Engg…
Chapter 3 updatenya lama yo?
Maaf maaf semuanya yaa.. (_ _)
Aku les terus sih! Jadilah gak ada waktu buat update…
Okeh… Langsung aja!
.
.
"Ne, Sakura-chan, apa kau sudah memilih klub yang akan kau gabungi?" tanya Ino saat mereka berempat – Sakura, Tenten, Hinata, dan dia sendiri - sedang makan siang di kelas.
Sakura menelan tamagoyaki-nya sebelum menjawab.
"Sudah."
"Hontou? Kau mau masuk klub apa?"
"Karate." Jawabnya singkat sambil menyuap potongan tamagoyaki-nya yang ketiga.
Ino, Hinata, dan Tenten terdiam. Tenten-lah yang pertama kali membuka suara.
"Ano.. Sakura-chan, Sasuke juga.. ikut klub itu.." ucap Tenten pelan.
Sakura berhenti mengunyah sejenak, lalu melanjutkannya kembali.
"Ii desu yo." jawabnya tenang.
"Eh? Benar tidak apa-apa?"
"Memangnya kenapa?"
"Bu-bukankah.. Sa-Sakura-chan membenci.. Uchiha-san?" tanya Hinata gugup.
"Itu benar, tapi bukan berarti aku harus melarikan diri kan? Lagipula sejak SMP aku selalu ikut karate, jadi aku malas pindah ke klub lain." jawab Sakura.
"Sokka.. Yosh, itu artinya aku dan kau satu klub Sakura! Yokatta na~!" ucap Tenten senang.
"Jadi, kau ikut karate juga?" tanya Sakura kaget. Tenten mengangguk semangat. "Untunglah.. jadi aku punya teman di klub itu. Kalau Ino dan Hinata, ikut klub apa?" lanjut Sakura sambil bertanya.
"Aku ikut klub ikebana (merangkai bunga) karena keluargaku membuka toko bunga di rumah. Sedangkan Hinata ikut klub seni, dia pintar sekali melukis!" jawab Ino semangat.
"I-Ino-chan terlalu berlebihan.." ucap Hinata sambil tersipu.
"Sou desu ka? Kalian semua hebat ya.." puji Sakura.
"Haha.. belum seberapa dibandingkan denganmu, kok.." balas Tenten sambil nyengir.
Dan mereka pun melanjutkan acara makan siang mereka, tanpa menyadari bahwa seseorang telah mencuri dengar – menguping pembicaraan mereka.
Angel Ruii
"Haruno Sakura desu ka?" tanya si sensei berambut perak – Kakashi, saat Sakura menemuinya untuk meminta formulir pendaftaran masuk klub karate.
"Hai, Sensei." jawab Sakura sambil membungkuk.
Tenten yang berada di sisinya langsung merangkul Sakura dan berkata dengan semangat, "Sensei, Sakura mau masuk klub karate kita! Dia sudah dan 3, lho!"
"Sou desu ka? Wah, senang sekali kau mau bergabung di klub ini, Haruno." sambut Kakashi.
"Arigatou gozaimasu, Sensei." balas Sakura.
Guru Fisika yang juga menjabat sebagai pelatih karate di Konoha Gakuen itu lalu mengeluarkan selembar kertas dari laci mejanya dan menyerahkannya pada Sakura.
"Isi formulir ini terlebih dahulu, setelah pulang sekolah nanti datanglah ke ruang klub."
"Hai, Sensei."
Setelah itu mereka pun kembali ke kelas mereka. Tenten sudah cerita pada Sakura, kalau kegiatan klub hanya dilakukan 1 kali dalam seminggu, yaitu pada hari Jumat alias hari ini. Sakura pun mengabari Ayame mengenai hal ini, untungnya dia bisa mengerti dan mengijinkan Sakura libur kerja tiap hari itu.
Beberapa jam kemudian, sekolah pun usai. Sakura dan Tenten melangkah bersama ke ruang klub karate. Ino dan Hinata akan menyusul nanti karena mereka harus piket terlebih dahulu. Ya, khusus hari ini mereka akan menemani Sakura dan Tenten latihan.
"Err.. Sakura-chan, boleh aku tanyakan sesuatu padamu?" tanya Tenten ragu-ragu.
"Ng? Apa?" jawab Sakura.
"Ano.. me-menurutmu.. apa aku terlihat err.. c-cocok dengan.. N-Neji?" tanya Tenten grogi + malu. Ini pertama kalinya dia menanyakan pendapat mengenai perasaannya terhadap ketua kelas cool itu pada orang lain.
Sakura terdiam. Sebuah pertanyaan yang salah telah diajukan untuknya.
"Mm.. sebenarnya aku tidak pandai dalam hal-hal seperti itu. Jadi, maaf, aku tidak bisa membantu." ujar Sakura sambil memaksakan tersenyum.
