Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre: Romance, Hurt
Warning : Abal,Typo (s), OCC
Pairing : SasuHina
Don't Like-Don't Read
Missing You
.
.
.
Kau merasakan pergerakan dari sisimu. Tanganmu yang kau pakai untuk merengkuh gadis tersebut diangkat olehnya dan diletakkan hati-hati diatas kasur. Membuatmu merasakan hampa dari sebelahmu.
Kau membuka matamu, mengintip. Mengitip wanita yang sedang duduk di depan meja rias. Kau tidak melihat apa yang sedang ia lakukan, tetapi kau tahu apa yang ia lakukan. Kau tahu. Ia pasti sedang menatap foto sahabatmu itu sambil kembali menangis.
Kau memejamkan matamu erat saat mendengar isakan tangis dari wanita tersebut. Mendengarnya sama saja seperti membakar telingamu.
Kau tahu, apapun yang kau lakukan pasti tetap membuatnya mengingat sahabatnya yang notabene merupakan mantan kekasihnya. Kau tahu bagaimana istrimu itu mencintai Naruto, sahabatmu itu.
Kau juga tahu bagaimana rasanya ditinggalkan kekasih untuk selama-lamanya. Kau tahu itu. Rasanya seperti tercabik-cabik, seperti kehilangan jantung dari dalam tubuh. Kau mengutuk dirimu sendiri. Kau tahu sesaknya perasaan Hinata, tetapi kenapa kau tidak bisa menghiburnya? Kenapa kau tidak bisa membahagiakannya.
Kau kembali mendengar isakan Hinata yang membesar. Kau mengintip kecil dan melihat Hinata sedang mengeluarkan benda-benda kecil yang berada di sebuah kotak kusam.
Kau menggeram tertahan. Kenapa kau tidak bisa menghapus airmata kepedihannya itu? Frustasimu.
Kau kembali memejamkan matamu. Berusaha tidak menghiraukan isakannya yang memotong-potong jantungmu itu. Tetapi entah kenapa kau malah mengingat kenanganmu bersama sahabat bodohmu itu.
"Kau pasti akan kaget mendengar ini, Teme." Ucap sahabatmu itu dengan girang. Kau mengangkat sebelah alismu, heran. "Apa? Kau diangkat menjadi ketua kelas?" tanyamu dengan nada meremehkan.
Sahabatmu itu, Naruto, hanya menyengir kuda. "Lebih dasyat dari itu." Ucapnya penuh mesteri. Kau menatapnya seakan tak peduli. Walau dalam hatimu kau sangat penasaran. "Apa?" tanyamu sambil meminum soda kaleng milikmu.
Ia menghela nafas perlahan lalu kembali menatapmu dalam. "Aku…" ucapnya menggantungkan kalimat. "… memiliki kekasih."
Bruussh! "Uhuk..uhuk!" batukmu setelah memuncratkan minumanmu ke arah Naruto dan membuat lelaki tersebut basah. Ia terlihat kesal saat mengelap tubuhnya yang berlumur soda .
"Sudah kuduga. Seharusnya aku tidak memberitahukannya kepadamu."
Kau menggelengkan kepalamu, berusaha menghilangkan kenangan tersebut. Kenangan yang hanya membuatmu semakin sesak. Membuatmu semakin menyadari bahwa Hinata tidak mencintaimu.
Kau kembali menatap istrimu yang sepertinya tidak menyadari kalau dirimu sudah terjaga. Kau biarkan istrimu asyik dengan kenangannya. Membiarkannya menangis sembari tersenyum kecil karena melihat barang-barang lusuh tersebut.
Kau berharap. Suatu saat nanti kau bisa menghapus kepedihan dan kesengsaraan yang dirasakan istrimu. Kau bisa menghapus segala kesedihan dan keputusasaan istrimu dan melihatnya tersenyum bahagia.
Ya, hanya berharap. Hanya itu yang bisa kau lakukan. Tak bisa melakukan hal lebih selai berangan untuk istrimu .
