Chapter 6
"Tapi Kyuhyun bilang, kau berciuman dengan Sunny.."
"hiks... hiks... Sunny menciumku duluan, dan aku di luar kendali sehingga aku menikmatinya. Aku sungguh menyesal umma.. Umma percaya padaku kan?" Sungmin meyakinkan ibu mertuanya itu.
"Ne, chagy... Umma percaya padamu. Umma dan appa akan bantu mencari Kyuhyun. Kau istirahat, ne? Makanlah yang banyak, jangan terus memikirkan Kyuhyun. Ingat kau sedang hamil. Kau harus jaga cucu umma, hmm?" Mrs. Cho menasihati Sungmin dan kemudian tersenyum.
"Eumm... Gomawo umma..." Sungmin pun menganggukan kepalanya dan berterimakasih. Betapa beruntungnya ia mempunyai mertua yang sangat baik.
Sepasang kekasih datang menyambangi apartemen Sungmin, siapa lagi kalau bukan Yesung dan Wookie. Keduanya diminta oleh orangtua Kyuhyun untuk menghibur Sungmin, karena Sungmin tak juga kelihatan membaik semenjak Kyuhyun meninggalkannya dua bulan yang lalu. Dan itu berarti kandungan Sungmin kini sudah menjejak empat bulan.
"Min, bagaimana kondisi kandunganmu saat ini?" Yesung bertanya sambil meminum segelas sirup yang disediakan oleh Sungmin.
"Anakku baik-baik saja. Dia selalu membuatku merasa lapar. Seandainya Kyuhyun ada di sini, ia pasti akan memberikan semua yang kuinginkan tanpa harus pergi membelinya sendiri." Sungmin mengusap perutnya dan kembali teringat akan suaminya itu.
"Kalau begitu katakan saja padaku, hyung... aku akan membelikannya untukmu. Iya kan Yesung hyung?" Wookie terlihat begitu antusias membantu sahabatnya itu. Yesung hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum dan mengusap rambut kekasihnya itu.
"Ahni, Wookie-ah... aku tidak mau mengambil waktumu dari Yesung. Kau cukup perhatikan kekasihmu itu, sepertinya ia kurang perhatian. Hahaha.." Sungmin mencoba tersenyum walaupun sedikit dipaksakan.
"Yaa.. kenapa kau bicara seperti itu? Justru yang kurang kurang perhatian itu kau. Lihat saja dirimu, kau sangat berantakan. Sepeti tidak terurus.." Yesung tidak terima mendengar ucapan Sungmin barusan. Tapi kemudian Wookie menyikut lengan Yesung.
"Miahae..." Menyadari kesalahannya karena telah menyinggung Sungmin, Yesung pun meminta maaf.
"Kau cukup katakan apa yang kau inginkan pada kami, Min... kami ini sahabatmu, jadi jangan pernah kau merasa tidak enak pada kami. Arasseo?"
"Ne, arasseo. Gomawo.." Sungmin hanya menundukan kepalanya. Ia benar-benar merasa sendirian, meskipun kedua sahabatnya itu selalu bersamanya.
"Hyung, bagaimana dengan Sunny? Apa kau masih suka bertemu dengannya?" Wookie sepertinya penasaran dengan orang yang sudah mengancamnya itu.
"Ahni, aku sudah menjelaskan semua padanya. Ia pun bisa mengerti. Dan saat di cafe itu... saat ia menciumku... ia bilang hanya ingin menciumku sebelum ia melepasku untuk Kyuhyun. Dan bodohnya aku malah menikmati ciuman itu. Kyuhyun pasti sangat sakit hati melihatnya..." kini raut wajah yang sangat menyesal tampak dari wajahnya.
"Sudahlah hyung, Kyuhyun belum tahu yang sebenarnya. Jika ia tahu kau sedang hamil sekarang, ia pasti akan sangat senang..." Wookie mencoba menghibur Sungmin. Tapi rasanya malah terbalik. Setiap mendengar nama Kyuhyun, ia seakan merasa sangat bersalah. Lagi-lagi, matanya kembali berkaca-kaca.
'Benarkah Kyuhyun akan bahagia jika tahu aku hamil?' Sungmin sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Hyung, jangan cemas ne? Aku dan yesung hyung akan memcari Kyuhyun sampai ketemu. Kemudian menyerahkannya padamu. Jadi kau jangan murung terus, hmm?"
"Ah jinja?" Kilatan mata Sungmin kini sedikit bercahaya. Seperti menaruh harap pada kedua sahabatnya ini. Semoga saja.. Karena selama ini umma dan appa Kyuhyun juga mencari, tapi hasilnya nihil.
"Ne, Min. Kami akan berusaha semampu kami. Jadi kau jangan khawatir lagi..." Yesung meyakinkan perkataannya. Berharap sahabatnya itu sedikit lebih ceria sekarang.
"Gomawo... Jongmal gomawoyo..." Sungmin menganggukan kepalanya berkali-kali, tidak tahu akan berkata apa lagi.
