Huahahahaha!

Ini dia chapter 2-nya!

Udah di update neh!

Updatenya super kilat, kan? XDD

Okeh okeh..

Cukup sudah bacotnya…

Silahkan menikmati hidangan anda (?)


.

.

"Konnichiwa.." ucap Sakura saat memasuki sebuah ruangan seperti dapur yang hanya saja tampak lebih luas.

"Konnichiwa. Sakura, kau sudah datang?" balas seorang wanita muda berambut coklat panjang berkilau dengan senyum ramah.

"Iya, Ayame-san." jawab Sakura.

"Bagaimana sekolah barumu? Menyenangkan?" tanya Ayame sambil mengangkat seloyang kue dari oven lalu menyerahkannya pada seorang pegawai berseragam koki seperti dirinya.

"Yah.. 'sangat' menyenangkan." jawab Sakura kesal. Kejadian di sekolah tadi terlintas lagi di benaknya.

"Terjadi sesuatu ya?" tanya Ayame lagi. Sakura hanya mengangguk lemas. "Ya sudah, kau ganti seragammu dulu, lalu mulai kerja ya?" lanjut Ayame.

"Hai, Ayame-san."

Sakura pun segera menuju ruang ganti. Menaruh tas sekolahnya ke dalam loker lalu mengganti seragam sekolah dengan setelan kostum maid. Warna yang bernuansa hitam dan putih, rok yang mengembang, serta renda di sana-sini namun tetap terlihat manis. Tak lupa Sakura juga menyematkan hiasan kepala berpita putih pada rambut merah mudanya dan memakai sepatu boots berenda hitam. Cantik dan manis. Namun jujur saja, Sakura kurang menyukainya. Terlalu
ribet dan ini sudah tuntutan pekerjaan, dan Sakura harus bisa profesional.

Begitulah. Sakura bekerja sambilan sebagai kasir di sebuah maid cafe di tengah kota Konoha. Baru 3 hari dia bekerja sambilan di sini. Ayame adalah teman baik kakaknya, yang berbaik hati menerima Sakura bekerja di cafe miliknya itu. Lagipula, tidak ada ruginya mempekerjakan gadis sepintar dan semanis Sakura. Sebenarnya gadis pink itu agak berat hati dengan pekerjaan ini, di mana dia harus banyak tersenyum pada pengunjung yang kebanyakan adalah laki-laki. Tapi daripada susah-susah mencari pekerjaan lain, lebih baik ambil yang ada saja. Toh semua ini demi membiayai hidupnya selama di Konoha. Dia tak ingin memberatkan ibu dan kakaknya. Di Ame mereka punya toko roti kecil-kecilan yang lumayan laris. Tapi selaris apapun, hanya cukup untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya sekolah Sakura di Konoha Gakuen yang memang cukup mahal. Tapi, Konoha Gakuen itu adalah sekolah yang selalu dimimpikannya selama ini, yang akan mempermudah jalannya mencapai cita-cita menjadi seorang dokter. Karena itulah Sakura memilih untuk bekerja sambilan agar ibunya cukup membiayai sekolahnya saja tanpa perlu memikirkan biaya hidup Sakura.

Selama di Konoha, Sakura tinggal di sebuah flat sederhana yang hanya cukup untuk dirinya seorang. Dapur, tempat tidur, ruang tamu (kecuali kamar mandi) berada dalam satu ruangan. Semua disewa untuk 6 bulan ke depan. Dan jika nanti Sakura berhasil masuk kelas akselerasi, dia akan pindah ke asrama khusus murid-murid kelas tersebut. Dia tak perlu kerja sambilan lagi karena di asrama semua keperluan ditanggung oleh sekolah. Praktis sekali, dan itu yang akan Sakura kejar saat ini. Beberapa langkah lagi, cita-citanya, impiannya, akan terwujud dan dia akan bisa membahagiakan ibu dan kakaknya. Sedangkan ayahnya? Jangan tanyakan, atau Sakura akan menjambak habis rambutmu dalam satu tarikan.

Angel Ruii

Besoknya, di kelas 2-A, kelas Sakura.

"Rusa pemalaaaaas..! Bangun atau kupangkas rambut nanasmu itu!"

"Sai! Berhenti tersenyum mengerikan seperti itu padaku!"

"Shino~ boleh pinjam PR-mu..?"

"Aku baru mau pinjam padamu, Kiba.."

"SEMANGAT MASA MUDA!"

