Mianhae buat yg minta NC... MiNa belum bisa bikinin, coz terus terang MiNa masih agak2 risih buat NC. Masah gampangan baca daripada buatnya. hehe...
Chapter 8
Sungmin POV
Aku tidak tahu harus berucap apa lagi. Kebahagiaanku serasa sudah lengkap sekarang. Aku bisa kembali berkumpul bersama Kyuhyun, suamiku yang baru aku sadari kalau aku begitu mencintainya. Dan sekarang di rahimku ada seonggok daging hasil buah cinta kami yang kelak akan menjadi bayi mungil dan membawa sejuta kebahagiaan bagi kami.
Saat makan malam tadi, Kyuhyun bertanya lagi mengenai usia kandunganku. Padahal aku sudah memberitahunya saat di kantor tadi pagi, kenapa ia bertanya lagi? Ah mungkin saat itu ia tidak terlalu fokus. Aku katakan padanya kalau uri aegya sudah enam bulan di perutku. Tapi ia langsung membelalakkan matanya dan tidak percaya.
"Apa kau sudah periksakan kandunganmu ke dokter?" Tanya Kyuhyun padaku.
"Belum lagi. Terakhir aku periksa adalah tiga bulan yang lalu bersama Umma Cho. Itu pun umma yang mengajakku." Aku sadar kalau aku salah. Seharusnya aku memeriksakan kandunganku setiap bulan.
"Kenapa kau seperti itu, Min? Apa kau tidak mengkhawatirkan kondisi bayimu? Aku merasa janggal, kandungan usia enam bulan tidak akan sekecil itu." Kyuhyun berkata sambil sedikit emosi.
"Mianhae... saat itu yang ada di pikiranku hanya dirimu. Aku takut tidak bisa bertemu lagi denganmu.." aku hanya bisa menundukkan pandangan. Menatap piring berisi makan yang ada di meja makan.
"Apa kau jarang makan? Aku takut bayi kita kekurangan nutrisi sehingga perkembangannya lambat." Kyuhyun bertanya lagi, tampak kekahawatiran di matanya.
"Anniyo... Aku selalu makan dengan lahap. Bahkan porsi makanku meningkat. Anak kita selalu membuatku lapar." Kusanggah pertanyaan Kyuhyun itu.
Kyuhyun terlihat sedikit berpikir. Mungkin ada yang mengganggu pikirannya, pasti tentang kandunganku. Meski aku masih merasa bersalah, tetap saja aku senang kalau Kyuhyun perhatian pada perkembangan anaknya. Ah bukan, maksudku anak kami.
"Selesaikan makanmu, lalu kita tidur." Huh, kenapa suasana jadi tidak enak seperti ini. Ia memintaku untuk segera tidur, padahal aku sangat ingin melakukannya. Entah kenapa bayiku sepertinya sangat ingin mendapat sentuhan dan belaian lembut dari appanya. Tidak, ini bukan murni keinginan bayiku. Aku juga sangat merindukan sentuhan Kyuhyun pada tubuhku. Tapi jika suasana seperti ini, aku mana berani memintanya.
Setelah selesai makan, aku membersihkan piring-piring kotor bekas makanan kami. Kyuhyun sudah masuk ke dalam kamar lebih dulu. Aku jadi tidak berani mengajaknya bicara lagi. Dia pasti sedang marah.
Selesai mencuci piring, aku pun masuk ke dalam kamar. Kulihat Kyuhyun sedang berbaring di tempat tidur. Ia tidak tidur, masih kulihat matanya yang berkedip sambil menatap langit-langit kamar. Aku mendekat lalu kubaringkan juga tubuhku di sebelahnya. Aku tak berani berkata apa-apa. Kupikir, hanya memejamkan mata kemudian tidur. Lalu esok akan kembali seperti sedia kala.
