By : Cherryblossoms

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Gaje dan abal-abalan ==v,jayus,OOC,AU,AR,AH,typo (s)

Rated : T

Pairing : SasuSaku

~Weee Akhirnya! Update juga :D~ Lama banget ya? Hahahahaha! *kick* Oh ya betewe~ Maap ya ceritanya abal banget .. Ini hanya muntahan pikiran saya yang lagi depresi Xd abis lagi sibuk latihan joget-joget disekolah *Tak usah ditanya* Jadi semua serba numpuk. Pr dan kawan-kawannya selalu menghantui ==" Jadinya tepar deh ~ Yah tapi inilah hasilnya.. Maap kalau anda kurang puas *sujud~ Cekidotdot~


"Sakura.." Sebuah suara berat memanggilku. Ku arahkan kepalaku ke semua tempat, demi mencari asal suara tersebut. Tak lama kemudian aku melihat seorang lelaki yang dibalut baju biru berjalan mendekatiku, ia menggenggam sebatang mawar yang sangat indah. Setelah beberapa langkah, ia pun berhenti.

"Kau siapa?" Tanya ku penasaran. Sebuah topi biru yang menutupi seluruh kepalanya membuatku tak dapat melihat siapa dia. Dan anehnya ia tak merespon sama sekali.

"Hei, kau ini siapa?" Tanya ku lagi. Akhirnya ia membuka topi itu. Dan terlihatlah sebuah rambut bergaya aneh-tapi-unik, mata hitamnya menatapku dengan lembut, dan senyuman terukir manis di wajahnya.

"Sasuke-kun? Kenapa kau ada disini?" Kaget. Satu kata yang bisa kukatakan pada momen seperti ini. Lagi-lagi, makhluk itu tak menjawab. Ia malah berjalan mendekat, sampai akhirnya jarak kami begitu dekat.

Deg.. Deg.. Deg..

Jantungku.. Berdetak kencang. Berhentilah berdetak kau jantung yang menyusahkan! -err maksudku, berhentilah berdetak dengan kencang! Kembalilah normal!

"Ini.."

Eh?

"Bunga ini untukmu.."

Apa?

"Bunga secantik ini, hanya untukmu seorang.."

Kok bisa?

Ia menarik tanganku, dan memberi bunga cantik itu tepat di atas tanganku. Setelah beberapa lama aku 'cengo' dengan mulut yang terbuka, ia mulai mendekatkan mukanya ke arahku. Oh Kami-sama.. Apakah, ini akan menjadi first kiss ku? Dengan makhluk ciptaan mu yang terindah ini? Dengar perlahan tapi pasti, aku memejamkan mataku dan mempersiapkan mentalku…

10 centi….

5 centi…

3 centi…

.

.

"HEI BANGUN GADIS PEMALAS!"

"WAAAA!" Seketika itu aku terjungklang kaget karena sebuah suara yang menggema kencang ditelingaku.

Oh? Itu hanya mimpi ternyata…

Mimpi Indah…

Sangat indah…

Yang paling indah…

APA? Itu.. HANYA MIMPI? Jadi.. Aku tak akan dicium oleh Sasuke?

"TIDAAAAAAKKKK…..!" Aku berteriak dengan kencang. Mengeluarkan seluruh kekecewaanku. Dan ya, aku tak teriakan ku itu mengaung diseluruh ruangan.

"Hei, bodoh! Kau ini kenapa sih?" Ucap Sasuke ikut berteriak. Ia memukul kepalaku dengan keras. Aku langsung menatapnya dengan tatapan setan seseram yang kubisa. Tapi,

Hhhiiii~ Sepertinya wajah penjual es ini lebih seram dari milikku.

"KAU!" Teringat akan mimpiku yang gagal, aku pun mengacungkan jari telunjukku ke arah si penjual es yang sedang mengeluarkan aura amarah yang menyeramkan.

"Kau menghancurkan mimpiku! Kau tau tidak, sudah berapa lama aku menantikan mimpi seindah itu! Pada akhirnya, aku sang Haruno Sakura HAMPIR mencium Uchiha Sasuke! Kau bodoh!" Omelku seketika.

Eh?

Krik Krik

Aduh! Mati aku!

Apakah aku baru saja berkata,

'Aku sang Haruno Sakura HAMPIR mencium Uchiha Sasuke!'

