Hosh hosh.. =="
lama banget, ya?

Maaf. Banyak halangan, sih! :p

Halangannya:

1. Aku fokus dan terus belajar buat persiapan ujian.

2. 'sakit' alias ERROR! Kalo gak percaya tanya aja author lain... ^^

Yasud, udahlah bacot-bacotannya! (?)

Happy RnR, minna-saaan~! XD


.

.

"Sakura.. aku.."

Ada jeda beberapa detik. Sasuke belum juga melanjutkan perkataannya, membuat Sakura mulai jenuh untuk menunggu.

"Ada yang ingin kau katakan, Uchiha?"

"..." Sasuke masih terdiam hingga beberapa saat. Perlahan ia mengangkat wajahnya yang semula tertunduk, menatap Sakura. "Apa benar.. sama sekali tidak ada kesempatan bagiku?"

"Kurasa kau sudah tahu jawabannya." jawab Sakura seraya berbalik pergi.

"Tapi," ucap Sasuke sebelum Sakura benar-benar keluar dari ruangan tersebut. "kalau hanya sekedar berharap.. masih boleh, 'kan?"

Sakura menarik napas sejenak sebelum menjawab, "Aku... tidak pernah ingin memberi harapan kepada siapapun."

Dan Sakura benar-benar meninggalkan Sasuke di sana, sendirian.

"Tapi aku... masih ingin berharap, Sakura..." batin Sasuke lirih.

Sementara itu, Sakura yang baru saja keluar dari gerbang Konoha Gakuen sebenarnya juga sedang mengalami pergolakan batin. Dia telah membohongi Sasuke, juga dirinya sendiri. Gadis pink itu bukannya tidak mempercayai Sasuke, dia tahu Sasuke serius dengan perasaannya. Hanya saja, dia terlalu takut untuk mengambil resiko. Dia tahu benar, siapa Sasuke, dan siapa dirinya. Bagi Sakura, dunia pun akan mengecam jika dia berani berhubungan dengan seorang Uchiha. Perbedaan mereka terlalu jauh. Dia belum siap jika harus merasakan rasa sakit yang sama untuk kesekian kali.

Bagaimanapun, Sakura tetaplah manusia biasa. Punya sisi rapuh dalam dirinya walaupun tidak ia tunjukkan. Bisa merasakan sakit, juga rasa bersalah.

'Maafkan aku, Uchiha Sasuke…'

Angel Ruii

"Teme, sebenarnya apa yang terjadi?"

Sasuke menatap sahabat pirangnya itu dengan heran. "Apanya? Kalau bertanya yang jelas..."

"Ayolah Teme... Kau lebih dari tahu maksud pertanyaanku." sahut Naruto sambil memutar bola matanya. "Pasti ada sesuatu yang terjadi antara kau dengan Sakura-chan, buktinya hubungan kalian tampak makin 'dingin' dari sebelumnya..."

"Hn, rupanya kau sadar juga, ya? Kukira otak dangkalmu itu tidak akan peka." sindir Sasuke sambil menyeringai.

"Sialan kau!" sewot Naruto sembari mengerucutkan bibirnya. "Dengar, ya! Walaupun kemampuan otakku di bawah rata-rata, tapi – ah! Kau mencoba mengalihkan pembicaraa,n ya?"

"Berisik, Baka-Dobe!" sergah Sasuke yang segera menyingkirkan tangan Naruto yang menudingnya dengan sangat tidak sopan.

"Temee~ ayo ceritakan padakuu~" melas Naruto sambil menarik-ulur kemeja Sasuke.

"Hentikan tindakan bodohmu ini atau kau akan menyesal, Namikaze!" desis Sasuke kesal.

"Iya, iya... Tapi kau harus cerita, ya?"

Sasuke hanya mendecih lalu kembali menatap lurus ke depan. Taman belakang sekolah yang mereka tempati sekarang ini bisa dibilang lumayan ramai. Oh yeah, apa lagi kalau bukan karena fangirls-nya yang berkeliaran di sana. Sejak Sasuke memutuskan untuk berhenti menjadi 'playboy keren', jumlah fans-nya malah semakin bertambah. Tak urung hal itu sedikit membuat risih sang Uchiha. Padahal, dulu dia begitu bangga dengan jumlah fans yang bejibun banyaknya. Tapi sekarang beda, karena sudah ada Sakura di hatinya.

