Disclaimer: Bleach?

Hanya milik Tite Kubo!


Chapter 8: List of Complication of Complicated Things


"Kenapa Ayah tidak melakukan sesuatu?" ujarku geram pada dokter di hadapannku ini, yang terkesan biasa saja kalau seorang anak perempuannya dibawa oleh kawanan aneh berjas hitam sesaat setelah upacara kelulusannya.

"Hmm?" aakhh! Lihat tampangnya! Sungguh biasa-biasa saja, sambil melahap ramennya yang masih hangat.

Sial!

"Rukia, Ayah. RUKIA!"

"Ah, tidak perlu khawatir, Ichigo. Dia dijemput beberapa orang dari keluarga Shiba untuk mengepas pakaian yang akan dikenakannya," jelas ayah santai. Tapi aku tidak.

Rukia menghilang dari jarak pandangku setelah terakhir kali aku melihatnya berfoto ria dengan teman-teman seangkatannya.

Aku mencarinya. Mencarinya ke setiap sudut sekolah saat itu, dan tiba-tiba saja kulihat Rukia dirangkul beberapa orang berjas hitam, masuk ke sebuah mobil keren nan mentereng. Kulihat dia menunduk saat orang-orang itu mempersilakan dirinya masuk mobil.

Apa-apaan ini?

Ayah tidak khawatir sedikit pun. Padahal biasanya, Rukia hilang dalam rumah saja, orang tua ini pasti mendadak kurang waras, tapi kenapa kali ini…

Oh, ya ampun, tolonglah …

Apapun yang terjadi dengannya…

.

.

- Flashback -

Pernyaataan gila yang terlempar dari bibirnya kini memaksanya untuk berhadapan dengan sesuatu yang sinting.

Tidak seharusnya gadis mungil itu mengatakannya, dia sadar dan yakin Ichigo tidak tuli –meski kadang pura-pura tuli-, selirih apapun suara merdunya, Ichigo tetap mendengarnya.

'Aishiteru yo…,' kalimat gila, rutuk Rukia dalam hati.

Menyesal? Ya! YA!

Karena kini, di sini, Ichigo menatapnya dengan serius, tanpa satu kedipan mata pun.

"Hentikan," kata Rukia tenang, tegas, dan ketus. Ia sadar percuma membentak, menjerit, memekik pada lelaki di hadapannya saat ini, pria bodoh itu tidak akan bergeming.

"Apaya?" tanya anak jeruk itu pura-pura tolol.

"Tatapanmu itu, bodoh!" tegas dan memaksa, tapi percuma, Ichigo tetap melihatnya tanpa kedip.

Mau apa lagi? Rukia terpaksa membalas melototi yang-lebih-dari-saudara angkatnya itu.

Cukup lama, hingga…oh, ayolah…kornea mata mana yang tahan tidak dibasahi selama bermenit-menit.

"Uughh! Apa maumu, bocah?" tanya Rukia akhirnya, frustasi, mulai kehilangan kesabaran. Bagaimana tidak? Ichigo tetap menatapnya tanpa berkata apapun, tanpa melepas kurungannya pada gadis yang kini hanya bisa bersandar di pinggiran bak cuci piring.

"Dimaafkan," ujar Ichigo akhirnya, masih dengan tatapan serius.

"Kamu sudah mendapatkannya tadi," berusaha beranjak dari tempatnya kini, namun gagal, lelaki ini masih ngotot rupanya. Ada yang belum selesai.

"Kalau begitu, aku ingin dengar," Ichigo memaksa.

"Dengar? Dengar apa?"

"Tentang hidupmu,"

"Tidak perlu. Bukan urusanmu,"

"Sekarang jadi urusanku karena aku ingin dimaafkan,"

"Sudahlah-"

"Rukia…," kini Ichigo benar-benar memohon.

Rukia membalas pandangannya, menatapnya lekat-lekat, seolah …mencari keseriusan yang sungguh-sungguh dari Ichigo. Anak bodoh nan ngotot!

Rukia akhirnya menunduk, berharap dirinya diselubungi bata tebal ketika harus mengakui masa lalunya di hadapan Ichigo. Kemudian menghembuskan napas berat ke udara…dan…

"Aku…tidak pernah berada di panti asuhan tempat Ayah menjemputku sebelum mengajakku ke Karakura."

Ichigo terbelalak.

Tidak ada yang keluar dari mulutnya. Kali ini, ia tak ingin merusak suasana dengan komentarnya yang terkadang tidak cocok dengan keadaan. Dia menanti Rukia untuk melanjutkannya.

