M: Kami kembali membawakan updatean fic pertunangan kita!

I: Fic ini kami update spesial buat hari pernikahan kita~

M: Mamih~ mari membalas review~!

I: Haik~!


To: Hikari Kou Minami, diangel, nasaka, undine-yaha, gabyucchiP, HirumaManda, levina-rukaruka, dan Mayou Fietry sudah dibalas lewat PM :D


just reader 'Monta': Hehehe... iya~

sankyu~ :3

Udah apdet dengan semangat! XD #plak

sankyu reviewnya~ :D


Sezru d'Luffer: Sankyu~

Ah, Mitama itu perempuan tulen kok =w=b

cuma, di sini dia berperan sebagai seme~ pasti tau arti seme 'kan? XD #plak

Dalam dunia FFN kami tunangan beneran~ #plak# dalam dunia asli~ kekekeke... #paansih

Sipo~ ;D

Hehehe~

Yosh!

sankyu reviewnya~ :D


Risha Ichigo males login: Silahkan~

Harmonis pula~

Beneran? Habis baca cerita ini masih mau jadi anak mereka? #plak

Yosh! Udah update~

Sankyu reviewnya~


Story start!


.

Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata

.

Mitama134666 & Iin cka you-nii Proudly Present

.

The Moonshine

Our special fanfiction, a gift for our wedding day: 30052011

Warning : FutureFic, Chara Death, OOC (semoga tidak terlalu), GJ (pasti), typo (jaga-jaga).

.

Chapter 2: When the Dark Moon Shines...

.

Normal POV

Yuuzuka Hiruma berjalan perlahan di koridor sekolah barunya. Senyuman manis bak malaikat terukir di wajah putih mulus itu. Banyak orang yang berpapasan dengannya bergumam dengan gumaman yang—tentu saja—sama. Apalagi kalau bukan kawaii?

Hari pertama gadis kecil itu di sekolah barunya langsung membuat banyak kehebohan. Dengan wajah yang innocent, ia berpura-pura polos, seakan tidak menyadari kalau saat ini ia adalah pusat perhatian.

Padahal sebenarnya, kecerdasan gadis itu telah membuatnya menyadari hal tersebut sejak awal, bahkan ia sudah memperkirakannya sejak lama. Tapi rupanya hasrat untuk mempermainkan orang lain yang diturunkan dari sang ayah membuat Yuuzuka ingin membuat bingung orang-orang di sekitarnya melalui perubahan sikapnya yang—bisa dibilang—ekstrim.

Puas melihat ekspresi heran guru dan teman-temannya, ia tertawa kecil tanpa repot menyembunyikan tawanya. Hal itu membuat semua mata menatap tajam padanya. Tapi ia tidak peduli—sama sekali.

Yuuzuka hanya terus berjalan sambil melompat-lompat kecil menuju sebuah Volvo hitam yang terparkir sendirian. Dari jendela mobil yang terbuka, menyembul kepala dengan rambut cokelat kemerahan milik sang ibunda.

.

+Moonshine+

.

"Hi, honey... How was your day?" sambut Mamori sambil mengecup kening Yuuzuka begitu putri satu-satunya itu duduk di sebelahnya.

"It was fun! Sepertinya aku akan betah di sana," jawab Yuuzuka.

"Baguslah kalau begitu. Kau tidak membuat kekacauan 'kan?"

"Tentu tidak, Kaa-san. Setidaknya, belum. Hihi... "

Mamori mengerenyitkan dahinya sambil melirik Yuuzuka begitu mendengar jawaban jahil anak manis itu. Tapi kemudian, ia ikut tertawa bersama sang buah hati. Keduanya pun berbincang-bincang mengenai mengenai berbagai hal yang terjadi hari itu.

Sampai beberapa belokan kemudian, Mamori menginjak rem untuk menghentikan laju mobil mereka. Namun yang berada di hadapan Mamori dan Yuuzuka saat ini bukanlah rumah, melainkan sebuah pusat perbelanjaan—salah satu ujung tombak dari sekian banyak bisnis ritel yang sedang maju di Jepang.

"Kita belanja untuk makan malam dulu," kata Mamori sebelum Yuuzuka sempat bertanya. "Kau mau makan apa?" lanjutnya kemudian.

Yuuzuka tersenyum senang sebelum menjawab, "Hamburger!"

"Eeeh? Padahal waktu masih di Amerika kau selalu ingin makanan Jepang, tapi kenapa setelah di Jepang kau malah ingin makanan Amerika?" tanya Mamori heran.

