Mianhae, karena MiNa terlalu lama updatenya. hehehe... MiNa lg males ngedit, jd terima aja ya kesalahan penulisannya ^_^
Chapter 9 (End)
Sungmin dan Kyuhun dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh beberapa orang polisi yang menghampiri tempat terjadinya kecelakaan itu. Polisi itu juga menghubungi keluarga Kyuhyun melalui kartu identitas yang mereka temukan.
Mr dan Mrs Cho berlari dengan panik di lorong rumah sakit. Mereka memutuskan untuk berpisah menemui anak dan menantunya. Mr Cho berlari ke ruangan di mana Kyuhyun ditangani, lebih tepatnya ke UGD. Sedangkan Mrs Cho berlari ke ruangan Sungmin. Ia ingin memastikan kondisi menantu dan calon cucunya nanti.
Mr Cho tiba di UGD. Ia menghampiri ranjang tempat Kyuhyun berbaring. Dilihatnya wajah Kyuhyun yang penuh luka memar. Kepalanya terbalut perban karena terbentur kemudi mobil. Tak lama Kyuhyun pun sadar dari tidurnya. Untunglah ia tidak begitu parah.
"Kyu, kau sudah sadar.." Mr Cho memastikan keadaan anaknya.
"Appa. Sungmin.. Sungmin dimana?" mata Kyuhyun menyiratkan kekhawatiran yang begitu mendalam.
"Dia masih ditangani para dokter. Kau jangan cemas. Umma berada bersamanya.." jelas Mr. Cho pada Kyuhyun.
"Apa Sungmin baik-baik saja? Bagaimana anakku appa? Apa mereka semua selamat?" Kyuhyun bertanya secara beruntun. Membuat Mr. Cho bingung untuk menjawabnya.
"Kyu, kau harus tenang dulu. Percayakan semuanya pada dokter di sini." Ucap Mr. Cho meyakinkan Kyuhyun.
"Tidak. Aku tidak bisa tenang. Antar aku menemuinya, appa. Aku mohon!" Kyuhyun memohon dengan sangat. Ia bangun dari berbaringnya dan hendak beranjak, tapi Mr. Cho segera mencegah tindakan Kyuhyun tersebut.
"Kyuhyun-ah, kau belum pulih benar. Istirahatlah dulu, kita tunggu kabar dari umma mu."
Namun nihil, Kyuhyun tak bisa menuruti apa kata appanya. Ia segera berlari meninggalkan ruang UGD menuju meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan Sungmin.
Kyuhyun pun melanjutkan larinya setelah mendapat informasi. Dengan perban di kebalanya yang terlihat ada bercak darah, pakaian rumah sakit, dan tanpa alas kaki tentu saja mengundang perhatian para pengunjung rumah sakit. Tapi Kyuhyun tak peduli itu, di kepalanya hanya ada rasa khawatir dan cemas. Takut kalau istrinya kenapa-kenapa.
Kyuhyun tiba di lorong rumah sakit tempat Sungmin ditangani oleh para dokter. Ia melihat ummanya berdiri dengan perasaan khawatir sambil bolak-balik di depan pintu sebuah ruangan.
"Umma.." panggil Kyuhyun pada Mrs. Cho.
"Kyuhyun-ah, kenapa kau kemari. Apa kau baik-baik saja?" tanya Mrs. Cho cemas.
"Ne, umma. Aku baik-baik saja. Bagaimana keadaan Sungmin umma? Bagaimana kandungannya?" tanya kyuhyun lagi.
"Umma tidak tahu sayang. Sejak pertama sungmin masuk ke ruangan itu, dokter tidak pernah keluar lagi.." jelas Mrs. Cho pada anaknya.
"Sung..miin..." Kyuhyun jatuh tersungkur ke lantai. Ia berlutut dengan tangan mengegang kursi tunggu. Kepalanya ia benamkan dalam-dalam ke celah di antara kedua tangannya itu.
"Ini semua salahku. Andai aku mengemudi dengan benar. Sungmin tidak akan pernah celaka, bayi kami akan baik-baik saja." Kyuhyun menangis semakin keras.
