Fuaaaaaaah! Baru updead! XD #telat
Maaf ya C13 ini updead-nya telat banget, 3 bulan!
Soalnya, selama 3 bulan ini aku sekolah n gak bias pulang, n Diana sibuk kerja.
Jadi, baru sempet updead sekarang~ XD #dilempar uang(?)
Okeh lah sekali lagi maaf n happy reading! XD
.
.
'Konan, Sakura, Tousan pergi dulu ya?'
'Cepat pulang, Tousan!'
'Harus cepat pulaaang~!'
'Iya, iya, Tousan akan segera pulang. Kalian jangan nakal, ya, Tousan sayang kalian...'
.
.
'Kaasan, kapan Tousan pulang?'
'Saku kangen Tousan...'
'K-kalian yang sabar ya... Tousan pasti akan segera pulang...'
.
.
'Tidak! Jangan sita rumah kami!'
'Rumah kalian? Cih! Seharusnya kau cari dulu dan suruh suamimu yang brengsek itu untuk membayar hutangnya pada kami kalau ingin rumah kalian kembali!'
'Kaasan... kenapa kita tidak boleh masuk ke rumah? Sakura mau masuk...'
'Hiks... Kaasan, rumah kita...'
'Sakura... Konan...'
.
.
'Dasar pencuri busuk! Kembalikan daganganku!'
'Konan, Sakura! Cepat lari!'
'Jangan kabur kalian! Hei, pencuri!'
'Kaasan... Aku sudah nggak kuat...'
'Bertahanlah Konan, kita harus terus berlari! Ayo!'
'Kaasan... hiks... Sakura takut...'
.
.
"HAH!"
Sakura tersentak dengan napas terengah. Keringat dingin mengalir dari dahi sampai ujung rahangnya. Sambil menyeka keringatnya yang bercucuran, ia mengambil posisi duduk. Matanya terpejam, sementara nafasnya perlahan mulai teratur. Ia lalu bangkit dengan posisi duduk di atas tempat tidurnya, meraih jam beker dari atas meja dan menelitinya lewat keremangan cahaya.
Jam 5 kurang 15 menit. Sial, ia baru tertidur satu jam lebih dan sekarang sudah terbangun lagi.
Mimpi sialan.
Angel Ruii
Seharusnya, hari ini berjalan seperti biasa.
"Selamat pagi!"
"Pagi."
"Yo!"
Siswa-siswi yang berkeliaran, saling menyapa, mengobrol, berkejaran, bermesraan... ehm, intinya semua tampak berjalan sama seperti hari-hari sebelumnya.
Tapi, kenapa dari tadi perasaan Sakura tidak enak?
"Yo, Sakura!"
"Ah, hai, Tenten."
Sakura mengembangkan seulas senyum tipis untuk temannya yang berambut cepol itu, dan dibalas Tenten dengan memberikan cengirannya yang biasa. Keduanya lalu berjalan bersama menuju kelas mereka, menyapa Ino dan Hinata yang sudah tiba duluan.
"Sakura! Bagaimana liburanmu? Pasti menyenangkan!" seru Ino semangat.
"Ckckck, yang namanya liburan itu pasti menyenangkan, baka! Yah... walau cuma 2 hari, sih..." Tenten menimpali.
'Apanya yang menyenangkan?' batin Sakura dongkol, mengingat acara pulang kampungnya kemarin yang berantakan.
"Sa-Sakura-chan, kenapa kantung ma-matamu tampak menghitam?" tanya Hinata seraya menunjuk ke kelopak mata Sakura yang memang terlihat gelap.
"Eh, benar, Sakura! Aku juga baru sadar!" seru Tenten.
"Aa, ini... aku tidak bisa tidur tadi malam, mungkin karena itu," jawab Sakura sambil tersenyum paksa.
"Kenapa bisa begitu? Kau baru pulang dari perjalanan jauh, bukankah justru seharusnya kau bisa tidur nyenyak?" tanya Ino heran.
Karena bingung harus menjawab apa, Sakura hanya bisa bilang, "Err... entahlah, aku juga tidak tahu," masih dengan senyum dipaksakan.
Tidak mungkin, 'kan, dia jawab karena jidatnya telah dici-
Sudahlah.
"Ohayou."
Ini dia, Uchiha Sasuke!
"Pagi, Sasuke-kun!" balas Ino riang.