Kau merutuki dirimu sendiri. Kenapa kau tidak bisa menjadi suami yang baik? Kenapa kau tidak bisa menjadi sahabat yang baik? Kenapa kau tidak bisa menjadi manusia yang baik?
Kembali terdengar suara isakan Hinata. Kupingmu memanas. Ingin sekali kau langsung bangkit dari tempat tidurmu dan memeluknya untuk membuat kepedihannya berkurang.
Tetapi egomu tetap membuatmu tak beranjak. Tak menghampiri gadismu.
Kau meremas bed cover yang masih menyelimuti tubuh atletismu itu. Menyesali tindakan bodohmu yang selalu menuruti ego Uchiha.
Kini kau melihat Hinata berjalan menghampiri jendela kecil yang berada tidak jauh dari kasur milik kalian. Matanya yang sayup itu terlihat sangat jelas, membuat semua orang melihatnya ikut merasakan kepedihan yang dirasakan Hinata.
Kau lihat ia menggigit bibir mungilnya. Irisnya menerawang jauh entah kemana. Ujung bibirnya menyingungkan senyuman kecil lalu digantikan oleh senyum suram lagi. Kau yakin, ia pasti sedang mengingat kenangan indah yang menyakitkan hatinya.
Ia kembali menangis. Kau meremas bed cover lagi, lebih erat. Menahan mati-matian dirimu sendiri agar tidak mengganggu Hinata yang sibuk dengan kenangannya.
Tetapi tidak berhasil. Kau sudah tidak kuat. Kau sudah tidak sanggup melihat airmata kepedihan miliknya lagi. Dengan segera kau bangkit dari kasurmu dan langsung memeluknya dari belakang, berusaha menenangkan. Walau kau tahu itu semua sia-sia.
"Kau sudah bangun dari tadi?" ucapmu berbasa-basi. Berusaha menyingkirkan segala kenangannya bersama Naruto. Berusaha menyingkirkan kepedihan Hinata.
"Ya. Sasuke-kun? Sejak kapan bangun?" tanyanya balik kepadamu.
Kau tersenyum kecil, "Baru saja." Ucapmu berbohong sambil mencium singkat lehernya, berusaha mencium aroma Hinata. Kau tidak mungkin mengatakan kalau kau sudah bangun sedari tadi dan memperhatikan segala kegiatannya tadi, menangis dan menangis.
Kalian berdua terdiam. Ya, untuk kalian berdua lebih baik seperti ini dahulu. Sunyi. Kau menyibukan dirimu dengan pikiranmu yang kembali terbayangan kenanganmu bersama friendenemy-mu.
"Kau mau tahu bagaimana cara menghentikan tangisan kekasihmu?" ucapnya tiba-tiba. Kau menguap malas. "Untuk apa? Mendapat nilai A+ dikelas Matematika?" sindirmu sinis sembari kembali menekuni bacaanmu.
"Kau pasti akan berterima kasih padaku suatu saat karena ini." Ucapnya dengan PD. Kau hanya meliriknya sejenak lalu bergumam kecil, "Tidak berguna."
Naruto menghela nafas dengan terputus-putus lalu menatap matamu dengan lekat, membuatmu yang sedang membaca menjadi tidak nyaman. "Ya, ya. Jadi bagaimana cara, Dobe?" ucapmu akhirnya.
Ia tersenyum penuh kemenangan lalu mencondongkan tubuhnya kearahmu. "Mencium bibirnya." Ucapnya dengan serius. Kau membelakkan matanya. "hah?" tanyamu cengo. Merasa tidak mengerti apa yang dikatakan Dobe bodoh itu.
Ia terlihat mengerucutkan bibirnya, kesal. "Masa' tidak mengerti? Perlu kuberi contoh?" ucapnya asal sambil mencondongkan bibirnya mendekati bibirmu. Paaak!
"Auch! Berhenti memukulku dengan buku, Teme!"
Kau merasakan tangan Hinata mengganggam tanganmu. Entah kenapa sensasi dingin mengalir dari tangan mungilnya, membuatmu perih.
Kau lepaskan pelukanmu perlahan sembari memutar bahu kecilnya. Matamu menatap iris lavendernya dalam-dalam. Kau temukan kepedihan, kesengsaraan, kesedihan didalam mata indah miliknya.
