Chapter 7 dari penulis GAJE!

X3 Mohon di nikmati, tahun keenam Oliver. :9

•Harry Potter• Is not mine. JK Rowling

I hope you Enjoy XD


Chapter 7 : I Dreamed a Dream

"Maukah kau jadi kekasihku, Asha?" Tanya Bill serius. Asha menatap tajam Bill.

"Tentu saja—" Jawab Asha. Oliver langsung pergi seketika itu juga.

Patah hati untuk yang kedua kalinya. Yes. Dia sudah menyatakan perasaannya, tapi… putus. Dia tidak akan berteman lagi dengan Asha. Tidak akan. Dia pikir, dia baru saja menciumnya dan menyatakan perasaannya, dan menerima seorang BILL WEASLEY? Hell NO! Ini sudah musim panas dan sebentar lagi dia akan naik kelas 6. Hasil ujiannya akan dikirim sebentar lagi. Dia menatap foto yang menggantung di kamarnya. Satu, foto Mrs Wood, Mr Wood, dan dia. Kedua, fotonya sendiri dan fotonya.

Dia telah salah. Dia telah jatuh cinta pada orang yang salah. Yang telah mencintai orang lain. Yang… pengkhianat. Dia sungguh kesal. Dia kesal. Tadinya dia pikir—dengan bodohnya… tes, tes. Air mata jatuh dari seorang lelaki. Bodoh!

I dreamed a dream in times gone by

When hope was high and life worth living

I dreamed that love would never die

I dreamed that God would be forgiving

Dia jelas berpikir bahwa dia dapat berbahagia dengan seseorang. Tapi lupakanlah. Tiba-tiba ada burung hantu yang mengantarkan surat padanya. Oliver tersenyum lemah. Hasil OWL.

oOo

Aula besar sudah penuh dengan murid-murid yang berkumpul dan berkerumun bagaikan semut. Oliver turun dari kereta dan melihat Asha sudah menyambutnya dengan riang, tapi dia menepis tangannya.

"Mau apa , kau Young!" Teriak Oliver kasar, dan dia berjalan begitu saaja melewati Asha yang membeliak.

"M, apa ini kosong?" Tanya Oliver pada Sally. Sally menggeleng dan mempersilahkan Oliver duduk. Oliver langsung duduk. Kali ini—entahlah yang membuat Quidditch akan di batalkan. Pengumuman oleh Dumbledore di umum kan, dan dia sudah selesai makan akan segera ke ruang rekreasi.

"Oliver tunggu!" Seru suara yang amat di kenalnya. Suara Asha. Oliver tidak memedulikannya dan berjalan terus. Dia bisa mendengar dan melihat dari sudut matanya, seorang Asha young berteriak. Dia tidak peduli. Hatinya sudah cukup tersiksa karenanya.

oOo

ASHA POV

"Cerdik sekali, cara Anda memerangkap hantu yang terakhir dengan saringan teh…." Suara Hermione Granger terdengar. Aku merapat. Dia bisa memahami bahwa professor Lockhart. Aku agak curiga kepada mereka, karena desas-desus yang kudengar pula bahwa Potter itu yang membekukan Mrs Norris. Aku mendengar mereka sudah berjalan ke arah sini, dan aku secepat kilat beralih ke Martin yang menunggu di aula besar. Martin tampak antusias akan apa yang aku bilang. Dia mendiskusikannya ke aku.

"Mungkinkah—benar bahwa Potter yang melakukannya?" Bisik Martin. Aku menggeleng tidak percaya. Persoalaan itu begitu rumit. Aku tidak percaya bahwa misalnya, Harry yang bersikap misterius dan dengan Malfoy, yang—er… aku juga tidak suka dengannya jujur. Tapi aku semakin takut ketika Colin Creevey, seorang kelahiran muggle laki-lagi menjadi batu. Bayangkan. Kelahiran muggle! Dan posisiku sebagai kelahiran muggle, akan sangat membahayakan. Aku tahu ini gila tapi… semoga Oliver selamat. Kau mau tahu kebenaran?

End of Asha POV

Ini saatnya. Saatnya bertanding melawan Hufflepuff. Kita harus menang, pikir Oliver. Tidak ada yang akan menghentikannya kali ini. Kecuali—kecuali Asha Young menjadi batu? Oliver langsung teriak-teriak da memejamkan matanya agar jangan memikirkan ini. Ya.