Perasaanku tidak enak jika seperti ini. Mataku memang terpejam, tapi aku tidak tidur. Lalu kurasakan ranjang kami bergetar, sepertinya Kyuhyun merubah posisi berbaringnya. Meski aku tidak membuka mata, aku tahu kalau sekarang Kyuhyun sedang menatapku. Kini dapat kurasakan tangan Kyuhyun mengelus-elus perutku. Ini sungguh nyaman. Tak lama kemudian ia merengkuh tubuhku dan memelukku. Kudengar detak jantungnya yang mengalun lembut di telingaku. Nafasnya yang teratur juga berhembus ke dahiku. Aku pun membuka mata.
"Kyu..." panggilku dengan lembut, tak ingin membuatnya marah.
"Hmm? Kau belum tidur?" tanyanya padaku. Ia masih memelukku.
"Aku pikir kau marah padaku..." Kyuhyun tersenyum kemudian mengecup keningku.
"Besok aku akan melihat perusahaan sebentar. Setelah itu, kita pergi ke dokter kandungan..." ucapnya seakan bertanya.
"Ne, aku mengerti. Jadi kau tidak marah?" tentu saja aku masih belum yakin jika suasana masih seperti ini.
"Memangnya aku terlihat sedang marah? Aku kan tidak membentakmu..." Kyuhyun bertanya sambil tersenyum.
"Tapi kau bicara terlalu sedikit, aku jadi takut!" seruku sambil memukul dadanya. Ia pun kembali mengeratkan pelukannya padaku. Ah, aroma ini.. aroma yang sangat aku rindukan selama empat bulan belakangan.
Kami terdiam sambil berpelukan. Aku belum ingin tidur. Aku masih ingin menikmati betapa nyamannya berada dalam pelukan suamiku. Kurapatkan wajahku ke dadanya agar aku merasa kehangatan yang lebih. Aku pikir Kyuhyun sudah tidur, tapi ternyata...
"Min..." ia memanggil namaku.
"Hmm?"
"Kau bilang anak kita selalu membuatmu lapar. Tapi kenapa kau makan sedikit sekali tadi?" Ia bertanya lagi padaku.
"Entahlah, Kyu... Mungkin karena ia sudah bertemu appanya." Jawabku sambil tersenyum. Ia pun ikut tersenyum juga.
Malam itu, kami melewati malam yang dingin sambil berpelukan. Kami tidur sampai pagi dengan kondisi seperti itu.
Sungmin POV End
.
.
Author POV
"Min, bersiaplah aku akan menjemputmu." Suara dari seberang telepon itu menyapa Sungmin.
"Ne, Kyu..." Telepon itu pun ditutupnya.
Kyuhyun menelepon Sungmin dari Kantornya. Mereka sudah berencana untuk memeriksa kandungan Sungmin ke dokter.
Sungmin mengelus lembut perutnya. Ia bahagia sekali sepertinya.
"Kau lihat kan chagy, appa begitu perhatian pada kita..."
"Tapi... umma takut yang appamu khawatirkan itu benar. Semoga kondisimu tidak bermasalah..."
Sungmin bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ia tampak ceria sekali dengan kemeja warna pink kesukaannya. Semenjak hamil, ia tak pernah memakai kaos lagi. Ia sadar kalau kaos akan membuat bayinya merasa sesak dan pengap.
Sebuah pesan singkat datang ke ponsel Sungmin, dan ia pun segera pergi ke luar gedung apartemen untuk menemui Kyuhyun. Perasaannya sangat bahagia, seperti akan pergi berkencan saja. Di depan gedung apartemen, Sungmin melihat suaminya sedang bersender di depan pintu mobilnya. Sungmin menghampiri, lalu Kyuhyun pun membukakan pintu mobil untuk istrinya. Sebelum istrinya masuk,
~CHU
Kecupan sekilas mendarat di bibir Sungmin.
"Kyu..." Sungmin kaget dan wajahnya langsung merona merah. Sangat manis.
"Hari ini kau cantik sekali, Min..."
BLUSH~
Sudah merah, makin merah pula wajahnya mendengar pujian Kyuhyun.
