Chapter 3

"Aku.. hanya ingin mengatakan sesuatu padamu." Kyuhyun menarik napas sejenak.

"Aku.. aku mencintaimu hyung!" lanjutnya lagi dengan kepala sedikit tertunduk. Sungmin terlihat sangat kaget mendengarnya.

"Aku tidak peduli bagaimana perasaanmu terhadapku. Aku tahu kau mencintai yeoja lain. Meski aku berharap kau membalas perasaanku, tapi aku tidak akan memaksamu. Kau berhak menentukan pilihan hidupmu."

Meski sangat kaget, Sungmin berusaha menanggapi ucapan Kyuhyun.

"Kyuhyun.. Aku.. Mianhae, aku tidak bisa.." Terlihat sinar kekecewaan dari wajah Kyuhyun. Yah, ia telah ditolak oleh orang yang dicintainya. Sebenarnya hal ini memang sudah diprediksi, tapi tetap saja ia tidak bisa menghindar dari rasa kecewa.

"Kau kan tahu, aku mencintai seorang yeoja. Sunny, dia adalah yeoja yang kucintai. Meski ia tidak tahu, tapi aku akan mencoba untuk menjaga perasaan ini sampai aku mampu mengungkapkan kepadanya." Sungmin melanjutkan kata-katanya tanpa bermaksud menambah luka hati Kyuhyun.

"Arasseo hyung. Aku sudah tau kau akan menolakku. Tapi kita tetap sahabat bukan?" Ucap Kyuhyun mencoba berlapang dada.

"Ne, selamanya kita akan bersahabat ^^" Sungmin menganggukan kepalanya sambil tersenyum.

"Kalau begitu ayo kita pulang hyung!" Kyuhyun menarik pergelangan tangan Sungmin sambil mengulas senyum yang mungkin dipaksakan.

Sungmin pulang kerumahnya dengan diantar Kyuhyun. Seperti biasanya. Mereka hanya mencoba untuk melupakan kejadian di taman tadi. Ya, mencoba kembali ke keadaan semula di mana Sungmin tidak tahu perasaan Kyuhyun dan Kyuhyun pun tidak mengungkapkan peraasaannya. Hanya mencoba.

Mobil sport Kyuhyun berhenti tepat di depan rumah Sungmin yang sangat mungil, semungil pemiliknya mungkin. Sungmin keluar dari mobil itu dan mengucapkan terima kasih pada Kyuhyun. Kali ini Kyuhyun memutuskan untuk tidak mampir karena ingin menenangkan hatinya sejenak.

"Sampaikan salamku pada ibumu, hyung!" Sungmin tersenyum dan menganggukan kepalanya.

Sungmin membuka pintu rumah dan masuk ke dalamnya. Ia langsung menuju kamar di mana ibunya berada.

"Umma aku pulang!" ia berteriak seperti biasanya saat pulang kuliah.

"Umm.. Ummaaa...!" betapa kagetnya Sungmin melihat ibunya tebujur kaku di lantai dengan mulut yang berbusa. Ia melihat ada sebotol racun serangga di samping tubuh ibunya.

Sungmin berteriak histeris dan segera memanggil ahjussi tetangganya untuk membantu membawa ibunya ke rumah sakit.

Di lorong rumah sakit, tubuh wanita itu di dorong dengan ranjang pasien dan Sungmin terus saja menjerit tanpa henti di samping tubuh itu.

"Ummaa.. jangan tinggalkan aku. Jebal umma.." begitulah suara tangisannya terdengar riuh. Berulang kali.

Dua jam sudah dokter menangani pasien wanita itu. Pasien dengan kasus keracunan oleh obat serangga. Sementara sang anak terus saja menunggu di luar ruangan tersebut sambil meronta. Berulang kali ia ditenangkan oleh ahjussi tetangganya itu tapi tetap saja tidak tenang-tenang.

