Chap 4


"Kak Sasu.."

"Hn?"

"Kalau S..Sakura-s.."

Cup..

"Kau, benar-benar suka dicium olehku ya Hinata?"

"A..aku."

"Padahal ini sudah malam, dan saat ini kita tengah tidur tapi kau terus saja membicarakan dia, sudah kubilang jika kau membicarakannya maka hukumannya adalah dicium."

"B..bukan Kak, tapi aku…"

Sasuke mendudukan dirinya diatas kasur dan menatap Hinata yang sekarang membelakanginya.

"Aku merasa tidak enak..dengannya."

"Hinata."

"Y..ya?"

"Kalau kau terus membicarakannya, hukumannya akan kuganti."

"Ap..apa?"

"Kau akan Kutiduri."


"Hinata."

"Iya Kak?"

"Aku ingin kau menemaniku setiap aku bekerja."

"Apa?"

"Keberatan hn?" tanya Sasuke sambil memakai kupluk hitamnya dan mengambil jaket bulunya.

"Bukan begitu, tapi aku harus ke panti asuhan."

Sasuke menatap Hinata dalam-dalam. Ia menyentuh kedua pipi mulus Hinata. Sang Gadis hanya bisa menahan malu.

"Kau suka anak-anak ya?"

"I..iya."

"Kalau begitu buatlah itu denganku."

"Apa?"

Sasuke diam sambil menatap wajah Hinata. Dia kini sangat bingung atas ucapannya. Ya dia bingung karena secara tidak sadar ia mengajak Hinata untuk bercinta dengannya.

" Sasu.."

"Emh, A..aku pergi dulu." Ucap Sasuke melepaskan sentuhannya di pundak Hinata, namun saat ia hendak meninggalkan Hinata langkahnya terhenti.

"Cup" Sebuah kecupan di pipi Hinata dapat dari suaminya yang kini justru sangat terburu-buru pergi meninggalkannya.

Hinata yang terpaku sesaat setelah dicium oleh suaminya itu baru sadar setelah sang suami sudah tidak ada di kamarnya, dengan cepat dia berlari menyusul suaminya dan mengambil sebuah kotak berukuran sedang.

"Ka..Kakak!" Teriak Hinata sambil berlari mengejar Sasuke yang hendak menaiki mobilnya.

"A..ada apa?" tanya Sasuke heran.

"I..ini, a..aku membuatkan bekal untukmu."

"T..tapi aku.."

Belum selesai Sasuke melanjutkan ucapannya, Hinata membuka pintu mobil dan menaruh bekal tersebut di kursi depan sebelah kursi kemudi Sasuke.

"Hinata."

Hinata tersenyum dengan wajah yang merona dan melambaikan tangannya kepada Sasuke yang sudah ada dalam mobilnya, sedangkan Pria itu hanya bisa menahan rasa senang yang masih belum ia sadari.

"Aku pergi dulu.."

"Iya, ha..hati-hati Kak.."


Sasuke sampai di sebuah restoran mewah. Hari ini ada pesta yang diadakan produser dan sutradara dari Film terbarunya. Saat Sasuke melepaskan sabuk pengamannya dan hendak membuka pintu mobilnya, dia ingat akan bekal yang Hinata buatkan untuknya. Ia lalu terdiam mengamati kotak bekal tersebut dan akhirnya memutuskan untuk membawa bekal itu kedalam restoran.

Setelah memasuki sebuah restoran, Sasuke menemukan beberapa teman bermainnya dalam film terbarunya dan juga beberapa orang Kru dan asisten. Dan sudah di pastikan Sakura sang manta kekasih dari sang Aktor ini pun datang hadir.

Dengan ragu Sasuke lalu berjalan dan mendatangi orang-orang yang menunggunya. Ia kemudian duduk di sebelah sang Sutradara dan tersenyum untuk menyapa semuanya termasuk Sakura. Sasuke yang merasa tidak nyaman akan tatapan memelas dari Sakura di depannya hanya bisa terdiam.

" Loh Sasuke-san, kau membawa apa?" tanya seorang Kru yang melihat sebuah kotak yang Sasuke bawa ke dalam restoran. Belum sempat Sasuke menjawab, si sutradara yang duduk di sampingnya segera mengambil kotak bekal tersebut dan membuka isinya.

"Wow, ternyata bekal dari sang istri ya?"

"Wah yang benar?" tanya seorang kru.

"A..anu itu.." ucap Sasuke gugup.