Sungmin masuk dan duduk di kursi sebelah Kyuhyun. Setelah itu baru kemudian Kyuhyun yang masuk ke dalam mobilnya. Setelah duduk di dalam mobil, Kyuhyun pun memasangkan seatbelt pada Sungmin. Kemudian Kyuhyun menundukkan kepalanya agar sejajar dengan perut Sungmin.
"Aegya, ayo kita periksakan dirimu. Appa harap kau baik-baik saja, ne?" Kyuhyun pun mengecup perut Sungmin dari luar kemejanya. Kemudian ia bangkit dan menyalakan mobilnya.
"Kyu..." Sungmin memanggil Kyuhyun pelan sedangkan yang dipanggil masih fokus pada setirnya.
"Hmm?" jawab Kyuhyun seadanya.
"Kau tampan!" seru Sungmin malu-malu.
"Hei, apa kau baru menyadari kalau aku tampan? Ckckck..." Kyuhyun tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukan aku yang bilang, Kyu... tapi bayi kita." Sungmin pun menyanggah dengan alasan yang bisa dikatakan memang logis bagi orang hamil.
"Oh... Tapi kau juga mengakuinya kan?" Sambil terus menyetir Kyuhyun masih bertanya.
"Tidak. Kau jelek sekali!" aku Sungmin.
"Arasseo, kalau begitu jangan pernah memintaku lagi untuk menyentuhmu!" Kyuhyun mengancam karena teringat kemarin saat Sungmin memintanya.
"Anniyo... Kau tampan Kyu. Bahkan sangat tampan. Sungguh!" hahaha, sepertinya Sungmin takut dengan ancaman suaminya. Mendengar itu Kyuhyun pun puas tersenyum karena lagi-lagi berhasil menggoda istrinya.
Kyuhyun dan Sungmin sudah sampai di rumah sakit. Mereka datang ke dokter yang diberitahu Sungmin, karena dokter itulah yang menanganinya sejak awal dan ia tahu kalau ini adalah kasus male pregnancy.
"Jadi bagaimana kondisi bayi kami, Dokter?" Kyuhyun langsung bertanya setelah sang dokter selesai memeriksa Sungmin.
"Kami sedikit kecewa karena kalian baru memeriksakannya. Tapi tidak perlu khawatir, bayi kalian baik-baik saja tidak kekurangan nutrisi satupun." Begitu kata sang dokter.
"Apa kandungan istri saya terlihat lumrah seperti wanita hamil enam bulan lainnya?" tanya Kyuhyun lagi penasaran. Ia hanya ingin tahu, karena ketika Sungmin meminta kyuhyun untuk mengelus perutnya saat kesakitan di kantor waktu itu, Kyuhyun tak tahu bahwa Sungmin sedang hamil kalau saja tidak diberitahu. Ia hanya merasa bahwa perut Sungmin agak membuncit dan istrinya itu terlihat gemuk.
"Ah, ini hanya sedikit masalah. Tapi kalian jangan khawatir. Selama nutrisinya terpenuhi ia akan baik-baik saja. Mungkin memang bayinya kecil. Hanya saja, tolong tuan Lee Sungmin jangan terlalu stress karena akan menghambat perkembangan janin." Jelas dokter lagi kepada Kyuhyun dan Sungmin. Mungkin benar, bayi mereka stress karena ibunya selalu memikirkan appanya, sampai-sampai tak pernah memperhatikan kondisi bayi mereka. Kyuhyun dan Sungmin pun mengerti dan dapat bernafas lega, mereka lalu beranjak untuk meninggalkan ruangan dokter tersebut.
Mereka berdua berjalan di koridor rumah sakit. Kakinya terus melangkah menuju ke luar rumah sakit untuk kembali pulang.
"Apa kau akan kembali bekerja, Kyu?" Sungmin bertanya ketika dirinya sudah sampai dan duduk di dalam mobil.
"Tidak, aku ingin menghabiskan waktu bersama istriku tercinta..." mendengar itu Sungmin jadi malu-malu dan menunduk. Wajahnya tak dapat menutupi kesan rona merahnya.
