Halo! Saya akan menjawab review minna-san! Arigatou udah nge-review :3

yowkid ngga login : Terima kasih, di chapter ini aku mencoba deskripsiin si Asha lebih detail. For the seleksi, sebenernya ada beberapa kesalahan dari penulis, yaitu harusnya Martin ingin masuk Slytherin, tapi malah masuk Gryffindor. Mohon maaf sebesar-besarnya.

yowkid : Maafkan kesalahan penulisannya, saya memang tidak teliti dalam hal itu well :/ Tentang pair-nya, emang sengaja dibuat acak, biar bingung XD

Sarah-Uchiha Jackson-Pevensie TIDAK Log-in : Terima kasih :)

Chapter 5 is Up! Tahun keempat Oliver! Di chapter ini pair-pairnya mungkin lebih di-perjelas dan pembaca bisa memahami cerita Gaje ini lebih 'mendalami'

•Harry Potter• Punya JK. ROWLING

Not mine XD


Chapter 5 : Too Late

Musim panas yang tidak menyenangkan bagi seorang Oliver Wood karena McGonagall baru saja mengirim surat padanya atas kekecewaannya bermain di tim, membuat tulang Charlie Weasley patah lagi, alias kambuh. Padahal Charlie sudah meminum skele-gro. Permainannya tahun lalu juga benar-benar buruk walau Asha Young mengimbanginya. Dia menunduk. Quidditch sangat berat untuknya. Dia harus latihan. Apapun itu, dia harus latihan. Maka dia mengambil sapu-nya, dan mulai naik turun ke udara.

"Oliver, apa kau di sana? Hati-hati! Ibu dan Ayah pergi dulu ya, malam ini, besok baru pulang!" Suara Mrs Wood menggema di sekitar rumah. Oliver mengangguk. Dia masih mengutuk karena memikirkan itu. Apapun itu, dia harus memenangkan turnamen. Walau bludger mengenai si Weasley sekalipun. Sembari memikir itu, sapunya meluncur dan menghantam pohon, seorang Oliver Wood jatuh terkapar, sempat mengirimkan pesan pada Asha Young.

~•~

Asha memakai setelan terbaiknya, kaus dan jeans yang cocok. Dia menyisir rambutnya dan memperhatikan layar ponselnya sambil menggumam.

"Hm, aku siap bertemu kak Bill," ucap Asha puas. Dia lalu merebahkan diri di tempat tidurnya. Dia melirik ke poster besar penyanyi favoritnya di dinding, sebelum menghela napas kedua kalinya. Dia memikirkan Quidditch, Quinn dan Hara segera lulus, begitupula beater-beaternya. Hanya Oliver Wood, Asha Young dan Charlie Weasley tersisa di-tim. Dia ragu, tahun ini Charlie Weasley akan sibuk dengan NEWT-nya. Ini membuat Asha menarik napas dan memejamkan matanya.

Dia membayangkan kejadian bersama Martin dan Oliver. Dia teringat apa yang dilakukan oleh Oliver padanya, membuat dia ingin berteriak sekencangnya. Tiba-tiba sesuatu memecahkan jendelanya dan menuliskan sesuatu.

Tolong Aku. Olv

Dia mengernyit. Oliver menggunakan sihir di luar sekolah! Kalau dia membantunya sekarang berarti—kalau… berjuta kalau berada di kepalanya. Tapi dia mengambil syal, mengambil tongkat sihir , dan segera ke jalan. Dicondongkannya tongkat sihirnya, dan bus ksatria datang. Dia menariknya tanpa berbelit-belit, duduk didalamnya. Mereka dengan sekejap mata sampai di kediaman keluarga Wood, dan-

"Ya ampun Oliver!" Seru Asha kaget, mendapati Oliver pingsan. Dia bergerak untuk menolongnya, namun keluarga Weasley terbaayang di otaknya. Dia menghapus segala kemungkinan mengerikan dan segera menolong Oliver Wood.

oOo

Oliver bangun dan menyadari dia di kompres. Dia mengerling ke arah pintu, ada suara-suara kaki menuju kamarnya. Seorang Michelle Rane datang, tersenyum manis.

"Wah, pangeran tidur sudah bangun. Ayo makan." Senyum Michelle.

"Ka…kamu yang menolongku?" Tanya Oliver. Michelle tertawa, tidak membalas. Dia duduk di kursi samping Oliver.