CKLEK

Pintu ruangan itu terbuka. Muncullah seseorang dengan pakaian serba putih dengan masker dan sarung tangan menghampiri ke sosok namja yang sangat rapuh saat ini.

"Maafkan kami. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Racun serangga itu sudah tidak bisa dinetralisir lagi. Pasien terlambat dibawa ke rumah sakit." Dokter menjelaskan dengan tenang pada Sungmin.

"TIDAAAAKK... Umma tidak boleh pergi. Aku seorang diri, Ummaaaa..." Sungmin terus saja berteriak tidak sadarkan diri. Air matanya menganak sungai.

Hyung, aku tidak bisa menjemputmu hari ini. Umma memintaku mengantarnya ke rumah haraboji sebelum aku pergi kuliah. Mianhae..

Begitulah bunyi pesan Kyuhyun untuk Sungmin yang dikirimnya melalui SMS. Hingga saat ini belum ada yang tahu tentang kejadian yang menimpa Sungmin.

Di kampus, saat pulang kuliah Kyuhyun menunggu Sungmin di tempat biasa untuk mengantarnya pulang. Namun dua jam sudah ia menunggu, sosok yang dinantinya itu belum muncul juga. Dan semua SMS dan telpon dari Kyuhyun tidak ada yang dihiraukan Sungmin. Hingga muncullah sebuah mobil sport hitam milik Yesung. Kyuhyun menghentikan mobil itu dan bertanya tentang keberadaan Sungmin pada Yesung karena Yesung adalah teman sekelasnya.

"Apa kau tidak tahu Kyu, Sungmin hari ini tidak masuk kuliah. Aku juga tidak tahu alasannya, berulang kali ku telpon tapi tidak dijawab." Kyuhyun kaget mendengar penjelasan Yesung.

'Tidak kuliah? Apa karena aku tidak menjemputnya' batin Kyuhyun dalam hati.

"Hyung, sepertinya terjadi sesuatu pada Sungmin hyung. Ini tak seperti biasanya. Ia bahkan tidak memberi kabar dan tidak mau menjawab telpon kita." Wookie berbicara kepada Yesung, dan Yesung mengangguk tanda setuju dengan perkataan Wookie.

"Ayo kita melihatnya hyung. Aku khawatir dengan Sungmin hyung." Wookei melanjutkan lagi kata-katanya.

Tiga orang sahabat itu pun tiba di rumah Sungmin. Kyuhyun mengetuk pintu rumah namun tak ada jawaban dari sang penghuni rumah. Hingga ia mencoba membuka dan ternyata tidak dikunci. Mereka pun masuk dan mendapati keadaan rumah yang sangat berantakan. Ia melihat Sungmin terkapar di lantai dengan wajah yang sangat kusut meski matanya tidak terpejam. Ia masih tersadar. Sementara itu beberapa botol soju terlihat berantakan disampingnya.

Kyuhyun sangat sedih melihat orang yang dicintainya seperti itu. Segera direngkuh tubuh mungil Sungmin dan merapikan rambutnya yang berantakan. Sontak Sungmin langsung memeluk Kyuhyun dengan erat seperti tidak mau melepaskannya. Ia menangis sejadi-jadinnya hingga air mata itu membasahi kaos yang dipakai Kyuhyun.

"Hyung, uljima.. katakan padaku apa yang terjadi?" Kyuhyun pun mencoba menenangkan Sungmin dan melepaskan pelukan Sungmin pada tubuhnya. Ditatapnya wajah Sungmin dengan lembut.

"Jangan tinggalkan aku, Kyu. Jebal... Umma telah meninggalkan aku. Ia jahat sekali Kyu.." Sungmin terus berbicara sambil sesenggukan. Ia menyerahkan sehelai kertas surat pada Kyuhyun.