"Eumm... Kyu, aku ingin ke rumah umma dan appa." Sungmin melontarkan keinginannya kepada Kyuhyun.
"Mwo? Untuk apa, Min? Kau tidak ingin menghabiskan waktu bersamaku? Kemarin kau ngotot untuk melakukannya."
"Sekarang sudah tidak ingin lagi. Lagipula, apa kau tidak rindu pada umma dan appa? Aku ingin memberitahu mereka kalau kau sudah kembali." mata Sungmin mendelik-delik dengan puppy eyesnya seperti memohon supaya Kyuhyun mengabulkan permintaannya.
"Baiklah..." Akhirnya Kyuhyun pun setuju dan melajukan mobilnya ke rumah keluarga Cho.
.
.
"Appa, annyeonghaeyo! dan tebak, siapa yang aku bawa sekarang?" Sungmin masuk ke dalam rumah keluarga Cho seorang diri dan melihat sang appa sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Min, kau kesini... Apa keadaanmu sudah membaik? Memang kau datang bersama siapa?" Mr. Cho memang kaget karena menantunya tiba-tiba datang. Beberapa bulan yang lalu, bahkan dikunjungi saja tidak mau. Bilangnya hanya ingin sendiri.
"Aku sudah baikan, Appa. Kau ingin tahu kan siapa yang aku bawa?" Sungmin memang sengaja menyuruh Kyuhyun untuk menunggu di luar. Ingin memberi kejutan katanya. Meski dengan berat hati akhirnya Kyuhyun menurut juga, ia sadar mungkin itu keinginan bayinya. Istrinya jadi bersifat kekanak-kanakkan.
Sungmin pun berjalan ke arah pintu dan masuk lagi dengan menarik Kyuhyun dengan tangannya. Yang ditarik seperti tidak terima dan kadang menghentikan langkahnya. Heran dengan sikap istrinya itu.
"Kyu, ayo cepat!" Seru Sungmin sambil menarik Kyuhyun.
"Appa... Tara! aku bawa Kyuhyun!" Sungmin berteriak dengan riangnya. Hahaha, benar-benar childish.
Sang appa tentu saja kaget melihat anaknya yang sudah empat bulan menghilang tanpa kabar dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil. Tapi sepertinya reaksi Mr. Cho bukannya senang, namun lebih ke arah marah dan akhirnya mengeluarkan deathglarenya.
BUGH!
"Yaa... anak kurang ajar! Tidak tahu diri!" Mr. Cho pun memukul anak semata wayangnya itu dengan pukulan yang sepertinya keras di perut Kyuhyun.
"Appa!" Kyuhyun seperti tidak terima mendapat pukulan itu.
"Kau sudah meninggalkan istrimu! Menelantarkannya sendirian! Dan membuatnya menangis setiap hari. Kau benar-benar tidak tahu diri, Cho Kyuhyun!" Satu pukulan lagi melayang di tubuh Kyuhyun. Anehnya, Sungmin yang melihat itu malah terlihat tenang -tenang saja, bahkan ia tersenyum sendiri tanpa ada maksud melerai kemarahan sang ayah mertua . Ah, mungkin ini keinginan bayinya juga, mungkin bayi mereka ingin melihat appanya tersiksa, karena telah meninggalkannya selama ini. Hahaha...
"Kau pergi tanpa kabar dan menyerahkan urusan perusahaan pada Donghae yang tidak tahu cara berbisnis. Kau tidak bisa dimaafkan!" Lanjut Mr. Cho dan satu pukulan lagi diterima anaknya.
"Kau membuat kami semuanya khawatir. Kami mencarimu kemana-mana tapi hasilnya selalu nihil! Kau harus diberi pelajaran agar kau tahu diri dan tidak egois dengan keinginanmu sendiri..." Lanjutnya lagi. Pukulan keempat, Kyuhyun sudah hampir terhuyung. Perutnya mules dipukul terus menerus.
