Scarlett : adoh…capek gila. Nagi-san! Ulangannya kok lama banget sih?
Nagi : namanya aja Ulangan Semester. Ya , pasti memakan waktu. Doain aja biar saya lulus dengan nilai memuaskan semester ini.
Scarlett : Amin, Nagi-san!
Nagi : gimana kabar fic yang aku kasitau kemaren?banyak review ya?
Scarlett : ya jelas banyak ripiu dong! Kita baca sekarang?
Nagi : aku aja yang baca. Bentar….
Dari Hikura Rima :
...
Nani kore...?
#selanjutnya
Kakak kurang ajaaaaar! Siapa itu Xion?
Tak gorok lehernya! #ngasah parang
#selanjutnya, selanjutnya lagi
Kyaaaaaaaa!~ Jin~
Hyaaaaaaaa!~ Adegan "DEBUAK"nya~
Myaaaaaaaa!~ Update yaa!
Ah iya...
saya agak mau komentar nih...
saya rasa narasinya ditambah dalam cerita, jadi yang baca (mungkin saya aja kali ya...) bisa lebih lama menikmati plot cerita...
Dan juga, ceritanya jangan langsung change-subject. Mungkin lebih bagus dibuat perlahan. Terus ada/sedikit/spasi yang tidak terspasi.
Well, maaf saya cerewet! Maaf saya sok ngeguru!
Maaf! Saya cuma mau minta update-an aja dah! #sujud
UPDATE! Dan... YOROSHIKU NA from Hikura Rima!
Nagi : sumpah ni anak. Kebanyakan ngenter nih…Pokok'e, Yoroshiku lah! Jangan lupa liatin kita terus… Nanti akan saya coba perbaiki lagi…redaksinya….
Dan, dari Laila Sakatori24 ;
Jin bunuh diri! Kenapa? Klo bunuh diri ntar sp yg ngsih mkn adek(?)nya..? *di injek*
Koplak jga ada tmbhan Sebas dri Kuroshitsuji
Apdet...!
Nagi : plis, bisa nggak untuk menulis sesuai EYD tanpa harus menggunakan tombol Enter?
Scarlett : kebetulan kesamaan kita itu orangnya koplak. Biar mata fresh dikit aja sih tujuannya. Soal tujuan Jin bunuh diri, akan saya jelaskan di chap 3 ini.
Nagi : ehem….
Scarlett : maksudnya, sedikit diubah redaksinya…
Kemudian dari Felicia Dita Antefa ;
wahhahahaha lucu banget
Terusin kak! :D
Nagi : yang ini kebalikan Hikura-san, irit ngomong…! Entah mengapa para reviewer juga ikut koplak…
Terakhir, dari ArthuriaMarie Pendragon :
Nagi - saaan ! kore wa kakkoi ! kau berpikir dia kakamu ... aku pernah mimpi sampe ga bangun sampe jam 11 siang gara2 mimpi dia jadi pacarku ... ^/^ .. keep up the good work ! ganbatte !
Scarlett : makasih, Arthuria-san!
Nagi : ini yang dipuji siapa sih?
Scarlett : sori, Nagi-san! Saya dari tadi ga dipuji loh…
Ya sudah, kita mulai saja ceritanya…..
WARNING!this fic contains humor garing dan karakter yang OOC. Karena kami akan memfokuskan pada sentakan akhir yang heboh dan lucu.
If My Brother was Jin Kazama
Sebelumnya di "If My Brother was Jin Kazama"…
Kami duduk di sebuah bangku taman yang indah sambil memakan Chocolate Cheese Roll, bolu gulung kesukaanku. Mendadak aku memulai pembicaraan.
"Uh, Jin. Kamu khan kebetulan baru dating dari kantor dan besok masih banyak urusan. Aku mau ngomong sesuatu nih…"
"Hah?kenapa?", Jin melongo dengan coklat yang belepotan di sekujur tubuhnya(?).
Chapter 4 : Haruskah Persaudaraan ini Berakhir?
