By : CherryBlossoms
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Pairing : SasuSaku
"Sakura chan !" Panggil seorang gadis yang dari tadi duduk di sebelahku.
"I .. Iya ? Kenapa Hinata?" Jawabku yang baru bangun dari lamunan ku yang konyol.
"Kau kenapa sih?" Tanya gadis berambut panjang itu.
"Hahah kenapa? Apa maksudmu? Aku baik-baik saja kok heehe" aku menggaruk-garuk kepala ku yang tidak gatal.
"Ck, kau tidak bisa bohong Saku-chan. Aku tau sesuatu mengganggumu.. Jujur aja deh" Katanya sambil menyeringai licik.
'ish aku baru tau cewek selembut ini bisa tersenyum layaknya orang licik.'
"Ah kau ini.. Aku tidak apa-apa kok. Suer .. mungkin aku lelah." Kataku sambil menopang kepalaku dengan tanganku.
"Oh ya, ngomong-ngomong Ino dimana?" Tanya gadis itu sambil celingak celinguk mencari gadis yang bernama Ino.
"Coba aku telfon dulu." Aku langsung membuka hp ku dan mencari nomer Ino.
Namun aku berhenti ketika melihat nama yang terpampang di kontak hp ku
'Gaara'
Ah Sakura! Apa-apaan kau ini? Tidak usah diingat lagi.
Aku melanjutkan pencarianku. Dan akhirnya aku mendapatkan nomer telfon yang aku cari. Aku segera menekan tombol hijau untuk menelfon.
"Moshi moshi.." Kata suara di seberang sana.
"Hei Ino pig. Kau ini dimana sih? Kan kau sendiri yang bilang datang jam 3. Ini sudah jam setengah 4 sore!" Kata ku sedikit kesal.
Ya memang hari ini aku ada janji mau jalan-jalan dengan ke dua sahabatku. Yang mengajak sih Ino tapi sekarang dia yang telat. Malah kami disuruh tunggu di kantin sekolah lagi.
"Hehe gomen Sakuraa.. Ya ya aku berangkat yaa." TUT TUT TUT. Cih dasar dia menutup telfon tanpa bilang 'bye'.
"Jadi?" Tanya Hinata yang penasaran dengan jawaban Ino.
"Ck,dia bilang dia baru mau berangkat kesini."
Kami menghela nafas bersama-sama.
Suasana pun hening.
"Oh ya Sakura." Kata Hinata yang meminum jus jeruknya.
"Hm?" Jawabku agak malas. Aku sudah tidak bertenaga sekarang. Aku menyesal mengadakan program diet! Padahal berat badanku gak berat-berat banget ah. Ah bodoh!
"Gimana hubungan mu sama Gaara?" Tanya Hinata yang tersenyum penuh tanya.
"EH? Hmm.. Ngg .. Yah kami sih masih bisa berhubungan lewat sms." Kata ku dengan berat. Gaara adalah mantan pacarku. Aku baru putus dengannya kira-kira 5 bulan yang lalu. Berat rasanya melupakan dia begitu saja. Sudah 8 bulan aku bersamanya, namun aku memutuskan untuk mengakirinya. Karena - eh tunggu,aku tidak akan menceritakannya sekarang.
"Dia tidak pernah marah ya?" Tanya Hinata sambil menghabiskan jeruknya.
"Tidak tuh." Jawabku sambil angkat bahu.
"Kau menyesal gak?" Tanya nya lagi. Aduh kenapa harus dibahas sih?
"Hm mungkin." Aku menutup mukaku dengan kedua tanganku. Argg aku tidak bisa melupakannya. Oh God kirimkan lah jodohku secepatnya. Agar aku bisa segera melupakannya.
"Oh begitu. Lagian sih kamu pake putus segala." Katanya sambil menyubit kecil lenganku.