"Panti asuhan itu…aku melarikan diri dari sana sejak usiaku 9 tahun. Mereka tidak sungguh-sungguh menggarap sebuah panti asuhan untuk anak-anak terbuang seperti kami, aku dan Ashido."

Jadi, selama ini, itu kah alasan Rukia selalu terlihat dekat dengan Ashido Kano?

"Ashido diadopsi 1 tahun sebelumnya, untungnya. Karena kamu tahu, Ichigo, tempat itu hanya kamuflase untuk perdagangan manusia," Rukia mengangkat wajahnya, sedikit berani menatap Ichigo yang kini mengajaknya untuk duduk di lantai dapur, bersandar pada lemari es.

"Setiap bulan ada saja yang dari kami yang menghilang dan tidak pernah kulihat lagi. Tapi ketika ada keluarga yang ingin mengadopsi dengan cara yang normal, maka panti asuhan itu akan melaksanakannya. Seperti yang kubilang, kamuflase, penyamaran. Hingga suatu hari aku benar-benar takut jika hal yang sama menimpaku. Aku ...melarikan diri dari sana," Rukia berhenti. Memilin ujung pakaian yang digunakannya, ragu untuk meneruskan kisahnya.

"…enam tahun hidupku benar-benar tidak menentu. Aku tidak punya tempat tinggal tetap, yah…bisa dibilang anak jalanan…," kemudian Rukia tersenyum, tawa garingnya itu benar-benar membuat Ichigo menatapnya tak habis pikir.

"Tidak banyak yang kuharapkan saat itu…," ungkapnya.

"Sampai…Kaien, bocah kaya raya, bertemu denganku. Dia mengajakku tinggal di kediaman Shiba. Kupikir, kenapa tidak, dia bukan orang jahat, aku menyetujuinya.

Aku tidak tahu kalau sebenarnya Kaien, tanpa sepengatuhuan keluarganya, terlibat bisnis semacam…perdagangan manusia."

"Belakangan, aku tidak sengaja mengetahuinya. Lagi, aku berusaha lari. Lari dari kebaikannya…lari dari perasaanku sendiri yang tanpa kusadari ...aku mulai menyukainya. Bahkan...saat ini, kurasa aku masih menyukainya,...sedikit."

Cemburu? Ya.

Ichigo mungkin saat itu dia merasa sedikit tersaingi, tahu bahwa seseorang yang disayanginya lebih dari teman ini ternyata menyukai orang lain.

Membuatnya frustasi dalam dunia kecilnya, bertanya hal-hal konyol yang dipaksakan untuk menjadi sebuah opini pribadi yang masuk akal.

"...dia tidak melepaskanku begitu saja. Hingga aku tahu bahwa seseorang datang ke panti asuhan itu, menanyakan diriku, berniat membawaku bersamanya. Ya…itu ayahmu, Ichigo."

Ichigo mengerti, diselipkan lengannya di bahu Rukia, merangkulnya hingga yang-bukan-kakaknya itu bersandar di pundaknya.

"Aku memohon padanya, Kaien, untuk membiarkanku pergi. Sebenarnya saat itu aku tidak peduli siapa Isshin-san, yang ada di kepalaku saat itu hanya pergi dari sana, ikut bersama orang tua itu, dan kembali mencari jalan untuk pergi dari keluarganya di saat yang tepat. Memiliki hidup sendiri…karena aku tidak akan mempercayai siapapun lagi seumur hidupku."

"Sesaat aku ragu…ketika Isshin-san mengatakan akan menjadikanku anaknya, memasukkanku dalam daftar keluarga besarnya. Entahlah, aku tidak percaya, tidak ingin percaya, sungguh tidak ingin percaya. Tapi di dalam sini, aku merasa tenang, ada sesuatu yang memintaku untuk percaya, sesuatu yang memksaku untuk tidak menutupi kalau aku senang," jelas Rukia sembari memegang dadanya.

Ichigo mengeratkan pelukannya, berharap bisa menguatkan manusia rapuh itu. Ia tetap mendangar, menyadari dari kalimat ke kalimat hentak napas Rukia makin berat. Ia akan runtuh kapan saja.

Sesaat hening, hanya hembus napas mereka berdua yang memenuhi liang telinga, menggetarkan gendangnya.

"Ah…akhirnya. Kurasa, Isshin-san, ayah, tidak pernah berbohong…"

Tawa kecil lolos dari bibirnya, kemudian mengantarkan senyum untuk Ichigo, membuat bocah badung keras kepala itu semakin merasa bersalah pada sikap angkernya selama ini.