.
.
Kyuhyun POV
Aku benar-benar tidak bisa melupakan Sungmin. Wajah manisnya selalu saja terngiang di kepalaku. Semenjak empat bulan yang lalu aku melayangkan surat cerai padanya, saat itu juga aku pergi ke pulau ini. Jeju, pulau yang sangat artistik. Keindahan pulau ini membuatku sangat nyaman, namun begitu tetap saja tak dapat mengalihkan perhatianku dari Sungmin.
Akhir-akhir ini perasaanku sering merasa tidak enak. Dan perasaan itu selalu saja muncul saat aku sedang mengingatnya. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Apakah dia baik-baik saja? Ah, semoga ia sekarang bahagia bersama Sunny. Sebenarnya aku ingin sekali melihatnya. Tapi aku tak berani sama sekali, meskipun itu dari jauh dan diam-diam. Aku takut jika melihatnya lagi, aku tak bisa mengontrol hatiku kembali. Aku tak ingin usahaku untuk melupakannya selama empat bulan ini menjadi sia-sia.
Aku sudah mencoba menjalin kasih dengan namja lain yang kutemui di pulau ini. Ia seorang gay dan lebih dulu mengatakan cinta padaku. Awalnya aku memang kaget, tapi kupikir ini baik agar aku bisa membuang Sungmin dari hatiku. Namun, hubunganku dengannya hanya beberapa bulan saja. Aku tak bisa memberikan hatiku untuknya. Ia tak seperti Sungminku. Meski ia begitu mencintaiku, tapi aku tidak merasa bahagia dengannya. Berbeda dengan Sungmin, meski ia tidak memberi hatinya untukku, perasaan bahagia itu akan selalu muncul jika melihatnya.
Tidak hanya sampai di situ. Aku pun menjalin hubungan dengan seorang yeoja. Ini atas anjuran dari temanku yang juga kutemui di pulau ini. Yeoja itu sangat cantik. Aku menceritakan semua kisahku padanya, dan ia bersedia membantuku dengan senang hati. Ia begitu perhatian dan menyayangiku, tapi lagi-lagi aku memutuskan hubunganku dengannya. Alasan yang sama, karena aku tak bisa memberikan hatiku padanya. Pada namja saja aku tak bisa, apalagi yeoja. Ini benar-benar menambah eksistensiku sebagai seorang gay sejati. Oh Tuhan, apa salahku..
Seandainya aku ini normal, aku pasti sudah memiliki seorang istri yang sangat cantik. Juga anak-anak yang lucu yang akan mengisi hari-hariku dengan tawa ceria mereka. Tidak dipungkiri, aku memang menginginkan seorang anak dari darah dagingku sendiri. Tapi, tidak mungkin seorang gay memiliki anak kandung bukan? Dalam kondisiku yang seperti ini, mengambil anak untuk diadopsi pun sepertinya tidak buruk. Tapi tidak mungkin aku mengadopsi anak jika aku tidak punya pasangan hidup.
Aku ingat, aku meninggalkan perusahaan di tangan Donghae. Apakah anak itu bisa menghandle semua tugas-tugasku? Ah, aku jadi cemas sekarang. Bagaimana jika perusahaanku bangkrut dalam waktu dekat hanya karena yang memegangnya tidak profesional. Aku tidak mungkin membebankan ini pada appa lagi, ia saja sudah menyuruhku memegang perusahaan berarti ia memang sudah tidak bisa memegangnya lagi. Ah, aku harus bagaimana? Sepertinya aku harus melihat keadaan perusahaan sebentar saja.
Kyuhyun Pov End
.
.
Author POV
Kandungan Sungmin sudah bulan ke-enam. Perut buncitnya sudah mulai terlihat meskipun tidak terlalu besar. Hingga saat ini ia masih saja menunggu kepulangan Kyuhyun. Ia juga menunggu kabar dari kedua sahabatnya mengenai keberadaan Kyuhyun.
Sungmin memasuki ruang kerja Kyuhyun di apartemennya. Ia terlalu rindu untuk membuatkan Kyuhyun kopi jika suaminya itu akan bekerja sampai larut malam di ruangan itu. Sungmin duduk di kursi dimana Kyuhyun biasa duduk untuk mengerjakan tugas-tugas kantornya. Mata bulat Sungmin menatap ke sebuah pigura di atas meja kerja Kyuhyun. Foto sepasang suami istri bertengger pada pigura tersebut. Tangan lentiknya merengkuh pigura dan menatapnya lekat-lekat. Sungmin tidak dapat menahan air matanya lagi. Diusapnya foto Kyuhyun yang sedang merangkul dirinya. Keduanya tampak ceria di foto itu.
'Lee Sungmin paboya... mengapa kau baru menyadari kalau kebahagiaanmu adalah bersama Kyuhyun. Hiks... hiks...' Sungmin bergumam sendiri dalam hatinya. Betapa ia merasa menyesal tak menghiraukan kehadiran Kyuhyun selama ini.