Dan yang sedang ku ajak bicara adalah…

"Jadi… Kau memimpikanku, Haruno?" Dengan berat aku mulai memalingkan wajahku ke arah bocah bernama UCHIHA SASUKE.

GLEK!

Tolong aku kami-sama..

"Jadi.. Kau mau mendapat ciuman dariku, hah?" Pertanyaan bodoh. Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku.

"Aku tidak akan memimpikan penjual es seperti mu!" Ucapku berusaha menyakinkan. Sebuah cengiran jahil tiba-tiba saja muncul. Entah akunya yang aneh, atau apa, tapi aku jadi merasa takut. Ia mulai duduk di kasur, dan mendekatkan mukanya ke mukaku.

Errghhh! Jangan! Jangan sampai memerah! Muka ku tak boleh memerah!

Adegan ini seperti di mimpi!

Tak sampai satu menit, ternyata wajah kami sudah begitu dekat. Sampai-sampai aku bisa merasakan nafasnya di kulit wajahku. Tangannya yang dingin setia memegang daguku yang bergetar. Oh Kami-sama, terimakasih..

.

.

"Pppfffttt.."

EH?

"Kau pikir aku akan menciummu?" Bocah berambut ayam itu segera menjauhkan wajahnya dari wajahku.

"Hahah! Coba lihat wajahmu sekarang! Seperti orang bodoh saja! Sudah cepat, kau mandi saja sana." Ia pun langsung berjalan dengan tawaan yang menghiasi wajahnya, dan akhirnya lelaki itu pun menghilang bersamaan dengan suara pintu yang tertutup.

"Apa…" Aku masih terdiam. Aku yang masih sulit untuk mencerna kejadian tadi hanya bisa tercengang layaknya orang aneh.

"Tidak! Tidak Sakura!" Segera kugelengkan kepalaku. Aku tak mungkin kan dicium Sasuke? Tak mungkin kan? Huh sudahlah Sakura. Teruslah bermimpi..

Dengan malas aku turun dari ranjang yang sangat nyaman, dan kutatap jam dinding yang bertengger.

06.40

Hah? Sudah jam enam lewat dua puluh menit? Haduh! Aku bisa terlambat lagi! Dengan cepat aku langsung berlari menuju kamar mandi.

'Sialan kau Sasuke! Kenapa kau tak mau membangunkanku!'


~SKIP TIME~ Break time~


"APAAA? DEMI APA?" Teriakan seorang wanita berambut blonde telah menggetarkan seisi kantin. Aku yang langsung salting pun langsung menatap Ino dengan tatapan 'akan-ku-bunuh-kau'. Mengerti arti pandanganku, Ino pun langsung mengatup mulutnya dengan kedua tangan dan tersenyum ke arah seisi kantin.

"Kau… Benar-benar tidur bersama Sasuke?" Tanya Ino yang masih tak percaya. Oh, aku menyesal telah menceritakan momen indahku semalam.

"Aduh! Ino-pig! Sudah beratus-ratus kali,"

"Kau baru bilang 3 kali Sakura.." Ucap Ten-ten memutuskan pembicaraanku.

"Iya terserah.. Sudah tiga kali aku bilang! Aku tidak tidur bersama Sasuke! Aku cuma tidur di RUMAH Sasuke! Rumah! Kau tau rumah kan? Yang bahasa Inggrisnya House! RUMAH!" Ucapku dengan kesal. Dasar anak yang telmi!

"Ah, selo aja dong.. Lihat tuh, urat mu keluar semua.. Hiii~ Aku hanya terlalu bersemangat mendengar cerita 'si penjual es dan si jidat lebar…" Gadis itu menghela nafas lemas.

PLAK!

"Aduh!" Seketika itu juga tamparan dariku telah mendarat mulus di pipi kanan Ino.

"Enak saja! Kenapa harus ada jidat lebarnya hah?" Protes ku tak terima. Ten-ten, Hinata, dan Temari yang melihat kejadian tadi hanya bisa tertawa geli. Tau sendirilah cirikhas ketawa mereka masing-masing.

Ten-ten 'Hahahahaha…'

Temari 'Bwkakakakakkaka'

Dan Hinata 'Hihihihihihi…'

GLEK!

