Hiruma Mamori membuka matanya yang sembab. Wanita itu cukup terkaget ketika mendapati tubuhnya terbaring di kamar putrinya. Namun tekstur tempat tidur yang lembut sedikit menenangkannya.
Sayang, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Setelah Mamori melihat sebuah foto berbingkai kayu mahoni menampakkan tiga orang; dirinya, Yuuzuka, dan … Hiruma Youichi.
Mamori terpaku sesaat, ia memutar film bisu yang ia saksikan malam sebelumnya. Hiruma yang bersimbah darah berada dalam pelukannya. Tidak bernyawa, rapuh—namun tetap menawan.
Tanpa sadar, air mata terjatuh melalui manik safir Mamori. Mengaliri pipinya lalu menetes dari ujung dagunya.
Tatapannya kembali berubah menjadi kosong. Kesedihan tergambar dengan jelas di wajah pucatnya. Ia menekuk lalu memeluk kedua lututnya dengan tubuh yang bergetar.
Cklek ….
Pintu kamar terbuka. Kobayakawa Suzuna menapakkan kaki telanjangnya perlahan. Istri dari Sena Kobayakawa itu memasuki kamar Hiruma Yuuzuka sambil membawa nampan berisi sarapan untuk Mamori di atasnya. Dilihatnya Mamori yang terduduk sembari memeluk kakinya mencucurkan air mata.
Sesak. Itu yang dirasakan oleh Suzuna ketika melihat kondisi Mamori. Ia ingat, dulu ketika ia menangis sebelum pertandingan melawan Oujo White Knight di tournament Kantou, Mamori yang menenangkannya. Namun sekarang, ia tidak tahu harus bagaimana menghibur Mamori, menenangkannya, atau bahkan menghentikan isak tangisnya.
"Ne, Mamo-nee. Sarapan dulu, ya?" tawar Suzuna sembari menyungguhkan nampan dengan mangkuk berisi bubur dan segelas air putih.
Mamori terdiam. Ia tidak merespon. Matanya masih memandang lurus dan kosong dengan lelehan air mata yang terjatuh begitu deras dari setiap ujungnya.
Suzuna meletakkan nampan tersebut di atas meja belajar milik Yuuzuka untuk kemudian duduk di hadapan Mamori.
"Mamo-nee … sarapan, ya? Setelah sarapan, kita ke rumahku untuk bertemu dengan Yuu-chi. Bagaimana?" bujuk Suzuna.
Mamori tetap diam—mengabaikan Suzuna. Tangan Suzuna terangkat, lalu menyibakkan poni Mamori. Tetap, tidak ada respon. Mamori seakan membeku. Seperti boneka cantik yang pemurung.
Dengan perlahan, Suzuna memeluk Mamori. Menepuk lembut punggung ringkih sang kakak.
Kehangatan tubuh Suzuna mulai merasuki Mamori. Perlahan namun pasti, tatapan Mamori kembali pulih—walaupun tetap mengucurkan air mata.
"Mamo-nee … jangan menangis lagi. Kasihan Yuu-chi kalau melihat kondisi Mamo-nee seperti ini," kata Suzuna.
Tetap tidak ada respon. Namun Suzuna belum menyerah. Ia melepaskan pelukannya pada Mamori dan menyambar segelas air putih yang berada di atas meja belajar Yuuzuka.
"Minum dulu, ya!" titah Suzuna pada Mamori.
Mamori mengangguk kecil, lalu meraih gelas pada tangan Suzuna. Ditenggaknya sedikit, lalu ia kembalikan pada Suzuna.
"Aaaa …." Suzuna menyodorkan sesendok bubur pada Mamori.
Mamori membuka mulutnya, lalu mulai melahap bubur yang diberikan oleh Suzuna perlahan-lahan.
.
Eyeshield 21 Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata.
Mitama134666 & Iin cka you-nii Proudly Present
The Moonshine
Our debut fanfiction, a gift for our engagement day: 02042011
Our special fanfiction, a gift for our wedding day: 30052011
Warning: OC, gore, violence, OoC(We hope not), future fic, typo[s], misstypo[s], 3rd POV
Enjoy it!—if you dare ….
Chapter 3: The Little Devil
.
Jemari lentik Suzuna menekan layar ponsel iPhone 4 miliknya untuk menghubungi suaminya.
Nada sambung terdengar sayup-sayup bagi Suzuna karena konsentrasinya yang terpecah. Sena sedang berada di kantor polisi untuk memberikan keterangan seputar hubungannya dengan pria Hiruma yang baru saja terbunuh.
"Moshi-moshi, ya Suzuna?" sambut suara di seberang.
"Sena, bagaimana perkembangan kasusnya?" tanya Suzuna.
Helaan napas lelah terdengar dari pihak Sena. Sepertinya tidak ada kabar yang baik.
"Bukti-bukti yang ditemukan di tempat kejadian tidak berarti apa-apa. Semuanya samar. Tapi polisi berjanji akan terus berusaha menemukan pelakunya," kata Sena dengan nada putus asa.
