Yo~! Ini dia C7-nya~!
Masih kurang kilat, 'kan?
Hehehe.
Eh, eng, gak jadi dah… (?) *apaan sih?*
Yasud, langsung aja!
Ini dia! (All: daritadi muter-muter mulu pembicaraannya!)
.
.
Sejujurnya, Sasuke sangat berterima kasih pada Orochimaru, karena berkat dirinya-lah sekarang dia bisa berduaan dengan Sakura di perpustakaan sekolah. Namun, seharusnya Sasuke memang tidak boleh berharap lebih. Nyatanya, daritadi Sakura hanya sibuk sendiri di depan komputer perpustakaan. Jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard, dan sesekali tangannya menggerak-gerakkan mouse tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari monitor.
"Hei..." panggil Sasuke akhirnya.
Tak ada tanggapan. Sakura benar-benar menganggap Sasuke layaknya seekor nyamuk. Tapi, bukan Uchiha namanya kalau secepat itu langsung menyerah.
"Hei, Sakura..."
"Kerjakan saja apa yang harus kau kerjakan, jangan mengganggu orang lain." Sahut Sakura datar, tetap memusatkan perhatiannya pada layar komputer.
"Hhh... apa kau tidak ingin istirahat? Matamu bisa sakit kalau terus-terusan menatap layar komputer."
"Semakin banyak kita membuang-buang waktu, tugas ini akan semakin lama selesai. Kalau kau mau istirahat lakukan saja sendiri, tanpa bantuanmu pun tugas ini bisa kuselesaikan."
"Kau bicara seolah-olah kau yang paling pintar di sini. Memangnya tugas ini hanya untukmu saja?" balas Sasuke sebal.
Sakura menghela napas pelan. "Kalau begitu kerjakan saja bagianmu. Waktu kita hanya dua hari, jika dalam waktu itu belum selesai juga maka kita harus menyelesaikannya sendiri-sendiri, paham?"
"Kau sadar tidak? Walau 'tampaknya' kita mengerjakannya BERDUA, tapi pada kenyataannya kita memang sedang bekerja sendiri-sendiri! Tak ada diskusi atau semacamnya, mana bisa disebut tugas kelompok?"
"Kau ini cerewet sekali. Seperti nenek-nenek saja."
"APA KATAMU?"
"Selain cerewet kau juga berisik. Apa tak bisa kau duduk dengan tenang dan menyelesaikan bagianmu tanpa mengeluh?" balas Sakura sinis.
"Terserah kau mau bilang apa. Aku hanya merasa bosan." ujar Sasuke malas, sambil bersandar sepenuhnya pada punggung kursi yg sedang ia duduki.
Sakura (lagi-lagi) hanya bisa menghela napas. Dia kembali memfokuskan diri pada tugasnya. Tetapi baru sebentar ia memulai, tiba-tiba komputer yang dipakainya nge-hang. Hal itu membuat Sakura agak panik.
"Ada apa?" tanya Sasuke yang heran melihat Sakura menggerak-gerakkan mouse dengan brutal.
"Sepertinya komputer ini nge-hang." jawab Sakura datar.
"Masa'?"
Sasuke pun bangkit dari kursinya, lalu beranjak dan berdiri di samping kursi yang diduduki Sakura, agak ke belakang tepatnya. Tubuhnya dicondongkan ke depan agar bisa mencapai komputer itu.
"Apa sebelumnya data-data ini sudah kau save?" tanya pemilik mata onyx itu sambil mencoba menekan beberapa tombol di keyboard.
"Sudah." jawab Sakura singkat.
"Benar-benar tidak bisa lagi. Kita terpaksa melanjutkannya besok. Lagipula ini sudah sore, sebaiknya kita segera pulang."
"Hn, apa boleh buat."