"Karena rasanya akan lebih berwarna" Yuuzuka menjawab singkat.

Sebenarnya Mamori masih bingung tetapi karena Yuuzuka sudah menarik-narik tangannya menuju pintu masuk pusat perbelanjaan, ia pun memilih untuk mengabaikan tingkah unik putrinya.

.

+Moonshine+

.

Acara belanja selalu menjadi saat yang menyenangkan bagi Mamori dan Yuuzuka. Keduanya begitu menikmati waktu yang intim itu sampai, tidak terasa, matahari sudah bersiap untuk kembali ke peraduannya.

"Ah, sudah sore ternyata. Nah, Yuu-chan, ayo kita pulang," Mamori menggenggam tangan anaknya dengan lembut.

Yuuzuka melirik, lalu tersenyum senang, "Yeah~ Yuu tahu, Kaa-san pasti merindukan Tou-san."

"Hahaha," Mamori hanya tertawa kecil, "kau ini. Kecil-kecil sudah bisa berpikiran seperti itu."

"Tentu saja. Jangan anggap Yuu cuma anak kecil yang penurut," Yuuzuka merengut kecil lalu masuk ke mobil yang terparkir dengan rapinya.

"Hm? Kau memang setan sekaligus malaikat kecilku, Yuu-chan," Mamori masuk melalui pintu yang berbeda dengan Yuuzuka.

"Yeah~ yeah~ Kaa-san sudah mengatakan itu berulang kali," Yuuzuka terlihat bosan dengan sifat ibunya.

"Karena Kaa-san tidak pernah bosan mengatakan itu," ujar Mamori lalu mulai mengendarai mobilnya.

Di perjalanan, Yuuzuka hanya terdiam sembari meletupkan permen karet free sugar yang barusan ia beli. Sesekali ia melirik ibunya yang terpaku pada jalanan—dengan bosan.

"Huaaah~ lampu merahnya lama sekali!" keluh Yuuzuka sembari menyilangkan tangannya di depan dada. Menanti agar cahaya tersebut berganti hijau.

"Sabar saja, Yuu-chan. Kaa-san selalu mengajarkan hal itu padamu 'kan?" Mamori tersenyum kecil.

Klip!

Lampu berganti hijau, Mamori segera saja menjalankan kendaraannya diiringi dengan senyuman kecil di wajah Yuuzuka.

Yah, Mamori memang menanamkan sifat-sifat baik—seperti bersabar—pada Yuuzuka sejak putrinya itu masih sangat kecil. Tapi walau sekeras apapun Mamori berusaha, hasilnya tidak akan pernah bisa maksimal—mengingat siapa ayah dari anak itu.

.

+Moonshine+

.

Mamori Hiruma langsung membongkar belanjaannya begitu ia sampai di dapur, sementara Yuuzuka mengganti seragam sekolahnya. Wanita berumur tiga puluh dua tahun itu memulai kegiatan memasaknya dengan cekatan.

Tidak lama setelah ia menyalakan kompor, Yuuzuka pun menghampirinya. Gadis kecil itu ingin ikut ambil bagian agar ia bisa mengatakan kepada ayahnya kalau makan malam kali itu adalah buatannya. Dengan senang hati, Mamori membiarkan Yuuzuka berkreasi. Sekali-sekali ia memberikan petunjuk dan tips-tips memasak pada putrinya yang terlihat begitu berkonsentrasi. Sampai beberapa waktu kemudian...

Ckiiit…

Terdengar suara ban berdecit dari depan rumah mereka tepat saat Mamori dan Yuuzuka selesai memasak. Sesuai janjinya, Youichi Hiruma pulang lebih awal hari ini. Tanpa basa-basi 'tadaima' ataupun hal semacamnya, Hiruma pun memasuki kediaman barunya—langsung menuju dapur.

"Okaeri, Tou-san!" sambut Yuuzuka begitu melihat sosok jangkung ayahnya memasuki pintu dapur. Hiruma tidak membalas apa-apa. Ia hanya menyeringai sambil menghampiri istri dan anaknya.

"Kau tepat waktu, You. Kami baru saja selesai memasak makan malam," kata Mamori sambil mengecup pipi kiri suaminya.

"Keh, kau masak apa, Istri sialan?" tanya Hiruma.

"Hamburger!" Yuuzuka yang menjawab. "Yuu yang membuatnya loh!" lanjut gadis kecil itu kemudian.

