Nyaaan~ Maafkan daku, reviewers coretkatrokcoret semuanya! *dihajar massa sampai mati*
Harusnya ini chappie diupdate pas hari Minggu 2 hari yg lalu~ "orz
Tapi, aku malah lupa "orz *kagak becus*
Ya sudah, nasi sudah menjadi bubur, dan bubur sudah dimakan(?)… Jadi tak perlu kalian pikirkan lagi soal keterlambatan meng-update pada chapter ini. *bahasanya ajib banget(?)!*
Okeeh~ ini dia, C11~! XD
.
.
"Sakura... bisa tolong pelankan jalanmu? Kita tidak sedang ingin pergi berperang, 'kan?"
Gadis itu langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang dengan wajah berang.
"Kau masih berani bicara, huh? Sejak awal kedatanganmu itu hanya membawa bencana! Kau terus mengusikku, mengikutiku, dan sekarang kau mengacaukan liburanku! Kau pikir aku senang, apa? Tidak! Aku sangat muak dengan semua tingkahmu!"
Semua kalimat cacian itu tertelan begitu saja. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Sakura. Yang ada hanya tatapan tajam dan geraman tertahan.
"Diam dan ikut saja, Uchiha!"
Ia melanjutkan kembali jalannya, masih dengan langkah lebar dan cepat. Sasuke terpaksa harus setengah berlari untuk mengejar gadis itu.
"Jalan ini masih licin dan becek. Nanti kalau kau terpeleset, bagaimana?"
"Aku tidak akan terpeleset semudah it – waa ...!"
"Eh?"
'Greb!'
Hening.
Sasuke kaget, Sakura lebih kaget!
"Ini yang kau bilang 'tidak mudah terpeleset', hn?"
Uchiha selalu saja suka menggoda.
"L-lepas!"
Sedikit gugup, Sakura kembali berdiri membelakangi pemuda emo itu. Wajahnya memerah menahan malu.
'Sial! Kenapa harus terpeleset di saat seperti ini, sih!'
'Kesempatan itu memang selalu datang di saat yang tak terduga! Terima kasih, Kami-sama~!'
Kontras sekali.
Angel Ruii
"Eh? Itu seperti Sakura-chan?"
"Mana? Mana?"
"Sakura? Itu benar-benar Sakura!"
"Sakuraaaaa..!"
Reuni itu memang menyenangkan. Walau baru sebulan, tetap saja ada rasa rindu yang membuncah. Seperti sekarang ini. Ada sekitar empat… ah, lima orang. Ya, lima orang itu kini terburu-buru menghampiri seseorang yang begitu familiar bagi mereka.
"Kalian...?" ucap Sakura, kaget.
Salah satu dari mereka langsung menghambur memeluk Sakura. Tak hanya itu, ia juga memberondong Sakura dengan berbagai pertanyaan
"Sakura! Ternyata benar ini kau! Kapan kau pulang? Kenapa tidak mengabari kami? Bagaimana sekolahmu di Konoha? Lalu kapan kau –"
"Sasame! Kalau bertanya itu satu-satu, dong!" sergah temannya yang lain.
Gadis yang dipanggil Sasame itu hanya cengengesan saja menanggapinya. "Hehehe... Maaf deh..."
Sakura yang sudah tersadar dari kagetnya mulai mengabsensi mereka satu-persatu. Ada Sasame, gadis yang memeluknya tadi. Lalu ada Tayuya yang telah menegur Sasame. Selain itu, ada Hotaru, Kin, dan Karin. Teman-temannya di Ame.
"Kalian, kenapa ada di sini?" tanyanya kemudian.
"He? Ayolah Sakura, memangnya apa yang akan dilakukan orang-orang saat libur seperti ini?" jawab Kin sembari menaik-turunkan kedua alisnya secara bergantian.