"Hehe .." Aku hanya nyengir karna gak bisa jawab apa-apa. Aku juga sih yang salah. Padahal Gaara itu baik sekali. Sangat baik kepadaku. Dia selalu mengalah kalau kami ada masalah. Tapi entah mengapa hatiku berkata lain. Aku merasa gak cocok dengan dia. Tapi sekarang aku yang sengsara karena gak bisa melupakannya. Katanya sih dia juga cukup terpukul dengan kenyataan ini.
"Sakura! Hinata!" kami menengok ke arah sumber suara yang sudah tidak asing lagi di kuping kami.
"Kau bodoh Ino." Kataku dengan kesal." Cih aku disuruh menunggu setengah jam."
"Hhehe sorry sorry. Nah untuk membayarnya aku nanti traktir makan deh. Hehe oke oke?" Katanya dengan mata puppy eyes.
"Hm gimana nih Hinata. Dimaafkan gak ya?" Kataku dengan senyum iseng. Hinata hanya terkekeh kecil.
"Haha ya sudahlah mending kita berangkat sekarang." Kataku mengingatkan dengan tujuan utama kami. Kami langsung menuju ke mobil Ino yang berwarna merah.
Hari ini kami rencana mau mencari gaun untuk kepernikahan nya guru kami. Ya rencananya juga nanti malam kami akan menginap di rumah Ino. Orangtua ku sedang pergi jadi aku dititipkan deh. Aku kembali ke lamunanku. Sambil menatap keluar aku masih bisa membayangkan wajah tampan Gaara. Ugh! Sial! Kenapa aku mengingatnya? Padahal kalau dipikir-pikir aku nya juga yang bodoh. Mungkin aku putus karena merasa terganggu dengan gossip yang pernah beredar.
Flashback
Saat itu saat nya istirahat. Biasanya sih kalau istirahat begini aku pergi ke lapangan belakang atau lapangan basket. Menonton para cowok bermain bola ,ya terutama Gaara. Dia adalah pemain bola dari tim sekolah ku. Yaitu Konoha school. Namun entah mengapa hari ini aku bosan. Aku menuju ke tembok yang tingginya hanya sebatas dadaku. Aku melihat ke lapangan depan. Diam dan melihat anak-anak yang berlarian. Sayangnya biasanya Ino ada di sisiku. Namun sepertinya dia sudah pergi ke lapangan belakang jadi melupakan ku. Ck menyedihkan.
"Sakura!" Panggil seorang teman ku dari kelas sebelah.
"Kenapa?" Tanya ku agak malas. Dengan langkah lemas aku berjalan ke arah mereka. Aku memperhatikan seorang gadis berambut hitam yang memegang sebuah kertas. Atau lebih tepatnya surat.
"Coba kamu baca ini!" Katanya sambil menyodorkan sebuah surat berwarna pink. Aku mengkerutkan alisku dan mulai membaca.
'Dear Gaara
Hai Gaara. Aku mau bilang sesuatu. Kalau aku ini sebenernya sayang banget sama kamu. Menurut aku kamu ini cowok yang paling cakep,baik lagi. Aku itu suka banget sama kamu. Coba kamu jadian sama aku. Cuma sayang nya kamu lebih milih Sakura daripada aku. Tapi gak apa-apa.
Aku mau bilang sekali lagi
AKU SAYANG KAMU'
Mata ku terbelalak ketika membaca surat ini. Aku terdiam,berusaha untuk mencerna kata-kata yang diketik. Sepertinya dia sengaja supaya tidak ketahuan siapa menulis.
"Dari siapa?" Tanya ku sambil berusaha menahan emosi.
"Dari Matsuri"
DEG !
Ah Matsuri. Sial kenapa harus dia? Ya ku akui aku cemburu. Tau kenapa? Karena dulu saat aku hanya sebatas sahabat dengan Gaara, dia bilang kalau dia suka dengan Matsuri. Memang sih itu hanya selama 1 semester saat aku masih kelas 5 sd. Dan saat itu aku benar-benar benci dengan Matsuri. Bukan karena Gaara lebih memilih Matsuri. Tapi karena dia lah yang merebut sahabatku. Namun apa boleh buat. Aku tetap membantu Gaara untuk mendapatkannya. Boleh kuakui saat itu aku memang belum mempunyai perasaan apapun. Aku masih cinta dengan seorang sahabatku yah sebut saja Kiba.
