Bertemu lagi dengan saya, author gaje XD Baru saja terjun langsung own character o3o Maklumlah, kan author gaje. Chapter 4 is up! (In the same day *muter mata* Mumpung libur~ BTW, wordsnya udah nambah nih
\m/ Seneng banget bisa nambah words :D Tahun ketiga Oliver!
Emang tiap tahunnya pasti fokusnya : Awal, Libur natal, Valentine, udah deh~ Karena saya gabisa bikin adventure o3o"" Hehe... curhat.
•Harry Potter• Punya JK. ROWLING
All character she have it, except the strange name, is my own character.
(I hope you) Enjoy! XD
Chapter 4
When and Where is Love?
DUOOORRR! Pintu kompartemen kami rusak oleh dua cowok kembar berambut merah. Aku melotot pada mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini! Gara-gara aku membantu Mrs Weasley dan dia menitipkan kalian padaku, kalian harus baik! Reparo," Geramku pada Fred dan George, dua anak usil itu, yang sangat menyebalkan. Ingin rasanya aku meremas mereka hingga berjuta keping agar aku bisa duduk tenang. Pintu itu jadi biasa lagi.
"Asha payah, ah!" Fred hanya bisa mengerutkan dahinya dan duduk di sampingku, sedangkan George di samping Oliver.
"Dan siapa pacar Asha tersayang ini?" Goda George menoleh pada Olv. Oliver hanya memutar mata.
"Oliver Wood. Keeper Gryffindor." Ucap Olv. George dan Fred antusias mendengar dua kata terakhir.
"Wah! Kau juga tim? Kakak kami juga lo!" George dan Fred berkata bersama. Oliver hanya memutar mata padaku.
"Ada satu posisi kosong. Chaser," Aku membuka buku pelajaran tahun ini. Fred yang tidak menyangka aku yang menjawab, menoleh padaku.
"Kau ikut Quidditch?" Tanya Fred, yang disambut anggukan Oliver Wood dan gelenganku. Ukh, kenapa si Oliver harus mengangguk?
"Posisi apa?" Tanya George.
"Beater," jawabku asal. Dan Fred tertawa. Ya, aku tahu kenapa dia tertawa.
"Mana mungkin'! Image-mu nggak cocok!" Fred dan kembarannya tertawa bersama. Aku bisa stress dekat-dekat mereka.
"Jangan menghinaku FRED WEASLEY! GEORGE WEASLEY! TITILLANDO!" Seruku gemas, dan mengacungkan tongkatku pada mereka. Sekejap, mereka seketika tertawa tidak terkendalikan. Aku tersenyum puas. Akhirnya mereka jera juga. Melihat wajah mereka tertawa sungguh menentramkan hatiku. Aku merasa senang dan damai di sekeliling mereka berdua. Senyum tersungging di bibirku.
"HAhahah! Ma… HAhahahha….dam.. hik hik! Asha! He—hahahah! Hentikan!" Mohon Fred, kepadaku. Aku melipat tangan. Agak ragu. Tapi kemudian aku menyeringai senang.
"Finite Incatatem." Ucapku lalu mereka sudah kembali biasa. Mereka mencibir tapi tetap gembira. Aku menyukai mereka. Tunggu. Apa yang kau bilang tadi, Asha Liray Young? Menyukai dua orang ini? Mengkhayal. Kami turun dari kereta membosankan itu dan sampai di Hogwarts. Aku masuk ke dalam dan di hadang oleh Flint. Hell, kenapa dia masih di sini? Aku mencabut tongkat sihirku.
"Apa yang kau mau, Flint!" Sela Oliver mendahuluiku.
"Dia mau dansa. Tarantrallegra," ucapku membaca mantra dan sekejap Flint dan antek-anteknya berdansa tidak terkendali. "Stay," Ucapku. Mantra 'Stay' membuat Finite tidak mampu meruntuhkan, hanya yang merapal mantra saja meruntuhkannya. Dan, yang mengucap finite akan ketularan mantra juga. Lihat saja.
"Hentikan, Ms Young!" Seru McGonagall. Aku menggerutu dan mengucap.