Sungmin mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit. Ia mengelus perutnya itu dengan penuh kasih sayang. Lagi-lagi diiringi oleh tetean air mata.
"Aegya, lihatlah... ini appa-mu. Ia tampan sekali bukan? Kau pasti akan bangga punya appa sepertinya. Appa sangat mencintai umma, ia juga pasti sangat mencintaimu. Hanya saja, appa belum tahu akan keberadaanmu di perut umma..." Sungmin terisak dalam tangisnya.
"Kau pasti ingin sekali melihat appa, ne? Mianhae... jongmal mianhae... umma hanya bisa memperlihatkan foto appa. Suatu saat nanti kita pasti bisa bersama, kau, umma, dan appa. Kau percaya kan chagy? Umma sangat percaya itu, jadi kau harus percaya juga..." harapan Sungmin tampaknya sangat besar untuk berkumpul dengan keluarga tercintanya. Semalaman ia hanya mengajak ngobrol janin yang ada di kandungannya itu, hingga tanpa sadar ia tertidur di ruang kerja Kyuhyun.
.
.
Wookie menjemput Yesung di bandara. Kekasihnya itu baru saja pulang dari tugasnya di luar negeri. Saat hendak masuk ke dalam mobilnya untuk pulang, tanpa sengaja Wookie melihat sebuah siluet yang sangat familiar dengannya sedang keluar dari bandara. Sosok laki-laki tegap dengan kemeja rapi berwarna biru tuan dan tpi merah menutupi kepalanya. Wajahnya sedikit tertutupi akibat topi itu.
"Hyung, kau lihat itu? Sepertinya tidak asing bagiku..." Wookie pun menanyakan kecurigaannya pada yesung.
"Ne, chagy... itu memang tidak asing. Cepat kita kesana sebelum kehilangannya lagi!" Seru Yesung dengan sangat terburu-buru.
Kedua orang itu pun kembali ke areal pintu keluar bandara. Mereka menghampiri seseorang dengan sangat tergesa-gesa. Orang itu tampaknya sadar ada yang mengikutinya, ia pun melajukan jalannya dengan lebih cepat lagi. Namun sayang, Yesung lebih dulu menarik lengannya sebelum pria itu berlari.
"Kyuhyun kau...!" Yesung kembali berseru pada orang itu. Wookie pun berdiri di sebelah Yesung.
"Ye.. Yesung hyung, Wookie..." Kyuhyun tergagap melihat dua orang yang menghentikan langkahnya.
"Kyu, ayo pulang bersama..." Sepertinya Kyuhyun tidak membawa mobil sendiri sehingga Wookie menarik tangan Kyuhyun untuk menuju mobil Yesung. Kyuhyun pun menurut saja.
Kyuhyun duduk di kursi belakang mobil sedangkan Wookie di sebelah Yesung yang ada di belakang kemudi. Di dalam mobil suasana menjadi sangat canggung. Mereka seperti bukan sahabat sejak dulu, tapi lebih tepatnya seperti seorang yang baru saling berkenalan. Menyadari arah mobil yang dikendarai Yesung, Kyuhyun pun mengeluarkan suaranya.
"Tunggu, kalian akan membawaku kemana?"
"Tentu saja ke apartemenmu, Kyu..." Yesung pun menjelaskan yang sebenarnya.
"Tidak! Jangan... A-aku belum siap bertemu dengan Sungmin." Kyuhyun sekarang menjadi sangat cemas. Takut sahabatnya itu akan memaksanya pergi ke apartemennya dulu.
"Apa kau tidak merindukan istrimu, Kyu?" Wookie kali ini ikut bicara.
"Tidak. Sungmin bukan istriku lagi..." Kyuhyun menunduk, sepertinya ia mengatakan hal itu setengah-setengah. Seperti tak rela.
"Aku tidak mau mengganggu hidupnya lagi..." lanjut kyuhyun pada sua sahabatnya.
"Arasseo... lalu kemana aku harus mengantarmu?" Yesung kembali bicara.
"Hyung!" Sepertinya Wookie terkejut mendengar Yesung bicara seperti itu. Bukankah mereka sudah janji akan membawa Kyuhyun pulang jika sudah ketemu. Namun yesung hanya tersenyum, dan mengedipkan sebelah matanya pada Wookie.
"Antarkan aku ke hotel saja Hyung. Mungkin aku akan menginap di sana. Aku ke Seoul hanya ingin melihat kondisi perusahaan. Jika sudah selesai, aku akan kembali lagi..."
"Kembali kemana lagi, Kyu?" Wookie bertanya sangat ingin tahu. Ia benar-benar tidak ingin kesempatan ini hilang dan membuat Sungmin tambah kecewa.
"Mianhae, aku tidak bisa memberi tahu kalian..." dengan sangat menyesal Kyuhyun berkata seperti itu.