Sungmin anakku,

Maafkan umma nak. Umma harus pergi dari dunia ini. Umma hanya tidak ingin membebanimu terus. Kau pasti repot mengurus umma. Maafkan umma karena meninggalkanmu sebelum kau lulus. Kau juga harus tahu, sepertinya Kyuhyun itu menyayangimu. Lebih dari sahabat. Umma bisa melihat dari matanya. Dia sangat baik dan peduli pada umma. Umma harap kau tidak mengecewakannya. Tapi umma tidak akan memaksakanmu. Siapkanlah wisudamu dan bahagialah selamanya. Umma menyayangimu.

Kyuhyun kaget membaca surat tersebut. Bagaimana mungkin ibunya Sungmin tahu kalau ia mencintai anaknya. Tapi, apakah ia merestuiku?

"Kau masih punya kami hyung. Sahabat-sahabatmu. Kau tidak akan kesepian bersama kami." Kyuhyun kembali menenangkan Sungmin hingga akhirnya namja itu tertidur dan Kyuhyun memindahkannya ke kamar.

Sebulan sudah berlalu. Keceriaan Sungmin pun sudah kembali. Hari-harinya kembali penuh tawa, tanpa ada lagi bayang-bayang kesedihan yang membelenggunya. Semua ini adalah berkat sahabat-sahabat terbaiknya. Siapa lagi kalau bukan ketiga orang yang selalu bersamanya itu. Yesung, Wookie, dan Kyuhyun yang selalu setia menghibur kesedihannya.

Sungmin tidak lagi tinggal di rumahnya yang lama itu. Ia ingin melupakan kenangan bersama ibunya. Atas permintaan sahabat-sahabatnya ia kini tinggal di tempat yang sama dengan Wookie, hanya berbeda beberapa kamar. Sebuah apartemen sederhana yang letaknya masih lebih dekat daripada rumahnya yang lama. Hal itu membuatnya tidak lagi khawatir jika suatu saat membutuhkan bantuan atau sekedar membutuhkan teman curhat, karena ada sahabatnya di sana. Mengingat biaya sewa yang lebih mahal, kini ia berusaha untuk lebih sering membuat lagu untuk dijualnya. Kadang-kadang juga ia bekerja freelance sebagai pelayan di toko dekat apartemennya.

Keempat sahabat itu sudah jarang pergi ke kampus. Tidak ada lagi kuliah yang harus diterimanya. Yah, mereka berempat sudah ditetapkan lulus dari Kyunghee Universty. Namun belum ada ijazah yang diterimanya karena belum dilakukan upacara wisuda. Upacara itu akan dilakukan tiga bulan lagi, dan mereka akan wisuda secara bersamaan. Tak pelak hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi diri masing-masing. Mereka pun berencana mengadakan pesta kecil di rumah Yesung selepas wisuda nanti.

Malam itu, Sungmin kembali teringat dengan surat yang ditinggalkan ibunya. Diambilnya kembali surat itu dari laci meja di samping tempat tidurnya. Dibacanya lagi sambil tiduran dan Sungmin bergumam kecil.

"Mengapa umma bisa tahu kalau Kyuhyun menyukaiku?"

"Lalu kenapa umma berharap aku membalas perasaanya? Aku tidak bisa umma, Kyuhyun hanya sahabatku. Ia namja, sama sepertiku. Jika ia adalah yeoja, aku pasti akan memenuhi permintaan umma." Air mata Sungmin kembali mengalir sedikit.

"Kenapa umma sepertinya menginginkan aku menjadi gay? Aku tidak bisa, aku mencintai yeoja lain" air matanya terus mengalir, dan tanpa terasa ia tertidur di kasurnya.

Esoknya sungmin berniat menjual lagunya kepada seseorang yang dikenal sebagai pencipta lagu. Mereka tidak tahu, kalau lagu dengan hak ciptaanya itu adalah lagu buatan Sungmin. Mereka janjian di sebuah cafe yang dekat dengan apartemennya.

