Kuharap di chapter ini puas! Bila chapter-chapter sebelumnya ada kurang penjelasan, Saya minta maaf! Dan Chaptie terbaru kini sudah keluar. Mash bersetting di tahun kedua Oliver. Chapter depan, mungkin tahun ketiganya!

•Harry Potter• Milik J.K Rowling

Yang kulakukan disini hanya membuat plot cerita X) Dan own Character sebetulnya -a

Mungkin kebanyakan OC, jadi minta maaf sebesar-besarnya. Kritik dan saran dinantikan! Tapi jawablah dengan lembut #plak

Enjoy!


Asha menjatuhkan bukunya, lalu berlari pergi. Terlalu menyakitkan untuk di deskripsikan. Tapi juga bukankah ini yang dia harapkan? Dia berlari terus sampai di ruang rekreasi. Lukisan nyonya gemuk mengernyit ketika Asha, matanya memerah, habis menangis.

"E…Evan…s…sstirum," ucap Asha terbata-bata dan dia masuk. Kenapa dia harus kecewa? Kenapa dia harus merasakan ini? Tapi Asha menjauhkan pikiran-pikiran itu dan dia berbaring di tempat tidurnya.

Oliver Wood menelan ludah dan melepaskan Seorang Michelle dan dia mengejar Asha. Dia melihat ekspresinya dan sadar ini pertanda buruk. Dia berlari menuju ruang rekreasi dan lukisan nyonya gemuk baru saja mengayun menutup ketika Oliver Wood sampai.

"EVANSTIRUM!" Seru Oliver dan nyonya gemuk menggerutu dan mengayun membuka. Terlambat. Asha sudah masuk kamar. Oliver menjatuhkan diri di sofa ketika Martin mendekat.

"Dia marah, kawan?" Tanya Martin, tetap menyeringai. "Yah, kalian, kan, sahabat," Martin menekan kata terakhir. Oliver memandang gusar Martin. Dia tidak akan beranjak dari sofa itu sebelum menemukan Asha. Kenapa Asha bereaksi begitu? Tanpa sadar, dia telaah tertidur di sofa itu.

...oOo...

Terima kasih karena mimpi buruk, Asha bangun tengah malam. Sudah lewat dari jam 11. Dia mengeluh dan ingin sedikit ketenangan, teringat dia tertidur karena menangis semalam. Dia turun dari kamarnya dan terpaku melihat Oliver Wood tertidur di sofa. Senyum tersungging di bibirnya. Dia mengelus rambut Oliver. Ketika sepasang mata membuka. Oliver Wood membuka matanya, dan segera duduk.

"Maafkan aku," ucap Oliver, menunduk. "Aku memang payah. Aku sudah tidak suka dengan Rane itu." Asha tersenyum.

"Tidak apa, Olv. Aku yang salah. Kenapa aku harus marah atau apa istilahnya? Cemburu (Oliver merona merah karena ini) karena kamu menciumnya? Aku harusnya senang, karena kau menyukai Rane," balas Asha. Mereka terdiam dan memandangi lidah api yang tenang di ruang rekreasi.

"Aku sebenarnya tidak ingin mencium Rane, kau tahu?" Oliver angakat bicara. Asha terlihat bingung, dan Oliver mendekatkan wajahnya ke Asha. "Aku mau mencium—" ketika jarak mereka tidak lebih dari setengah jengkal, pintu rekreasi terbuka dan Charlie Weasley terkejut. Asha dan Oliver melompat ke arah yang berbeda dengan wajah semerah tomat.

"Well, well, well, well. Apa yang kita lihat di sini? Anak kelas 2 yaitu Wood dan Young. Kenapa kalian belum tidur?" Bentak prefek dan Charlie Weasley cuma nyengir. Asha dan Oliver, khusus Oliver membetulkan kemeja sekolahnya karena berantakan, dan prefek makin curiga karena Asha memakai baju malam.

"Kalian tidak melakukan apapun, kan!" Bentak Prefek lagi. Asha hanya menggeleng dan menunggu Oliver untuk ke atas.

"Wood. Sapumu hancur," bisik Charlie sehingga Oliver menelan ludah. Dia terkejut karena belum di beritahu, dan pandangan bersalah ke Asha.

"Tidak apa, Oliver. Tidak apa." Kata Asha, dan dia naik ke ruang rekreasi.

Sang prefek itu meninggalkan Charlie dan Oliver di ruang rekreasi, sebelum meninggalkan pesan untuk tidak berlama-lama di ruang rekreasi. Mereka saling membeku. Oliver baru saja memikirkan apa yang baru saja ingin dilakukannya, tidak lain tidak bukan adalah… merasakan bibir dari seorang Asha Young, ini gila, karena dia sahabatnya sendiri.

"Jadi, bocah, kau mempermainkan chaser terhebat kita?" Charlie membuka percakapan.

"Apa maks—" Belum selesai, Charlie memotong.

"Kau dan Rane? Ingat? Dan tadi?" Charlie tersenyum simpul. Oliver menjadi frustasi.

"Itu karena mistletoe! Dan aku bukan pacar Asha! Errgghhh lupakan!" Oliver mengacak-ngacak rambutnya dan berdiri, hendak ke kamar tidur. Sejenak dia menatap ke kamar Asha dan tersenyum.

oOo

Sarapan pagi yang tenang. Hanya Martin yang mukannya tidak merona merah, apalagi kejadian semalam. Asha membuka buku transfugurasi dan mulai belajar berbagai buku. Ketika sarapan selesai, Martin, Asha dan Oliver segera beranjak ke pelajaran McGonagall itu. Asha duduk di samping Martin, entah kenapa setiap melihat wajah Oliver membuatnya ingin mengenyahkan diri sendiri.