"Ampun, Appa... Ampun... Aku bukan anak kecil..." Kyuhyun meringis kesakitan, berharap berhenti memukulinya.
Mendengar suara-suara berisik di ruang tamu membuat Mrs. Cho bangun dari tidur siangnya. Ia melangkah ke arah sumber suara dan betapa terkejutnya ia melihat anak kesayangannya dipukuli oleh suaminya sendiri.
"Yeobo! apa yang kau lakukan? Hentikan!" Teriak Mrs. Cho pada suaminya.
"Biar saja, anak ini harus diberi pelajaran!" Mr. Cho ingin mendaratkan pukulannya lagi. Namun aksinya terhenti.
"Hentikan! Aku bilang hentikan!" mendengar teriakan sang istri yang semakin keras akhirnya pukulan itu pun berhenti. Mrs. Cho menghampiri Kyuhyun dan memegang pipi anaknya itu.
"Kyuhyun... Benarkah ini Kyuhyun?" Tatapan tak peracaya itu terpancar dari mata Mrs. Cho.
"Ne, Umma. Ini aku, Kyuhyun." Jawab Kyuhyun menyakinkan.
"Kau kemana saja? Kami semua mencarimu. Kau membuat Sungmin menangis setiap hari." Mrs. Cho pun memeluk anaknya dengan erat.
"Mianhae, Umma..." Kyuhyun menyesal di pelukan ibunya.
.
.
"Kyu... mmph..." Sungmin terus mendesah keenakan. Kyuhyun terus saja melumat bibir cherry milik Sungmin dengan lembut. Pagi ini Kyuhyun kembali merasa terangsang melihat tubuh istrinya yang polos tanpa pakaian setelah semalaman bermesraan.
Meski perutnya membesar, bagi Kyuhyun istrinya itu tetap cantik. Pesonanya akan selalu membuat Kyuhyun tidak dapat menahan hasratnya. Terlebih jika sang istri telah melakukan sikap aegyo tanpa disengaja, maka saat itu juga kyuhyun akan langsung menerkamnya. Itulah sebabnya kenapa Kyuhyun tidak bisa menghukum Sungmin lama-lama dengan tidak menyentuhnya.
"Min, aku menginginkanmu lagi..." seru Kyuhyun memohon.
"Kyu, bayi kite lelah. Apa kau tidak kasihan? Aku janji akan melakukannya kapanpun kau minta jika bayi kita sudah lahir..." Sungmin menolak dengan halus. Ia sadar kalau orang hamil tidak boleh terlalu sering melakukan hubungan intim.
Kyuhyun sedikit kecewa, namun tentu saja ia bisa mengerti. Biar bagaimanapun Kyuhyun juga sangat menyayangi bayi di dalam kandungan Sungmin. Beribu dan berjuta kali lipat sayangnya. Kyuhyun pun mengecup bibir Sungmin sekilas sebagai tanda berakhirnya aktivitas mereka.
"Pakailah bajumu. Aku tidak bisa tahan melihat tubuhmu itu!" Sungmin tersenyum dan mengambil baju-baju yang berserakan di lantai.
.
.
TING... TONG...
Bel apartemen mereka berbunyi. Sungmin langsung beranjak ke arah pintu dan membukanya, sedangkan Kyuhyun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ternyata Yesung dan Wookie yang datang. Sungmin melihat kedua sahabatnya itu dengan tatapan malas. Seperti tidak menginginkan kedatang mereka.
Sungmin berbalik masuk ke kamarnya lagi tanpa sepatah kata pun. Sedangkan kedua sejoli itu masuk ke dalam meski tanpa ijin pemilik rumah. Yesung dan Wookie duduk di ruang tamu. Ia sadar Sungmin bersikap tidak baik padanya. Mereka berdua memutuskan menunggu karena menurut mereka mungkin Sungmin sedang memanggilkan Kyuhyun. Benar saja, tak selang beberapa lama Kyuhyun keluar dari kamarnya.