"Wah, wah... Seperti biasa, tiap kali berada di dekat Sakura, kau tampak makin bersinar," goda Tenten sambil mengerling jahil pada Sakura.
Sakura hanya memutar bola matanya, malas mencari ekspresi lain untuk menanggapi ucapan Tenten yang baginya tidak lucu.
"Psst."
Sakura yang baru akan beranjak ke bangkunya, seketika berhenti saat mendengar suara bisikan di dekatnya.
"Menurutmu, apa reaksi mereka kalau kukatakan bahwa kita telah 'berlibur' bersama?"
Haha. Pagi-pagi udah nyari ribut, nih.
"Kalau kau berani melakukannya, akan kupastikan seisi sekolah ini tahu kalau Uchiha Sasuke yang maha agung takut pada hantu," desisnya, sengit.
"Aa, kalau begitu aku juga akan bilang kalau Haruno Sakura yang serba bisa ternyata takut pada hewan kecil tak berdaya, yaitu... apa ya sebutannya? Larva?"
Entah bagaimana caranya, tak ada yang menyadari pembicaraan -err... saling ancam?- di antara mereka berdua. Yang jelas, Sakura kini tak bisa berkutik. Sasuke punya 2 kartu, sedangkan dia hanya punya satu. Artinya? Bendera putih.
"Yo, Sasuke!"
Dan Naruto datang merusak suasana. Menurut Sasuke saja, tentunya.
"Hn, Dobe."
"Ck, kau ini! Aku sudah berbaik hati memanggil namamu dengan benar, apa susahnya kau balas dengan hal yang setimpal!" seru Naruto jengkel.
"Hn, Naruto–" sang Namikaze nyengir. "–dobe."
Ada yang sependapat bahwa Naruto yang sedang ceberut itu imut-imut?
Dan adakah yang sadar kalau Hinata sedang kejang-kejang di tempat duduknya?
"Wah, pagi-pagi sudah ramai, nih! Ikutan, dong!" Kiba yang baru datang langsung menerobos masuk ke kumpulan para remaja itu. Di belakangnya, Sai dan Shikamaru yang juga baru datang tampaknya akan ikut bergabung dengan mereka.
Tanpa ada yang menyadari, saat mereka sedang berheboh ria, diam-diam Sakura sudah keluar dari kelas itu. Ia menghela nafas berat lalu melangkah di sepanjang koridor, di mana masih dipenuhi murid yang berlalu-lalang. Bel masuk akan berbunyi beberapa menit lagi, namun tak ada sedikit pun niat di benaknya untuk kembali. Selain karena sedang tidak mood belajar, kelas yang berisik, dan adanya makhluk-setengah-ayam yang terus menghantuinya, ia juga sedang ngantuk berat. Lelah karena perjalanan kemarin saja belum hilang, ditambah ia tidak bisa tidur semalaman. Daripada nanti low-batt(?), mending istirahat aja dulu.
Dan tempat yang paling cocok? Ruang kesehatan, dong! Nanti minta Shizune-san saja yang menyampaikan surat izin untuk sensei-nya. Toh, ini nggak termasuk bolos, 'kan?
Angel Ruii
"TEME!"
"Apa-apaan kau ini, baka-Dobe?" Sasuke menatap sengit pada Naruto yang baru saja berteriak tepat di telinganya. Heran, deh, sebenarnya apa yang ditelan bocah kuning satu ini semasa kecilnya hingga punya suara sebesar itu?
Naruto hanya nyengir watados sambil melirik ke arah ponsel di tangan Sasuke. "Hehehe... dasar Uchiha gagal, kasmaran sih kasmaran, tapi jangan sebegitunya, dong. Kurasa ponselmu pun sudah bosan kau pelototi terus."
"Cerewet. Berhentilah merusak kesenangan orang lain, pirang bodoh!"
"Ck, terserah, deh!" Naruto tak ambil pusing. "Jadi, bagaimana?"
"Hn? Apanya?" Sasuke menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari layar HP-nya.
"Kau dan Sakura-chan, apakah ada perkembangan?"
Sasuke berpikir sejenak. "Hn... entahlah."
"Yang jelas, Teme!"
"Aku tidak tahu pasti. Saat mulai terasa ada kemajuan, tak lama kemudian pasti ada masalah lagi. Jadinya yah... begitulah."