Namun usaha ku gagal. Sepertinya Matsuri tidak menimbulkan reaksi apapun ketika mengetahui kenyataan perasaan Gaara. Dan pada waktu itu semester 2. Gaara berkata pada Ino kalau dia menyukaiku. Berita itu cukup membuat ku tersentak kaget. Entah perasaan apa yang muncul. Antara bingung, kesal, bahagia, malu, dan lain-lain. Yah tapi aku tidak bisa berkata kalau aku juga menyukainya. Karena memang perasaan ku belum bisa hilang dari Kiba. Namun seiringnya waktu sampai kelas 6. Aku mulai melupakan Kiba yang tidak lain adalah cinta pertama ku. Karena ternyata dia lebih memilih seorang gadis lain yang mencintainya dengan tidak tulus. Oke oke kita lewati saja cerita tentang Kiba. Dan sampai kelas 6. Akhirnya dia menyatakan cinta nya dan meminta ku menjadi pacarnya. Ya akhirnya aku terima. Dan sampai sekarang kami masih berpacaran.
"Kamu gak apa-apa kan Sakura?" Tanya gadis yang berdiri didepanku. Namun tidak lama kemudian teman-teman yang lain pun ikut mengerumuni aku.
"Sabar ya Sakura.."
"Tenang Sakura, Gaara kan sayang sama kamu.."
"Cewek macem apa itu? pake ngirim surat segala!"
Beribu-ribu kata di lontarkan dari mulut teman-teman ku. Namun tak ada yang berhasil aku cerna. Aku masih menatap surat itu dengan tatapan sedih. Aku berpikir sejenak. Kalau aku ketahuan sedih, aku akan dibilang berlebihan. Toh, Matsuri cuma mengirim surat. Tidak dekat dengan Gaara. Tapi kalau aku diam orang-orang akan bilang kalau aku tidak peduli. Aduh aku bingung.
Aku mengembalikan surat itu. aku menghela nafas dan tersenyum.
"Ah biasa aja…" Untungnya aku pintar ber acting jadi tidak ada yang tau perasaan ku.
" Tapi Sakura, ini kedua kalinya dia mengirim surat. Yang pertama sudah dikasih ke Gaara. Nah yang ini sebenarnya aku disuruh kasih ke Gaara. Tapi aku kasihan sama kamu. Gak tega aku sama kamu. Jadi lebih baik kamu aja yang ngasih dan selesain bareng-bareng sama Gaara. Oke?" Gadis itu tersenyum lalu masuk kedalam kelasnya disusul dengan anak-anak lainnya. Aku masih terpaku di tempatku. Rasanya ingin menangis tapi itu terlalu berlebihan. Rasanya ingin melampiaskan kemarahan tapi dengan apa?
TET TET TET ! Bel berbunyi dengan kencang. Aku berdiri di depan pintu ruang kelas Gaara. Berharap Gaara cepat datang. Aku melihat sesosok orang yang ku kenal. Gaara? Bukan! Ino. Dia menghampiriku.
"Aku tau apa yang terjadi. Sabar ya .." Dia tersenyum dan merangkul ku.
"Thanks Ino.." Aku tersenyum. Aku dan Ino pun menunggu bersama. Sampai akhirnya aku melihat sesosok cowok dengan rambut merah dan wajahnya yang cool. Mata nya sedikit kaget ketika melihatku. Sontak aku terdiam dan ingin segera mengurungkan niatku. Namun Ino langsung menyenggol ku seakan berkata semua akan baik-baik saja.
"Ada apa?" Tanya nya dengan lembut
"I .. Ini.." Aku menyodorkan surat yang dari tadi aku pegang.
