yowkid : Yuppie arigatou! Memang, Asha tuh gampnag nyembunyiin perasaan :) Sampe Chapter berapa ya _ Gatau deh liat dulu! Request judul lagu? Liat aja judul chaptie-nya :DDDD~ Aku bingung nyebutin semua _ 39!
Nah, ningkat word-nya yippie :D!
•Harry Potter• Belongs to J.K Rowling
Enjoy Reading :)
Chapter 8 : Last Name
"Walaupun sebenarnya…." Asha menatap mata cokelat Oliver Wood yang sama dengannya. "Lupakan." Asha menghempaskan diri di sofa itu.
"Apa yang mau kau katakan?" Tanya Oliver, masih menatap api yang menjilat-jilat. Asha, dengan rambutnya hitam legam. Dia menggeleng pelan. Tapi Oliver tahu itu kebohongan. Dan dia duduk di sofa merah Gryffindor. Asha bukanlah prefek. Walaupun dia tergolong cukup rajin, tapi dia bukan tipe yang seperti itu. Dia suka bercanda, lucu, perhatian, dan manis. Kadang dia bisa menjadi kakaknya, sahabatnya, adiknya, atau bahkan, orang yang disukainya. Asha bangkit dari sofa itu. Buku yang sedari tadi di bacanya sudah selesai.
"Asha maafkan aku."
"Oke," Jawaban Asha yang sama sekali tidak di sangka. Lalu Oliver menyeringai.
"Kalau begitu kita teta—"
"Nah, itu jawabannya tidak. Kau membenciku. Kau tidak dapat menarik kata-katamu." Ucap Asha puas, menarik kesimpulan. Oliver mengumpat sedikit atas apa yang telah ia katakan. Asha berbalik untuk ke kamarnya. Dia bukan orang yang lemah, maupun rapuh. Dia tidak tidak, akan menangis. Tapi dalam tidurnya, toh air matanya jatuh juga.
oOo
Pagi yang cerah. Asha segera ke kamar mandi dan mandi. Setelah mandi, dia memperhatikan pantulan wajahnya sendiri di cermin. Dia memperhatikan rambut ikalnya yang mirip seperti Hermione Granger, tetapi warna hitam pekat dan poni yang juga ikal. Dia menatap mata cokelatnya, memperhatikan bulu matanya, wajahnya—dan dia menatap seseorang. Seseorang yang harusnya di sebelahnya. Oliver wood. Tapi dia tidak ada. Hanya pandangan kosong. Hanya bayangan. Dia menyentuh cermin itu. Keras.
Seperti hatinya yang keras. Dia menganggap Oliver Wood sebagai sahabat, hanya itu. Dia masih menyukai Bill Weasley kalau boleh jujur. Dan dia tertarik pada George Weasley yang ramah itu. Ramah dalam matanya. Oliver dan Martin, kedua sahabatnya. Perasaannya tidak lebih. Hanya itu, titik. Tapi tampaknya Oliver tidak mengerti. DIa mempunyai ide. Dia turun dari kamar perempuan dan mendapati Oliver Wood menunggunya dengan canggung.
"Maafkan aku."
"Tentu saja," jawab Asha, lalu memeluk Oliver. Oliver beku seketika, lalu mengusap punggung Asha canggung. Asha melepas pelukannya. "Sahabat?"
"Mu….mungkin," jawab Oliver, dan mereka jalan ke aula besar. Martin menyapa Asha gembira, sedangkan dia menatap jengkel Oliver. Oliver meringis dan duduk di samping Asha. Gryffindor, menang piala asrama lagi.
oOo
Asha berjalan menuju stasiun Hogsmeade. Dia menghindari saat Oliver mengajak berduaan, setelah makan malam, paginya lagi, dan yang lain. Bahkan Asha memaksa Martin di kompartemen. Dia tidak ingin berduaan dengan Wood, itu saja. Kalau kau boleh tahu, Asha sudah atau mungkin mencintai seseorang.
Flashback
"Nine, kau tahu di mana Asha? Dia tidak masuk sekolah (SD) . kemana dia, ya?" Tanya Natsuki pada Nine. Nine menggeleng.
"Kenapa kau menanyakan dia? Cieee… kalian pasangan yang benar-benar cocok!" Goda Nine.
"Kau tidak merindukanku?" seru suara merdu dibelakang. Natsuki langsung siap dan menoleh ke belakang. Wajah cerah Asha.
"Sial." Umpat Natsuki. Asha hanya memeletkan lidah.
"Aku pamit semuanya. Aku akan pindah. Oh ya Natsuki. Daisuki da yo!" Seru Asha dan dia segera naik mobil.
"Daisuki… da yo?" Ulang Natsuki.