Hm oke yang tadi itu menyeramkan… Tertawa Hinata ku akui memang seram. Meski aku tau, Hinata itu adalah orang yang baik hati, suka menolong, lembut, ramah tamah, rajin, sopan, dan berwibawa. Tapi tetap, gaya tertawanya yang lembut, dan pelan, membuatku terbayang-bayang akan hantu.

"Ehem.." Tiba-tiba sebuah deheman memecah keheninganku. Ku tatap lelaki yang sekarang berada persis di belakangku.

"Mau apa kau kesini?" Tanyaku pada seorang lelaki berambut durian yang sedang menatap Hinata -pacarnya- dengan penuh cengiran.

"Aku.. Ingin pinjam Hinata sebentar~. Boleh yaaa~~."

"Ya ya, ambil saja sana. Tapi kau harus cepat pergi.." Ucapku ketus.

"Arigatou..!" Naruto pun langsung menggandeng tangan Hinata, dan berlari menjauh dari kami.

"Oke, masalah sudah beres. Sekarang, ayo kita bahas si penjual es lagi."

"…"

"…"

"…"

Ah? Ada apa? Kenapa semua terdiam? Memang apa yang terjadi?

Dengan perlahan tapi pasti, Ino menunjuk sesuatu yang sepertinya ada di belakangku. Dengan rasa penasaran, aku membalikan badanku,

"WHA? Sasuke-kun? Sejak kapan kau disana? Eh maksudku, disini?" Ucapku salah tingkah. Dan Ironisnya, bukannya membantu, tapi teman-temanku malah tertawa diam-diam. Dasar tak tau diri.

"Boleh aku pinjam Sakura sebentar?" Meminjamku? Tunggu dulu..

Tadi Naruto bilang, ia 'meminjam Hinata' karena mau istirahat bersama. Berarti..

Pffttt.. Sasuke kekanak-kanakan sekali sih. Masa hanya karena ingin istirahat denganku, ia perlu berkata seperti itu? Hahahaa…

"Ya ya tentu saja. Silahkan nikmati waktu anda.." Ucap Ino menggoda.

"Ih Ino-pig! Tutup mulutmu!" Ucapku dengan senyuman malu. Tanpa basa-basi Sasuke pun menarik ku menjauh.

.

.

.

Tak berapa lama kami berjalan bersama, akhirnya kami sampai di tempat yang sepi. Jangan-jangan ia mau menciumku? Sama seperti kisah di mimpiku? WAHH!

"Kau tunggu sebentar disini.." Aku hanya menyanggupinya dengan anggukan. Aku pun duduk di sebuah bangku tua yang terletak tak jauh dariku.

Pikiranku sudah penuh dengan apa yang akan dilakukan oleh Sasuke. Bermacam-macam pikiran sudah menghantuiku. Jantungku berdetak tak karuan.

"Ah kau sudah kem-"

Oh Kami-sama!

Sekarang dia sedang menggenggam sebatang mawar ditangannya. Ia berjalan mendekat kearahku. Ini sama seperti di mimpiku.

"Sakura... Mau kah kau,"

"Iya aku mau!" Ucapku penuh antusias. Hei, bukankah dia akan bertanya 'Sakura mau kah kau menjadi pacarku?' ya kan? Kalau begitu jawaban ku sudah pasti iya!

"Hei aku belum selesai bertanya!" Ucapnya ketus.

"Tolong jangan hancurkan rencanaku dong!"

"Hehe.. Aku tau kau,"

"Jangan berpikir yang macam-macam!" Kurasa sekarang ia marah. Lho? Tapi kenapa?

"Aku tidak sedang menyatakan cinta padamu!"

DEG!

"Eh? Jadi kau mau apa?" Tanyaku gugup. Aduh, kenapa kau harus sebodoh ini sih Sakura!

"Aku mau, kau membantuku. Malam ini, aku akan menyatakan cinta pada seorang gadis. Karena kau adalah gadis yang paling ku kenal, jadi kau harus membantuku!"

Aku HANCUR..

"Kenapa.. Kau harus.."

Jadi.. Itu berarti.. Hari ini, malam ini.. Sasuke akan menyatakan cinta pada seorang gadis? Dan itu berarti..

"Kenapa harus aku yang membantu mu?" Ucapku tak terima.

