Nagi : chappie DUA!
Scarlett : kita akan membahas kembali bagaimana penulis yang diatas^ menjalani kehidupannya yang berbeda dengan kesehariannya
Nagi : cekidot!
Disclaimer :
Tekken belongs to Namco (*Scarlett mengibarkan bendera bertuliskan Namco*)
Starring : Jin Kazama!
Genre : genre apa ya enaknya? Mungkin Family sama humor aja kali ya?
Summary : karena ulahnya memohon agar menjadi adik dari Jin, Nagi harus rela melepaskan sahabatnya yang telah lama bekerjasama dengannya, juga "kakaknya" yang akan bunuh diri…..
WARNING!this fic contains humor garing dan karakter yang OOC. Karena kami akan memfokuskan pada sentakan akhir yang heboh dan lucu.
If My Brother was Jin Kazama
Sebelumnya di "If My Brother was Jin Kazama"…
Aku melihat hanya sebatas kehidupan biasa. Kamarku tampak rapi sepert biasanya. Pasti kehidupan rutinku akan kembali seperti biasa. Tidak seperti kehidupan orang mewah di dalam rumahku…..
KEHIDUPAN MEWAH DI RUMAHKU!
Kamarku menjadi berwarna merah dengan api hitam di bawahnya. Semuanya bernuansa api! What the?
Mungkin hanya firasatku saja. Lebih baik aku pergi ke kamar mandi, mungkin aku akan sadar dari mimpi anehku.
Semakin berjalan ke kamar mandi, entah rasanya seperti jalan satu abad. Aku tak perhatikan sesuatu yang ada di depanku. Penglihatanku masih kabur, Aku seperti menabrak sesuatu. Seperti bantal, tapi padat. Seperti tiang, tapi tak berukir. Benda apa ini?
Kuusap lagi mataku. Tampak seorang pria kekar hasil persilangan Sasuke Uchiha, Irfan Bachdim, dan Kepiting Saus Lada Hitam(?). Yang kemudian menghasilkan sosok pria bernuansa api dingin(?) yang sangat familiar bagiku…
Biar kutebak…
"Jin? Kau pasti Jin Kazama, Iya khan?"
Dan sosok pria itu menjawabnya dengan suara bagaikan musim dingin yang mencekam…
"kau lupa pada kakakmu sendiri?"
Tunggu, dia bilang apa?kakak?
"KAMU KAKAKKU?"
Chapter 2 : Jin's Suicide
-Author's PoV-
"Ini tidak mungkin! Kau bukan kakakku!":
"jika aku bukan kakakmu, lalu apa yang bisa membuatmu percaya padaku?"
Hm…..
Jika dia kakakku, pasti ada sesuatu yang hanya aku dan dia yang tahu…
Ah, itu dia!
"bagaimana kau bisa berubah jadi Devil Jin?"
"Apa?"
Dia tersentak kaget. Aku yakin dia tak bisa melakukannya, hihihi…
"aku tidak mungkin melakukannya, Nagi!"
"Kenapa, eh, kenapa?"
"ini pagi! Masa aku berubah jadi setan di siang bolong?setan kesiangan dong!"
Ah, iya. Setan dimana-mana ga ada yang muncul di siang bolong. Betapa lempernya diriku.
"Kalo begitu, aku mau mandi dulu ya!", katanya sambil menyunggingkan senyum 'dingin'-nya. Ah…inginnya aku membawa iPod.
#backsound : Usher- Oh My Gosh
Aku memang bergegas untuk mencari kamar mandi. Tapi, sekarang yang kucari bukanlah kamar mandi. Tujuanku kali ini adalah…..Dapur!
Aku mencari bahan makanan yang ada di kulkas. Dan bunyi yang tidak biasa pun bermula….
TRANG!BUAK!BUK!MEONG(?)
Jin pulang(?) dari kamar mandi dan menuju ruang makan. Alangkah kagetnya ketika dia menemukan beragam makanan yang berbeda dari biasanya.