BRAAKKK

Tubuh Sungmin terpental dari jalan raya ke pinggir trotoar. Sebuah mobil jeep hitam melaju dengan kecepatan kencang dan menabrak tubuhnya yang sedang menyebrang. Ini semua karena ia tidak memperhatikan nyala lampu lalu lintas saat menyebrang. Warga sekitar yang melihatnya langsung melarikan Sungmin ke rumah sakit. Tetangganya yang melihat langsung menghubungi Wookie tentang kejadian ini.

Kyuhyun, Wookie, dan Yesung masih setia menunggu di luar ruangan Sungmin. Menanti kepastian dari dokter yang menanganinya. Hingga akhirnya dokter yang dinantikan itu keluar.

"Keadaannya sangat kritis. Ia kehabisan banyak darah. Tapi kalian tenanglah, persediaan darah di rumah sakit ini masih cukup. Hanya saja, kepalanya terbentur sangat keras. Urat-urat syaraf yang berhubungan dengan matanya tidak bisa berfungsi lagi. Dengan berat hati kami mengucapkan kalau tuan Sungmin mengalami kebutaan."

"ANDWAAEEE..." Kyuhyun berteriak sehisteris mungkin. Kakinya lemas, dan akhirnya tersungkur ke lantai. Yesung dan Wookie saling berpelukan mendengar berita menyakitkan itu. Tapi sayangnnya, ini semua sudah takdir. Takdir yang digariskan Tuhan untuk sahabatnya itu. Sungmin. Kenapa sepertinya derita sangat senang menghampirinya.

Ketiga sahabat itu selalu menjenguk Sungmin bergantian. Bahkan ada yang setia menunggunya siang malam. Berdiri di sampingnya, membersihkan badannya. Mengajaknya berbicara. Meski Sungmin tak akan mendengarnya. Siapa lagi orang itu kalau bukan Kyuhyun. Orang yang sanagat mencintainya.

Yesung menyuruh Kyuhyun untuk makan siang karena ia belum melihat sahabatnya itu makan dari pagi. Wookie berinisiatif menemaninya sedangkan Yesung yang akan menjaga Sungmin di kamarnya.

"Wookie-ah, aku sudah memutuskan. Aku akan mendonorkan sebelah mataku untuk Sungmin hyung.."

"MWO?" Wookie tercengang mendengar penuturan Kyuhyun.

"Aku tidak bisa melihat Sungmin hyung tak berdaya tanpa matanya. Itu sangat menyakitkan bagiku.." Kyuhyun melanjutkan kata-katanya dengan wajah tertunduk. Sedih.

"Tapi aku mohon padamu, jangan beritahukan ini pada siapapun. Termasuk pada Sungmin hyung. Hanya aku dan kau yang tahu. Juga orangtuaku."

"Orang tuamu tahu?"

"Nde, aku menceritakan Sungmin padanya. Dan bagaimana aku sangat mencintainya. Awalnya mereka melarangku, tapi aku tetap keras kepala dan mereka akhirnya menyetujuiku."

FLASHBACK

"Umma.. Appa.. Aku ingin mendonorkan sebelah mataku."

"MWO?" Appa Kyuhyun kaget tidak percaya.

"Ne, appa. Sungmin membutuhkan donor mata. Ia buta akibat kecelakaannya waktu itu. Dan sampai sekarang ia belum sadarkan diri."

"Kyu, appa tahu Sungmin adalah sahabatmu. Tapi kau akan membahayakan dirimu sendiri. Appa tidak setuju!"

"appa salah, Sungmin bukan hanya sahabatku. Aku mencintainya. Umma dan appa bertanya-tanya mengapa aku belum punya kekasih sampai sekarang. Karena aku menunggu Sungmin. Aku sangat mencintainya."