"Artinya dia mencintaimu," Fumiko tertawa terkikik.
End of Flashback
"Asha?" Oliver menjentikkan jarinya di depan muka Asha. Asha sadar, dan Martin sudah kembali ke gerbong prefek.
"A…apa?" Jawab Asha gelagapan. Dia jelas nerveous karena berduaan dengan Oliver dan ketahuan sedang melamun.
"Apa yang kau pikirkan? Nilai NEWT-mu yang tidak bagus?" Desah Oliver. Asha menggeleng. Dia dan Natsuki di kabarkan suka, dan akhir-akhir ini dia memang mengakui kalau dia menaruh hati pada Natsuki, dan sekarang dia kembali ingat kejadian itu.
"Asha! Yo!" Seru Fred dan George, duduk di kompartemen. Seperti biasa, George di sebelah Asha dan Fred di sebelah Oliver. Asha tampak tidak semangat saat itu.
"Asha, kau tidak apa-apa?" Ulang Oliver. Asha mengangguk.
oOo
Oh sudahlah. Kau juga selalu berteriak pada orang kalau mereka menyebutmu 'couple' bukan? Masa' kau mengakuinya? Dan memang dia sudah mengakuinya. Erghh siaalll…! Dia memutar mata dan turun darii kereta Hogwarts. Oliver masih mengernyit ketika melihat Asha yang kelihatan lemas dan tidak sehat.
"Kau mau kuantar pulang?" Tanya Oliver.
"Tidak, Olv. Kau sudah dengar aku. Tidak. Nah, saatnya pergi…"Asha segera ingin menghilang dari hadapan Oliver. Oliver masih terpaku, tapi dia menggenggam lengan Asha.
"Kau pulang bersamaku." Ucap Oliver tegas, yang tidak memerdulikan bahwa ternyata orangtuanya Asha yang menjemput, saat itu juga tidak bisa menjemput (?) Asha lalu me-normal-kan diri dan akhirnya pasrah dan setuju untuk mengikuti Oliver.
"Selamat siang, Mrs Wood, Mr Wood," sapa Asha sopan pada Mr dan Mrs Wood. Mr dan Mrs Wood tersenyum ramah.
"Selamat siang, Asha. Oliver, kau tidak bilang bahwa Asha akan ikut kita?" Tanya MRs Wiid,
"Uh… Well, permintaan dadakan," ucap Oliver gugup. Mrs Wood menyeringai kecil, dan Mr Wood geleng-geleng kepala. Mereka segera di bawa ber-apparate ke rumah Wood. Rumah Wood, cukup besar. Dan Asha langsung pulang dalam sekejap ke rumahnya. Dia hanya bisa memejamkan matanya. Untuk kali ini. Abstrak. Ya, abstrak. Dia merindukan teman dulunya. Dan dia memejamkan matanya lagi.
~•~
Merlin, apa yang terjadi dengan Asha? Oliver frustasi. Dia terus-terusan kelihatan sedih dan menerawang. Merindukan Bill? Rasanya tidak mungkin. NEWT? Asha jenius dalam hal itu. No way! Iya, kan? Oliver duduk di tempat tidurnya sendiri. Quidditch. Sebentar lagi adalah… sebentar lagi tahun terakhirnya di Hogwarts, tahun terakhirnya 'berkencan' walau belum pernah dengan Asha Young. Oh ini membuatnya gila sebetulnya. Dia tahu, kenapa kehidupannya begitu rumit! Quidditch. Ya. Di antara Quidditch dan Asha.
oOo
Oliver, Mr Wood, dan Mrs Wood ber-dissaparate dan ber-apparate ke rumah Asha.
"Astaga," ucap Asha ketika mereka sampai. "Kalian ngapain?"
"Kami akan mengantarmu ke King Cross," ucap Mrs Wood. Dan mereka ber-dissaparate. Sampai di King Cross, Oliver mengajak untuk mencari kompartemen. Martin tentu saja—menjadi ketua murid. Dan…
"Aku jadi ketua murid, Olv! Ketua murid! Aku tidak tinggal lagi di menara Gryffindor tentu saja—dan oh Kau tahu au sangat bahagia!" Seru Asha. Olv mengernyit. Oliver memang jadi kapten Quidditch, dan itu juga membahagiakan Asha. Tapi Oliver, tentu saja, takut akan terjadi apa-apa antara Percy dan Asha. Well, dia berlebihan tentang ini, sih ya…
"Aku tidak menyangka. Aku akan jadi ketua murid! Padahal Sally lumayan bagus! Wah, selamat tinggal Oliver!"
Seperti déjà vu, dia melihat Asha akan pergi. Dia duduk sendirian di kompartemen ketika Sally datang, ikut duduk.
