Ini fict dibuat karena saya stress dua scenario film saya ditolak mentah-mentah oleh asisten sutradara saya..

Padahal saya sutradaranya tapi kenapa saya yang diatur-atur? [disini critanya saya ngerangkep jadi penulis script juga, haha maruk!]

Anyway, ini fict dadakan yang judulnya pun dadakan..

Asli bingung mau kasih judul apa..

But for temporary I choose: Pledge (ga tau maksudnya apa)

Tapi bisakah judul fict diganti?

PROLOUGE : PLEDGE

Langit nampak berwarna kemerahan dipelupuk mata seorang gadis. Ia sedang menatap nanar akan sesuatu yang ada dibawah sana—dibawah langit kemerahan ini. Suasana disekitar gadis itu sangat gelap, hanya bisikan kelu angin yang menerpa gendang telinganya. Mungkin bagi sebagian orang yang ada diposisi gadis itu sekarang—duduk menyendiri dikegelapan, akan memilih tidur dibawah selimut tebal dan menguntai mimpi.

WHUSSS…

Sang gadis tak bergeming ketika angin dengan kasar mengigit kulit pualamnya, ia masih disana, ditepi danau yang membatasi dunianya dan dunianya 'dia'. Danau yang terbentuk dari gumpalan awan yang kini bertaburan bintang-bintang, danau yang bagaikan karpet wol tebal dengan gliter bersinar indah yang akan membuat kita ingin—sekali mencoba berdiri dan berjalan diatasnya. Sang gadis tahu akan keinginan itu, sama seperti kita jika melihatnya, bahkan ia sudah pernah mencoba berjalan diatasnya dan akhirnya terjatuh dari awan—yang bagaikan karpet itu. Lalu ia menjalani hari-hari yang sungguh berbeda dan akan berbeda selamanya jika ia tak segera menjatuhkan diri lagi dalam awan itu.

Sang gadis tahu—bahkan sejak pertama bahwa ia akan tak mampu untuk kembali ke dunianya setelah bertemu dengan pemuda manja itu. Ia tahu jika ia bukanlah penyihir hebat hingga ia mampu meramal cintanya sendiri, bukan, bukan, ia tetaplah seperti makhluk Tuhan lainnya—tumbuhan, hewan…manusia, yang tak mampu mengetahui takdirnya.

"Sendirian?" sebuah suara membuyarkan lamunan sang gadis.

"Uhum," sang gadis menimpali lalu melanjutkan aktivitasnya lagi—menatap awan dibawahnya.

"Bagaimana rasanya menjadi ketua murid yang baru?" tanya si pengganggu yang kini menempatkan diri disamping sang gadis.

"Mengerikan!"

"Hahaha..." si penganggu mengelus pelan rambut si gadis. "Kau selalu bisa membuatku tertawa."

"Yeah, karena aku konyol dan tak pantas jadi ketua murid makanya kau mentertawakanku," si gadis melepas kasar tangan lelaki berambut merah disampingnya.

"Ops, bukan, maksudku umumnya menjadi seorang ketua murid adalah sesuatu yang keren. Kau bisa meminta apapun dan siapapun untuk jadi apa yang kau inginkan. So, there's no pain with that."

"Tapi keinginanku tak ada disini," si gadis menunduk.

"Sakura… kau… masih memikirkannya?"

Si gadis—Sakura mengangguk mantap, tak ada kebohongan kini. Ia sudah tak bisa mendustai siapapun.

"Pergilah,"

"Aku tak bisa, Gaara. Nenek—"

"Pergilah, bahagialah dengannya, tinggalkan duniamu ini."

"Aku tak bisa."

"Setidaknya jenguklah dia," Gaara memgang erat bahu Sakura. "Dengar kau bisa mendapatkan orang yang kau sayangi disana, mereka membutuhkanmu sekarang."

"Tidak!" Sakura berdiri. "Nenek membutuhkan aku daripada siapapun, ayah dengan ibu disana dan dia… dia mempunyai banyak teman disana. Aku… tak perlu kuatir," Sakura melangkah pergi meninggalkan Gaara.

"Kumohon kembalikan Sakura, Tuhan," Gaara berbisik.

Teng…

Pukul satu malam.

Sakura masih tak mampu menyenyakkan diri diatas kasurnya, padahal kasurnya terbuat dari bahan terbaik diseluruh Konowarts dan merupakan kasur ternyaman diasrama Konowarts Academy. Pikirannya melayang akan ucapan Gaara.

"Setidaknya jenguklah dia,"

Sakura menedang selimutnya dan segera mengambil cardigan birunya yang tersampir pada pilar ranjangnya. Ia berjalan mengendap menuju pintu besar asrama Konowarts Academy, ia sudah membulatkan tekadnya akan menemui pemuda itu sekarang. Ia hanya akan menatapnya dari jauh, ya dari jauh.

