"Kurroooooo~ kurooooooo~"
"Iya Nesia? Kenape?"
"Ini nih scriptnya udah jadi !" kata Nesia sambil ngasih Kuro 'sesuatu' yang kemudian dibaca – baca Kuro.
"Ih,, sesuatu banget .. makasih ya Nesia… mmuuaacchh~" Kuro cipika cipiki ama Nesia
"Iiiihhh~ apaan sih Kur? Ini script aku buat dari usulan yang ngreview langsung ke kamu itu lho~"
"Waahh.. waahhh…. harus say thanks tuh Nes…"
"Iyaa… buat Shiro-san.. sankyu ya buat idenya… tpi gomen kalo tidak sesuai harapan,,"
"Hhhoooo~ gitu to Nes… terus request-an yang lain gimance dong?" tanya Kuro lagi
"Yang lain,, masuk list dulu…. Dan Insya Allah.. Nesia atau Kuro bikin ceritanya dan akan terbit habis ini…. Jadi tunggu aja…"
"Hhhhooooo~ gitu to Nes,, terserah kamu deh….. Nahh sekarang Kuro panggil main-chara nya ! Arthur~ ! Arthiee~ ! Iggyyyy~ !"
"Eh? Aku? Kenapa panggil – panggil?" Arthur datang sambil cengo
"Menurut script yang dibuat Nesia….. kamu harus berperan jadi tokoh utamanya ! Nih baca kalo nggak percaya!" Kuro nyodorin beribu – ribu lembar script hasil karangan Nesia.
"Oh… wah…. Aku memang awesome ya kepilih jadi tokoh utama… eh… nah.. lhooo? Kookkk…."
"Apa? Gak boleh protes ya Arthie si alis tebel berlapis - lapis….."
"Tttaappiii… ttaappiii~"
"Thur,,, alis kamu berapa lapis sih?" tanya Nesia penasaran
"Ratusan…." Jawab Arthur sok imut yang bikin semua di sana cengo terlebih Alpred.
"Suddaaahhh…. Cukup bercandanya ! Ayo kita mulai Neeeesssiiiiiaaaaa~ Camera! Rolling! Action!"
=0=
Hetalia Axis Power © Hidekaz Himaruya – sensei
CInderella © Entahlah
Garing / OOC / Gaje / warning – warning lain yang biasa diwarningkan author pada readers yang pastinya readers sudah hafal dooonnnggg~
Bab I | Arthierella |part 1 of 2
"Arthie…"
"Arthie….."
"Arthura….!"
"Woooiiiii! Alis Gondrong !"
BBYYYYYUUUUUUURRRRR !
Seketika Arthur bangkit menerima guyuran air seember penuh. Guyuran itu membuatnya kaget setengah hidup mengira kamarnya sedang kebanjiran,,, walaupun…. Memang sudah biasa sih…. Tapi tetep aja bikin kaget. Ya nggak? Ya nggak? Nggak juga..
"Bangun! Udah jam berapa nih? Nggak awesome banget sih bangun kesiangan!"
"Bangun kesiangan nggak baik buat kecantikan loh Arthie~ hhhooohohoho~"
Arthur mengucek kedua matanya yang masih minta ditutup. Ia ingin tahu, siapa sih yang tega – teganya mengganggu mimpinya yang indah. Mimpi menang lomba masak tingkat internasional gitu… siapa sih yang nggak seneng. Apalagi scone-nya jadi dipuji banyak orang. Akhirnya mereka semua mengakui masakannya. Tapi itu hanya mimpi.
Setelah pandangannya 'benar'. Arthur melihat di depannya ada dua orang. Yang satu terlihat narsis sambil bawa ember, yang satu lagi terlihat flamboyan nan mesum.
'Oh, mereka….' Kata Arthie dalam hati.
