Haloou, jumpa lagi dengan diriku yg suka teladh(?) ini!

Yatta(?), ini udah di up-dead(?)…

…ngomong apa lagi, ya? *bletaaak*

.

.

~~o0O)(O0o~~

.

.

.

Maaf ya buat SEMUA RnRers sekalian... Ane musti hiatus dalem jangka waktu yg panjang ini... :(

Soalnya, ane udah mulai sekolah di pesantren, n harus ada di sana selama 6 tahun...

Ostomatis gak bisa aktif internetan(?) lagi selama itu...

Kan di sana DILARANG MEMBAWA BARANG ELEKTRONIK, dan gak boleh pulang sebelum lulus sekolah di sana selama 6 tahun...

Kalo keluar sebelum 6 tahun, ane kagak bakal dapet ijazaaah!

TAPI,

buat utang2 fic yg belum THE END kayak fic ini...

...kita usahain tetep update,

tapi, terima aja ya kalo telat...

Harap maklum!

Terus, sekarang kita lagi PUASA!

Jadi, maafin atas semua kesalahan ane yaaa! *telaaat!*

Kita harus jadi anak baik (pas bulan puasa)...

Nanti pas puasanya udahan, bejad lagi... XD

Wassalam! *ngacir, digebukin*

.

.

.

~~o0O)(O0o~~

.

.

By the way,

HAPPY RNR, ALL~! *tebar ciuman*


.

.

Minggu, pukul 07.12

Sasuke menggeliat malas di tempat tidur. Aah... aroma khas Sakura yang terhirup dari bantal, guling, maupun kasurnya membuat ia malas beranjak dari sana. Tapi sebagai seorang 'tamu' yang baik, rasanya tidak etis jika ia molor lebih lama. Jadilah kini dirinya bangun dari tempat tidur, melakukan stretching sebentar lalu melangkah ke depan cermin. Dipandanginya sejenak sosok bayangan yang identik dengan dirinya tersebut.

Setelah memastikan tak ada masalah pada wajah dan tubuhnya – oh, tak lupa dengan kondisi rambut emo jabrik yang ia banggakan, sang Uchiha pun turun ke lantai bawah. Ia lalu melangkah ke kamar mandi di dekat dapur untuk mencuci muka dan berkumur. Setelah ia keluar, barulah ia menyadari kalau keadaan rumah ini sangat sepi.

'Ke mana perginya orang-orang?' batinnya, heran.

Demi mencari penghuni lain di rumah sederhana itu, ia mulai berkeliling dari ruang tengah, teras, sampai dapur, namun tak seorang pun yang bisa ia temui. Berusaha tenang, ia memikirkan berbagai kemungkinan yang ada. Hm, mungkin mereka sekeluarga sedang pergi ke luar, berbelanja, atau joggingmungkin? Ah, tapi kaki Rin-basan 'kan belum sembuh, mustahil rasanya. Atau mereka semua masih tidur? Yah, Sasuke tidak sampai memeriksa ke kamar mereka sih, jadi mungkin saja, 'kan?

Asumsi-asumsi tersebut seketika buyar saat Sasuke mendengar suara gemerisik di luar, dari arah halaman belakang tepatnya. Tanpa ragu ia berjalan menuju jendela terdekat, menyibakkan gorden putih yang tergantung di atasnya lalu memandang ke luar dari sana. Hm, tak ada siapa-siapa. Tapi ia belum yakin. Sasuke lalu membuka pintu di sampingnya, menjulurkan kepala ke luar, celingukan sebentar dan menemukan... ada Sakura di sana.

Oh my, Sakura yang memakai piyama biru muda bermotif beruang putih dan berdiri di antara tanaman dengan gunting kecil di tangannya benar-benar merupakan pemandangan indah. Kawaii banget, deh!

"Apa kau sedang kurang kerjaan?"

Sasuke sedikit tersentak. Ia tidak sadar bahwa Sakura telah memperhatikan tindakannya yang mencurigakan itu.