"Berhenti meneriakkan kata-kata itu. Mau kubakar rambut mangkokmu itu, Lee!"

"SEMANGAT MASA MUDA!"

"Grr.. kau cari mati,ya?"

"SEMANGAT MASA MU – GYAAAA!"

"Kyaaaa~ Sasuke-kun!"

Sakura menghela napas panjang sambil memandang ke luar jendela.

'Ternyata di sekolah mana pun sama saja, ribut adalah hal yang lumrah tiap kali ada guru yang tidak masuk.' batin Sakura. Guru pengganti Kurenai-sensei – guru B. Inggris yang sedang cuti – karena melahirkan tidak masuk hari ini. Jadilah kelas mereka ribut luar biasa seperti pasar ikan. Apalagi letak kelas mereka ada di paling ujung, jadi mereka lebih leluasa 'melatih' pita suara masing-masing.

"Hei, Sakura-chan!" sapa seseorang sambil menepuk pundak Sakura.

"Hn? Ada apa, Tenten-san?" jawab Sakura seraya menoleh.

"Hihihi.. kau masih seformal itu pada teman sekelasmu? Panggil saja Tenten, dan mereka ini, panggil Hinata-chan dan Ino-chan saja!" sahut si cepol dua itu sembari menunjuk 2 temannya.

"Ah sou.." ucap Sakura sambil tersenyum singkat.

"Aa.. Sa-Sakura-chan orang yang dingin ya.." ujar Hinata, gadis berambut indigo panjang itu terbata-bata, membuat Sakura menoleh padanya.
"Ah, g-gomen! A-aku tidak bermaksud menyinggung Sakura-chan!" katanya sambil membungkuk-bungkuk, panik karena takut akan kejadian seperti Sasuke kemarin.

"Eeh, tak usah bungkuk-bungkuk segala, aku sama sekali tidak tersinggung, kok!" jawab Sakura cepat. Diperlakukan seperti itu membuatnya agak canggung.

"Haha.. Hinata memang seperti itu, Sakura, dia selalu ingin menjaga perasaan orang lain. Kau kerjai pun dia tidak akan marah, kok! Hehe.." timpal gadis yang satunya lagi, Ino. Tampaknya dia yang bersikap paling dewasa di antara ketiganya.

"I-Ino-chan..!" sungut Hinata cemberut. Sedangkan teman-temannya hanya tertawa.

Sakura memperhatikan ketiga gadis di hadapannya ini. Mereka begitu ramah dan bersahabat. Berbeda dengan siswi-siswi lain yang suka menatap sinis padanya. Yah, sejak kejadian kemarin di mana dia mempermalukan si Uchiha Sasuke di depan semuanya, Sakura jadi dimusuhi banyak siswi di sekolah. Dia tak mengerti, kenapa dia yang dibenci walau bukan dia yang salah. Memangnya tidak boleh menghajar orang yang kurang ajar pada dirinya? Ternyata memang sudah terlalu banyak orang yang dibutakan oleh pesona sang Uchiha.

"Ne, Sakura-chan, kami lihat aksimu kemarin. Kau berani sekali ya? Aku saja tidak mungkin berani. Fans Sasuke itu lebih mengerikan daripada Sasuke-nya sendiri, lho!" ucap Tenten menggebu-gebu.

"Ah, bukan apa-apa kok.. Aku hanya mencoba mempertahankan harga diriku saja." jawab Sakura sambil tersenyum.

Tenten, Ino, dan Hinata saling berpandangan, kemudian menatap Sakura secara bersamaan. "Kau tahu Sakura? Kau adalah gadis pertama yang tidak terpengaruh pesona si Uchiha! Aku saja sampai sekarang masih suka terkagum-kagum padanya (tapi bukan berarti aku menyukainya). Apa rahasianya, sih?" bisik Tenten lagi. Kedua temannya mengangguk.

"Benarkah? Wah, aku merasa sangat 'terhormat' untuk yang satu ini. Rahasianya? Tidak ada. Aku memang tidak mudah terpesona pada laki-laki, terutama pada tipe playboy seperti dia." jawab Sakura datar.

"Ne, ne, kau bahkan tahu kalau dia playboy? Siapa yang memberitahukannya padamu? Kau kan baru 2 hari di sini!" tanya Ino.

"Tidak ada. Terlihat jelas dari wajahnya."

Hening.