"Lho memangnya kenapa? Bukannya kau ini suka menolong?" Tanya nya dengan wajah kesal.

"Aku kan menyukaimu!" Diam. Itulah hal yang pertama kali Sasuke lakukan saat mendengar hal yang sudah kupendam selama ini.

"Kau-"

"Iya! Aku menyukaimu! Jadi sebaiknya, kau cari perempuan lain saja untuk membantumu!" Ku lipat kedua tanganku di depan dada ku, dan menjulurkan lidah ku kearahnya.

PUK!

"Auw! Kenapa kau menjitakku 'ayam'?" Tanyaku kesakitan.

"Aku gak mau tau! Pokoknya, kau harus membantuku! Bagaimana pun caranya!" Ucapnya dengan nada tinggi.

"Memangnya perempuan itu siapa sih?"

"Kau tak perlu tau! Yang jelas, aku sangat menyukainya! Makanya, aku ingin rencanaku itu berhasil!" Ergh! Dasar penjual es yang berhati es dan bersuara es! Berkulit es dan bermata es! Dasar pangeran es!

"Kau-"

"Ano.."

Ah! Siapa sih yang sudah mengganggu pertengkaran ku dengan pria menyebalkan ini! Ku palingkan wajah ku ke sumber suara. Dan seorang gadis berambut merah berdiri disitu dengan tatapan khawatir.

"Tayuya?" Ucap Sasuke terkejut ketika melihat gadis itu. Entah apa yang terjadi, tapi terlihatlah sudah wajah Sasuke yang langsung memerah. Oh, jadi gadis ini yang sudah mencuri hati Sasuke? Seorang gadis berambut merah, yang sama seperti Karin, dan dengan mata hitam -agak kecolatan- yang sama dengan si pangeran es ini. Hm, dia kelihatan tomboy, tapi dia kelihatannya juga baik.

"Sasuke-kun, kau kenapa? Kau apakan Sakura?" Gadis itu mulai berjalan mendekat, dan tanpa kusangka, ia malah mengelus rambutku. Dia pikir, dia itu siapa? Mentang-mentang disukai Sasuke!

"Aku.. Aku tak berbuat apapun!" Ucap Sasuke menyelak. Cih dasar pembohong kau!

"Sakura-chan, kau tak apa kan?" Tanyanya dengan lembut. Kenapa orang ini bisa tau namaku ya? Aneh sekali?

"Ha? Iya aku gak apa-apa kok.." Ucapku 'agak' malas.

"Sudah ya! Aku malas bertatap mata dengan lelaki seperti mu!" Ku tepis tangan anak bernama Tayuya ini, dan segera pergi meninggalkan mereka. Yah, biarkan mereka menikmati waktu bersama!

.

.

.

"HAH? DEMI APA?" Teriak seorang gadis dengan kencangnya. Dan kalian pasti sudah tau siapa dia.

"DEMI CINTA!" Teriak Ten-ten membalas. Gadis yang berteriak tadi -alias Ino- langsung menggembungkan kedua pipinya.

"Tapi, kau serius kalau Sasuke akan menyatakan cinta pada seorang gadis?" Tanya Ino misterius. Karena malas, akupun hanya menjawab pertanyaan itu dengan anggukan kecil.

"Hah.. Pupus sudah harapanku untuk menyatukan mu.. Haaahh.." Ino menghela nafas dan memasang tampang menangis. Hei! Bukannya aku yang harusnya menangis?

"Ne, mungkin saja yang dimaksud Sasuke-kun itu kau Sakura-chan.." Hibur Hinata. Haha ingin tertawa rasanya.

"Tak mungkin lha.. Kau tau kan, si Tayuya itu kan cantik jelita.." Ucapku putus asa. Yah, mau bagaimana lagi? Toh, aku tak bisa memaksa Sasuke kan?

Ku sandarkan punggungku ke kuris empuk yang menurutku nyaman. Ah rasanya ingin menghilang saja dari bumi ini. Mungkin nanti aku bisa bertemu dengan lelaki yang lebih baik, lebih tampan, dan lebih punya hati daripada si ayam es itu.