Kau menutup onyx-mu dan mendekatkan wajahmu ke arahnya. Kau tempelkan bibirmu ke arah Hinata.
Kau merasakan sesak menjalar di tubuhmu. Rasa bersalah menusuk jantungmu.
Ini salah. Ia seharusnya bukan menjadi milikmu. Tetapi kenapa bibir ini tidak mau berhenti? Kenapa bibir ini terus menuntut?
Kau merasakan rasa asin di sela ciumanmu. Kau mengutuk dirimu sendiri. Banci macam apa kau ini? Bisa-bisanya kau menangis di depan wanita itu.
Kau mendorong Hinata menjauh darimu dengan perlahan. Takut menyakiti hatinya dan hatimu saja. Kau mengalihkan pandanganmu dari Hinata. Takut ia melihat air matamu yang benar-benar menyebalkan ini.
"Hari ini hari ke-100. Pergilah dan temui dirinya. Aku tahu kau sangat merindukannya." Ucapmu sembari membalikkan badan lagi. Enggan melihat istrimu yang wajahnya terlihat terpuruk itu.
Kau menaiki ranjangmu tanpa menolehkan pandanganmu ke arahnya, walau kau dapat merasakan tataoan istrimu yang menusuk rusukmu. "Aku tidak apa-apa. Pergilah, Hinata. Kau tak perlu melupakkannya hanya karenaku. Karena, sekarang ia hanya bisa hidup di dalam kenanganmu. Kalau kau juga melupakkannya, ia akan–"
Kau menutupi seluruh badanmu dengan selimut. Membiarkan suaramu terdengar samar.
"–mati."
.
.
.
Kau menuruni ranjangmu setelah yakin Hinata sudah pergi ke makam Naruto. Kau turun kelantai satu dan keluar lewat belakang. Merefresingkan dirimu di taman belakang milik rumahmu yang dipenuhi rumput hijau dan bunga-bunga yang di atur oleh istrimu.
Kau hirup udara dalam-dalam. Pikiranmu berkelibat dengan kejadian 4 bulan lalu. Kematian sahabatmu plus kekasih istrimu.
Tak ada sedetikpun terlepas dari ingatanmu. Kedatangannya dan kematiannya seakan terjadi begitu cepat Bahkan waktu tak bisa mengatasinya.
Kau membaringkan tubuhmu di bawah pohon besar yang tidak terlalu rindang. Tangan kananmu kau jadikan bantalan kepalamu, sedangkan tangan kirimu terangkat ke atas, seakan ingin menggengam langit.
Langit masih belum terlalu terang sehingga kau masih bisa melihat awan yang bergerak di atas dengan jelas tanpa terganggu terik matahari.
Kau memejamkan matamu dan menurunkan tangan kirimu ke sisimu. Membiarkan kenangan itu terulang lagi.
.
"Kau ingin kembali ke keluargamu?" Tanyamu sembari menaikkan alismu, heran dengan keputusan sahabatmu itu. Sudah hampir 3 tahun sahabatmu itu pergi dari keluarganya yang kaya raya itu, tetapi kenapa tiba-tiba ia ingin kembali?
Sahabatmu itu hanya menyandarkan dirinya di kursi dengan sedikit terhentak. "Kau, kan, tahu aku akan menikah bulan depan. Jadi aku harus meminta restu dan menyiapkan semuanya." Ucapnya sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya.
"Lalu? Bagaimana dengan kekasih barumu itu?" tanyanya dengan penasaran. Kau memencet remote tv dengan cuek. "Sudah putus."
Tak ada respon darinya. Ia memang sudah terbiasa dengan sifatmu yang gonta-ganti pacar.
"Kau benar-benar akan menikah?" tanyamu tiba-tiba dengan nada tidak yakin. Bukan tidak yakin kalau dobe itu akan siap menjalani kehidupan pernikahan. Tetapi kau tidak yakin kalau kau sanggup melihatnya menikah dihadapanmu bersama gadis yang kau cintai.
