Halo... saya bersyukur sudah keluar chapter 6-nya. Saya akan membalas review minna-san!

Sarah-Uchiha Jackson-Pevensie No Log-In : Emang sengaja, biar pembaca bisa mendalami wkwkwk XD

Mungkin agak banyak adegan-adegan err... romantis di sken ini, dan jangan terkejut dengan pairingnya minna-san! BTW Word-nya nurun nih :( Maafkan saya~ Karena nggak terlalu adegan yang harus dipahami pembaca. Tapi nanti wordnya akan nambah! Semoga saja!

•Harry Potter• Milik J.K. Rowling

Not mine obviously! XD

I hope you Enjoy reading!


Chapter 6 : Breathe With No Air

Oliver tidak mengerti. Kenapa dia bisa sebodoh ini. Selama ini dia tidak menyadari itu. Dan dia sudah terlambat. Dia melirik Asha yang sudah berbahagia, bukan bersama dirinya. Dia membayangkan, Asha yang senantiasa berbahagia. Dia bodoh. Bodoh. Ya, diulang dua kali. Dia benci memikirkan ini tapi—dia sudah jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Dan ketika dia baru menyadarinya, dia patah hati. Oh, bagus, teman. Sangat romantis. Dia payah. Apakah dia di takdirkan untuk tidak berjodoh?

If I should die before

I wake It's 'cause you took my breath away

Losing you is like living in a world with no air

Oh

Dulu dia merasa bahwa Asha Young di sisinya setiap saat. Hadir untuknya. Tapi sekarang—dia merasa tangan yang licin saat menggenggam tangan Asha. Dan—Hell, bahkan Asha sudah tidak menggandengnya seperti dulu! Dia kini merasa semakin jauh. Lambaian tangannya dan teriakannya saat dia memegang koper untuk ke Hogwarts Express—sungguh menyesakkan.

Dan dia ingat. Saat pertama kali bibir si Weasley itu, menyentuh bibir Asha, dia ingin menonjok Bill saat it juga. Dia kecewa.

"Olv? Hei, kau melamun!" Seru Asha. Oliver mendongak, melihat Asha berseri-seri. Dengan loyo, dia menjawab.

"Kau ada acara apa dengan si Weasley kali ini?" Jawab Oliver. Asha mengernyit. Dia mengangguk.

"Katanya dia ingin mengajakku ke tempat kerjanya, kau tahu—dengan ber-apparate. Sungguh menyenangkan, bukan?" Tanya Asha berseri-seri.

"Tidak," bisik Oliver. Dia hanya menguap bosan. Jelas sekali. Charlie Weasley akan lulus dan dia bahagia mati sekarang. Yah paling tidak. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi Hogwarts Express. Dan kesempatan berduaan dengan Asha-dilewatinya dengan mengecewakan. Perjalanannya menuju rumah-sangat tidak menyenangkan.

oOo

Dia sudah dalam posisi tidur sekarang. Dia menguap. Tahap pertama. Dia sudah menyadari cintanya pada seorang Asha Young. Tahap kedua. Dia sadar kalo dia patah hati. Tahap ketiga. Dia harus membuka hatinya untuk orang lain. A big NO WAY! Dia tidak bisa menyerah begitu saja! Walaupun dia sendiri—dan ini kenyataan, dia memang sendiri.

I'm here alone, didn't wanna leave

My heart won't move, it's incomplete

Wish there was a way that

I can make you understand

Betul juga. Membuat Asha mengerti perasaannya dan melepaskan Bill. Ya. Dia segera bangkit dan menuju keluar rumah.

"Mau kemana, nak?" Tanya Mrs Wood. Oliver menoleh.

"Rumah orang," Jawab Oliver tanpa kompromi. Mrs Wood memandang Oliver galak.

"Baiklah. Rumah temenku, namanya Asha Young," Gerutu Oliver. Mr Wood mengangkat wajahnya dari koran, terbelalak, begitupula Mrs Wood. Oliver bingung dengan reaksi mereka. Mrs Wood mendekatinya perlahan.