Sakura hanya tersenyum menatap kelimanya. Mereka semua adalah temannya semenjak ia duduk di sekolah menengah pertama. Sebelumnya, dia tak mau dan terlalu takut untuk berteman dengan siapapun. Shion, sahabatnya itulah yang paling berperan dalam mengenalkan dirinya pada mereka. Tanpa jasanya itu, mungkin Sakura akan menjadi gadis paling kesepian di dunia ini.
"Ckckck, kau sama sekali tidak berubah ya, Sakura... Oh ya, kau belum menjawab pertanyaan kami! Kapan kau pulang ke sini?" tanya Kin lagi.
"Belum lama, aku baru pulang hari ini."
"Haaaah... kau ini, Sakura! Setidaknya beri kabar pada kami kalau kau akan pulang! Kau juga tidak pernah menghubungi kami selama di Konoha, kami pikir kau sudah melupakan kami..." sungut Karin sambil menaikkan kacamatanya yang melorot.
"Hahaha... maaf, kepulanganku ini memang mendadak. Aku terlalu sibuk dengan sekolah dan pekerjaanku, jadi tidak sempat menghubungi kalian..." jawab Sakura canggung.
"Kami tak butuh permohonan maafmu! Pokoknya, setelah kau kembali ke Konoha, kau harus selalu menghubungi kami! Kalau tidak, aku akan menerormu setiap hari dan –"
"Diamlah, Sasame!" tegur Kin. Yang ditegur pun hanya bisa cemberut. "Sakura, jangan dengarkan kata-katanya. Kau tahu 'kan, bicaranya suka ngelantur setiap kali bermasalah dengan Kidoumaru si mulut buaya itu. Nah, yang penting itu kau konsentrasi saja dengan sekolahmu, kalau ada waktu luang baru menghubungi kami, oke?"
"Hm, baiklah, aku mengerti. Terima kasih atas perhatian kalian semua..." balas Sakura sembari tersenyum haru.
"Hehehe... tak usah bersikap seperti itu! Kami kan bukan orang lain bagimu!" ucap Tayuya sambil menyeringai, dibarengi dengan menepuk-nepuk pundak Sakura tanpa mempertimbangkan besar tenaga yang digunakannya.
"Eh, ngomong-ngomong, sedari tadi aku merasa sedikit aneh..." kata Hotaru, yang sebelumnya hanya diam mendengarkan, setengah berbisik.
"Apanya yang aneh, Hotaru?" tanya Karin mewakili teman-temannya.
"Entahlah, tapi aku benar-benar merasakan sesuatu! Terasa suram dan menyedihkan, seperti... itu!" tunjuknya pada sesosok makhluk di bawah pohon jambu.
"Wuaaakh...!" jerit mereka kaget – kecuali Sakura.
Ngeri, ah. Sejak kapan di Ame ada penampakan seperti itu? Lagian, ini 'kan masih sore?
'Itu sih... bukannya si sialan Uchiha?' batin Sakura sweatdropped.
Waw, auranya negative, nih! Beneran deh, miris banget keadaan si Uchiha, seolah-olah ia baru saja menelan semua kekejaman di dunia ini. Padahal cuma dikacangin 'sebentar' oleh Sakura. Ngambek, eh?
"Apa lagi yang dilakukan orang itu..." desis Sakura geram. Dalam hati ia mengutuk agar sang Uchiha lenyap dari muka bumi ini, SECEPATNYA!
"Lho, kau kenal dia, Sakura?" tanya Karin yang memiliki pendengaran paling tajam di antara mereka semua.
Menanggapi pandangan heran sekaligus penasaran dari teman-temannya, Sakura hanya menghela napas berat. Firasatnya mengatakan bahwa akan ada kehebohan massal setelah ini.
"Sakura! Kenapa diam saja, sih!" protes Sasame sebal.
Sembari tersenyum paksa daripada menanggung maluia pun menjawab, "Entahlah, aku tidak ke –"
"Selamat siang, semuanya..."