Dia menatap sebentar surat dan segera mengambilnya. Dan pergi ke kelasnya tanpa mengucapkan apapun. Mungkinkah dia marah padaku?Apa dia senang mendapat surat itu? Ah sudah lah. Lebih baik aku balik ke kelas.
Dan sepulang sekolah. Aku mendengar berita kalau surat itu akan disobek-sobek dan dibakar oleh Gaara. Mendengar itu aku langsung berlari ke arah kelas Gaara. Berharap menemukan kekasihku. Dan tepat! Dia ada disana dengan teman-temannya- eh apa? Teman-temannya? Aduh sial! Bagaimana ini? Mereka pasti akan mengejek ku habis-habisan. Aku langsung membalikan badanku. Dan segera ingin pergi.
"Kenapa?" Suara berat tiba-tiba saja menghampiri telingaku. Aku membalikan badanku menghadap pemilik suara itu.
"Ga.. Gaara.. Ngg .. Hmmm .. Kamu gak akan ngebakar suratnya kan?" Aku berkata dengan jantung yang berdebar kencang. Aduh aku ini bodoh! Aturan aku senang, kan itu berarti Gaara tidak perduli dengan Matsuri. Tapi, kalau dipikir-pikir kasihan juga Matsuri. Cintanya di tolak dengan cara yang kasar. Aku mengerti perasaan Matsuri. Karena aku adalah salah satu perempuan yang pernah mengalami kejadian yang sama.
"Enggak kok." Katanya sambil mengangkat alis sebelahnya. Aku menghela nafas lega.
"Untunglah, ya sudah bye." Aku berlari kecil menjauh dari tempat itu. Untung saja belum.
Hari-hari berlalu. Semakin lama gossip antara Matsuri dengan Gaara makin ber edar. Di tambah lagi dengan berita yang kudapat dari seorang adek kelas dari kelas 5. Dia bilang dia pernah melihat Gaara bermain dengan seorang perempuan. Bercanda maksudnya. Awalnya aku biasa saja, tapi lama-lama setelah mendengar penjelasannya. Aku jadi makin kesal. "Gaara dan perempuan itu bercanda sampai memegang tangan. Memang cuma perempuannya sih yang berusaha memegang tangan Gaara. Tapi kan sama aja!" masih tersimpan kata-kata itu dengan baik. Namun karena aku tidak mau kehilangan Gaara aku berusaha tidak memperdulikan gossip yang menghantuiku.
Dan sekarang aku duduk di bangku kelas 1 SMP. Saat dimana hari yang paling menyakitkan bagi ku maupun Gaara. Ya aku putus. Aku mau mengakhiri hubungan ku dengannya.
Aku harap aku bisa menemukan cinta ku yang sebenarnya.
END OF FLASHBACK
"FOREHEAD!" Aku terbangun dari lamunanku setelah mendengar suara cempreng yang rasanya akan menghancurkan telingaku.
"A.. Apa?" Aku melihat sekeliling ku seperti orang panik.
"Kita sudah sampai." Kata Ino sambil berkacak pinggang. Oh tidak! Aku pasti ketahuan melamun. Aduh pasti Ino akan memaksa ku untuk bercerita tentang masalah ku.
Aku pun keluar dari mobil mewah Ino. Dan berjalan bersama ke arah mall besar. Sepertinya aku harus menikmati waktu ku disini. Toh daripada aku terus tersiksa.
.
.
.
.
"Huaaa! Aku capek!" Aku langsung merebahkan diriku di kasur Ino yang tidak bisa dibilang kecil.
"Hei Sakura! Mandi dulu sana!" Kata Ino sambil menarik tanganku. Dengan malasnya aku langsung berangkat menuju Kamar mandi milik Ino.
_10 menit kemudian_
"Ino aku sudah selesai. Sana mandi." Sekarang gantian aku yang menyuruhnya
"Iya nona Sakura.." Katanya sambil tersenyum jail. Aku terkekeh kecil.
