Disclaimer: Bleach?

Hanya milik Tite Kubo!


This chapter is special for Rukianonymous

I'm sorry 'coz make you intoxication

and Thank you…


Chapter 9: Choice; Sorry or Sorry ?


"Ichigo…"

"Ichigo," celetuknya untuk kesekian juta kali padaku.

"Rukia, kamu tidak punya kata lain untuk diucapkan?" tandasku bosan.

"Ichigo?"

"Hisshh, hentikan memanggil namaku berulang kali seperti itu. Aku makin gugup! Sialan."

Sudah lima menit aku dan Rukia berdiri di depan pintu rumah. Tapi tak jua satu di antara kami yang berani menarik pintu itu membuka.

Rukia yang menyebut namaku tiap 5 langkah menuju rumah, seolah memintaku berbalik, dan mengantarnya ke stasiun terdekat untuk pergi, makin membuatku sakit kepala. Dia ini jagonya membuat orang berkeringat dingin, bahkan ngeri untuk masuk rumah dan bicara pada orangtua sendiri.

Masih kugenggam tangannya. Tak memberi sedetik kesempatan pun untuknya melarikan diri. Rasanya kram melakukan ini sejak tadi. Tanganku, entah tangannya, yang mulai terasa lengket dan tidak nyaman saling pegang, membuatku meregangkannya, membuat celah, setidaknya sejenak.

Tapi dasar pembangkang.

Rukia berusaha meloloskan tangannya, terselip begitu saja dari jemariku.

Ha!

Kuraih kembali sebelum terlambat.

".-ki-a," tandasku ganas, memandang lekat matanya yang seolah tak percaya akan sesuatu.

.

Baiklah.

Ini saatnya.

Untuk apa pikir-pikir lagi. Masuk, dan katakan pada Ayah bahwa kami-

.

Sesaat pintu itu nyaris kubuka, lengan ini menadadak berat.

Lagi, Rukia menghalanginya. Mencengkram erat lenganku, menarik lengan pakaianku, membenamkan jemarinya hingga tersembunyi di balik kerutan kain tak karuan itu.

"Ichigo," sergahnya, tegas, menatapku tak goyah.

.

Tidak satu pun kata yang kulontarkan padanya. Sengaja.

Hanya menatapnya, menunggu apa yang membuatnya kembali ragu? Takut? Resah?

"Ki-, hentikan saja. Kumohon. I- Ini terlalu jauh, Ichigo."

Kuabaikan.

Kembali, kutarik daun pintu itu membuka. Tak banyak.

Memberi ijin cahaya lampu menyelip keluar dari dalam.

.

"ICHIGO!" desaknya untuk mundur makin menjadi.

"Sudah terlanjur jauh, Rukia. Selesaikan saja," rasanya; ingin kuseret dia tanpa adat. Benar-benar membuatku nyaris terbawa arus kegalauannya.

Kebaskan tangannya, yang kuyakini kaku karena dingin, aku juga kedinginan. Mari masuk dan hangatkan diri.

Melangkah maju, menarik pintu itu lebih lebar dari sebelumnya.

Tapi tarikan gadis pendek ini lebih kuat, yah walau sudah terbuka cukup lebar, aku gagal masuk.

Menarikku kembali selangkah menjauhi pintu, mencengkram dua lengan atasku, memaksakan agar aku menatapnya agar dia juga menatapku, tanpa ampun.

"Apa lagi?" desisku makin tak sabar.

Matanya menatapku, tajam.

Napasnya bisa kudengar, terengah-engah, entah efek fisiologis karena kedinginan lalu dia hiperventilasi atau …gadis sok kuat ini juga merasakan degup jantung tak karuan karena dia juga resah sama sepertiku, gugup dan nyaris gila?

Aku tidak tahu yang mana.

Yang jelas, aku tidak bisa bergerak kalau dia memegangku seperti mau mati begini.

"Lepas, Rukia. Ki-," ujarku pelan, berusaha keluar dari tatapan indahnya yang benar-benar membuat siapapun yang menatapnya membeku di tempat.

"Kamu gila, Ichigo!" tandasnya kejam, "hentikan! Kubilang hentikan kekonyolanmu ini!" perintahnya terdengar ganas dan marah. Lihat saja wajahnya.

.

"Memangnya kenapa? Ha?" aku juga tidak mau kalah untuk...terlihat marah?

"Sudah kukatakan aku yang akan bicara, kamu diam saja. Kalaupun nanti ini semua terlihat salah, pasti aku yang akan dipersalahkan."

