Okeh. Karena aku sama pasangan collabku udah selesai Try Out (TO)-nya, jadi, SEKARANG UPDATE! Tapi, lemot-kilat nya update chapter depan itu tergantung… XD *ditimpuk*

Terus...

Kalo misalnya lemot lagi (meski pun gak niat lemot), maaf yaa... ^^v

Okeh okeh! Ini chapter 6-nya!


.

.

"Aku minta maaf, Ami, atas perbuatanku terhadapmu dulu."

"Sa-Sasuke-kun...?"

"Sekarang aku mengerti bagaimana perasaanmu waktu itu. Aku benar-benar menyesal. Tolong maafkan aku."

"Ja-jadi, maksudmu... kau mau memintaku jadi kekasihmu lagi?"

"Bukan itu!"

"L-lho? Terus maksudmu apa?"

"Yaa... aku hanya ingin minta maaf."

"... Hah?"

Angel Ruii

Mungkin kehebohan di kalangan siswa-siswi Konoha Gakuen saat ini bisa disetarakan dengan hebohnya warga Konoha ketika menemukan adanya crop circle di tengah sawah mereka. Uchiha Sasuke, sekali lagi – UCHIHA SASUKE! Pemuda tampan anak sekolahan dengan otak cemerlang dan duit segudang yang terkenal sampai ke negeri seberang. Ya, Sasuke yang itu, memangnya yang mana lagi coba? Dia benar-benar berbakat menjadi selebritis kontroversional. Apa yang dilakukannya kali ini benar-benar membuat gempar seluruh warga Konoha Gakuen. Beneran deh! Mau tahu apa yang dilakukan putra bungsu pasangan Uchiha Fugaku-Mikoto itu?

.

"SAKURAAA!"

Sakura yang sedang duduk anteng di tempatnya tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara menggelegar yang baru saja meneriakkan namanya. Mata emerald-nya memandang datar ke luar jendela.

Sedangkan si pelaku, Tenten, setelah dengan sukses menjeblak pintu kelas hingga hampir copot dari tempatnya, dan tanpa mempedulikan hal itu segera menghampiri si gadis Haruno. Di belakangnya, Ino dan Hinata menyusul dengan napas terengah-engah.

"Sa-Sakura! Kau sudah dengar beritanya?" tanya Tenten menggebu-gebu.

"Berita apa?" balas Sakura, dengan masih memandang ke luar.

"Itu...! Sasuke, d-dia... haduuh... bagaimana mengatakannya, ya?"

"Dia meminta maaf kepada semua mantan kekasihnya di sekolah ini, dan juga yang ada di luar."

Tanpa disuruh, seseorang mewakili pembicaraan Tenten.

"Shikamaru?"

Entah sejak kapan, pemuda berkuncir satu itu sudah ada di sana, dan kini sedang duduk di atas meja di seberang meja Sakura sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Apa maksudmu, Shikamaru? Sasuke..."

"Benar. Dia ingin menunjukkan keseriusannya pada Haruno," jawabnya, kemudian beralih pada Sakura yang hanya diam. "dia sudah memutuskan untuk menjadi laki-laki yang lebih baik, dan semua ini dilakukannya hanya demi dirimu, Haruno."

"... Aku tidak pernah memintanya untuk melakukan itu semua." kata Sakura dingin.

"Sakura," bisik Ino. "ucapanmu terlalu kejam..."

"Karena itulah," balas Shikamaru. "dia berinisiatif sendiri melakukannya. Kau tahu? Uchiha dididik untuk menjunjung harga diri mereka setinggi langit. Tak bisakah kau hargai usaha seorang Uchiha seperti Sasuke?"

Sakura melirik tajam pada Shikamaru yang masih menatapnya datar. "Sejak kapan orang sepertimu mau repot-repot mengurusi orang lain? Memangnya, apa yang ditawarkan Uchiha brengsek itu padamu, eh?" katanya sinis.

"Tidak ada. Sejujurnya, aku memang malas mengurusi orang lain," jawabnya santai, tapi serta-merta mimiknya jadi serius. "… tapi, akan berbeda kalau terhadap temanku sendiri."