"Berani mengintip di rumah orang, tidak sopan," ujar Sakura sinis sambil tetap berkutat dengan tanaman di depannya.

"Hn, aku tidak mengintip," bantah Sasuke.

"Sudah tertangkap basah masih tidak mau mengaku."

Sasuke diam saja, dia sedang malas berdebat saat ini. Lagipula, ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya. Sesuatu berwarna merah, bulat, kecil, dan menggiurkan.

"Itu..."

"Hn?" Menyadari tingkah aneh Sasuke, Sakura pun menengok ke arah pandangan pemuda itu. 'Oh, tomat ya?' batinnya.

Ya, di salah satu sudut halaman itu memang terdapat beberapa tanaman tomat ceri yang ditanam di dalam pot. Kebetulan sekali sedang berbuah banyak dan beberapa sudah matang.

"Kalau mau ambil saja."

Sasuke mengerjapkan matanya sekali. Tadi Sakura bilang apa?

"Tapi jangan banyak-banyak, kakakku bisa marah nanti."

Ah, berarti Sasuke tidak salah dengar. Berarti juga, ini rejeki nomplok.

"Terima kasih!"

Hm, tak pernah Sasuke merasakan tomat seenak ini. Manis, segar, bikin ketagihan. Apa karena ditanam dan dirawat secara manual? Entahlah, tapi tomat yang ini benar-benar enak!

"Hn, Sakura," panggil Sasuke setelah menghabiskan dua belas buah tomat dalam waktu tiga menit. Rakus? Ah, nggak. Cuma doyan aja.

"Apa?" jawab Sakura datar, sambil tetap menyiangi tanaman yang tertata rapi di dalam pot.

"Ibu dan kakakmu ke mana?"

"Ke klinik, memeriksakan keadaan kaki ibuku."

"Oh, begitu."

Hening lagi.

"Sakura."

"Apa lagi!" sahut Sakura gusar. Dia memang paling tidak suka jika ada yang mengusik pekerjaannya.

"Ada ulat di bajumu."

Sakura membatu. Ulat? ULAT?

"S-s-singkirkan..." desis Sakura pelan.

"Hn, apa?" tanya Sasuke yang tak menangkap jelas suara Sakura.

"K-kubilang singkirkan! Cepat!"

Mendengar nada suara Sakura yang agak panik, Sasuke pun menyeringai licik. Perlahan ia melangkah mendekat ke arah Sakura yang membelakanginya. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa tubuh gadis itu gemetaran. Seringainya makin lebar, dan makin licik.

"Ne, Sakura."

Gadis itu tak menjawab, tapi Sasuke tahu ia mendengar panggilannya.

"Kalau aku menyingkirkannya, apa yang akan kau berikan padaku sebagai imbalan, hn?"

"Jangan main-main! Cepat singkirkan!" sentak Sakura, setengah kesal setengah frustasi.

"Hei, mintalah dengan lebih sopan."

Sasuke terkekeh geli, membuat Sakura makin geram. Tapi apa daya, dirinya sendiri sedang tidak memungkinkan untuk melakukan apa-apa kecuali... menuruti perintah Sasuke.

Dengan berat hati, ia pun berkata, "K-kumohon, si-singkirkan ulat itu dari sana, cepatlah..."

Demi apapun, Sakura benar-benar ingin mengubur dirinya sendiri sekarang. Berkat makhluk kecil dan lamban itu, harga diri seorang Haruno Sakura sukses jatuh ke tingkat paling dasar. Hah, terima kasih banyak!

"Hn, baiklah..."

Sambil tetap menyeringai, Sasuke pun mengambil ulat sebesar kelingking anak-anak berwarna hijau itu dari baju Sakura, lalu meletakkannya di telapak tangan.

"S-sudah belum?"

"Hn."

Sakura kini bisa bernapas lega. Ck, kenapa di awal harinya ia bisa sesial ini? Yah, walaupun dia lumayan suka berkebun, namun phobia-nya terhadap ulat tetap menjadi sandungan nomor satu.

