By : Cherryblossoms

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Gaje dan abal-abalan ==v,jayus,OOC,AU,AR,AH,typo (s)

Rated : T

Pairing : SasuSaku

~ Akhirnya update jugaa ~ hahaha .. lama ya updatenya. Ya ini semua dikarenakan saya adalah orang sibuk #plak! Oke oke langsung aja yaa cekidot ~

.

.

Sakura berjalan sambil menghentakan kakinya dengan kesal. Bagaimana tidak kesal? Sekarang ini, didepan matanya, ia sedang melihat orang yang ia sukai berjalan bersama - sama dengan gadis yang tidak dikenalnya. Dan yang lebih membuatnya kesal, gadis bernama Karin itu MERANGKUL lengan Sasuke sepanjang perjalanan. Ino, Hinata dan Naruto yang melihat kejadian itu tidak tinggal diam. Ino dan Hinata selalu mencoba untuk mengalihkan perhatian Sakura ke hal lain. Sedangkan Naruto berusaha untuk menjauhkan sahabatnya dari gadis berkacamata tersebut. Seharusnya hari ini menjadi hari yang menyenangkan. Hari ini mereka berjalan-jalan di sebuah festival yang diadakan setiap tahun pada malam hari. Biasanya Sakura akan pergi bersenang-senang bersama Ino, Hinata dan Naruto. Namun sekarang, Sakura malah menjadi tidak mood untuk menikmati festival kesukaannya. Dia terus mendengus kesal sepanjang jalan. Dia tidak pernah menyangka kalau pria setampan Sasuke rela di rangkul oleh perempuan seperti dia.

"Um,Sakura. Kita ke sana aja yuk!" Ajak Ino sambil menarik tangan Sakura menjauh dari Sasuke dan Karin. Sakura yang sudah muak menonton pertunjukan yang membuatnya panas hanya pasrah dan mengikuti sahabatnya.

Suasana saat itu sangat ramai. Semua orang berdesak-desakan hanya untuk menikmati festival yang memang megah tersebut. Tanpa disadari, tangan Sakura terlepas dari genggaman Ino.

"Ino! Hinata!" Panggil Sakura di dalam kerumunan yang begitu ramai. Mata emerald Sakura menjelajah ke seluruh tempat, berharap agar menemukan kedua sahabatnya. Namun nihil, ditempat seramai ini butuh waktu lama untuk menumakan mereka.

"Ka .. Kakak.." Seketika itu juga Sakura merasakan ada yang menarik-narik bajunya. Ia pun menengok ke bawah. Matanya terbelalak ketika melihat seorang perempuan berumur sekitar 5 tahun yang sedang menangis. Sakura pun langsung panik.

"Kau kenapa?" Tanya Sakura sambil mengelap air mata anak tersebut.

"Aku tersesat…" Katanya sambil menundukan kepalanya. Badannya bergetar dan ia terus menangis. Sakura pun merasa iba. Namun apa daya, dia sendiri saja sedang terpisah dari sahabatnya. Tapi dia juga tidak bisa meninggalkan anak ini sendirian.

"Ya udah, ikut kakak aja ya." Kata Sakura sambil tersenyum manis. Dia pun menggendong anak tersebut dan berusaha mencari jalan keluar dari kerumunan tersebut. Akhirnya setelah perjuangan yang melelahkan dia pun menaruh anak tersebut di sebuah bangku yang berada di pojokan. Ia menatap anak itu dengan tatapan khawatir. Ia bingung, apa yang harus dilakukan. Ia juga tidak mengenal anak ini.

"Sudah, sudah. Jangan menangis. Kau tidak sendiri." Kata Sakura berusaha menghibur. Sakura pun terus celingak-celinguk mencari bantuan. Ia semakin panik dan gugup. Seumur hidupnya belum pernah ia mengalami hal seperti ini. Lama kelamaan Sakura pun jadi takut. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Ia duduk disamping anak tersebut. Ia melirik ke anak tersebut yang sedang duduk manis. Ia sudah tidak menangis lagi, dan sepertinya gantian Sakura yang akan menangis.

"Hei" Sakura pun menengok ke arah suara. Ia pun kaget ketika mengetahui siapa yang baru saja memanggilnya.

"Sasuke-kun? Kenapa disini?" Tanya Sakura.

"Tidak boleh? Ya sudah." Sasuke pun membalikan badan dan bergegas pergi. Namun Sakura langsung memegang lengannya dan menariknya kembali.

"Bo ,, Boleh kok.. Sasuke-kun, tolong aku.." Ucap Sakura dengan wajah kekanak-kanakan. Sasuke yang melihat wajah Sakura pun jadi merasa sedikit aneh.

