yowkid-chan : Ini mau di lanjutin kok _ Pdahal liat reviewnya yowkid watashi jadi semangat 3
I'm not in mood to make disclaimer. Check out chapter before.
Chapter 14 : Final—ly!
"Asha tunggu." Ucap George. Asha menoleh. George memeluk asha begitu erat. Asha mengerjapkan matanya. Dia tersenyum.
"Let's sing George!" Seru Asha. George hanya bisa melongo dan alunan gitar sudah mulai terdengar. Tadinya George bingung tapi kemudian Asha mulai bermain lagu Gitta ni Kubittake. Asha mengajak George berdansa (A/N : Mohon di dengarkan lagunya, supaya tahu dansanya seperti apa) Beberapa saat kemudian, mereka tertawa lepas. Asha menjulurkan jari kelingking.
"Best Friends?"
George tidak bergeming. Dia segera melepas dengan cepat cincin di tangan Asha, yang membuat Asha kaget, dan dia mengulurkan kelingkingnya juga.
"Sahabat!"Seru mereka berdua. Asha mengacak rambut George. Walaupun George lebih tinggi dari-nya.
oOo
Asha hari ini sedang mau ke rumah Oliver. Dia akan mendiskusikan pernikahannya nanti dengan orangtua Oliver. Asha masih tidak percaya bahwa dia akan menikahi seorang Oliver Wood—yah itu aneh menurutnya. Dan dia sampai di rumah yang terlihat bagus, yang pernah di kunjunginya. Dia mengetuk pintu dan Oliver membukanya, tersenyum lebar. Mereka segera masuk. Disana ada Mrs Wood dan Mr Wood. Asha tegang.
"Jadi, kita adakan di sini, betul? Tapi apa yang membuatmu tertarik dengan Oliver? Saya tahu kamu telah menyelamatkan Oliver—" mulai Mr Wood. Asha menjawab pertanyaan Mr Wood dengan lancar, dengan dia sebelumnya tidak menyangka akan menikah dengan Oliver, padahal dia tidak punya perasaan apapun, tapi kalau bersamanya… dia tuturkan dengan . Mr Wood mengangguk angguk. Mereka segera mencari gaun yang pantas. Gaun itu sangat indah, hampir seperti gaun Fleur namun lebih sedikit dominan hitamnya*.
"Ini akan bagus untukmu," bisik Mrs Wood. Asha mengerjapkan matanya, lalu mengangguk. Dia tersenyum, dan ketika mereka keluar dari toko, Oliver mendongak penasaran baju apa yang di pilih, tetapi Mrs Wood dan Asha tertawa.
Hari H…
28 April…
Asha terlihat gugup di balutan gaunnya. Dia merapikan rambut hitam gelombangnya yang di sanggul. Lalu dia tersenyum pada George yang membantunya. George tersenyum juga.
"Kau terlihat cantik," senyum George. Muka Asha langsung memerah. Dia memukul lengan George. Mereka saling tersenyum. Asha mengulurkan kelingkingnya. George mengulurkan kelingkingnya juga. Mereka menautkannya dan saling tersenyum antara lain. Asha tetap saja tidak terlalu percaya diri untuk Oliver, dan menurutnya masih aneh. Rambut merah George berkibar ketika pintu di dobrak oleh Ron. Ron melongo melihat Asha dan George hanya bisa tertawa.
"Hai Ron. Bagaimana kau dan Hermione? Baik-baik saja?" Tanya Asha. Ron tersenyum malu, dan dia undur diri. Asha dengan gugup segera berjalan, dan melihat Oliver sudah di sana.
"Apakah kau, Oliver Julian Wood, menerima Asha Young…?" Tanyanya. Oliver membuka mulutnya untuk menjawab.
"Ya," ucap Oliver penuh keyakinan.
"Dan kau, Asha Young, menerima Oliver Julian…?" Tanyanya. Asha ragu sejenak. Oliver menatap Asha bingung. George duduk menatap tajam Asha, bingung apa yang terjadi. Ketika mulut Asha terbuka, dia menjawab.
"Y—ya," ucap Asha. Dan
"Kalian bersatu selamanya," Dan cahaya menerpa mereka berdua. Mereka telah resmi menjadi suami-istri. EEntah kenapa Asha tidak enak. Mungkin hanya perasaan egoisnya, tapi itu fakta. Dia kemudian duduk di salah satu bangku, sedangkan tamu-tamu berdansa. Oliver menghampiri Asha, bertanya.
"Kenapa?" Tanya Oliver. "Kau sudah tidak sabar untuk nanti malam?" goda Oliver. Asha menggeleng. Oliver mendekatkan mukanya ke Asha, tapi sewaktu Oliver ingin memunahkan jarak, Asha mendorong Oliver pelan. Asha menoleh pelan, yang membuat Oliver bingung. Dia tidak mengerti kenapa Asha tidak ingin mencium dirinya, tapi dia mengangkat bahu.
oOO
"Kau tidak ingin melakukannya?" Tanya Oliver, melepas jas dan kemejanya. Asha menggeleng. Dia mengambil piyama segera ingin melepas mengernyit. Malam yang tidak biasa untuk sepasang pengantin.