Sasuke baru akan menegakkan kembali tubuhnya, namun terhenti ketika indra penciumannya memcium suatu aroma yang berasal dari rambut gadis di depannya. Wangi yang manis.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Sakura kaget saat Sasuke yang sudah mensejajarkan kepalanya dengan kepala gadis itu meraih beberapa helai rambut pink-nya.
"Wangi sekali..." gumam Sasuke sambil menghirup aroma manis yang berasal dari rambut Sakura.
Sayangnya, Sakura segera menepis tangan Sasuke dari rambutnya. Kemudian ia bangkit dari kursinya, berbalik dan menatap tajam sang Uchiha.
Sasuke yang sudah berdiri tegak hanya bisa tersenyum dan sedikit salah tingkah. "Maaf, aku hanya penasaran dengan wangi rambutmu itu."
Sakura mendengus, lalu membuang mukanya ke arah lain. "Tak bisakah kau berhenti bertingkah bodoh? Aku jadi ragu kau ini Uchiha sungguhan atau bukan." katanya sambil meraih tas yang diletakkan di kursi sebelahnya, lalu beranjak pergi.
"Tunggu, Sakura." cegah Sasuke. Langkah Sakura pun terhenti. "Boleh aku... tanya sesuatu padamu?"
"... Apa?" balas Sakura tanpa berbalik.
"Alasan..." ucap Sasuke pelan. "Aku ingin tahu alasan lain yang kau maksudkan saat kau bicara dengan Shikamaru tadi pagi."
"Oh... jadi dia cerita padamu, ya?" kata Sakura dingin.
"Maaf kalau kau merasa keberatan. Tapi aku benar-benar ingin tahu alasanmu. Setidaknya... agar aku juga punya alasan untuk menyerah..."
"... Apa benar kau akan menyerah, jika kau tahu alasanku?"
"Tergantung..." jawab Sasuke sambil menatap Sakura yang masih membelakanginya. "Kalau alasanmu bisa kuterima, aku benar-benar akan menyerah. Tapi kalau tidak – "
"Berarti tidak ada gunanya aku memberitahukannya padamu." sela Sakura.
"Kau tidak bisa bilang sia-sia kalau tidak kau coba!" balas sang Uchiha cepat. "Kau tidak boleh lari, Sakura. Kau harus bertanggung jawab, atas perasaanku ini."
"Heh, jadi kau sedang menghakimi aku? Ironis sekali, padahal aku tidak melakukan apa-apa." sahut Sakura sinis.
"Aku tidak bermaksud menghakimi!" bantah Sasuke cepat. "Aku hanya.. ingin mendapatkan penjelasan darimu."
Sakura untuk sementara hanya diam. Perlahan ia memutar tubuhnya, lalu menyandarkan punggungnya ke sebuah lemari besar di sampingnya yang penuh dengan barisan buku. Walau dari samping, tapi Sasuke bisa melihat seulas senyum getir yang samar terbentuk di bibir Sakura.
"... Apa kau pernah membenci seseorang, Uchiha?"
Sasuke yang mendapat pertanyaan mendadak dari Sakura hanya bisa memasang wajah heran. "Kenapa kau menanyakan hal itu padaku?"
"Jawab saja." balas Sakura sambil tetap menatap lantai.
"Yah... kalau satu-dua orang sih pernah." jawab Sasuke walau masih tampak bingung.
"... Kalau kepada banyak orang, pernah?"
"Sebenarnya apa maksud pertanyaanmu itu, Sakura? Kau membuatku bingung!" ucap Sasuke gusar.
"He, ternyata kau bukan tipe orang yang suka berbasa-basi ya, Uchiha?" ejek Sakura, membalikkan kata-kata Sasuke padanya dulu. Sasuke mendengus sebal.
"Jadi intinya apa? Dari tadi pembicaraan kita hanya memutar-mutar di situ saja." protesnya.
"Intinya, aku benci laki-laki."
Hening.
Sasuke menatap Sakura dengan tatapan kaget dan bingung, sedangkan Sakura menatapnya tajam.