"Sadarlah, Ichigo. Semua ini..ini-," bingung, itu yang terdengar darinya.

"Takut apa kamu ini?" aku makin gerah dengan sikap anehnya ini. shh!

"Takut apa? Masih tanya? Takut keluargamu hancur hanya karena orang asing sepertiku, takut semua yang kudapatkan dari keluargamu hanya akan berakhir sebagai hal yang buruk, mengenangku sebagai hal paling buruk yang pernah ada dalam sejarah mereka, dan takut kalau kamu akan menyesal melakukan semua ini sementara kamu bisa memilih jutaan yang lebih baik dariku!"

"Lalu aku? Aku juga takut ke-."

"Berhenti berkata konyol seperti itu!"

"Tapi kamu menghalangi hak ku untuk menyukai lawan jenis yang kupilih!"

"Pilih yang lain!"

"Pilih yang lain? Kamu benar-benar menghalangi hak asasi orang lain tahu!"

"Aku juga punya hak untuk memutuskan. Aku juga terlibat dalam masalah sialan ini! Dengar? Aku juga! Bukan cuma kamu!"

"Keras kepala! Untuk itu kita melakukan ini."

"Tapi aku menolak!"

"Aku memaksamu, Kurosaki Rukia!"

.

"Apa-apan kalian berdua?"

Oh? Begitu nyaringnya kah raungan kami berdua tadi?

Sampai-sampai yang ingin kutemui sejak 5 jam terakhir ini akhirnya muncul dihadapanku, karena bosan menunggu (?).

Lihat saja, tidak hanya Ayah yang celingukan menjulurkan kepala dari balik pintu, tapi juga Yuzu. Karin? Pasti tidak begitu tertarik.

_.

Bagaimana kalau aku mendadak bisu?

Padahal, sekilas tadi aku berharap mendadak tuli.

Kalau ayah murka, setidaknya tidak perlu kudengar.

"Kalian berdua dari mana saja? Sudah malam begini. Makanlah dulu sebelum pergi tidur."

Apa?

Tidak bisa begitu, Yah.

"Ayah, aku-"

Belum juga lengkap, sudah dicegah.

Menarikku berbalik menuju arah tangga, Rukia tidak akan membiarkanku bicara pada ayah dengan mudah malam ini.

"Hm?" ekspresinya saja mengatakan ayahku ini tertarik mendengarkanku barang sejenak.

"Ti-tidak ada apa-apa, Ayah. Kami akan makan dan tidur," ujar nona keras kepala ini, berdalih.

"Ada, Ayah," kataku jujur.

"Tidak ada," sorot matanya spontan mencungkil keluar kedua bola mataku.

"Ada," meski bola mataku terjungkal keluar, aku akan ….yah hanya ingin tahu pendapat orang tua yang tak ada 5 meter di depanku ini, tentang hal tabu yang akan kunyatakan. Ah, bahkan aku berharap lebih dari sekedar pendapat standar. Aku, sungguh, berharap lebih.

Memelototi kami berdua dengan heran, ujar dokter itu polos, "kalian …makin akrab ya."

Ooh ho ho ho, lebih dari sekedar kerukunan dengan saudara angkat, Ayah.

.

Aku sudah tidak bisa mundur.

Tidak boleh.

Ini masalah pamor sebagai lelaki.

Tidak mungkin diriku ini dengan mudah mundur setelah berkoar sepanjang jalan macam orang gila, hanya karena seorang gadis bengis yang menggelayut berat pada lenganku, seolah menarikku ikut bersamanya tenggelam dalam lantai kayu yang kami pijak ini dan kemudian bangkit kembali tiga jam setelah matahari terbit keesokan hari.

Aku tidak berencana demikian.

Tidak sama sekali.

"Ayah," sergahku cepat, tothepoint saja begitu ayahku memberi respon baik dengan mimiknya, "…sebenarnya…i-ini, tentang Rukia dan-"

"Baiklah…," apa? Baiklah? Secepat itu kah? Kalimatku bahkan belum masuk inti.

Kepalaku mendadak ringan, "…Ba-baiklah? Jadi,…jadi Ayah…"

Rukia, mengangkat wajah yang sedari tadi ditekuknya rapi-rapi, terbelalak tak percaya, menatap ayah angkatnya tak ragu.

"…apa?" pekiknya lirih.