"Selamat tidur," ucap Asha, dan dia menyelimuti tubuhnya dengan selimut.. Oliver geleng-geleng kepala. Dia kemudian merebahkan diri, mengalungkan tangannya di pinggang Asha.
"Pastikan kau tidak memegang bagian yang lain," bisik Asha yang membuat Oliver meledak tawa.
"Memang kenapa? Aku berhak, kan?"
"Tidak. Dan aku mau tidur."
oOo
Oliver sedang berjalan-jalan di Diagon Alley. Sudah seminggu dia menikahi Asha Young, tapi dia tidak mau melakukan hal-hal yang biasa suami-istri lakukan. Oliver sangat kecewa. Bahkan frekuensi berciuman juga semakin berkurang, dan paling cuma satu detik. Oliver mendatangi Weasley Wizard Wheezes. Di sana ada Ron dan George yang melayani pelanggan. Oliver masuk dengan wajah biasa.
"Hai Wood!" Sapa George. Oliver mengangguk singkat. Dia menyeret George ke luar toko dank e restoran. Di sana, Oliver memesan firewhiskey panas, dia mentraktrir George. George mmengangkat alis.
"Jadi bagaimana malam pertamanya?" Tanya George—nadanya agak aneh saat mengucapkan 4 kata itu. Oliver menunduk.
"Maka dari itu. Aku… belum pernah melakukannya. Aku jadi bingung sendiiri."
"Mungkin dia gugup," koreksi George.
"Aku tidak!" Bantah Oliver.
"Mungkin dia sangsi kau pernah melakukannya,"koreksi George lagi. Muka Oliver semerah tomat.
"E... aku tidak pernah!" Seru Oliver menggeleng.
"Yasudah mate. Terjang saja dia," George tidak kalah tertarik.
"Jangan-jangan dia pernah melakukannya denganmu!" Seru Oliver penuh selidik. George meledak tawa, dan dia menggeleng. Oliver hanya cemberut dan kemudian dia melihat Asha di seberang jalan, di toko Keperluan Muggle. Oliver menarik tangan George. Mereka mengintip, Asha sedang ke bagian Laki-laki. Jantung Oliver berdegup lebih cepat. Asha membeli celana Jeans yang keren, tapi ukurannya bukan untuk Oliver. Dan kini, Oliver makin cemburu.
"Kau ngapain di sini!" Seru Oliver. Asha kaget dan menyembunyikan kantung belanjaanya.
"Yah—Er urusan Oliver. Yah hehe," Asha tertawa hammbar. Oliver , pertama kalinya menampar Asha. Asha meraba pipinya saat itu. Dia menatap Oliver sedih.
"M…maafkan aku t—tapi… aku…," Asha mulai menunduk. "Kau tidak mengerti!" Seru Asha. "Aku tahu keputusanku menikahimu memang benar tapi seandainya —"
"Siapa hah? Si Weasley itu? Dia jelas menikahi Delacour, dan dia tidak meninggal!" seru Oliver frustasi.
"Bukan! Oliver, kenapa aku harus menikahimu sih! Ini salahmu!" Seru Asha. Dia sudah berlinangan air mata. Gerge mendekat dan mengusap punggungnya. "Aku ini hanya mengotori darah murnimu! Mengotori keturunanmu! Aku—aku…"
"Maafkan aku," ucap Oliver ketika menyadari Asha menangis.
"Aku yang salah, aku kelahiran muggle, aku bodoh, aku—" ucapan Asha terpotong oleh bibir mereka yang menempel satu sama lain. Aasha mencoba mendorong Oliver, tapi Oliver menahannya, yang membuat muka George jadi aneh.
"Kita lakukan malam ini…?"
Beberapa bulan kemudian…
"Perempuan," ucap penyembuh tersenyum. Oliver membulat matanya.
"Jadi, kita namai siapa?" Tanya Asha lemah.
"Avei Wood," usul Asha kemudian.
"Boleh," senyum Oliver.
TO BE CONTINUED.
Apa yang terjadi dengan Asha? Tunggu chapter berikutnya!
http:/*.google*./imgres?q=awesome+Wedding+gown&um=1&hl=en&sa=X&biw=1018&bih=635&sout=0&tbm=isch&tbnid=iZw2Y45D3Wrt1M:&imgrefurl=/beautiful-wedding-dresses/&docid=5q0zTX8fTN7nIM&imgurl=&w=500&h=680&ei=-wQdT6aOLIPirAf_ttTgDQ&zoom=1
Baju Asha.
Lagu Giita Ni kubittake!
Readers. aku mau buat epilog. Mending pakei stori baru atau di chapter ini? Karena Olv x Asha anaknya 3 nih! :3 Nee yo help!