"A-apa maksudmu de – "
"Ya, aku mengerti," sela Sakura cepat. "harus ada alasan kenapa aku bisa bilang seperti itu. Dan itu hanya berupa sebuah 'dongeng' yang membosankan. Tapi asal kau tahu, kau adalah orang yang sangat beruntung karena aku sendiri yang akan menceritakan 'dongeng' ini." katanya sambil menatap dingin pada Sasuke. "Kau juga harus bangga, karena kau orang pertama dan satu-satunya yang bisa membuatku mau menceritakan kisah ini."
Sasuke mengernyitkan dahinya. Semua kata-kata Sakura membuatnya bingung. 'Dongeng'? Kisah hidup? Maksudnya apa?
"Kau bingung, eh?" ejeknya, menebak dengan tepat pikiran sang Uchiha. "Kalau begitu, apa masih perlu kuceritakan?"
"Ceritakan!" jawab Sasuke cepat. "Aku harus tahu... semua alasan yang kau sembunyikan selama ini."
"Hn, baiklah... Tapi ingat, setelah ini pastikan mulutmu tertutup rapat-rapat atau kau akan menyesal telah lahir di dunia ini. Mengerti, Uchiha?"
Sasuke mengangguk. Matanya tetap memperhatikan gerak-gerik Sakura yang sedang menarik sebuah buku dari rak di belakangnya, lalu kembali bersandar padanya.
"Dulu," Ia memulai sambil membuka halaman pertama buku bersampul tebal itu. "ada sebuah keluarga kecil yang hidup sederhana. Pada awalnya mereka hidup dalam kebahagiaan, sampai akhirnya... sang ayah pergi meninggalkan istri dan kedua anaknya tanpa pesan dan alasan yang jelas. Di tengah kebingungan dan kesedihan sang ibu dan anak-anaknya, beberapa hari kemudian sekelompok orang datang dan menyeret mereka keluar dari rumah mereka. Orang-orang itu bilang bahwa sang ayah terlilit hutang dan rumah itu beserta isinya telah menjadi jaminan. Sejak saat itu, mereka resmi menjadi gelandangan."
Sakura menarik napas sebelum melanjutkan dengan nada getir. "Hidup di jalanan tentu saja bukan hal yang mudah. Mereka harus bertahan tanpa uang, pakaian, dan tempat tinggal yang layak. Berkali-kali diusir oleh orang yang tempatnya dijadikan 'persinggahan sementara', untuk makan pun harus membongkar tempat sampah di rumah-rumah makan. Harus tahan... saat dipandang menjijikkan oleh orang-orang layaknya anjing-anjing jalanan..."
Sampai di sini, Sasuke bisa mengerti bahwa keluarga yang dimaksud adalah keluarga Sakura sendiri.
"Setelah sekitar 1 bulan hidup terlunta-lunta, secara tidak sengaja mereka bertemu dengan kerabat sang ibu, yang berbaik hati mengajak mereka pulang ke rumahnya di kota sebelah. Tapi ternyata mereka tidak bisa tinggal berlama-lama di sana. Suami sang bibi, adalah orang yang kasar. Sering kali mereka melihat langsung saat suaminya memukul, menendang, dan melakukan perbuatan keji lainnya pada sang bibi. Pada akhirnya, sang suami pergi meninggalkan istrinya bersama wanita lain. Akibat dari itu semua, sang bibi menjadi gila. Rumahnya diambil alih oleh adiknya, dan sekali lagi, mereka harus keluar dari rumah itu kembali hidup di jalanan.
"Beruntung, tak lama kemudian, mereka bertemu dengan sebuah keluarga kaya, yang berbaik hati menawarkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga kepada sang ibu, serta sebuah tempat tinggal yang layak untuk mereka bertiga. Keluarga itu bahkan bersedia menyekolahkan kedua anak tersebut. Hampir 8 tahun mereka bekerja dan menumpang tinggal di sana. Setelah mengumpulkan gaji selama itu, sang ibu akhirnya mampu membeli sebuah rumah kecil yang tak jauh dari sana. Walau begitu, mereka masih dengan senang hati tetap bekerja pada keluarga itu."