Kelihatan, dan aku hafal, juga tahu bahwa kini orang tua tunggalku itu menunda menyelesaikan sisa pekerjaanya di klinik. Ia malah berbalik, menyamankan diri dengan menarik salah satu kursi makan dari persinggahannya, kemudian mendudukinya lelah.

.

Ah, klinik bisa menunggu.

.

Lelah.

Dan entah ada hal lain yang tidak kutahu, tersirat transparan sendu pada wajahnya yang tidak pernah kusadari, kini, semakin tua, rapuh.

Ayah.

Seseorang yang selama ini kukira adalah satu-satunya pria yang akan mengahabiskan sisa usianya dalam energika kegembiraan konyol, sekarang terduduk di situ, di depanku, lesu.

Tanpa menatap kami yang membatu tak karuan di hadapannya, ayah bilang, "…baiklah, ayah sudah memutuskan untuk secara hukum, benar-benar mengangkat Rukia sebagai anak yang sah di keluarga ini."

TOLOL!

Inilah maskud 'baiklah…' yang tadi.

Sial!

.

Kalau tadi kepalaku ini rasanya ringan, kali ini berbeda.

Rasanya, seolah massa otot jantungku bertambah, mendadak membesar, seakan dapat donor transplantasi jantung kingkong.

Sensasinya, rongga toraks-ku ini remuk, dan membiarkan jantung itu tergelincir ramai menyesak ruang kosong dalam perut.

"Ku-kupikir ..kupikir, Ayah-," serak, kalimatku lagi-lagi tak diijinkan tuntas.

"Ya..," ujar ayah segera, "..kalian, Yuzu dan Karin juga, pasti mengira Ayah sudah mengadopsi Rukia dengan legal," bukaaaannn! Bukan itu maksudku tadi!

Aku hanya menjerit sunyi dalam hati, saat ayah memutuskan menatap Rukia yang entah bagaimana perasaannya.

"Tapi," lanjutnya, "...baru hari ini aku berani untuk benar-benar melakukannya, setelah semua yang kau alami hari ini, Nak."

"Ayah..," ternganga, yang entah bagaimana mendeskripsikannya, hanya itu yang sanggup terselip keluar dari mulut Rukia setelah bermenit-menit membisu, tak lagi memegangi lenganku. Kukira dia berencana memegangnya terus sampai ada tanda-tanda retak tulang.

"Tidak ada yang bisa kusembunyikan lagi. Kalian berdua, kau Ichigo, Ayah rasa kau sudah mempelajarinya sendiri dari kejadian tadi bagaimana keadaan Rukia, keadaan Ayahmu ini," suaranya saja lesu begitu, aku bahkan tidak ingin melihatnya. Kupalingkan wajah sengak ini ke tempat lain, ke mana pun asal tidak berpandangan dengan Ayah.

"Mungkin, akan ada beberapa kompensasi yang harus ayah selesaikan dengan perusahaan Shiba. Yah…kalian tahu, masalah kontrak kerjasama penelitian itu. Untuk beberapa saat mungkin akan ada banyak pengeluaran. Begitulah. Ayah harap kalian bisa menahan diri untuk tidak terlalu banyak jajan. Huff..Baiklah," kemudian ia bangkit dari duduknya, hendak kembali ke klinik.

.

.

Tidak banyak yang kupikirkan saat itu…

"Aku mencintai Rukia, Ayah."

Sudah kukatakan, tidak banyak yang kupikirkan saat itu.

"Aku mencintainya. Sebagai lelaki aku mencintainya. Bukan seperti yang Ayah pikirkan selama ini."

Perlahan, dan ragu Ayah menunda langkahnya, berbalik menatapku setengah bingung, setengah …entahlah.

Ayah pasti tahu maksudku.

Ia pasti mengerti.

"Apa maksudmu, Ichigo?" bah! Ternyata tidak mengerti.

Apa yang kurang jelas dari kalimatku tadi?

Yang kumaksud persis seperti yang kuucapkan tadi.

Apa lagi?

Aku tertunduk, resah.

Buru-buru mengangkat muka, sekali lagi mencoba.

"Ma-maksudku…Rukia, ah, aku tidak setuju ka-kalau Rukia resmi sebagai anak di keluarga ini. Aku tidak mau dia jadi kakakku."

"A-?"

"Aku menyukainya, Ayah. Jatuh hati padanya. Ku-kumohon…"

Permohonanku bahkan tidak selesai.

Tangannya yang tanpa sadar kugenggam erat, mendadak memaksa lepaskan diri.