"Hyung... Wookie..." Seru Kyuhyun pada dua namja itu.
"Kenapa Sungmin tidak keluar, Kyu?" tanya Yesung penasaran. Padahal ia sudah tahu jawabannya.
"Sepertinya ia masih marah, hyung. Kau membuatnya menangis saat di telepon waktu itu." Jelas Kyuhyun.
"Tapi aku tidak memarahinya. Aku marah padamu, dan aku hanya ingin ia menyampaikannya padamu." Yesung pun berdalih, tapi memang benar juga sih. Yesung marah-marah waktu itu bukan kepada Sungmin.
"Aku tahu, hyung. Tapi ia kan sedang hamil, jadi perasannya sangat sensitif. Seharusnya hyung mengerti itu." Jelas Kyuhyun lagi.
"bisakah kau membawanya kemari? Aku ingin minta maaf padanya?" tukas Yesung lagi.
"Baiklah, aku akan mencobanya..." Kyuhyun melangkah menuju kamarnya untuk menghampiri Sungmin.
Sampai di kamar, Kyuhyun melihat Sungmin sedang duduk di ranjang tanpa melakukan apapun. Mungkin ia sedang melamun.
"Min... Ayo keluar. Tidak sopan jika ada tamu kau hanya di dalam."
"Mereka bukan tamu, Kyu. Mereka sudah sering kemari, jadi mereka bukan tamu." Sungmin mengelak dari perkataan Kyuhyun.
"Yesung hyung ingin meminta maaf padamu. Ayo keluar..." ajak Kyuhyun lagi.
"Shiro!" Sungmin masih menolak.
"Min, kau tidak boleh membenci Yesung hyung dengan berlebihan begitu. Apa kau ingin anak kita mirip dengannya nanti?" Sungmin terperangah mendengar ucapan Kyuhyun. Ia menatap Kyuhyun dan matanya seperti berkata kenapa Kyuhyun mengatakan itu seperti itu?
"Kau tidak tahu ya? Jika orang hamil membenci seseorang, maka anaknya nanti akan mirip orang yang dibencinya..."
"Andwae! Aku tidak mau. Anakku tidak boleh mirip Yesung." Sungmin terlihat ketakutan sekarang.
"Memangnya kenapa? Aku rasa Yesung hyung cukup tampan..." Kyuhyun pun mengeluarkan evil smirknya. Ia merasa kalau bujukannya itu akan berhasil.
"Tapi, dia aneh. Anak kita harus tampan dan jenius seperti appanya..." Sungmin cemberut dan wajahnya ditekuk. Ia tidak terima jika anaknya nanti mirip dengan Yesung.
"Kalau yeoja, ia juga harus manis dan cantik sepertimu..." Kyuhyun merayu Sungmin lagi. Wajah istrinya itu sudah merona merah menahan malu akibat pujian Kyuhyun.
"Aku tampan, Kyu!" meski wajah sudah memerah masih saja ia mengelak.
"Iya iya baiklah, kau tampan. Tapi kau juga cantik chagy..." Wajah Sungmin semakin memerah saja.
"Yasudah ayo keluar, Yesung hyung dan Wookie sudah menunggu lama.." Kyuhyun menarik tangan Sungmin dan membawanya ke ruang tamu.
Meski awalnya Sungmin masih menunjukkan wajah tidak sukanya pada Yesung, tapi akhirnya ia mau juga memaafkan Yesung. Tentu saja hal ini berkat andil dari Wookie. Namja imut itu sadar kalau kemarahan Sungmin semata-mata adalah bawaan bayinya. Wookie membawa perlengkapan bayi dengan warna kesukaan Sungmin yang serba pink untuk merayu sahabatnya yang sedang sensitif itu. Padahal Yesung sendiri tidak tahu kalau namjachingunya itu telah menyiapkan semua itu.
