Chapter 3


"Dingin…ergh.."

"Hn."

Hinata semakin mengeratkan pelukannya pada sesuatu yang sudah jelas lebih besar dari tubuhnya. Rasa dingin yang ada membuatnya ingin menghangatkan diri dengan sosok besar itu.

Begitu pula dengan sosok yang dipeluk, Ac kamar lupa ia kurangi tingkat suhunya. Ia pun membalas pelukan Hinata untuk mendapatkan kehangatan di kamarnya.

Setelah sekian lama mereka berpelukan dalam tidur mereka, keduanya mengernyitkan dahi.
Hinata merasa aneh dengan keadaanya saat ini. Dengan mata tertutup ia berpikir dan bertanya, apa dan siapa yang kini tengah ia peluk dalam tidurnya.

Mata gadis indigo itu ia buka perlahan, begitu pula dengan sosok yang ia peluk. Keduanya saling menatap walau dengan mata yang masih terkantuk, mereka berusaha saling membuka matanya.

Sekian detik mereka saling menatap dengan wajah yang datar barulah mereka saling membelalakan mata.

"Kyaaa!"

Hinata mendorong tubuh Sasuke yang masih memeluknya hingga terjatuh dari sofa. Mereka tertidur di atas sofa tadi malam, dan mereka tidak sadar kalau mereka saling berpelukan.

"Ugh.." Sasuke menyentuh kepala bagian belakangnya yang terbentur ubin dingin dalam keadaan terlentang. Bunyi benturan keras akibat jatuhnya Sasuke membuat Hinata kaget dan segera melihat keadaan suaminya yang kini tengah kesakitan.

"K..kakak!" Hinata bangun dan membantu Sasuke yang tengah kesakitan. Sasuke terduduk dan masih memegang kepalanya yang kesakitan."

"Ugh..Kau ini.."

"K..kak Sasu, m..maafkan aku."

"Cih..Sudahlah."

Sasuke berdiri dan pergi meninggalkan Hinata. Ia segera masuk kedalam kamar mandi dan memulai kegiatannya. Sedangkan di lain pihak, gadis yang baru saja membuat kepalanya kesakitan tengah berdiam diri dengan wajah yang merona merah bak sebuah tomat yang baru matang.

"Aku dan Kak Sasu..tidur sambil berpelukan di sofa."


Sasuke turun dari kamarnya yang berada di lantai dua disusul oleh Hinata di belakangnya.
Keluarga nya kini tengah menunggu mereka di ruang makan untuk sarapan bersama.

Sasuke segera duduk dan Hinata pun duduk di sebelahnya. Pelayan di rumahnya membawakan sarapan untuk mereka santap dan sebelum mereka memulai sarapan mereka, Mikoto menatap wajah Hinata yang agak mengeluarkan rona merah dari kedua pipinya.

"Hinata, kamu kenapa?" tanya Mikoto.

"Eh, ya?" Hinata mengangkat wajahnya yang sedang tertunduk.

"Wajahmu memerah, apa kamu sakit?"

"E..eh t..tidak, Mah."

"Benarkah?" tanya Mikoto.

"Sasuke, bawa istrimu ke dokter, jangan sampai sakitnya parah." Ucap Fugaku sambil mengambil pisau roti di depannya.

"Tidak usah A..ayah, saya tidak apa-apa."

"Dia tidak apa-apa Ayah." Jawab Sasuke datar sambil menyantap sarapannya.

"Tidak apa-apa bagaimana? Lihat, wajahnya berwarna merah, pasti dia sedang sakit. Hinata terus terang saja dengan apa yang kau rasakan. Kami sudah menjadi keluargamu, kalau ada apa-apa bilang saja." Ucap Fugaku.

"T..tapi saya memang.."

"Ayah, Hinata itu sedang malu-malu."

"Apa? Malu?" tanya Mikoto. Hinata pun kaget.

"Hn."

"A..aku t..tidak malu Kak." Jawab Hinata. Dan seketika itu pula wajahnya bertambah merah.

"Kau malu karena tadi malam kan?" Ucap Sasuke datar.

"Malam? Jadi kalian.."

"Sudahlah Mom, nanti Hinata bisa tambah malu." Jawab Sasuke tanpa melihat wajah anggota keluarganya dan hanya sibuk melihat roti yang ia makan.

"Kau ada jadwal hari ini?" tanya Fugaku.

"Ada tapi tidak begitu padat."

"Hmm. Kalau begitu cepatlah pulang nanti."

"Hn."


Hinata berjalan memasuki tempat kerjanya sekaligus rumahnya. Ya, walaupun saat ini ia telah menikah tempat ini adalah tempat yang paling ia rindukan sebagai rumah kesayangannya. Dimana ia bisa merasakan hangatnya sebuah keluarga.