"Sa-, Rukia!" pekikku pelan, ketika ia lepas begitu saja.

.

Rukia.

Merosot rendah, hingga lututnya menghantam lantai kayu keras ini.

Berlutut, tepat di hadapan ayahku.

Dan menunduk dalam.

"Kurosaki-san…," suaranya lirih, tertuju pada Ayahku.

.

"Maaf… Maaf karena aku telah datang dalam keluargamu. Maaf karena kedatanganku hanya membuat runyam kehidupan keluargamu. Maaf karena kehadiranku telah membuatmu harus kesusahan seperti sekarang ini, kau harus menanggung satu beban kehidupan orang asing di keluargamu, menanggung malu akibat ulah orang asing itu, dan sekarang menanggung jutaan yen untuk perusahaan Shiba ...hanya karena orang asing keparat itu yang tak lain adalah aku..."

"Aku...orang asing, yang bukan keluargamu, aku yang hanya sampah, yang sudah menerima segalanya darimu, dari keluargamu, kini...bahkan telah lancang, tidak tahu diri...berani ...," suaranya kian pelan, kian tak terdengar, deru napasnya makin kencang, dan makin tertunduk kian dalam, menyembunyikan wajahnya yang kian runyam...ditambah air mata.

.

Aku mengenal Rukia.

Dia bukan seseorang yang akan menangis dengan mudah, untuk urusan-urusan sepele yang tidak masuk akal.

Dia juga bukan tipe yang akan menangis untuk mencari simpati orang lain.

Dia tidak akan menangis untuk merendahkan dirinya.

.

Tapi, aku tahu, hanya tahu, bahwa kini dia benar-benar menangis.

.

"Bangun, Rukia. Berdiri…," ujarku pelan, masih berdiri, tak sanggup melihatnya begitu.

Tubuhnya kini gemetar, goyah, siap untuk rubuh kapan saja.

Rukia, tidak bergeming dari posisinya.

.

"Ma-maaf…," ia tersendat, " maaf. Maafkan aku…maafkan aku … maaf aku tidak tahu diri, tidak tahu malu, tidak tahu terima kasih pada Anda, Kurosaki-san."

"Maaf, maaf aku …telah lancang …lancang …dengan berani menginginkan anak kandungmu…berarti lebih dari sekedar saudara untukku. Maaf, aku sudah lancang…menginginkan anak sulungmu…untuk menyukaiku. Maafkan aku sudah menginginkan Ichigo untuk membalas perasaanku. Maafkan aku sudah memaksanya, menyeretnya dalam perasaan konyol ini, Kurosaki-san."

.

Aku benar-benar tidak sanggup.

Sungguh.

.

"Ma-maafkan akuu…Ku-Kurosa-saki-saan..n," dan ia terisak, sejadi-jadinya.

Terisak yang baru pernah kulihat.

Terisak yang lebih parah dari yang Yuzu lakukan.

Terisak yang tidak pernah terjadi di rumah ini.

Terisak yang tidak pernah kusangka bisa terjadi pada seorang Rukia.

.

Dia, menangis sejadi-jadinya.

"Ku-kumoh-hon...kumoh-hon, i-ini bukan salah Ichigo. Bu-bukan Ich-chigo. Ku-Kurosaki-saan, ini salahku. Semua i-ni salah-hku. Kurosaki-i-san. Kumohon... u-sir saja aku..."

Tangisnya mengalahkan semua yang dia ucapkan.

Tak begitu jelas di telingaku.

Rukia terus saja berucap, yang malah terdengar menggumam, di sela tangisnya yang makin keras, di antara usahanya menahan diri agar tak bergetar lebih kencang, di setiap tarikan napasnya untuk kembali terisak pilu.

.

"Usir sa-saja aku. A-ku harus ditendang kel-keluar dari rumah i-ni. A-aku pan-tas di jalanan. K-Kurosaki-san...u-usir.., ku-kumo-kumohonn.."

Dan sesaat dia hendak lebih merendahkan diri dari dirinya yang sekarang di hadapan kaki ayah dengan derai air matanya, saat itu lah kukira ayah juga tidak sanggup untuk merasa lebih tinggi dari dirinya yang sekarang.

.

Ayah menunduk, mensejajarkan dirinya dengan semi-anak angkat kesayangannya, meraih bahu mungil gadis itu, mendekapnya dalam pelukan seorang ayah.

"Rukia, Nak..."