"Kau tak bilang bahwa kau punya pacar, nak?" Ucap Mrs Wood kecil. Oliver tekesiap mendengar ibunya berbicara itu.

"Eng… dia bukan pacarku sebetulnya," jawab Oliver jujur. Benar, bukan? Dia tidak pernah berpacaran dengan seorang Asha. Mrs Wood dan Mr Wood terdiam. Oliver segera keluar dari jebakan orangtuanya dan segera ke rumah Asha.

oOo

TINGTONG!

"Iya, tunggu sebentar!" suara Asha terdengar, dan membuka pintu. "Siap—"

"Hei Asha!" Oliver menyapa. Dia tampak lemas. Asha terkejut dan segera mempersilahkan masuk Oliver. Rumah Asha lumayan besar, walau sederhana. Ruang tengahnya megah dan ruang TV-nya dihiasi meja kuning dan sofa merah. Sebuah lampu besar berwarnah putih-kekuningan menghiasi ruang tengahnya. Di kirinya, ada kolam ikan dan semacam gazebo yang menyejukkan. Oliver duduk di sofa merah. Menyeringai.

"M, Ash. Aku mau nanya. Apakah kau…erm, pacaran dengan…. Bill itu?" Tanya Oliver, nadanya agak aneh.

"Itu bukan urusanmu," jawab Asha datar. Dia menyembunyikan wajahnya yang memerah malu. Perut Oliver serasa ditusuk-tusuk melihat dan mendengar ini.

"Tentu saja itu urusanku!" Kilah Oliver. Wajah Asha merah padam.

"KENAPA?" Volume suaranya sudah meninggi. Asha, berhadapan dengan keeper Gryffindor.

"KARENA—Aku kesepian!" Seru Oliver, wajahnya sudah merah pekat.

But how do you expect me to live alone with just me

'Cause my world revolves around you

It's so hard for me to breathe

Hening.

Tidak ada yang bicara. Kalau saja Oliver tidak menyadari dia laki-laki, dia sudah menangis. Dia memandangi mata Asha yang coklat gelap itu. Oliver menatap tajam Asha, setelah itu dia berbalik pergi. Dia segera pergi dari situ. Terlalu lama membuat hatinya sakit. Dan hanya satu yang membuat dia bisa melupakan, atau bisa kita anggap pura-pura melupakan. Quidditch.

oOo

Tim Quidditch Gryffindor. Oliver diangkat menjadi kapten tim atas kelulusan Charlie Weasley, dan tepatnya keluarnya Asha Young, dia membutuhkan paling tidak satu chaser dan seeker. Dan sulit sekali menemukan itu. Dan beruntung, seorang bernama Katie Bell mendaftar. Dia kini sedang duduk di meja, memikirkan itu dengan professor Flitwick yang mengoceh tidak keruan. Dia lagi senewen tepatnya. Dia hanya menggerutu sepanjang penjelasan. Tidak biasanya dia seperti itu.

"Maaf, professor Flitwick, boleh aku pinjam Wood sebentar?" Oliver menoleh. Dia melihat professor McGonagall. Dia menelan ludah, dan dia menghampiri McGonagall dengan kebingungan.

"Ikut aku, kalian berdua," kata Professor McGonagall, dan mereka berjalan menyusuri koridor, Oliver memandang laki-laki dengan luka sambaran kilat di dahinya dengan ingin tahu.

"Masuk sini."

"Keluar, Peeves!" Seru McGonagall ketika melihat Peeves.

"Potter, ini Oliver Wood. Wood—aku sudah mendapatkan seeker untukmu."

~o~

Oliver langsung gembira. Setidaknya memenangkan piala asrama akan membuatnya melupakan Young. Dia bertemu Fred dan George.