"Ayo makan." Ucap Michelle. Oliver tidak berkata-kata dan makan dengaan biasa. Dia—dia harusnya mendapat sidang dari kementrian sihir, tapi mengapa? Dan dia mengirim surat sihir untuk Asha, kenapa Michelle? Sebuah ingatan melintas. Dia baru ingat hari ini Asha Young akan makan malam bersama keluarga Weasley. Entah mengapa, perutnya bergejolak mengingat ini. Dia ingat samar-samar apa yang di katakan Charlie Weasley dan Asha saat di Hogwarts Express.

"Asha, kau mau ke rumahku?" Tanya Charlie. Asha mengangguk bersemangat. Dia sudah menantikannya, dari dulu malah. Charlie agak mendesah, karena suatu kendala.

"Tapi rumahku…"

"Tidak apa. Eh, ada Percy juga ya? Gimana Bill? Aku… er… ingin bertemu dengannya," ucap Asha dengan malu-malu. Charlie tertawa.

"Oh…. Jadi itu maksudnya? Menemui Bill?" Charlie tersenyum. Asha nyengir.

Entah kenapa, saaat mendengar ini, seperti ada yang panas membakar hatinya. Dia menatap Michelle yang tersenyum padanya. Untuk kali ini, dia menyesal.

"Michelle, terima kasih telah menyelamatkanku. Bagaimana kalau jalan-jalan nanti di Hogwarts ke Hogsmeade? Aku tahu kau tidak mau—"

"Aku mau," potong Michelle. "Kau tidurlah. Aku akan menjagamu." Michelle menutup pintu kamar Oliver dan Oliver memejamkan matanya.

oOo

Asha mengetuk pintu The Burrow. Dia sibuk mengamati jembalang yang berlari-lari. Senyum tersungging di bibirnya. Mrs Weasley membuka pintu dengan gembira.

"Oh, Asha! Masuk, nak. Maaf repot sekali, Bill sedang tugas—"kata Mrs Weasley. Charlie menatap Asha geli karena muka Asha menjadi kecewa. Tapi Asha tersenyum dan duduk di salah satu meja. Matanya yang coklat hangat menatap anak laki-laki berambut merah paling kecil dan perempuan berambut merah.

"Aku Asha Young," sapa Asha pada anak laki-laki yang tidak di kenalnya itu. Anka laki-laki itu bersemu merah.

"Sepertinya dia naksir kau kawan," ucap Fred.

"Hati-hati!" sambung George. Anak laki-laki itu membentak si kembar dan si kembar duduk dengan terkekeh.

"Ro…ron Weasley," balas anak laki-laki itu. "Maafkan kakakku. Kau mungkin belum kenal mereka, mereka begitu," jawabnya lagi.

"Adik kecil, kami ini sahabat Asha kau tahu!" Fred pura-pura ngambek.

"Yap adik kecil," ucap George. Ron bersemu merah lagi.

"Lupakan, mereka memang sok kenal." Bisiknya pelan.

"Yah Ron—kami memang sangat kenal," Asha angkat bahu. Ron kembali menutup mulutnya dan memakan salad dengan tenang-tenang saja. Mrs Weasley sangat ramah pada Asha, begitupula Mr Weasley yang menanyakan berbagai peralatan muggle.

"Kalau senter?" Tanya Mr Weasley. Asha nyengir, dan menjelaskan.

"Senter itu untuk menyalakan lampu. Dan dinyalakannya memakai batre. Batre itu kecil." Jelas Asha, mengambil sosis rebus lagi. Mr Weasley mengangguk semangat, dan makan malam hari itu selesai. Asha mengucapkan terima kasih dan segera pergi dari The Burrow.

oOo

Aula Besar terlihat megah seperti biasa. Martin dan Asha saling mengobrol tentang liburan mereka, dan mereka terlihat lebih akrab dari biasa. Martin bilang dia putus dari Shei karena suatu hal. Sebenarnya, waktu di Three Broomstick, Martin cuma pura-pura mencium Shei Karena mau membuat Asha cemburu, dan kenyataannya tidak. Shei kesal dan dia memutuskan Martin duluan. Oliver tidak bicara selama sepanjang malam itu, bahkan setelah Dumbledore berpidato.

"Tahun ini, yang menjuarai Quidditch akan mendapat 100 Galleon, berdasarkan kerjasama antara depertemen olahraga sihir. Kami mohon bantuan murid Hogwarts untuk berusaha keras untuk Quidditch. Hanya dua kata. Terima kasih." Cerita Dumbledore hari itu. Asha tampak tidak minat, begitupula Martin. Oliver matanya berkilat marah dan bergairah. Marah karena jadi ingat Asha, gairah karena latihan yang membara.