Naruto kembali memasukkan handphonenya ke saku. "Kau tidak mau kutinggal, ya?" ucapnya sambil menggoda, membuatmu hampir saja melemparnya ke jendela appartementmu yang berada di lantai 22 ini.
Kau mendengus lalu kembali terdiam. Malas berbicara atau tidak mendapat topic untuk mengalihkan pembicaraan, kaupun tidak tahu.
Kau berdiri dari sofa dan berjalan perlahan menuju kulkas. Setiap langkah yang kau buat selalu disertai dengan nama Hinata. Nama gadis yang bahkan tidak pernah mencintaimu sama sekali, tetapi gadis yang mencintai sahabatmu setengah mati.
Kalian berdua mengenal Hinata semenjak bekerja di perusahaan ayahmu. Kau tidak tahu bagaimana Hinata masuk kerja di perusahaan Uchiha, tetapi kau ingat sekali bagaimana Naruto memohon kepadamu untuk bekerja diperusahaan ayahmu untuk belajar mandiri.
Pertamanya kau hanya tertawa, lelaki bodoh seperti Naruto mana mungkin diterima di perusahaan besar milik ayahmu itu. Tetapi mungkin karena mukjizat atau memang soal tes kerja yang terlalu mudah, Narutopun bekerja satu perusahaan denganmu.
Kau mencintai Hinata pada pandangan yang pertama. Hal konyol yang pernah kau tertawakan, tetapi akhirnya kau alami.
Kau selalu mengejarnya, walau tidak terlihat. Kau selalu memperhatikannya. Setiap gerak-geriknya, setiap kegiatannya, setiap tarikan nafasnya, semua terekam di benakmu.
Tetapi saat kau sedang berjalan bersama Naruto, Hinata malah mendatangin kalian berdua dengan pipi yang merona dan menyatakan perasaannya. Terhadap Naruto.
Kau kesal, benci, marah, cemburu. Tapi kau tidak bisa melakukan apapun. Kau mengutuk sikap egoismu yang tiba-tiba menghilang. Coba saja sikap egoismu muncul saat itu, mungkin kau akan menarik HInata menjauh, menciumnya, dan menjadikannya pacar secara paksa. Lalu ia akan jatuh cinta padamu dengan sendirinya.
Tetapi tidak bisa. Lelaki yang ditembak HInata bukanlah orang asing. Tetapi ia adalah sahabatmu. Sahabat yang kau benci sekaligus kau sayang. Sayang dalam arti saudara.
Kau biarkan mereka semakin dekat dan menjalin hubungan sebagai kekasih. Kau biarkan hatimu tercabik. Didalam hatimu, kau hanya berkata 'Sabar. Sebentar lagi.'
Tetapi sebentar lagi itu menurutmu seperti berabad-abad. Perih semakin menggorogotimu. Merasa tidak kuat dengan semua ini, kau mulai mencari kekasih di kantormu. Tak akan ada satupun gadis yang menolakmu. Dan kau kesal dengan fakta itu.
Kau biarkan berpuluh-puluh gadis tersakiti oleh tingkahmu yang setiap hari ganti pacar. Kau berusaha mencium atau kalau perlu mencumbui gadis-gadis murahan itu. Tetapi kau tidak pernah berhasil melakukannya. Karena didalam otakmu hanya nama Hinata yang ada.
Kini sebulan lagi ia akan menikah dengan sahabatmu. Dan kau yakin, sebulan lagi itu artinya kau harus menyakiti 29 gadis lagi untuk pelampiasanmu. Kau tidak peduli. Toh, gadis-gadis itu juga tidak keberatan disakiti oleh seorang Sasuke Uchiha.
Kau mendudukan dirimu setelah kembali dari kulkas untuk mengambil sekaleng soda. Kau menghempaskan tubuhmu di sandaran kursi tanpa menatap lelaki yang masih asyik dengan acara tv.
"Sepertinya aku harus pergi." Ucapnya sambil menatap jam tangannya. "Aku mau menjemput Hinata dan membawanya ke keluargaku hari ini." Ucap Naruto tiba-tiba. Kau meliriknya dengan malas lalu meminum sodamu yang sedari tadi kau genggam.