Sakura mengangkat sebelah alisnya. "Oh... begitukah cara kalian menunjukkan kesetiakawanan? Bagus juga..." katanya sambil tersenyum sarkastik. "Jadi sekarang, apa mau kalian? Menyuruhku menerima perasaannya? Atau kalau perlu kami menikah sekarang juga?"

"Tak perlu sampai seperti itu, kali..." sahut Shikamaru sambil memutar bola matanya. "Cukup berikan dia kepercayaan dan kesempatan untuk lebih mengenalmu, dan kau juga bisa lebih mengenalnya. Aku yakin setelah itu, kau akan merubah persepsi-mu terhadapnya. Aku bisa memberimu jaminan."

"Itu saja? Simple sekali ternyata..." ucap Sakura sambil bangkit dari bangkunya. "Tapi sayang… semua itu tidak bisa kukabulkan."

Keempat orang di sana menatap Sakura dengan kaget sekaligus heran. Sementara dia sendiri tak menunjukkan ekspresi apapun.

"Maksudmu apa, Haruno?" tanya Shikamaru.

"Intinya, aku ingin dia berhenti melakukan hal-hal bodoh seperti itu. Dia hanya akan membuang-buang waktu untuk hal yang sia-sia." jawabnya tenang.

"Atas dasar apa kau bilang begitu? Kau tidak pernah mau memberinya kesempatan, bagaimana mungkin kau menganggap semua ini sia-sia?"

"Tanpa harus melakukannya pun aku sudah tahu." sahut Sakura seraya beranjak dari tempatnya.

"Kau keras kepala, Haruno." ucap Shikamaru, menghentikan langkah Sakura. "Keras kepala dan egois."

"Heh, apa kau tidak salah orang, Nara? Memangnya siapa yang lebih keras kepala dan egois? Aku yang bersikeras menolak, atau kalian yang terus-menerus memaksaku meski aku berkali-kali bilang 'tidak'?"

"Setidaknya kami punya alasan," jawab Shikamaru. "Sasuke serius padamu. Dan kami bukan memaksa, tapi memohon. Kau tentu tahu perbedaannya kan?"

Sakura mendengus. "Huh... konyol..."

"Sedangkan kau," lanjut Shikamaru cepat. "kau tidak punya alasan yang jelas. Kalau alasanmu hanya karena kau membenci sifatnya, itu tidak cukup. Si Uchiha itu berjanji akan merubah sifatnya, demi sebuah kepercayaan darimu. Sekarang, apa kau masih punya alasan lain, Haruno?"

Sakura terdiam. Dia menunduk, kedua tangannya terkepal erat.

"Sakura..."

"Aku punya alasan," katanya tiba-tiba, memotong ucapan masih tertunduk. "Aku punya... alasan lain kenapa aku tidak bisa menerimanya. Dan kalian tidak perlu tahu apa itu..."

Ino, Tenten, Hinata, dan Shikamaru hanya bisa diam saat Sakura mulai berjalan keluar kelas, berbelok dan menghilang dari pandangan mereka. Tapi sebelumnya, Shikamaru bisa melihat walau hanya sekilas, ada kepedihan, kekecewaan, dan berbagai emosi lain dari tatapan mata Sakura. Alis Shikamaru berkerut.

'Sebenarnya.. ada apa dengan gadis itu?'

Angel Ruii

"Jadi anak-anak, untuk menebus nilai tes kalian yang kecil-kecil kemarin, aku akan memberi kalian tugas kelompok, berpasangan." kata Orochimaru, guru Biologi yang mempunyai kelainan di mana lidahnya suka sekali menjulur keluar itu.

Seisi kelas mulai ribut. Kebanyakan mereka memprotes keputusan sepihak dari "Siluman Ular Sialan" itu. Salah dia sendiri, dong! Masa' ngasih soal semuanya tentang ular? Gak ada di kurikulum juga. Jangan-jangan tugas kali ini ada hubungannya lagi dengan ular!

"Dengarkan tugasnya baik-baik!" seru Orochimaru keras, membuat kelas kembali hening. "Cari dan buat daftar penyakit mematikan dari seluruh dunia, disertai penjelasan dan cara pengobatannya. Minimal 100 macam untuk satu kelompok!"

Kali ini, mereka benar-benar protes.