"Konyol 'kan?" bisik Rukia nyaris tak terdengar, senyum masam mengembang di bibirnya, menerawang lampu neon langit-langit dapur itu.

Tidak ada tanggapan dari Ichigo. Lebih tepat jika dia tidak punya kalimat sesuai untuk mengisi keheningan dari cerita itu. Ah, bukan sekedar cerita, tapi kenyataan lalu.

Rukia, ia punya lanjutan kisahnya.

Tetapi…dia simpan.

Ichigo tidak perlu tahu sejauh itu, begitu pikirnya.

Ichigo tidak ada hubungannya.

Biarlah begitu saja.

Sisanya ia yang akan tanggung sendiri. Rukia terlalu sayang pada keluarga ini, dan tidak ingin semuanya hancur hanya karena dirinya yang orang asing dan tetap akan menjadi asing.

End Of- Flashback -

.

.

Harus kucari kemana diaaaaaa?

Mungkin jika dihitung dengan benar, langkah kaki bolak-balik macam mesin foto copy-ku ini sudah bisa mengantarku ke Tokyo. Entah berapa lama aku mondar-mandir di balik pintu kaca klinik ini, menunggu Rukia yang tak kunjung memberi signal kepulangannya dengan selamat.

Dan, begitu kubalikkan badan ke luar untuk mengecek kembali untuk kesekian kalinya…setttaaannn!

Selalu saja, dia ini selalu membuatku henti jantung, henti napas, dan menghentikan hidup seketika itu juga. Bagaimana tidak? Rukia, dia berdiri di depan klinik, di bawah neon menyala silau itu, tanpa mengetuk bahkan berinisiatif untuk mendorong pintu kaca itu dan masuk, dia hanya berdiri di situ, diam, dan menatapku tanpa ekspresi berarti. Sial! Aku benar-benar kaget!

"Bisa tidak sih kamu memberi salam? Beri signal? Beri tanda? 'Helloooww'. Jangan hanya berdiri di situ layaknya hantu kelaparan! Kamu berniat membuatku serangan jantung lalu mati muda, ha?" semburku ketika dia akhirnya memutuskan untuk mendorong pintu itu, masuk.

"Bukannya bagus kalau mati muda? Masih tampan," pikirnya aku tidak dengar dia bergumam begitu, sembarangan saja dia ini kalau bicara.

Rukia, wajahnya pucat, lebih pucat dari biasanya. Tampak acak-acakan, tak karuan. Masih dengan seragam sekolah yang dikenakannya terakhir hari ini, Rukia melewatiku begitu saja, menghempaskan diri di kursi empuk di ruang tunggu klinik, masih di ruang yang sama.

Rukia, kenapa dengannya?

Dengan sebelah lengan yang menutupi kedua matanya, dia melambai padaku, tersenyum sendu. Segera saja kuhampiri, menjatuhkan diri di sampingnya tanpa banyak bicara.

Rukia, terjadi sesuatukah?

Aku tidak tahu harus berucap apa, berbuat apa, ketika Rukia tiba-tiba memelukku, membenamkan kepalanya di pertautan leher dan bahuku.

Tangannya dingin, tangan yang menyentuhku itu begitu dingin, lembab, dan pucat.

Aku menggapainya, mencoba untuk menghangatkannya, tidak, tapi menenangkannya. Kurasa.

Lalu, Rukia bergumam, "…biar kuselesaikan. Maafkan aku."

Apa? Apa maksudnya?

"Selesaikan apa, Rukia?" tanyaku khawatir, entah kenapa.

Senyum, Rukia beranjak dari peraduan kami, berjalan pelan namun tak sanggup ku kejar, meninggalkanku terduduk di situ dengan ratusan tanda tanya.

_.

_.

Entah berapa jam setelah itu, aku terbangun dalam kamarku. Gelap.

Ponselku berdering.

Ketukan maut di pintu kamarku, keduanya membuatku sakit kepala.

"Ichi-nii! Ichi-nii! Mau ikut tidak? Ichi-nii!" Karin, dari suaranya bisa kutebak, dia sudah kehilangan 57% kesabarannya hanya dengan membombardir pintu itu dengan ketukannya, dan entah berapa lama dia memanggilku tanpa ada jawaban.

Kuraih ponselku, membukanya tanpa melihat siapa penelepon yang juga tak sabaran di seberang sana, sembari berdiri dari tempat tidur, dan membuka pintu kamarku sebelum menjadi serpihan serbuk gergaji.