"Isinya ada Omelet dengan tulisan "Sasuke keren! Aku cinta padamu" wah! Istri yang benar-benar cinta suami!" teriak sang Sutradara.

Sasuke yang mendengar hal itu hanya bisa menahan malu. Sakura yang terkejut mendengar hal itu melihat kearah Sasuke yang kini berwajah merah. Melihat hal itu Sakura merasakan sakit yang kembali menusuk hatinya. Dia ingin menangis di tempat ini tapi dia juga tidak ingin terlihat menyedihkan.

"Kau tahu kalau kita ada acara makan-makan, tapi malah membawa bekal buatan istrimu." Ucap seseorang yang merupakan teman mainnya di film terbarunya.

"Itu karena dia sangat sayang sama istrinya! Pengantin baru sih. Hahahahahaha!"

Kini wajah Sasuke benar-benar merah. Bukan karena marah melainkan malu dan rasa senang yang entah Sasuke sadari atau tidak. Seteah itu Sasuke segera merebut bekalnya dari tangan si sutradara dan melihat isi bekal itu. Sesaat ia tersenyum tipis lalu menutup kembali bekalnya dan berdiri dari tempat duduknya.

"Semuanya maaf, Saya harus pergi."

"Loh kau mau kemana?"

"Saya ada urusan mendadak, kalau begitu saya permisi."

"Sa.." Sakura hendak menahan kepergian Sasuke dari tempat itu namun Sasuke tidak mengubris panggilan Sakura. Seketika itu juga Sakura tidak kuat atas perlakuan Sasuke dan dengan sekuat tenaga ia tahan.

Di dalam mobil mewahnya, Sasuke segera menelepon seseorang. Setelah menekan beberapa tombol di ponselnya, dan menunggu sebuah jawaban dari sebrang sana akhirnya terdengar suara seorang wanita.

"Mom, apa Mom tahu tempat Hinata bekerja?"

"Tahu, memangnya kenapa?"

"Beritahu aku alamatnya."


"Hinata."

"Ya Tsunade-sama?"

"Sepertinya ada seseorang datang kemari untuk menemuimu."

"Menemui saya? Siapa?"

Hinata lalu menoleh kearah seorang Pria yang kini memasuki tempat kerjanya. Tsunade yang juga melihatnya hanya tersenyum lalu meninggalkan keduanya.

"Permisi.."

"Ka..kakak?" Hinata lalu berjalan mendekati Pria tersebut. Dia bingung kenapa Suaminya ini bisa tahu tempat kerjanya dan untuk apa saat ini dia datang.

"Jadi ini tempat kerjamu hm?"

"Em, I..iya t..tapi untuk apa Kakak datang kesini?"

"Emh Aku.." Sasuke baru sadar, untuk apa ia datang ketempat kerja istrinya. Kenapa pula ia terus saja membawa kotak bekal buatan Hinata. Hinata yang bingung hanya menatap Sasuke dengan tatapan tidak mengerti karena tingkah laku suaminya yang tiba-tiba aneh seperti orang linglung.

"Kak Sasu?"

"Oh, ya ada apa?"

"Aku tanya Kakak kok malah diam?"

"Oh ini..emh..ini.. Oh iya! Ini loh aku bawa ini." Ucap Sasuke sambil memperlihatkan kotak bekalnya.

"K..kotak bekal? I..itu kan bekal buatanku untuk Kakak. Ap..apa rasanya tidak sesuai di lidahmu?"

"Bukan..bukan, anu aku belum memakannya."

"Ah, begitu. Maafkan aku karena seenaknya telah membuatkan bekal untuk kakak." Jawab Hinata murung.

"Ah Hinata, bukan begitu. Aku datang kemari karena aku ingin memakannya bersamamu."

Hinata malu mendengarnya. Ia sembunyikan rona merah dipipnya dengan cara membelakangi Sasuke yang juga malu atas ucapannya sendiri. Tanpa Hinata tahu Sasuke kii tengah memukul-mukul mulutnya sendiri.

"Bodoh, aku ini bicara apa? Dia jadi marah tuh!" Gumam Sasuke.

Hinata lalu kembali menghadap Sasuke dengan wajah yang tertunduk lalu dengan memberanikan diri ia genggam tangan Sasuke di depannya dan menariknya.

"A..ayo kita ke taman."

Sesampainya di taman belakan panti., terdapat beberapa kursi kayu. Hinata dan Sasuke memutuskan untuk duduk disana. Sasuke lalu membuka kotak bekalnya dan tersenyum melihat isinya.