"Hinata, kau sudah datang."

"Iya Tsunade-sama."

"Ayo masuk, anak-anak sudah menunggu." Ajak Tsunade.

Hinata mengangguk, dan mengembangkan senyumannya ketika anak-anak yatim tersebut kembali menyambutnya dengan ceria.

"Kak Hinata! Kak Hinata!" seorang bocah gadis berumur 5 tahun berlari kearah Hinata.

"Apa Yuki-chan?" tanya Hinata sambil membungkuk.

"Yuki dengar kalau orang sudah menikah, dia akan punya adik bayi?"

Hinata mengangguk dan tersenyum. "Iya Yuki-chan."

"Kalau begitu, mana adiknya kak?"

"Hn?"

"Adik bayinya mana? Yuki sama yang lain ingin punya adik baru biar kita bisa main sama-sama."

"Iya, kak. Bayinya mana?" tanya anak-anak panti yang masih kecil dan polos kepada Hinata yang mungkin saat ini bingung menjawab apa.

"Anak-anak, Bayinya belum ada." Ucap Tsunade.

"I..iya, adik bayinya belum ada."

"Kok gitu?" tanya Yuki.

Hinata berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak-anak kecil yang kini berdiri di hadapannya.

"Hmm, itu karena kalian nakal."

"Nakal bagaimana kakak?" tanya bocah laki-laki berambut hitam.

"Kalian nakal karena kalian semua gak ada yang mau makan sayur."

"Apa hubungannya kak?" tanya Yuki.

"Ada, adik bayi tidak mau bermain bersama kakak-kakak yang tidak suka makan sayur, sayur itu kan sehat, jadi orang yang memakannya pun akan sehat. Sehingga monster tidak akan datang ketubuh kita."

"Monster?"

"Hn. Kalau kita tidak makan sayur, nanti monster datang dan membuat tubuh kita sakit. Nanti kalau adik bayi datang dan monster menghinggapi kalian, monster itu akan mengganggu adik bayi yang masih lemah. Karena itu adik bayi belum datang karena takut sama kalian."

"Jadi bagaimana dong?"

"Ayo, kalian semua harus makan sayur yang banyak biar nanti adik bayinya datang ya?"

"Oke!" seru anak-anak panti.


"Sasuke.."

Sasuke menatap gadis yang lebih pendek darinya itu dengan tatapan dingin. Ia tepis tangan gadis itu, dan membuang mukannya dari tatapan gadis itu.

"Sasuke ikut aku, aku ingin bicara sebentar saja. Boleh kan?"

Sasuke mengangguk pelan dan mengikuti Sakura. Mereka berdua masuk kesebuah make up room yang sudah kosong. Tentu saja, karena saat ini kegiatan mereka telah selesai, dan sebagian para kru sudah pulang.

Sasuke duduk pada sebuah meja dan mengambil ponselnya. Ia melihat jam dalam ponselnya. Pukul 8 malam, seharusnya Sasuke pulang saat ini. Namun ia tidak bisa menolak permintaan Sakura. Gadis yang saat ini masih ada dalam hatinya.

Sakura mendekati Sasuke yang terduduk kemudian gadis itu segera memeluknya. Sasuke yang kaget hendak melepaskan pelukan gadis itu namun gadis itu tetap tidak mau melepaskannya.

"Sasuke! Biarkan aku memelukmu, hari ini saja. Aku rindu padamu." Ucap Sakura sambil menenggelamkan wajahnya pada dada Sasuke.

"Sakura.."

"Sasuke, kau tahu aku sangat mencintaimu."

"Aku tahu."

"Kalau kau tahu kenapa kau memutuskanku?"

Sasuke terdiam. Ia mengangkat tangan kanannya dan mengelus kepala Sakura di dadanya. Di saat moment itu terjadi, Hinata istri Sasuke kini tengah berjalan menuju tempat mereka berdua. Hinata di perintahkan oleh Mikoto untuk datang menjemput Sasuke di studio. Sesampainya di studio, Hinata memberanikan diri untuk bertanya pada orang-orang yang ada tentang keberadaan suaminya. Dan beruntung ada seseorang yang melihat Sasuke berjalan memasuki Make up room.

Sakura menengadah keatas dan menatap onyx Sasuke. Ia tersenyum manis namun senyuman tersebut Sasuke tatap dengan wajah penuh rasa bersalah. Perlahan Sakura membuka bajunya satu persatu dan menyisakan dirinya hanya dengan pakaian dalam saja. Sasuke terkejut dengan perbuatan Sakura. Sasuke berdiri dan menyentuh pundak Sakura.

