.

"…tapi tidak dengan masa lalumu..," aku tidak bisa menahan untuk tidak mengatakannya. Meski pelan. Kumainkan spagetiku dengan malas, menghindar menatap wajahnya yang aku yakin tak lagi tersenyum.

Aku membuat runyam suasana yang kubuat senyaman mungkin. Bodoh.

Tak ada yang bicara lagi, tapi aku tidak menyesal mengatakannya.

Tidak ada hak untuk melangkah lebih jauh dalam hatinya, aku tahu itu, berkali-kali kuperingatkan diriku.

"Ichigo..," suaranya begitu pelan menyebut namaku yang duduk dan bermain dengan sisa spageti dalam piringku, "soal waktu itu aku minta maaf."

"Aku tidak bermaksud berkata seperti itu padamu," aku tidak memberi tanggapan apapun.

Hari makin gelap, langit itu mulai menghamburkan saljunya lagi padahal yang kutahu ini awal musim semi.

Hening lama yang memuakan, membuat sesak.

Aku tahu Rukia ragu untuk membuyarkan kepenatan antara kami. Bahkan aku pun enggan memberi tanggapan, tepatnya, tidak tahu.

"Sudahlah, Rukia. Kurasa kita harus pulang," ujarku sambil lalu menggeser kursiku ke belakang, hendak beranjak berdiri dan menuju kasir.

Tapi, "…tidak ada yang terjadi malam itu, aku hanya asal bicara. Benar-benar tidak ada, dulu aku dan Kaien-" ujar Rukia tiba-tiba, masih terduduk dan tertunduk seakan tenggelam dalam kursi tempat ia duduk.

"Sudahlah. Tidak ada yang perlu kamu jelaskan. Bukan urusanku juga 'kan?" aku hanya merasa Rukia berhak melakukan apapun yang dia mau, tanpa harus...harus menjelaskannya padaku, tanpa perlu aku tahu.

Sekejap ia menengadah, menatapku penuh tanya, terkejut? Entahlah, aku tidak tahu ekpresi apa itu. Kemudian membuang mukanya perlahan, menatap jauh menembus jendela kaca di sampingnya, "...baiklah. Kamu benar. Tidak ada yang perlu kukatakan."

_.

_.

Rukia berjalan mendahuliku.

Sebisa mungkin menjaga jarak dariku.

Menghindar berbicara lebih banyak denganku.

Aku bisa saja mengejarnya, tapi kubiarkan. Meski aku tahu berlama-lama berjalan menyusuri trotoar ini pasti membuat kami ketinggalan bus terakhir, dan terpaksa harus naik kereta tengah malam.

Kulihat Rukia akhirnya mengehentikan langkahnya di halte bus yang biasanya. Dia duduk di situ dalam diam, kurasa dia belum sadar tidak akan ada lagi bus yang lewat.

Kuhampiri dia dalam diam, hanya berdiri di samping tempatnya duduk.

Rukia masih tertunduk, dengan ekpresi dingin seperti dulu.

"Sedang apa lagi di sini?" tanyaku, asal.

Rukia masih diam.

"Bus terakhir sudah lewat satu jam yang lalu." Akhirnya kuberi tahu informasinya.

Dia masih tetap diam.

Oh, aku benci saat-saat Rukia seperti ini. Baru saja tadi dia terkekeh tak karuan, ada apa lagi sekarang?

"Hey!" panggilku, memaksanya merespon.

Tidak peduli denganku yang ada di situ, Rukia bangkit dari duduknya, melangkah pergi meninggalkanku tanpa kata. Kuraih bahunya, menariknya kembali ke posisinya.

"Kamu kenapa lagi, Rukia?" aku benar-benar tidak bisa untuk tidak menaikkan suaraku ke tangga nada yang lebih tinggi.

Mimiknya, menunjukkan dia geram.

"Apa lagi, Ichigo?", suaranya tak kalah lantang, "kamu sungguh membuatku muak. Aku bingung denganmu!"

Ha? Dialah yang membingungkan.

"APA?" tanyaku heran, "justru kamu yang membuatku bingung setengah gila! Ada apa denganmu sebenarnya, hah?"

"Ada apa denganku? Heh, perlukah kamu tahu? Bukan urusanmu 'kan?" ucapnya dengan sinis. Kemudian membalikkan badannya untuk pergi.

"Rukia!"

Rukia menghentikan langkahnya mendadak, memutar kembali tubuhnya, yang aku yakin sudah sangat kedinginan dalam uraian salju yang bertebaran bersama angin malam.

"Apa maumu sebenarnya, Ichigo? Sesaat kamu ingin tahu segalanya tentangku, kehidupanku, masalahku, bahkan masa laluku, mencampuri semuanya seolah aku maiananmu. Sesaat kemudian, apa? Sikapmu lebih brengsek dari manusia bejat manapun di dunia ini," semburnya serampangan. Terengah-engah di tengah emosinya.

Aku..., "Ru-"

"Brengsek!" menyeka matanya, mengusir butir-butir salju yang menyentuh kulit pucatnya.

"Aku hanya tidak mengerti denganmu! Kamu selalu berubah-ubah, terkadang dingin, lalu ceria, dan tiba-tiba marah padaku. Aku bingung. Kenapa se-?" aku juga frustasi dengan keadaan ini.