"Ku-Kurosaki-san..," masih menangis, malah terdengar makin ngilu.

"Sudah. Sudah, Nak. Rukia. Tidak ada yang menganggapmu asing di rumah ini. Kalaupun ada yang membuatmu merasa layak di jalanan, yang patut merasa bersalah adalah kami, aku dan Masaki. Kami melupakanmu saat itu, meninggalkanmu sendirian di Sapporo saat kami sudah mengakuimu sebagai anak. Karena itu, yang terjadi setelah kedatanganmu adalah urusan kita bersama, bukan salahmu, Rukia. Bukan."

.

Tidak pernah sekalipun aku mendengar ayah bicara seperti itu padaku, Karin, atau Yuzu. Bahkan ketika hari-hari kelabu saat ibu meninggal.

Selama ini ayah hanya akan bersikap konyol, mengatakan hal-hal di luar kemampuan pikir manusia waras ketika sampai pada saat-saat yang sentimental.

Berbeda. Saat ini entahlah, hanya berbeda.

.

"Ta-tapi, Kurosaki-san, aku-"

Melonggarkan pelukkan sayangnya pada Rukia, ayah kembali meyakinkan.

"Jangan merasa menyesal telah datang kemari, Masaki, dan aku lah yang harus meminta maaf padamu. Maafkan kami, ya."

Rukia menggeleng, dalam tangisnya.

Kembali menundukkan wajahnya, terduduk lesu, tak sanggup lagi menopang dirinya dengan berlutut.

"Kau tidak memaksa siapapun di sini untuk membalas perasaanmu, Rukia. Kami semua menyayangimu. Ayah menyayangimu, Rukia."

Kurasa, tepukkan lembut tangan ayah di kepalanya bermaksud agar Rukia lega, dan perlahan menghentikan tangisnya. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya, makin kencang.

"K-kurosaki-saaann..."

"Ayo. Ayo, Rukia. Panggilanmu itu terdengar seperti ayahmu ini om-om genit. Berhenti memanggil ayah seperti itu," masih sempat pasang tampang merajuk menjijikan begitu di depan orang menangis, kata ayah sembari mengelus kepala gadis ketiga di keluarganya.

Mengangkat muka sembabnya yang tak karuan, "..hiks..A-ayah," melihat cengiran kambing khas Kurosaki Isshin, sekali lagi derai air matanya makin deras, "...Ayaahh.."

.

Aku ...seperti orang tolol.

Tidak yakin apa yang harus kulakukan saat itu.

Keadaan memang makin tenang, suasana makin senyap.

Tapi denyut nadiku seakan lenyap.

.

"Baiklah, kalau kalian memang punya perasaan yang seperti itu, berkas-berkas itu sepertinya tidak diperlukan lagi, ayah rasa."

Ayah bangkit dan hendak merobek beberapa lembar kertas seperti formulir. Tapi…

"Ja-jangan, Yah," celetuk Rukia serak.

"Eh? Bukankah kau dan Ichigo…," ayah bingung.

Aku juga bingung.

.

Kami hanya menatapnya, menunggu penjelasan darinya, yang lebih detil.

"Aku, aku …selama ini yang kuinginkan adalah memiliki keluarga, dan sekarang aku punya kesempatan mendapatkannya, jadi kumohon, berkas-berkas adopsi itu masih kubutuhkan. Kalau …ayah masih memberiku kesempatan."

.

APA?

"Rukia, bu- bu-," gagapku kambuh.

Dia bahkan tidak menatapku sekerlingan pun.

"Aku ingin menjadi bagian dari Kurosaki yang sesungguhnya," ujarnya mantap pada ayahku.

"O-oh, ba-," sebelum 'baiklah' yang kesekian kalinya dari mulut ayahku meluncur, harus kucegah.

"Sa-sabar, Yah!" menghadangnya tepat waktu.

.

Kutatap Rukia penuh tanya.

Apa yang ada dipikiran perempuan sinting ini?

Semuanya sudah terlanjur jauh. Ayah sudah tahu. Bahkan tak ada tanda larangan.

Kita berdua sudah sejauh ini.

Lalu, lalu...

"Apa maksudmu, Rukia?" tanyaku mendesak.

Tak ada jawaban darinya, tatapannya terakomodasi ringan, jauh ke depan. Seolah tak menganggapku ada, dan menatapnya butuh jawaban.

"Rukia!" desisku makin tak sabar.

.

Ayah melangkah pergi dari situ.