"Hai Oliver. Kau sudah baikkan dengan Asha?" Tanya Sally, membuka buku. Oliver mengangguk saja. Sally lalu menghela napas.
"Kau tidak begitu…tertekan? Kau sudah jadi kapten Quid—"
"Aku takut Sally," potong Oliver. "Maksudku, kalau kita tidak jadi juara Quidditch lagi…"
"Oh sudahlah. Maksudku, kau pasti bisa," senyum Sally.
"Ya," Desah Oliver. Sirius Black kabur. Dan, setiap masalah, Harry pasti ujung-ujungnya. Jadi Oliver bangkit, dan segera sampai di gerbong kompartemen Harry. Dia membukanya.
"Sori, Harry. Aku tahu, pasti Sirius Black mengejarmu. Jelas sekali di mataku. "Karena tiap tahun ada masalahnya denganmu. Sori Potter. Please,"
Harry kaget. "Err…. Baiklah Wood." Dan Oliver meninggalkan mereka. Oliver duduk di kereta itu.
oOo
"Selamat datang. Wah pleasure. Kalian akan menghadapi ujian NEWT lagi untuk kelulusan kalian. Nah. Ayo," McGonagall menyambut anak-anak kelas 7. Oliver memperhatikan Asha yang sedang mencatat.
"Hm? Ada apa Olv? Kok kamu memperhatikanku," senyum Asha. Oliver mengangkat bahu, tertawa tertahan.
"Yahh—habis kamu cantik sih!" Timpalnya asal, yang membuat pipi Asha memerah.
"Hush! Diem," Asha tertawa.
"Wood, Young! Detensi, malam ini!" Seru McGonagall. What the?
Malamnya…
"Masa' kita gara-gara ngomong didetensi!" Seru Oliver frustasi. Asha menyunggingkan senyum.
"Itu gara-gara kamu bilang aku cantik," balas Asha, yang di serbu Oliver dengan gelitikan, hingga mereka mendengar suara.
"Ahem," kata McGonagall. "Kalian di detensi untuk… membersihkan sapu terbang." Jelas McGonagall. Mereka berdua melongo, dan menurut. Mereka segera turun ke ruang penyimpanan sapu.
"Kotor sekali," gumam Asha, lalu mulai menggosok salah satu sapu. "Yah, sekalian hitung-hitung membersihkan ruangan menjijikan ini. Scourgify. Lumos. " Ucap Asha merapal mantra, dan ruangan langsung terang. "Lumos Maxima" Cahaya makin terang. Mereka menggosok beberapa sapu terbang.
"Aku berharap sekali bisa menang," ucap Oliver. Asha berhenti menggosok walaupun sebentar.
"Apa?"
"Kau tahu, piala Quidditch. Aku… sangat."
"Well—haha. Tentu saja kau bisa menang, Olv. Tapi jangan andalkan Potter untuk itu kau tahu. Dia dikejar-kejar pembunuh itu, dan aku bahkan tidak yakin dia itu pembunuh, dengan dia pingsan ketakutan karena dementor, kau harusmelatih chaser-mu," balas Asha, kembali menggosok. Oliver menerawang. Dia berharap, pertandingan Quidditch dia bisa menang.
oOo
"Di mana Wood?" Tanya Harry yang tiba-tiba sadar Wood tidak ada.
"Masih mandi," kata Fred. "Kami rasa dia mencoba menenggelamkan diri,"
Oliver masih berendam di kamar mandi prefek ketika Asha datang. Oliver menoleh.
"Kau ngapain kesini?" Oliver menghela napas. Asha tersenyum.
"Mandi," Seringai Asha. Oliver tiba-tiba menjadi gugup. Betul saja, Asha sudah mulai membuka kemejanya dan Oliver menelan ludah, ternyata di baliknya ada pakaian renang!
"Hahahah! Lihat mukamu itu tahu! Lucu! KAlau kau tak ingin aku kemari, tidak apa-apa. Aku tunggu kau di lantai tuj—"
"Jangan pergi." Ucap Oliver. Asha mengerjap. "Aku sedang butuh teman, jangan pergi."
"Well, selesaikanlah mandimu dan aku mengajakmu kesuatu tempat." Ucap Asha, dan Oliver langsung bangkit dari bath tub dan memakai baju.
Aku butuh ruangan untuk menghibur teman… Aku butuh ruangan untuk menghibur teman… Aku butuh ruangan untuk menghibur teman… pikir Asha dalam hati. Dan sebuah pintu terukir indah. Oliver ternganga dan di tarik Asha masu ke ruang kebutuhan. Ruangan itu berubah menjadi rerumputan dan seperti pesta romantis, dengan lampu-lampu yang berkilauan—merah-hijau-biru… indahnya…
"Oliver, aku tahu kau bisa."