"Ayam Goreng? Sayur Asem? Tempe?"
Aku pun kembali ke ruang makan untuk memulai sarapanku.
"Siapa yang memasak ini?", Tanya Jin pada salah seorang pelayan yang kebetulan bernama Sarah.
"Uh….", pelayan itu tergagap setelah aku memberikan kode berupa tatapan jika-kau-bilang-kau-yang-memasak-padahal-aku-yang-lakuin-kamu-kulempar-ke-jendela.
"Aku yang masak…"
"Waow, aku belum pernah lihat kamu memasak masakan seperti yang dimasak ibu kita dahulu…"
"heran ya jika aku bisa memasak?"
Jin terdiam sejenak. Dia menghela napas panjang. Sepertinya dia sangat merindukan masa lalunya yang indah. Saat usianya masih seumuranku, 15 tahun. Dan sekarang, ia telah menginjak usianya yang usang tersebut ke usia 20 tahun. Aku penasaran betapa sulitnya perjuangan mencari kasih ibu yang berakhir tragis seperti Jin kali ini.
Aku pun ingin menangis, tapi aku tak kuasa. Aku hanya bisa mengucapkan salam perpisahan pada kakakku yang sekarang ini.
"aku berangkat sekolah dulu. Ittekimasu!"
"TUNGGU!"
CKIIIIIIIIIT!BRUAK!
(kelamaan pencet Shift, takut rusak)
Aku tersadar dari pelarianku yang ternyata menuju tembok raksasa. Otomatis mukaku jadi rata dengan dinding yang putih dan ….entah bentuknya seperti apa.
Jin merapikan jas hitam dan mengancingkan kemejanya yang terbuka hingga dada. Maklum, cowok berotot pasti jika punya baju berukuran XL sekalipun, akan terasa seperti ukuran S.
Dengan wibawanya berkata, "kamu tidak ikut dengan Sebastian? Biasanya kamu mau naik mobil L*mb*rgh*n* lengkap dengan supir pribadimu, khan?"
Hah? L*mb*rgh*n*? itu khan merek mobil kesukaanku! Bagaimana dia bisa tahu? Dan, siapa itu Sebastian?
Mendadak, entah muncul darimana, sesosok pria tampan dengan rambut hitam yang emo abis datang menemuiku.
"mau berangkat sekarang, Nona?", katanya dengan sopan sambil membungkuk.
Tunggu. Aku kenal sosok pria ini. Dia pelayannya Jin yang tampan itu, Sebastian Michaelis!
Haaaaah, tampangnya Oh-My-God! Tapi masih kalah dengan kakakku…..
"tentu saja aku mau. Ayo pergi sekarang…"
Aku pun pergi berpamitan lagi setelah acara pamitan yang gatot alias gagal total.
"aku berangkat dulu….Kakak. Ittekimasu!"
"Hati-hati di jalan ya!", Jin melambaikan tangannya sambil memberi senyuman . Entah senyuman sinis atau bukan. Tapi, Setelah tersenyum, dia menghela napas untuk yang keseratus kalinya.
Aku menaiki mobil Lambretogini Pulau Madura berwarna biru dengan api merah di bagian bawahnya dengan senang hati. Akhirnya aku bisa merasakan seperti apa mobil yang kuidamkan
.
.
.
Di depan sekolah, aku melangkah dengan penuh kegembiraan. Aku berpamitan juga dengan Sebastian. Dan mobil itu meninggalkan sekolahku. Aku berjalan dan melihat papan nama sekolahku.
Hei. Aku di Tekken Gakuen? Bukankah sekolahku di SMA Hanakimi?
Entahlah, aku tak peduli sekolahku. Yang jelas, aku baru saja bertemu dengan seorang wanita muda yang berambut long ponytail. Tunggu, itu Scarlet! Tapi, kenapa dia tidak menyapaku?kita khan sahabat sejak lama.