"Bangunlah Kyu, ini semua bukan salahmu. Ini sudah takdir dari Tuhan, kau jangan menyalahkan dirimu." Mrs. Cho merengkuh rubuh rapuh Kyuhyun dan mendudukkannya di kursi tunggu. Tak lama kemudia Mr. Cho juga datang ke tempat mereka.
"Yeobo, bagaimana keadaan Sungmin dan kandungannya?" tanya Mr Cho pada istrinya.
"Ia masih ditangani dokter sejak tadi. Semoga tidak terjadi apa-apa pada Sungmin dan bayinya." Harap Mrs. Cho pada keadaan.
Tampang mereka bertiga masih sangat cemas dan lusuh. Penasaran pada apa yang akan dikatakan dokter nantinya saat keluar dari ruangan yang ada di hadapannya itu. Tak lama, terdengarlah bunyi sebuah pintu dibuka. Salah seorang dokter yang menangani Sungmin pun keluar menemui mereka. Kyuhyun langsung terlonjak dari duduknya. Ia segera menghampiri dokter itu.
"Dokter, bagaimana keadaan istriku? Kandungannya bagaimana?" tanya Kyuhyun mendesak dokter agar cepat memberitahu keadaan istrinya.
"Air ketubannya sudah pecah karena kecelakaan itu. Dengan berat hati kami harus melakukan operasi untuk mengangkat bayinya." Jelas dokter itu dan membuat Kyuhyun membelalakkan matanya seketika.
"Tidak mungkin dokter. Usia kandungannya baru delapan bulan. Bagaimana mungkin bayinya harus dikeluarkan?"
"Jika tidak segela dikeluarkan, ini akan berbahaya bagi Sungmin dan bayinya." Jelas dokter itu lagi.
"Selamatkan Sungmin! Selamatkan anakku! Lakukan apa saja yang kau inginkan dokter. Yang penting meraka semua selamat!" Kini Kyuhyun terlihat memohon pada sang dokter.
"Akan kami usahakan.." Dokter itu pun kembali lagi ke dalam ruangan.
Satu jam sudah berlalu, namun belum ada tanda-tanda operasi akan selesai. Kyuhyun dan kedua orangtuanya masih menunggu sambil berharap-harap cemas. Hingga kemudian pintu ruangan operasi itu terbuka oleh seseorang dari dalam, dan keluarlah dokter yang tadi menemui Kyuhyun.
"Kami minta maaf. Operasi tidak berjalan dengan lancar. Kondisi pasien sangat lemah, tubuhnya tidak bisa menyesuaikan diri dengan kondisi kandungannya. Mungkin karena pasien seorang namja." Dokter menjelaskan pada Kyuhyun dan orangtuanya.
"Dengan sangat berat, kami hanya bisa menyelamatkan satu nyawa saja dari keduanya. Kami juga tidak tahu di antara mereka siapa yang akan selamat. Ibunya atau bayinya. Jadi kami harap, keluarga bisa menyiapkan diri menghadapi keadaan yang akan terjadi." Jelas dokter lagi kemudian segera melangkah masuk kembali ke ruang operasi. Namun belum sampai di pintu, tangan dokter itu sudah dicekal oleh Kyuhyun.
"Tunggu selamatkan mereka. Aku membutuhkan mereka. Aku mohon dokter, selamatkan mereka berdua. Aku akan melakukan apapun yang kau minta jika kau menyelamatkan mereka." Kyuhyun benar-benar kalut sekarang. Ia meohon-mohon pada doks=ter seakan dokter itu adalah pemilik nyawa seseorang.
"Aku tidak akan meminta apapun tuan. Berdoalah, berharaplah keajaiban dari Tuhan." Dokter itu tersenyum. Yah, dokter benar. Hanya Tuhan yang dapat memberi keajaiban. Setelah mengatakan itu, sang dokter pun kembali masuk ke ruangan operasi.