"Iya, You. Ternyata Yuu-chan pintar memasak juga loh. Hari ini ia membantu sekali," dukung Mamori.

"Kekeke... Bagus, Anak sialan!" puji Hiruma sambil mengacak-acak poni Yuuzuka. Biasanya putri Hiruma dan Mamori itu akan marah jika rambutnya diganggu. Namun karena jarang-jarang ayahnya memujinya seperti itu, ia pun hanya bisa menyeringai senang.

"Nah, kalian berdua mandi dulu saja sementara aku mengatur meja makan," ucap Mamori sambil mendorong kedua orang paling penting dalam hidupnya itu dari dapur. Tanpa buang waktu, Hiruma dan Yuuzuka pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Mamori hanya membutuhkan waktu singkat untuk mengatur meja makan. Setelah itu, selagi suami dan putrinya sibuk dengan acara mandi mereka, ia pun diam-diam kembali bekerja di dapur.

.

+Moonshine+

.

'Tak berapa lama setelah Mamori merapikan kembali dapur setelah kegiatan diam-diamnya, Hiruma dan Yuuzuka memasuki ruang makan dengan tubuh yang bersih dan segar.

"Nah, sekarang kita lihat apakah masakanmu layak dimakan, Anak sialan," kata Hiruma yang sudah duduk di kursinya.

"Tentu saja layak! Bahkan, Yuu jamin, Tou-san pasti akan ketagihan!" balas Yuuzuka sambil duduk di kursi yang berada di samping kiri Hiruma. Pipi anak itu menggembung; reaksi yang sama dengan Mamori setiap kali Hiruma menggodanya.

"Sudah, sudah... Ayo, kita makan!" ajak Mamori. Ia duduk bersebrangan dengan suami dan anaknya.

Hiruma pun memotong hamburger-nya lalu memakannya pelan-pelan. Yuuzuka belum menyentuh makanannya sama sekali. Ia terlihat gugup menunggu reaksi sang ayah. Sementara itu, Hiruma sengaja memperlambat mengunyah hanya karena ingin menggoda putrinya. Saat akhirnya hamburger itu ia telan, ia pun berkata, "Kekeke... Masakanmu boleh juga, Anak sialan."

"Yay!" Yuuzuka bersorak senang. Selanjutnya, ia juga memakan makan malamnya dengan lahap. Di tengah-tengah kegiatan itu, Yuuzuka berujar dengan antusias, "Ne, Kaa-san! Yuu pernah lihat, teman Yuu di sekolah makan hamburger pakai nasi!"

"Yah, itulah Jepang," ujar Mamori lalu melanjutkan memakan hamburger-nya.

"Uhn... Kalau melakukan hal seperti itu di Amerika pasti akan dianggap aneh. Haha..." kata Yuuzuka lagi. Hamburger yang memang berukuran kecil itu sudah habis dilahapnya.

"Keh, sehabis makan kau harus tidur, Anak sialan," ujar Hiruma sambil melahap potongan burger terakhirnya.

Yuuzuka hanya membalas dengan menggangguk-anggukkan kepalanya sambil meneguk susu yang dibuatkan Mamori. Begitu susunya habis hingga tetes terakhir, ia pun turun dari kursinya lalu menghampiri kedua orang tuanya untuk mengecup pipi mereka. "Oyasumi, Kaa-san, Tou-san..." salamnya sambil beranjak menuju tangga yang berujung ke kamar tidurnya.

"Oyasumi, Yuu-chan. Jangan lupa, sikat gigi dulu ya!" kata Mamori.

Yuuzuka menutup pintu kamarnya setelah mengiyakan ucapan ibunya. Ia memang memiliki kamar mandi sendiri dalam kamarnya, jadi Mamori tidak berkata apa-apa lagi. Ia sangatlah mempercayai putri satu-satunya itu. Sepeninggal Yuuzuka, Hiruma yang sudah menyelesaikan makanannya pun berkata, "Hamburger untuk makan malam... Keh, pintar sekali kau."

Mamori mendengar suara perut Hiruma yang masih menagih makan malamnya. Ia pun tertawa kecil sebelum membalas, "Yuuzuka yang menentukan menunya. Tapi, tenang saja. Aku tahu kalau hamburger tidak akan cukup, jadi aku sudah mempersiapkan sesuatu yang spesial untuk kita berdua."