Nah lho, kapan pula dia sampai di sini?
"Aku Uchiha Sasuke, 'teman' Sakura dari Konoha. Salam kenal."
Ah, lihatlah charming smileitu...
"Kyaaaa~ salam kenal, Sasuke-kun!"
Apa Sakura bilang, heboh, 'kan?
"Sakura! Kenapa kau tidak bilang punya teman setampan ini! Kau bermaksud menyimpannya untuk dirimu sendiri, huh?"
Mendengar itu, urat-urat kekesalan mulai bermunculan di kepala si pinky-head girl. "Aku-tidak-menyimpan-atau-melakukan-apapun-yang-kalian-maksudkan! Dan kau!" matanya memandang tajam pada Sasuke. "Jangan pernah seenaknya lagi mengaku sebagai temanku, paham?"
"Hn? Bukannya kita memang berteman, Sakura?"
"Heh, kurasa kau sedang bermimpi, Uchiha."
"Siapa yang bermimpi? Aku sadar begini kok."
"Dan hebatnya ucapanmu seperti orang mengigau, sungguh mengagumkan."
"Kenapa sih, kalau terhadapku bicaramu selalu saja ketus?"
"Kalau saja kau tidak bersikap menyebalkan maka aku juga tidak akan memusuhimu."
"Itu 'kan hanya alasanmu saja, toh, mau aku bersikap sebaik apapun kau tetap akan memusuhiku, benar, 'kan?"
"Kalian ini sedang apa, sih?"
Keduanya serempak berpaling ke arah kelima gadis yang menatap mereka dengan heran.
"Bukan apa-apa." jawab keduanya kompak.
Sakura menatap Sasuke sengit seolah berkata 'jangan-meniru-ucapanku!', yang dengan senang hati dibalas oleh Sasuke menggunakan tatapan 'memangnya-siapa-yang-menirumu?'
"Yare yare~ kalian kalau mau tatap-tatapan jangan di sini dong..." ujar Tayuya sweatdropped.
"Sakura-chan, kenapa sinis sekali sama Sasuke-kun? Kalian tidak akur, ya?"
"Sakura, Sakura... Dari dulu kau selalu galak pada cowok manapun, kau berniat jadi perawan tua selamanya, huh?"
"Iya, nih! Dasar Sakura, masa' yang begini saja masih kau tolak juga?"
"Ya sudah! Kalau Sakura tidak mau Sasuke-kun buatku saja!" ucap Karin sembari melompat dan memeluk lengan Sasuke dengan gemas.
"TIDAK BOLEH!" teriak Sasame, Kin, Tayuya, dan Hotaru bersamaan. Mereka langsung menarik Karin menjauh dari Sasuke.
"Nah, Sakura, Sasuke-kun, kalian lanjutkan saja 'kencan' kalian, ya! Kami tidak akan mengganggu, daaah..!" teriak Sasame dan kawan-kawan, masih tetap menyeret Karin.
"Iya, sampai jumpa semuanya..." ucap Sasuke sambil melambai ringan dan tersenyum tipis.
Ia masih memandang mereka yang makin menjauh. 'Syukurlah, ternyata Sakura tidak kesepian selama ini.' batinnya senang.
Ia pun berbalik untuk menghadap Sakura. "Nah, Saku – lho, Sakura?"
Ternyata gadis pinkitu sudah tak ada lagi di situ. Ia sudah berada sekitar 20 meter dari tempatnya semula, berjalan cepat meninggalkan Sasuke.
"Ck, Sakura!"
Cowok emo itu segera berlari menyusul Sakura. Dia merutuk dalam hati, tega sekali gadis itu meninggalkannya diam-diam.
"Hei, Sakura!" panggilnya saat sudah berada di belakang gadis itu. "Kenapa kau meninggalkanku di sana? Untung aku cepat melihatmu, kalau tidak 'kan aku bisa tersesat!"
"..."