"Finite," ucapku lalu mereka berhenti berdansa. Aku dan Oliver segera menghabur masuk ke dalam Hogwarts. Seperti biasa, Hogwarts sangat megah. Aku bisa melihat ayam kentang-semacam ayam kalau kau bisa tahu. Tapi dilumuri kentang keju yang enak! Oh aku cinta peri rumah! Mereka bisa memasak apa saja dengan—err.. great? Oliver tersenyum padaku, dan aku mengangkat bahu, sementara si kembar langsung mengacaukan keadaan. Kami bertemu Martin di aula besar.
"Bagaimana liburanmu?" Tanya Martin padaku. Aku mengangkat bahu. Seperti biasa, aku pergi menonton film dan yah well—seperti itu.
"Biasa Martin, menonton film—dan er jalan-jalan ke mall. Aku tidak tahu apakah itu bagus? Aku ingin jalan-jalan keluar negeri tapi—" Aku merinith, tapi kemudian tersenyum lagi. "Bagaimana denganmu?" Kulihat Martin sempat mengerut.
End of Asha POV
Martin menerawang, kembali ke masa-masa dia masih liburan, begitu banyak yang tersisa, dan tidak kerasa sekarang sudah kembali masuk. Dia bisa merasakan di kulitnya betapa asyiknya kemping dengan keluarga, sebelum Asha akhirnya menepuk pipinya pelan.
"Iya, iya aku tahu. Aku ke kemping keluarga. Yah tapi itu tidak begitu seru. Bagaimana denganmu Olivy?" Tanya Martin. Oliver tidak menjawab karena Dumbledore telah memulai pidatonya, artinya semua harus diam. Mereka sudah mulai boleh berisik ketika Dumbledore selesai berbicara dan Asha asyik mengobrol dengan Martin.
"Martin, pelajaran apa yang kau ambil?" Tanya Asha. Martin mendongak, tertawa kecil. Dia menunjukkan daftar pelajarannya.
Sejarah Sihir
Arithmancy
Ramuan
Mantra
Transifugurasi
Herbologi
Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam
Rune Kuno
Telaah Muggle
Ramalaan
Pemeliharaan Satwa Gaib
Astronomi
"Banyak sekali," komentar Oliver. Dia mengambil beberapa sosis dan mengunyahnya, karena sosis hari itu enak sekali. Asha lalu mengambil sesuatu dari jasnya, yang tidak lain tidak bukan adalah kertas daftar pelajarannya.
"Kalau aku…,"
Sejarah Sihir
Ramuan
Mantra
Transifugurasi
Herbologi
Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam
Pemeliharaan Satwa Gaib
Telaah Muggle
"Kau Oliver?"
"Sama, kecuali Telaah Muggle. Kalian konyol sekali. Kalian keturunan muggle tapi memilih itu," komentar Oliver. Asha mengacak rambut Oliver.
"Yah, ingin saja. Menambah nilai," balas Asha. Asha mengunyah kentang gorengnya sampai habis. Aula besar hampir kosong, dan Asha mengecek daftar pelajarannya.
"Mantra, Oliver! Martin! Ayo!" Kata Asha bersemangat, dan Oliver berjalan dengan biasa saja. Kelas sudah hampir penuh.
"Ms Young! Mr Wood! Dan Mr Hardes! Kalian tidak telat, silahkan duduk." Ucap Flitwick. Asha dan Oliver duduk bersama dan Martin terpaksa duduk dekat Niel Racken, anak kelas Hufflepuff yang selalu mengoceh dan merepotkan.
"Kita akan belajar mantra Aguamenti sekarang. Ada yang tahu mantra apakah itu?" Tanya Flitwick. Asha mengacungkan tangannya ke udara. Flitwick memilih Asha.
"Aguamenti mantra yang mengeluarkan air dari tongkat. Contoh. Aguamenti!" Seru Asha, mengacungkan tongkat ke meja yang telah disediakan mangkok-mangkok kecil dan mengkilat.