Sudah jadi rahasia umum bahwa Uchiha Sasuke, adalah seorang playboy yang paling tenar di Konoha. Anehnya, meski tahu dia playboy, masih saja banyak gadis yang berharap jadi kekasihnya. Apakah sang Uchiha memang diberkahi feromon yang berlebihan sehingga tak ada yang bisa menolak pesonanya? Ralat. Sakura bisa tuh!

"A-ano.. Apa Sakura-chan sudah punya orang y-yang disukai..?" tanya Hinata pelan.

"Memangnya kenapa, Hinata?" Sakura balik bertanya.

"Ti-tidak.. Aku hanya berpikir.. kalau Sakura-chan tidak tertarik pada Uchiha-san, mu-mungkin Sakura-chan menyukai orang lain.." jawab Hinata kalem.

"Yeah.. Seperti kau sendiri, tidak menyukai Sasuke karena kau suka pada Tuan Namikaze itu, kan~" goda Ino sambil menyenggol-nyenggol Hinata yang langsung blushing berat.

Namikaze. Klan yang sama tenarnya dengan Uchiha.

'Maksudnya si Namikaze Naruto itu ya..' batin Sakura seraya melirik cowok pirang yang tampak sedang berbincang dengan Sasuke.

Naruto adalah salah satu sahabat dekat Sasuke, selain Sai, Shino, Shikamaru, dan Kiba tentunya. Tipe cowok yang berisik, ramah dan selalu bersemangat. Tapi bagi Sakura, apapun yang berhubungan dengan si Uchiha akan tetap 'berbahaya' dan perlu dijauhi. Begh!

"Ah, kau sendiri suka pada Sai, kan?" ledek Tenten sambil melipat kedua lengannya ke belakang kepala. Kini, giliran Ino yang blushing.

"Te-Tenten-chan juga.. suka pada Neji-nii.."

Tenten membatu. Ino terbelalak kaget.

"Ja-jadi kau menyukai Neji? Wahaha.. ketahuan kau sekarang!" Ino tertawa keras. Orang-orang yang memperhatikannya mulai menganggap si ponytail pirang itu agak kurang waras, atau bahkan tidak waras.

"Ti-tidak kok! Hinata, kau jangan bicara yang bukan-bukan, dong! Siapa bilang aku suka pada sepupumu itu?" protes Tenten gelagapan.

"Eit, kau jangan menyalahkan Hinata! Dia ini tidak mungkin berbohong kan? Hei, Panda, apa perlu kubantu mengatakannya pada Neji, hm?"

Kini, Sakura tahu kalau selain dewasa, Ino juga punya sifat usil parah – lebih parah dari yang terparah.

"Mengatakan apa?" Tenten pura-pura tidak tahu. Dan..

Deg!

Darah Tenten mendesir hebat. Neji yang baru saja masuk ke kelas dan tanpa sengaja mendengar namanya (Neji) disebut-sebut kini melangkah ke arah mereka.

"Ah, Neji, kebetulan sekali! Aku mau bilang kalau Tenten itu su – hmmmph..!"

Ino berontak saat Tenten cepat-cepat membekap mulutnya dari belakang. Neji menatapnya bingung.

"Ti-tidak ada apa-apa, kok! Ino hanya sedang ingin mengerjaimu, Hyuuga-san!" sebut Tenten panik. Kini sudah terlihat wajah Tenten yang sudah memerah itu.

"Begitu? Baiklah kalau memang tidak ada apa-apa. Oh ya, dan tolong jangan memanggil namaku seformal itu. Aku jadi merasa tua."

"H-hai, Neji-san.." jawab Tenten gugup.

"Panggil Neji saja."

"Ha?" ucap si cepol cengo.

"Cukup panggil aku Neji saja, Tenten..!" ulang Neji berusaha sabar. "Lalu.. lepaskan saja Yamanaka-san, dia hampir mati tuh."

"Eh?" Tenten pun melihat Ino yang masih dibekapnya dan terbelalak. Ino sudah kejang-kejang karena hampir kehabisan napas.

"Huwaaa!"

Tenten pun segera melepas bekapannya dengan panik. Ino langsung terbatuk-batuk sampai harus berpegangan pada Hinata.

"G-gomen, Ino-chan! Aku benar-benar lupa kalau aku belum melepaskanmu! Gomen, gomen!" ujar Tenten cepat. Mungkin, itu saking terpesonanya dia pada sang Hyuuga.

Ino menatap tajam temannya yang sering dipanggilnya Panda itu, lalu menjitak kepala bercepol Tenten dengan keras.