"Lalu, yang ditanyakan polisi padamu apa saja, Sena?" tanya Suzuna.
Jemarinya meremas ponsel yang ada pada genggamannya. Debar jantungnya sudah tak terkontrol lagi.
"Awalnya mereka hanya mempertanyakan tentang hubunganku dengan Hiruma-san. Yah, aku ditanyai pertanyaan yang sama berulang-ulang. Sampai kemudian mereka bertanya, 'Apakah Hiruma memiliki musuh semasa hidupnya?' lalu aku menjelaskan prilakunya selama dia hidup. Lalu sang polisi hanya mengangguk-angguk tanda mengerti dan mulai mencatat-catat semua yang aku katakan," jelas Sena.
Suzuna menghela napas, lalu melirik ke arah Mamori yang sedang merenung dengan tatapan kosong—lagi.
"Lalu, apa mereka sudah selesai denganmu? Apa kau sudah boleh pulang?"
"Hhhh, setelah ini aku masih harus menemui detektif lainnya. Sepertinya ia juga akan menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang lain. Aku sudah melalui proses itu beberapa kali begitu tiba di kantor polisi."
"Begitu … kau pasti capek sekali ya …. Baiklah, Sena. Aku akan membawa Mamo-nee ke rumah kita untuk bertemu Yuu-chi. Hubungi aku kalau kau sudah selesai ya. Jaa." Lalu sambungan ditutup secara sepihak oleh Suzuna.
Jemarinya kembali bermain di atas touch screen ponselnya untuk menghubungi Taki.
"Moshi-moshi, Mai Shisuta. Mau dijemput sekarang?" tanya Taki yang sudah tahu tujuan Suzuna menghubunginya.
"Ya, Aniki. Secepatnya, ya!" tuntut Suzuna.
"Hai, Mai Shisuta! Aku berangkat sekarang. Jaa!" Taki memutuskan sambungannya.
Suzuna menyelipkan iPhone-nya ke dalam tas kecilnya lalu berjalan menghampiri Mamori.
Melihat Mamori yang memandang kosong sambil mengetik meja, sepertinya bukan kondisi yang baik untuk menyuruh ibu satu anak itu menyiapkan pakaiannya.
Suzuna pun berjalan ke kamar Mamori dan Hiruma. Kamar itu serba putih. Lantai yang berwarna krem, tempat tidur king size, selimut berwarna emas, TV dengan layar LED produksi SONY, dan sebuah kemegahan lainnya terdapat di kamar milik Hiruma dan Mamori.
Ia melihat banyak sekali barang-barang kenangan mereka berdua. Foto pernikahan, lukisan keluarga, laptop VAIO putih, senjata api, dan saat Suzuna membuka lemari pakaian untuk menyiapkan pakaian Mamori—tumpukan album foto keluarga Hiruma membuat Suzuna terkaget.
Ia menutup wajahnya untuk menahan tangisnya pecah. Sungguh. Ia tidak kuat ketika melihat kenangan-kenangan Mamori dan Hiruma berdua. Mengingat betapa Suzuna ingin Setan dan Malaikat itu bersatu. Suzuna mulai merasakan kesedihan yang diderita Mamori.
Setelah merasa baikan, cepat-cepat Suzuna meraih beberapa helai pakaian Mamori yang berada di dalam lemari, lalu memasukannya ke dalam koper hitam yang lumayan besar. Rumah putih mungil itu akan ditinggalkan sementara untuk penyelidikan lebih lanjut. Lagipula Mamori tidak bisa tetap di sana, bahkan seharusnya saat ini ia dirawat di Rumah Sakit. Yah, Suzuna bersikeras untuk merawat Mamori di rumahnya sampai kakaknya itu cukup kuat untuk ditanyai.
Setelah merapikan pakaian, Suzuna berjalan menemui Mamori.
"Ayo, Mamo-nee! Kita akan ke rumahku bersama Aniki. Yuu-chi sudah di sana sejak kemarin malam. Ia juga sudah merengek ingin bertemu dengan Mamo-nee," ajak Suzuna.
Mamori hanya mengangguk kecil, lalu berdiri—dengan bantuan Suzuna tentunya. Lututnya terlalu lemas untuk menopang tubuhnya—tubuh yang masih bisa merasakan sentuhan seseorang yang sudah tiada.
.
+The Moonshine+
.
Hiruma Mamori menaiki mobil Taki yang terparkir di depan kediaman keluarga Hiruma. Begitu wanita itu sudah di dalam, Taki dan Suzuna berkomunikasi kecil.
"Bagaimana kondisi Mademoiselle Mamori?" tanya Taki dengan nada serius. Namun Suzuna hanya menutup matanya dan menggeleng pelan. Ekspresinya murung.
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Suzuna naik ke mobil dan Taki pun mulai mengemudikan mobilnya. Pria itu menginjak pedal gas perlahan, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Suzuna menepuk pundak Mamori dan sedikit mengguncangkannya ketika Mamori tidak merespon. Namun Mamori tetap diam dengan pandangan kosong ke tempat pengemudi.