"Ada apa?" Tanya Sasuke sambil mengelus kepala Sakura. Sakura yang mendapat perlakuan seperti itu tersentak kaget. Ia tak pernah membayangkan bahwa Sasuke akan melakukan hal seperti itu padanya.

"Ada anak tersesat. Dan aku juga tersesat. Aku harus bagaimana?" Tanya Sakura sambil mengguncangkan badan Sasuke. Sasuke hanya menyeringai dan menatap gadis yang duduk ketakutan disampingnya.

"Tch, kau ini. Sebaiknya cari saja orangtuanya." Kata Sasuke yang langsung memandang ke kerumunan padat yang sedang berlalu lalang di hadapannya.

"Caranya?" Tanya Sakura polos. Sasuke menatap kedua mata emerald milik Sakura, dan menghela nafas. Dengan segera ia pun menghampiri anak tersebut.

"Namamu siapa?" Tanya Sasuke dengan senyuman lembut. Sakura langsung memasang wajah kesal. Sasuke belum pernah memberikan senyum ke padanya. Apalagi senyuman setulus itu.

"Na .. Namaku .. Matsuri." Kata gadis berambut coklat itu.

"Nah,ayo kita cari orangtuamu." Kata Sasuke. Dia menggendong tubuh anak tersebut di atas pundaknya. Sakura menjadi tambah kesal. Atau lebih tepatnya er~ cemburu?

"Sekarang kau cari orangtuamu ya." Kata Sasuke yang mulai melangkah ke kerumunan. Namun ia berhenti dan menengok ke belakang. Ia menatap Sakura yang hanya duduk sendiri. Sasuke pun berjalan ke arah Sakura.

"Hei, kau tidak ikut?" Ucapnya sambil menaikan sebelah alisnya. Sakura hanya menggeleng.

"Kenapa?" Katanya lagi. Dia menatap ke gadis yang sedang ia gendong. Namun sang gadis hanya menaikan bahu tanda tak mengerti.

"Gak apa-apa." Ucap Sakura malas. Sasuke menghela nafas panjang. Lalu dengan cepat dia pun memegang tangan Sakura dan menariknya agar gadis itu mau berdiri.

"Nanti kamu tersesat lagi." Sasuke pun manarik tangan Sakura dan masuk ke dalam kerumunan yang padat. Namun, keadaan yang sangat padat membuat Sakura sulit mengikuti Sasuke. Terkadang Sakura meringis kesakitan karena kakinya yang terinjak-injak dan terkadang juga badannya yang kecil sering bertabrakan dengan orang-orang yang berbadan lebih besar. Sasuke berhenti sebentar dan menyebabkan Sakura bertubrukan dengan punggung Sasuke.

"Auu! Kenapa berhenti sih Sasuke-kun?" Tanya Sakura sambil memegangi hidungnya yang terasa sakit. Pria itu menatap Sakura sebentar. Sakura yang merasa di perhatikan langsung menatap balik pria bermata onyx itu.

"Kenapa?" Tanya Sakura sambil tersenyum hambar. Tiba-tiba suatu hal yang sangat langka atau bisa dibilang tidak akan pernah ada pun muncul. Sasuke merangkul Sakura, ia mendekatkan badan Sakura yang kecil ke badannya. Muka Sakura pun langsung memerah padam. Jantungnya berdebar-debar. Ia sama sekali tidak berani menatap ke arah Sasuke.

.Tiba-tiba terbesit sebuah pikiran di otak Sakura. Dia berpikir bahwa jangan-jangan Sasuke melakukan ini karena dia mempermainkan perasaannya. Dia langsung memandang wajah Sasuke dengan tatapan tidak suka. Lalu melepaskan rangkulan Sasuke yang sebenarnya sangat ia sukai.

"Aku bisa jalan sendiri." Kata Sakura dengan jutek. Sakura pun terdiam menunggu reaksi apa yang akan di lakukan Sasuke. Namun apa yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Pria yang selalu di sebut Sakura sebagai penjual es itu hanya diam. Atau lebih tepatnya dia tidak peduli. Sasuke malah asyik bercanda dan berbincang dengan gadis bernama Matsuri. Sakura yang melihat kejadian itu hanya bisa menatap dengan kecewa. Pikiran-pikiran aneh mulai muncul di otaknya.

Mungkinkah Sasuke menyukai gadis bernama Matsuri ini?

Lalu bagaimana dengan Karin?

Atau dia menyukai Matsuri dan Karin sekaligus?

Ia memejamkan kedua matanya. Berusaha untuk melupakan pikiran-pikiran aneh yang melanda seisi otaknya. Sesaat setelah Sakura membuka matanya kembali dia langsung diam mematung. Sasuke yang dari tadi berjalan bersamanya sudah hilang layaknya di telan bumi. Sakura yang tidak bisa tenang langsung kebingungan. Matanya terus mencari Sasuke. Sambil berusaha berlari di tengah kerumunan ia terus meneriakan nama pria tersebut.