"Sebetulnya aku tidak terlalu suka Quidditch. Tapi Charlie memaksaku," jelas Asha curhat pada Martin. Martin mengangguk-angguk. Dia meminum the dan kemudian menghela napas panjang. Asha baru sadar Oliver tidak ada, dan dia menoleh ke pintu Aula besar, Michelle dan Oliver berangkat bareng. Asha tersenyum. Ya. Tersenyum. Tiba-tiba Charlie Weasley duduk di sampingnya.

"Asha. Aku mau kita uji coba. Mungkin minggu ke-dua nanti. Pastikan kau menemukan calon-calon yang bagus, ya." Kata Charlie, mencomot beberapa kentang goreng dari piring.

"Err… Fred dan George?" Kata Asha menaikan alis, dan serentak kedua kembar itu menoleh pada mereka.

"Apakah kau membicarakan kami?" Jawab kembar. Asha hanya berkacak pinggang, memperhatikan mereka dari atas sampai bawah.

"Aku menyarankan kalian ikut uji coba, tuan-tuan," ucap Asha tersenyum lebar. Si Kembar matanya membulat. Tapi pergi tanpa pamitan. Asha mencibir dan bangkit berdiri. Dia menengok, Martin juga sudah bangkit berdiri. Asha langsung berjalan ke kelas selanjutnya tanpa memedulikan pikiran tentang Oliver.

oOo

"Jadi, Oliver, kamu seleksi chaser, dan kau, Asha, seleksi beater. Aku akan melihat kalian, karena aku kapten. Silahkan!" Seru Charlie mengatur hari itu. Asha menggerutu dan melihat para calon beater.

"Nah kalian! Dengarkann aku atau kucincang kalian! Dikarenakan tahun ini quidditch dilaksanakan setiap 2 minggu sekali, kita harus sering berlatih! Kalian harus memukul telak Oliver atau Charlie."

"Sialan," umpat Charlie. Namun Asha tertawa.

"Baiklah, kalian harus memukul bludger ke sapu terbang. Aku sudah menyiapkan sapu terbang bekas. Mulai!" Seru Asha keras, dan sapu terbang-sapu terbang bertebangan ke arah yang berbeda. Hasil akhirnya, si kembar Weasley memenangkan uji coba itu. Mereka jadi kedua beater. Dan Chasernya, tentu saja Angelina Johnson dan Alicia Spinnet. Asha kagum, mereka bisa melakukan trik-trik hebat. Selain karena mereka keturunan penyihir, yah—tidak ada yang perlu di sesali. Pertandingan seminggu lagi mulai dan tiap hari, Charlie memaksa mereka berlatih. Dan hasilnya optimal sekali, Hufflepuff VS Gryffindor.

Awalnya, Gryffindor memimpin dengan skor 200-60. Entahlah, apa yang dipikirkan oleh Oliver. Dan kemudian menang 250-60. Pertandingan kedua, Gryffindor VS Slytherin, dan memenangkan dengan skor 300-20 (Wood berhasil mengatasi masalahnya karena ini) Dan menang telak dari Ravenclaw, dan Gryffindor memenangkan kejuaraan yang Depertemen olahraga sihir juga 'ikut-campur' Galleon di bagikan, sebanyak 100 kapten menangis terharu karena ini. Dan paling menyenangkan, pesta! Sayangnya, bukan di ruang rekreasi Gryffindor tapi—di ruang kebutuhan! Mereka harus membawa pasangan dan seluruh Gryffindor di undang, bahkan dari eks Gryffindor (maksudnya orang yang sudah lulus)

Asha termenung. Siapa yang bakal dia ajak? Dia menyadari hubungan Oliver-Michelle sudah bertambah, mereka sudah seperti sepasang kekasih. Asha tidak tahu apa yang ada di pikiran Oliver. Ketika dia termenung, Bill muncul dari pintu.

"Weasley! Bill!" Seru Asha kaget. Bill nyengir. Dia duduk di samping Asha yang merona merah.

"Siapa yang kamu ajak?" Tanya Asha, yang tidak bisa menahan keingintahuannya. Bill menggeleng ragu. Dia tidak tahu, dan ini menambah kecanggungan.

"Kau?" tanyanya tidak terduga. Asha yang meminum air putih tersedak. Asha menggeleng pelan. "Maukah kau ke pesta dansa bersamaku?" Tanya Bill kontan, membuat Asha tersedak sekali lagi. Matanya membulat sempurna menatap mata Bill yang hangat.