Melihat Sakura yang masih terus berjalan tanpa menjawab apa-apa, membuat Sasuke -dengan seenaknya- menyimpulkan sesuatu. "Sakura, kau marah, ya?"
Sakura tiba-tiba berhenti, membuat Sasuke ikut menghentikan langkahnya. Ia lalu berbalik, dan menatap tajam mata onyx Sasuke dengan mata emerald-nya.
"Berikan alasan kenapa aku harus marah padamu."
"Eh?" Sasuke jadi merasa bingung sendiri, namun ia tetap menjawabnya. "Err... karena aku akrab dengan teman-temanmu, mungkin? Atau karena gadis berambut merah tadi memelukku?"
Sakura terdiam sejenak, tapi kemudian tersenyum sinis. "Heh, konyol."
Ia pun melanjutkan kembali langkahnya walau tak secepat tadi. Sasuke hanya bisa menggaruk kepalanya dengan agak frustasi.
"Hhh... Sakura~!"
Jam di sekitar taman menunjukkan pukul 4 kurang 5 menit. Kedua insan itu masih berjalan dalam keheningan. Sesekali Sasuke melirik gadis di sampingnya yang terus memasang wajah suntuk. Sedangkan dia sendiri dilirik banyak orang, entah itu gadis muda atau ibu-ibu yang memandangnya penuh nafsu, atau pun para lelaki yang juga memandang penuh nafsu; nafsu membunuh.
"Sakura..." panggilnya lemas.
"Apa?" sahut Sakura datar.
"Apa tidak ada tempat lain yang lebih menarik? Aku bosan kalau hanya berkeliling di sini saja."
Sakura memutar bola matanya, jengah dengan keluhan sang Uchiha. "Kalau kau bosan ya sudah, pulang saja ke Konoha!"
"Ah, kudengar di sini ada waduk dan kincir air untuk PLTA, 'kan? Ayo kita ke sana!" ajak Sasuke yang tiba-tiba jadi bersemangat.
Setelah menghela napas berat karena ucapannya tak ditanggapi, Sakura pun menjawab. "Tempat itu letaknya jauh dari sini, ada di belakang desa. Memangnya kau sanggup berjalan ke sana? Sedangkan berkeliling taman seperti ini saja kau sudah mengeluh."
Sasuke mendengus kesal karena sindiran Sakura. 'Dasar menyebalkan!'batinnya mencelos. Pikirnya, di sini dia adalah tamu, jadi seharusnya 'tuan rumah' melayaninya dengan baik, iya, 'kan?
Sayangnya, dia tidak berpikir siapa yang sebenarnya tidak tahu diri di sini.
"Kalau mau ke tempat lain... kurasa aku tahu tempatnya."
"Eh?" ucap Sasuke kaget. Ia menatap Sakura bingung.
"Hn, ayo jalan."
Angel Ruii
"Wow... keren sekali!"
Sakura hanya memutar bola matanya, bosan atas tingkah Sasuke yang menurutnya... yah, bisa dibilang udik, katro, ndeso, atau apapun namanya. Di hadapan mereka kini terbentang sebuah danau yang tidak terlalu luas. Di sekeliling danau terdapat barisan pohon-pohon yang menghijau. Airnya jernih, tampak biru kehijauan jika dilihat dari jauh. Indah sekali.
"Kenapa kau tak bilang ada tempat sebagus ini di Ame? Kalau tahu kan kita bisa ke sini sejak awal."
Sakura menatap Sasuke malas, lalu berkata, "Memangnya siapa yang tadi memintaku ke taman?"
"Ng... i-ibumu, 'kan?" jawab Sasuke ragu-ragu.
"Nah, kalau begitu salahkan saja dia." cetus Sakura langsung.
"M-mana bisa begitu..." jawab Sasuke sweatdropped.
Sakura melangkah menuju sebatang pohon yang telah tumbang dan mengering. Ia mendudukkan diri di atas batangnya yang melintang setinggi hampir setengah paha orang dewasa.