"Sakura, apa yang kau lakukan? Pakai bajumu!"

"Sasuke, aku mencintaimu kau tahu?"

"Aku tahu, karena itu cepat pakai bajumu. Tidak baik seorang gadis memperlihatkan tubuhnya di depan seseorang yang bukan suaminya."

"Aku tidak perduli Sasuke." Sakura memeluk Sasuke dan sedikit mendorong tubuh pria itu. Dan ia mendekatkan bibirnya pada bibir Sasuke. Tiba-tiba saja pintu ruangan tersebut terbuka. Sasuke menoleh kearah pintu dan terkejutnya ia ketika ia mendapatkan sang istri kini melihatnya dengan wajah tidak percaya. Hinata segera menutup pintu tersebut dan berlari meninggalkan tempat tersebut.

"Hinata!" Sasuke melepaskan pelukan Sakura dan segera berlari mengejar Hinata. Sakura terdiam dan jatuh lemas. Kini ia merasa Sasuke benar-benar tidak lagi mencintainya. Ia mengambil pakaiannya yang berserakan dan memakainya lagi.


Hinata masuk kedalam rumah sambil mengusap air matanya. Mikoto yang melihatnya menghampirinya dan ia merasa khawatir.

"Hinata, ada apa? Sasuke mana?" tanya Mikoto.

"Tidak ada apa-apa mah. Aku mau istirahat di kamar." Hinata lalu meninggalkan mertuanya yang masih khawatir dengan keadaannya. Tidak lama kemudian Sasuke datang dengan napas yang tersengal-sengal. Mikoto lalu menoleh kepada anaknya tersebut.

"Sasuke, Hinata kenapa?"

"Dia dimana Mom?"

"Dia bilang mau istirahat dikamar."

"Hn." Sasuke lalu bergegas pergi menuju kamar. Tanpa ragu ia membuka pintunya dan mendapati istrinya kini duduk di tepi ranjang membelakanginnya. Dan Sasuke mendengar suara isakan dari sana. Sasuke kemudian mendekati Hinata dan berdiri di depannya. Hinata menegadahkan kepalanya dan menatap onyx Sasuke. Sasuke menghela napasnya dan mengalihkan pandangan Hinata.

"Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Tak usah khawatir."

"Memang apa yang aku khawatirkan?"

Sasuke menoleh kearah Hinata yang menunduk sambil meremas jari-jari tangannya. Sasuke berjalan dan menduduki tempat di samping Hinata dan terus menatapnya.

Hinata menarik napas panjang, kemudian mengangkat wajahnya dan tersenyum.

"Aku sudah tahu kalau kakak pasti tidak bisa melupakan Sakura-san."

"Hinata, aku.."

"Memang harusnya dari awal aku menolak perjodohan ini." Ucap Hinata sambil tersenyum. Namun Sasuke yakin, senyuman itu bukanlah senyum bahagia. Ia tahu saat ini Hinata merasa sakit dan ia hanya berusaha untuk tegar.

"Menolak? Maksudmu?"

"Iya. kalau saja aku menolak perjodohan ini, dan aku tidak jadi menikahi kakak. Aku rasa, Kak Sasu akan lebih bahagia. Tentunya bersama Sakura-san."

"Memangnya kau ingin aku bahagia?"

Hinata terdiam lalu tersenyum di hadapan Sasuke. Hinata kemudian melepaskan cincin pernikahan di jari manis kirinya dan memberikannya pada Sasuke.

"Berikan cincin ini pada Sakura-san. Nikahi dia dan berbahagialah."

"Kau sok tahu sekali Hinata."

"Hah?"

"Darimana kau tahu aku tidak bahagia menikah denganmu?"

"T..tapi."

"Kita baru 2 minggu menikah dan kau sudah bilang bahwa aku tidak bahagia bersamamu."

"Walau memang Kakak tidak mengatakannya. Aku bisa merasakannya kak. Dari dalam hatimu, aku bisa tahu kalau kakak memang tidak bahagia."

Sasuke terdiam mendengar ucapan Hinata. Hinata hanya menatap lurus kedepan sambil menghela napas dan dengan sebisa mungkin ia menahan air matanya yang keluar.

"Aku hanya menjadi penghalang dalam hubungan kalian. Besok aku akan bilang pada Ayahuntuk merestui hubungan kakak dan Sakura-san."

"Hinata, Kau…apa aku menyukaiku?"