"Kenapa kau menuliskan ini?" tanya Sasuke sambil menyodorkan bekalnya kearah Hinata. Hinata kemudian melihat isi bekal tersebut dan betapa kaget dan malunya saat ia membaca tulisan yang tertera dalam omelet buatannya. Dia baru ingat, ia menuliskannya karena terpesona dengan Sasuke saat ia menonton salah satu Drama Action yang di perankan suaminya tadi pagi.

"Ah, a..anu itu."

"Dasar Kau ini." Sasuke tertawa geli melihat tingkah laku Hinata sambil menepuk kepala istrinya itu.

"K..kakak makan saja bekalnya..aku tidak mau membahas soal tulisannya." Jawab Hinata malu sambil memalingkan wajahnya yang bersemu merah.

"Oke, oke aku makan ya." Sasuke lalu menyendoki omeletnya dan ia masukan omelet itu kedalam mulutnya. Dengan was-was Hinata penasaran dengan ekspresi wajah Sasuke setelah memakan omelet buatannya. Hatinya lega setelah mendapat sebuah senyuman di wajah pria tampan itu.

"E..enak?"

"Hn. Aku suka."

"Untunglah." Hinata mengelus dadanya. Ia takut makanan buatannya tidak sesuai dengan lidah suaminya itu.

"Kruuuk." Suara dari perut Hinata membuyarkan konsentrasi Sasuke pada makanannya. Ia lalu menatap Hinata yang memegangi perutnya.

"Belum makan?"

"B..belum."

"Kenapa belum makan?"

"Aku mau makan di rumah saja Kak."

Sasuke menggeleng lalu menyendoki lagi omeletnya dan ia sodorkan pada Hinata.

"Makanlah."

"E..eh?"

"Makan. Nanti kau sakit."

"Tidak mau."

"Kau mau aku hukum?" tanya Sasuke dengan tatapan dinginnya.

"B..baiklah."

Hinata lalu mendekatkan wajahnya dengan sendok yang dipegang Sasuke. Walau risih, Hinata menerima suapan-suapan dari Suaminya.

"A..aku disuapi oleh Kak Sasu.." gumam Hinata dalam hati.

Sementara di belakang kedua orang yang tengah memakan makan siangnya, bersembunyilah seorang gadis remaja bernama Ritsu dan beberapa anak kecil polos yang kini tengah mengintip mereka.

"Adik-adik, sebentar lagi kita akan punya adik bayi!"

"Adik bayi? Iya gitu?"

"Hn. Lihat! Ada Kak Sasuke kan?"

"Uwaaa! Kak Caacuukeee!" teriak seorang bocah 3 tahun berteriak dan menunjuk kea rah Sasuke dan Hinata."

"Sssst.. Maka-chan, jangan teriak!" Larang Ritsu sambil menutup mulut gadis bernama Maka itu.


Di sebuah Bar, duduklah seorang gadis berumur 26 tahun yang kini tengah meneguk minumannya. Rambutnya yang berwarna merah muda itu basah. Bukan karena keringat yang mengucur ditubuhnya, melainkan oleh derasnya air mata yang keluar dari matanya. Pandangannya Kosong dan hanya bisa terus meneguk beberapa botol minuma keras yang sudah habis ia minum.

"S..sasuke..kenapa.."

"Sakura.."

Sakura menoleh kearah seseorang yang tengah memanggilnya. Matanya terbelalak sesaat kemudian tersenyum sinis dan melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda akibat kedatangan orang tersebut.

"Sakura, apa-apaan kau ini." Pria itu kemudian menarik botol minuman yang di pegang Sakura dan menyimpannya jauh.

"Hhh..Mau apa kau?" tanya sakura.

"Ayo, aku antarkan kau pulang." Pria itu lalu menggandeng tangan Sakura agar bisa membawanya jauh dari tempat itu.

"Lepaskan aku Kakashi."

"Sakura.."

"Aku masih ingin disini. Kalau kau ingin pulang, pulang saja sana!"

"Ayo pulang!"

"Tidak mau!"

"Kalau kau tidak mau, akan kuberitahu ibumu."

"Ap..apa? Kau.."

"Kau mau pulang atau tidak?" Tanya Kakashi.

"Cih.."