Kriett…

Sakura menutup sebelah matanya ketika membuka pelan pintu besar asramanya dan berlari ketika tubuh semampainya sudah diluar pintu itu lalu berlari menjauh tanpa menutup pintu besar dibelakangnya. Sakura tak tahu jika ada seseorang yang mengintipnya—yang mungkin bisa saja melaporkan hal ini pada kepala sekolah Konowarts academy dan membut gelar ketua murid Sakura dicopot atau bahkan ia diusir dari Konowarts.

"Dasar anak nakal," geram orang yang menintip itu.

Sakura masih berlari dengan terengah diatas kaki telanjangnya yang berdarah, dia harus cepat. Kini ia sampai didanau itu lagi, hatinya menciut lagi menatap danau awan itu, ia takut akan sakit hatinya lagi. Tapi ia akan semakin sakit hati jika ia tak tahu tentang pemuda itu sekarang.

"Aku harus turun," Sakura melangkahkan kakinya dan jatuh terpeleset dari awan itu.

Dukk…

Sakura jatuh terduduk. "Auu, sakit sekali."

"Permisi anda siap—oh maaf, nona Haruno, bisa saya bantu?" tanya seorang berambut pirang panjang sopan dari keturunan Fuuma—klan penjaga perbatasan.

"Umm, aku ingin pe-pergi ke dunia, bisakah?" Sakura bertanya canggung.

"Yeah, apapun untuk ketua murid silahkan," gadis Fuuma itu membuka salah satu pintu besar dihadapannya dengan susah payah, lalu sebuah lorong gelap terjulur dihadapan Sakura.

"Trims," Sakura segera memasuki lorong gelap itu.

"Eh, mungkin kau butuh ini," Sasame menyodorkan lentera kecil. "Disana gelap."

"Ah, tidak," Sakura menunjuk jari telunjuknya yang kemudian mengeluarkan cahaya putih terang. "Aku seorang penyihir, bukan?"

"Hmmm," Sasame mengangguk dan menutup pintu didepannya.

Blamm…

Pintu tertutup. Sakura segera menuruni tangga satu persatu yang jumlahnya 1001 anak tangga secepat mungkin. Nafasnya terengah namun tak sekalipun menghentikan geraknya karena hasrat untuk menjenguk orang itu menggebu-gebu. Sejam berlalu, tiga puluh anak tangga lagi. Sakura mengelap peluh dipelipisnya. Ia harus segera turun!

Tiga puluh, dua puluh sembilan, dua puluh delapan… dan habis…

Pintu besar kini ada dihadapan Sakura. Sakura menarik nafas perlahan dan membuka pelan. Ia menggumamkan tempat yang ditujunya dalam hati sebelum membuka pintu itu. Kaki jenjangnya melangkah keluar, kini ia berdiri pada sebuah pohon Sakura yang menjulang tinggi pada pekarangan rumah mungil yang terlihat mahal.

Sakura menatap sebuah jendela yang sangat ia hafal sebagai kamarnya 'dia'. Dahinya mengkerut menyadari bahwa lampu kamar itu masih nyala, tak lama kemudian seorang pemuda tampan keluar dari jendela besar kamar itu dan melamun menatap langit dibalkon. Sakura masih mengintip pemuda yang dirindukannya itu, pemuda itu menatap sedih langit cerah diatasnya.

"Hei, bodoh, aku merindukanmu!" pemuda itu berteriak pada langit tak peduli jika teriakannya akan mengganggu sekitarnya. "Sakura," bisiknya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Pemuda itu mengucek-ucek wajahnya kasar lalu menatap langit itu lagi, tapi dengan ekspresi senang sekarang. "Aku tahu kau baik-baik saja sekarang, aku juga harus begitu, bukan?" pemuda itu memasuki kamarnya, bersiap tidur, menarik selimut dan memejamkan matanya. Jendelanya ia biarkan terbuka walau malam ini sangat dingin.

Sakura turun dari pohon dan segera merangkak naik dengan kekuatan sihirnya hingga ia berdiri dibalkon kamar pemuda itu. Sakura terisak pelan, senang melihat pemuda itu baik-baik saja. "Sasuke," bisiknya.

Ahhh, akirnya aku bikin fict genre fantasy (^.^)/

Ini masih prolog, agak berat dan hurt kayaknya…

Bisa dibilang ini konflik cerita, tapi konfik lainnya banyak lagi xDDD

Tapi tetep masih nyerempet2 nama skulnya ama novelnya mamih Rowling :D

gapapah yak? Ini buat nyadarin aja ke readers kalo sekolah sihir..heheh

Semoga banyak yang tertarik dan mereviewnya..

Sebenernya alur critanya masih abstrak, tapi saya akan mencoba bikin fict ini jikalau banyak yang minat..

Baik sebagai keminatan kalian pada fict ini, leave review yaa…

Janji deh bakal dibales lewat message satu-satu…