"Kau sering datang ke sini, Sakura?" tanya Sasuke sambil ikut duduk di sebelah Sakura. Keduanya menatap lurus ke depan, menikmati keindahan pemandangan yang tersaji begitu alami.
"Hn, lumayan."
"Aa..." gumam Sasuke. "Oh ya, kenapa di sini sepi sekali?" tanyanya lagi sembari melihat sekeliling. Memang hanya ada mereka berdua di sana. Padahal taman yang tadi hanya berjarak 300-an meter dari danau itu.
"Tidak ada yang berani datang ke sini."
"Kenapa?"
"Karena orang-orang bilang tempat ini angker."
"Hah?"
Sasuke tersentak kaget. Bulu kuduknya sontak berdiri begitu saja. Dia memang agak sensitif dengan hal 'begituan'. Bukannya takut lho, cuma ngeri aja... Eh, lalu apa bedanya?
"Y-yang benar?" tanyanya gugup, resah dan gelisah.
"Mungkin."
Ampun, makin horor aja, nih. Mana Sakura ngomongnya datar banget, tanpa ekspresi lagi. Lho, memang biasanya begitu, 'kan?
"Kau takut, eh?"
"T-tidak!"
Bohong, tuh!
"Katanya di sini ada hantu wanita yang tenggelam di danau puluhan tahun."
"O-oh ya?" ucap Sasuke berusaha setenang mungkin, padahal sebenarnya udah kebelet pipis, tuh.
"Hn, dan dia paling suka mengganggu laki-laki."
'Mati aku!' batin Sasuke histeris. Wajahnya yang memang dari lahir sudah agak pucat, kini makin memucat. Aah, semoga dia bisa menahan pipisnya.
Diam-diam Sakura menyeringai. Oh, ya ampun, dia hampir tidak bisa menahan tawanya lagi. Kalau lebih dari ini bisa-bisa image-nya hancur seketika. Jadi, mungkin sudah saatnya mengakhiri semua ini?
"Huh, lihat wajahmu itu, menggelikan sekali."
"Eh?" ucap Sasuke kaget.
Sakura berdehem sejenak, lalu menjawab, "Hn, aku bohong, Uchiha."
Lima detik kemudian...
"EEEH?" pekik Sasuke melewati batas ke-OOC-an yang telah ditetapkan. "S-Sakura!"
"Heh, tak kusangka orang sepertimu bisa takut pada hal seperti itu." ejek Sakura sambil menyeringai sinis.
Sasuke langsung gelagapan dibuatnya. "A-aku bukannya takut! Aku hanya... hanya..."
"Hanya apa?"
"Ha-hanya... umh..."
"Sudahlah, aku tak butuh pengakuanmu. Toh, dengan melihat saja aku sudah cukup yakin."
Sasuke merengut, merasa kesal dengan tindakan Sakura yang menurutnya kelewatan. "Kau...tega sekali membohongiku, padahal aku cukup mempercayaimu!"
Sakura memejamkan matanya, menikmati angin semilir yang terasa dingin. "Hn, sebenarnya aku tidak benar-benar berbohong."
"Hah? M-maksudmu..."
Sasuke kembali memucat. Sementara Sakura sudah bangkit dari duduknya.
"Hm, ayo pulang." ucapnya seraya melangkah pergi.
Susah payah menelan ludah, akhirnya Sasuke ikut bangkit dan buru-buru mengejar gadis pinkitu.
"S-Sakura! Apa maksudmu sebenarnya!"
.
.
TBC
Yosh! SASUKE NGGAK MACHO BANGET, kan? Uchiha, Uchiha… BerTERIMAKASIHlah pada Sakura yg udah ngebongkar 'identitas'nya Sasuke! XD *dichidori*
Okeh lah, daripada diriku babak belur *lirik2 Sasuke*, mendingan kalian REVIEW aja, yo! 8DD