"A…aku mau!" Seru Asha,matanya bersinar-sinar. Dia memeluk Bill dan Bill kaget, tapi baginya, tidak ada yang bisa mengganggu ini.

oOo

Oliver sudah siap dengan setelan jasnya. Dia senang karena ini hasil jerih payah Quidditch-nya. Dia keluar dari kamar laki-laki dan ternganga melihat Asha memakai gaun berwarna biru langit, dan untaian-untaian benang silver yang indah. Rambutnya yang biasanya berwarna hitam kecoklatan sekarang menjadi hitam legam, dan wajahnya yang putih dan badannya yang cukup tinggi serasi dengan gaunnya. Asha mengerjapkan matanya pada Oliver, mereka saling diam. Ketika Bill turun, Asha segera berangkat dengannya, meninggalkan Oliver. Oliver merasa ini sudah gila. Kenapa dia kembali terpesona? Dia menghilangkan semua pikiran dan berangkat bersama si putri Ravenclaw, Michelle Rane. Memang, boleh mengajak dari asrama lain, asalkan tidak keberatan.

Ruang Kebutuhan sangat megah, dan hiasan putih menggantung dimana-mana. Kristal-kristal yang telah disulap oleh professor Flitwick yang juga datang. Sebentar lagi natal, maka dari itu tidak ada warna merah Gryffindor yang berani. Irama musik terus berjalan. Charlie sempat protes karena menghadirkan pesta dansa ini, tapi para gadis menuntut ini. Lantai dipenuhi salju sihiran, dan makanan dan minuman banyak. Bahkan madam Rosmerta datang, menyedakan butterbeer gratis bagi setiap pasangan. Diluar hujan. Para anggota Gryffindor, akan berdansa duluan.

Oliver sangat tidak pandai berdansa, sehingga baru tiga langkah dia langsung jatuh, membuat Michelle kesal. Michelle meninggalkan ruang kebutuhan, yang penuh dengan Gryffindor, dan Oliver terdiam menyaksikan Asha sangat akrab dengan Bill. Musik rasanya terus menggoda Oliver dengan memainkan musik-musik. Oliver duduk di sofa dengan pandangan menerawang.

"Oh Bill! Ini malam yang sangat asyik bagiku!" Seru Asha, tidak canggung sekarang. Dia tersenyum. Bill memandang Asha bergairah dan Bill mencium Asha tepat di bibir, seketika mukanya memerah dan membalasnya . Belum 1 detik Asha selesai membalas, Bill telah membuat jarak diantara mereka berdua. Asha masih di ruang kebutuhan. Seluruh peserta sudah meninggalkan ruangan. Charlie pamit.

"Ayo, Ash," ucap Charlie.

"Pergilah duluan, Charl. Aku ingin—"

"Baiklah," senyum Charlie. Charlie meninggalkan ruang kebutuhan. Asha menghampiri Oliver yang duduk termanggu. Oliver jelas menatap Asha marah. Dia diam dengan pandangan sinis pada Asha. Asha tersenyum hangat. Dan suara musik mengalun tiba-tiba.

"Take my hand," ucap Asha, yang seakan mengikuti lagu. Oliver tidak mengerti. Tapi dia berdiri.

Take my hand, take a breath

Pull me close and take one step

Keep your eyes locked on mine,

And let the music be your guide.

Oliver mengambil tangan Asha. Dia mulai berdansa mengiringi lagu. Dia bisa merasakan kesalahan-kesalahan yang dibuatnya. Dia bisa merasakan, kalau perasaannya pada Asha, melebihi sekedar sahabat.

"Won't you promise me? We'll keep dancing, wherever we go next!" Oliver menyambung lagu itu.

It's like catching lightning the chances of finding someone like you

It's one in a million, the chances of feeling the way we do

And with every step together, we just keep on getting better

So can I have this dance (can I have this dance)

Can I have this dance

Oliver tahu, tapi dia bisa merasakan, kalau perasaan Asha yang kecewa terhadapnya, dia bisa merasakan kalau sebagai sahabat bagi Asha, dia sangat buruk. Menurutnya, kalau sebagai sahabat dia buruk, bagaimana dengan sebuah pasangan? Sejenak lagu sudah mau berakhir tapi—Oliver tiba-tiba melanjutkannya.

