Scarlet : Nagi-san, kok ngelompat kegirangan begitu?

Nagi : ga tau aja. Kamu liat nih hasil ulanganku! *menyodorkan raport*

Scarlet : waow! Selamat ya! Nilainya bagus loh!

Nagi : dan buat semuanya juga, saya berterima kasih karena mendoakan saya biar nilainya memuaskan. Dan selamat tahun baru 2012!

Scarlet : Nah, yang penasaran sama ending cerita ini, saya baca dulu ripiu yang saya terima….

Nagi : kayaknya ripiu-nya sedikit. Tapi tetep kita bacain!

Dari Hikura Rima :

Haiiiiiiiii! Well, saya mau review dan komen lagiiiii~
Hummmm...
Ceritanya lumayan... tapi... tetap kurang penjelasan pada bagian photobox itu. Mereka itu pergi ke photobox kan? Tapi kenapa tidak diperlihatkan? Jadinya seperti photobox itu sudah ada di kuilnya tersebut. Lalu pada bagian penjelasan errrr... Kirishima, mengenai kebenaran di balik Jin dengan dia rasanya janggal. Perkataannya ada yang tidak pas, sebaiknya kalimatnya agak di'dandani' sedikit deh. Menurut saya sih... -garuk garuk pala.- Dan oh iya, setelah tanda petik ada banyak yang tidak menggunakan huruf kapital. Contoh:
"euh, Jin. Sebenarnya, aku sangat..."
Itu seharusnya:
"Euh, Jin. Sebenarnya, aku sangat..."
Plotnya boleh lah, spasi juga jangan lupa ya~ oh iya! 1 lagi!:
"kutukan darah setan". Kenapa aku jadi suka lali..."
Menurut saya bagusnya:
""Kutukan darah setan," kenapa aku jadi suka lali..."
Gomenne saya banyak ngomong! Please update yaaah! .

Scarlet : sumpah ni anak. Kebanyakan ngenter nih…udah komennya banyak pula. Oke, soal yang ini. Mohon kritikannya jangan terlalu banyak. Saya masih amatiran…

Nagi : Yasud, dan kami juga masih mau melaksanakan perkembangan untuk fic ini

Dari ArthuriaMarie Pendragon :

chapter ini kok rasanya pendek ya ? Karena teman saya punya selera humor super tinggi , dia bisa menularkannya pada saya dan menurut saya chap kali ini hunmornya cuman dikit ... Maaf agak nge - flame ...

Di sini soalnya lebih romance ... ^^

Keep up the good work ! ganbatte !

Scarlett : jujur nih… Harusnya ini bergenre Romance Humor. Tapi, karena ente nyaranin Family Humor. Ga jadi deh. Dan disini juga saya bosen nulis humor terus, jadinya sekali-kali bikin Romance satu chapter aja…

Ya sudah, kita mulai saja ceritanya…..

WARNING!this fic contains humor garing dan karakter yang OOC. Karena kami akan memfokuskan pada sentakan akhir yang heboh dan lucu.


If My Brother was Jin Kazama

Sebelumnya di "If My Brother was Jin Kazama"…

"euh, Jin. Sepertinya hujan turun deras. Berapa lama lagi kita terus disini?"

Monyet! Aku ngomong apa sih? Kau pikir Jin peramal cuaca?kenapa jadi salting begini?

"kamu kenapa?Sakit ya? Kita berteduh saja dulu…"

"Tapi, aku tak membawa payung…"

"Pergi saja. Bawa jersey-ku pergi!"

Apa?jersey?aku harus membawa jersey miliknya sebagai pengganti payung?Ada apa dengannya?kenapa dia baik denganku?aku yakin ada sesuatu yang terjadi padanya…

End of Story : Sayonara, Kazama-niisan!

Kami pun berteduh di sebuah tempat yang teduh dan letaknya berdekatan dengan lokasi karaoke. Suasananya lumayan sepi (baca : penuh) dengan orang-orang yang kehujanan. Kami memang sedang diam sejuta bahasa. Entah mengapa setelah kejadian itu, Jin mulai diam dan tak mau bicara padaku. Namun, aku masih yakin dia masih punya sesuatu yang membuatnya harus berbagi denganku.

Aku pun bertanya dengan sangat penasaran, "kamu kenapa sih? Kok diem?".

Tampangnya masih dingin sedingin suasana hujan kali ini. Dia tak menjawab. Aku menyahutinya lagi, masih tak menjawab. Aku akhirnya melontarkan pertanyaan pamungkas! Itu dia!