"Bravo! 20 Poin untuk Gryffindor karena berhasil dalam cobaan pertama di kelas dan menjawab pertanyaan!" Sorak Flitwick. "Nah, anak-anak. Cobalah Aguamenti sekarang. Satu dua tiga!" Kelas jadi ribut dengan mantra Aguamenti. 20 menit berlalu dan mereka selesai merapal mantra yang baik dan benar.
"Bagus! Dan sekarang mantra ekstra," Flitwick membuka perkamennya. "Aqua Erecto! Siapa yang…?" Pandangan Flitwick tertuju pada Asha yang mengacungkan tangan dengan lambat, tapi pasti. "Ms Young?"
"Aqua Erecto adalah mantra khusus memadamkan api. Tapi ada beberapa api yang tidak bisa di padamkan begitu saja, contohnya mantra Fiendfyre, yang sangat sedikit penangkalnya dan sangat jarang. Contohnya saja; Incendio!" Asha menunjuk meja Martin, dan terbakar saat itu juga, yang langsung dipadamkan. "Aqua Erecto!"
"Nah, cobalah lima kali, setelah tidak bisa, kita bubar." Kata Flitwick. Banyak yang bisa, dan tidak, dan akirnya mereka bubar untuk menuju pelajaran berikutnya.
"Bagaimana tadi?" Asha nyengir pada Oliver dan Martin.
"Cool, Asha-san! Aku bahkan tidak bisa Aqua Erecto sempurna… kau belajar di mana sih?"
"Yang Aguamenti, aku dari tahun lalu. Tapi Aqua Erecto baru tadi pagi aku coba. Hehe," Balas Asha. Oliver hanya menghela napas. Sebentar lagi Quidditch dan dia tidak dapat menahan lagi!
oOo
Pertandingan Quidditch memang selalu menggiurkan! Ravenclaw vs Gryffindor hari ini. Asha terpaksa ikut, dengan chaser lalu, Quinn Tray dan Hara Soul. Para beater, Nigel Crane dan Visa Murky. Seeker Charlie Weasley dan tentu saja keeper si Oliver Wood.
"Dan kini! Quaffle di luncurkan! Young membawanya! Quinn! Soul! Dan ohh… ditangkap gesit oleh Young dan menghadapi Krav, si keeper baru! Dan gol! 0-10 untuk Gryffindor! Dan chaser Slytherin! Leki membawa quaffle terus dan uh! Bludger menghantam! Sayang sekali, Quaffle lezat itu di ambil oleh Soul. Soul melempar bola pada Reui? Dan tipuan! Young di sana untuk mengambil bola! Dan GOOOL! Leki membawa bola mengoper pada Reui, dan oper pada Hura, dan itu dia oh tidak ada bludger pada keeper! Keeper menendangnya dengan sapu dan AH! SNITCH EMAS!" Jerit komentator histeris. "Bludger menuju Charlie Weasley dan Charlie Weasley tumbang—" Nada Komentator jadi sayang. Mata Asha membulat melihat Charlie tumbang dan dia melesat ke Oliver. Tentu sajaa seeker Ravenclaw mendapat snitch-nya, jadi 150-10.
"Oliver kau bodoh! Jangan di tendang! Kamu gimana!" Seru Asha.
"Apa kau bilang? AKU BODOH? Enak saja!"
Mereka mulai berdebat. Para murid yang biasa melihat mereka 'mesra' menjadi bingung. Nigel juga mematung. Fred dan George menghampiri mereka.
"Sudah Oliver—"
"Sudah Asha—"
"Kakak kami tidak apa-apa"
"Suatu saat juga pasti begitu—"
"Kalian tetaplah mesra—"
"Jangan begitu—" Si kembar memulai aksi mereka. Terlambat. Asha dan Oliver saling membalikkan badan sebal dan melangkah masing-masing. Asha menghampiri Martin dan mereka menghilang dalam kerumunan.
Oliver Pov
Aku sebal. Kenapa Asha meributkan demi Charlie Weasley saja? Dia malah membentakku karena itu! Aku tidak terima! Setelah aku selamatkan tahun lalu dari si brengsek Flint? Ukh… Aku berjalan menjauhi Asha. Rasanya hatiku sakit karena ini. Kupandangi kembar yang mengikutiku.