Keduanya kembali terdiam. Suasana kelas tampak sepi karena sebagian besar penghuninya bermigrasi massal ke kantin, berhubung sedang jam istirahat. Tak terkecuali Sai, Kiba, dan Shikamaru. Sasuke masih dengan intens menatap layar ponselnya, dengan foto Sakura yang diambilnya diam-diam terpampang manis di sana. Sakura yang sedang menulis di buku catatannya, dengan wajah datarnya, dengan segala ketidakpeduliannya.
Tapi, Sasuke tetap suka.
Andai saja bisa, ia sangat ingin menemani gadis itu sekarang. Kau tak tahu betapa kagetnya dia saat sadar Sakura sudah lenyap entah ke mana dan dia -secara sepihak- menyalahkan Naruto atas hal ini. Ia pun semakin cemas begitu Shizune-san datang ke kelas dan bilang kalau Sakura sedang tidak enak badan. Kalau saja Asuma-sensei bisa sedikit lebih bertoleransi terhadap orang yang sedang dijerat api asmara, ia pasti sudah melesat menuju ruang kesehatan. Sayangnya, mengharapkan hal itu pada Asuma sama saja dengan berharap Chouji mau membagi keripik kentangnya yang tinggal sebiji kepadamu.
Jadi saat waktu istirahat tiba, tanpa buang waktu lagi ia segera beranjak untuk menemui Sakura. Namun, belum apa-apa ia sudah keburu disambut dengan lemparan bantal.
''Pergilah...''
Walau seluruh tubuhnya berada di balik selimut, tapi dari nada suaranya Sasuke tahu bahwa Sakura benar-benar tak ingin diganggu. Jadi, sebagai cowok yang baik dan pengertian maka dengan terpaksa ia undur diri.
"Kau tidak bosan, ya?" kata Naruto tiba-tiba.
Sasuke tak menjawab, ia hanya menoleh namun tatapan matanya menyiratkan tanda tanya atas perkataan Naruto.
"Sudah berapa lama, tapi statusmu dengan Sakura-chan belum berubah juga. Malah yang kulihat, sikap Sakura-chan padamu makin... yah, kau tahu sendiri," Naruto menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala, lalu bersandar di bangkunya. "Aku tak tahu masalahnya ada pada siapa, tapi kalau begini terus, kurasa ada saatnya kau harus menyerah, Teme."
Sasuke terdiam, mencoba meresapi ucapan Naruto. Lima detik kemudian, sebuah senyum tipis terulas di wajahnya.
"Kau tak mengerti, Naruto."
Naruto menelengkan kepalanya, bingung sekaligus heran. Bingung dengan apanya yang dia-tak-mengerti, dan heran karena tumben-tumbenan Sasuke bisa menyebut namanya dengan benar.
"Aku tidak mungkin menyerah begitu saja. Seumur hidupku, baru kali ini aku benar-benar menyukai seseorang. Bukan karena dia cantik atau karena dia pintar, tapi karena karakternya yang begitu kuat. Ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki gadis-gadis lain pada umumnya. Keteguhan, ketegaran, perjuangan, dan pengorbanannya tak bisa dibandingkan dengan apapun. Kau tahu, saat menyadari itu semua, aku jadi merasa rendah dan buruk sekali. Aku, dibanding dirinya sama sekali bukan apa-apa," Sasuke tersenyum pahit sejenak, lalu kembali menatap Naruto. "Tanpa ia sadari, ia telah memberikan pelajaran yang berharga untukku. Hebat, 'kan? Jadi jangan heran kalau aku... terlanjur 'jatuh' terlalu dalam, padanya."
Apa reaksi Naruto? Seperti biasa; cengo. Sasuke menghela nafas frustasi.
"Sudahlah, kujelaskan seperti apapun orang idiot sepertimu tidak akan mengerti!"
Naruto cepat-cepat menyahut, "T-tunggu dulu! Aku, 'kan, tidak minta penjelasan sepanjang itu darimu! Lagipula... daripada mendengar kicauanmu itu, aku lebih tertarik memperhatikan wajahmu saat bercerita tadi." Naruto menyeringai, sementara Sasuke berusaha keras agar tidak kelepasan blushing.
Memangnya, ekspresi Sasuke tadi gimana, sih?
"Jadi, inti dari semua omong kosongmu itu apa?" ejek Naruto, namun ia serius dengan pertanyaannya.
Sasuke mendengus, namun tak urung ia tersenyum juga. "Intinya, aku menyayanginya, dan ingin membuatnya bahagia..."