Mata Sungmin langsung berbinar-binar begitu melihat pemberian Wookie. Wajahnya yang tadi terus ditekuk pun mulai ikut tersenyum. Bagaimana tidak senang, Kyuhyun saja belum membelikan perlengkapan untuk bayinya. Padahal ini adalah bayinya sendiri.
'huh, dasar orang hamil. Kenapa moodnya gampang sekali berubah!' batin Kyuhyun dalam hati. Ia ikut senang melihat istrinya itu kembali akur dengan Yesung.
"Baiklah, aku akan memaafkan kalian tapi jangan melakukannya lagi. Kalian menyakiti perasaan bayiku!" Sungmin akhirnya tersenyum ceria kembali di hadapan mereka. Tangannya sibuk membuka-buka pakaian bayi dari Wookie dan mendekatkannya ke perutnya.
"Aegya, kau pasti cantik memakai ini. Ayo ucapkan terimakasih pada Wookie ahjussi!" Sungmin mengajak bayinya bicara seolah kalau bayinya itu mendengar dan mengerti ucapannya.
"Gomawo ahjuccii..." Lanjut Sungmin lagi dengan suara yang meniru anak kecil. Mereka yang melihatnya langsung tertawa melihat tingkah Sungmin yang kekanakan itu. Bagi mereka Sungmin sungguh lucu dan imut.
.
.
Kandungan Sungmin sudah masuk usia delapan bulan. Perutnya sudah semakin membuncit. Dan kini terlihat normal karena mungkin Sungmin tidak terus memikirkan Kyuhyun lagi sehingga tidak akan membuat bayinya stress dan tertekan lagi.
Malam ini Sungmin menggeliat dari tidurnya. Ia terus menggoyang-goyangkan tubuhnya seperti tidak nyaman. Dan akhirnya ia membuka kedua mata yang sebelumnya terpejam. Ia bangkit dan duduk di tempat tidurnya. Dilihatnya Kyuhyun sedang tertidur lelap di samping tubuhnya.
"Kyu... bangun..." tidak adak jawaban dari Kyuhyun. Ia masih tertidur dengan lelapnya.
"Kyu... bangun, Kyu!" nada suara Sungmin lebih keras sekarang. Ia kesal karena Kyuhyun tidak bangun-bangun.
"Ada apa, Min? Ini sudah malam..." Kyuhyun membuka matanya dengan malas kemudian ikut duduk sama seperti Sungmin.
"Kyu... aku ingin main ke taman hiburan. Ayo kita kesana Kyu!" pinta Sungmin dengan sangat memelas. Ah, sepertinya ia sedang mengidam sekarang.
"Mwo? Kau ini bercanda, Min. Ini sudah jam tiga pagi, mana ada taman hiburan yang buka." Kyuhyun kembali membaringkan tubuhnya berusaha melupakan keinginan istrinya.
"Tapi aku ingin kesana. Ayo Kyu!" Sungmin menarik-narik tangan Kyuhyun agar bangun lagi dari tidurnya. Tapi tampaknya percuma saja.
"Baiklah... kalau kau tidak mau aku akan ke sana sendiri..." Sungmin merajuk dan berusaha mengancam Kyuhyun. Sungmin mengambil jaketnya dan keluar dari kamar.
Sebenarnya Kyuhyun malas untuk meladeni istrinya itu. Tapi tentu saja ia khawatir jika Sungmin pergi ke taman hiburan sendiri pagi-pagi buta seperti ini. Meskipun ia seorang namja tapi tetap saja ia berbeda karena sedang hamil.
Kyuhyun pun beranjak dan mengambil jaketnya juga. Ia tahu kalau sungmin sudah mengambil kunci mobilnya, jadi Kyuhyun langsung pergi ke tempat parkiran atau basement di apartemennya dan berlari mengejar Sungmin takut kalau istrinya itu sudah pergi sendiri.
Kyuhyun tersenyum lega karena ia masih melihat Sungmin baru saja membuka pintu mobilnya. Sebelum masuk ke dalam mobil, Kyuhyun sudah lebih dulu memegang pintu mobilnya dan membuat Sungmin kaget.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri..." Kyuhyun berkata dengan nada datar. Namun Sungmin tersenyum mengetahui kalau suaminya itu ternyata sangat peduli.