"Apakah kamu masih khawatir soal aku? Apakah kau takut aku akan pergi meninggalkanmu?"

Jin membuka mulutnya. Dan mulai bersuara. Yes! Aku sudah berhasil membuatnya buka mulut!

Aku menyumpal mulutnya dengan es krim yang baru kubeli. Sejenak, mulutnya gelagapan. Setelah badannya menggelepar, es krim di mulutnya kembali kutarik. Napasnya masih megap-megap.

"Nagi! Kenapa kau jahil sekali?masih seperti dulu ya…", dan di saat itu, aku melihat senyum pertamanya. Senyum pertama karena bahagia. Bukan senyuman karena terpaksa. Aku merasa bahagia soal ini. Dan sekali lagi, aku lontarkan pertanyaan yang sama.

"apa kau masih berat untuk meninggalkanku? Aku hanya ingin bertanya jika kau memang keberatan…"

Pria berambut pantat bebek ini pun kembali membuka suara.

" Ya… Maksudku, tidak! Maksudku, ya! ARGH!", dia menggelengkan kepalanya, seakan-akan dia benar-benar serba salah.

"Tampaknya kau punya perasaan yang sama denganku. Aku juga masih merasa berat meninggalkanmu. Tapi, aku juga tak bisa terus berada disini".

Cuaca yang saat itu hujan menjadi cerah berbinar. Namun, malangnya, hari menjadi gelap. Ada sesuatu yang janggal…

Jin jatuh pingsan mendadak. Aku langsung menghampirinya. Aku memeriksa keadaannya.

Dan cahaya berwarna gelap langsung menyelimuti tubuhnya. Aku kembali panik. " kau taka pa, Jin?".

"sebaiknya kau mundur!"

.

.

.

.

.

SIIIIIIIING!

.

.

.

.

Tunggu, tadi tu apa? Dan, siapa orang yang ada di depanku?

Tampak seorang pemudan berambut pantat bebek, bertanduk, dan bersayap hitam ada di depanku. Tunggu dulu… Rambut pantat bebek?

"Devil Jin! Tampar aku! Ini adalah sosok terindah dalam hidupku!", kataku sambil sujud syukur di hadapan Jin. Aku belum pernah melihat sosok ini dari dekat sekalipun.

"Aku mau poto dulu ah sama dia!"

Aku dan Devil Jin langsung berfoto dengan kamera hape. Meski akhirnya Jin jadi cengok, "kamu sakit ya?"

Mendadak, cahaya di dekat pohon entah asalnya darimana muncul di hadapanku. Tapi, aku merasa sesuatu yang tertinggal. Apa ya?

"Gerbangnya sudah terbuka. Kenpa kau tak pergi?", ujar Jin dengan santai. Tampaknya, Jin lebih tegar jika berubah menjadi Devil Jin.

Aku pun masih membungkuk dan mengucapkan terima kasih secara tak elit. Dan kebahagiaan ini membuatku menangis.

"Arigatou and Sayonara…", aku ucapkan salam perpisahan sambil memeluknya.

"meluk, sih, meluk. Tapi jangan kayak monyet gelantungan di pohon dong!", Jin marah sambil mencoba melepaskan pelukanku.

"Iya, maaf deh. Kalau begitu, sayonara….."

Aku masih terdiam. Ada sesuatu yang belum kubicarakan.

"can I take you jersey?", kataku sambil memakai jersey-nya Jin.

"ambil saja. Kau masih perlu khan?"

"benarkah? ARIGATOU!".

Dan pelukan ala monyet gelantungan di pohon itu kembali terjadi.

"Sayonara…..Kazama-niisan!"

Wajah Jin memerah, aku ketawa kecil sendiri sambil melangkah menuju cahaya putih tersebut.

Dan…

.

.

.

.

BRUAK!

BUK!

"Geez! Aw! Itu sakit sekali… Rasanya seperti sedang bermimpi…", kataku sambil bergejreng ria(?) berdiri dari tempat tidurku.

Mata masih merem-melek. Aku membereskan tempat tidurku. Dan, hey, sesuatu ada di tempat tidur kumal itu?

Aku mengambil substansi gaje yang membuat tempat tidurku sangat kumal. Dan itu adalah…

Jin's jersey!

Aku kembali sujud syukur bisa membawanya ke rumah. Aku menggantungnya di sebuah dinding di kamar tidurku. Persis kujadikan pajangan kenangan. Tapi, di kantong baju itu, seperti ada sesuatu…

Foto waktu aku bersama Jin…

"NAGI! Kamu mau telat? Cepat berangkat!", teriak sebuah suara ngebass dengan ketukan 6/8 (suara apa ini?)