"Tak kusangka, Nona Haruno yang hebat ternyata takut pada makhluk lemah dan tak berdaya seperti ini."

Mendengar sindiran Sasuke, mau tak mau Sakura tersulut juga. Dengan kasar ia membalik tubuhnya, menatap Sasuke tajam. Ia biarkan gunting yang tadi digenggamnya tergeletak di tanah.

"Jangan sembarangan bicara! Aku bukannya takut, hanya saja aku – "

"Oh ya?" sela Sasuke sambil menyodorkan ulat di tangannya, tepat di depan wajah Sakura.

Gadis itu terpekik kaget, mundur beberapa langkah hingga hampir menginjak sebuah pot berisi benih tomat yang baru tumbuh.

"K-kenapa kau tidak membuangnya! Kau – "

"Lho? Katamu kau tidak takut?" goda Sasuke. Ia mengelus lembut ulat di tangannya.

"S-sudah! Cepat buang sana!" Sambil menahan mual melihat ulat tersebut menggeliat, Sakura masih sempat men-deathglareSasuke.

"Tidak mau."

"Uchiha! Kubilang, buang!"

"Kubilang tidak. Daripada dibuang lebih baik kupelihara saja."

"Kau gila..." desis Sakura kesal.

"Aku tidak gila. Ne, apa kau mau coba menyentuhnya, Sakura?"

"T-tidak! Hei, j-jangan macam-macam, U-Uchiha!" Sakura mundur perlahan karena Sasuke mulai mendekat ke arahnya.

"Ayolah, masa kau tidak mau mencobanya? Lihat, makhluk kecil ini begitu imut," goda Sasuke, makin gencar mendekati Sakura.

"Tidak mau! K-kau, jangan dekat-dekat!"

"Ayo, lihatlah kemari, Sakura!"

"Kau! Kalau lebih dekat dari ini, aku akan menghajarmu!"

"Silakan. Hajar saja kalau kau berani, hm?"

"Uchiha! Jangan main-main lagi!"

"Tidak mau! Kapan lagi aku bisa mengerjaimu seperti ini, hehehe..."

"Uchi – hwaaaah...!"

Sementara kedua remaja itu main 'kejar-kejaran', dua manusia lainnya yang baru tiba beberapa saat lalu hanya menatap mereka dari balik jendela.

"Konan-chan, apa menurutmu, mereka berdua itu cocok?"

"Hm... entahlah, tapi yang kulihat sih, Sakura cukup 'menikmati' kebersamaannya dengan Sasuke-kun."

Kedua ibu dan anak itu tersenyum lebar, lalu kembali menikmati tontonan di depannya.

"UCHIHA! Kau pasti akan mati setelah ini!"

Angel Ruii

Beberapa jam kemudian...

"Nah, Sasuke-kun, kau harus ingat untuk menjaga kesehatanmu, jangan sembarangan menerobos hujan lagi. Dan nanti kalau ada waktu berkunjunglah lagi ke sini, oke?"

"Iya, tentu saja, Basan."

Sakura mendengus sebal. Sasuke-kun, Sasuke-kun, Sasuke-kun terus! Kenapa sekarang ibunya malah lebih memperhatikan si Uchiha dibanding dirinya?

Tidak dianggap? Hah. Menyebalkan.

"Dan ini, bekal untuk kalian berdua. Jangan lupa dimakan, ya?" kata Konan seraya menyodorkan dua buah kotak bekal yang dibungkus dengan kain berwarna biru.

Sasuke pun menerimanya dengan senang hati. "Baik, terima kasih banyak."

"Sama-sama... Ne, Sasuke-kun," ucap Rin sambil meletakkan telapak tangannya di sisi mulut, berkata setengah berbisik, "setelah ini, kau harus berjuang lebih keras lagi, ya!"

"Eh?"

Sasuke terhenyak. Apakah kata-kata Rin barusan merupakan... sebuah 'lampu hijau' untuknya?

"Oh ya, Sasuke-kun, kalau tidak cepat-cepat nanti Sakura keburu jauh lho!"

