UN selesai! UN SELESAAAAAAAAI~ XD

Tapi-pi-pi… pas UN rasanya seru banget, deh… Hueee~ pingin UN lagi~ T,T *hah?*

Okeh lah gak usah banyak curcol gaje, ini chappie kesembilannya. =A="

RnR, yah… kalo gak, gak akan dilanjut! *PLAAAAK*


.

.

"APA? Kenapa bisa sampai jatuh? Kaa-san tidak apa-apa, 'kan? Ada yang terluka?"

"Kaa-san tidak apa-apa, Sakura-chan... Hanya sedikit terkilir di kaki kanan..."

"Walau hanya terkilir tapi tidak boleh dianggap remeh, Kaa-san! Apa sudah di-cek ke rumah sakit?"

"Hhh... Rasanya tidak perlu sampai ke rumah sakit, deh, Sakura-chan.."

"Kaa-san!"

"Ah – lho, Kaa-san? Eh! H-halo, Sakura? Ini Nee-san."

"Konan-nee! Kenapa kau tidak membujuk Kaa-san untuk berobat ke rumah sakit? Kalau ternyata lukanya lebih parah, bagaimana?"

"Sudah, kok, Sakura... Tapi, percuma saja. Kau tahu sendiri 'kan kalau Kaa-san paling tidak suka masuk rumah sakit...?"

"Ck, sekarang Kaa-san mana? Biar aku saja yang membujuknya."

"Kaa-san, Sakura mau bicara. Eh, kenapa? Oh, iya, baiklah. Halo, Sakura? Kaa-san menolak bicara denganmu, katanya kalau kau yang bicara bisa-bisa terjadi perdebatan panjang, hahaha..."

"Hhh... Dasar Kaa-san... Ya sudah, besok aku akan pulang."

"EEH? Pulang? Kau serius, Sakura?"

"Tentu saja, Nee-san. Aku khawatir pada Kaa-san kalau tidak memastikan keadaannya secara langsung. Aku tidak akan bisa tenang."

"Tidak apa-apa? Kau tidak akan sekolah?"

"Mulai besok 'kan golden week, Nee-san... Kau lupa, ya?"

"Eh, iya, ya? Tapi, Sakura–"

"Hei, kalian tidak suka aku pulang ke rumah?"

"T-tentu saja tidak begitu, Sakura! Kami senang sekali, kok! Ya sudah, besok kami tunggu, ya?"

"Hn, iya. Aku harus kembali ke kelas. Tolong jaga Kaa-san baik-baik, Nee-san."

"Ssstt.. Tidak kau minta pun aku pasti menjaga beliau dengan sebaik-baiknya! Sudah, ke kelasmu sana, belajar yang benar. Jaa ne..."

"Jaa..."

Klik!

Sambungan terputus. Sakura menatap layar handphone sederhana miliknya dengan senyum tipis. Ia memasukkannya ke saku seragam sebelum tersentak kaget melihat seseorang yang berdiri tak jauh dari tempatnya sekarang.

"Sedang apa kau di sana, Uchiha?" tanyanya dengan suara dingin.

"Hanya kebetulan lewat." jawab Sasuke santai sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Besok kau akan pulang ke Ame?"

'Sudah kuduga, dia menguping pembicaraanku.'batin Sakura. "Bukan urusanmu."

Sakura berjalan melewati Sasuke, dan tak terlihat lagi setelah berbelok di tikungan koridor. Sasuke meraba pelipisnya yang masih tertutup perban. Kejadian kemarin terulang lagi di benaknya. Hei, bukankah aksinya kemarin sangat keren? Apa yang kurang, coba? Lalu, kenapa sikap Sakura belum juga berubah – walau hanya sedikit?

"Fuhh... Ternyata tidak semudah yang kuduga…" gumamnya sambil menghela napas berat.

Yah, kau masih harus berjuang, Uchiha Sasuke. Hati seseorang yang telah berkali-kali disakiti, tidak akan luluh semudah itu, 'kan?

"Hn, baiklah kalau begitu." Ia menyeringai misterius.

Gawat... Bukankah sudah jadi rahasia umum bahwa Uchiha itu terkenal dengan kelicikannya?

Angel Ruii

"Eeh? Pulang ke Ame?" seru Ino, terkejut.

"K-kota Ame itu... kota asalnya Sakura-chan, 'kan?"

"Benar, Hinata." jawab Sakura sambil tersenyum.

"Wah, aku belum pernah pergi ke Ame..." gumam Tenten.

"Aku juga... Ah, Sakura, apa benar kalau di Ame setiap hari selalu turun hujan?" tanya Ino penasaran.

Sakura tersenyum geli atas pertanyaan Ino yang polos itu. "Tentu saja tidak, Ino... Curah hujan di Ame memang sangat tinggi, tapi itu bukan berarti di sana selalu turun hujan."

Ino hanya bisa ber-'ooh' ria. Tenten tersenyum mengejek padanya, dan dengan senang hati dibalas deathglare oleh Ino.