Setelah 2 jam berlalu, Sakura yang merasa sangat lelah memutuskan untuk beristirahat. Keadaan sudah lumayan sepi. Festival memang sudah selesai sekitar 1 jam yang lalu. Sakura berusaha mengatur nafasnya. Ia pun duduk di sebuah batu besar yang terpampang di pinggir jalan. Dia pun meneguk air yang tersisa dari minuman botol yang sempat ia beli. Lalu membuangnya di sembarang tempat. Sakura merasa sangat lelah. Kakinya memar karena terus berjalan di tengah kerumunan, tangannya terasa kaku dan mukanya yang sudah berkeringat membuat Sakura seperti orang tak punya arah tujuan. Sakura menekuk kakinya dan menaruh kepalanya di atas kakinya. Ia sudah menyerah, ia tak tau apa yang harus ia lakukan.

Sakura yang sedang termenung sendiri berhasil dikejutkan oleh sebuah tetesan air yang jatuh di atas kepalanya. Ia mendongak dan menyadari bahwa hujan mulai muncul. Tanpa basa-basi lagi ia berlari ke sebuah pohon. Sakura berlari sekuat tenaga di tengan hujan sambil menahan sakit yang ia rasakan di bagian kakinya. Percuma saja, meski ia sudah sampai di bawah pohon besar itu ia sudah terlanjur basah kuyup. Ia memeluk tubuhnya yang menggigil. Dari kaki sampai ujung kepalanya sudah basah terguyur air hujan. Air hujan pun masih bisa menembus pohon yang memayungi Sakura. Ia pun terduduk lemas dan menyenderkan badannya di batang pohon. Sesekali ia memandang ke seluruh arah, ia takut jika ia bertemu dengan orang yang aneh atau membahayakan. Apalagi ia sedang sendiri dan sama sekali tidak bertenaga.

Ia memandang lurus dengan tatapan lemas. Samar-samar ia melihat seseorang berlari ke arahnya. Ia membuka matanya sedikit lebih lebar dari sebelumnya. Matanya pun mulai terbuka lebar ketika melihat dengan jelas siapa orang tersebut.

"Kamu ngapain sih disini?" Kata orang tersebut dengan wajah yang tak dapat digambarkan. Sakura hanya memandangi orang yang menggenggam payung berwarna putih dan mengenakan jaket hitam itu. Orang itu pun merendahkan tubuhnya sehingga sejajar dengan tubuh Sakura. Orang itu pun menghela nafas pelan.

"Bikin khawatir aja!" Ucap orang itu dengan sedikit membentak. Sakura yang baru saja dibentak hanya bisa tertunduk lemas.

"Gomen Sasuke-kun.." Kata Sakura dengan suara pelan. Orang yang bernama Sasuke itu sudah dapat membaca kondisi Sakura dan tidak bisa berkomentar. Tanpa basa-basi lagi, Sasuke langsung membantu Sakura untuk berdiri. Namun apa daya, Sakura yang sudah lemas dan bermuka pucat sama sekali tidak bisa berdiri.

"Sasuke-kun. Kamu balik aja sana. Aku istirahat disini dulu." Ucap Sakura dengan lemas. Sasuke memandang gadis itu dengan tatapan heran. Sesaat setelah mereka di selimuti aura keheningan, Sasuke langsung melepas jaketnya dan memakaikannya ke badan Sakura. Sakura menatap Sasuke dengan tatapan penuh tanya. Sasuke menatap wajah Sakura dengan tatapan datar. Lalu dia menggenggam tangan Sakura dengan erat. Si empunya tangan pun terbelalak kaget.

"Sasuke-kun kena-" Ucapan Sakura pun terhenti ketika menyadari dirinya sudah berada di atas punggung Sasuke. Wajah Sakura pun sudah berubah menjadi merah.

"Sasuke-kun.." Sakura mulai merasakan badannya lebih lemah dari sebelumnya. Rasa hangat yang ia rasakan memaksanya untuk menutup mata. Sampai akhirnya matanya tertutup dan tertidur di punggung Sasuke. Sasuke memalingkan wajahnya ke arah Sakura. Ia pandangi wajah gadis yang berada di pundaknya. Ia bisa merasakan bahwa badan Sakura memang panas. Ia memalingkan wajahnya ke depan dan berjalan menembus hujan yang turun begitu deras.

.

.

.

"Sudah jam 11. Sakura dan Sasuke dimana ya?" Ucap seorang gadis berambut pirang yang sedang memakan kue. Begitu juga Hinata dan naruto yang khawatir akan keadaan kedua sahabatnya. Namun berbeda dengan Karin yang hanya asik dengan handphonenya.

