Here Chapter 2 comes!

Ini tahun ke dua dari Oliver Wood. Saya sih maunya cepet2 tahun ketiga, karena ada si manis Fred & George. Sayang sekali u_u belum. Chapter selanjutnya, masih tahun ke dua! Nggak tahu juga, tapi tahun kedua lebih panjang. OMG! Kissing scene disini cuma nyentuh doang kok. UTamanya sih mau Oliver x Asha. Tapi lebih suka mana?


Chapter 2 :Quidditch

Aku sudah siap dengan koper-koper dan Owl, burung hantuku. Yah, aku tidak puny aide, itu juga mengingatkan aku ke Olv. Aku melirik ke jendela mobil. Mobil menderu dan semakin mendekati, tidak lain tidak bukan stasiun King Cross. Aku turun dari mobil, melihat keluarga Oliver, Mr. Wood dan Mrs Wood. AKu menjabat tangannya.

"Asha Young," Ucapku tersenyum.

"Wah,ini sahabatmu itu?" Tanya Mr Wood ramah.

"Iya," jawabku lalu menoleh ke Olv. Dia mengangguk. "Selamat tinggal Mr , Mrs Wood. Kami pergi dulu," pamitku, lalu berjalan menuju Hogwarts Express. Aku naik dan mencari kompartemen. Aku duduk dan membaca beberapa artikel, ketika seseorang membawa pintu.

"Eh…bolehkah aku duduk sini?" Tanya orang terlalu tinggi, ramah dan matanya bercahaya. Aku mengangguk. Dia duduk di sampingku, sedangkan depanku ada Olv. "AKu kelahiran muggle. Martin Hardes. Senang berkenalan denganmu!" Seru Martin memandangku dan Olv.

"Oliver Wood," acuh Olv. Aku mengangkat sebelah alisku dan menoleh pada Martin lagi.

"Asha Young, Martin. Senang berkenalan denganmu!" Jawabku. "Kau tahu Naruto? Komik Jepang itu?"

"Aku tahu! Seru, bukan? Tadinya kukira itu cuma khayalan, sama seperti sihir. Tapi sihir asli! Aku membaca banyak tentang sejarah Quidditch, menurutku err—seru!"

"Iya! Quidditch itu menyenangkan! Tapi aku ragu apa aku bisa masuk dalam tim," desahku.

"Aku tadinya di seleksi masuk Slytherin, tapi diganti jadi Gryffindor," ucap Martin masam. "Tapi tidak apa-apa! Lagian, mana ada yang menerima kelahiran muggle sepertiku," Martin mengangkat bahu. Olv diam saja, tapi ketika menyangkut piala dunia, dia langsung berceloteh tiada henti.

"Aku lapar," Gerutu Martin saat anak-anak diseleksi. (Yusya, Nickila, "HUFFLEPUFF")

"Martin, seleksi jauh lebih penting," sela Nick si-kepala-nyaris-putus. Jadilah Martin mencuri-curi makanan. Martin tampak seperti mayat hidup sampai akhirnya kepala sekolah, professor Dumbledore, mengumumkan selamat datang.

"Selamat datang! Dan Selamat bergabung kembali! Di Hogwarts ini, kalian telah diperingati, jangan keluar malam-malam—" Dan celotehan lain professor Dumbledore. Aku juga merasa lapar, sampai dia bilang; "Selamat makan." Aku langsung menyerbu makananku, mengambil daging yang dilumuri sauce dan sayuran segar. Aku segera memakannya dengan hati-hati.

"Asha, kau tahu, tahun ini ada uji coba Chaser dan Keeper. Kau mau ikut?" Tawar Olv. Aku mendongak. Kulihat dia nyengir.

"Itu akan bagus! Sayangnya aku tidak punya sapu," Aku menghela napas.

"Lho, kenapa?"

"Aku membelikanmu sapu paling bagus, ingat?" Tawaku sedikit, lalu kembali menyantap, tidak menyadari mukanya merah.

"Maaf," ucapnya pelan.

"Apa yang perlu di maafkan? Sudahlah. Nah, oh ya! Kentang tumbuk!" Pekik-ku girang. Olv menatapku 'mengalihkan-pembicaraan' tapi siapa peduli! Aku memutar mataku. Dan seketika ada cewek yang bernama Michelle, dari Ravenclaw, menghampiri meja Gryffindor.

"Wood, katanya kau ingin bergabung dengan tim quidditch? Carilah Charlie!" Ucap cewek itu, Michelle Rane, tersenyum manis. Oliver merona dan mengangguk. Aku agak curiga. Setelah si Michelle Rane itu pergi, aku mendekatkan wajahku ke Oliver.

"Oliver, kau suka pada Rane?" Tanyaku berbisik. Oliver terkejut.

"Yah—agak." Oliver menjawab takut. Aku bingung apa yang ditakutkannya.