Suara itu…

"XIOOOON!"

Aku berlari menuju sosok pria berkaos merah dan berambut silver itu. Lagi-lagi, pelukan lebay ala monyet memeluk pohon kembali terjadi.

Otomatis, pria bernama asli Tsuchiya Kirishima ini berusaha melepaskan diri dari pelukan adiknya alias saya…

"Kamu sakit ya? Cepet sarapan sana!", kata sosok putih itu sambil menyibak rambutnya dan pergi meninggalkanku.

Aku memang merasa senang kali ini. Aku telah kembali ke tempat asalku. Sebelum berangkat sekolah, aku asal menyumpal baju dan buku. Sampai-sampai, isi tasku hampir penuh.

Aku berpamitan kembali kepada kakakku, "kakak, aku pergi dulu ya!"

Kakakku melambaikan tangannya dan berkata, " hati-hati di jalan! Belajar yang bener ya!"

.

.

.

.

.

Ambil napas….

Keluarkan napas …

BROOOT!(aduh, keluarnya jangan lewat belakag dong!)

Haaah…

Sekolah tercinta, SMA Hanakimi.

Senang sekali kembali ke sekolahku. Tapi, aku merasa ada sesuatu yang hilang…

Aku mengambil iPod di dalam tasku. Dan lagu "The One That Got Away" menjadi pilihanku.

Aku berjalan dengan pasti menuju sekolahku. Dan…

BRUAK!

Tampak buku berserakan dimana-mana. Aku mencoba merapikan buku itu. Ketika aku mengambil buku yang terakhir…

1…

2…

3…

"Scarlet Salazar!"

"Nagi-san?"

Aku meompat kegirangan. Aku sangat senang Scar masih ada disini sebagai sahabatku.

"Nagi-san, kamu tak apa?"

Aku kaget ketika Sekar(Scar) menanyakan hal itu.

"Kamu tak akan percaya apa yang sedang kualami kemarin. Aku ceritain di kelas ya…"

-Author's PoV End-

Sesampainya di kelas, jam pelajaran IPS…

"anak-anak, kali ini kita punya teman baru…", sahut seorang guru bernama Yono, guru Matematika yang menjadi wali kelas X-B.

"Jadi gitu ceritanya…", ujar Nagi, murid tukang tidur dan penyanyi kamar mandi professional kepada sahabatnya Scarlet.

"Waow, sempet foto juga ya! Ga mungkin…", jawab Scarlet, anak jenius, lugu, dan periang itu kepada sahabatnya.

"SILENCE!"

Suasana kelas menjadi hening.

Tiba-tiba, muncul seorang anak dari pintu kelas. 'Wah, penasaran nih anaknya gimana…mudahan bisa dikerjain…', batin Nagi dalam hati.

Sosok anak itu memunculkan batang telinganya(?). Dan sosok rambut pantat bebek itu berdiri menghadap seluruh murid di kelas itu, kemudian mengenalkan diri.

"Watashi wa Kazama Jin. Yoroshiku!", anak itu pun membungkuk dengan sopan.

Otomatis, Nagi tergagap setelah kejadian itu.

"D-d-d-d-dia… J-j-j-j-Jin, K-k-k-k-k-k…."

Sebelum Nagi menyelesaikan bicaranya, dia pingsan mendadak.

~The End~

Setting : masih di kelas X-B SMA Hanakimi, Jam Istirahat

Nagi : bagaimana kau bisa ada disini?

Jin : sebenarnya, aku mau nolong kamu tapi malah ikut juga deh…

Scarlet : Hei, kalian berdua! Gimana pendapat kalian soal fic baruku?

Nagi & Jin : *ngeliatin isi fic*

Scarlet : bagus ga?

Nagi : *pasang deathglare, kemudian memalingkan muka ke Scarlet* Scarlet Salazar….

Scarlet : kenapa, Nagi-san?

Nagi : LO BAKAL MATI!* ngasah pedang*

Scarlet : AMPUUUUNNN NAGI-SAAAN!

~The End(beneran)~

-Nagi's PoV-

Map kita telat nih…

Kalo ada saran, bisa ripiu di fic ini

Soal apa yang dibikin Scarlet, kalian bisa pikirkan sendiri. Biarlah jadi misteri...

Sampai Jumpa di fic selanjutnya!