"Semua tidak berakhir sampai di sini. Selama bekerja di sana, sang adik berteman dengan putri keluarga itu. Putri itu sangat baik, ceria, dan agak manja. Mereka melakukan banyak hal bersama-sama, entah itu sekolah, bermain, bahkan sang putri sering ikut melakukan pekerjaan rumah tangga walau sudah dilarang berkali-kali. Sungguh, di zaman sekarang mencari keluarga kaya tapi sekaligus dermawan seperti mereka bukanlah hal mudah, benar 'kan, Uchiha?"
"..." Sasuke hanya mampu terdiam. Dia tahu Sakura sedang menyindir keluarganya yang notabene sangat terkenal dengan keangkuhannya.
"Hn, kurasa itu tidak terlalu penting, benar begitu? Baiklah, kita lanjutkan ceritanya. Beranjak remaja, sang putri pun jatuh cinta dan pacaran dengan seorang laki-laki yang lebih tua 4 tahun darinya. Sang adik menyadari kalau laki-laki itu bukan orang baik-baik. Dia sudah berusaha menjelaskan pada sang putri, sahabatnya, mengenai hal tersebut, tapi sang putri tidak percaya. Akhirnya, ucapan sang adik benar-benar terbukti. Sang putri hamil... di usia yang amat muda. Tapi laki-laki tersebut tidak mau bertanggung jawab dan melarikan diri entah ke mana. Sang putri yang sangat terpukul... akhirnya memilih jalan pintas. Dia melompat dari balkon kamarnya di lantai 2, di depan kedua mata sahabatnya sendiri…"
Sasuke tampak terkejut. Dia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Sakura saat sahabatnya melakukan aksi bunuh diri dan disaksikan langsung olehnya.
"Tenang saja, dia tidak mati," lanjut Sakura setelah melihat keterkejutan Sasuke. "Dia hanya... kehilangan janinnya dan mengalami kelumpuhan. Untuk itu, keluarganya harus membawa sang putri ke luar negeri demi menjalani terapi. Sang ibu kehilangan pekerjaan, dan kedua sahabat itu terpisah... sampai saat ini."
"Satu tahun berlalu. Setelah mencari pekerjaan baru, sang ibu dan sang kakak berhasil mengumpulkan modal untuk usaha. Tapi saat itu, sang kakak sedang menjalin hubungan dengan seorang pria rekan kerjanya. Suatu hari pria itu datang ke rumah, bersujud di depan sang ibu dan sang kakak, memohon pinjaman uang yang katanya untuk biaya berobat ibunya yang sakit keras. Mereka membuat banyak pertimbangan. Uang yang mereka miliki adalah modal usaha mereka. Tapi mereka juga tidak mungkin tega membiarkan lelaki itu kehilangan ibunya. Karena selama ini dia menunjukkan gelagat yang baik, mereka pun memberi kepercayaan padanya. Sebagian besar modal mereka dipinjamkan pada lelaki itu. Namun... setelah beberapa hari, tidak ada kabar apa-apa darinya. Dia tidak muncul di tempat kerja, bahkan katanya dia sudah pindah rumah entah ke mana. Dengan begitu, sang ibu dan kakak harus memulai dari awal... mengumpulkan kembali modal yang telah dibawa kabur oleh laki-laki itu. Satu tahun waktu yang mereka habiskan untuk itu, dan akhirnya mereka berhasil membuka usaha sendiri. Kini hidup mereka jauh lebih baik dari sebelumnya, hasil dari kesabaran, keringat, dan usaha mereka. Tamat."
Sakura menutup buku di tangannya, lalu menatap Sasuke yang masih berdiri di tempatnya. Mereka sama-sama diam. Hanya suara detik jam dinding yang mendominasi di sana.