"Hahahah! Dasar anak ini ada-ada saja!" Teriak Karin dengan nada riang. Ia tertawa terbahak-bahak sambil membalas seluruh sms yang berada di handphonenya. Naruto, Hinata dan Ino hanya bisa menatapnya dengan sebal.

"Hei kau ini! Sakura dan Sasuke belum kembali! Kenapa kau malah senang hah?" Bentak Ino dengan nada yang mengguncang. Karin yang merasa di bentak pun kaget. Lalu ia menyeringai penuh dengan aura licik. Ino yang melihatnya menjadi tambah marah.

"Kau pikir aku peduli dengan gadis berambut pink itu? Kalau Sasuke tentu aku peduli. Kenapa kamu gak urusin pacar kamu aja hah? Siapa tau dia sedang bersenang-senang dengan perempuan lain." Kata Karin dengan wajah mengejek. Hinata yang sudah tau akan keadaan Ino langsung memegang tangan Ino. Gadis itu pun menatap ke arah sahabatnya yang memiliki muka teramat polos. Ino memang tidak bisa marah kalau sudah menatap wajah Hinata. Ia menghela nafas panjang dan kembali duduk di samping Hinata. Karin pun kembali ke layar handphonenya.

"Hei, kenapa kau tidak pergi? Ini rumah Sasuke, bukan rumah mu! Mengerti?" Sekarang gantian Naruto yang sudah meledak. Dia memandang gadis itu dengan tatapan penuh kebencian. Ia tak percaya kalau Sasuke bisa menerima seseorang seperti dia untuk memeluknya. Karin hanya menghela nafas dan menatap Naruto. Lalu mengangkat kedua bahunya dan kembali pada layar handphone. Keadaan disitu semakin panas. Ino dan Naruto yang sedang mencoba bersabar dan Hinata yang ketakutan jika terjadi sesuatu yang buruk.

BRAK!

Semua orang yang sedang berada di ruangan itu pun menengok ke arah pintu yang terbuka. Mereka semua pun langsung tersenyum ketika melihat bahwa Sasuke dan Sakura sudah kembali. Namun, tidak seluruhnya melegakan. Seluruh orang masih menatap mereka dan diam. Sasuke yang sudah basah kuyup dan begitu juga Sakura. Dan lebihnya lagi, yang membuat mereka bingung adalah karena Sakura berada di punggung Sasuke. Atau lebih tepatnya sedang di gendong.

"Sasu-kun~ Kau kembali~." Karin yang melihat Sasuke kembali langsung berlari ke arahnya. Gadis itu tersenyum menatap Sasuke. Namun memasang tampang benci ketika melihat Sakura.

"Ck, kasihan sekali Saku~. Kamu sakit ya?" Ucap Karin dengan nada lembut. Ia pun mengulurkan tangannya bersiap untuk memegang jidat Sakura.

PLAK!

Tamparan Sasuke pun mendarat di tangan Karin dengan keras. Sasuke menatap Karin dengan deathglare.

"Au! Sasu-kun sakit~ Kenapa kau melakukan itu padaku?" Tanya Karin. Sasuke langsung mendengus kesal. Ia menyingkirkan badan Karin dari hadapannya.

"Jangan sentuh dia!" Bentak Sasuke.

"Tapi Sasu-kun."

"Minggir." Ucap Sasuke dingin. Naruto, Ino dan Hinata yang menonton adegan tersebut cekikikan. Mereka menatap Karin berbarengan dengan wajah mengejek.

"Rasain kau! Dasar wanita gak tau diri!" Bentak Ino yang langsung kembali pada kuenya. Naruto dan Hinata memilih untuk diam. Karin masih berdiri di depan pintu pun tercengang. Gadis itu pun langsung berlari keluar rumah Sasuke dan hilang entah kemana. ( setan gitu? -_-)

.

.

.

Pria itu meletakan Sakura dengan perlahan-lahan di tempat tidurnya. Lalu menutupi badannya yang basah dengan selimut. Ia berjalan menuju pintu. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara dari Sakura.

"Ahh. Sa.. Suke-kun?" Tanya gadis itu sambil mengucek-ucek matanya. Ia menatap pria itu sebentar. Lalu matanya menjalajah ke seluruh ruangan. Matanya mulai terbuka lebar dan kesadarannya mulai terkumpul.

"Aku dimana? Dan kenapa kamu basah seperti itu?" Tanya Sakura dengan panik. Sasuke membalikan badan dan menatap gadis itu. Mata onyx dan emerald pun bertemu.

"Kau tau, semenjak aku mengenalmu. Hidupku jadi mimpi buruk. Kau itu pembawa sial." Ucap Sasuke dengan dingin, ia kembali berjalan keluar ruangan dan menutup pintu dengan kencang. Sakura yang masih duduk di sebuah tempat tidur tercengang melihat Sasuke yang begitu dingin.