"sebenarnya, apa tujuanmu bunuh diri? Aku masih penasaran dengan dirimu…", tanyaku dengan memasang mutados. "sepertinya kamu punya masalah…"
"sebenarnya, aku masih lemah menghadapimu. Aku mau menguji keberanianku… ", dengan muka sedih, Jin menundukkan hatinya(?).
"Lalu, apakah dengan bunuh diri semuanya baik-baik saja? Justru masalahnya akan berlarut-larut! Ayolah beritahu saja…."
"AKU PUNYA KUTUKAN ITU!"
Hah?kutukan? oke, aku lupa jika dia punya "kutukan darah setan". Kenapa aku jadi suka lali sih waktu dekat dengannya?
"kutukan?maksudmu kutukan darah setan?", aku hanya bisa mutados karena sifatku yang pelupa ini.
"iya, mungkin aku lupa menceritakan itu padamu. Padahal, kita sering LDR. Aku lupa jika aku harus menceritakan ini…"
Dan Jin langsung main curhat tentang kisah hidupnya di balik sebuah turnamen terbesar di Jepang saat itu, Tekken. Tampaknya aku sering memainkan game ini…
"kamu sabar aja ya…aku tak tahu jika kejadiannya seperti itu…", aku hanya bisa mengelus punggungnya yag ditutupi jersey ungu dengan(kalian tahu apa yang akan kukatakan) di bawahnya. Pokoknya itu…
"aku hanya bisa berkata, niatmu memang benar. Tapi…."
"Tapi, apa?"
"caramu salah. Seharusnya ada cara lain yang bisa menghilangkan kutukan tersebut tanpa perlu bunuh diri."
"Aku sudah coba semuanya. Aku masih memiliki kutukan turunan ini…"
Ah, betapa sulitnya jika dia memiliki kutukan tujuh turunan ini… akan sulit untuk dihilangkan….
"entah mengapa kau juga menjadi sangat perhatian. Sebenarnya, ada apa akhir-akhir ini?"
Oh, tidak! Aku ditanya begitu! Aku benar-benar bingung soal pertanyaan ini. Aku harus bagaimana? Dan bagaimana dengan isi kepalaku saat ini…
Haruskah persaudaraan ini berakhir?
Jika aku memilih menjelaskan semuanya, aku tak akan pernah bertemu dengan Jin. Tapi, jika aku memilih tetap bersama Jin, aku tak akan pernah bisa mendapatkannya bahkan memperbaiki hubunganku dengan Scarlet-chan.
Oke, tenang. Sabar bu…
Sudah kuputuskan…
"euh, Jin. Sebenarnya, aku sangat….."
Jin hanya menoleh dan mutados.
Dan memukul pundakku. Otomatis latahku kumat…
"AKU MENCINTAIMU!"
Ups…keceplosan…..
"kau…mencintaiku?Tapi…"
Aku hanya bisa menghela napas panjang. Aku pun menjelaskan semuanya.
"aku tahu. Tapi, aku bukan adikmu. Margaku Kirishima, bukan Kazama…"
"tapi…tapi…"
Aku pun mencoba mayakinkannya dengan langsung main curhat soal kejadian sebenarnya. Aku masih ingin bisa terus berdua seperti ini lagi, tapi, aku merasa tak pantas untuknya.
"aku minta maaf, Jin. Sepertinya persaudaraan kita harus berakhir saat ini juga."
"Tapi, kenapa? Aku tak percaya jika kau bukan adikku…. Ini tidak mungkin!", Jin memalingkan wajahnya. "aku tak percaya jika semuanya akan jadi seperti ini…"
"justru kau salah. Seharusnya aku yang tak percaya bahwa semuanya akan seperti ini. Aku terpaksa harus terlibat dalam alur cerita dimana aku tak ada di dalamnya."
Dia masih memasang wajah aku-tak-percaya sambil membuang malu. Dia membuang mukanya. Ternyata wajahnya mulai blushing, pembaca!