Ah, ya. Sakura, gadis bermarga Haruno itu. Sudah berhari-hari sejak kejadian di perpustakaan waktu itu. Terakhir kali mereka berbicara satu sama lain adalah esok harinya saat menyelesaikan tugas dari Orochimaru. Setelah itu, tak ada lagi komunikasi di antara mereka. Sampai saat ini.

"Uchiha Sasuke!" seru Naruto, membuyarkan lamunan pemuda bermata onyx itu.

"Berapa kali harus kubilang, jangan-berteriak-dengan-suara-cemprengmu-itu-di-telingaku, BAKA-DOBE!" geram Sasuke penuh penekanan.

"Habisnya, kau bukannya menjawab pertanyaanku tapi malah melamun!" sahut Naruto jengkel.

"Aku ditolak, puas kau?"

Naruto melongo, menatap sahabatnya itu dengan heran. "Ditolak? Lagi?"

Sasuke mendengus. Kata 'lagi' yang dipakai Naruto sedikit membuatnya tertohok.

"Ckckck... benar-benar ironis..." Naruto berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Padahal kurasa, kau ini 'lumayan' juga lho, Teme."

Sang Namikaze menatap intens Sasuke dengan mata sapphire-nya yang indah. Serta-merta bulu kuduk Sasuke berdiri.

"Jangan bilang kau mulai tertarik padaku, Dobe!" ucap Sasuke dengan wajah horor.

Awalnya Naruto tampak bingung, tapi kemudian otak jahilnya mulai bekerja. "Kalau iya, memangnya kenapa? Kau takut, eh, Teme?" katanya sambil menyeringai.

"Jangan bicara yang bukan-bukan, dasar pirang bodoh!" seru Sasuke kesal sambil beringsut menjauh dari Naruto.

"Apanya? Kurasa tidak ada ruginya aku pacaran denganmu. Kau kaya, pintar, dan populer, bukankah itu cukup menggiurkan, hm?" balas Naruto sambil tersenyum genit, sekaligus mati-matian menahan tawa. "Jadi sekarang, kau pilih jadi seme atau uke?"

"Dasar gila!" umpat Sasuke sambil bangkit dan beranjak meninggalkan Naruto yang kini tak bisa lagi menahan tawanya, ngakak guling-gulingan di atas rumput sampai-sampai perutnya terasa kram. Aah... mengerjai Uchiha Sasuke memang terkadang menimbulkan kesenangan tersendiri.

Angel Ruii

"Cih, apa-apaan si Dobe itu! Dasar otak imbisl!" gerutu Sasuke sepanjang perjalanannya kembali ke kelas. Untung saja koridor ini sepi, jadi tak ada yang melihat Uchiha tersebut misuh-misuh.

Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok yang begitu familiar. Yah, siapa lagi yang memiliki rambut pink di Konoha Gakuen ini kalau bukan...

"Sakura..." gumam Sasuke tanpa sadar.

Sedangkan sang objek yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya hanya menatap Sasuke sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan dan akhirnya mereka berpapasan. Jangan harap ada tegur sapa di antara keduanya. Sakura hanya melewati Sasuke, dan Sasuke pun diam saja. Walau demikian, tanpa Sakura sadari pandangan Sasuke tetap mengikutinya.

'Apa selamanya... hubungan kita akan terus seperti ini..'

Sasuke menghela napas berat. Kini ia memandang ke luar jendela di sampingnya. Terlihat beberapa siswa yang sedang bermain baseball di lapangan bawah sana. Salah satu dari mereka memukul bola, tetapi pukulannya malah melenceng jauh menuju...

"SAKURA!"

Brugh!

PRAANG!

Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya, belum menyadari sepenuhnya apa yang baru saja terjadi. Yang dia ingat hanyalah dirinya sedang berjalan saat tiba-tiba ada yang meneriakkan namanya lalu tubuhnya terasa ditabrak dari belakang hingga ia terjatuh berlutut di lantai yang dingin bersamaan dengan suara kaca yang pecah.