SAKURA POV

Aku masih diam 1000 bahasa. Jantungku terasa sakit. Perasaan yang dulu pernah aku rasakan kembali melandaku.

Kau itu pembawa sial

Kata-kata itu masih menancap di pikiranku. Perlahan-lahan air mata yang berusaha ku bendung pun jatuh mengalir di pipiku. Untuk yang kedua kalinya, Sasuke berhasil membuatku menangis. Apa benar aku sudah menjadi beban untuknya? Apa aku seburuk itu? Kepalaku terasa sangat sakit. Aku menatap keluar jendela. Di tengah kegelapan yang menyelimutiku. Badanku yang masih terasa lemas sangat menggangguku. Kupeluk badanku yang terasa panas. Dan aku terisak untuk yang kesekian kalinya. Aku jadi teringat sesuatu. Sasuke bilang ia sudah memiliki seorang gadis di hatinya. Apa itu Karin? Dan bukan aku? Hawa dingin mulai mengelilingiku. Angin yang berhembus kencang menembus jendela dan menyerbu tubuhku. Jika benar aku ini pengganggu di kehidupannya. Apa aku harus benar-benar pergi?

TOK TOK TOK

Suara ketukan pintu pun terdengar, dan sukses membuatku kaget. Aku pun menengok untuk melihat siapa orang di balik pintu tersebut.

"Ma.. Masuk." Ucap ku dengan pelan. Dan ternyata itu adalah Ino dan Hinata.

"Sakura, kau tidak apa-apa?" Ucap Ino. Kedua sahabatku itu menatapku dengan tatapan khawatir. Aku menganggukan kepalaku pelan. Dan berusaha untuk tersenyum meski dengan perasaan pahit.

"Saku-chan, kenapa menangis?" Tanya Hinata dengan suara lembutnya. Aku tersenyum lagi, dan menggelengkan kepalaku. Aku kembali menatap ke luar melalui jendela. Aku berusaha dan terus berusaha untuk tidak menangis di depan sahabatku. Aku sama sekali tidak mau membuat mereka khawatir. Namun kata-kata tajam yang keluar dari mulut Sasuke masih menancap dalam di pikiranku. Air mataku pun mengalir lagi. Rasa sakit yang kurasakan memaksa ku untuk mengeluarkan suara isakan yang sangat ku benci. Aku tau pasti, Ino dan Hinata pasti sedang bingung karena aku yang secara tiba-tiba menangis didepan mereka. Aku pun bisa merasakan tangan mereka yang mengelus lembut punggungku, dan berusaha menenangkan ku.

"Sakura, kau tau kami akan selalu ada dan selalu membantumu. Kau bisa ceritakan masalahmu. Kami akan coba bantu." Ucap Ino dengan lembut. Saat itu juga, aku merasa sangat beruntung mempunyai sahabat seperti mereka. Aku membalikan badanku kearah mereka. Dan mengelap air mataku. Lalu merangku kedua sahabatku.

"Thanks Ino, thanks Hinata." Ucapku dengan suara serak. Sontak pintu pun terbuka, kami bertiga langsung mengalihkan pandangan kami.

"Kalian harus pulang. Ini sudah malam." Ucap seorang yang sedang berdiri didepan pintu. Ia menatapku dengan tatapan dingin dan tajam. Ino dan Hinata langsung mengangguk dan tersenyum ke arahku. Lalu meninggalkan ku dan si manusia es. Aku menelan ludahku karena ketakutan. Mungkinkah dia akan memaki ku lagi dengan kata-kata setannya lagi?

Sesaat setelah Ino dan Hinata pergi, dia berjalan dan menarik sebuah bangku yang terletak tak jauh dari kasur yang sedang ku duduki. Ia pun duduk di depanku dan menatapku. Aku memejamkan mataku agar tidak melihat matanya yang begitu menyakitkan. Sontak aku bisa merasakan sesuatu yang aneh. Aku mendongakan kepalaku. Aku terdiam memandangi pria yang sedang mengelus kepalaku lembut. Ia tersenyum ke arahku. Oh Tuhan, aku tidak mengerti dengannya. Apa yang sebenarnya dia rasakan. Sedetik kemudian dia melepaskan sentuhan lembutnya dan menghela nafas.

"Aku akan menelfon Tou san untuk menjemputmu." Ucap Sasuke sembari mengeluarkan HPnya. Memandangi layar kecil itu dengan seksama untuk mencari nomer Tou san. Aku menggigit bibir bawahku menahan rasa malu dan bahagia yang membara. Aku yang memandangi Sasuke sambil tersenyum aneh sepertinya sudah terlihat seperti orang gila.