Tanpa menunggu jawaban Hiruma, Mamori pun berlalu kembali ke dapur untuk mempersiapkan hidangan istimewanya. Sementara itu, Hiruma menunggu dengan sabar di kursinya sambil menyesap kopi hitam yang selalu Mamori siapkan untuknya sejak mereka masih kapten dan manajer tim amefuto.

.

+Moonshine+

.

Malam belum begitu larut. Namun area komplek perumahan tempat tinggal keluarga Hiruma sudah sangat sepi. Yang terdengar di sana hanyalah suara binatang-binatang malam dan samar-samar suara kendaraan yang lewat di depan komplek. Rumah mungil bercat putih yang baru beberapa hari ditinggali keluarga Hiruma pun tidak kalah sepinya.

Cahaya bulan menerangi pepohonan yang tertanam di samping kediaman keluarga Hiruma. Sinar redup yang jatuh di atas permukaan daun-daun itu menimbulkan berbagai bayangan aneh yang dapat membuat seseorang merasa berhalusinasi.

Tiba-tiba saja, dari balik pepohonan, muncul sepasang tangan dengan kulit yang putih pucat—bukan ilusi. Sebuah pisau berukuran sedang tergenggam di tangan itu. Permukaan besinya memantulkan cahaya bulan ke daun-daun pohon yang basah oleh embun. Perlahan, kaki-kaki sang pemilik tangan melangkah menuju pintu yang berakhir ke ruang makan.

Tap. Tap. Tap.

Langkah kaki telanjangnya hampir tidak terdengar. Membuat sepasang kaki itu terus maju tanpa ragu. Tanpa khawatir orang yang diincarnya akan mendengar.

Tap.

Sudah sampai. Dari tempatnya berdiri sekarang, ia dapat melihat Youichi Hiruma sedang duduk santai menunggu istrinya. Perlahan tapi pasti, ia pun menghampiri profil Hiruma dengan langkahnya yang seperti kucing—tanpa suara. Setelah sampai di belakang mangsanya, ia tidak dapat menahan seringai. Merasa mangsanya tidak menyadari gerak-geriknya, orang itu mengangkat tinggi-tinggi pisau di tangannya lalu menancapkannya berulang kali pada punggung terbuka Hiruma.

Crash! Crash! Crash!

Tetes-tetes darah berserakan, namun suara erangan kesakitan sama sekali 'tak terdengar dari bibir tipis sang korban. Sementara selimut merah kental menyelimuti permukaan pisau miliknya. Jemari lentiknya juga terlapisi oleh darah. Menyenangkan, menggembirakan dan juga... nikmat.

Ia menjilati jemarinya yang berlumuran darah, lalu tersenyum. Dengan gerakan lembut, ia menengadahkan kepala Youichi Hiruma untuk memandang wajahnya. Darah kental mengalir dari sudut bibir pria itu. Mata sang setan yang biasanya beraura tajam menusuk telah kehilangan cahayanya, membuat ia yang mencabut nyawa merasa tergoda. Pisau berlumuran darah kembali ia angkat pelan-pelan, kali ini menuju bola mata Hiruma.

Dengan sedikit tusukan, congkelan, dan tarikan, mata itu pun mendarat di telapak tangannya. Kikikan kecil keluar dari bibirnya begitu melihat mangsanya dan kristal emerald yang berada dalam genggamannya.

Kemudian, dengan mata yang bersinar bak anak kecil, ia pun meremas bulatan yang berada dalam tangannya.

Crat!

Pecah. Bulatan itu pecah menjadi potongan-potongan kecil dengan darah yang mengalir keluar.

"Hihihi... menyenangkan!" serunya gembira. Lalu kembali menghilang di gelapnya malam—tanpa jejak; meninggalkan pria jakung berambut spike blonde terkulai lemah di atas lantai keramik dingin—yang suhunya semakin mendingin bersama tubuh tanpa nyawa itu.

.

+Moonshine+

.

Mamori memperhatikan kembali makanan yang sudah ia tata sedemikian rupa sambil sedikit termenung. Semenjak Yuuzuka lahir, Hiruma dan Mamori memang jarang sekali bisa memiliki waktu khusus untuk berdua saja. Makan malam kali ini jadi terasa spesial. Setelah memastikan kalau masakannya sudah sempurna, ia pun membawa baki dengan piring yang penuh masakan spesialnya menuju ruang makan.