Kyuhyun memikirkan apa kata dokter barusan. Ia ingin sekali berdoa. Meminta pada Tuhan agar Sungmin dan bayinya selamat. Haruskah ia pergi ke gereja? Menghadap Tuhannya, memohon agar menyelamatkan keluarganya yang sedang bertaruh dengan nyawa. Tapi Kyuhyun tak ingin berada jauh dari Sungmin. Letak gereja jauh di luar rumah sakit. Ia tidak bisa meninggalkan Sungmin sendirian. Ia ingin segera melihat Sungmin ketika istrinya itu dinyatakan baik-baik saja oleh dokter.
Kyuhyun memutuskan untuk pergi ke sudut lorong tempat ruangan operasi itu berada. Yah, ia berdoa di sana. Berdoa sambil menangis tersedu-sedu. Ia menyadari, bahwa berdoa tak harus di dalam gereja. Dimanapun ia berdoa, Tuhan pasti mendengarnya.
Mr dan Mrs. Cho pun memikirkan kata-kata dokter barusan. Berbeda dengan Kyuhyun, mereka memutuskan untuk pergi ke gereja terdekat. Membiarkan Kyuhyun menunggu istrinya sendiri. Melihat Kyuhyun bersimpuh di pojokan lorong itu, membuat kedua orangtuanya semakin sedih. Mereka juga ingin berbuat sesuatu. Mereka juga ingin meminta pada Tuhan. Mereka beranggapan, semakin banyak yang berdoa maka kemungkinan besar Tuhan akan mengabulkan permohonan mereka.
Kini tinggal Kyuhyun yang ada di lorong itu. Ruang operasi memang letaknya tersembunyi. Hingga tak akan ada orang yang akan datang kesana jika tidak ada keperluan.
Kyuhyun masih bersimpuh sambil menangis, ia tidak sadar kalau kedua orangtuanya sudah sejam yang lalu pergi meninggalkannya sendiri. Hingga kemudian ada sesosok orang yang menepuk punggungnya dari belakang. Kyuhyun terkaget dan menolehkan wajahnya. Orang itu adalah dokter yang tadi.
"Dokter! Bagaimana operasinya? Mereka berdua selamat kan dokter?" Kyuhyun bertanya dengan tergesa-gesa. Orang yang menepuknya tadi memang dokter. Ia sendiri yang menghampiri Kyuhyun karena tidak ada orang lagi di depan ruang operasi.
Mendengar pertanyaan Kyuhyun, dokter itu memberi ekspresi yang sulit diduga.
"Berterimakasihlah pada Tuhan. Mereka berdua selamat." Dokter itu memberi pernyataan.
Terlihat raut kelegaan di wajah Kyuhyun. Anak dan istrinya selamat. Tidak ada hal yang paling membahagiakan lagi selain ini.
"Bayinya perempuan. Tapi maaf anda belum bisa melihatnya sekarang. Ia lahir premature jadi harus segera diinkubasikan. Setelah kondisinya stabil kalian boleh melihatnya." Jelas dokter lagi.
"Kamsahamnida.. Kamsahamnida dokter!" Kyuhyun mengucapkan terimakasih berulang kali. Dokter itu hanya tersenyum.
"Tapi dokter, bagaimana keadaan Sungmin? Aku boleh melihatnya kan?" tanya Kyuhyun lagi.
"Keadaan sungmin masih lemah. Ia masih belum sadarkan diri. Tubuhnya kehabisan banyak darah akibat kecelakaan dan operasi itu. Kami akan menempatkannya di ruang isolasi. Kau boleh menemuinya di sana."
Ucapan dokter itu kembali membuat Kyuhyun sedih. Anak dan istrinya memang selamat. Tapi keadaan mereka sangat kritis. Air matanya kembali mengalir, namun ia tetap tersenyum di hadapan dokter itu dan mengucapkan terima kasih. Setidaknya mereka berdua sudah selamat.
Kyuhyun menemui Sungmin di ruang isolasi. Pakaiannya harus dilapisi baju rumah sakit berwarna hijau. Rambutnya juga harus ditutupi oleh sejenis topi berwarna sama. Ia menghampiri ranjang Sungmin.