Appa dan Umma Kyuhyun memang tahu sejak dulu kalau anak semata wayangnya itu adalah seorang gay. Mereka tahu karena Kyuhyun tidak pernah punya kekasih. Suatu saat Umma Kyuhyun berniat menjodohkannya dengan seorang yeoja, lalu Kyuhyun menolak keras. Dengan jujur Kyuhyun mengatakan kalau ia tidak menyukai yeoja. Mulanya mereka memang shock mendengar pengakuan Kyuhyun, tapi setelah berpikir panjang kebahagiaan anaknya adalah yang nomor satu. Jika Kyuhyun menikah dengan yeoja, bukan hanya Kyuhyun yang tidak bahagia tapi istrinya nanti juga tidak akan bahagia karena tidak mendapat perhatian Kyuhyun.

"Kyu, umma mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi sungmin itu tidak mencintaimu. Untuk apa kau berkorban demi dia?" Kali ini ibu Kyuhyun ikut bicara.

"Tidak umma. Kebahagiaan Sungmin adalah segalanya untukku. Melihatnya bahagia, aku juga akan bahagia."

"Baiklah.. Bahagiakanlah Sungminmu itu. Appa berharap suatu saat kau akan mendapatkan cintanya." Appa Kyuhyun akhirnya mengalah dengan keputusan anaknya.

"Gomawo appa.."

"Kyu, umma belum pernah melihat Sungmin. Kenapa kau bisa begitu mencintainya. Setelah sembuh, ajaklah dia kemari. Umma akan masakkan makanan yang enak." Umma Kyuhyun begitu penasaran dengan orang yang dicintai anaknya itu.

"Mianhae umma, sudah berkali-kali aku mengajaknya tapi ia selalu menolak. Kalau umma memang ingin tahu, datanglah ke apartemen Wookie. Ia juga tinggal di sana."

"Arasseo.." Umma Kyuhyun kemudian tersenyum mendengarnya.

FLASHBACK END

Dua minggu lamanya Sungmin di rumah sakit. Kini Sungmin telah kembali pulang. Ia tetap bisa melihat dengan bantuan mata Kyuhyun. Meskipun hanya satu. Kyuhyun bahagia melihat Sungmin kembali sehat. Baginya kebahagiaan sungmin adalah segalanya.

Beberapa hari kemudian, setelah mendengar bahwa Sungmin sudah kembali, Mrs. Cho ummanya Kyuhyun datang ke apartemen Wookie sesuai anjuran Kyuhyun. Tapi ia membawa maksud lain tanpa diketahui Kyuhyun.

"Kamarnya ada di dua kamar dari kamarku, Bi.." Wookie menjelaskan letak kamar Sungmin pada Mrs. Cho

"Arasseo.. Gomawo Chagy!" Mrs. Cho memang selalu memanggil Wookie dengan sebutan chagy. Mereka sudah akrab satu sama lain. Bagi Mrs. Cho, Wookie sangat imut dan baik hati. 'Seandainya saja Kyuhyun dan Wookie saling mencintai' gumamnya dalam hati.

Mrs. Cho memencet bel di kamar Sungmin. Tak lama pintu terbuka dan muncullah seseorang dari dalamnya.

"Annyeong, apa benar ini kamar Sungmin-shii?" tanya Mrs. Cho.

"Ne, aku Sungmin. Maaf bibi siapa ya?"

Mrs. Cho tersenyum mendengarnya, ia berpikir bahwa yang ada di hadapannya ini seperti sosok malaikat. Meskipun ia namja tapi ia manis, imut, dan sangat sopan santun. 'Pantas saja anakku begitu memujanya' begitu gumamnya dalam hati.

"Ah, kenalkan aku ibunya Cho Kyuhyun." Mrs. Cho tersenyum sambil mengulurkan tangannya pada Sungmin. Tentu saja ia kaget mendengar itu.

"Si.. silakan masuk bibi.." Sungmin mempersilakan Mrs. Cho untuk duduk dengan sopan meski terlihat gugup.

"Kau pasti heran melihat kedatanganku. Aku sudah tahu anakku mencintaimu. Aku juga sudah tahu kalau kau menolak anakku."

Mrs. Cho mengeluarkan sebuah kotak coklat dari tasnya. Diulurkannya kotak itu kepada Sungmin.