Hinata ingin merasakan hembusan angin malam saat ini. Kini ia berdiri di balkon kamarnya dan menatap indahnya bintang yang bertaburan di langit gelap. Sejuknya angin malam membuatnya tersenyum. Selagi menikmati dinginnya angin malam, seorang pria tampan datang menghampirinya dan memeluknya dari belakang sehingga membuatnya kaget dan juga gugup. Matanya berkedip ketika merasakan sebuah hembusan nafas menyentuh permukaan kulit lehernya.

"K..kak Sasu."

"Hn?"

"Ke..kenapa memelukku?"

"Aku..Emh..aku.." Lagi –lagi Sasuke bingung dengan perbuatannya. Senyuman khasnya yang barusaja ia tampilkan memudar. Wajahnyanya menyiratkan sebuah rasa kebingungan.

"A..aku..kenapa aku memeluknya ya?" gumam Sasuke dalam hati.

"Kak?"

"Aku ingin memelukmu saja. Itu saja sih..he..hehehe.."

"Ap..apa?"

"Sudahlah Hinata, ayo masuk kekamar dan istirahat. Berlama-lama diluar pada malam hari bisa membuatmu masuk angin." Ajak Sasuke sambil melepaskan pelukannya dan menarik tangan Hinata.

Karena kaget Hinata tidak kuat dengan tarikan Sasuke dan mengakibatkan dirinya sedikit terpeleset dan menabrak dada Sasuke. Hinata sangat malu, karena mau tidak mau kepalanya menyentuh Dada Sasuke yang sedikit terbuka karena Sasuke tidak mengancingi beberapa kancing atasnya.

Dengan pelan Hinata berdiri tegak dan menundukan wajahnya yang merah. Sasuke menatap Hinata dan mengangkat wajah gadis itu untuk bisa ia tatap. Setelah beberapa detik ia tatap, dengan perlahan ia mengecup bibir istrinya itu dan memeluk pinggangnya dengan erat. Awalnya Hinata kaget, namun ia membalas ciuman suaminya itu, perlahan ia buka mulutnya dan membiarkan lidah Sasuke untuk bermain bersama lidahnya. Hinata sedikit semakin terbawa suasana ketika Sasuke mulai memberika sentuhan sentuhan memabukan pada tubuhnya. Akal sehatnya seakan menghilang dan hanya bisa menerima apa yang kini Sasuke berikan padanya.

Sasuke membelai lembut punggung Hinata dan Hinata hanya bisa menyentuh wajah Sasuke. Entah kenapa ia tidak malu untuk berciuman dengan suaminya kali ini. Merasa dirinya sudah tidak kuat Sasuke menggendong Hinata dan membawanya ke atas kasur. Ia redupkan lampu dikamarnya lalu kembali menciumi gadisnya. Hinata bergidik ketika Sasuke menenggelamkan wajahnya pada tengkuknya. Di ciuminya leher sang istri dengan lembut hingga ke pundaknya yang kini sedikit terbuka oleh ulahnya.

"Hinata..Hinata.." sebuah nama..hanya sebuah nama yang diucapkan oleh pria tampan tersebut, membuat si gadis yang dipanggil merasa dirinya paling cantik di hadapan suaminya. Sasuke menatap kembali wajah Hinata yang bersemu merah, dan ia genggam tangan mungil istrinya yang tergeletak disamping badannya.

"S..sasuke-K..kun.." Hinata merintih saat suaminya mengigit pelan leher putihnya yang kini memiliki bercak merah. Mendengar suara Hinata yang menggoda Sasuke segera melepas Kaos hitamnya dan melemparkannya ke sembarang tempat. Dengan pelan ia menelusupkan tanganya di bawah punggung Hinata dan menarik resleting baju istirinya. Ia turunkan pelan gaun tidur istrinya dan membuat Hinata kini harus menahan malu karena saat ini ia hanya memakai pakaian dalamnya saja.

Sasuke lalu kembali menikmati leher putih Hinata. Menciuminya, mengigitnya dan membasahi dengan lidahnya. Namun kegiatanya terhenti saat ada sebuah panggilan masuk ke ponsel flip hitamnya. Dengan kesal ia menyambar poselnya dan menjawab panggilannya.

"Siapa sih?" Jawab Sasuke sambil berteriak.

"Sa..Sasuke-kun..ini aku."

"Sa..Sakura?"


TBC

Uwoooh..maap smua..saya teh lagi sakit trs sibuk kuliah makanya gak update-update ficnya huhu
map yah..
giman nih kali ini..masih cocok di Rate T kah? Kalo ga..biar saya pindahin ke M aja buat jaga-jaga gitu..
huhu..
Review nya jangan lupa ya?
Salam Hangat

Nao-shi