"Min..." tak ada respon dari Sungmin. Karena memang ia belum sadar.
"Mianhae.. karena aku kau jadi seperti ini. Sejak dulu aku memang tak bisa membuatmu bahagia. Kau selalu terluka. Maafkan aku.." Kyuhyun kembali menangis. Air matanya jatuh ke ranjang tempat Sungmin berbaring.
"Bangunlah, chagy.. kau harus melihat bayi kita. Dia perempuan. Tapi aku juga belum melihatnya. Dokter itu melarangku, katanya jika bayi kita sudah stabil baru kita boleh melihatnya."
"Min.. kau harus bangun lebih dulu untuk melihat bayi kita. Kau tidak mau kan jika bayi kita yang lebih dulu melihat ummanya. Tapi kau malah masih terus terpejam. Alangkah bahagianya jika kau dan bayi kita bisa saling melihat satu sama lain bersama-sama." Gan Kyuhyun terus mengajak Sungmin bicara. Dielusnya tangan Sungmin dengan selembut mungkin agar tak menyakitinya.
Ini sudah tiga hari sejak berlangsungnya operasi. Sungmin sudah dipindahkan ke ruang rawat yang biasa. Ia tidak lagi berada di rung isolasi. Tapi sayangnya Sungmin belum juga sadar dari tidur panjangnya. Padahal hari ini dokter sudah memperbolehkan untuk melihat bayi mereka.
Kyuhyun memasuki ruangan bayi di rumah sakit itu. Dari semua bayi yang ada, bayi Kyuhyunlah yang sangat menonjol. Mungkin karena berada di dalam inkubator. Seorang suster mengantar Kyuhyun mendekat ke inkubator tersebut.
"Silahkan Tuan Cho, ini adalah putri anda. Perkembangannya sangat cepat. Saat setelah operasi kemarin, ia masih sangat kecil dan mengkhawatirkan. Tapi sekarang lihatlah, ia sudah segemuk itu." Suster itu menjelaskan kepada Kyuhyun sambil tersenyum.
"Aku pergi dulu. Kau boleh membawanya keluar menemui istrimu. Ia sudah sangat stabil." Sang suster pun melangkah meninggalkan Kyuhyun.
Kyuhyun menatap box inkubator itu dengan mata yang berkaca-kaca. Benarkah bayi di dalamnya itu anaknya. Ia masih tidak percaya. Bayi itu menggeliat-geliat lincah dengan bola mata berputar ke kanan dan ke kiri, seakan sadar kalau appanya berada di sampingnya. Tangannya terus menggapai-gapai udara seperti ingin segera digendong oleh sang appa.
"Annyeong baby.. Ini appa sayang. Kau merasakannya, ne?" Kyuhyun berkata sambil membuka penutup inkubator tersebut.
Kyuhyun memperhatikan bayinya dengan seksama. Betapa takjubnya ia dengan ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya itu. Seorang bayi mungil yang sangat lucu dan cantik, persis seperti Sungmin. Matanya.. bibirnya.. semua mirip dengan Sungmin. Hanya satu, hidungnya saja yang mewarisi dari appanya.
Kyuhyun tersenyum melihat bayinya. Ia rengkuh tubuh mungil itu agar segera masuk ke dalam pelukan hangatnya.
"Kajja.. kita bertemu umma!" Kyuhyun berseru pada bayinya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan bayi untuk menuju kamar Sungmin.
Setibanya di kamar itu, Kyuhyun sedikit kaget karena melihat dua sahabatnya Yesung dan Wookie, ada di sana. Umma dan appanya juga ada di sana menjaga Sungmin.
"Kyuhyun-ah, ini.. ini cucu umma?" tanya Mrs Cho menghampiri Kyuhyun.
"Ne, ini cucu umma dan appa. Ia sudah stabil, jadi suster membolehkan aku membawanya kemari." Terang Kyuhyun pada semua orang yang ada di sana.
"Kyu, bayimu cantik sekali. Aku iri denganmu.." Wookie mencoba berkata untuk menghibur Kyuhyun karena masih tampak kesedihan di matanya.