"Yang benar saja, Sensei! Kenapa harus sebanyak itu?"

"Benar! Dari mana kita bisa mendapatkan data selengkap itu?"

"Sssh.." Orochimaru mendesis,membuat murid-muridnya merinding. "Aku tidak mau tahu, pokoknya kalian harus dapatkan semuanya! Kalau tidak... akan kujadikan kalian manekin hidup di lab pribadiku. Fufufu…" katanya sambil menjilat-jilat bibirnya dari atas ke bawah.

"Ba-baik, Sensei!" seru mereka serempak, takut dengan ancaman guru psycho itu.

"Khekhe... bagus..." kekeh Orochimaru sambil membuka buku absen. "Baik, kita mulai pembagian kelompoknya. Pertama..."

Satu-persatu kelompok berpasangan untuk tugas sadis itu mulai dibagikan. Banyak yang tidak sesuai harapan. Misalnya Ino yang berharap berpasangan dengan Sai, malah pasangan dengan Neji. Sedangkan Sai dengan Tenten, jadi ceritanya tertukar, nih. Tapi ada juga yang sangat sesuai harapan, seperti Naruto yang pas sekali pasangan dengan Hinata. Tapi untuk yang satu itu, bisa-bisa ada yang keseringan pingsan.

"Lalu, Uchiha Sasuke, dengan..."

para gadis yang belum mendapat pasangan untuk tugas itu pun mulai berdo'a dalam hati agar Orochimaru menyebut nama mereka.

"... Haruno Sakura."

"EEEEEEEHH?"

Yang disebut siapa, yang heboh siapa.

"Kok begitu, Sensei? Nggak adil!"

"Iya, benar-benar nggak adil!"

"Apanya yang tidak adil?" tanya Orochimaru yang kesal atas kelakuan siswi-siswi kelas itu.

"Y-ya... soalnya... soalnya..." sang siswi pun mulai bingung dengan alasan apa yang harus dikemukakannya. Inginnya sih, dia menjawab, 'Karena yang paling cocok dengan Sasuke-kun itu aku!'. Tapi tidak cukup berani, yang ada dia mati di-deathglare siswi-siswi lain.

"Karena mereka sama-sama pintar, Sensei. Pasti nanti nilai mereka yang paling bagus." celetuk salah satu siswa.

Yang lain pun membenarkan hal tersebut. Sedangkan kedua orang yang sedang jadi objek pembicaraan hanya duduk diam, pura-pura cuek.

"Hm, masuk akal," tanggap Orochimaru. "tapi, jika yang pintar kupasangkan dengan yang bodoh, bisa-bisa yang bekerja hanya yang pintar saja. Itu jauh lebih tidak adil, kan?"

Sebagian membenarkan kata-kata Orochimaru, dan sisanya masih tetap protes. Orochimaru terpaksa berpikir keras mencari solusinya. Mengajar di kelas yang berisi banyak ABG labil kadang memang harus menguras otak dan tenaga.

"Yak, sudah kuputuskan. Untuk kalian, Uchiha dan Haruno, cari 100 jenis penyakit yang belum ditemukan obatnya, serta berikan metode pengobatan terbaik menurut pemikiran kalian sendiri, kalian tentunya sanggup, bukan?"

Sadis, itulah yang dipikirkan ke-30 murid di kelas itu. Tugas yang benar-benar berat, sekalipun untuk otak se-jenius Sasuke dan Sakura.

Tapi, tak ada pilihan untuk menolak.

"Baik, Sensei."

Angel Ruii

"Huaaaah~ Orochi-sensei benar-benar sadis! Memberi tugas gak kira-kira! Menyebalkan!" keluh Tenten sambil mengacak-acak rambut cepolnya sampai berantakan.

"Tapi kan... kita bisa mencarinya di internet, Tenten-chan... Di sana biasanya sudah lengkap..." Hinata mencoba memberi solusi.

"Apanya? Tadi aku sudah sempat cari di Google, yang muncul malah: '10 penyakit paling aneh', 'Daftar penyakit mematikan bagi ternak', '10 penyakit paling berbahaya', dan sebagainya. Tidak ada yang mencapai 100. Ada sih daftar 50 penyakit berbahaya, tapi tidak ada penjelasannya..." sahut Tenten lesu.