Mobil Yesung tiba di sebuah hotel sekitar jam 8 malam. Sebelum turun, Kyuhyun berpesan pada teman-temannya.
"Tolong jangan beritahu keberadaanku pada Sungmin. Aku percaya pada kalian..." Kyuhyun pun turun dari mobil dan segera masuk ke dalam hotel untuk check-in.
Yesung dan Wookie tentunya tidak serta merta pergi dari hotel itu. Setelah beberapa lama, mereka berdua pun masuk dan bertanya pada resepsionist.
"Mianhae, apakah aku boleh tahu nomor kamar Cho Kyuhyun yang belum lama ini memesan kamar?" Yesung bertanya dengan sangat lembut. Berharap ia bisa diberitahu oleh resepsionist tersebut.
Resepsionist itu melihat buku tamu yang datang untuk memesan kamar. Dilihatnya nama Cho Kyuhyun dalam buku itu.
"Ah, Cho Kyuhyun baru saja memesan kamar. Ia berada di kamar No 302."
"Ne, gamsahamnida..." Yesung tersenyum pada resepsionist tersebut.
Setelah mengetahui nomor kamar Kyuhyun, Yesung segera mengambil ponselnya dan mendial nomor Sungmin.
"Yoboseo..." suara orang di seberang sana. Sungmin.
"Min, aku tahu dimana Kyuhyun berada sekarang. Datanglah ke hotel Ellysta, nomor kamar Kyuhyun 302. Cepat, sebelum ia pergi lagi..."
"Kyuhyun! ne... ne... aku akan segera kesana." Tampak wajah Sungmin berbinar-binar. Sepertinya harapannya akan segera terwujud.
Setelah menelpon Sungmin, sepasang kekasih itu kembali ke rumahnya masing-masing tanpa menunggu Sungmin terlebih dahulu.
.
.
Sungmin tiba di depan hotel Ellysta. Ia langsung menghambur masuk ke dalam hotel dan menuju kamar 302. Di depan kamar itu ia mengatur napas terlebih dahulu sebelum mengetuk pintunya. Setelah dirasa napasnya sudah teratur, ia pun mengetuk pintu di depannya. Tiga kali ketukan, tak ada jawaban. Lima kali... sepuluh kali... duapuluh kali.. tetap tak ada jawaban. Hatinya kembali resah. Ia memutuskan untuk bertanya ke meja resepsionist.
"Maaf Tuan, Tuan Cho Kyuhyun sudah check-out setengah jam yang lalu."
Tidaaak... Sungmin pun terduduk dari berdirinya. Ia kehilangan Cho Kyuhyun lagi. Air matanya mengalir deras di tempat itu juga.
Sungmin berjalan keluar dari hotel. Ia tidak langsung pulang ke apartemennya. Kakinya melangkah menuju ke sebuah taman yang ada di dekat hotel tersebut. Sampai di taman, Sungmin mendudukan tubuhnya di sebuah bangku taman. Ia menunduk dan terus menunduk. Air matanya mengalir deras sedang tangannya terus saja mengusap-usap perutnya.
"Sabar ya chagy, umma janji akan menemukan appamu..." Sungmin kembali meyakinkan bayi dalam kandungannya.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi ponsel Sungmin. Ia mengambil ponsel itu dari saku celana dan mengangkatnya.
"Yoboseo..." dengan malas Sungmin berbicara di teleponnya.
"Hyung, bagaimana? Sudah bertemu Kyuhyun?" Sepertinya suara itu adalah suara Wookie.
"Belum. A... aku terlambat Wookie-ah... Kyu... Kyuhyun sudah pergi dari sana../"
"MWO?" Wookie pun menyadari, ternyata Kyuhyun memang tak mungkin percaya begitu saja padanya dan Yesung.
"Min, besok datanglah ke kantor Kyuhyun. Ia bilang pada kami akan melihat kondisi perusahaan..." Yesung menjelaskan pada Sungmin. Ia jadi merasa bersalah karena tidak langsung membawa Kyuhyun pulang menemui Sungmin atau setidaknya menunggu Sungmin datang ke hotel itu, sehingga ia bisa tahu Kyuhyun pergi lagi atau tidak.
"Arasseo..." Sungmin menyelesaikan pembicaraanya di telepon.
Sungmin segera pergi dari taman itu. Kali ini tujuan kakinya melangkah adalah ke sebuah perusahaan, lebih tepatnya adalah kantor seorang Cho Kyuhyun. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sudah tidak ada subway yang berlalu. Akhirnya ia pun memutuskan untuk berjalan kaki saja. Kantor Kyuhyun memang tidak jauh dari situ, hanya butuh dua jam perjalanan jika ditempuh dengan jalan kaki. Tapi apakah ia sanggup berjalan dengan membawa beban di perutnya itu?