"Tidak ada yang salah, Rukia. Apapun pilihanmu, pilihan kalian berdua, apapun itu, kalian tetap milik orang tua ini."

Dan …ayah pun berlalu, meninggalkan aku dan Rukia sinting ini sendiri.

.

Kuraih lengannya, mencengkramnya kuat-kuat.

"Katakan padaku apa maksudmu tadi?" aku tidak bisa kalau tidak memaksa seperti ini.

Tidak ada ekspresi berarti yang kutangkap darinya saat dia menggeser pandangannya tepat ke arahku.

"Aku tidak yakin dengan perasaan sesaat seperti ini, Ichigo. Jadi kuputuskan untuk mengambil sesuatu yang sudah jelas," katanya datar.

"Kamu ini kenapa, Rukia? Jadi menurutmu perasaan ini, ...menurutmu, aku tidak jelas? Begitu?" aku tidak percaya dengan manusia ini.

Menggeleng, "...labil. Kukira."

.

Apa-apaan?

Semuanya akan sama saja, apa pun pilihannya.

Bukankah begitu?

Dia akan tetap di sini, di keluarga ini, jika...jika dia memilih untuk mengikuti ...

"Akan berbeda, Ichigo," ujarnya pelan.

Terkadang, yah hanya terkadang, aku merasa Rukia bisa membaca pikiran orang lain. Seakan dia punya indera keenam.

"Situasi dan rasanya akan berbeda jika aku memilih untuk tetap menjadi Rukia saja. Alasanku di sini akan menjadi seperti kekasihmu yang gelandangan dan menumpang tinggal bersamamu," jelasnya, "...sedangkan yang kuharapkan selama ini adalah menjadi bagian dari sebuah keluarga, segera, secepatnya. Bukan menjadi perempuan yang menunggumu entah hingga kapan untuk benar-benar serius."

.

Jengkel!

"Kamu kira aku tidak serius? Aku serius, Rukia!"

"Terlalu idealis kalau kamu, aku, menyatakan perasaan ini serius untuk saat ini. Bagaimana kalau besok ada orang yang lebih baik untukmu daripada aku? Bagaimana kalau dialah yang benar-benar sesuai untuk hatimu? Saat itu kamu hanya akan memperkeruh perasaanmu sendiri, Ichigo."

.

Paparannya benar-benar membuatku mual.

Tanpa banyak kata lagi.

Aku lelah.

Lelah meyakinkannya.

Lelah telah sia-sia sampai di sini.

Menyesal adalah nama untuk saat-saat seperti ini.

.

Aku tidak ingin berdebat apa pun lagi.

Terserah.

Kujatuhkan tubuh remuk ini di atas kursi keras yang ada situ.

Menyembunyikan kepalaku dalam timbunan lengan kaku di atas meja makan.

Terserah padamu, Rukia.

.

"Semuanya akan baik-baik saja, Ichigo."

Tidak kuberi respon sedikitpun.

Aku tahu dia akan melangkah pergi dari dekatku.

.

"Maaf..."

Dan masih kudengar suara paraunya sebelum dentum langkahnya sayup menjauh.

.

Aku tidak akan selelah ini kalau saja pada akhirnya kami kembali ke titik awal.

Titik pertemuan kami.

Saudara.

.

.

Tidak ada yang bergeser.

Tidak ada yang berpindah.

Hukum perpindahan fisika tidak berlaku saat ini.

Titik A tidak kemana-mana.

Titik B tetap pada tempatnya.

Titik A kembali ke A.

Titik B kembali ke B.

Tidak ada garis, hanya titik.

.

.

"...menyebalkan."


End of – Chap NINE


Thus, the Sorry? – END


Boo! *muncul dari celah rak buku*

Rame ya FBI sekarang. Authornya macem-macem, namanya unyu-unyu. *senang*

Baiklah!

So, inilah ending dari 'Sorry?' .

Setelah sekian lama, hahahahahaha. Kehidupannya nyata kadang-kadang bikin gila. Dan inilah hasil kegilaan itu.

Karena chapter terakhir, mohon review-nya. Yang panjang dan berbelit-belit, silakan. Yang kurang suka, silakan. Apa aja yang penting review.

Endingnya kurang sreg ya?

Sequel maybe? Maybe no.

.

Thanks ya, buat semua dukungan pembaca, pe-review, pe-favorite, dan pe- , pe- yang lainnya. Terima kasih banyaaaakkk~~~