Tiba di taman hiburan, ternyata tempat itu masih tutup dan gelap sekali. Hanya ada satpam yang sedang tidur di posnya. Sungmin bersikeras untuk masuk meski Kyuhyun mencoba meyakinkannya kalau ia masuk pun tak akan ada satu permainan pun yang akan jalan karena tidak ada yang mengendalikannya. Namun Sungmin masih saja keras kepala. Ia bilang kalau Kyuhyun begitu jahat karena tidak mau memenuhi keinginan bayinya. Kyuhyun yang mendengar itu tentu saja tersentak, ia tidak mau dibilang tidak peduli pada bayinya.
Kyuhyun pun mendekati pos satpam dan membangunkan satpam jaga yang sedang tidur. Ia meminta satpam itu untuk membuka pintu taman hiburan karena istrinya sedang mengidam untuk bermain di dalamnya. Satpam itu bersikeras menolak karena takut Kyuhyun akan mencuri sesuatu di dalamnya atau merusak wahana-wahana permainan di sana. Namun dengan sedikit imbalan yang diiming-imingi Kyuhyun satpam itu pun akhirnya mau membuka pintu taman hiburan dan Sungmin pun masuk ke dalamnya bersama Kyuhyun.
Sungmin tampak gembira sekali di sana. Meski semua wahana tidak ada yang berjalan, Sungmin tetap menaiki semua wahana itu dan hanya duduk-duduk saja di setiap wahana dengan wajah yang sangat mengekspresikan kebahagiaan. Kyuhyun hanya memperhatikan dan menjaga istrinya dari jauh. Ia tidak mau ikut-ikutan menaiki semua wahana yang tidak jalan sambil tertawa-tawa girang. Baginya itu hanya pekerjaan orang gila, terlebih pagi-pagi buta seperti ini.
Sepertinya Sungmin sudah cukup puas dengan rasa ngidamnya itu. Ia menarik tangan Kyuhyun yang sedang mengantuk-ngantuk untuk segera membawanya pulang. Kyuhyun yg sudah hampir terlelap sambil duduk menjadi tersentak begitu saja karena ulang Sungmin tadi. Dan ia hanya mengikuti Sungmin dari belakang karena dirinya diseret pelan oleh sang Istri.
Di mobil Kyuhyun masih mengucek-ngucek matanya. Sepertinya namja tampan ini masih sangat mengantuk, tapi terpaksa harus menuruti keinginan sang istri yang tengah mengidam. Ia mengemudikan mobil dengan sangan kencang meski matanya sering sekali berkedip agar bisa tetap terjaga. Ia hanya ingin segera sampai di rumah dan melanjutkan tidurnya, tidak peduli dengan Sungmin yang sudah terlelap pada kursi mobil di dampingnya.
Kyuhyun terus melajukan mobilnya dengan tidak beraturan. Menurutnya malam-malam bagini pasti jalanan masih sepi, tidak perlu khawatir dengan kendaraan lain yang akan melintas. Tapi siapa sangka, takdir berkata lain.
BRAAAKKKK!
Dari arah berlawanan sebuah truk besar datang menghantam mobil Kyuhyun. Truk itu hanya ingin menikung dan siapa yang tahu kalau di depan tikungan itu ada mobil lain yang sedang melintas, mobil yang dikendarai Kyuhyun.
.
.
.
TBC
Hehehe,, menurut MiNa ini part paling gaje yang MiNa pernah buat. Tapi semoga readerdeul tetep mau baca. Chap depan fict ini bakalan end ya...
Kecup terimakasih buat semua reader setia MiNa yang udah sempetin buat review. Mianhae, MiNa ga bisa sebutin satu-satu ya. Pokoknya, tanpa review dari kalian MiNa gak akan ada semangat untuk ngelanjutin fict ini.
Arigatou Minasan ^^