Sungmin tidak peduli lagi dengan rasa lelahnya. Ia juga terus mengelus perutnya jika sang janin memberontak. Yang Sungmin inginkan hanyalah bertemu Kyuhyun, ia ingin menjelaskan semua kesalahpahaman ini. Bahwa sebenarnya yang Sungmin cintai bukanlah Sunny, tapi Cho Kyuhyun. Tepat jam duabelas malam, Sungmin tiba di depan Cho Corporation. Perusahaan keluarga Cho yang bergerak di bidang pembuatan game animasi.
Tentu saja pintu gerbang perusahaan itu terkunci. Tapi ada seorang satpam di sana. Sungmin pun menghampirinya. Sebelum bicara sesuatu, satpam itu sudah berkata terlabih daluhu.
"Tuan Lee, apa yang sedang anda lakukan di sini malam-malam?" Satpam itu memang sudah mengenal Sungmin sebagai istri dari bosnya.
Tidak ada yang mengetahui kejadian yang menimpa bosnya kecuali keluarga dan dua sahabatnya itu. Yang orang lain tahu adalah Sungmin adalah istri Cho Kyuhyun. Begitupun tentang kehamilan Sungmin, tak ada seorang pun yang tahu kecuali dua sahabatnya. Meskipun usia kandungannya sudah enam bulan, tapi perutnya tidak terlalu besar, seperti masih tiga atau empat bulan saja. Sehingga Sungmin bisa menutupinya dengan mengenakan mantel tebal.
"Ijinkan aku masuk, Pak Kang. Aku ingin bertemu dengan Kyuhyun." Sungmin memohon pada satpam yang dikenal dengan panggilan Pak Kang itu.
"Bukankah Tuan Cho sedang tidak menangani perusahaannya? Jadi tidak mungkin beliau kesini, apalagi malam-malam begini..." Jelas Pak Kang pada Sungmin.
"Aku tahu, tapi ijinkan aku masuk. Besok pagi Kyuhyun akan datang kemari sebelum ke rumah, dan aku akan menunggunya. Aku ingin segera menemuinya. Aku sangat merindukannya Pak Kang. Jadi tolong bukakan pintunya..." melihat puppy eyes dari Sungmin, satpam itu pun akhirnya membuka gerbang perusahaan dan mempersilakan Sungmin untuk masuk.
"Ambillah... ini kunci ruangan Tuan Cho. Tunggulah di sana agar Tuan merasa lebih nyaman. Jangan menunggu di luar." Pak Kang pun berbaik hati pada Sungmin, karena ia adalah istri dari bosnya.
"Gamsahamnida... Tapi tolong, jika Kyuhyun datang jangan beritahukan ia aku ada di sini. Aku ingin membuat kejutan untuknya..." Sungmin terpaksa berbohong. Karena jika Kyuhyun tahu di kantornya ada Sungmin, ia pasti tidak akan datang.
"Ne, arasseo..." Pak Kang tersenyum, ia tak tahu kejadian yang sebenarnya.
Sungmin masuk ke dalam perusahaan itu. Sepi sekali, karena memang sudah tak ada lagi yang bekerja di malam-malam buta seperti ini. Lampu-lampu di setiap sudut perusahaan semuanya padam. Sungmin sudah hapal jalan menuju ruangan Kyuhyun, sehingga mudah baginya untuk ke sana.
Sungmin membuka pintu ruangan Kyuhyun dengan kunci yang diberikan Pak Kang. Dengan segera ia masuk ke dalam. Ia mencari-cari stop kontak di semua sudut dinding, hingga akhirnya ia menemukan dan memencetnya. Lampu yang bertengger di langit-langit ruangan itu pun menyala dan kini Sungmin dapat melihat dengan jelas semua isi ruangan Kyuhyun. Ruangan itu sangat rapi, mungkin karena sebelum pergi Kyuhyun merapikannya terlebih dahulu. Di rabanya meja Kyuhyun dengan tangan, terlihat debu-debu menempel dan tertinggal di tangan Sungmin. Wajar saja, ruangan itu tak terjamah sejak empat bulan lalu dan tak ada yang berani masuk ke ruangan itu. Lagipula, tempat itu selalu di kunci.
Namja manis itu merasa sangat lelah sekarang. Ia duduk di sofa yang tersedia di sana. Menselonjorkan kakinya agar urat-uratnya tak menegang.
"Mianhae, aegya... Umma sudah membuatmu lelah. Semoga kau baik-baik saja di dalam perut umma. Umma percaya kau adalah anak yang kuat." Sungmin mengelus perutnya dengan lembut. Memberikan sentuhan kasih sayang pada calon bayinya itu.
Dua jam lebih berjalan membuatnya ingin segera tidur. Matanya sudah mengerjap-ngerjap menahan kantuk. Ia pikir, ia tak boleh tidur sampai Kyuhyun datang. Takutnya jika Kyuhyun datang dan ia tertidur, maka Kyuhyun akan pergi lagi meninggalkannya sendiri.