"Halo?" ujarku asal, saat bersamaan membuka pintu, mendapati Karin yang ...apa itu? Rapi sekali pakaiannya.

"Ah! Onii-chan! Kenapa belum datang? Ayah dan aku sudah di tempat acara, menunggu Karin dan Onii-chan. Cepatlah!" suara Yuzu, terdengar buru-buru, di tempat ramai.

"Ichi-nii, berniat pergi atau tidak? Ruki-nee sudah di sana bersama Ayah dan Yuzu. Aku mau ke sana daripada Ayah meraung karena aku kurang berminat," celoteh Karin sambil berkacak pinggang dangan gaya angkuh khasnya, memandangku penuh tuntutan daripada ajakan.

Bingung.

"Tempat? Acara? Memangnya ada apa?" maaf, aku masih setengah pusing, sakit kepala, dan mengantuk, aku ketiduran tadi.

"Heeee?" pekik Yuzu di telepon, kaget rupanya, kakaknya ini seolah linglung.

Tapi ekspresi yang biasa saja kudapati dari Karin yang ada di hadapannku ini, "Ayolah, Ichi-nii. Tololnya ditunda dulu!" Duh, mulutnya, dari mana anak ini belajar?

"Ruki-nee malam ini akan bertunangan dengan pria aneh itu," jelas Karin bersamaan dengan Yuzu, "Nee-chan sekarang ini akan bertunangan!" jelas keduanya.

"APA?" pekikku seketika kepada dua adikku di tempat yang berbeda.

"Di-di-di mana?" lekas kuputuskan sambungan telepon dengan Yuzu, kemudian mengguncangkan Karin tanpa ampun.

"Aduh, Ichi-nii! Bergeraklah sekarang! Cepat!" perintah Karin padaku yang bingung. Seolah baru ditampar dengan pemukul kasur, dilempar anak gajah seberat dua ton, aku bergegas menuruni tangga, sekencang mungkin mencapai tempat terkutuk itu.

Aku tidak khawatir terlambat ikut pembukaan acaranya.

Aku tidak takut dimarahi karena tidak ikut acara penting keluarga.

Bukan, bukan untuk kepentingan seperti itu aku bergerak macam orang sinting seperti saat ini.

Rukia, aku tidak ingin dia kembali pada masa lalunya. Aku tidak mau dia tinggalkan aku untuk acara tidak penting apalagi dengan cara konyol seperti ini.

"Kenapa tidak bilang padaku dari tadi, Karin?" tanyaku sembarangan, masih panik, sangat panik. Panik!

"Ichi-nii!" panggilnya. Spontan aku berbalik, dan hinggaplah sebuah jas hitam di kepalaku.

"Pakai itu! Setidaknya jangan permalukan aku di sana hanya karena tuduhan tidak bisa memberi sedikit sentuhan mode pada seorang kakak," wow, ucapan seperti itu jarang kudengar dari seorang Karin.

Ya, harus kuakui, aku pasti akan memalukan keluargaku –atau diusir satpam- jika datang ke sana hanya dengan celana jins dan kaos oblong. Kupakai jas itu, bergegas keluar rumah, diikuti Karin.

Akh! Aku bingung, panik.

"Karin! Tempatnya di mana?" tanyaku keras-keras.

"Karakura Grand Hotel' Hall," jawabnya dengan nada yang terdengar santai? Biasa saja?

"Apa? Akh! Bagaimana caranya ke sana? Tidak akan sempat kalau jalan kaki, lari…akh!" frustasi. Tempat itu memang tidak jauh, tapi dalam keadaan darurat begini, berjalan, berlari dengan seorang adik perempuan tidak akan sempat. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri di sini.

Mereka akan memulai acaranya. Si Kein brengsek itu akan memulai acaranya.

Ayah atau Yuzu tidak tahu apapun. Menelepon, meminta mereka menghentikannya pun percuma.

"Rukia bodoh!"

Kuputuskan, "Karin, kamu tunggu di sini," aku sudah bersiap akan berlari ke Karakura Grand Hotel. Terkadang adik harus di kesampingkan dulu 'kan?

"Untuk apa? Naik ini saja, kita berdua bisa sampai bersamaan. Aku tidak mau ketinggalan peristiwa penting yang akan Ichi-nii lakukan," ujarnya tiba-tiba.

Di sana, Karin memegang sebuah sepeda.

"Apa maksudmu dengan yang akan kulakukan?" tanyaku heran.

Karin mengangkat bahunya, tampang sombongnya itu, "Aku tidak buta seperti Ayah atau Yuzu."

"Karin…," semudah itukah dia membacanya?