"Sudah Oliv. Kami tahu kau menjelek-jelekkan kakak kami karena sepertnya cewekmu lebih perhatian," ucap Fred. Mataku melebar. Apa katanya?
"Tidak! Aku sama sekali tidak begitu! Aku hanya kesal!" Seruku menendang batu yang di sebelahku. "Aku tidak terbiasa tanpa celotehannya," bisikku yang hanya bisa di dengar olehku sebelum akhirnya kembar itu pergi.
Aku duduk di ruang pergantian seragam Quidditch. Aku duduk di bangku. Aku memikirkan apa yang di katakan Fred. Aku merenungkannya. Apakah aku memang cemburu? Apakah karena itu aku sakit? Apakah ini cinta? Apakah itu artinya aku menyukai sahabatku sendiri?
End of Oliver POV
oOo
Pagi di musim dingin, hampir liburan natal. Kunjungan Hogsmeade pertama bagi anak-anak kelas tiga, dan jujur, mereka sangat bersemangat. Asha dan Martin sibuk berdebat. Masalahnya, Martin mengajak cewek lain ke Hogsmeade sehingga Asha sendiri.
"Pergi aja bersama Oliver! Kan enak!" Seru Martin tanpa berbelit-belit.
"Oh ya? Kau, kan tahu hubunganku dengan dia apa!" Balas Asha, tapi Martin sudah menutup debat ini dan dia melonong pergi. Asha terhempas ke sofa. Dia tidak tahan dingin. Dia jalan ke depan Hogwarts dan dia jalan terus. Pikirannya melayang, dia tidak sadar menabrak seseorang.
"Olv?" Sapa Asha. Oliver membuang muka pelan.
"Maafkan aku, ya," ucap Asha. "Maafkan aku." Oliver terdiam sesaat. Sekarang rasa bersalahnya lenyap ditelan bumi, dia tidak tahu mengapa. Oliver merasakan napas dari Asha. Dia meraih dagu Asha yang terkejut, dan mendekatkan mukanya ke Asha. Asha mendorong Oliver lembut, karena dia tidak siap.
"Bombarda!" DUUUAARR Asha dan Oliver terlempar. Fred dan George. Oliver meringis.
George menolong Asha dan Fred menolong Oliver untuk berdiri.
"Terima kasih George," bibir Asha mendekat ke George. George terkena serangan 'Pesona-Asha'. George dan Fred, tentu saja mereka menemukan lorong rahasia. Setelah Fred dan George mengganggu mereka, Asha mengangkat bahu. McGonagall shock melihat Fred dan George, yang ngacir dan meminta tolong Asha membeli sesuat dari Zonko dan menghilang.
"Well, sahabatku. Ayo kita ke Three Broom stick," Ajak Asha kemudian. Oliver mengangguk dengan muka memerah malu, wajahnya merah sekarang.
"Madam Rosmerta, aku meminta butterbeer untuk kami," pinta Asha soopan. Madam Rosmerta mengangguk kecil dan Oliver dan Asha duduk di salah satu bangku.
"Jadi, Olivie, gadis siapa yang kau suka?" Asha membuka pembicaraan. Oliver mendongak dan tertawa—sedikit.
"Mungkin Mine Dirwell? Mengingat aku hampir menciummu tadi, lucu sekali!" Gurau Oliver berani, tapi dia melihat Asha shock. Asha menunjuk kebelakang Oliver, dan begitu Oliver menoleh, Martin berciuman dengan Shei Kreil. Asha mendesah dan menatap kembali mata Oliver.
"Oh, ya dan apa Olv?" Tanya Asha pada Olv. Wajah Olv tampak agak mengerikan tapi lumayan. Mereka meninggalkan The Three Broomstick ketika selesai. Di sepanjang perjalanan, pikiran Asha melayang Martin tadi. Heck, mereka masih umur 13 Tahun! Tidak, tidak, tidak! Mereka sudah gila. Mana mungkin anak kelas tiga...? Sedangkan Asha frustasi dengan ini, Oliver terlihat diam sepanjang perjalanan.
oOo
Tidak biasanya ruangan itu penuh. Oliver sedang sendiri di ruang rekreasi mengerjakan tugas ramuan. Sangat jarang tidak terlihat seorang Asha, dan Oliver tidak tahu dimana Asha. Oliver terlihat cemas kemudian datanglah Mine Direwell, menghambur ke pelukan Oliver dengan isak tangis. Oliver membulatkan matanya, bingung.