"... Maaf... aku tidak tahu kalau hidupmu sangat menderita." kata Sasuke lirih.
Sakura mendengus. "Heh, mau mengasihani kami? Maaf saja Uchiha, kami sudah terlalu lama hidup dengan belas kasihan. Sekarang kami tidak membutuhkannya lagi, jadi simpan saja rasa kasihanmu itu untuk orang lain."
Sasuke menghela napas. Sakura benar. Keluarganya pasti sudah jenuh terus-terusan dikasihani. Waktu bertahun-tahun itu tidaklah singkat. Kalau jadi Sakura, Sasuke tidak yakin masih mampu bertahan selama itu.
"Jadi... itukah alasanmu kenapa kau membenci laki-laki?"
"Apa perlu kutegaskan lagi?"
"Tapi... kau tidak bisa langsung menyimpulkan kalau semua laki-laki itu brengsek, 'kan? Kau hanya bertemu beberapa orang dan – "
"Kau ingin bilang penilaianku ini salah? Oke, anggap saja aku salah, tidak semua laki-laki di dunia ini jahat. Tapi, salahkah jika aku tidak ingin mengambil resiko?" sahut Sakura. "Aku sudah berkali-kali bertemu laki-laki dengan berbagai tipe. Yang tidak bertanggung jawab, yang kasar, yang seorang penipu, hampir semuanya. Dan aku tidak ingin menjadikan diriku sendiri sebagai 'korban' dari tipe-tipe lain yang mungkin lebih buruk."
"Jadi... kau benar-benar tidak ingin mengubah pemikiranmu itu?" tanya Sasuke lagi.
"... Tidak akan." jawab Sakura setelah jeda sesaat.
Sebenarnya, Sakura pernah mencoba merubah pendapatnya itu. Namun ketika dia baru akan memulai, bayang-bayang masa lalu terus berkeliaran di otaknya. Saat mereka diusir dari rumah mereka, saat mereka tinggal di jalanan, saat mereka lari dari kejaran orang-orang karena kedapatan mencuri makanan di sebuah toko. Masa-masa mencekam itu begitu lekat di ingatan Sakura. Begitu pula dengan isak tangis ibu dan kakaknya, wajah ketakutan bibinya, juga tubuh sahabatnya yang berlumuran darah. Semua itu telah menguasai emosinya sampai-sampai Sakura hampir tidak mampu menahan rasa sakit dan sesak yang menderanya. Dia bahkan pernah berniat membunuh mereka yang telah menghancurkan kehidupannya. Untunglah dia cepat tersadar. Dia tidak boleh berlarut-larut dalam dendam. Masih ada ibu dan kakaknya yang harus ia lindungi. Itulah yang menjadi motivasi Sakura untuk terus berusaha dan belajar. Dia sudah memutuskan untuk menyingkirkan semua emosi dan dendam, serta mengesampingkan hal-hal lain yang tidak perlu karena dianggapnya hanya akan menghambat jalannya. Katakanlah Sakura ambisius atau apapun, tapi dia yang sekarang tak lagi peduli dengan pendapat orang lain. Yang ada di pikirannya adalah, membahagiakan ibu dan kakaknya, tidak lebih. Tapi tetap saja, dendam itu tidak bisa hilang dari dirinya. Dia hanya bisa memendam semua itu jauh di dalam lubuk hatinya, dan berharap dia benar-benar bisa menghapusnya suatu hari nanti.
"Aku tidak pernah menceritakan hal ini pada orang lain sebelumnya, dan sekarang aku sudah menceritakan semuanya padamu. Kurasa kau cukup pintar untuk mengartikannya. Aku tidak akan berhubungan dengan laki-laki manapun, tidak denganmu, atau dengan yang lain." ucap Sakura dingin, namun tegas.
Sekarang, Sasuke yang harus memutuskan.
"Sakura... aku..."
.
.
TBC
Yaaah.. Review dibutuhkan!