"Hah?"

Sasuke segera menengok ke belakang. Ternyata, Sakura sudah jalan duluan meninggalkannya, lagi.

'Ck, dasar cewek itu!' batinnya, sebal. Ia pun kembali berbalik menghadap Rin dan Konan.

"Ah, kalau begitu, saya juga permisi pulang. Terima kasih atas kebaikan kalian selama ini. Sampai jumpa, Basan, Konan-san!" ucapnya sambil membungkuk hormat, lalu segera berlari menyusul Sakura.

"Hati-hati di jalan!"

Rin dan Konan melambaikan tangan mereka dengan semangat, dan tetap memandang kedua remaja itu sampai menghilang di balik tikungan.

"Aku berharap semoga hubungan mereka akan semakin baik..." ucap Rin seraya tersenyum lembut.

"Hm, aku juga," sahut Konan menanggapi ucapan ibunya. "Ayo masuk, Kaa-san..."

Angel Ruii

Hening. Selama beberapa menit keduanya hanya terdiam satu sama lain. Sasuke bisa merasakan aura Sakura yang makin dingin, siap membekukan siapapun yang berani mendekat. Oke, mood Nona Haruno tampaknya sedang tidak baik.

"Sakura, kau masih marah?"

Dan Sasuke malah memperburuk suasana.

"Aku 'kan hanya bercanda... Oh! Kemarin kau juga menipuku dengan bilang kalau di danau itu ada hantu! Jadi kita impas, 'kan?"

Sakura berhenti melangkah. Ia berbalik, memasang tampang gahar, menatap tajam pada Sasuke.

"Berhentilah bicara, U-chi-ha!"

Sasuke mingkem, mengangguk, dan memasang wajah kalem. Sakura mendengus kesal sebelum melanjutkan kembali jalannya.

'Hn, dasar, cewek jutek...' batin Sasuke sambil mempercepat langkahnya untuk menyusul Sakura.

Dua puluh menit kemudian mereka sampai di stasiun. Seperti biasa suasana di stasiun Ame tampak sepi, hanya tampak belasan orang yang menunggu di sana. Sambil menanti kedatangan kereta yang akan membawa mereka kembali ke Konoha, Sasuke dan Sakura duduk di bangku yang telah disediakan. Keheningan masih menyelimuti. Diam-diam Sasuke melirik ke arah Sakura. Gadis itu hanya memasang tampang bosan sambil bersandar pada tiang besar di sampingnya.

Tiba-tiba dia menoleh, memberi tatapan 'apa-yang-kau-lihat-hah?' pada Sasuke. Pemuda itu langsung memalingkan wajahnya. Sekedar info, wajah Sakura yang sedang marah tidak berbeda jauh dengan wajah Tsunade, kepala sekolah mereka, ketika sedang PMS. Ngeri.

Beberapa menit kemudian kereta pun datang. Sakura beranjak duluan, mengabaikan keberadaan sang Uchiha. Sasuke hanya bisa pasrah, kalau tahu begini jadinya dia tidak akan menjahili Sakura. Selain itu, tidak mudah untuk mendapatkan maaf dari tipe orang pendendam seperti Sakura.

Selama dalam perjalanan pun mereka tak banyak berinteraksi. Saat Sasuke menyerahkan bekal bagian Sakura, gadis itu hanya menerimanya dengan sedikit hentakan kasar, lalu memakannya dengan wajah seram. Geez... kalau sudah begini bakal tambah sulit, nih!

Kurang dari tiga jam kemudian mereka sampai di stasiun Konoha. Suasananya berbeda jauh dibanding stasiun Ame. Ramai sekali.

"Issh... terlalu ramai..." keluh Sakura pelan.

"Kau bisa jalan sendiri, Sakura? Mau kubantu?" tawar Sasuke.

Sakura menoleh, menatap dingin pada Sasuke. "Tidak perlu."