"Selamat siang. Hari ini kita akan belajar mengubah binatang menjadi benda mati. Mantranya, Vera Verto." Ucap McGonagall, menjelaskan. Asha dan Martin mengambil burung hantu masing-masing dan mencoba menyihir. Asha mendapat 10 poin karena berhasil menyihirnya dalam satu kali percobaan, dan tidak ada kata selain sempurna. Pelajaran hari itu berjalan mulus, dan ingat saja, ini sudah liburan natal dan tahun baru. Asha dan Oliver sudah memutuskan akan tinggal di kastil, meskipun Asha membujuk Oliver untuk tinggal di kastil.

~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o

Christmas

"Hadiah," bisik Asha. Mereka, Oliver dan Asha segera turun dan kamar dan melihat setumpuk hadiah. Asha senang sekali mendapat beberapa buku baru dari orang-tuanya, dan Oliver mendapat sapu baru. Asha tersenyum gembira karena Oliver mendapat sapu baru, tapi Oliver tidak begitu senang. "Kenapa?" Tanya Asha.

"Tadinya aku mengharapkan, lebih. Aku menyesal atas sapu—"

"Betul, tidak apa-apa."

"Kalau begitu, kita rayakan! Aku akan ke dapur mengambil beberapa—"

"Aku saja," serobot Asha, laluu keluar. Dia menyelinap dan sampai di dapur. Dia menggelitiki buah pir dan segera masuk. Beberapa peri rumah kaget atas kedatangannya.

"Selamaat datang miss. Apa yang anda inginkan miss?" Tanya peri rumah. Asha bingung tapi tiba-tiba dari belakang ada yang menyergapnya. Mulutnya tersumpal oleh sapu tangan. Dan tidak lebih dari tiga detik, dia ditutupi oleh kain matanya.

~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o~o

Meanwhile

Oliver cemas di ruang rekreasi, karena Asha belum juga pulang. Dia lalu beranjak pergi dan ke dapur. Dia menggelitiki pir dan melihat peri rumah yang ketakutan.

"Dimana Asha?" Tanya Oliver tergesa-gesa. Para peri rumah lalu tambah ketakutan.

"Di…dia dibawa oleh tu…tuan Marcus Flint," Peri rumah itu ketakutan ketika mengatakan itu. Amarah menguasai Oliver saat itu juga.

"Kemana dia pergi?" Tanya Oliver, matanya menyala-nyala.

"Sepertinya ke danau, sir." Ucap peri rumah yang lainnya. Oliver saat itu juga meninggalkan dapur, dan berlari menyusuri koridor sampai dia melihat Marcus Flint menahan Asha, di rerumputan. Pemandangan yang menjijikan. Oliver meluncurkan kutukan pada Marcus, yang telah menghajar babak belur Asha. Setelah Marcus tergeletak, Oliver membimbing Asha.

"Kita harus ke madam pomfrey!" Seru Oliver bersikeras. Asha akhirnya ambruk. Oliver menggendongnya sampai ke madam Pomfrey, yang langsung menangani Asha.

Asha POV

Aku membuka mata. Tapi rasanya berat sekali. Seperti dicantolin batu sepuluh kilo. Flashback.

"Kau sangat menyebalkan, tahu!" Seru Flint, ketika kami sampai di danau. "Kau telah membayar karena membuat kami kalah!"

"Baiklah. Berapa galleon yang kau mau?" Tanyaku. Mata Flint sangat menjijikan, dan aku terdiam.

"Bayarannya, dengan tubuhmu tentu saja…" ucap Flint dengan nada yang sangat memuakkan.

"Oh. Pukul aku kalau begitu!" Seruku tanpa takut. Siapa takut dengan si besar ini? "Tubuhku, kan?"

"Bodoh! Bukan itu yag kumaksud!"Desis Flint dengan mata merah.

"Lebih baik aku babak belur daripada melayanimu, tuan," Balasku sengit. Dan dia memukulku.

Itulah yang kuingat. Aku tidak sadar apa-apa lagi. Dan aku membuka mataku yang berat. Olv? Dia memegang tanganku erat. Weasley?

"Oliver," desahku ketika aku bangun. "Weasley… kenapa kalian disini?"

"Kau sudah bangun?" Raut wajah Olv jadi senang. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali dan melirik Weasley. "Kenapa kau di sini?"

"Tidak sopan sekali," tawa Weasley. "Panggil aku Charlie. Well, aku ingin sekali menghajar si Flint, karena membuatmu tidak bisa ikut Quidditch, yang baru di selenggarakan tadi dan tanpa chaser hebatmu, kita err…menang, 170-10." Jelas Weas—maksudku Charlie.

"Apa yang terjadi?" Tanya Olv padaku.

"Jadi…" Jelasku.

.

.

.

"—Begitulah, Olv. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Setelah itu. " Aku menghela napas. Badanku agak enakkan. Dan aku baru sadar mereka memakai seragam Quidditch.

"Beraninya! Beraninya dia…" Oliver kehilangan kata-kata.

"Charlie," bisikku. Charlie menurunkan wajahnya, siap mendengarkan.

"Kurasa tahun depan aku tidak ikut Quidditch." Dan Charlie mengeluh.

"Tergantung, Asha." Charlie menyeringai kemudian pergi. Oliver masih disampingku.

"Charlie baik sekali ya…" gumamku, tidak menyadari perubahan raut wajah Oliver.


Selesai deh :9 Bagaimana menurut kalian? Jawabnya dalam hati aja ya! #Duagh! Terimakasih juga pada Silent Reader!

Terima kasih telah membaca fict nggak keruan ini :)