"Pertandingan di batalkkan." Ucaap McGonagall. Oliver ternganga. Kenapa dibatalkan? Kenapa? Dia hanya pasrah, dan kemudiam mendengar kabar Hermione Granger, Sahabat Harry Potter dan Ron Weasley itu di-batukan. Dia hanya (lagi-lagi) pasrah. Dia merasa kesepian saat sedang sedih begini. Tidak ada orang yang selalu menghiburnya. Dia merasa… entahlah. Kecewa? Dan dia bertubrukan dengan seseorang di koridor saat memikirkan itu.

"Ouch! Maaf…" dia mendongak. "Young?"

"Olv! A…aku minta maaf. Tidak bisakah kau mendengarkan penjelasanku dahulu?" pinta Asha. Oliver menatap sinis Asha. Dia tidak terima.

And still I dreamed she'll come to me

That we would live the years together

But there are dreams that cannot be

And there are storms we cannot weather

"OLIVER! Incarcerous!" Seru Asha melancarkan mantra pada Oliver, yang langsung terikat. Oliver meronta-ronta kesal. Wajahnya merah padam kesal. Dan kemudian Asha tersenyum. Dia lalu mengambil sebuah botol, dan menaruh benang biru perak dari kepalanya yang diambil oleh tongkat sihir. "Cobalah ini di pensieve. Dan kau bebas untuk membenciku."

"Benar! Aku membencimu!" Seru Oliver marah.

Oliver segera terlepas dan dia menerima botol itu dengan enggan. Dia akan menanyakannya pada Sally nanti.

"Sally, pensieve bisa kita dapatkan dari mana ya?" Tanya Oliver. Sally mendongak. Dia melihat Oliver yang tampak agak kaku.

"Entahlah, Dumbledore mungkin?" Tanggap Sally. Oliver tergagap. Dumbledore. Dia lalu berjalan, dan melintasi meja-meja dan melihat McGonagall. McGonagall tampak muram dan tersenyum tipis.

"Apa Wood? Tentang Quidditch? Kan sudah kubilang, bah—"

"Bukan, professor. Bisakah aku melihat suatu kenangan di pensieve?" Potong Oliver. McGonagall agak terkejut dan menatap tajam Oliver melalui matanya yang tajam. Lalu dia menghela napas.

"Apakah ini tentang kamar rahasia?" Tanya McGonagall tajam. Oliver menggeleng gugup. Mereka segera ke kantor Dumbledore yang tidak jauh dari situ. Dan kemudian, dia mendehem. "Wood, aku peringatkan kau, kalau kau ingin melihat sesuatu melalui pensieve, aku juga melihat. Tidak ada bantahan. Itu syaratnya," jelas McGonagall. Oliver mengangguk pasrah. McGonagall menuangkan cairan biru keperalam dan mereka mencelupkan mukanya. Dan Oliver serasa terjun. Dan adegan terbentuk. Rumah keluarga Asha yang di kenalnya, di kamar Asha yang serba biru. Bill tersenyum.

"Maukah kau jadi kekasihku, Asha?" Tanya Bill serius. Asha menatap tajam Bill.

"Tentu saja—" Jawab Asha. Oliver langsung tersedak. Sama saja menurutnya. Tapi dia melihat Asha melanjutkan. "Aku menolak." Dan Bill jadi kaku. Dia menatap Asha.

"Kenapa?"

"Karena sahabatku cemburu tiap aku dekat kamu," tawa Asha. Bill langsung ber-dissaparate seketika itu juga. Oliver langsung mengeluarkan mukanya dari pensieve, tidak berani menatap McGonagall yang sudah setengah-kesal dan 'aku-cuma-melihat-anak-muda-tentang-hubungan? Oliver nyengir dan dia balik. Dia lalu tidak melihat Asha dimana-mana. Dia takut. Dia melihat tulisan dari pewaris Slytherin. Dia cepat-cepat ke ruang rekreasi . Dia tidak melihat siapapun disana, membuat hatinya semakin takut. Dia salah. Dia… ternyata Asha menolak Bill. Bukan menerima seperti yang di dengarnya.

Sekali lagi, dia merasa bodoh. Dan dia sudah bilang bahwa dia menbenci Asha. Oh… bodohnya dirinya. Dia merutuk kesal. Tapi tiba-tiba seorang Asha Young muncul di belakangnya.

"Kau sudah lihat?" Tanya Asha. Oliver mengangguk menyesal. Dia mendekat ke Asha, tapi tongkat Asha bereaksi. "Protego," ucapnya. Dan Oliver terpental.

"Maaf, Oliver. Kau sudah membenciku. Jangan mendekatiku. Walaupun Sebenarnya…"


Gimana? Word-nya nurun nih T^T Gomenasai!

A/N : Bagaimana? Yah kucelupin dikit soal kamar rahasia, emang nggak dianggap genting di sini sih. FOKUS ke perasaan Oliver. What do you think? Makasih yang udah review!