Faktanya, Sakura tidak pandai berjalan di tempat ramai. Jadi, jangan heran jika sekarang ia malah terseret arus orang yang berlalu-lalang sehingga ia semakin melenceng dari pintu keluar. Di tengah kebingungannya itu, seseorang menarik tangannya dan membimbingnya menuju jalan keluar. Rambut raven mencuat yang mencolok itu, siapa lagi kalau bukan Sasuke. Sakura hanya bisa mengikuti langkahnya, sambil terus memandang punggung tegap pemuda di hadapannya.

Mereka sudah bisa bernapas lega ketika sudah berada di luar stasiun. Ne, siapa yang bisa tahan berada di lautan manusia seperti tadi, dengan aroma-aroma khas yang bercampur, dari wangi parfum yang bikin pusing sampai bau badan yang bikin mual. Hiiih!

"Kau ini! Bisa tidak sih singkirkan dulu ego-mu? Kalau tadi kau sampai tersesat 'kan bisa repot!" Sasuke mengomel sendiri. Dahinya berkerut karena kesal dan cemas.

"Hn... maaf," ucap Sakura 'sedikit' merasa bersalah.

"Hah... sudahlah, ayo kita cari bus."

"Tunggu," cegah Sakura sebelum Sasuke sempat melangkah.

"Hn, ada apa?" tanya Sasuke heran.

Sakura tidak menjawab, melainkan hanya melirik ke bawah, pada tangannya yang masih digenggam Sasuke.

"Ah, maaf."

Sasuke melepas genggamannya, walau dengan agak tidak rela. Kapan lagi mereka bisa gandengan, coba?

Ngomong-ngomong, apakah kedua orang ini sudah baikan? Atau jangan-jangan keduanya justru sudah lupa?

Singkat cerita, mereka pun menaiki bus yang akan mengantar mereka. Sakura turun di halte kedua, namun anehnya Sasuke ikut turun.

"Kenapa kau juga turun?" tanya Sakura datar namun terselip nada heran di dalamnya.

"Ini sudah gelap, aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian," jawab Sasuke kalem.

"Aku bisa menjaga diriku sendiri."

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Setidaknya aku ingin memastikan kau tiba tepat waktu."

Sakura melengos. "Terserahlah."

Sasuke tersenyum, lalu segera menjajarkan langkahnya dengan Sakura. Cuaca malam itu cukup cerah, walau bintang-bintang tak begitu kelihatan karena polusi cahaya. Hanya ada bulan separuh yang menggantung di atas langit yang kelam. Mereka berjalan dalam diam, tapi entah kenapa Sasuke menyukainya. Terasa sedikit... romantis?

"Sudah sampai."

Keduanya berhenti melangkah. Sasuke menatap sebuah bangunan yang tidak terlalu tinggi di hadapannya. Tidak mewah, malah terkesan kumuh.

"Kau tinggal di sini?" tanyanya.

"Ya. Kenapa? Jelek?" jawab Sakura sinis.

"Kau seharusnya bisa tinggal di tempat yang lebih layak," kata Sasuke simpati.

"Ini cukup layak untukku."

"Tapi – "

"Dan seingatku aku sudah pernah bilang kalau aku tidak suka dikasihani," sela Sakura tajam.

Sasuke hanya bisa terdiam. Dia sudah maklum bahwa gadis di hadapannya memang 'sedikit' keras kepala.

"Pulanglah. Kau sudah tidak punya urusan lagi di sini," ucap Sakura dingin, lalu berbalik hendak pergi.

"Tunggu, Sakura!" panggil Sasuke cepat.

"Apa lagi si – "

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, sebuah kecupan hangat terlebih dulu mendarat di dahi Sakura. Sementara ia bengong, sang pelaku sudah kabur duluan.

"Itu tanda terima kasih dariku! Sampai jumpa, Sakura!" seru Sasuke sambil terus berlari.

Hening.

Beberapa detik kemudian...

"U-UCHIHA SIALAAAN!"

Malamnya, Sakura terkena insomnia parah.

.

.


TBC


Review, yaaa! ^^"