"K-kota Ame itu... tempatnya seperti apa, Sakura-chan?" tanya Hinata dengan tatapan ingin tahu.

"Iya, Sakura, berikan sedikit gambaran tentang tempat tinggalmu~!" pinta Ino, disertai anggukan oleh Tenten.

Sakura tersenyum tipis. Diceritakannya secara sekilas mengenai kota kecil di perbatasan negara Hi itu. Ame hanyalah kota biasa, dengan kehidupan masyarakat yang biasa pula. Mungkin tidak ada yang istimewa kecuali sebuah PLTA yang dibangun pada suatu waduk buatan di sisi baratnya. Curah hujan yang tinggi benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh warga di sana. Bisa dibilang cadangan air maupun listrik sudah terjamin ketersediaannya. Selain dari itu semuanya standar saja, bahkan dalam hal pendidikan. Taman kanak-kanak, SD, SMP, dan SMA masing-masing hanya ada sebuah. Hal itu terbilang wajar mengingat jumlah penduduknya yang tidak terlalu banyak. Yang penting, mereka tidak hidup dalam kekurangan.

Angel Ruii

Keesokan harinya, Sabtu, jam 08.36.

Sakura menghela napas lega begitu ia menduduki kursi penumpang kereta yang akan membawanya pulang ke Ame, ke rumahnya. Penumpang kereta ini terbilang sedikit. Sebagian dari mereka mungkin akan turun di stasiun berikutnya atau berikutnya lagi. Maklum saja, tak banyak orang yang berminat pergi ke Ame kecuali benar-benar mempunyai keperluan penting. Tapi hal ini justru disyukuri oleh Sakura, karena secara otomatis dia tidak perlu berdesak-desakan dengan penumpang lain.

"Maaf, Nona. Boleh saya duduk di sebelah Anda?"

Suara itu, berat dan dalam, khas laki-laki. Tapi bukan itu yang membuat Sakura harus membuka matanya yang semula terpejam, melainkan pemilik suara tersebut yang terdengar sangat familiar.

"K-kau?" Sakura tak kuasa menyembunyikan rasa terkejut pada suaranya. Jelas saja, siapa yang tidak kaget jika orang yang paling tidak ingin kau temui malah muncul tepat dihadapanmu tanpa kau duga sebelumnya?

Sang oknum terkekeh pelan sembari duduk di samping gadis itu. "Reaksimu itu lucu sekali, Sakura."

"A-apa yang kau lakukan di sini, Uchiha?"

"Kenapa malah bertanya? Memangnya aneh jika aku naik kereta ini, hn?"

Sakura memicingkan matanya. Aneh? Ini namanya bukan aneh lagi, tapi sangat aneh! Kalau orang lain, sih, Sakura tidak akan heran. Tapi, hei! Ini Uchiha Sasuke, lho, putra bungsu klan Uchiha yang terkenal itu! Coba, deh, pikir benar-benar. Uchiha dan kereta yang tidak matchingsama sekali, 'kan? Dan yang lebih tidak masuk akal, ini di kereta kelas ekonomi. Sekali lagi, kelas EKONOMI! Coba, bagaimana ceritanya seorang Uchiha bisa naik kereta yang notabene khusus untuk masyarakat kelas menengah ke bawah?

"Apa yang kau rencanakan, Uchiha?"

"Berlibur."

"Heh, berlibur katamu? Kurasa kau keliru, kereta ini tidak akan berhenti di tempat wisata, Tuan Uchiha." sahut Sakura ketus.

"Pikiranmu terlalu sempit, Nona Haruno. Apakah ada peraturannya bahwa berlibur harus selalu ke tempat wisata?" balas Sasuke sambil tersenyum mengejek.

"Lalu ke mana tujuanmu sebenarnya?"

"Wah, wah... Sejak kapan kau peduli padaku, Sakura? Sepertinya kau begitu ingin tahu ke mana arah tujuanku, hn?"

'Karena aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu, Uchiha sialan!'rutuk Sakura dalam hati.

Setelah puas memaki si pantat ayam, tentunya masih di dalam hati, ia pun bangkit dari duduknya, membuat Sasuke menaikkan alisnya heran.

"Kau mau ke mana, Sakura?"

"Ke manapun, asal jauh-jauh dari orang sepertimu." sahutnya ketus.

Nyatanya, Haruno memang tidak bisa jauh dari Uchiha. Ehm, maksudnya, Sakura hanya pindah ke kursi di seberangnya saja. Tidak jauh, bukan?

Sasuke menyeringai.

Sakura mendelik.

Kereta pun mulai bergerak, memulai perjalanan selama 3 jam yang tidak akan setenang biasanya, paling tidak bagi Haruno Sakura.

Angel Ruii

Deru angin seolah menyambut kedatangan Sakura di kota kecil itu, Ame. Ia tampak melangkah dengan tenang, sementara tangannya asyik mengetikkan pesan singkat di ponselnya untuk memberitahu kakaknya bahwa dia sedang dalam perjalanan ke rumah. Sembari .menghembuskan napas perlahan ia mendongak ke atas, menatap langit yang mulai diselimuti awan kelabu.