"Aku harus melakukan sesuatu... Aku tidak boleh tidur..." Ia meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap terjaga malam itu. Setidaknya sampai ia menjelaskan semua kesalahpahaman itu pada Kyuhyun.
Mata Sungmin menatap ke semua sudut ruangan mencari-cari sesuatu yang bisa dilakukannya. Hingga ia melihat ke sebuah meja yang di sana terdapat tumpukan majalah di atasnya. Majalah apa lagi kalau bukan majalah game animasi.
Sungmin menghampiri meja itu dan meraih salah satu majalah yang ada. Dibukanya majalah itu dan dibacanya sedikit. Isinya dalah tips n trik dalam pembuatan game bagi para perancang animasi game. Tentu saja itu bukan bidang Sungmin, dan membaca itu membuat Sungmin sedikit jengah.
"Ah, daripada tidak ada lagi. Ini juga tidak apa-apa..." Tetap dibacanya majalah itu sampai habis. Meskipun tidak mengerti, minimal ia mendapat hiburan dengan melihat gambar-gambar yang lucu di majalah itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Tiga puluh lima majalah dalam tumpukannya sudah habis dibaca oleh Sungmin. Tidak, lebih tepatnya hanya dilihat-lihat gambarnya. Karena yang dibaca hanya sedikit, yaitu yang hanya dimengerti olehnya.
Ia kini berpikir harus melakukan apa lagi. Ini masih terlalu pagi untuk Kyuhyun datang. Hingga ia merasakan bahwa ruangan ini sangat berdebu. Tanpa pikir panjang, Sungmin berjalan menuju pantry dan mengambil semua alat kebersihan lalu kembali lagi ke ruangan Kyuhyun. Ia menyapu, mengepel, dan mengelap semua benda yang ada di situ hingga semuanya tampak begitu bersih dan bersinar seperti saat ia datang berkunjung waktu itu.
"Semoga kau senang, Kyu..." Sungmin tersenyum ceria mengingat usahanya untuk menyenangkan hati Kyuhyun.
Ahh...
Perut Sungmin kembali sakit. Sepertinya bayi yang ada di dalam kandungannya sedang memberontak lagi. Ia benar-benar kesakitan sekarang. Sungmin pun kembali menuju sofa dan menselonjorkan kakinya. Ia terus mengusap-usap perutnya yang sedikit buncit dan tertutup kemeja itu. Mantel tebalnya ia lepaskan dan diletakkan tak jauh dari sofa.
"Aegya, kau tidak boleh begini. Kau jangan marah terus pada umma. Umma melakukan ini agar kita bisa bertemu appamu. Mianhae... Mianhae chagy..." Sungmin mengelus perutnya sambil menangis. Hingga dirasakannya tak ada lagi gejolak dari perutnya itu. Sepertinya bayinya itu mengerti perkataanya dan tidak protes lagi.
"Ah, kau memang pintar. Kau pasti dengar kata-kata umma... baiklah umma tidak akan bekerja keras lagi. Kita main game saja sebelum appa datang, ne?" Sungmin mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi permainan. Rasa ngantuk dan lelahnya masih menjalar, tapi ia harus menahannya.
Di luar ruangan itu sudah terdengar suara gaduh dan orang-orang yang saling menyapa. Sepertinya, jam kerja akan segera dimulai. Tapi Sungmin sadar, tak ada yang boleh mengetahui kalau dirinya ada di ruangan Kyuhyun. Kalau sampai mereka tahu, mereka akan bilang saat Kyuhyun datang nanti.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan Cho Corporation. Seorang eksekutif muda keluar dari dalamnya, membuat semua yang berada di sekitar situ terkejut. Dan kemudian menundukan kepalanya tersenyum.
Orang itu, orang yang empat bulan lalu pergi meninggalkan perusahaannya dan mempercayai asisten pribadinya untuk menggantikan tugas-tugasnya. Cho Kyuhyun. Ia berjalan masuk ke dalam perusahaannya dan menyapa semua karyawan yang dilaluinya.
"Apakah Tuan Cho sudah kembali? Ah, syukurlah... Perusahaan ini menjadi sedikit buruk dipegang oleh Tuan Lee." Celetuk salah satu karyawan yeoja.
Kyuhyun pun berhenti dan menatap karyawannya itu kemudian tersenyum. Ucapan sang karyawan membuat ia berhenti lalu menghampirinya.
"Benarkah? Sedikit buruk? Ah, untungnya tidak buruk sekali ya..." perkataannya itu sontak membuat beberapa karyawan yang mendengarnya jadi tertawa. Bosnya itu memang ramah. Jika di ajak bicara ia selalu bercanda. Keseriusannya hanya dicurahkan untuk masalah pekerjaannya saja.
"Tuan, apakah kau akan kembali untuk selamanya?" tanya karyawan yang lainnya lagi.
"Mungkin iya, mungkin juga tidak. Hehe, kalian tenang saja. Aku tak akan membuat Donghae mengahancurkan perusahaan ini. Akan kupukuli dia sekarang juga..." Lagi-lagi Kyuhyun menanggapinya dengan bercanda.