"Pergi saja. Aku tidak peduli." Ucapmu malas setelah meletakkan sodamu ke atas meja kecil di hadapanmu.
Kau mendengar suara tawa ringan dari Naruto, membuatmu mau tidak mau mengalihkan pandanganmu ke arahnya. "Baiklah, aku pergi dulu." Ucapnya sembari berdiri dan berjalan perlahan menuju pintu keluar kamar appartementmu.
Kau terpaku saat melihat ekspresi wajah Naruto yang berbeda drastis saat Naruto sudah mencapai pintu. Wajahnya terlihat sangat putus asa dan terbeban, seakan kehidupannya baru saja terenggut. Kau mengerutkan kening. Ingin sekali kau bertanya 'kau kenapa?' Tetapi entah kenapa tertahan di kerongkongan. Seakan tubuhmu memang melarang kau untuk bertanya kepadanya.
"Maaf." Ucap Naruto singkat sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu
.
Kau baru saja kembali dari café tempat kau memutuskan hubunganmu dengan gadis ke 28 untuk bulan ini. Kau lupa nama gadis itu. Atau tidak tahu sama sekali?
Kau menghela nafas berat. Besok. Ya, besok hari pernikahan Naruto dan Hinata. Sudah hampir 3 hari mereka tidak menghubungimu. Sibuk karena persiapan pernikahan, mungkin?
Iphonemu bordering. Kau memencet tombol angkat dari handphonemu itu. Dan dalam sekejap wireless yang selalu menempel ditelingamu itu terdengar suara Hinata.
"Ada apa?" tanyamu dengan suara berat. Terdengar nafas terengah-engah diselingi isak tangis Hinata dari seberang sana.
"Ada apa?" tanyamu dengan lebih keras. Entah kenapa tiba-tiba kau merasakan sesuatu hal yang buruk telah terjadi.
"…"
"Apa?" teriakmu kaget. Kau langsung menginjak gas lebih dalam. Jantungmu berdetak tak karuan.
"Kau sudah menelepon ambulans?" tanyamu dengan khawatir. Harap-harap cemas.
"…."
"Baiklah aku kesana sekarang!"
.
Kau hampir saja pingsan bila ego Uchiha tidak menahanmu. Pemandangan menyedihkan dihadapanmu benar-benar menyayat hati.
Kau melihat dengan jelas mobil Ferrari hitam milik Naruto sudah terbalik dengan pintu mobil belakang yang terlepas. Kaca mobil yang terpecah, Api yang bermunculan akibat pergesekan dengan aspal dan bemper mobil yang benyek memperparah pemandangan.
Kau membulatkan matamu saat melihat Hinata yang berusaha masuk ke mobil terbalik itu.
"Hinata!" teriakmu sembari berlari dengan cepat menuju Hinata. Kau tak habis pikir. Untuk apa gadis itu memasuki mobil yang sudah siap meledak kapan saja, itu?
Kau berlutut di sisi mobil dan berusaha menarik Hinata keluar. "Hei, Hinata! Untuk ap…" perkataanmu terhenti saat menyadari sosok yang berada di dalam mobil. "Naruto?"
Ya, sekarang sahabatmu itu terjepit didalam mobil dalam keadaan kepala di bawah. Wajahnya penuh luka dan memar. Darah mengalir hampir menutupi seluruh warna kulitnya.
"Naruto…" suara pedih Hinata terdengar. Sedangkan tubuhnya masih memaksa masuk ke kotak besi hancur ini, mencapai Naruto.
Kau terdiam. Tidak tahu apa yang harus kau lakukan. Tanganmu bergetar. Terlalu syok untuk melihat semua ini. Tangan Naruto perlahan bergerak, mencapai Hinata yang sudah sukses berada didalam mobil.
"Keluar…" ucap Naruto dengan suara parau. Tangannya mengenggam tangan Hinata dengan erat. "Keluar, Hinata… Bahaya…" lanjutnya dengan suara yang semakin hilang. Hinata menggeleng kuat. "Tidak!"