"Cepatlah, Ichi-nii!" dan segera kuraih sepeda itu

Karin menyusul,berdiri pada pijakan kaki di belakangku.

"Pegangan, Karin," adikku itu menurut, bersemangat dengan sesuatu yang memacu adrenalin seperti ini. Dasar!

Sepeda lama itu melesat di jalanan Karakura seperti jalan serta trotoarnya itu adalah milik klan Kurosaki. Tiga kali melesat menerobos lampu merah, dua kali mendaki trotoar padat pejalan kaki, dan dua kali mendahului dua sedan BMW.

Aku tidak tahu apa yang merasukiku. Kukayuh sepeda butut itu tanpa keluhan seperti biasanya. Napasku sesak, sesak hingga sakit kepalaku ini benar-benar akan membunuhku jika aku tidak dalam keadaan seperti ini.

"Banzaii..," desis Karin di belakangku.

Tidak lama kemudian, kumasuki area parkir Karakura Grand Hotel, melaju hingga pintu depan lobi. Berhenti di situ, Karin meloncat turun.

Kuhempaskan begitu saja sepeda itu, kemudian berlari menuju Hall. Beberapa petugas memanggilku, masalah sepeda atau masuk tanpa sopan, apalah, aku sedang tidak ingin peduli. Kuabaikan.

"Ichi-nii, lewat sini!" kuikuti komando Karin menuju pintu besar Hall itu.

Kudapati ruangan menyilaukan dengan segala kemegahan ada di sana. Entah berapa ratus orang yang menjadi undangan.

Oh, acara apa ini? Haruskah semeriah ini?

Jika tidak salah lihat, di barisan depan sana kulihat Ayah dan Yuzu. Bertepuk tangan dengan senyum bahagia.

Dan di atas panggung megah itu, berdirilah Rukia dan si brengsek itu.

Karin menghilang dari pantauanku, biarkan saja, dia terlalu licik untuk disakiti siapapun.

Aku menyeruak di antara para tamu, berusaha mencapai garis depan, dan menyeret Rukia pulang.

Tapi saat itulah seseorang di panggung sana berbicara di mikrofon, "Terima kasih telah hadir di acara membahagiakan ini. Sepertinya pasangan ini sudah tidak sabar untuk menjadi tunangan, kita mulai saja pertukaran cincinnya, silakan, Tuan muda Shiba."

Tepuk tangan meriah mengiringi prosesi konyol itu. Bahkan Ayah terlihat senang sekali.

O'o! Ini buruk.

Sial!

Sadarlah Ayah, Rukia memasuki kandang macaaann~!

Aku, dengan serampangan, naik panggung itu dari tempat yang seharusnya untuk naik.

"Ichigo!" panggil Ayah. Tidak kuhiraukan.

"Onii-chan! Apa yang kau lakukan? Onii-chan!" pekik Yuzu bingung. Kuabaikan.

Hampir saja aku mencapai tengah panggung, tempat dua orang itu berdiri, siap menghantam dua bodyguard Shiba yang kini menghalangi jalanku, tapi di sana seorang wanita, cantik, anggun dengan balutan busananya, berambut hitam menyeruak lebih dulu.

"Kau gila, Kaien," ujar wanita itu, kalau aku tidak salah dengar. Di sini ribut sekali, plus dua bodyguard ini …ribet banget!

"Miyako…," oh, jadi namanya Miyako. Cantik sekali…

Kulihat Rukia hanya terpaku di sana, menatap Miyako itu. Berusaha tetap tegar. Percayalah, dari yang kulihat dia bisa rubuh kapan saja.

"Miyako, kau datang...ah, syukurlah," Kaien mendekat pada wanita itu, si Miyako.

Situasi jadi ricuh, semua undangan yang ada di situ bergumam seperti lebah penuh tanya, saling berpandangan layaknya orang linglung.

"Jadi ini mainan barumu?" mainan? Rukia? Ada apa ini sebenarnya? Kenapa aku yang selalu bertanya-tanya? Sial!

"Cukup, Kaien! Hentikan semua ini. Tidak cukupkah kau lakukan ini padaku saja? Jangan libatkan gadis itu," pinta Miyako tegas.

Sekuat, sekeras apapun wanita berusaha tegar, berusaha terlihat tegas, berusaha untuk tidak terlihat lemah, menurutku sebagai laki-laki, usaha mereka sia-sia.

Miyako, lihat saja, dari matanya aku tahu dia sudah tidak sanggup untuk mengontrol rangsangan motorik yang memaksa sekujur tubuhnya untuk gemetar. Dari matanya, sedikit saja sentuhan dan air matanya akan mengguyur wajah cantik nan anggunnya.