"Pakailah. Ini kalung perak pemberian halmoni Kyuhyun padaku. Aku mencintaimu, karena anakku mencintaimu. Jadi tolong pakailah. Aku tidak akan memaksamu untuk mencintai anakku, karena Kyuhyun juga tidak memaksanya."

Sungmin mengambil kotak itu dan dibukanya. Terlihatlah sebuah kalung perak sederhana tanpa bandul.

"tapi seharusnya Bibi memberi ini pada orang yang juga mencintai Kyuhyun."

"Itu tidak masalah bagiku. Orang yang mencintai Kyuhyun akan mendapatkan lebih dari ini. Kalung ini tidaklah berarti apa-apa. Aku memberikannya padamu karena kau orang yang berarti untuk anakku."

Sungmin mengambil kalung itu dari kotaknya dan segera melingkarkan di lehernya.

"Gamsahamnida, bibi.." Sungmin tersenyum enggan pada Mrs. Cho.

"Sungmin-ah, tapi jika kau kerumahku nanti tolong jangan memakai kalung ini. Aku akan sedih jika yang memakai kalung ini di rumahku adalah bukan menantuku sendiri." Mrs. Cho berkata sambil tersenyum.

"Arasseo Bibi.." Sungmin kembali tersenyum.

"Kalau begitu, Bibi pamit pulang dulu. Terima kasih atas waktunya. Datanglah ke rumah kami, aku akan memasak enak untukmu."

"De, aku akan main kapan-kapan.."

"Hyung, kemarin Umma Kyuhyun menanyakan kamarmu padaku. Apa dia kesana?" Wookie yang sedang berkunjung di kamar Sungmin menanyakan tentang hal kemarin.

"De, ia kemari memberiku kalung ini." Ucap sungmin sambil menyentuh kalung yang ada di lehernya.

"Mwo? Lalu apa lagi yang diucapkannya?" tanya Wookie begitu penasaran.

Sungmin pun menceritakan semuanya yang terjadi pada Wookie. Membuat Wookie menjadi semakin terharu akan kisah Kyuhyun-Sungmin.

"hyung, sebenarnya ada yang aku rahasiakan darimu.."

"Mwo? Yah.. Wookie! Kau ini menganggapku apa? Masih rahasia-rahasiaan padaku!" Sungmin melempar bantal pada Wookie.

"Ini demi kebaikanmu hyung. Aku akan menceritakannya padamu jika kau berjanji tidak akan merasa bersalah." Kali ini Wookie berbicara dengan nada serius.

"Sebenarnya ada apa Wookie-ah? Apa ini menyangkut diriku? Ah, baiklah aku tidak akan merasa bersalah. Jadi tolong ceritakan padaku." Sungmin sangat ingin tahu apa rahasia Wookie itu.

Hening

"Hyung. Mata itu.. Mata yang ada di sebelah kanan matamu.. Yang kau gunakan untuk membantumu melihat, adalah mata seorang Cho Kyuhyun.." Wookie menjelaskan dengan suara enggan.

DEG

Dada Sungmin bergetar hebat. Air matanya jatuh membasahi pipi. Apa lagi yang dilakukan Kyuhyun padanya. Kenapa ia selalu mengorbankan dirinya untuk Sungmin. Sedangkan Sungmin tidak bisa memberikan apa-apa untuknya. Ah, tidak. Sungmin bisa memberikan sesuatu untuk Kyuhyun. Yah membuat Kyuhyun bahagia. Caranya adalah dengan membalas perasaan cintanya. Tapi...

.

.

.

TBC

MiNa tetep mau ucapin terima kasih sm reader semuanya. MiNa usahain update cepet soalnya ini FF Repost jd ga perlu nunggu lama untuk update. Hehe,, buat Winter Boy mianhae MiNa gak buat Zoury di ff ini. MiNa tetep nunggu review dari semuanya.. Kamsahamnida ^^