Hinata tersontak kaget. Ia memandang mata Sasuke yang kini tengah menatapnya. Indah, itulah pendapat Hinata saat ia melihat onyx Sasuke. Hitam dan dalam, penuh dengan misteri yang tidak bisa ia tebak. Hinata kemudian berdiri dan berjalan menjauhi Sasuke tanpa menjawab pertanyaannya. Namun saat ia melangkah, langkahnya terhenti karena Sasuke kini mengenggam pergelangan tangannya.

"Jawab aku Hinata, kau..apa kau menyukaiku..apa kau mencintaiku?"

"Kakak tahu. Sebenarnya pernyataan itulah..yang ingin aku..katakan padamu." Jawab Hinata menunduk dengan wajah merona. Sasuke lalu melepas pergelangan tangan Hinata dan Hinata kembali berjalan menuju kamar mandi.

Saat Hinata membuka pintu kamar mandi, Hinata terkejut karena tiba-tiba ia di tarik sesuatu dari belakang dan saat itu pula Hinata merasakan hal aneh pada dirinya. Sasuke menarik Hinata dalam pelukannya dan melumat bibir mungil Hinata dengan lembut. Hinata kaget, bingung dan dengan otomatis lagi-lagi bulir air mata mengalir di kedua pipi mulusnya.

Sasuke terus memagut bibir Hinata, melahapnya dengan lembut namun sedikit memaksa. Ia elus punggung Hinata dan berusaha untuk memasukan lidahnya pada mulut istrinya. Hinata menangis entah tangisan bahagia atau rasa bersalah. Ia tidak tahu pasti namun sentuhan Sasuke benar-benar membuatnya seakan-akan terbang bebas. Tangan Hinata yang tadinya terkepal di samping tubuhnya perlahan ia gerakkan menyentuh dada bidang suaminya dan akhirnya ia mengalungkan kedua lengannya pada leher Sasuke.

Sementara mereka menghentikan ciuman panas itu. Hinata merasakan napas suaminya yang menyentuh mukannya. Ia tidak mau menatap mata onyx itu. Ia malu sehingga ia terus saja melihat kebawah. Sasuke menatap istrinya yang kini memerah di wajahnya. Tangan kanannya mengelus kedua pipi mulus istrinya. Jujur entah apa yang Sasuke rasakan, saat ia mendengar pengakuan istrinya, tubuhnya seakan bergerak sendiri dan menyentuh istrinya. Sambil menatap istrinya yang masih merona, Sasuke berpikir, kenapa setiap saat dirinya selalu di dekat Hinata, ia tidak ingat akan Sakura yang Sasuke yakini ia masih mencintai gadis itu.

Hinata memberanikan matanya untuk melihat wajah tampan suaminya. Sasuke tersenyum tipis dan kemudian kembali memagut bibir Hinata. Untuk kedua kalinya bibir dan lidah mereka bertemu, Hingga akhirnya Hinata melepaskan ciumannya untuk mengambil napas.

"K..Kak Sasu."

"Hinata.."

"Kita tidak boleh seperti ini." Ucap Hinata sambil melepaskan pelukan hangat Sasuke di pinggangnya.

"Sakura-san bisa.."

"Cukup Hinata."

"Kak..Sasu.."

Sasuke berdecih kemudiaan ia membuka telapak tangan kirinya yang terdapat sebuah cincin pernikahan milik Hinata.

Ia kemudian memasangkan cincin tersebut pada jari manis tangan kiri Hinata.

"Jangan coba-coba kau lepas lagi cincin itu dari jarimu."

"Ka..kak."

"A..aku, aku rasa..cincin itu..hanya cocok dipakai olehmu. Karena itu jangan coba kau lepas lagi, apalagi kau berikan pada orang lain."

"T..tapi, Sakura-san.."

Sasuke kembali mengecup bibir mungil Hinata dan menghentikan pergerakan mulutnya. Wajah istrinya itu kini kian memerah.
Dengan pelan Sasuke melepaskan kecupannya dan mengalihkan pandangannya serta membelakangi Hinata, namun terlihat oleh Hinata bahwa kini wajah suaminya itu agak memerah.

"Jangan bicarakan dia atau aku akan melakukannya lagi padamu!"

"T..tapi..Sakura.."

"Kau suka aku cium ya Hinata?" tanya Sasuke sambil berbalik menghadap istrinya dan seketika itu pula Hinata merasakan panas yang menjalar ke ubun-ubunnya.


TBC

Huehehehe
Apa kabar Minna-sama
maaf banget, karena saya telat update fic-fic abal buatan saya
Yah apa boleh buat

SAYA LAGI SIBUK KULIAH!
hiks capek

TT^TT

Tolong di review deh para author & Readers baik hati

ok

Salam Hangat,
Nao-shi