"Ayolah, Miyako. Kalau tidak dengan cara seperti ini, kau tidak akan muncul di hadapanku saat ini," elak Kaien tidak peduli.

Oh, ada apa sebenarnya? Aku hanya bisa berdiri, terjepit, di antara dua bodyguard super-duper-bigger-angker ini, sesenti saja mereka bergeser saling mendekat satu sama lain, maka remuklah semua igaku berikut paru-paruku.

"Inikah caramu untu-,"

"Ya! Ya, Miyako! Hanya ini caraku untuk membuatmu menampakkan diri, kembali menemuiku. Hanya ini caraku untuk membuat kesempatan untukku minta maaf padamu. Dengan menyeret Rukia kesayanganmu dalam urusan kita. Hanya ini caraku, Miyako," Kaien, tampaknya mulai kehilangan kesabaran. Heh, sudah kuduga dia tidak sesabar kelihatannya.

"Aku hanya ingin menggunakannya untuk membuatmu kembali. Aku tidak tahu harus mencarimu di mana lagi. Aku putus asa, Miyako..."

Miyako hanya terdiam ketika Kaien menunjuk Rukia yang seolah tidak percaya bahwa Miyako berada di hadapannya.

"Rukia...," kata Miyako.

Kurasa, yah hanya merasa, Rukia kenal Miyako, Miyako kenal Rukia, dan mereka punya kedekatan yang ...entahlah, sangat dekat?

"Dengar, Miyako. Percayalah padaku, aku tidak punya niat buruk pada Rukia. Aku memang memaksanya untuk melakukan ini semua. Aku memang mengancamnya...," Kaien jelas sekali ingin memperjelas semuanya. Tapi tampaknya Miyako tidak ingin dengar. Begitu pula aku, yang kuinginkan hanya menghajarnya hingga semua giginya rontok, hingga dia botak mendadak, hingga dia...ugh!

"….mengancamnya dengan semua hutang budinya padaku, dan pada Tuan Kurosaki."

Apa?

"CUKUP!" pekik Rukia tiba-tiba.

"Jangan katakan itu. Kau sudah berjanji padaku, Kaien. Untuk tidak mengungkapkan hal itu."

Tidak!

Lanjutkan Kaien. Setelah sekian banyak kalimatnya tidak kusukai, baru detik ini aku menyetujuinya utuk melanjutkannya.

"Tidak, Rukia. Sudah sampai di sini. Aku harus mengungkapkannya. Agar semua tahu kebenarannya. Agar...aku dimaafkan Miyako," tidak pernah kulihat pria itu memelas tak karuan di hadapan seseorang. Dia yang selalu tersenyum seolah bumi ini milik klan Shiba pemilik segala yang tak bisa dimiliki, kini tertunduk memohon pada seorang perempuan, Miyako.

"Miyako," ia memulai, mendekat pada Miyako yang menjauh, "aku tahu...Rukia yang kau anggap satu-satunya keluargamu di dunia ini, kugunakan sebagai umpan, mainan, hanya untuk kepentinganku. Aku tahu kau pasti akan lebih marah karena aku mencampuri kehidupan Rukia yang baru. Tapi...kumohon mengertilah...aku hanya ingin dimaafkan...," perlahan dia, Kaien, berlutut dihadapan Miyako yang tidak lagi sanggup mengekang air matanya, terisak di sana.

Rukia.

Menunduk dalam-dalam.

"...kumohon, maafkan aku...," kurasa inilah saatnya seorang begitu berharap, "...Miyako..kumohon cintailah aku lagi..."

Aku bahkan tidak menyadari kalau kedua bodyguard itu telah melepaskanku dari pelukan maut nan mesra mereka. Yang kulakukan hanya menatap tanpa percaya apa yang terjadi di hadapanku, tanpa percaya kalimat yang kudengar, tanpa percaya bahwa sesungguhnya aku tak mengerti satupun topik yang mereka bicarakan.

Aku bahkan tidak menyadari kalau semua manusia, para undangan kongalomerat itu mulai ribut, sibuk dengan sesama mereka yang juga tidak mengerti –atau mengerti- yang terjadi saat ini.

Ukitake-san dan istrinya, kulihat, mereka berdua orang tua bingung yang makin bingung, sama seperti ayah yang ada di dekat situ.

"Miyako-chan...," kata Rukia pelan, namun sanggup membuyarkan atmosfer berat di atas Hall ini.