KRING KRING KRING

Akhirnya bel istirahat pun sudah berbunyi. Yah, waktunya belajar lagi. Ke tempat dimana semua anak di paksa untuk menerima semua pelajaran yang -beh- menyusahkan. Tak ingin kena marah karena telat masuk, aku dan kawan-kawanku langsung berlari di dalam kerumunan anak-anak. Tubrukan pun tak dapat dihindari. Banyak anak-anak yang sudah berdecak kesal karena aku tabrak, yah setidaknya ini kebiasanku. Jadi mereka sudah terbiasa dengan ini semua. Sama seperti ku yang sudah biasa disakiti Sasuke…


~SKIP TIME~


"Aku pulang!" Akhirnya, aku pulang juga kerumah ku. Ah, hari ini aku memang sial. Hanya karena harus mengerjakan tugas dirumah teman, aku jadi pulang semalam ini? Aku kan kangen rumah! Dan kalau dipikir-pikir lagi, kenapa Sasuke harus membawa ku kerumahnya ketika aku pingsan? Oh iya! Sekarang Sasuke sudah punya pacar baru. Jadi untuk apa aku memikirkannya lagi?

Aku berjalan tergopoh-gopoh ke teras ku. Dengan kasar ku lepas kedua sepatuku dan ku lempar entah kemana. Dan dengan susah payah ku coba melepas kaos kaki ku yang terasa menempel di kaki.

"Jadi, kau mau kan?"

Hm? Sepertinya aku mendengar sesuatu? Dengan berjinjit aku berjalan ke arah pintu rumahku, dan menempelkan kupingku mendekat ke pintu.

"Tayuya, kau mau kan?" Ah, suara dingin itu lagi. Dan Tayuya? Jadi gadis itu sedang berada di rumah ku? Cih, seenaknya saja Sasuke membawa tamu!

"Tapi bagaimana dengan Sakura?" Suara lembut itu mengalir lagi di telingaku. Argh! Menyebalkan!

"Sudah, kau jangan pikirkan dulu tentang dia. Jadi.. Kau mau kan?" Apa? Jadi Sasuke menyampingkanku? Jadi si gadis Tayuya itu lebih berharga dariku! Fine Sasuke!

"Hm, baiklah…"

BRAK!

Cukup. Aku sudah cukup mendengar pembicaraan mereka. Jadi, mereka sudah jadian? Hanya itu kan? Kalau begitu, penderitaan ku berakhir.

"Sakura? Sejak.. Sejak kapan kau disana?" Sasuke sepertinya terlihat kaget sekali? Kenapa? Tidak suka kalau ada yang mengganggu kisah cintanya?

"Kau tak perlu tau!" Balasku ketus. Ku tatap gadis berambut merah itu dengan tajam, setajam yang ku bisa. Perlahan tapi pasti aku berjalan kearah pasangan baru itu. Yah, mereka memang terlihat sempurna. Kujulurkan tanganku ke arah Tayuya dan memberinya senyum sebisa ku.

"Eh? Ke.. Kenapa Sakura?" Tanyanya gugup. Tak mau basa-basi aku pun meraih tangan kanannya.

"Selamat ya.. Kau menang…" Ucapku tanpa pikir panjang. Ku tatap Sasuke yang masih tercengang, ku genggam tangan Sasuke, dan tersenyum pula kearahnya. Setelah selesai 'berjabat tangan', aku berjalan ke arah kamar ku, mengunci pintu, dan membaringkan tubuhku di atas kasur. Ku tatap langit-langit kamarku. Tanpa terasa mataku ku yang kuyakin tak kemasukan apapun, tiba-tiba terasa perih. Ah! Jangan lah! Jangan menangis! Masa hanya karena si Sasuke itu, kau jadi lemah begini? Terlalu kau Sakura…

"Sakura! Buka pintunya!" Seseorang berteriak di depan pintu sambil menggedor-gedor pintuku. Berisik banget sih!

"Diam kau ayam!" Ucapku marah. Ku ambil selimutku sehingga menutupi seluruh badanku. Ku ambil headset ku dan menyetel lagu kesukaan ku. Sehingga suara Sasuke yang terus memanggilku tak terdengar. Ku pejamkan mata ku dan mendengarkan musik yang hanya berupa melody. Lembut dan damai. Setidaknya hanya ini yang bisa menenangkan pikiran dan perasaan ku yang sedang kacau.