You with the sad eyes
Don't be discouraged
Oh, I realize
It's hard to take courage
In a world full of people
You can lose sight of it all
And darkness still inside you
Make you feel so small
Oliver bergeming. Asha tidak patah semangat untuk menyanyi, menghibur Oliver. Dia mempunyai akal. Tiba-tiba sebuah sepu muncul di udara, dan Asha langsung menaikinya. Ada kembang api di udara, bertuliskan 'Wish SOMETHING!'
Show me a smile then,
Don't be unhappy,
Can't remember when I last saw you laughing
If this world makes you crazy
And you've taken all you can bear
You call me up
Because you know I'll be there
Asha mulai meluncur di udara, dan melempar bubuk kembang api melewati tiga gawang, yang langsung meledak dan tulisan 'Go Oliver!' Oliver menginginkan sebuah sapu, dan ada sapu terbaru, langsung di tangannya. Oliver ikut mengudara bersama Asha.
If this world makes you crazy
You've taken all you can bear
You call me up (Call me up! )
Because you know I'll be there (Know I'll be there)
"Itu hebat!" Seru Asha ketika mereka turun. Senyuman Oliver sudah mengembang lagi.
"Terima kasih Asha. Aku yakin kita menang," Senyum Oliver. Asha tersenyum.
"Oh benarkah? Baiklah, aku punya hadiah jika kita menang!" Seru Asha. Oliver langsung menerawang, hadiah pelukan? Atau kencan sebentar?
"Mungkin aku harus beli di Hogsmeade dulu ya…" ucap Asha tanpa sadar yang otomatis mengecewakan Oliver. Asha tertawa sejenak. Mereka segera keluar dari ruang kebutuhan. Tiba-tiba, ketua murid laki-laki, Percy Weasley, muncul dari belakaang.
"Oh kalian siuk mesra-mesraan ya? Bagus! Sementara aku patroli sendirian. Hebat. Asha, kau, kan ketua murid ! Masa sih kamu malah errgh!" Percy Weasley tidak berkata-kata, dan Asha tertawa kecil.
oOo
"GRYFFINDOR MENANG!" Seru Lee Jordan dari megafon sihir. Oliver menangis terharu dan mereka semua memeluk Harry. Asha turun dari tribun dan segera menghadiahkan seseuatu; sebuah ciuman. Asha melingkarkan tangannya di sekitar leher Oliver, dan Oliver memeluk Asha erat yang di-sambut oleh "Cieee' dan 'Buu' oleh Slytherin.
"Itu hadiahku untukmu, sobat. Karena kau mencintaiku," Asha menekankan kata pada kata-kata terakhir. "Sebagai sahabat, aku harus bertindak, kan?"
"Oh ayolah, mulai lagi. Aku serius mencintaimu, lho!" Seru Oliver, yang membuat Asha memutar mata.
"Ayo, kedalam kita rayakan!" Senyum Asha, lalu menggandeng Oliver. Bagi Oliver, ini saja sudah lebih dari hadiah.
"Selamat untuk kapten sobat!" Seru George.
"Ya gitu!" Balas Fred. Asha memeletkan lidahnya dan dia kemudian ke ruang ketua murid. Oliver tersenyum lebar. Setelah lulus, dia akan gabung dengan puddlemere United. Dia memandang punggung Asha yang sudah berlari. Dia tersenyum. Ya, diulang. Dia tersenyum.
oOo
"Dan kini, anak-anak Hogwarts akan mengembara jauh, dengan ilmu yang didapatkan dari Hogwarts. Kami bangga sekali," tutup pidato Dumbledore. Asha menoleh pada Oliver, mereka tersenyum lebar. Ijazah mereka yang di –cap kementrian sihir. Asha mendapat beberapa NEWT, Oliver akan bermain Quidditch. Asha dan Oliver, sudah janji akan makan malam bersama. Sebetulnya, Asha mengundang Martin, tapi Martin sibuk (yang membuat Oliver gembira karena ini) Mereka ke restoran De Cray, sebuah restoran muggle yang mewah.
"Selamat datang, untuk dua orang? Kami mempunyai dua meja romantis, di atas," sapa Pelayan. Asha tersenyum sopan dan mereka segera ke meja itu. Mereka duduk.
"Jadi, kamu akan pergi Olv?" Asha membuka percakapan.
"Asha… mungkin aku tidak bertemu denganmu lagi…" ucap Oliver.
Yeah selesai! Thankyu for yowkid dan Sarah yang udah review! Next chapter sangat sedih, bersiaplah, ambil tissue! :')
XDD