"…aku sama sekali tidak keberatan bahwa aku hanya alat. Alat agar Kaien bertemu denganmu, hanya alat yang sama sekali tidak ada artinya setelah ini. Kumohon jangan membencinya karena hal yang dia lakukan padaku, pada Ashido, dan pada yang lainnya. Kumohon percayalah padanya kali ini. Kumohon jangan menolak perasaanmu lagi hanya karena kau merasa menghianati kami saat itu."

Segera setelah kalimat permohonannya itu, Rukia membungkuk pada Miyako, seolah berharap, benar-benar berharap, Miyako menerima permohonannya. Tersenyum sekilas pada Ukitake-san dan seluruh keluarga Shiba yang ada di situ, lalu berjalan capat ke arah pintu Hall, ia keluar.

_.

_.

Kukejar Rukia.

Seperti biasa, jalan maupun lari, si pendek itu cepat sekali.

Aku hanya mengikuti insting, berjalan cepat, buru-buru untuk menemukannya, mengantisipasi kalau saja Rukia berniat bunuh diri. Ah, pemikiran ekstrim.

Kutapaki trotoar jalanan ramai itu, hingga, kulihat dia terengah-engah di halte bis yang tidak bisa di bilang dekat dengan tempat kami berada tadi.

"Apa lagi, Ichigo?" sergahnya galak, selangkah aku mendekatinya.

Aku sedang tidak ingin cari masalah, atau berdebat hal-hal sepele saat ini.

Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya?

Dia pasti menyembunyikan sesuatu.

Sesuatu yang belum dikatakan.

Aku hanya lekat menatapnya.

"Baiklah," ujarnya kemudian, lebih tenang, setelah napasnya berhembus dengan layak, "…aku memang melakukan semua itu karena hutang."

"Apa-apan, Rukia? Hutang apa? Omong kosong!" mendadak aku merasa alasan itu konyol, bodoh, dan TOLOL.

"Kamu tidak akan mengerti, Ichigo!"

"Ya! Aku tidak mengerti, karena seseorang tidak membuatku mengerti! Karena seseorang mengira dirinya mampu menyelesaikan segalanya sendiri! Karena seseorang menyembunyikan inti dari cerita aneh yang dia ceritakan padaku!" aku tidak bermaksud untuk berteriak pada Rukia. Tapi semua ketidakmengertianku ini sungguh menyebalkan.

"Apa yang bisa kamu mengerti, hah?" suaranya tak kalah keras denganku.

Ini di pinggir jalan. Ya, aku tahu itu. Aku tahu memalukan kalau cek-cok di sini. Tapi peduli apa? Aku butuh penjelasan! Saat ini dan di SINI !

"Mengerti kalau ayahmu mengambilku dari Sapporo dengan hampir seluruh uangnya yang seharusnya hanya untuk keluarganya, anak-anaknya? Mengerti kalau ayahmu merelakan penelitiannya di rumah sakit Karakura harus diklaim sebagai hasil penelitian klan Shiba di Nagasaki? Mengerti kalau aku menolak semua tawaran si brengsek Kaien itu ...," teriaknya lelah, terengah-engah, tidak sanggup melanjutkan.

Aku tidak pernah tahu itu.

"...aku tidak sanggup menolak, Ichigo. Ayahmu…memberi segalanya untuk Shiba, hanya untuk menyanggupi wasiat ibumu, mengambilku kembali, menjadikanku bagian dari keluarganya. Isshin-san memberikan semuanya, Ichigo. Semua."

Rukia merosot lemas di tiang penyangga halte itu. Terduduk tak berdaya lagi untuk membuatnya berdiri.

Semua yang ada pada dirinya tampak lusuh.

Semua yang ada pada dirinya tampak runyam.

Seperti hari ini.

Sakit kepalaku masih terasa membunuh dari dalam.

Aku mendongak ke langit malam musim semi dengan serpihan awan-awan tipis keparat yang menghalangi hamparan hitam yang begitu tinggi.

Kuhembuskan semuanya, seolah menghembuskan seluruh udara dalam paru-paruku, berharap dengan begitu semua kerumitan ini bisa keluar bersamaan dengan partikel CO2 sekaligus uap airnya. Mustahil.

Hembusan angin awal musim semi tak lagi terasa menusuk untukku, untuk kami berdua. Ini terlalu rumit.

Sungguh, tidak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa untuk menjadi bagian dari satu keluarga perlu sejumlah 'harga' yang harus di'bayar' dan kemudian perlu sejumlah 'ikhlas' dan 'pengorbanan' untuk membalasnya.