"Gomawo Wookie-ah.." Kata Kyuhyun tersenyum singkat, lalu membawa bayinya itu ke sisi ranjang Sungmin.
"Min, ayo bangun.. bayi kita sudah sehat. Kau tidak mau melihatnya? Dia sangat mirip denganmu. Bangunlah chagy.. aku tidak bisa menunggumu lama-lama di rumah sakit ini." Kyuhyun sedikit memaksa Sungmin agar bangun dari tidurnya.
"Sungmin-ah, gomawo.. kau sudah berjuang menyelamatkan cucu umma. Kau harus bangun chagy.. kau tidak boleh meninggalkan bayimu hanya bersama Kyuhyun saja. Dia tidak akan bisa mengurusnya dengan baik." Mrs. Cho pun ikut-ikutan memaksa Sungmin untuk segera sadar. Mungkin jika dipaksa, ia tidak akan terlena dalam mimpinya itu.
Sepertinya bayi di gendongan Kyuhyun menyadari suasana yang sudah semakin pekat. Ia menjadi gerah dan saat itu juga menangis di pelukan appanya. Kyuhyun jadi bingung menghadapi tangisan putrinya itu. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Kemudian ia menyerahkan bayinya kepada Mrs. Cho berharap ummanya bisa membantu menenangkan putrinya.
"Kyu.." suara itu.. suara Sungmin. Tepat saat Kyuhyun menyerahkan bayinya ke tangan Mrs. Cho.
Belum sampai di pelukan Mrs. Cho Kyuhyun mebalikkan badan menghadap Sungmin masih menggendong bayinya. Kini bayinya itu sudah tidak menangis lagi. Mungkin ia tahu kalau ummanya sudah sadar.
"Min.. kau.. kau sudah sadar?" Kyuhyun tersenyum bahagia melihat istrinya membuka mata. Sungmin hanya mengangguk lemah.
"Anak kita.." Sungmin berkata dengan nada yang sangat lemah.
Kyuhyun mengerti maksud Sungmin. Ia membawa bayinya ke sebelah Sungmin dan meletakkannya di sana. Sungmin tersenyum melihat bayinya. Ia meraba lembut pipi chuby itu dengan penuh perasaan.
"bayi kita.. perempuan?" tanya Sungmin pada Kyuhyun.
"Ne, ia sangat cantik. Sama sepertimu.." ucap Kyuhyun sambil tersenyum menghibur istrinya. Sungmin pun juga ikut tersenyum dipuji seperti itu.
"Siapa namanya, Kyu?" tanya Sungmin lagi.
"Aku belum memberinya nama. Aku menunggumu sadar."
"Berikan ia nama, Kyu. Aku ingin memanggil namanya." Sungmin mendesak Kyuhyun agar segera memberinya nama.
"Minhyun.. Cho Minhyun. Otte?" Kyuhyun meminta persetujuan Sungmin.
"Eumm, Cho Minhyun. Nama yang bagus." Sungmin mengangguk lembut dan tersenyum.
3 years later
"Appa.. appa..."
Suara gadis kecil menginterupsi Kyuhyun yang sedang membaca koran di ruang tamu pagi itu. Langkah kakinya semakin mendekat ke arah Kyuhyun. Kyuhyun masih terus membaca korannya tanpa menghiraukan suara anaknya. Sampai di hadapan kyuhyun, ia tak mendapat respon apapun. Minhyun merasa kesal dan menarik-narik kertas koran yang sedang dibaca Kyuhyun.
"Waeyo, hyunie-ah?" tanya Kyuhyun merasa terganggu dengan tingkah anaknya itu.
"Umma.. umma muntah-muntah di dapul appa." Jelas Minhyun pada menyeringai lalu dilanjutkan dengan tertawa.
"Kenapa appa teltawa?" sadar dirinya ditertawai oleh appanya, Minhyun menjadi kesal. Ia lalu duduk di sofa sebelah appanya. Kakinya yang menjuntai digoyang-goyangkan menghentak sofa yang didudukinya.