"Wood maaf," muka Mine memerah, "A...aku kira kau... kakakku." Mine segera pergi dengan muka merona merah. Kakak Mine, Mark Direwell, memang di Gryffindor juga.
"Sial, aku benar kemarin dulu bahwa menyukai Mine Dirwell," umpat Oliver lalu membereskan bukunya. Dia keluar, mau ke aula besar karena waktunya makan malam. Di pintu terlihat Asha Young menunggu.
"Asha?" Pekik Oliver terkejut akan kehadiran Asha ini.
"Selamat, tadi Mine malakukan itu padamu. Aku lihat kok," Asha tertawa kecil dan mulai berjalan. Oliver bisa merasakan dia sangat terkejut, tapi seperti menyembunyikannya.
"Maaf," gumam Oliver. Asha mengernyitkan dahi karena bingung apa yang harus 'di maaf' kan. Ini sudah dekat dengan akhir tahun ajaran. Gryffindor, menang tentu saja, walau selisih beda 10 poin. Tipis, bukan? Asha dan Olv duduk di meja aula besar. Kini mereka hanye berdua, semejak Martin—apa namanya? Jadian dengan Shei. Asha hanya bisa menghela napas. Mereka makan malam seperti biasa, dan segera cepat ke asrama.
Sesungguhnya Oliver bingung. dia bingung akan cinta. Ya, dia sempat menyukai seniornya sendiri pada saat kelas 2, dan dia agak menyukai Mine pada kelas 3, tapi ada yang membuatnya tidak pernah lepas dari seorang Asha. Dia menggelengkan kepalanya dan sadar bahwa Asha tidak mmungkin bersamanya. Dia merasa…
oOo
"Fred!" Seru Asha pagi-pagi saat di aula besar.
"Ya, nona?" Ucap mereka berdua. Ya, Asha telah membantu membelikan mereka sesuatu di Zonko, mereka jadi 'patuh'.
"Kapan aku bisa makan malam di rumah kalian?" Tanya Asha berseri-seri. Fred dan George saling pandang.
"Mom akan salah mengira," George memutar mata.
"Ya…. Tapi kau lumayan Asha!" DUAGH!
"Minggu tengahan," Jawab Fred akhirnya. Asha tersenyum . Charlie menghampiri Asha.
"Asha, kau mau ke rumahku?" Tanya Charlie. Asha mengangguk bersemangat. Dia sudah menantikannya, dari dulu malah. Charlie agak mendesah, karena suatu kendala.
"Tapi rumahku…"
"Tidak apa. Eh, ada Percy juga ya? Gimana Bill? Aku… er… ingin bertemu dengannya," ucap Asha dengan malu-malu. Charlie tertawa.
"Oh…. Jadi itu maksudnya? Menemui Bill?" Charlie tersenyum. Asha nyengir. Tapi Charlie mengangguk. Dan Asha, sudah langsung ke Hogwarts Express, di mana Oliver menunggunya. Dia membuka pintu kompartemen.
"Maaf Olv!" Ucapnya dan duduk di depan Oliver. Mukanya berseri-seri. Selagi peluit dari Hogwarts Express berbunyi, ini membuat pikiran kedua penyihir ini, memikirkan sesuatu. Baginya, bagi Asha, dia hanya menunggu, kapan cinta datang? Tapi Bagi Oliver, Apa itu Cinta? Seiring lambaian Hagrid, mereka sudah jatuh dalam pikiran masing-masing...
Selesai juga fyuuh ._.V Fict yang lumayan panjang. Aku sangat menghargai Asha x Bill tapi sayangnya, Bill sudah lulus. Aku jadi bingung sedikit, tentang dua adegan romantis dalam satu adegan. A XD
To Be Continue
Chapter 4 End