"K-kau baik-baik saja, Sakura?"

Sakura tersentak. Cepat-cepat dia berbalik sehingga tangan seseorang yang sebelumnya merengkuh kepalanya pun terlepas. Ia mendapati seseorang di belakangnya itu menatapnya dengan sangat cemas. Sasuke.

"Kau tidak apa-apa 'kan, Sakura? Tidak ada yang terluka, 'kan?" tanya Sasuke lagi.

Sakura belum menjawab. Kini dia sudah mulai mencerna apa yang terjadi barusan. Pecahan kaca... Apa... Sasuke baru saja menyelamatkan dirinya?

Saat ia kembali menatap Sasuke, seketika Sakura terbelalak. "K-kau terluka? Dahimu berdarah!"

"Eh?"

Sasuke pun meraba pelipisnya. Ah, benar, ada luka di sana. Mungkin tersayat pecahan kaca. Darah pun sudah mengalir sampai ke pipinya.

"A-ayo kita ke ruang kesehatan, lukamu harus ditangani!" kata Sakura panik dan serta-merta menarik tangan Sasuke lalu setengah berlari menuju ruang kesehatan.

Sasuke hanya terdiam sambil menatap tangannya yang digenggam erat oleh Sakura. Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya mereka bergandengan tangan, yah... walaupun bukan untuk situasi yang menyenangkan. Tapi tetap saja hal ini mampu membuat Sasuke tersenyum, sejenak lupa dengan luka di pelipisnya.

"Shizune-san, tolong obati – " Sakura terdiam begitu menyadari ruang kesehatan ternyata kosong tanpa penghuni. Ia pun berpikir keras mengenai apa yang harus dilakukannya sekarang.

"Sakura?" panggil Sasuke.

"Kau tunggulah sebentar, aku akan mengobati lukamu."

Genggaman tangan mereka pun terlepas. Sasuke sedikit kecewa, tapi tak ada yang bisa diperbuatnya selain menuruti perintah Sakura dan duduk di tepi tempat tidur. Matanya tetap mengawasi Sakura yang tampak mencari sesuatu di lemari. Gerakannya begitu cekatan namun menyiratkan sedikit kepanikan. Diam-diam Sasuke tersenyum lagi.

Sakura kini berjalan menghampiri Sasuke dengan membawa sebaskom kecil air hangat, handuk kecil, dan kotak P3K di kedua tangannya. Setelah mengambil tempat di samping pemuda tersebut dan meletakkan kotak P3K-nya di atas kasur, ia mulai memeras air dari handuk yang telah dicelupkan ke air hangat.

"Sini, kubersihkan dulu lukamu."

Sasuke hanya mampu terdiam dan terus menatap Sakura selama gadis itu mengusap darah yang ada di pelipis sampai ke bawah dagunya. Rasanya begitu lembut dan hangat, berbanding terbalik dengan Sakura yang dikenalnya selama ini. Inikah sisi lain dari Haruno Sakura yang belum pernah ia tunjukkan?

"... Kau... mencemaskanku ya, Sakura?" tanya Sasuke akhirnya.

Sakura menghentikan kegiatannya sebentar. "Hn, tidak juga." jawabnya datar.

"Itu artinya ada walau cuma sedikit, 'kan?"

"Jangan besar kepala dulu. Aku hanya mengikuti naluriku saja. Setiap kali melihat orang lain terluka, aku..."

Sakura tidak melanjutkan perkataannya. Lagi-lagi wajah Shion – sahabatnya – yang berlumuran darah berkelebat di benaknya. 'Sial!' umpat Sakura dalam hati. Semenjak kejadian 2 tahun yang lalu itu, Sakura kerap tidak bisa menahan dirinya ketika melihat ada orang yang terluka. Mungkin inilah yang membuat ia bercita-cita menjadi dokter. Dia ingin menyelamatkan banyak orang. Dia tak ingin lagi kejadian naas itu terulang. Saat sahabatnya meregang nyawa, dan ia tak bisa berbuat apa-apa.