"Suzuna-chan …" panggil Mamori akhirnya ketika Suzuna sudah hampir tertidur. Suaranya yang lembut kini terdengar parau.
Mamori teringat saat mereka—dirinya, Hiruma, dan Yuuzuka—sedang mengendarai mobil. Hiruma duduk di tempat pengemudi dan dia di sampingnya. Sembari beradu argumen dengan Hiruma dan ditonton oleh Yuuzuka yang duduk di bangku belakang.
Suzuna menoleh—merasa dirinya dipanggil oleh Mamori.
"Aku rindu Youichi, Suzuna-chan … aku—hiks," isak Mamori tiba-tiba. "Mimpi ... tolong katakan kalau semua ini hanya mimpi," lanjutnya kemudian.
Suzuna sedikit terkaget lalu memeluk Mamori, berusaha untuk menenangkannya.
"Mamo-nee ... gomen. Maafkan aku, tapi ... ini bukan mimpi. You-nii sudah ..." Suzuna menggantung kalimatnya. "Tapi semuanya pasti berlalu. Mamo-nee masih punya Yuu-chi. Dan aku ... juga Sena, kami akan membantu Mamo-nee melaluinya jadi ... bertahanlah," bisiknya kemudian.
Walaupun enggan, mendengar kalimat Suzuna yang begitu tulus, Mamori pun mengangguk kecil. Ia membalas pelukan Suzuna dengan tubuh yang bergetar—getaran yang perlahan menghilang ketika si empunya tubuh tertidur lemas.
.
+The Moonshine+
.
Taki Natsuhiko menurunkan kecepatan mobilnya begitu mereka memasuki komplek perumahan tempat keluarga Kobayakawa tinggal. Di belakangnya, Mamori sudah terlihat jauh lebih tenang setelah tidur singkatnya—apalagi setelah Taki membelikannya sekotak kue sus Kariya. Dan Mamori terlihat sudah siap menemui putri semata wayangnya. Suzuna pun terlihat lega atas keadaan Mamori saat ini. Rupanya keputusannya untuk merawat Mamori di rumahnya tidaklah salah.
Ckiiit.
Mobil pun berhenti dengan mulus di halaman depan rumah megah milik sang Eyeshield 21. Mamori menghela napas panjang sebelum melangkahkan kakinya melalui pintu yang sudah dibukakan oleh Taki. Ia agak khawatir akan menemukan putrinya yang sedang menangis sedih. Namun kekhawatiran itu sirna seketika begitu ia mendengar gelak tawa dari dalam rumah.
Masih didampingi Suzuna, Mamori berjalan memasuki rumah Kobayakawa. Langkah wanita itu semakin lama semakin cepat. Ingin segera memeluk Yuuzuka rupanya. Ia mengikuti suara-suara anak kecil yang sedang bermain.
"Sepertinya mereka ada di halaman belakang," kata Suzuna.
Senyum cerah pun terbit di wajah cantik Mamori begitu ia mendekati pintu menuju tempat yang disebutkan Suzuna. Namun belum sempat ia melalui pintu itu, seorang anak lelaki mungil berlari menubruknya. Anak lelaki Sena dan Suzuna itu menangis terisak.
"Shou, kenapa sayang?" Suzuna langsung menghampiri putranya dan menanyainya lembut.
Pria kecil pemilik mata karamel itu menjawab sambil memeluk kaki ibunya, "Coco …."
"Hm? Apa Coco kabur lagi?" tanya Suzuna. Coco adalah hamster kesayangan Shou dan anaknya itu selalu menangis seperti ini jika Coco menghilang.
Namun Shou menggeleng cepat. "Yuu-neechan," gumamnya kemudian.
Mendengar nama putrinya disebut-sebut, jantung Mamori melesak ke tenggorokannya. Firasat buruk langsung membuat perasaannya tidak enak. Tanpa bertanya lebih lanjut tentang apa yang dilakukan putrinya sehingga Shou menangis, Mamori berlari menuju halaman belakang.
Yang dilihatnya kemudian sukses membuat lutunya lemas sehingga ia jatuh terduduk. Suzuna yang cepat menyusul Mamori pun memekik kecil dan memeluk putranya.
Di halaman belakang yang asri itu, di bangku taman bercat putih, Coco terbaring kaku—tanpa kepala. Darah merah kehitaman mengalir dari penggalan kepala hamster kecil itu. Sementara di sebelah bangku taman, Hiruma Yuuzuka tergelak senang. Ia menggenggam kepala mungil Coco sambil mengelus bulu coklatnya. Tanpa rasa jijik, putri setan Deimon itu mencongkel mata hamster kesayangan Shou. "Lihat, Kaa-san … Tou-san!" katanya.
.
To Be Continue
.
Special thanks to our reviewer: Just 'Monta -YukiYovi, DiaNa MoGami, Lionel Sanchez Afellay, HirumaManda, Megumi Rockbell, Hikari Kou Minami, gyucchi, Nasaka, diangel, AeonFlux15, and Ai Kireina Maharanii.
So sorry for the late update. Review again? :D