Kyuhyun melanjutkan jalannya menuju ke meja Seohyun, sekretaris pribadinya itu. Sampai di sana ia langsung menyapa Seohyun dan berbicara to the point.
"Seohyun-ah, apa saja yang telah dilakukan Donghae selama aku pergi? Tolong kau buat laporannya sekarang juga."
"Ne, Tuan. Aku akan membuatkannya segera."
"Gamsahamnida... Aku akan ke ruangan Donghae dulu."
Meja kerja Seohyun tepat berada di luar ruangan Kyuhyun. Namun tanpa melirik sedikitpun ke ruangannya, Kyuhyun sudah langsung berlalu menuju ruangan Donghae. Sedangkan Sungmin sedang berpikir apa yang akan dilakukannya jika bertemu Kyuhyun nanti. Apakah tersenyum padanya lalu meminta maaf? Atau apa? Ia sibuk dengan pikirannya hingga tidak mendengar suara Kyuhyun barusan yang ada di luar ruangan itu.
"Annyeong, Donghae-ah,.." Sapa Kyuhyun tersenyum ketika masuk ke ruangan Donghae.
"Ah, Cho Kyuhyun... Akhirnya Tuhan mengabulkan doaku. Kau kembali untuk memegang perusahanmu kan? Aku sudah tidak sanggup lagi..." sepertinya Donghae sangat bahagia melihat Kyuhyun saat itu.
"Tidak Donghae-ah... Tugasmu menggantikanku belum selesai. Aku memang sedikit khawatir akan perusahaanku. Tapi aku tidak punya orang yang dapat kupercaya lagi."
"Aku tidak bisa apa-apa lagi Kyu. Kemampuanku terbatas." Donghae mencoba menolak permintaan Kyuhyun kali ini. Ia sama sekali tidak tahu masalah yang dihadapi Kyuhyun sehingga membuatnya harus pergi. Kyuhyun hanya bilang, 'jangan tanyakan apa-apa padaku' sehingga Donghae pun tidak berani bertanya akan hal itu.
"Aku akan mendatangkan seorang pengajar untukmu. Agar kemampuanmu menjadi lebih baik dalam hal bisnis. Kau tidak bisa menolak perintahku." Kyuhyun menegaskan suaranya pada Donghae membuat asisten sekaligus temannya itu menjadi sedikit takut.
"Arasseo..." Donghae pun akhirnya menyerah. Ia tidak bisa melawan atasannya.
Kyuhyun hendak membuka pintu ruangan kerjanya. Ia memasukkan kuncinya tapi ternyata pintu itu sudah tak terkunci. Kyuhyun memang punya kuncinya dan yang ada di tangan Pak Kang adalah kunci cadangan. Kyuhyun menjadi sedikit terkejut karena hal ini. Apa yang dilakukan Pak Kang di ruangannya? Bukankah Pak Kang seorang satpam, masa ia ingin membersihkan ruangannya itu? Atau jangan-jangan ruangannya itu kemalingan?
CKLEKk...
Pintu ruangan itu pun terbuka. Sungmin yang sedang duduk di sofa menjadi terkejut dan dadanya menjadi bergetar hebat. Ia yakin itu Kyuhyun yang membukanya.
Kyuhyun pun masuk ke dalam ruangannya, dan...
DEGH..
"Min, kau?" Kyuhyun terkejut melihat Sungmin ada di hadapannya.
GLEP
Segera Sungmin berhambur memeluk Kyuhyun. Ia mengeratkan tubuhnya di dada suaminya itu. Erat sekali, seakan tidak ingin melepaskannya dan takut akan kehilangan lagi. Sungmin menangis sejadi-jadinya hingga air matanya membasahi jas hitam Kyuhyun. Kyuhyun masih kaget, tapi lama-kelamaan tangannya pun ikut merengkuh tubuh Sungmin. Memeluknya dengan erat meski sedikit ragu-ragu.
Sungmin melepaskan pelukannya pada kyuhyun. Matanya menatap wajah Kyuhyun dengan seksama. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah suaminyaitu, dan..
CHU~
Sungmin tak dapat menahan rasa rindunya lagi. Ia mencium Kyuhyun dengan intens sedangkan Kyuhyun hanya diam pasrah menerima ciuman itu. Tak bereaksi sama sekali. Sungmin melumat bibir Kyuhyun dan berharap ciumannya itu disambut hangat. Lama kelamaan Kyuhyun terbawa suasana. Tak dipungkiri ia juga sangat merindukan Sungmin dan menginginkan ciuman itu. Ia pun membalas ciuman Sungmin dengan sangat lembut dan penuh cinta. Tapi rupanya, kesadaran menghampiri otak Kyuhyun. Ia melepaskan ciumannya dan mendorong tubuh Sungmin.
"Kyu..." Sungmin menangis. Tubuhnya terhempas ke lantai.