Kyuhyun sudah memahami sifat putri kesayangannya itu. Ia pasti menghentak-hentakkan kakinya jika sedang marah atau diabaikan oleh orang lain. Ia pun merengkuh pinggang putrinya dan membawa ke dalam pangkuannya.
"Putri appa sudah tiga tahun, ne? Ah, sungguh tidak terasa. Sebentar lagi kau akan punya dongsaeng, hyunie chagy.." jelas Kyuhyun pada Minhyun.
"Dongcaeng?" Minhyun membalikkan kepalanya menatap Kyuhyun. Tatapan matanya seperti bertanya.
"Iya, dongsaeng? Tadi kau bilang umma muntah-muntah kan? Itu tandanya di dalam perut umma ada dongsaeng hyunie." Jelas Kyuhyun lagi sambil tersenyum pada putrinya.
"Cinca appa? Hoyeee.. Hyunie punya dongcaeng!" Minhyun bersorak gembira mendengar berita kalau ia akan punya dongsaeng. Yang ia tahu bahwa dongsaeng adalah seorang bayi mungil yang selalu dibawa-bawa ahjumma tetangganya dan sesekali bermain bersamanya. Tentu saja ia senang, karena bayi mungil itu sangat lucu dan menggemaskan. Apalagi kalau menangis, pasti suasana rumah akan ramai. Dan ia jadi punya teman setiap harinya.
Tiba-tiba Sungmin muncul di hadapan mereka. Ia heran mengapa putrinya terlihat begitu gembira di pangkuan appanya. Padahal tidak ada sesuatu yang membahagiakan pagi ini.
"Kyu, kau bilang mau ke kantor tapi kenapa masih ada di sini?" tanya Sungmin sambil duduk di samping Kyuhyun yang sedang memangku Minhyun.
"tadinya aku mau berangkat, chagy.. tapi Hyunie menggangguku." Sebenarnya alasan ini sudah basi di telinga Sungmin. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak akan pernah bisa melawan argumen Kyuhyun.
"Umma, kenapa dongcaeng betah di perut umma. Kan cempit?" Minhyun bertanya dengan polosnya pada Sungmin.
Mwo?
Apa yang dikatakan putrinya itu. 'Dongsaeng? Memangnya aku sedang hamil?' batin Sungmin bertanya-tanya.
" Tadi Hyunie melihat kau muntah-muntah di dapur. Kau pasti hamil lagi chagy, ayo kita periksa ke dokter!" Kyuhyun terlihat sangat antusias. Sepertinya ia memang ingin punya anak lagi.
PLETAK!
"Yaa.. pabbonika!" Sungmin mejitak kepala Kyuhyun. Tidak keras tapi sangat lembut.
"Aku tidak hamil! Aku hanya masuk angin karena terlalu lama memandang bintang di teras semalam!" Sungmin merengut kesal. Masa masuk angin dibilang hamil. Bagaimana ia menjelaskan pada Minhyun yang sudah terlanjur senang mendengar akan punya adik.
"Mianhae chagy, kau tidak jadi punya dongsaeng.." Sungmin mengusap kepala Minhyun dengan lembut. Ia berharap Minhyun tidak kecewa padanya.
"Um..maa..." nampaknya usaha Sungmin sia-sia. Minhyun tetap kecewa, terlihat dari raut wajahnya yang menyiratkan kesedihan.
"Min.. apa salahnya memenuhi keinginan Hyunie kan? Ayo kita buat dongsaeng untuk Hyunie!" Kyuhyun mengerlingkan matanya pada Sungmin. Tak ketinggalan senyum evil yang selalu menghiasi wajah tampannya belakangan ini.
"SHIROO!"
.
.
.
FIN
Berimu terima kasih MiNa ucapin buat semua reader yg udah mau review ff MiNa yg gaje sangat ini. hehehe... Mianhae MiNa ga bisa sebutin satu-satu (perasaan ga bisa mulu, hehe). Pokoknya tanpa review dari kalian, ff MiNa ga ada apa-apanya. Jeongmal gomawoyo n_n