Membalas semua yang dia terima, itukah alasannya? Membayar hutang budi katanya?

"Aku tidak sanggup melihat kalian hancur."

Tidakkah dia berpikir, kami akan lebih hancur melihatnya seperti ini? Melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan? Melepaskan sesuatu yang menjadi angannya? Kami?

Kami, aku, akan lebih hancur, Rukia.

"Aku tidak mau keluargamu kehilangan semua yang mereka miliki."

Tidakkah dia tahu, dengan tindakan konyolnya itu, kami juga akan kehilangan yang kami miliki? Kehilanganmu?

Kami, aku, akan kehilangan kamu, Rukia.

"Jadi, kulakukan semua itu, menjadi alat agar Miyako-chan kembali pada Kaien, meski aku sudah tidak ingin berurusan dengannya lagi sejak menjadi Kurosaki, meski jika semua ini gagal aku tetap dalam sandiwara buatan itu. Dengan begitu, hidup kalian akan berjalan seperti biasa, seperti saat sebelum …aku datang."

Haruskah seperti itu? Menyelesaikannya dengan caramu sendiri? Menjerumuskan dirimu sendiri untuk pengorbanan yang tidak masuk akal?

Oh, ya Tuhan.

Aku tidak mengira ada manusia seperti itu.

Aku tidak tahu tindakan bodoh apa lagi yang bisa di lakukan gadis 19 tahun di hadapanku ini hanya untuk kepentingan orang lain.

Kutarik Rukia berdiri, memaksa kedua kakinya untuk kembali menopang berat tubuhnya.

Lalu, menghempaskannya dalam dekapanku.

Dia, yang dalam eratnya dakapanku ini, kemudian bergumam, "aku menyadarinya, Ichigo. Sejak awal. Aku tidak akan memiliki apa pun, tidak keluargamu, tidak juga kamu."

"Yuzu akan menangis tak karuan kalau tahu yang sebenarnya," ujarku padanya yang masih memelukku.

"Aku tidak berniat bertemu dengannya setelah malam ini. Tenang saja," apa?

Kulepaskan dia, mencengkram kedua lengannya, "aku berniat pergi, Ichigo. Seperti rencanaku dulu. Aku tidak bisa bertemu ayahmu setelah semua ini."

"Bagaimana denganku? Kamu gila, Rukia," pekikku tanpa peduli beberapa manusia pejalan kaki kurang kerjaan itu melotot, menguping, berdengung, dan mencibir pada kami.

"Kamu akan baik-baik saja," jawabnya pelan.

Oh, tolonglah. Jangan berikan aku senyum itu, Rukia.

"Seenaknya! Aku menyukaimu, lalu kalau kamu pergi-."

"Ssst! Itu juga, diakhiri saja. Aku terlalu tidak tahu diri kalau sampai menyukai anak seseorang yang sudah begitu berjasa padaku."

Aaakhh! Kenapa semua perempuan begitu sulit dimengerti?

Apa semua spesies dengan kromosom XX ini selalu membuat masalah mudah menjadi rumit?

Kuraih tangannya, menggenggamnya erat. Kemudian menyeretnya jalan bersamaku, menuju rumah.

"Cukup omong kosongnya, Rukia! Kita pulang!"

"Ichigo!"

"Apa?" mendadak aku berbalik padanya, menghentikan langkah sesaat.

"Ki-,"

"Kita, KAMU, bahkan belum mencobanya, Rukia. Setelah ini, aku yang akan bicara. Dan KAMU diam saja, turuti aku!" semburku begitu saja. Dia ini, membuat kepalaku lebih sakit.

Tanpa banyak ucap lagi, Rukia, mengikutiku.

Masih kugenggam aman tangannya, erat.

Aku tahu ini aksi nekat.

Aku tahu ayah akan banyak bertanya, mengomel, bahkan mungkin menamparku lagi.

Tapi tidak ada cara lain, mempertahankan Rukia, selain membawa 'semua'nya di hadapan ayah.

Ah, terkadang aku menyesal hanya punya satu orang tua.

End of – Chap EIGHT


Hmm…terkesan dibuat-buat, dan tidak masuk akal 'kan? Maaf, mengecewakan.

Besok UAS dan malam ini saya mengetik fanfiction, benar-benar cari mati.

Ah, ingin rasanya mengundurkan diri dari tempat ^&%# itu. *abaikan.

Tapi, THANKS buat fanfic-freak yang sudah membaca, me-review, bahkan memasukkan fic ini dalam kolom favorite-nya. Sekali lagi TERIMA KASIH banyak~