"Kamu masih bertanya?," tanyanya lirih, menatapku nanar. Kemudian berganti dengan yang lebih keras, "kamu yang kenapa, Ichigo? Jangan buat aku seperti mainan, pilih salah satu. Tetapkan aku ini musuhmu, temanmu, saudaramu, atau hanya orang asing dalam keluargamu yang sangat mengganggu! Kumohon jangan buat aku tersiksa karena pendirianmu yang goyah!"

"Kumohon jangan paksakan kalau kamu memang tidak peduli padaku. Jangan paksakan kalau kamu memang tidak ingin tahu tentangku. Kumohon, Ichigo, jangan bersikap setengah-setengah, saat ini kamu ingin mengenalku, lalu esoknya bersikap seolah semua tentangku tidak penting untukmu, kemudian mulai lagi berusaha mengetahui segalanya pada diriku," mohonnya pelan, menatapku dengan berani, bisa kulihat itu dari matanya.

Aku tidak sanggup menatapnya. Sungguh, tidak sanggup.

"Aku tahu…sejak awal, kamu tidak suka kehadiranku dalam keluargamu, aku tahu itu, aku mengerti. Tapi…bukan begini caranya untuk mengusirku. Cukup katakan dengan lantang padaku bahwa kamu ingin aku enyah dari kehidupanmu, tidak perlu menahanku saat itu, lalu bertindak seolah kamu peduli, ingin mengenalku, bahkan jatuh cinta padaku yang pada akhirnya kamu bosan, berpikir lagi aku bukan urusanm," ujarnya makin lirih, "cukup katakan saja, dan…, tentu, aku akan pergi. Pasti."

Kudengar derap langkahnya pergi meninggalkanku yang terpaku di situ mendengar semua keluhnya selama ini.

Aku telah salah, benar-benar salah.

Aku tidak sadar sikapku justru menyakitinya.

Saat ini, mungkin aku tidak butuh balasan perasaan yang sama darinya, yang kubutuhkan adalah dimaafkan.

_.

_.

Sial!

Rukia mungkin kecil tapi kecepatannya bergerak benar-benar melampaui standar atletik olimpiade.

Aku mengejarnya, tidak kutemukan dia di sepanjang jalan hingga stasiun.

Bahkan keberadaannya tidak kurasakan dalam gerombolan lalu-lalang manusia yang menaiki kereta.

Kereta itu, kereta terakhir hari ini.

Di mana?

Di mana Rukia?

Di ma-?

Sosoknya tertanggap oleh mataku, berdiri berpegangan pada salah satu tiang penyangga kabin kereta, berbalik menatap peron di sisi lain kereta.

Menerobos masuk pintu kereta yang nyaris tertutup, berdesakkan dengan penumpang lain.

Jarang sekali, kereta tengah malam begini penuh sesak.

Aku tidak peduli gerutu orang lain yang kutabrak.

Kuraih bahu Rukia, melingkarkan tanganku di depan dadanya, merengkuhnya erat dari belakang.

Napasku benar-benar sesak, entah karena berlari tadi, atau karena aku tidak siap ditolaknya.

Sebelum itu terjadi, kukatakan padanya, pelan. Kata yang tidak pernah kukatakan sebelum ini padanya...

"Maaf..."

Aku tidak tahu bagaimana reaksi Rukia saat itu, kutenggelamkan wajahku di tengkuknya, memohon dengan sangat dalam hati agar...permintaanku dikabulkan, agar...aku tidak mengucapkan kata itu lagi.

Kurasakan genggamannya di lenganku yang sedang mengikatnya. Rukia memegang erat, menarik kuat-kuat lengan pakaianku, seolah bertahan dari sesuatu.

Lalu kudengar pengakuan itu, "...aishiteru yo.."

End of – Chap SEVEN


Beginilah kejenuhan pada akhirnya…

Mengerjakan sesuatu yang tidak terlalu penting pada saat genting.

Ah, tapi kalian, para pembaca, suka tidak dengan hasil penghianatan otakku ini?

TERIMA KASIH buat:

aya-na rifa'i(bagaimana? Aku update 'kan?); sava kaladze(semoga hatimu yang teriris sudah sembuh); Azalea Yukiko(aku update nih, dek); master of bankai(Makasih! Hihihi); Yanz Namiyukimi-chan(ya kayak gini nasibnya); Zie-raInc0ol(maap tidak bisa update cepat meski kau bunuh aku sekalipun); bl3achtou4ro(yah, begitulah); Arlheaa(knp ya?); Ruki Yagami(makasiiii…!); So-chand cii Mio imutZ(OH! Aku sdh tau kepanjangan ASAP); girlinlightblue(benarkah?); aRaRaNcHa(ini update. Maap ya lama); Hinazuka Airin(map tidak bisa update kilat); Fun-Ny Chan(Terima kasih banyaaakk); Nuk4rcHAn(kamu generasi alay kah?); Kara(makasi ya); anonymous Reader(iya iya, ini update); dorami fil(banyak2 terima kasih untukmu, dorami-chan); yuuna hihara(Ok!).