"Fred! George! Harry Potter jadi seeker kita!" Ucap Oliver. Fred dan George terperangah tidak percaya. Tapi melihat keseriusan Oliver, mereka jadi percaya. Mereka bersenandung dan sepertinya berbisik-bisik akan sesuatu. Oliver tidak mau mendengarnya, tapi dia mendengar salah satu mereka berbicara.

"Bagus. Rencana kita telah berhasil. Kakak kita tersayang putus dari Asha,"

Hatinya berbunga-bunga. Dia merasakan ledakan konfeti di pikirannya. Benarkah itu? Benarkah? Dia berjalan cepat menuju ruang rekreasi Gryffindor, dan mendapati Asha sedang membaca buku. Mata mereka saling menatap tapi diam. Dalam keheningan. Asha kembali menekuni bukunya. Oliver duduk di sofa yang tidak jauh darinya. Benarkah? Benarkah? Sebentar lagi akhir pekan Hogsmeade dan dia ingin mengajak kencan Asha, sebagai perminta maafannya. Tapi dia agak ragu. Dia terus menatap Asha.

"…." Keheningan tercipta makin dalam, dengan Asha mendongak dan menyadari Oliver memandanginya. Asha menghembuskan nafas dan menutup bukunya, beranjak keatas. Sebelum dia bisa mendengar;

Asha, cepat ke danau .

Terdengar seperti suara Fred, atau George, entahlah. Asha segera berjalan sebentar menuju ke danau. Oliver mengikutinya, karena penasaran. Di danau terlihat sepi. Asha mengumpat karena datang untuk hal yang sia-sia, sampai ada kembang api meluncur.

Asha Young. Please go out with me. Fred Weasley

Asha terpana dan Oliver mengumpat. Dan segalanya menjadi jelas bagi Oliver. Kedua kembar itu yang memisahkan Asha dan Bill, dan keduanya pula yang membuat Fred ingin bersama Asha. Kenapa dia tidak menyadarinya? Cinta itu rumit sekali sih! Dia menghela napas. Asha menyadari kehadiran Oliver.

Keduanya membuka mulut. Tapi tidak sepatah katapun keluar. Asha mengerling ke arah Fred yang sudah sangat berharap. Mata Asha bertemu dengan mata Oliver, tapi mata Oliver masih kaku—tegak lurus. Jadilah Asha, membuka mulut untuk Fred, dan berkata,

"Ya." Kata Asha, dan Oliver menyadari—tatapan Asha tadi, kepada Oliver. Kenapa dia bisa sebodoh itu, sih? Oliver hanya menyesali kebodohannya.

Tell me how I'm supposed to breathe with no air

Can't live, can't breathe with no air

It's how I feel whenever you ain't there

It's no air, no air

Got me out here in the water so deep

Tell me how you gonna be without me

If you ain't here, I just can't breathe It's no air, no air

oOo

Hogsmeade, yang salju di-mana-mana, terlihat romantis untuk pasangan-pasangan. Tidak bagi Oliver. Melihat Fred dan Asha yang akrab, membuatnya ingin menelan ludah. Kenapa berurusan dengan Weasley sangat menyebalkan, sih? Dia hanya bisa membanting gelas butterbeer. Untung Fred dan Asha masih berada di The Three Broomstick, bukannya ke madam pudiffoots. Oliver meremas gelasnya, dan meninggalkan situ dengan kecepatan yang dia bisa. Dia akan menghajar Fred nanti. Dia langsung balik ke kastil, dan bertubrukan dengan Harry.

"Oh—hei Potter." Ucap Oliver stress.

"Hai Wood—kau kenapa?" Tanya Harry.

"Tentu saja—masalah dengan cewek kan?" Hermione menjawab di belakang Harry. Oliver menganga.

"Maksudmu apa," desah Oliver, menutupi.