"Habis ini gentian Hinata ya!" Kata ku sambil beranjak duduk di samping Hinata.
"Iya .." Kata Hinata yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Hm? Smsan sama Naruto baka ya?" Tanya ku sambil mengangkat salah satu alis ku.
"Ah? Ah dari mana kau tau?" Tanya Hinata yang sudah mulai memerah wajahnya.
"Iya dong.. Kan aku bisa baca pikiran.. Hehehe" Aku mengedipkan salah satu mataku. Baca pikiran? Yang benar saja. Tidak mungkin aku memiliki kemampuan seperti itu. Kalau Hinata itu sudah pasti tiap malam sms an dengan Naruto. Ya namanya juga baru pacaran hehe.
Kami terdiam. Tidak ada yang bicara.
Hening
2 menit
5 menit
7 menit
Dan keheningan itu pun pecah ketika kami mendengar suara cempreng. Siapa lagi kalau bukan Ino pig?
"Ah! Segarnya! Sekarang gentian kamu Hinata." Aku menengok ke arah Ino yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang dia cepol belum di lepas. Dan handuk putihnya masih bertengger melingkari lehernya.
"Eh Sakura. Temenin aku ambil cemilan yuk!" Ajak Ino yang langsung menarik tanganku.
"Oke.." Aku dan Ino pun berjalan menuruni tangga dan menuju dapur. Aku dan Ino mulai mencari-cari snack di lemari dapur. Jangan tanya, di rumah ini snack sudah seperti bagian dari hidup Ino. Ada banyak macam-macam snack. Mulai dari coklat,keripik kentang,bahkan sekarang aja dia sudah menyiapkan cake untuk ku dan Hinata.
Setelah aku dan Ino mendapat apa yang kami butuhkan kami langsung naik ke kamar lagi. Aku langsung menaruh makanan-makanan itu di atas meja kuning milik Ino. Dan merebahkan diriku dikasur kuningnya. Ah rasanya sungguh nyaman. Habis jalan-jalan selama 5 jam di mall akhirnya aku bisa merasakan nyamannya kasur.
"Hei Sakura jangan norak!" Kata Ino dengan senyuman mengejek.
"Apaan sih! Ganggu aja.." Aku masih nyaman dengan posisiku sekarang. Tidak ingin diganggu sama sekali. Namun tiba-tiba ponsel pink ku berbunyi menandakan adanya sms masuk.
Dengan segera aku melihat sms tersebut.
"From : Gaara ( mobile )
Hah? Gaara? Tumben sms. Aku segera membuka sms tersebut.
From : Gaara ( mobile )
Hai
Ah males. Ujung-ujungnya nanti dia cuma akan bertanya lagi apa. Setelah aku jawab. Dia pasti cuma ber'oh'ria. Aku langsung melempar hp ku ke kasur Ino. Dan duduk menyilang di samping Hinata.
Ino yang sudah tidak sabar langsung menyambar cheese cake yang keliatannya memang enak. Aku dan Hinata hanya bisa menatap Ino dengan datar.
'Dasar tukang makan.' Aku pun ikut mengambil strawberry cheese cake yang memang sengaja di sediakan khusus untukku. Hinata? Dia tentu memilih blueberry cake kesukaanya. Kami menikmati cake sambil menonton film drama favorit kami.
Waktu sudah menunjuk pukul 23.30. Sepertinya aku tidur malam lagi. Aku melihat ke arah Hinata dan Ino yang masih asik dengan ponsel mereka. Merasa sangat lelah. Aku tinggalkan mereka dan pergi tidur duluan.
TBC
Oke oke. Di cerita ini emang belum ada kisah tentang Sasuke. Tapi tenang aja. Aku pasti akan memunculkannya. Ehhehe
Mind to RnR plis?
Kritik dan saran di terima dengan senang hati.. ^_^
Oh ya makasih ya yang udah mau baca fic pertama ku ini. Gomen kalau jelek ^^ Arigatooo