"Halo Tou san. Ini aku Sasuke." Ucap Sasuke membalas suara di sebrang sana.

"Sakura sedang ada di rumah kita. Bisa kau jemput?"

"Apa? Apa maksudmu?" Seketika itu juga aku yang sedari tadi memandanginya terkejut.

"Hei To-" Sasuke langsung menjauhkan handphonenya dari telinganya. Lalu menatap layar handphonenya dengan tatapan kesal. Ia pun mendengus kesal dan menatapku dengan tatapan tajam.

"Ke.. Kenapa?" Tanyaku berharap mendapat jawaban yang melegakan.

"Tou san tidak mau menjemputmu. Dia akan menjemputmu besok." Ucap Sasuke sambil melangkahkan kakinya keluar kamar.

Aku langsung membisu. Jadi, malam ini aku akan tinggal bersama Sasuke. Di rumah sebesar ini. Hanya berdua. Aduh! Bagaimana jika terjadi sesuatu yang aneh padaku. Hei Sakura! Ini bukan waktu yang tepat untuk berpikiran yang aneh-aneh. Jantungku terus berdetak kencang.

"Hei." Panggilan itu sukses membuat ku tambah panik.

"I .. Iya?" Tanya ku dengan gugup.

"Sebaiknya kau mandi sekarang." Ucapnya setelah melangkah keluar kamar.

Aku pun berjalan keluar menyusul Sasuke. Mataku menjelajah ke seluruh ruangan yang begitu besar. Tampaknya Sasuke adalah orang yang kaya. Sementara mataku melihat-lihat seisi ruangan, Sasuke sedang mencari-cari sesuatu dari lemarinya. Aku langsung mendekatinya dan memperhatikannya. Tiba-tiba dia melempar sebuah baju dan handuk kearahku. Untungnya aku bisa menangkapnya meski dengan keadaan yang aneh.

"Kamar mandi ada di sebelah sana." Ucapnya sambil menunjuk ke arah pintu di pojokan. Aku hanya mengangguk dan berjalan kearah pintu.

~ 10 menit ~

Aku melangkahkan kakiku keluar kamar mandi. Rasanya memang nyaman kalau habis mandi. Aku melihat kearah jam dinding yang berada tak jauh dariku. Ya ampun! Sudah jam 1 pagi. Dengan langkah kecil aku berjalan ke arah kamar dan menjemur handuk yang baru saja kupakai. Aku merasa ada yang aneh. Tapi apa ya? Aku berpikir sejenak. Oh iya! Sasuke dimana ya? Aku berjalan ke luar dan mencari nya kemana mana. Tapi aku tetap tidak bisa menemukannya. Aku menengok ke luar. Sepertinya ada orang yang sedang duduk di depan sana. Astaga! Apa dia hantu? Ah Sakura! Dia pasti Sasuke. Aku tidak akan membiarkan aib ku terlihat lagi di depan dia. Tidak akan pernah! Aku berjalan ke depan. Atau lebih tepatnya taman.

"Sasu-kun?" Panggilku yang masih berdiri didepan pintu. Dia sama sekali tidak merespon.

"Boleh aku duduk di sampingmu?" Tanyaku lagi.

"Hn"

Aku melangkahkan kakiku menuju kursi kayu dan duduk di samping Sasuke. Aku menatap ke arah taman. Taman keluarga Uchiha memang terlihat sangat indah. Banyak sekali bunga yang ditanam. Seluruh tanaman ditata rapi sedemikian rupa. Bahkan terdapat sebuah air mancur di tengah taman. Suasananya sangatlah tenang.

"Sasuke. Kau tidak ngantuk?" Ucapku memecah suasana.

"Tidak." Ucapnya singkat. Aku mendengus kesal karena mendapat respon yang tidak menyenangkan. Namun aku belum menyerah.

"Sasuke, Karin itu siapa?" Tanyaku lagi. Kebetulan aku memang sangat penasaran akan gadis berkacamata yang tiba-tiba datang di kisah percintaanku.

"Teman." Ucapnya .

"Bohong." Ucapku tidak percaya.

"Lalu kau pikir siapa?" Tanya nya sambil mengangkat sebelah alisnya.

"Pacar mungkin?" Jawabku dengan polos. Sasuke hanya menatap ku sebentar tanpa menjawab apapun.

"Tidak mungkin aku berpacaran dengannya." Ucapnya dengan suara berat.

"Tapi kau suka kan sama Karin?" Tanyaku lagi.

"Tidak mungkin." Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.