"Berharap saja kakak Ron melepaskannya," tambah Hermione dan menggamit Harry segera pergi dari situ. Fred sialan… dia hanya bisa berharap. Atau bertindak. Sebelum Fred, dia akan menyatakan cinta duluan.

oOo

I walked, I ran, I jumped, I flew

Right off the ground to float to you

There's no gravity to hold me down for real

Beruntungnya Oliver. Jelas-jelas, seorang Asha menolak Fred Weasley, yang langsung sakit hati tapi tampak menyenangkan seperti biasanya. Hari ini—tanggal 14 Februari 1992. Dan saat itu, bisa dibilang pagi itu, dia bisa menemukan Asha sedang membaca buku di pinggir rerumputan danau. Saat itu Oliver mendekatinya, dan duduk di sampingnya. Tapi Asha tidak menoleh sedikitpun.

"Maaf," ucap Oliver. "Maafkan aku," ulangnya. Asha sekarang menatap Oliver yang jarak mereka tidak lebih dari sejengkal.

"Tidak apa-apa," Asha tersenyum tipis. Oliver menyibakkan rambut Asha.

"Aku melakukan itu karena aku—cemburu. Aku mencintaimu," ucap Oliver akhirnya.

But somehow I'm still alive inside

You took my breath, but I survived

I don't know how, but I don't even care

Selesai sudah. Perasaan yang sudah di sadari, diungkapkan Oliver akhirnya. Dan Asha hanya memandang Oliver. Dan tampaknya dia ingin menangis… dan Oliver sadar titik-titik hujan mulai berjatuhan. Dan hujan deras tersusul. Mereka tidak bisa lari lagi, jadi mereka diam. Rerumputan yang dipijaki basah. Asha mendekatkan wajahnya pada Oiver, dan Oliver menciumnya. Bibir mereka bertemu untuk kedua kalinya, dan mereka jelas-jelas dalam keadaan sadar. Mereka berciuman cukup lama. Sampai akhirnya mereka merebahkan diri di rerumputan itu. Sekali lagi, Oliver mencium Asha. Asha tersenyum disela-selanya.

"Apa artinya perasaanku terbalas?" Tanya Oliver, walau jarak antara mereka kurang dari sejengkal. Asha tersenyum.

"Aku tidak tahu,"

"Oi! Oi!" Seru Oliver. Asha nyengir, kemudian mencium Oliver penuh-penuh lagi.

"Apa itu memberimu jawaban?" Wajah mereka bersemu merah lagi. Tiba-tiba seorang prefek lewat. Sally Perks, yang satu angkatan dengan mereka.

"Young dan Wood. Apa yang kalian lakukan di tengah hujan begini!" Omelnya. Asha dan Oliver nyengir. Pakaian mereka berdua basah karena hujan.

oOo

"Bloody hell! Kalian sudah jadian?" Tanya Martin horror. Asha hanya bergumam sedikit. Oliver hanya bisa menginjak kaki Martin. Mereka tidak menjawab ya dan tidak. Masih kemungkinan, kan? Burung hantu yang asing menjatuhkan surat.

Dear Asha

Aku mau bicara padamu.

Salam Cinta

Bill

Oliver menatap horror surat itu dan Asha membeku seketika. Dia tidak berani memandang Oliver untuk itu, dan dia mendesah.

"Apa maksudnya ini!" Tanya Oliver marah. Asha menatap Oliver.

"Aku tidak pernah berhubungan apa-apa dengan Bill. Tapi kurasa dia belum tahu tentang aku dan kau,"

.

.

.

.

Next chapter:

"Dan aku akan menjawab…." Ucap Asha kepada Bill.


Bagaimana perasaannya setelah membaca? Membuat muak? Menyebalkan? Ingin nginjek-nginjek Own Characterku? Nggak masalah. Review biar aku bisa perbaiki kesalahanku :D *innocent face*

A/N : Terima Kasih yang telah mereview selama ini. Oh, ya. Dan aku mau nanya sedikit. Mendingan Oliver bertengkar sama Bill atau nyerain semua keputusan sama Asha? Please I need your opinion! And BTW Sori kalo ancur dan merasa bosan. Imma not good at this. :9

Update mungkin agak lama setelah ini :) Aku akan buat Oliver sakit hati p Hahah :P

39 Minna-san!