Berpikir untuk sedikit menggoda suaminya, ia berjalan perlahan-lahan. Senyuman jahil tergambar di parasnya yang saat ini memiliki garis wajah lebih tegas. Namun begitu mendekati ruang makan, senyuman itu memudar karena hidung bangirnya malah mencium bau anyir darah. Khawatir ada sesuatu yang salah dengan sang suami, Mamori pun mempercepat langkahnya.

Tep...

Matanya membulat saat melihat suaminya terkulai di atas lantai dengan mata membelalak dan... tidak lengkap. Di sekitar jasad itu, genangan-genangan darah terbentuk seperti kolam-kolam kecil.

Prang!

Semua yang berada di atas baki terjatuh—mencium lantai dengan tidak elitnya. Bermandi bersama kolam darah yang dibuat oleh sang suami tercinta.

Duk...

Mamori terduduk tidak percaya. Dengan tubuh bergetar hebat, ia beringsut mendekat ke dekat jasad suaminya terkulai. Perlahan, tangannya menelusuri wajah tampan sang setan. Air mata mengalir membentuk sungai kecil atas saksi bisu semua kejadian ini.

Dadanya sesak, ingin berteriak sekencang-kencangnya. Mamori membawa Hiruma ke dalam rangkulannya. Ia memeluk jasad itu, memendamkan wajah cantiknya pada pundak seseorang yang—kini—tidak berdaya. Istri dari orang yang nyawanya baru saja dicabut paksa itu berusaha meredam isakannya. Jantungnya berdebar-debar, wajahnya ternodai oleh darah, dan rasa sesal tentunya berkelebat hebat dalam benaknya.

"You... kau kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Mamori, masih terisak, "bicaralah... kau bercanda, 'kan?"

"..." Tidak ada jawaban yang terdengar.

Mamori tersenyum getir, tubuhnya bergetar, matanya mengeluarkan air tanpa henti.

"You... jawab aku... You... kau lapar, 'kan? Ayo... bangun..." suara milik sang malaikat terdengar bergetar.

Ah, seluruh tubuhnya yang bergetar. Jiwanya berguncang, sekelebat penyesalan menghuni otaknya.

Apa yang terjadi? Kenapa? Kenapa aku tidak kembali lebih cepat? Kenapa aku meninggalkannya sendirian? Kenapa... kenapa... kenapa?

.

+Moonshine+

.

Kelap kelip lampu merah dan biru membuat suasana di halaman rumah mungil bercat putih itu jadi seperti dalam festival. Tapi tidak ada aroma canda tawa maupun keceriaan yang menguar dari sana. Karena festival yang dirayakan di tempat tersebut adalah festival kematian.

Beberapa anggota tim forensik yang baru saja tiba sedang mengadakan diskusi kecil di samping mobil dinas mereka. Sementara puluhan orang berseragam memeriksa tempat terakhir jasad Hiruma tergolek. Jasad korban sendiri telah dibawa pergi menggunakan ambulans yang mengeluarkan suara nyaring di antara keheningan malam itu.

Yuuzuka Hiruma menangis di pelukan Suzuna, istri dari Sena Kobayakawa. Ia tidak mau dibawa pergi dari rumah itu. Padahal polisi sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai kasus pembunuhan yang korbannya adalah ayah Yuuzuka sendiri.

"Tou-san..." rintih Yuuzuka.

"Ya... Yuuchi, kami juga merasa kehilangan. Tapi kita harus ikhlas," Suzuna memeluk erat Yuuzuka.

"Hiks... hiks..." Gadis mungil yang tiba-tiba saja menjadi yatim itu terisak dalam pelukan Suzuna. Menyebabkan batin Suzuna turut tersayat.

Sambil menepuk-nepuk punggung Yuuzuka dengan lembut, Suzuna Kobayakawa memperhatikan figur kaku Mamori yang terduduk di sudut ruang tamu. Wanita itu terlihat sangat depresi. Ia tertawa sendiri, bahkan tersenyum sembari mengelap air matanya.

Suami Suzuna yang juga terlihat kacau mencoba menghampiri 'kakak' perempuannya untuk kemudian mengajaknya bicara. "Mamo—"

"Sena! Apa kau tahu? Hahaha~ baru saja Youichi sempat memintaku untuk diambilkan makanan~ tapi sekarang ia malah pergi~ huhuhu..." Mamori memotong perkataan Sena dengan igauannya.

Mamori yang tertawa lalu menangis sendiri terlihat sangat aneh. Jauh berbeda dengan kepribadiannya yang biasa.