"Baiklah. Buat dia senang, ya." Ucapku tersenyum dan menyeringai. Aku tidak mengerti kenapa hatiku rasanya tidak enakk, dan itu bukan masalahku.

~End of Asha~

Asha menghela napas setelah selesai makan. Dia bangkit dari kursinya dan mengajak Martin dan Oliver ke rekreasi. Oliver dan Martin mengangguk dan berjalan perlahan. Mereka sampai di depan lukisan nyonya gemuk.

"Evanstirum," kata Asha kepada lukisan nyonya gemuk itu. Nyonya Gemuk mempersilahkan mereka masuk. Dan terlihatlah warna-warni hangat Gryffindor. Asha merebahkan diri di sofa dan menutup matanya, diikuti Martin yang juga merebahkan diri di samping Asha, sebelum Oliver menatap mereka aneh.

"Apa?" Tanya Asha pada pemuda penggemar berat Quidditch itu.

"Tidak…" jawab Oliver tapi dia merasakan ketidak-enakan. Dia merasa gelisah. Tapi dia menyingkirkan kemungkinan itu. "Martin, kau mau ikut aku ke kamar?" Asha memutar mata pada Martin Hardes dan Lelaki kelahiran muggle itu mengangguk, bangkit dari sofa dan mengikuti Oliver yang membuka pintu kamar lelaki itu. Oliver menuju ranjang dan tidur, atau tepatnya pura-pura tidur.

"Kau tahu , Martin. Kau sepertinya suka pada Asha," Oliver membuka pembicaraan. Martin tidak bereaksi, lalu dia membuka mulut.

"Memang kenapa kalau iya?" Tanya Martin, duduk di tempat tidurnya sendiri, memandang langit-langit. Oliver diam. "OH ya. Kalian kan pernah berciuman. Pantas. Aku tidak boleh merebut cewekmu ya?" Ejek Martin.

"Bukan!" Bentak Oliver. Martin yang merasa dibentak mentap tajam Oliver.

"Baiklah, Wood. Aku mempunyai tantangan. Bila aku bisa mendapatkan Young, kau harus menjauhi Young selamanya. Bagaimana?" Ejek Martin. Oliver diam. "Yah, sudah kusangka kau tak mau, hanya peduli sama Michelle Rane tidak berguna itu. Tapi begini semakin mudah. Karena kau tak menerima, kau tak boleh mendekati dia!" Martin menjilat bibirnya dan beranjak ke kamar mandi.

"Tunggu! Aku mau!" Seru Oliver dari kejauhan. Martin menyeringai.

...*****...*****

Tok-tok. Asha bangun. Tumben, pagi-pagi begini, ada yang mengtuk pintu. Karena malas memakai pakaian sopan, Asha bangun saja dan membuka. Oliver Wood.

"Kyaaa!" Pekik Asha. Dia menutup pintu.

"Ma..maaf," ucap Oliver gugup. "Ka—kau sudah siap?"

Asha hanya mendengus, lalu segera mandi—dan siap! Dia membuka pintu dan Oliver Wood masih di sana.

"Ayo!" Seru Oliver. Asha bertanya-tanya, tumben sekali Oliver pagi-pagi begini. Dan dia pelan-pelan mendengar ledakan air di kamar Martin, dan Oliver nyengir. Asha mengangkat alis tapi tidak memusingkan itu.

Ketika mereka duduk manis di aula besar, Asha menoleh dan melihat Michelle Rane tersenyum manis dan hangat pada Oliver. Oliver melambai.

"Kau gila, Olv. Dia, kan kelas 5! Memang sih manis—tapi!" Seru Asha. "Tapi yang lebih penting ini!" Asha menunjuk pada kertas lusuh—tidak lusuh, tapi terlihat terinjak-injak, dan ada tulisan:

Uji coba Chaser, Keeper

Jam 1 Siang. Temui;

Charlie Weasley

"Aku curiga ini perbuatan Slytherin," dengus Asha lalu membolak-balik buku yang ia baca. "Bagaimana menurutmu jagoan?" Tanya Asha, lalu mengambil roti.

"Jangan panggil aku jagoan. Aku jadi seperti anakmu!" Gerutu Oliver, lalu mengambil kertas itu, menimang-nimangnya. "Aku ikut." Senyum cerah Oliver Wood tersungging di bibirnya.

...****...****

Lapangan Quidditch di penuhi anak Gryffindor yang ingin uji coba. Dan Charlie Weasley, Nigel Crane, Quinn Tray, Luinne Grad sedang mengatur barisan. Adapula anak yang menjulang tinggi, ada yang pendek, ada anak kelas 2—dan banyak yang lainnya. Asha ragu-ragu apakah ia bisa, jadi dia nonton dan memberi semangat.

"Keeper! Di sini semua! Kita uji coba! Jaga gawang tersayang kita dari 5 Quaffle yang akan masuk!" Teriak Charlie. Dan Oliver gugup disana.