"Hh.. sou desu ne.. Yah, tidak apa-apa deh, aku akan berusaha lebih baik lagi!" seru Tenten yang kembali bersemangat. Sakura tersenyum tipis. "Ne, kau sendiri, apa tidak pernah pacaran?" lanjut Tenten seraya bertanya.
Sakura terdiam lagi. ".. Tidak." jawabnya setelah beberapa saat.
"Maji de? Tidak dapat dipercaya, apa benar sama sekali belum pernah?" ucap Tenten sangsi. Memang mengherankan kalau gadis secantik dan sepintar Sakura sama sekali belum pernah jatuh cinta atau pacaran.
"Kubilang belum, Tenten. Dan tolong.. jangan bahas masalah ini lagi." ucap Sakura datar.
Tenten baru akan menyahut ketika tanpa sengaja melihat mata emerald Sakura yang memancarkan kepedihan walau hanya sekilas, kemudian kembali pada ekspresi stoic-nya. Akhirnya Tenten memilih diam saja, walaupun dirinya penasaran akan kesedihan di mata Sakura tadi. Gadis itu masih menyimpan banyak misteri.
Mereka pun sampai di ruang klub karate yang berada di paling ujung dari koridor lantai 1. Ruangan itu cukup luas, sebagian besar lantainya dilapisi dengan matras. Di tiap ujung ruangan terdapat ruang ganti dan loker masing-masing untuk laki-laki dan perempuan. Begitu pintu terbuka, ternyata sudah banyak yang datang dan semua mata memandang ke arah mereka, terutama pada Sakura. Termasuk juga the-chicken-butt-haired-boy yang menatap kedatangan Sakura dengan seringai menyebalkan terukir di wajah pink itu mengabaikan pandangan-pandangan tersebut, lalu mengajak Tenten untuk
menghampiri Kakashi yang sedang duduk di pojokan sambil membaca buku bersampul orange yang mencurigakan.
"Sumimasen, Sensei." sapa Sakura dan Tenten bersamaan.
"Oh, kalian berdua ternyata." jawab Kakashi sambil menurunkan bukunya.
"Sensei, ini formulirnya, sudah saya isi." kata Sakura sambil menyodorkan kertas formulir yang langsung diterima oleh Kakashi.
"Baiklah. Tenten, antar Sakura ke ruang ganti, lokernya nomor 6, semua peralatan sudah ada di sana. 5 menit lagi kita mulai." perintah Kakashi sembari mulai membaca lagi.
"Hai, Sensei!" jawab Tenten sambil membungkuk, diikuti Sakura. "Iko, Sakura-chan!"
Tenten pun menarik Sakura menuju ruang ganti untuk perempuan di sisi kanan ruang klub. Setelah mengunci pintu, Sakura memandang sebentar ruangan seluas 3 x 8 meter itu. Cukup luas untuk jumlah anggota perempuan yang tidak seberapa.
"Sakura-chan, ini lokermu! Lihat, sudah ada karategi, sabuk hitam, dan handuk untukmu! Irinya.. kapan ya aku bisa memakai sabuk hitam seperti ini…?" seru Tenten sambil menunjukkan barang-barang tadi pada Sakura. Dia sendiri baru sabuk coklat.
Gadis pink itu tersenyum lalu menghampiri temannya yang mempunyai darah Cina itu. Setelah berganti pakaian, mereka keluar dan melihat Ino serta Hinata melambai-lambai ke arah mereka dari luar ruang klub yang dibatasi jendela kaca.
"Wah, itu Ino dan Hinata!" sebut Tenten semangat. Tetapi, baru saja ia akan menghampiri kedua temannya tersebut, tiba-tiba terdengar tepukan keras dari Kakashi yang menarik perhatian semuanya.
"Nah, nah, ayo semuanya, duduk yang rapi.." seru Kakashi dengan senyum tak terlihat dan suara yang terdengar lebih bersemangat dari biasanya.
Semua pun mengikuti instruksi Kakashi, memisahkan diri menjadi 2 kelompok dan duduk sejajar berhadapan dengan radius 5 meter. Kakashi berdiri di tengah. Sasuke berada di barisan kanan, berhadapan langsung dengan Sakura yang ada di barisan kiri. Matanya tak lepas menatap gadis yang membuatnya tak bisa tidur semalaman.
"Yah, pertama-tama seperti yang kalian ketahui, kita kedatangan anggota baru, Haruno Sakura dari kelas 2-A." sebut Kakashi. Sakura sedikit membungkuk hormat sebagai ganti ucapan salam.
"Hei, katanya dia sudah dan 3, lho! Hebat ya, padahal dia cantik begitu." bisik seseorang di belakang Sasuke pada temannya.
"Benar, aku saja baru dan 1. Aku jadi merasa payah sekali."
"Ne, kalau kudekati, kira-kira dia mau tidak ya?"