"Yah... terserah saja. Yang penting... aku senang kau masih mempedulikanku.." ujar Sasuke tulus.

Sakura yang sedang meneteskan obat merah pada kapas hanya diam dan pura-pura cuek. Padahal di dalam hatinya dia sedikit merasa tidak enak dengan pernyataan tulus sang Uchiha. Apa Sasuke masih mengharapkan dirinya? Kalau benar begitu, Sakura tidak bisa membiarkannya.

"Kuharap kau jangan salah paham. Aku hanya membalas budimu padaku. Hidup dengan 'hutang budi' tidaklah menyenangkan, kau mengerti?" ucapnya datar sambil mengoleskan obat merah tersebut ke luka Sasuke.

"Tentu saja aku mengerti. Tapi... apa menurutmu 'balasan' ini sudah cukup untukku yang telah menyelamatkanmu?"

Sakura kini memandang dingin pada Sasuke yang tersenyum padanya. "Kau mengharapkan balasan yang lebih?"

Sasuke tertawa kecil melihat reaksi gadis pink itu. Lucu sekali. "Kalau aku yang dulu pasti akan menjawab 'ya' untuk pertanyaanmu ini. Tapi aku yang sekarang tidak akan melakukannya..."

"..."

"...karena bagiku ini sudah cukup. Kau mungkin tidak akan bisa membayangkan bagaimana perasaanku saat ini. Aku... benar-benar bahagia..."

Oh, tidak. Tolong jangan bicara lagi lebih dari ini. Kau bisa membuat perasaan Sakura makin terombang-ambing, Sasuke!

"Kau tahu, selama beberapa hari ini aku – "

"Kau sadar dengan keadaanmu sekarang? Orang sakit tidak seharusnya banyak bicara." ucap Sakura, bermaksud menghentikan pembicaraan 'ngawur' pemuda di hadapannya.

Sasuke awalnya hanya memasang wajah bengong, tapi akhirnya ia pun tersenyum kecil. "Hmph... baiklah 'Bu Dokter', 'pasienmu' ini minta maaf."

Mungkin jika fans Sasuke yang melihat sang idola berkelakar seperti tadi, mereka akan jejeritan gak jelas saking senangnya. Tapi ini Sakura – Haruno Sakura, apa yang bisa kalian harapkan? Ups, jangan salah. Sakura HAMPIR tersenyum kalau saja dia tidak ingat posisinya saat ini.

Nah, sedikit ada kemajuan, 'kan?

"Sudah selesai." ucapnya setelah memastikan plester pada kapas yang dipakai untuk menutupi luka pada pelipis Sasuke telah terpasang dengan benar. "Ini hanya pertolongan pertama. Kalau kau kurang yakin silakan pergi ke rumah sakit."

Sasuke terkekeh geli sambil memandangi Sakura yang sedang membereskan peralatannya. "Kau ini... Memangnya kau pikir aku ini orang yang suka berurusan dengan rumah sakit? Lagipula, aku percaya padamu, 'Dokter'."

Sakura tak menanggapinya. Dia sibuk mengembalikan peralatan tadi ke tempatnya. Namun tak bisa dipungkiri, Sakura senang karena dipercaya oleh 'pasien' pertamanya. Setelah itu dia berbalik untuk menatap Sasuke.

"Aku masih ada urusan dengan Tsunade-sama, kau boleh kembali ke kelas atau tetap di sini. Terserah kau saja."

Sasuke tersenyum lagi. "Terima kasih banyak, Sakura." ucap Sasuke sebelum Sakura sempat melangkah keluar.

"... Hn, sama-sama."

Sekarang, menurut kalian apakah 'harapan' itu masih ada?

.

.


TBC


Nah, nah, nah! PENGUMUMAN lagi, nih! Chapter depan ada kemungkinan update-nya makin lama dari hapter ini. Dikarenakan author lagi siap-siap buat ngehadapin UN sama lagi dalam masa hukuman lagi. T,T *resiko slalu cari masalah*

Yosh, REVIEW! Kalo gak review, gak akan update! *plak*