Kau menarik HInata kuat. Menyadari apa yang harus kau lakukan. "Keluar Hinata. Aku akan mencoba membalikkan mobil ini." Ucapmu dengan yakin.
Hinata tidak keluar. Ia hanya terdiam, membuatmu mau tidak mau tetap melaksanakan kegiatanmu tanpa menyempatkan Hinata untuk keluar.
Kau mendorong sekuat tenaga. Didalam hatimu kau berdoa agar mobil itu kembali seperti semula. Tanganmu terasa terbakar akibat panas besi mobil yang masih terbalut sedikit api ini. Tetapi kau terus berusaha mendorongnya. Kau menahan nafas dan kembali mencoba, tetapi hasilnya tetap nihil.
"BRENGSEK!" teriakmu frustasi sambil terus mendorong mobil itu. Mobil itu tak bergeming. Dengan putus asa kau menarik pintu mobil tempat Naruto duduk. "Hinata, bantu dia untuk melepas sabuk pengamannya!" perintahmu yang langsung dilaksanakan oleh gadis itu.
Kau menarik pinu pengemudi iu dengan sekuat tenaga. Tetapi pintu itu terkunci. Kau dengan menggeram, menarik pintu dengan kasar. Dan hasilnya tetap sama. Tak terbuka.
"Tidak bisa.." Suara Hinata yang putus asa itu terdengar. Kau membungkukkan wajahmu, melihat keadaan didalam. Terlihat sekali gadis itu menangis dengan sejadi-jadinya sembari menarik-narik sabuk pengaman Naruto dengan kasar.
Kau kembali menggeram tertahan dan ikut memasukkan tanganmu kedalam mobil. Berniat untuk melepaskan sabuk pengaman itu. Tanganmu juga meraba-raba sisi pintu, mencari tombol kunci. Tetapi dengan posisi yang terbalik, membuatmu susah mencari.
Tanganmu yang meraba pintu terhenti saat merasakan tangan Naruto menghentikan gerakanmu. Kau menatap Naruto dengan heran. Tangan Naruto yang satunya lagi juga menggenggam tangan Hinata yang masih menarik-narik sabuk pengaman. "Hentikan." Ucapnya lirih.
Tangannya bergetar. Dengan perlahan ia melepaskan cincin pertunangannya dengan Hinata. Membuatmu dan Hinata tercengang melihatnya. "Ini." Ucapnya lirih sembari memberikan cincin pertunangannya itu kepada Hinata. "Aku…" ia menarik nafas dengan susah payah. "Sudah tidak sempat."
Kau membelakkan matamu dan melepas tangan Naruto dengan kasar. "Diam kau, Brengsek. Aku akan mengeluarkanmu sekarang." Ucapmu sembari terus mencoba membuka pintu dari dalam.
Suara isakan tangis Hinata membuatmu semakin tidak konsentrasi. Berkali-kali kau melirik Hinata yang masih menangis sembari dibelai oleh Naruto di pipinya. Kau mengutuk dirimu sendiri. Kenapa kau memikirkan kecemburuan disaat seperti ini?
"Hinata…" Suara Naruto terdengar semakin melemah. Kau menatap Naruto, walau tanganmu masih terus mencoba membuka pintunya. Hinata mendekatkan wajahnya ke arah sahabatmu itu sembari menangis. Kau memejamkan matamu erat saat melihat bibir mereka berdua menempel. Brengsek! Teriakmu dalam hati.
Kau kembali berusaha membuka pintu. Kini dengan asal-asalan. Otak jeniusmu sudah tak berfungsi lagi. Kemeja putihmu sudah benar-benar kotor oleh debu. Yang adadipikiranmu sekarang hanyalah membuka pintu ini.
"Menikahlah…" ucap Naruto. Ia kembali menarik nafas dalm-dalam. Berada ditempat kecil seperti itu memang mengurangi oksigen. "Menikahlah dengan Sasuke." Lanjutnya. Kau membelakkan matamu sedangkan Hinata hanya menatap tak percaya.