"M-mungkin dari sumber yang lain ada... Misalnya pada dokter atau ahli kesehatan..." jawab Hinata.

"Yah... benar juga sih. Nanti kita ke rumah sakit saja deh, mewawancarai dokter-dokter di sana. Kalau masih kurang barulah kita ambil dari internet atau buku..." timpal Ino. Keduanya mengangguk.

"Tapi... di antara kita berempat, cuma Sakura yang tugasnya paling berat, ya...?" gumam Tenten.

Mereka bertiga menatap simpati pada Sakura yang tampak tenang membaca buku paket Fisika. Ya, setelah sempat bolos 2 jam pelajaran pertama dan membuat Tenten terpaksa berbohong pada Ibiki-sensei bahwa Sakura sedang berada di ruang kesehatan karena tidak enak badan, dia pun kembali dengan sikapnya yang biasa, stoic dan tak banyak bicara. Entah apa yang dilakukannya selama membolos.

Sadar kalau sedang diperhatikan, dia pun balas menatap ketiganya. "Apa?"

"Anou... Sakura, kau tidak apa-apa jika harus mengerjakan tugas dari Orochi-sensei? Tugasnya kan susah sekali, apalagi kau... ehm, sekelompok dengan Sasuke..." tanya Ino.

Sakura terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Kalian tidak perlu mengkhawatirkanku, aku pasti bisa mengerjakan tugas itu dengan baik."

"Tapi... bagaimana dengan Sasuke...?"

"Orang itu? Memangnya kenapa? Kalian pikir dia bisa berbuat apa terhadapku?" Sakura menatap heran pada ketiganya. Apa mereka segitu khawatirnya pada keselamatan dirinya?

"Bukan begitu sih... Maksudnya – "

"Sakura."

Panggilan seseorang kepada sang Haruno membuat ke-empat gadis itu menghentikan pembicaraan mereka. Sasuke, yang baru saja masuk ke kelas tampak berjalan ke arah mereka. Ino, Hinata, dan Tenten agak menyingkir, tapi tidak terlalu jauh agar masih bisa mendengar pembicaraan duo jenius itu.

"Bagaimana dengan tugas kita?" tanya Sasuke dengan gaya yang dibuat se-cool mungkin.

Sakura menjawab sambil membuka kembali buku Fisika-nya. "Kau maunya bagaimana?"

"Aku bertanya padamu, bisakah kau tidak usah balik bertanya?" sahut Sasuke sambil memutar bola matanya. "Kapan dan di mana kita mengerjakannya?" tanyanya lagi, demi mengalihkan perhatian Sakura yang tampaknya lebih tertarik pada lembar-lembar berisi rumus ketimbang wajahnya yang menurut Sasuke paling tampan di dunia.

Sakura berpikir sejenak. Kemarin Ayame bilang café miliknya akan tutup selama 2 hari, karena dia harus pergi ke kota Kiri untuk membantu resepsi pernikahan sepupunya. Entah ini kebetulan yang baik atau buruk.

"Hari ini, setelah pulang sekolah, di perpustakaan." jawabnya singkat, padat, dan jelas.

"Di perpustakaan? Kau yakin? Kenapa tidak di rumah salah satu dari kita saja?" tanya Sasuke lagi. Uchiha memang suka mencari-cari kesempatan.

"Kau bertanya padaku, kan? Tinggal pilih saja. Setuju, atau kita kerjakan tugasnya sendiri-sendiri." sahutnya ketus.

Sasuke hanya bisa menghela napas pasrah. Sebisa mungkin, ciptakanlah image yang baik di depan orang yang kau suka, walaupun hasilnya mungkin akan sia-sia. "Baiklah, aku setuju."

"Hn." gumam Sakura singkat. Matanya kembali menelusuri barisan kata dan rumus pada buku Fisika-nya.

Tak ada yang menyadari, bahwa ada suatu kegalauan di dalam hati gadis berambut soft-pink itu.

.

.


TBC


YAAAAAAAAHH~! REVIEWWW~! MAAF LEMOT~! HABIS UJIAN~! *dilempar panci sama tetangga gara-gara berisik akibat teriak-teriak gaje*