"Huh.. Sasuke-kun dan Tayuya jadian ya?" Gurau ku tiba-tiba. Terbayang sudah di pikiranku, tentang dua sejoli yang baru menjalin cinta hari ini. Cocok. Satu kata yang bisa mendeskripsikan mereka. Sasuke itu, memang orang yang jahat. Ia tak punya perasaan. Ia pasti sudah tau kalau aku menyukainya. Cuma yang namanya orang tak berperasaan, mana mau ia mengerti? Cih, menyusahkan!

'Kring… Kring… Kring…'

Tiba-tiba saja sebuah suara dari handphone ku berbunyi. Dengan malasnya ku angkat panggilan itu.

"Halo?" Ucapku mendesah. Namun entah telingaku yang rusak atau apa, tapi yang kudengar adalah sebuah isakan kecil.

"Ha.. Halo?" Merasa takut aku pun bangkit dari tidurku.

"Sa.. Sakura.." Huh, syukurlah itu bukan sesuatu-yang-seram-. Namun lebih tepatnya itu suara Ino-pig. Eh? Kok dia menangis?

"Ino? Kau kenapa?" Tanyaku kaget.

"Bisakah.. Kau kerumahku? Aku akan.. Membicarakannya di sini.." Ucap Ino dengan isakan hampir disetiap kata-katanya.

"Eh? Ba.. Baiklah…" Segera ku matikan handphoneku. Dan bergerak menuju lemari besar. Ku ambil jaket yang berwarna senada dengan rambutku, dan segera mengambil tas pink ku. Ku buka pintu kamarku, dan melongo sedikit. Ah, ternyata pasangan itu sudah pergi.

Ku langkahkan kaki ku ke arah garasi, dan mengenakan sepatu kesukaan ku. Kebetulan orangtuaku sedang tidak ada, dan berhubung Sasuke sedang 'berbahagia' dengan Tayuya, aku pun mengunci pintunya. Tak mau membuat Ino menunggu, aku segera melangkahkan kaki ku ke pagar.

"Sakura-chan?" ku palingkan wajahku kearah orang yang baru saja memanggilku. Ah, Tayuya dan Sasuke… Ternyata mereka belum pergi. Tapi sepertinya Tayuya akan segera pulang. Buktinya Sasuke sedang menaiki motornya. Oh, diantar pulang ya?

"Kau mau kemana?" Tanya Sasuke padaku. Pandangannya 'agak' melunak daripada yang tadi. Hm entahlah? Mungkin hanya bayangan ku saja.

"Kerumah Ino…" Jawabku santai. Sasuke mengerutkan kedua alisnya.

"Semalam ini?" Tanyanya lagi. Aku pun mengangguk.

"Masuklah… Wanita tak boleh jalan sendirian.." Ucapnya sambil mengarahkan bola matanya ke arah rumahku.

"Kau juga sebaiknya masuklah… Tak baik pacaran malam-malam!" Sindirku dengan kesal. Tayuya yang kutatap tajam hanya bisa tertunduk takut. Padahal dia lebih tua, tapi jadi dia yang takut.

Sasuke, yang merasa ku sindir pun langsung tercengang. Namun itu tak bertahan lama. Ia pun menghela nafas.

"Ayo naik Tayuya.." Dugaan ku benar. Mereka mau kencan dimalam seperti ini. Dasar tak tau diri. Gadis itu pun segera menaiki motor Sasuke, dan tersenyum sedih kearahku. Dan tak lama kemudian mereka pun sudah hilang menjauh dari ku.

.

.

.

"Waaaaa!" Tangisan seorang gadis berambut blonde pun terdengar semakin kencang.

"Ino! Ayolah! Jangan menangis terlalu kencang!" Ucapku sembari menutup telingaku. Ku tatap Ino yang sepertinya tak memperdulikan ocehanku, masih terus menangis. Tapi Ino pantas menangis seperti itu. Bayangkan saja! Ia melihat Sai, pacarnya, pulang bersama dengan seorang gadis cantik yang tidak dikenal Ino. Dan ia bilang, Sai terlihat sangat bahagia.

"Ino, ku yakin kau salah liat. Mungkin saja, gadis itu adalah teman lama Sai?" Ucapku berusaha menghibur.

"Ino-chan.. Sabar ya.. Tenang, Sai tak mungkin menghianatimu." Hinata yang juga diundang kerumah Ino, ikut berusaha menenangkan sahabatnya.