"OLV! Ayo kamu bisa OLI VER!" Teriak Asha ketika giliran Oliver, dia naik ke atas sapunya. "Anggap sapu itu jimat!" Seru Asha keras. Oliver tersenyum getir. Dan—Quinn, si chaser satu-satunya menggolkan kosong dari lima bola ke gawang Oliver. OLIVER LOLOS! Oliver berseri-seri, dan Asha langsung turun dan memeluknya kuat, membuat Charlie Weasley geleng-geleng kepala, teringat apa yang di katakan Bill padanya tahun lalu, tentang gossip itu.

Tapi dia masih punya masalah. Hanya satu chaser yang cukup meyakinkan, berkerja sama dengan Quinn. Tapi perhatiannya teralih ke Asha. Dia mempunyai firasat bahwa Asha bisa lebih dari bagus.

"Hei, pacar Wood—kau sini!" Panggil Charlie. Asha kaget dan memerah dibilang pacar Wood.

"Apa?" Tanya Asha.

"Cobalah menggolkan dengan si kecil Wood pacarmu ini jadi keepernya. Dan Oliver, jangan merendahkan penjagaan karena pacarmu yang uji coba. Punya sapu?"

"Tidak," Asha menggeleng, dan di beri Charlie Weasley sapu. Asha melesat keatas, memegang Quaffle. Dia lalu mencoba mencetak gol, meliuk-liuk, dan mencetak 5 gol, dengan sedikit kerendahan penjagaan oleh Wood.

"Bagus, pacar Wood—siapa namamu? Young! Kau boleh pergi! Kau jadi chaser kami!" Seru Charlie.

"EEEE?"

...*****...****

"Yak. Ini dia tim Gryffindor! Grad! Crane! Soul! Young! Tray! Wood! Dan—Weasley!" Komentator memanggil satu per saatu nama. "Snitch! Bludger! Dan Quaffle dilepaskan! Pertandingan mulai! Dan Soul mendapatkan bolanya, melempar pada Tray, dia dihadang oleh Sinilus—si anak ingusan Slytherin… dan melempar pada Young! Astaga terbangnya cepat sekali! Awas bludger, Young! Dan keeper Slytherin, Recius Adam, tubuh besar, menghadang! Young begitu gesit dan gooooollll! 0-10 untuk Gryffindor!" Teriak komentator. Wajah Asha senang sekali dia melempar senyum pada Oliver. Satu menit semenjak dia bermain. Kemudian Quaffle dilepaslan seorang Slytherin membawanya dan direbut oleh Quinn, menyerahkannya ke Young dan BLUK! Saat melesat, bludger mengenai Oliver. Sapunya melesat ke dedalu perkasa dan dia jatuh. Mata Young melebar dan dia melempar bola ke Soul. Dia melesat ke arah Oliver dan dia menunduk di sisi-nya.

"Young! Kau harus lanjutkan! BUKAN SAATNYA MEMPERHATIKAN PACARMU SEKARANG!" Raung Charlie. Asha yang matanya sembab dia langsung menaiki sapu dan melesat, mencetak gol sebanyak-banyaknya.

"350-10 untuk Slytherin! GRYFFINDOR WIN! Weasley dapat SNITCH!" Seru komentator. Semua bersorak dan Charlie tersenyum gembira pada Asha, yang mencetak 15 gol antara 20 Gol, Asha tampak sedih.


"Kita menang?" Mata Oliver membesar. "Maksudmu, kita benar-benar menang?" Tanya Oliver. Asha mengangguk. "Dan err—kamu menjagaku terus?"

"Iya."

"Syukurlah." Oliver kembali tertidur, dan mengecup pipi Asha yang membuat Asha tersentak. Sesosok Martin Hardes dari jauh memperhatikan mereka, mendecak kesal dan berbalik.

...***...***

Oliver sudah sembuh dan kini dia berhadapan dengan Martin.

"Aku berhasil, kan?" Desis Oliver. Martin memutar matanya.

"Iya. Aku mendekat saja tidak bisa pada Young," balas Martin sinis. "Kau menang. Kau ingat, kan, apa yang dilakukan oleh yang menang? Perjanjiannya, kau boleh mencium Rane di bawah mistletoe." Gerutu Martin. Oliver terkejut. Hatinya—dulu dia merasa senang dapat melakukan itu tapi sekarang? Dia agak gundah. Dia berjalan dan akhirnya menemukan Michelle. Martin menyihir mistletoe itu, sehingga seorang Michelle Rane dan Oliver Wood bertemu.

"Hai Oli—ah tidak! MISTLETOE!" Pekik Michelle. Michelle melirik Oliver yang memasang tampak terkejutnya. Wajah mereka mendekat, dan begitu bibir mereka saling menyentuh, seorang Asha Young melebar mata coklatnya. Dia menjatuhkan buku-bukunya, dan berbalik pergi.