"SERIUS? Kau serius Sasuke? Kau tidak menyukainya?" Tanyaku meyakinkan. Sekali lagi dia menggelengkan kepalanya dengan tenang. Ah rasanya sangat senang. Ternyata Sasuke tidak menyukainya. Terima kasih Tuhan ~ Aku menatap ke langit. Langit yang begitu gelap dan terasan tenang membuatku nyaman. Terkadang angin semilir berhembus kearah kami yang sedang diam. Hatiku terasa sangat lega. Luka yang pernah terbesit serasa hilang entah kemana.

"Kau suka langit malam?" Tanya Sasuke tiba-tiba.

"Iya. Suka sekali!" Ucapku sambil tersenyum. Baru pertama ini Sasuke bertanya hal pribadi kepadaku.

"Kenapa?"

"Karena langit malam itu terlihat sangat tenang. Apalagi kalau ada bintang, jadi makin indah! Dah lebihnya lagi.." Aku menghentikan penjelasanku dan menatap ke arah Sasuke.

"Apa?" Tanyanya. Aku tertawa kecil dan menatap langit lagi.

"Lebihnya lagi.. Akan terasa sempurna jika ditonton bersama orang yang kita sukai, apalagi kita cintai.." Ucapku sembari tersenyum malu kearahnya. Kuharap dia mengerti apa maksudku berbicara seperti ini. Dan tau apa? Dia merespon dengan senyuman. Wah apakah dia sudah mulai mengerti akan perasaanku?

"Hha .. Kau menyukai ku Haruno?" Tanya nya dengan senyum mengejek. Ah aku agak tidak suka dengan pandangan seperti itu.

"Ah suka? Tidak mungkin! Aku gak mungkin suka sama penjual es! Apalagi setelah apa yang sudah kau lakukan ataupun yang sudah kau katakan padaku!" Ucapku sambil mendengus kesal. Ya sesuai dengan kebiasaanku. Kalau kesal terkadang aku memanyunkan bibirku. Dan itu terjadi disaat seperti ini.

"Gak usah manyun." Ucapnya sambil memukul mulutku pelan. Aku yang gugup hanya bisa tersenyum.

"Kau gak lapar?" Tanya Sasuke kepadaku.

"Hm lumayan. Heheh." Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Sasuke pun berdiri dari tempat duduk nya dan merapikan bajunya.

"Kalau gitu aku akan beli makanan." Ucapnya santai. Sedetik kemudian aku langsung memegang tangannya dan menghentikan langkahnya.

"Kau tidak usah beli! Aku bisa bikin makanan untuk kita berdua kok!" Ucapku dengan nada riang.

"Memangnya kau bisa memasak?" Tanyanya dengan wajah tak percaya.

"Tentu! Aku akan berusaha sekuat tenaga!" Aku tertawa kecil. Sungguh aku tak percaya aku bisa sedekat ini dengannya.

"Ck, terserah." Sasuke pun kembali ke tempa duduknya dan menyandarkan punggungnya. Aku pun langsung berlari ke dalam atau tepatnya ke arah dapur. Aku mungkin tidak bisa memasak. Tapi kalau hanya memanggang atau menggoreng aku masih bisa. Ehm mungkin juga tidak. Ah biarlah, yang penting ini kesempatan bagus untuk berudaan dengan Sasuke.

Setelah aku sampai di dapur, aku langsung membuka kulkas. Dan yang kudapatkan hanyalah dan telur. Ah apa yang bisa kubuat? Hm lebih baik aku goreng sajalah dagingnya. Dengan cepat aku langsung menyediakan segala macam bahan yang aku butuhkan. Lalu segera aku goreng daging tersebut.

Kring .. Kring .. Kring .. Kring

Suara telfon tiba-tiba berbunyi dari arah kamar. Aku pun segera berlari untuk mengambil handphoneku.

Ino calling

Dengan cepat aku memencet tombol hijau dan mendekatkan layar handphone di telingaku.

"Halo Saku.. Kau sedang apa?"

"Astaga Ino, ini masih sangat pagi. Kenapa harus telfon sekarang?" Tanyaku kaget.

"Hehe gomen Saku. Aku cuma merasa khawatir sama kamu. Kamu gak apa-apa kan?"

"Hehe, jadi begitu. Iya aku gak apa-apa kok. Tenang saja." Kami pun berbincang-bincang selama kurang lebih 10 menit.

"Bye Ino. Selamat pagi hehe." Aku langsung memencet tombol merah. Tiba-tiba saja aku merasa aneh. Rasanya ada yang terlupakan. Tapi apa ya?

Oh Astaga! Dagingnya masih di goreng. Aku langsung berlari ke arah dapur secepat mungkin. Sesampainya di dapur, tercium bau asap yang sangat menyengat. Lalu aku langsung menengok ke arah daging yang sudah tak berdaya. Aduh, bagaimana ini. Si penjual es itu pasti akan mengejek ku lagi.