Dan tiga jam pun berlalu hanya untuk menenangkannya. Dan sekarang Ino tampak sudah tenang. Aku dan Hinata yang sangat kelelahan pun hanya bisa tersenyum melihat Ino yang sudah ceria kembali.

"Ino, maaf ya.. Tapi aku harus pulang sekarang. Tak ada orang dirumahku.. Aku pamit ya. Dadaaa" Ucapku sembari berjalan keluar kamarnya.

.

.

'Krik.. Krik.. Krik..'

Suara kumpulan jangkrik terdengar jelas dikupingku. Menemaniku berjalan dikegelapan. Berhubung hari sudah malam, jarang sekali ada kendaraan yang lewat, jadi suasan pun terasa sangat sepi. Mungkin tak sesepi kelihatannya. Kalau saja pikiranku bisa terdengar, mungkin akan terasa berisik. Ya dikarenakan pikiranku yang sedang penuh, dan serasa ingin meledak. Aku tak bisa berhenti memikirkan Sasuke. Tak terasa, aku sudah berada di gang rumahku. Namun, tanpa ku sadari, seseorang sedang duduk disamping motornya. Aku pun berjalan mendekat kearahnya.

"Kenapa kau disini?" Ucapku ketus.

"Pagarnya dikunci. Jadi aku menunggumu." Orang pemilik nama Ucihha Sasuke ini berbicara dengan suara yang memelas.

"Oh, jadi kau sudah selesai berkencan? Cepat sekali.." ucapku sembari berjalan kearah pagar.

"Sakura.." Suara berat itu kembali menghantui pikiranku.

"Sakura.." Ia memanggil ku untuk yang kedua kali. Namun, aku yang tak mau berhubungan apapun lagi dengannya, hanya bisa diam.

Tak lama kemudian, Sasuke berjalan mendekat dan menggenggam tanganku. Aku yang masih terkejut menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Kau mau apa?" Ucapku memberanikan diri. Untuk beberapa lama Sasuke tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya bisa menundukan kepalanya.

"Ku tanya, kau mau apa?" Tanya ku lagi kepadanya. Namun sekali lagi, aku tak mendapat respon darinya. Menyusahkan!

"Maaf…" Suaranya melembut. Hanya itu yang kudapat.

"Maafkan aku.." Ucapnya lagi.

"Maaf untuk apa?"

Sasuke menaikan kepalanya kearahku. Ia melepaskan salah satu genggamannya dan mengambil sesuatu dari belakang punggungnya.

Dan seketika itu juga, aku terbelalak ketika melihat apa yang ia genggam.

'Setangkai bunga mawar'

Mimpi indah itu pun sekali lagi berputar di pikiranku. Kupejamkan mataku berharap agar mimpi itu hilang.

"Sasuke, kau ini kenapa sih? Kenapa kau jadi aneh?" Semprotku tiba-tiba. Sasuke tak menjawab apapun. Ia malah melontarkan senyuman manis.

Aku dan dia terdiam bersama. Tak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Angin dingin berhembus membelai rambut ku dan rambutnya. Bunyi jangkrik bahkan serasa berhenti. Hanya cahaya remang yang membantuku agar dapat melihat wajah tampannya. Wajah dingin yang disukai semua wanita. Wajah yang hampir tak pernah membentuk sebuah senyuman. Wajah yang selalu membuatku salah tingkah. Dan, wajah orang yang kusukai.

"Percakapan yang kau dengar tadi, tidak seperti yang kau bayangkan." Ucap Sasuke memecah keheningan.

"Aku hanya menawarkan Tayuya untuk pulang bersama. Karena hari sudah malam, dan sebagai pria, aku harus melindungi wanita. Tayuya yang takut melukai perasaan mu pun menolak. Dan akhirnya aku harus menyingkirkanmu." Mata onyx itupun menatapku dengan lembut. Bunga yang sedari tadi ia genggam ditangannya ia pindahkan ke tanganku. Ia pun kembali 'memeluk' tanganku dengan tangannya.

"Maaf aku telah menyakitimu.." Bingung. Ya, aku bingung. Aku tak mengerti apa yang terjadi. Namun entah kenapa, aku tau Sasuke tidak bercanda. Ia sedang bicara serius.