"maafkan aku jika aku bersalah. Aku telah menipumu selama ini. Tujuanku kesini karena aku tak ingin kau mengalami hal yang sama denganku. Hidupku lebih menyedihkan dimana kakakku hanya bisa berfoya-foya sebagai tanda terima kasih atas kerja kerasku menghidupi keluargaku. Dan aku menghindar dari masalah itu dengan memohon agar kau menjadi kakakku", tuturku lirih sambil berlinangan air mata.
Jin dengan wajahnya yang masih merah panas(?) memegang pundakku.
"aku tahu jika masalahmu seperti itu. Karena itulah, aku ingin kau bisa menemaniku disini"
"tapi, aku tak pantas untukmu. Jika aku terus disini, sama saja aku jatuh cinta pada kakakku sendiri."
"kalau begitu, kau pergi saja dari sini!"
Jin tampak murka. Tapi, di hatinya, aku yakin dia masih berat untuk kehilangan diriku. Artinya, sudah sepantasnya aku pergi dari tempat ini.
"baiklah, jika tu maumu. Aku akan pergi dari tempat ini! Maaf jika aku sudah mengecewakanmu!", aku juga ikut marah dan meninggalkan Jin sendirian. Aku berlari dan terus berlari. Hingga akhirnya aku sampai di sebuah kuil tempat aku biasanya berdoa.
Aku merogoh sakuku lagi. Mencoba mencari uang receh untuk dilempar.
Ah, tidak lagi! Aku hanya punya 250 yen karena membeli cokelat. Untungnya, ada dua keeping, mungkin saja bisa membuat dua permintaan.
Aku melemparnya kembali di saat bersamaan. Meskipun tidak mengenai lonceng seperti biasanya, aku tetap berdoa.
"Siapapun disana, tolong keluarkan aku dari tempat ini dan bawa aku ke tempat yang seharusnya. Tapi, aku masih merasa berat untuk meninggalkan Jin, jadi aku juga mohon pertemukan aku kembali dengannya di lain waktu…"
Lalu, aku erasakan sesuatu yang aneh mengitari belakangku. Aku menoleh dan…
Jin!kenapa dia ada disini?
''kau pasti mau pergi khan? Aku akan setia menemanimu untuk membawakan kenangan perpisahan kita".
Jin?menemaniku? aku belum pernah bisa seperti ini. Aku belum pernah sedekat ini dengannya. Oh-My-God!
"kalau begitu, bagaimana jika kita ke photobox? Kita bisa foto bersama dan ….."
"mau berfoto dengan saya juga, Nagi-sama?"
GYAAAAA! HANTU!
"dia bukan hantu. Itu karena kebiasaannya aja. Jika orang belum sempat menyebut namanya, pasti datang sendiri."
Ah, jadi begitu ya? Kupikir dia memang hantu…..
"siap berfoto bersama?"
Dan kami bertiga mulai berfoto bersama. Seperti tiga sahabat. Aku di kanan, Jin di tengah, dan Sebastian di kiri. Kami benar-benar bahagia selama ada disana.
Setelah keluar dari photobox, Jin menyerahkan hasil fotonya pada Sebastian. Dan pergi dari photobox itu. Entah mau diapakan foto-foto itu.
Setelah kepergian Sebastian, ternyata hujan turun dengan derasnya. Argh! Kenapa harus seperti ini?
"euh, Jin. Sepertinya hujan turun deras. Berapa lama lagi kita terus disini?"
Monyet! Aku ngomong apa sih? Kau pikir Jin peramal cuaca?kenapa jadi salting begini?
"kamu kenapa?sakit ya? Kita berteduh saja dulu…"
"tapi, aku tak membawa payung…"
"pergi saja. Bawa jersey-ku pergi!"
Apa?jersey?aku harus membawa jersey miliknya sebagai pengganti payung?Ada apa dengannya?kenapa dia baik denganku?aku yakin ada sesuatu yang terjadi padanya…
~TBC~
Nagi : terima kasih sudah membaca
Scarlett : untuk kritik dan saran, silakan diripiu ya!
Nagi ; sampai jumpa di chapter selanjutnya!