"Ada apa?" Suara berat yang baru saja mendarat di telingaku telah sukses membuat sekujur badan ku merinding. Aku membalikan badanku dan menatapnya dengan takut.

"Eng ano Sasuke. Aku gak sengaja.. Hehe."

"Tidak sengaja apa?" Tanya nya lagi.

"Eng dagingnya… Gosong .. Heheh.." Ucapku sambil menggaruk kepala ku yang tidak gatal.

Sasuke sama sekali tidak merespon. Ia memperhatikan daging itu dengan seksama. Dan menghela nafas.

"Kau ini seorang perempuan tapi tidak bisa masak." Ucapnya dingin. Ah aku tidak percaya dia masih bisa berkata seperti itu. Lalu Sasuke langsung menuju ke kulkas dan mengecek seluruh isinya.

Lalu dia membuka sebuah laci besar dan mengambil kecap. Dan juga mengambil beberapa telur dari kulkas. Dia juga mengambil nasi. Apakah dia akan membuat sesuatu?

"Hm kau mau bikin apa?" Tanya dengan polos.

"Kita tidak punya pilihan. Kita hanya bisa membuat yang sederhana." Ucapnya santai. Kalau dilihat dari bahan-bahannya sepertinya dia akan membuat.. Nasi goreng eh?

"Kalau kau tidak mau bantu jangan disini."

"Eh? Tentu aku mau bantu!" Ucapku semangat.

~ !0 menit ~

Akhirnya makanan pun sudah jadi. Ya seperti yang kubilang tadi. Kami hanya membuat nasi goreng dengan telur. Berhubung daging nya sudah hilang, jadi pakai telur saja. Aku langsung menaruh piring diatas meja dan menyediakan minuman.

"Selamat makan!" Ucapku dengan lantang.

"Hn." Respon Sasuke seperti biasanya.

Aku pun mencicipi makanan yang dibuat oleh kami berdua. Meski Sasuke membuat 90% bagian, tetap saja aku termasuk dalam proses pembuatannya.

"Wah! Enak Sasuke! Kau pintar memasak ya!" Pujiku. Rasanya memang sangat lezat. Tak kusangka Sasuke bisa masak. Ya setidaknya tidak seperti ku.

Acara makan pun telah selesai, meski tanpa pembicaraan. Tapi bagiku, makan berdua bersama Sasuke sudah sangat menyenangkan!

Kami pun berjalan ke arah ruang tv. Sasuke langsung menekan salah satu tombol di remote tv dan terus mencari siaran tv yang ia sukai. Jantungku berdebar-debar. Aku duduk dengan Sasuke, hanya pandangi wajahnya yang indah. Sungguh, dia adalah laki-laki paling tampan. Tiba-tiba sebuah pemikiran melayang di otaku. Aku merasa aneh. Aku sudah sering di maki-maki oleh Sasuke dengan kata-katanya yang tajam bagai pedang. Tapi kenapa aku gak bisa benci sama Sasuke? Ah menyusahkan saja!

"Hei." Panggilnya.

"Hm?" Jawabku singkat.

"Kau mau nonton apa?" Tanyanya sambil memandangku.

"Tidak tau." Aku menaikan kedua bahuku.

"Kau tidak ngantuk Sasuke?" Tanyaku.

"Hm belom." Ucapnya datar.

"Oh.."

"Kau yakin?" Tanyaku memastikan.

"Berisik." Jawabnya singkat.

"Maaf." Cih aku kan cuma bertanya. Apa salahnya. Dasar pelit.

"Kalau kau ngantuk tidur saja." Ya tebakan dia memang benar. Aku memang sangat mengantuk. Tapi ini adalah kesempatan yang bagus untuk berduaan dengan Sasuke. Kesempatan ini tidak boleh di sia-siakan!

"Sudah sana." Ucapnya sembari menggerakan kepalanya tanda mengusirku. Cih dasar, dia tidak bisa membaca pikiranku. Dengan malas aku pun berjalan menuju ke ruangan yang sempat menjadi tempatku tidur. Aku membuka pintunya dan menekan tombol lampu. Aku berjalan tergopoh gopoh menuju tempat tidur dan langsung membiarkan tubuhku jatuh dikasur yang empuk.

Aku memandangi langit-langit kamar. Aku pun tersenyum untuk ke sekian kalinya. Aku masih bisa membayangkan kejadian hari ini. Menurutku Sasuke sudah mulai baik padaku. Apakah dia mulai mau mengerti tentang ku. Aku sama sekali tidak bisa melupakan kejadian hari ini. Aku memang gadis yang beruntung. Hehe


~Uyee! Akhirnya selese jugaaa… Maap ya kalau masih ada banyak kesalahan.

Oh ya, untuk senpai-senpai yang baik hati mohon di review ya :3 kritik dan saran diterima

~ terima kasih ~