"Mianhae, Min... Aku tidak bisa melakukannya. Kita bukan milikku lagi..." Sungmin bangkit dan kemudian memeluk Kyuhyun lagi.
"Kau salah.., Kau salah, Kyu.." Sungmin terus menangis di pelukan Kyuhyun. Meski Kyuhyun berusaha melepasnya, Sungmin terus saja mengeratkan pelukannya.
"Aku... aku masih istrimu. Aku tak pernah menandatangani surat cerai darimu. Kita... Kita... masih suami istri... hiks..." Isakan tangisnya semakin keras di dada Kyuhyun.
Kyuhyun sedikit tidak percaya mendengar ucapan Sungmin. Benarkah Sungmin masih istrinya?
"Saranghae... Sarangahaeyo Cho Kyuhyun..." Sungmin akhirnya bisa mengutarakan perasaannya pada Kyuhyun. Mendengar itu, Kyuhyun kaget dan akhirnya memeluk Sungmin dengan begitu erat.
Sungmin kembali mencium Kyuhyun lebih dulu dan Kyuhyun menerimanya dengan senang hati. Mereka saling menumpahkan kerinduannya masing-masing. Kini Kyuhyun yang mendominasi ciuman mereka hingga Sungmin akhirnya merasa kehabisan udara.
"Kyu... aku sesak..." Sungmin berbicara di sela ciumannya. Kyuhyun pun sadar dan akhirnya menyelesaikan ciuman mereka.
"Mianhae... Na do saranghae..." Kini Kyuhyun membawa Sungmin ke dalam pelukannya.
Ahh.. Kyu..
"Min, gwenchanayo?"
"Sakit, Kyu.." Kyuhyun terlihat khawatir dan membopong Sungmin ke sofa.
"Mana yang sakit, Min? Sebentar, aku akan panggilkan Dokter." Kyuhyun beranjak untuk menyuruh Seohyun memanggil dokter yang bekerja di klinik khusus perusahaannya, tapi Sungmin lebih dulu menarik tangannya dan itu membuat Kyuhyun merasa aneh.
Sungmin membawa tangan Kyuhyun ke perutnya yang masih tertutup kemeja. Perut buncitnya tidak terlihat karena kemeja itu besar. Diputar-putarnya tangan Kyuhyun di sana. Kini tanpa dibimbing lagi Kyuhyun mengerti kalau Sungmin merasa nyaman jika diusap perutnya. Ia pun mengusap-usap perut istrinya.
"Apa seperti ini baik?" Tanya Kyuhyun sambil menatap Sungmin.
"Eumm..." Sungmin mengangguk dengan sangat manis membuat Kyuhyun ikut tersenyum.
"Uri aegya, sangat merindukan appanya..."
"A.,. apa maksudmu, Min?" Kyuhyun mencoba mencari tahu dari kata-kata Sungmin barusan.
"Ne, Kyu... Aku hamil enam bulan..," Sukses mata Kyuhyun membulat. Ia terlihat berpikir mengingat-ingat kejadian di masa lalunya. Ya, ini adalah empat bulan kepergiannya. Tapi dua bulan sebelumnya ia pernah melakukan hubungan suami istri dengan Sungmin. Tepatnya saat pesta perayaan wisuda mereka di rumah Yesung.
"Tapi... kau namja, Min?" Kyuhyun sepertinya mencoba untuk tidak percaya. Mana mungkin Sungmin hamil. Terlebih kandungannya sudah enam bulan. Tapi saat ia menyentuh perut itu, memang perut istrinya membuncit meski tidak terlalu besar.
"Ini benar Kyu. Dokter bilang tubuhku memproduksi sel telur dan aku juga memiliki rahim sebagai tempat pertumbuhan janin." Sungmin menjelaskan, berharap suaminya itu akan percaya.
Kyuhyun menangis, ia memeluk Sungmin dengan erat. Tangannya mengusap rambut Sungmin dan sesekali mencium kening istrinya.
"Kyu... Kau tak akan pergi lagi kan?" Kyuhyun mengangguk.
"Kau, tak akan meninggalkanku lagi kan?" Kyuhyun mengangguk.
"Kau mau memaafkanku kan?" Kyuhyun kembali mengangguk.
"Kau mau menerima anak kita kan?" Tak ada anggukan saat ini.
"Kau jangan menangis terus. Aku akan selalu ada di sisimu. Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama..." Kyuhyun mengusap air mata Sungmin dan menyakinkannya. Kini Sungmin pun tersenyum dengan begitu manis di hadapan Kyuhyun.
Cup~
Sungmin mencium bibir Kyuhyun sekilas dan tersenyum. Kyuhyun membalas dengan memeluknya...
.
.
.
TBC
n_n
Lagi-lagi mianhae, MiNa ga bisa bales review satu satu
Tapi MiNa berharap reader semua tetep mau review
Coz itu yang buat MiNa semangat
Jongmal gomawo untuk semuanya
...