"Ohayou, Scarlet-chan! Kenapa kau murung?", sapaku sambil menghampiri dirinya yang berekspresi datar. Padahal, biasanya dia berjalan dengan riang dan penuh semangat. Aku sangat heran dengan kondisinya dewasa ini.(Readers : woy, lu masih anak-anak!)(A/N : bacot lu pade! Kalo ga mau jangan baca!)
Scarlet menoleh ke arahku. Dia hanya menjawabku dengan wajah datarnya. Seakan-akan, dia tak mengenaliku lagi. Seharusnya aku tidak memohon agar aku memiliki kakak seperti Jin. Karena aku tahu jika perempuan periang itu suka padanya dan ingin bisa melihatnya dari dekat. Tapi, karena ulahku, aku harus rela melepaskannya karena kini pria pantat bebek itu telah berpihak padaku.
Galau tingkat Ujian Nasional.
Aku hanya bisa masuk ke sekolahku yang sekarang. Aku bertemu dengan sosok yang menurutku tidak asing lagi, karena mereka sering kutemui di permainan yang menurutku sangat wajib. Satu yang menjadi kelemahanku saat memohon permintaan tersialku…..
Semua pembelajaran disini menggunakan Bahasa Inggeris! ARGH! Aku seperti menjadi orang gila yang akan mengorek sampah permen karet untuk menutup telingaku.
Tapi untunglah, aku bisa melewati hari ini. Hingga akhirnya ada sekelompok polisi dan pemadam kebakaran beserta para instruktur senam(?) membawakan trampoline di depan rumahku. Oke, apakah kakakku sudah gila memesan trampoline beserta instruktur dan polisinya untuk melatih tubuhnya, atau dia juga seorang stuntman yang kebetulan melatih ketinggiannya melompat dengan trampolin itu?
Aku tak tahu. Para pembaca pasti juga tidak tahu. Lili Rochefort dan Christie Monteiro juga ikutan bingung.(A/N : ini orang bedua pada ngapain sih?)Karena itulah, aku memasuki rumahku. Dan aku tersentak kaget. Christie juga ikut kaget(Narrator : ngapain sih ni orang?).
Kakakku, Jin, akan bunuh diri! BUNUH DIRI!LEWAT ATAP RUMAH !
Maaf, saya lebay. Sebenarnya dari ketinggian lantai 25 di rumahku(rumah apa hotel?). Aku langsung berlari menuju lantai 25. Lewat lift tentunya.
Sesampainya di dekat sebuah jendela, Jin telah membentangkan tangannya. Dan akan terjatuh.
Aku pun takut. Christie juga takut. Loh, ni Christie kok ikutan juga sih?
Dengan diaktifkannya slow motion, aku berlari dan terus berlari menghampiri Jin. Dan berteriak…
"JIN!"
Aku menarik jas yang dikenakannya sedari tadi, kulempar tubuhnya ke tembok dengan keadaan muka yang menghadap dinding. Namun ternyata, Jin yang kulempar malah menabrak Christie yang sedari tadi mengikutiku. Dia kenapa sih?buntutin terus ni cewe!
Jin memang pingsan. Tapi, aku beruntung karena aku bisa menyelamatkannya dari perbuatan berdosa ini. Tapi, Christie yang selalu mengganggu malah kegirangan memangku kepala Jin. Dengan wajah yang menghadap ke bawah. Rata dengan bentuk dinding.
"Woy, Chirstie! Ngapain kamu disini? Dia bukan kakakmu!", bentakku padanya. Tapi ternyata, J-Lo versi Brazil ini malah membalas. "Dia pacarku tauk! Kamu ga pernah liat aku sering beduaan? Di film kita juga kita berduaan terus!".
What? Christie Monteiro? Pacar…..Jin?
"AKU TIDAK SETUJU! MULAI SEKARANG, KALIAN HARUS PUTUS!"