"Sepertinya akan turun hujan.."

Sakura pun mempercepat langkahnya, tak ingin mengambil resiko terguyur hujan sebelum sampai di rumah. Benar saja, beberapa menit kemudian rintik-rintik hujan mulai jatuh menghujam jalanan yang masih lembab, sisa hujan di hari sebelumnya. Kini Sakura berlari demi menghindari siraman sang air langit tanpa ada niatan untuk berteduh. Tanggung 'kan, 200 meter lagi ia sudah bisa sampai di rumahnya.

Untungnya ia tiba tepat waktu. Hujan benar-benar telah turun dengan derasnya, dan ia sudah aman karena telah menginjakkan kakinya di teras rumah. Setelah mengusap wajah dan kedua lengannya yang basah dengan asal-asalan, ia pun menekan bel di dekat pintu. Sekian detik kemudian, pintu bercat cokelat itu terbuka dan memperlihatkan sesosok gadis muda, dengan rambut berwarna deep bluedan wajah yang... yah, cantik.

"Sakura!" pekiknya senang seraya berhambur memeluk sang adik.

"Apa kabar, Konan-nee?" ucap Sakura sambil balas memeluk sang kakak.

"Aku baik, kau sendiri? Ya ampun, kau basah, Sakura! Kenapa tidak berteduh dulu, sih? Nanti kau bisa sakit lho! Apa kau tidak ta–"

"Ah ya, kurasa resiko sakitku akan semakin meningkat jika kita hanya berdiri di sini terus, Nee-san..." ujar Sakura, memotong omongan kakaknya.

"Kau ini, dasar..." sungut Konan sambil menyentil dahi Sakura yang agak... ehm, lebar. "Ya sudah, ayo masuk ke dalam, Kaa-san sudah menunggumu."

"Hn."

Tanpa menunggu lebih lama lagi, kakak-beradik itu pun masuk ke rumah mereka yang sederhana. Tidak seperti udara di luar, di dalam sana terasa lebih hangat. Hm, terima kasih pada penghangat ruangan yang masih bekerja dengan baik meski sudah terbilang kuno.

"Sakura-chan!"

Tampak seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan yang sedang terbaring di sofa tunggal dalam ruangan itu. Wajahnya sumringah menyambut putri sulungnya yang baru saja tiba, mengabaikan rasa nyeri pada pergelangan kaki kanannya yang diperban.

"Aku pulang, Kaa-san..."

Sungguh, Sakura dengan sekuat tenaga menahan air mata agar tidak mengalir melewati pelupuk matanya saat ia merengkuh tubuh sang ibu. Betapa rindunya ia pada sosok wanita yang paling dicintai dan dihormatinya itu, namun ia harus tetap terlihat kuat. Sakura tidak ingin siapapun mengkhawatirkannya.

"Kau baik-baik saja kan, Sayang? Tidak ada masalah di tempat tinggalmu yang baru, hm?"

"Kaa-san ini... selalu menanyakan hal yang sama setiap kali menghubungiku, apa Kaa-san tidak sadar?" ucap Sakura sembari tersenyum lembut.

"Hei... Kaa-san ini mencemaskanmu... Kau tinggal di tempat yang jauh dari kami, sendirian tanpa seorang pun yang bisa menjagamu..." keluh sang ibu, Haruno Rin.

"Hm, Kaa-san pikir kenapa aku begitu yakin untuk pergi ke Konoha? Itu karena aku sudah mampu menjaga diriku sendiri, Kaasan."

"Tapi tetap saja, Sakura... Kau itu anak gadis, dan kau tinggal sendirian di kota besar. Apa kau bisa menjamin tidak akan ada sesuatu yang buruk menimpamu suatu saat nanti?"

"Aku bukan a–"

Ting... tong...

Suara bel yang berbunyi tiba-tiba sontak memutuskan perdebatan kecil antara ibu dan anak tersebut. Sakura dan Rin saling berpandangan heran.

"Siapa yang datang bertamu saat hujan begini?" ujar Konan yang baru muncul dari dapur dengan membawa 3 cangkir teh hangat.

"Biar aku yang membuka pintunya." kata Sakura seraya bangkit dari sisi ibunya, melangkah cepat seiring dengan suara bel yang berbunyi untuk kedua kalinya.

"Ya, siapa–"

Sakura menganga, melotot dengan tampang horror di ambang pintu. Benar, ini lebih horror dibanding saat menonton film The Ring, atau saat melihat Orochimaru-sensei berenang dengan memakai bikini…

"Siapa yang datang, Sakura?"

Ini... malapetaka.

Dan sekarang… TBC…

.

.


Nyaaaaann… X3

Update-nya telat satu minggu, loh! Soalnya, harusnya ini diupdate sejak seminggu yang lalu. Yah, berhubungan aku ini author pelupa binti pemalas, akhirnya gak sempet update fic ini… dan malah diupdate minggu ini… *dilempar ke Jepang #maunya!*

Yasud, review yaaa… X3