"Aku tak perduli kalau kau masih marah padaku. Tapi aku hanya ingin kau tau,"

"Sasu-"

"Gadis yang kubicarakan saat itu bukanlah Tayuya, tapi gadis bernama Haruno Sakura. Gadis yang ingin kuberikan bunga mawar ini bukanlah Tayuya, tapi gadis bernama Haruno Sakura. Dan gadis yang kusukai bukanlah Tayuya, tapi gadis bernama Haruno Sakura."

Ini.. Ini pasti mimpi.. Ya, aku pasti bermimpi. Sasuke, tak mungkin berkata seperti itu. ia tak akan menyukaiku. Ini semua bohong!

"Maaf Sakura, tapi orang yang kusukai bukan Tayuya, tapi kau. Aku ingin kau membantuku saat itu, semata-mata hanya untuk melatih mentalku saat aku menyatakan cinta padamu. Dan kalau kau bertanya kenapa mukaku merah saat Tayuya datang, itu karena aku malu, karena Tayuya lah satu-satunya orang yang tau perasaanku padamu." Suara lembut itu seakan telah mencekik jantungku. Entah perasaan apa yang muncul. Rasa lega, bingung, sedih, semuanya bercampur. Aku terdiam seribu bahasa. Bibirku seakan tak mau bergerak sesentipun. Dadaku tak bisa berhenti berdetak kencang. Keringat dingin mulai bercucuran.

Wajah Sasuke yang berwarna putih pucat seketika berubah agak merah. Dengan susah payah aku berusaha tersenyum. Perlahan tapi pasti, Sasuke mendekatkan tubuhku ke dalam pelukannya. Semilir angin yang dingin serasa tak menusuk lagi. Ia mendekatkan mulutnya ke telingaku, bersiap membisikan sesuatu.

"Haruno Sakura, mau kah kau menjadi-"

"Iya aku mau.." Ucapku memutuskan kalimatnya. Aku yakin, jawaban yang akan kudapat akan berbeda dari yang waktu itu.

"Terimakasih.." Bisiknya pelan ditelingaku. Aku yang masih berada dalam pelukannya pun kembali tersenyum bahagia.

.

.

.

"APA? DEMI APA?" Kalau kalian merasa déjà vu, aku pun juga merasakannya. Ya, gadis berambut blonde itu kembali berteriak, setelah aku selesai menceritakan pengalamanku kemarin.

"Ino! Bisa tidak kau berhenti mengucapkan, 'demi apa'?" Celetuk Ten-ten kesal.

"Iya maap." Balas Ino singkat.

"Sakura, kau benar-benar pacaran dengan Sasuke?" Tanya Ten-ten to-the-point. Aku pun langsung menganggukan kepala dengan semangat. Kejadian semalam sama sekali tak bisa kulupakan. Dan tak akan pernah kulupakan!

"Ehem.." Sebuah deheman tiba-tiba saja terdengar. Ku palingkan wajahku kebelakang dan mendapati sesosok lelaki dengan wajah tampannya sedang berdiri dengan muka datarnya.

"Aku pinjam Sakura.." Ucapnya tanpa basa-basi. Semua teman-temanku langsung mengangguk dan cekikikan melihatku yang langsung salah tingkah.

Uchiha Sasuke, seorang lelaki yang sekarang telah berstatus kekasihku itu pun menarik ku menjauh dari kerumunan.

Kira-kira dia akan melakukan apa ya? Apakah dia akan memberikan ku kado? Atau dia akan mengajak ku kesuatu tempat yang sudah ia sediakan? Atau.. Ia akan mengajak ku jalan-jalan di taman? KYAA aku tak tahan!

"Jangan pikir yang macam-macam.." Celetuknya tiba-tiba. Senyuman jahil yang sekarang sudah sering kulihat menghiasi wajah nya. Aku hanya bisa tertawa geli mendengarnya. Yah apapun itu, aku tak peduli. Yang penting, aku dan Sasuke sudah bahagia.

.

.

.

FIN


Waaaa! Apaan inih? Ancur amat? Ampun senpaaii .. Jangan marahi akuu~ *dilempar telor* Ne~ Betewe maap yak kalau fic ini benar-benar abal, dan mudah ditebak.. *nangis dipojokan* Well, saatnya mengucapkan ...

Terimakasih~~

Review Please :3