Take my hand, I'll take the lead

And every turn will be safe with me

Don't be afraid, afraid to fall

You know I'll catch you threw it all

And you can't keep us apart (even a thousand miles, can't keep us apart)

'Cause my heart is (cause my heart is) wherever you are

It's like catching lightning the chances of finding someone like you (like you)

It's one in a million, the chances of feeling the way we do (way we do)

And with every step together, we just keep on getting better

So can I have this dance (can I have this dance)

Can I have this dance

Can I have this dance

Can I have this dance

Selesai berdansa, Asha tersenyum pada Oliver. Oliver menghela napas. Mata Asha mulai berair. Dia menghambur kepelukan Oliver saat itu juga. Salju mulai turun dengan romantis di ruangan kebutuhan. Dan lampu di ruangan kebutuhan mulai meredup. Ia tahu, ini saatnya. Dia mendekat, dan kelihatan Asha bingung akan apa yang di lakukan Oliver itu, dan tubuhnya membeku ketika bibirnya menyentuh bibir Oliver Wood seketika itu juga. Deskripsi akan ciuman itu , hangat, manis, dan dia bisa merasakan air mata mulai menurun dari matanya. Dia menangis karena tidak menyangka. Sedih bercampur shock. Dan ciuman itu berakhir.

oOo

"Maaf ya Oliver," ucap Michelle. "Karena kau jatuh—aku marah. Kau… memaafkanku, kan?" pinta Michelle.

"Sudahlah." Ujar Oliver, segera bergerak mundur, dan dia menatap dingin Michelle Rane. Dia ke aula besar, dan menyadari Asha masih seperti hantu—mayat berjalan, pandangannya menerawang tidak berarah. Martin melayangkan pandangan bertanya pada Oliver, tapi Oliver hanya bisa mendesah melihatnya.

"Martin, Oliver, apa yang terjadi kemarin, ya? Seingatku aku mengajakmu dansa, dan ergh, blur," jelas Asha. Oliver mempunyai dua perasaan tentang ini, kecewa dan lega. Lega karena kejadian itu tidak membuat Asha seperti dulu, menjauhkan dirinya karena dia jelas tahu Asha menyukai Bill Weasley. Kecewa karena perasaanya sama sekali tidak terbalas dan dia tahu, Asha tidak mengingatnya. Tidak. Oliver memainkan makanannya. Dia tidak berniat sama sekali untuk makan. Dia melihat Bill Weasley masuk ke aula besar, dia tampak sudah siap ber-apparate keluar, dan tersenyum pada Asha.

"Asha, kita perlu bicara," ucapnya pada Asha, dan Asha segera berdiri. Dia melambai pada Oliver, dan hati Oliver tertusuk-tusuk belati yang paling tajam melihat ini, tapi ia mencoba mengabaikannya.

"Aku kembali!" Seru Asha girang, dan duduk di meja.

"Apa yang di katakannya?" Tanya Martin semangat, melahap steaknya.

"Yah, dia bilang dia menyukaiku dan—" wajah Asha menjadi merah.

"Apa?" Tanya Martin semangat, sedangkan Oliver ingin membekap mulut Martin dengan apa saja.

"Menciumku," bisik Asha, yang wajahnya jadi tambah merona merah. Oliver ingin memeras tomat yang sedang dimakannya, ingin berteriak, tapi sekali lagi, itu tidak mungkin. Libur natal sudah semakin dekat dan mereka akan segera berlibur. Asha tersenyum gembira. Dan dia segera mengepak koper dan pergi.

"Ayo, Olv. Ayo!" Seru Asha. Oliver merenung, dan dia melihat Michelle.

"Oi!" Teriak Oliver. Michelle menoleh. "Oi, Rane. Aku mau tahu. Siapa sebenarnya yang merawatku pada aku jatuh? Jawab aku!" Michelle terlihat kaget, dan dia menjawab sinis.

"Asha Young! PUAS KAU! Dia menghubungiku untuk merawatmu tau! PUAS?"

Hati Oliver tambah tersayat mendengar ini. Selama ini, Asha Young yang ternyata—ternyata telah merawatnya. Yang menyayanginya...Dan dia sudah terlambat.


A/N : ~•~ adalah tanda sama seperti 'meanwhile' sama dengan waktu yang sama, tetapi beda tempat.

Tentang Oliver yang menggunakan sihir, kemungkinan yah, ada pegawai menteri sihir yang melihat situasinya, jadi tidak dihukum. Yah, pikir secara logis saja yah, karena ini untuk memudahkan cerita XD

Terima kasih telah membaca dan mereview ini!

Saya tetap berterima kasih review-tidak review!

Mungkin disini cuma ada romantik dan perasaan Oliver doang kali ya... aku buat konfliknya tahun ke lima aja deh, karena di sini Quidditch dan Asha masih satu, nah ketika Katie Bell masuk, baru deh Asha keluar dari tim. *ups spoiler*

39! :3 :) :D