"BAKA! Kau mau membunuhku ya? Kalau tadi aku mati bagaimana? Siapa yang akan mengurusi toko bunga milikku hah?" omelnya kesal.

"Adudududuh.. sakit, Piggy! Kan sudah kubilang aku tidak sengaja! Apa? Yang akan mengurusi toko bunga-mu? Siapa saja boleh, kok!" seru Tenten sambil mengelus kepalanya yang hampir benjol dengan kata-kata yang 'berani' disaat akhirnya.

Mereka terus beradu mulut. Hinata sampai kewalahan menenangkan keduanya. Neji hanya
bisa menghela napas pasrah oleh kelakuan teman-teman sekelasnya itu. Sampai akhirnya mereka berhenti ketika mendengar suara tawa seseorang. Sakura.

"Sa-Sakura-chan?"

Tenten, Ino, dan Hinata tak percaya. Mereka tak pernah berpikir bahwa gadis sedingin Sakura bisa juga tertawa.

Sakura pun tersadar lalu jadi sedikit salah tingkah.

"Haha.. gomen, melihat kalian seperti itu aku jadi ingin tertawa.." ucapnya sambil masih tertawa kecil.

Ino dan Tenten saling berpandangan, lalu baru sadar bahwa mereka sedang saling menjambak rambut dan ternyata tampak konyol sekali. Ujung-ujungnya mereka malah tertawa bersama. Sakura bahkan harus menahan diri untuk tidak tertawa terlalu keras. Takutnya, jika tertawa terlalu keras, kemasukan lalat yang numpang lewat..

Mata para siswa cowok yang kebetulan melihatnya pun terbelalak, dan rona merah pada wajah tak bisa disembunyikan. Melihat cewek-cewek secantik mereka, terutama Sakura, yang belumnya selalu memasang ekspresi datar dan jarang sekali tersenyum adalah anugerah tersendiri. Bahkan Sasuke yang juga memperhatikan gadis itu, merasakan darahnya berdesir saat melihat Sakura tertawa.

'Perasaan apa ini..?' batinnya gundah.

"Ne, Teme, kenapa? Ada apa?" tanya Naruto saat melihat wajah bingung sahabatnya.

"Tidak kenapa-kenapa, kok, Dobe." jawab Sasuke datar, tapi ekspresinya belum berubah.

Naruto pun menengok ke arah pandangan Sasuke, dan mendapati objek yang sedang diamati sang Uchiha. Senyum jahil terukir di wajahnya.

"Hmm.. Sakura-chan itu selain pintar juga cantik sekali, ya? Apalagi saat sedang tersenyum seperti sekarang. Pasti banyak cowok yang menyukainya. Rasanya aku juga tertarik padanya.." ujarnya iseng sambil melirik cowok raven di hadapannya.

"Jangan-macam-macam-Dobe! Dia itu milikku, kau mengerti?" desis Sasuke tajam, setajam tatapannya pada Naruto saat ini.

Tapi karena sudah terbiasa dengan tatapan ala Uchiha itu, Naruto malah nyengir lebar, yang untungnya gigi-nya itu tidak kekeringan.

"Hahaha.. kau aneh, Teme! Baru kali ini kau berani mengklaim seorang cewek! Hei, jangan-jangan kau benar-benar jatuh hati padanya ya?"

Jleb!

Entah kenapa kata-kata Naruto tersebut terasa menusuk jantungnya. Jatuh cinta? Pada gadis pink itu?

"Kenapa diam saja Teme? Ah.. pasti tebakanku tadi benar kan?" goda Naruto lagi, yang disertai cengiran yang semakin lebar saja.

"Sembarangan kau, Dobe! Aku, Sasuke Uchiha, tidak mungkin jatuh cinta pada gadis aneh dan egois seperti dia!" elak Sasuke, berusaha agar tak ada guratan merah di wajahnya.

"Jangan sesumbar dulu, Tuan Muda Uchiha. Justru tipe wanita seperti dialah yang akan menaklukkan playboy berdarah dingin sepertimu!" ucap Naruto sambil menyeringai.

"Huh, jangan sok tahu, Tuan Muda Namikaze! Sudah kubilang aku yang akan menaklukkannya, bukan dia yang akan menaklukkanku! Gengsi, dong!" balas Sasuke, sinis.

"Ck, dasar Uchiha..kita lihat saja nanti, siapa yang benar.."

.

.

TBC


Okeh.. tunggu chapter 3-nya yaa~!

Jangan lupa review di chapter ini! ^^

maaf kalo ada yang kurang ._.