"Arienai yo! Kalau aku mungkin sa-"
Pembicaraan kedua orang itu terhenti ketika mereka merasakan hawa membunuh mengerikan yang berasal dari Uchiha di depan mereka. Yeah, deathglare ala Uchiha memang yang paling te-o-pe di dunia.
"Dan untuk hari ini, kita akan melakukan sparring." lanjut Kakashi. Anak-anak didiknya mulai berbisik-bisik. "Untuk yang pertama, kau, Uchiha Sasuke." lanjutnya lagi.
Sasuke berdiri, melangkah ke samping Kakashi dengan gaya arogannya yang khas.
"Wah, gimana nih? Masa' baru mulai langsung si Uchiha, sih?"
"Kumohon jangan aku! Aku pasti langsung kalah hanya dengan satu pukulan!"
"Semoga bukan aku.. Semoga bukan aku.."
Sakura melirik anggota-anggota lain yang tampak gelisah. Mereka semua tampak enggan untuk jadi lawan sparring si Uchiha.
'Apakah si Uchiha memang sehebat itu?' batinnya jengkel.
"Kemudian untuk lawan sparring Uchiha.. Haruno, kau yang maju."
"HAAAAAAHH?" pekikan kaget dari seluruh anggota klub karate (kecuali Kakashi, Sasuke, dan
Sakura) menggema di ruangan itu. Bahkan Ino dan Hinata yang berada di luar pun ikut kaget.
"Y-yang benar saja Sensei! Sakura kan perempuan, masa' Anda suruh melawan Sasuke sih?" protes Tenten yang tidak terima temannya seolah akan dijadikan mangsa (?) untuk Sasuke.
"Tapi, di klub ini yang sudah mencapai dan 3 hanya Sasuke dan Sakura kan? Aku mencari pasangan sparring yang sepadan, jadi keputusanku ini tidak salah." jawab Kakashi tenang.
"Tapi kan-"
"Baiklah, Sensei."
Semua mata memandang tak percaya pada Sakura. Dia benar-benar bersedia melawan Uchiha!
"Sa-Sakura! Kau benar-benar yakin dengan ini?" tanya Tenten cemas.
"Atarimaeda, Tenten." jawab Sakura sambil akan bangkit berdiri, tapi dicegah oleh Tenten. Sakura tersenyum pada temannya itu. "Kinishinaide, ne?" bisiknya sambil melepas pegangan Tenten pada lengan bajunya.
Sakura pun bangkit, melangkah menghampiri Kakashi dan lawan sparring-nya. Kini dia berhadapan dengan Sasuke, musuh pertama dan utamanya di Konoha Gakuen. Dan entah kenapa, yang berdebar-debar bukan mereka, malah para penonton di sekitar mereka. Ino dan Hinata sampai saling berpegangan tangan dan menatap mereka dengan cemas.
"Baiklah, kalian siap? Ja, hajime!"
Sasuke dan Sakura memasang kuda-kuda. Si pantat ayam menyeringai licik pada Sakura, yang hanya dibalas dengan tatapan datar. Sakura menghentak maju menyerang duluan. Dia melayangkan tendangan ke samping, yang dengan mudah ditangkis oleh Sasuke. Pukulan bertubi-tubi pun dilancarkan Sakura, dan masih bisa ditangkis Sasuke.
"Kau agresif juga ya, Sakura?" ucap Sasuke di sela pertandingan mereka
dengan suara pelan sehingga hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya.
"Tutup mulutmu dan berkonsentrasilah, dari tadi kau hanya menahan seranganku saja. Pengecut." balas Sakura dingin.
Dahi Sasuke berkedut kesal.
'Kemarin dia bilang aku menjijikkan, sekarang aku dibilang pengecut, apa maunya cewek ini?'
Sasuke menjadi sedikit lengah. Sakura mengarahkan tendangan samping dengan kaki kanannya. Walau Sasuke berhasil menghindar, tapi dengan cepat Sakura berputar dan melancarkan tendangan lagi dengan kaki kirinya. Serangan itu berhasil mengenai pipi kiri Sasuke dan membuatnya itu dimanfaatkan Sakura untuk melakukan serangan berikutnya yaitu menendang dada kanan Sasuke (kalau dada kiri bisa bahaya bagi jantung) hingga membuatnya jatuh berdebam di atas matras. Belum selesai keterkejutan Sasuke, tiba-tiba Sakura sudah berada di atasnya dengan tinju mengepal yang diarahkan padanya.
"Cukup, Haruno!" seru Kakashi saat tinju Sakura akan dihantamkan pada Sasuke.
Tapi entah karena terlambat mengucapkannya atau Sakura tidak mendengar instruksi Kakashi, kepalan tangan itu sudah terlanjur meluncur dan…
BUKK!
.
.
TBC
You have to review on this chapter! *plak* *sok Inggris*