Sena—yang notabene sangat dekat dengan Mamori—hanya bisa menonton. Memandang sendu tingkah sang kakak yang menangis dan tertawa layaknya terkena penyakit jiwa.

"Hh... Maaf, Mamori-neechan. Saat aku membutuhkan bantuan, kau selalu ada. Tapi sekarang, aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa..." kenang Sena.

Mamori menoleh, "Apa yang kau bicarakan? Hahaha!" Mamori kembali tertawa sendiri.

Grep!

Sena Kobayakawa pun hanya bisa menahan Mamori dalam pelukannya. Dulu, ia selalu merasa tenang setiap kali Mamori datang saat ia sedang diganggu oleh anak-anak yang lebih kuat darinya. Dengan berani, kakaknya itu akan membelanya lalu mendekapnya saat ia menangis ketakutan. Dan saat ini, Sena memang tidak bisa melakukan apa-apa atas hal mengerikan yang telah terjadi pada Hiruma. Tapi setidaknya ia ingin menenangkan Mamori yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri.

Sena dapat merasakan bajunya basah oleh tangisan Mamori. Wanita itu pasti sangat terpukul akan apa yang telah menimpa suaminya. Sena sendiri sama sekali 'tak habis pikir. Bagaimana bisa, seorang Youichi Hiruma—sang Komandan dari Neraka—yang sangat dikaguminya itu tewas dengan cara... dibunuh?

Hiruma adalah seorang pria kuat yang sangat cerdas. Mati di tangan orang lain bukanlah cara yang pantas bagi lelaki itu untuk pergi. Padahal siang tadi Hiruma baru saja merekrut Sena untuk bermain di tim yang baru saja dibentuknya. Mereka bertekad untuk mengalahkan atlet pro dari Amerika—rekan satu tim Hiruma sebelumnya.

Kepala sang Eyeshield 21 yang kini sudah menjadi seorang ayah itu berdenyut-denyut sakit. Otaknya yang memang tidak secerdas Hiruma ataupun Mamori tidak bisa menemukan alasan logis akan terbunuhnya sang Quarterback setan. Ia pun kembali mencurahkan perhatiannya pada Mamori. Tubuh wanita itu sudah tidak bergetar lagi sekarang. Sebagai gantinya, ia terkulai lemas di pelukan Sena. Ah, rupanya Mamori Hiruma tertidur karena kelelahan.

Dengan lembut, Sena meletakkan tubuh Mamori di tempat tidur Yuuzuka. Suzuna melarangnya menidurkan Mamori di kamar wanita itu. Suzuna khawatir kalau Mamori akan histeris begitu terbangun di tempat tidur milik ia dan suaminya—tanpa sang suami di sisinya. Suzuna sendiri masih memeluk Yuuzuka erat. Anak yang biasanya terlihat dewasa itu saat ini jadi begitu rapuh.

Yuuzuka'lah yang telah menghubungi keluarga Kobayakawa begitu menemukan ibunya yang menangis sambil memeluk ayahnya yang sudah tidak bernyawa. Suzuna yang mengangkat telepon Yuuzuka langsung menitpkan putrinya yang hanya lebih mudah dua tahun dari Yuuzuka kepada Natsuhiko Taki. Sementara ia dan suaminya bergegas pergi ke kediaman Hiruma.

Mengingat hal yang baru saja terjadi itu rasanya seperti mengenang sesuatu yang sudah terjadi berpuluh-puluh tahun lamanya bagi Suzuna. Ia sendiri tidak kalah terpukulnya dengan Mamori. Namun ia berusaha tetap tenang demi gadis kecil di pelukannya. Gadis kecil yang saat ini hanyalah gadis kecil biasa. Bukan anak istimewa yang tadi bertindak lebih dewasa dari ibunya sendiri. Bukan pula anak cerdas pemilik darah setan dan malaikat.

Ya, biarkanlah Yuuzuka menjadi anak kecil biasa malam ini.

.

|to be continue|

.

M and I: Dengan ini kami umumkan! Bahwa, dengan resmi kami telah menikah!

M: Akhirnya kau menjadi milikku! XD

I: Awawaw~ daku terharu sayangku :*

M: Ayo kita rayakan Mamih~

I: #buat masakan

M: #beli lilin

I: Nah jadi!

M and I: #candle light dinner

M: Ah, kelupaan!

I: Ah, iya!

M and I: Mohon reviewnya~!

|The most express couple|-|The most sweet couple|-|The most young couple|-|Mitama134666-x-Iin cka you-nii|