(Reader : tombol shift jangan dipencetin terus…)
"huh, mengganggu saja…gutbay!", Christie minggat ria sambil membanting kepala Jin yang tadi dipangkunya. Kasian, ga punya harga diri ya? Ngebanting kepala orang?
Aku menghampiri Jin yang telah teronggok(?) dengan tak elitnya. Kupandangi wajahnya yang kini telah bagaikan S*l* yang hidungnya pesek.
"Jin! Kamu tidak apa? Aku harus merawatmu!", kugoyangkan tubuhnya yang lemah lunglai. Mendadak matanya terbuka lebar di dalam kelopak matanya yang sedikit sipit . Dan….
DEBUAK!
Hampir saja ada adegan "kepala-mendarat-di-dada". Tapi, jarak wajahku dengannya tinggal 5 cm.
4 cm…..
3cm…..
2cm…..
1cm…Pipiku memerah. Aku harus berbuat apa?
"LO MAU INCEST? DASAR !"
DEBUAK!
Aku memukulnya. Sial! Padahal aku ingin sekali mendapt ciuman darinya. Entah kenapa aku merasa tak enak untuk mendapatkannya. Ingin untung malah buntung.
"What was that for?", Tanya Jin sambil memasang muka dongo.
"Itu karena kau mau berniat bunuh diri! Kau sudah gila? Bunuh diri bukanlah jalan terbaik untuk menghabiskan masa hidupmu! Kamu malah berdosa karena kamu sia-siakan perjalan hidupmu yang masih panjang! ".
"Kenapa kau tiba-tiba menyalahkanku?"
"karena tindakanmu yang bodoh itu! Jika aku tidak datang, kau pasti sudah tiada saat ini!"
Jin pun terdiam. Aku terdiam. Kalo ada Christie lewat lagi dan ikut diem juga, gua gampar!.
"Ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukan itu padamu. Maafkan aku jika selama ini tindakanku salah. Sumana…", Jin membungkuk sambil bersujud di hadapanku.
"tak apa. Aku pasti memaafkanmu. Jadi, kamu mau ikut aku jalan-jalan?"
"tentu saja…", Jin masih memasang muka datar bagai disetrika.
"udah. Jangan sok jaim, ayo pergi!",
Dan kami pun berjalan berdua menuju sebuah taman.
Kami duduk di sebuah bangku taman yang indah sambil memakan Chocolate Cheese Roll, bolu gulung kesukaanku. Mendadak aku memulai pembicaraan.
"Uh, Jin. Kamu khan kebetulan baru dating dari kantor dan besok masih banyak urusan. Aku mau ngomong sesuatu nih…"
"Hah?kenapa?", Jin melongo dengan coklat yang belepotan di sekujur tubuhnya(?).
-Author's PoV ended-
Bagaimanakah kelanjutannya?apakah yang akan dibicarakan Nagi-san kepada Jin?
~TBC~
Nagi : jangan lupa ngeripiu yeee…
Scarlet : maap kalo ini garing. Bikinnya kepanjangan!
Nagi : saya kasi biciran buat chap selanjutnya. Namanya "Haruskah Persaudaraan Kita akan Berakhir?"
Scarlett : kalo mau menyisipkan ide cerita dalam chapter berikutnyadi fic ini, silakan ripiu. Saya mau bales Ripiu dulu nih….
From Laila Sakatori 24 :
Garing!
Lanjut yak!penasaran sama nasibnya Nagi-san…
Numpang Fave!
Scarlet : thanks for FAVE! Kalo soal garing-garingan, itu bukan garing, humor saya memang kalah professional sama Nagi-san!
Lanjut!
From Felicia Dita Antefa :
Wow, bagus kak!
Lanjutin Donk!
Scarlett : Oke, Felicia! Kakak udah siap sama chap 2 ini!
From Ten-Ten 123 :
Bikin penasaran aja ceritanya
Update kilat yaaaaa!
Scarlett : napsu amat! Pada minta apdet kilat semua….
Nagi : sekian dari kita. Sampai jumpa di chap selanjutnya!