Kini, Naruto pun ikut tersenyum. Bukan senyuman jahil seperti biasanya, tapi berupa senyuman tulus sebagai bentuk dukungan untuk sang sahabat.
'Sasuke benar-benar sudah berubah...'
"Heh, kenapa menatapku seperti itu? Kau semakin kelihatan idiot, Dobe."
Senyum Naruto seketika menghilang. Well, tampaknya kau harus menarik lagi pikiranmu barusan, Namikaze.
"Huaah~ akhirnya sampai juga! Kantin saat jam istirahat benar-benar seperti neraka!" Kiba langsung menghempaskan diri ke bangkunya. Berikutnya, Sai dan Shikamaru menyusul masuk ke kelas itu dengan sekantong plastik penuh makanan di tangan masing-masing.
"Ck, kenapa aku harus ikut dengan kalian, sih? Merepotkan!"
"Itu karena kau sudah tidur sejak jam pelajaran pertama. Kau perlu lebih banyak bergerak agar otot-ototmu tidak kaku," Sai berujar sambil meletakkan kantong plastik di tangannya ke atas meja Sasuke dan Naruto.
"Yeah, dan yang terjadi di sana adalah aku hampir tak bisa bergerak sama sekali, sialan."
Kiba dan Naruto langsung ngakak di tempat. Sai tersenyum innocent. Sasuke menyeringai. Alasannya sama; karena Shikamaru yang sedang mengomel tampak mirip dengan ibunya, Nara Yoshino.
"Ngomong-ngomong, Sakura-chan sudah sembuh, ya?" kata Kiba sambil mengambil acak sebungkus roti dari dalam plastik di tangan Sai.
Mendengar nama sang pujaan hati disebut-sebut, Sasuke pun langsung bereaksi.
"Apa katamu? Sakura sudah sembuh?"
"Tadi kulihat dia di situ, di samping jendela ini. Tapi waktu mau kusapa dia keburu pergi. Jalannya cepat lagi, mau ke toilet mungkin?" jawab Kiba.
Di samping jendela, huh? Oke, berita bagus.
Naruto menyeringai lebar, melirik ke arah Sasuke yang memasang tampang horor. Sai, Kiba, Shikamaru, karena sama-sama tidak mengerti apa yang terjadi pun tidak ambil pusing.
'J-jangan bilang dia... sudah mendengar semuanya?'
Angel Ruii
Sayangnya, iya.
Ya, Sakura memang sudah sembuh... eh, sebenarnya dia nggak sakit, sih. Cuma sedang lesu, badmood, dan sebangsanya.
Terus... ya, Sakura memang buru-buru ke toilet. Tapi bukan karena kebelet, melainkan karena wajahnya tiba-tiba terasa panas. Jadi di sana dia hanya membasuh mukanya dengan air kran yang dingin. Namun, tampaknya tidak cukup berpengaruh.
Oh ya, dia memang mendengar semuanya, lho!
'Apa... dia benar-benar serius dengan ucapannya itu?'
Menurut lo?
'Sial, aku jadi makin malas kembali ke kelas...'
Makanya, ia pun memutuskan untuk kembali ke ruang kesehatan. Well, nggak mungkin dia mau mendekam di toilet ini lebih lama lagi, 'kan? Alasannya, apalagi kalau bukan karena tatapan pengunjung toilet lain yang rata-rata berpikiran 'ngapain-itu-cewek-rambut-pink-cengo-di-depan-kaca-wastafel'.
Kacaunya, belum sampai sepuluh meter keluar dari areal toilet, dia malah menabrak seseorang sehingga terhuyung dua langkah ke belakang. Salah sendiri, sih, jalan sambil melamun.
"Maaf, aku kurang memperhatikan jalanku," ucapnya dengan sedikit membungkuk.
"Hn, tak apa."
Tanpa melihat orang yang ditabraknya, Sakura langsung pergi. Tidak ada niat lain baginya selain menenangkan diri di suatu tempat – ruang kesehatan. Dan... ah, tiba-tiba dia berharap mengalami amnesia dadakan.
Tanpa disadari Sakura, sepasang mata tengah mengawasi dirinya sampai menghilang di balik tikungan.
'Akhirnya... kutemukan.'
Sementara itu, di kelas, Sasuke sedang mencekik Naruto, entah karena alasan apa.
TBC
XDDD (?)
Jangan lupa review ya, Bebs! #cuih #digaplokin