"Menikahlah besok. Aku akan datang." Ucapnya dengan suara lemah. Kau meremas tangan Naruto yang tak jauh darimu. Entah kenapa kau merasakan rasa bersalah dan senang dalam waktu bersamaan
Suara ambulans akhirnya terdengar. Jalanan sepi ini memang sangat jarang sekali dilewati oleh pengguna jalan, dan hal ini membuatmu heran tadi. Untu apa Naruto melewati jalan ini? Dan kenapa bisa terjadi kecelakaan seperti ini?
Suara para medis mulai terdengar diluar sana. Kau ditarik keluar dengan paksa. Kau tak melawan. Kau merasa biarkan yang ahlinya yang mengatasi ini. Kau menatap HInata yang masih didalam. Hinata masih memegang tangan Naruto dengan kuat sembari mengamuk saat ditarik dengan paksa oleh para medis.
Kau menghampiri Hinata yang sudah berada diluar mobil. Ia terus mengamuk didalam pegangan para medis itu.
Kau memeluknya. Berharap ia akan menenangkan dirinya didalam pelukanmu. "Ia akan keluar." Ucapmu menguatkannya. "Ia akan keluar dan menikahimu besok." Lanjutmu dengan yakin. Entah meyakininya, meyakini para medir, atau dirimu sendiri.
Tiba-tiba api yang berada di sekitar mobil mulai menjalar akibat bensin yang berceceran di sekitar mobil. Kau terbelak. Hinata semakin memberontak. Sedangkan medis yang berusaha mengeluarkan Naruto langsung menjauh dari mobil tersebut.
Samar, terlihat Naruto yang masih terbalik sembari tersenyum. Senyum selamat tinggal.
Hinata menjerit sekeras-kerasnya saat Api mencapai mobil. "NARUTOOO!"
Duaaar!
.
.
.
Kau membuka matamu secara perlahan ketika merasakan seseorang menggenggam tangamu. Ka menolehkan kepalamu ke arah kiri.
"Hinata…" ucapmu lirih sembali menatap lembut wanita yang berada di sisimu. Iris lavendernya menerawang ke langit.
"Bisakah kita…" perkataannya terhenti. Sedangkan tanganya yang mulus dan seputih salju itu semakin menggenggam erat tanganmu. "… mengulang dari awal?"
Kau membelakkan matamu dan memutar tubuhmu membuatmu bisa menatap langsung istrimu itu. "Kenapa?" tanyamu tak yakin. Kau heran, apa yang membuatnya tiba-tiba seperti ini.
"Kau tak akan percaya kalau aku menceritakannya." Ucapnya sembari tertawa ringan membuat jantungmu berdesir saat mendengar tawanya.
Ia memutar tubuhnya, membuatmu dan dirinya saling bertemu pandang. Tangan kirinya menopang kepalanya, sepertimu yang menopang kepalamu dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kalian masih bertaut.
"Kau mau, kan?" tanya Hinata lagi, memastikan. Kau menatap dalam mata bening indah miliknya, mencari kesungguhan darinya. Dan kau mendapatkannya.
"Aku mau… kita membangun rumah tangga yang lebih baik. Aku ingin kita saling mencintai." Ucapnya lagi. Kau tersenyum lembut sembari menarik Hinata kedalam pelukanmu.
Kau merasa pelukan ini benar adanya. Lekukan tubuhnya terasa sangat pas ditubuhmu. Membuatmu yakin kalau kalian berdua memang tercipta untuk bersama.
Kau mencium singkat leher istrimu lalu mendekatkan bibirmu di telinganya. "Aku mau."
Dan yang terjadi selanjutnya adalah bibirmu menempel kebibirnya dengan lembut.
END
Jadi? Bagaimana? Abal? Memang.
Jujur aja, aku merasa bahwa endingnya Gak seru. Tapi, mau bagaimana lagi. Otak udah mentok.
Aku berterima kasih sama semua author dan silent reader yang telah membaca ceritaku di chap satu dan chap 2 ini.
Aku juga berterima kasih kepada author2 yang cantik dan ganteng yang telah bersedia me-review chap 1.
Love You, Guys!
Jadi... Review, please?