Mereka yang dimaksudkan Arthie adalah dua kakak tirinya. Yaitu Gilberta, yang berambut keperakan, bermata merah, dan yang paling penting adalah narsis! Selalu mengatakan dirinya awesome. Padahal….. tahu sendiri lah… XD. Kemudian, yang kedua Fransisca, dia amat sangat modis, memperhatikan kecantikan dan penampilan, dan…. Flamboyan yang agak mesum. Arthie lebih suka saat dia sedang menindasnya daripada saat tiba – tiba jadi (sok) perhatian dan baik. Kalau lagi kumat begitu, Arthie bisa merinding ketakutan dan tiga hari tiga malam nggak bisa tidur. Karena…. Yaa… begitulah.. tahu sendiri…. XD
"Heh! Bengong! Disuruh bangun malah ngelamun! Pasti ngalamunin ke-awesome-anku ya! HHaahahaha~ Udah nanti aja! Sekarang benerin genting rumah yang kena putting beliung kemarin tuh! Terutama yang di atas kamarku! Ntar kalau ada yang ngintip ke-awesome-anku gimana? Aduhhh~ gawaattt~" perintah Gilberta sambil tetep narsis
"Eeiittss~ Arthie… sebelum itu, cuci rambutku dulu yaa…. Baru kamu benerin tuh genteng…" kata Fransisca sambil pasang wajah sok baik
"Wooiii! Nggak bisa! Genteng lebih penting dari rambutmu yang kutuan itu!" protes Gilberta.
"Eeehhh? Siapa yang kutuan? Dasar Asem !"
"Eeee~! Awesome! Bukan Asem!"
Arthie bingung melihat kedua kakaknya malah bertengkar sendiri. Semalam juga, gara – gara mereka berdua rebutan, ia harus membereskan sisa – sisa hasil perang mereka supaya ibu tirinya, Ivana nggak marah. Soalnya kalau marah bahaya tuh, bisa – bisa bom nuklirnya dikeluarkan. Pernah dulu Arthie jadi korbannya… waktu itu… emmm.. nggak usah diceritain deh,, kelamaan. Lagian nanti readers terharu deh.. Balik ke kamar Arthie aja yok…
Di tengah keributan yang amat sangat, tiba – tiba ada seseorang masuk.
"Ada apa kok ribut – ribut anak – anakku sayang hm?" Ivana masuk dengan senyum khasnya yang polos namun mematikan. Dan dengan kompak kedua bersaudara berhenti bertengkar dan menjawab, "Itu.. Arthie nggak mau bekerja….!" Sontak saja Arthie kaget dituduh seenaknya, walau sudah biasa sih…. Tapi tetep aja kaget…. Ya nggak? Ya nggak? Tapi Arthie tetep aja berusaha membela diri, "Wooiii! Wooii! Aku nggak ngapa – ngapain ya… kalian berdua yang bikin ribut,, bertengkar sendiri.. kok aku yang disalahkan?" Tapi pembelaan diri itu nggak ada gunanya. Kedua saudaranya tetep aja cari aman biar nggak dimarahi Bu Ivana. Dan lucunya, meski bertengkar mereka saling melindungi.
"Tadi Arthie bilang aku kutuan…. Bukankah itu jahat Mam?" kata Fransisca dengan wajah melas gimanaaa…. Gitu.
"Tadi Arthie juga bilang aku asem~ padahal aku awesome…. Iya kan bunda… iya kan bunda…." Si Gilbert juga ikut – ikutan melas padahal sebenernya nggak pantes deh.. beneran.
Arthie yang melihat kelakuan kedua kakaknya itu rasanya pengen muntah. Bukan karena muak dengan kelakuan mereka, atau jijik liat wajah mereka, tetapi… ya…. Emang lagi pengen muntah aja. Setelah ini Arthie sudah hafal dengan kejadian selanjutnya. Pasti ntar si ibu tiri tanya…
"Apakah itu benar Arthie?" tuh kan….
"Arthie… sekarang kau bisa memotong kayu di belakang? Atau mungkin kau bisa kukunci di loteng, tidur bersama tikus – tikus dan digerogoti hingga hanya tersisa tulang – belulang?" masih dengan senyum bu Ivana dengan enteng mengatakannya. Bukan hanya Arthie yang ngeri, Gilberta dan Fransisca ikutan ngeri juga. Mereka berdua mundur beberapa langkah dari ibunya yang berwajah polos berhati 'demon' dan menatap Arthie dengan pandangan ih-tamat-lo-thur-kasihan-benjet
"Eee,,,,, memotong kayu akan membuat badanku lebih segar…. Kurasa….." Arthie segera berlari ke belakang rumah dan melakukan apa yang Ivana inginkan. Dalam hati ia agak sebal dengan ayahnya yang sungguh teganya meninggalkannya bersama ibu tiri berhati monster dan dua saudara tiri yang anehnya nggak ketulungan hanya demi mengembangkan bisnisnya. Saat ini Arthie hanya bisa berharap ada seseorang yang membawanya pergi dari rumah ini.
Sementara itu….
"Pangeran, tampillah sedikit rapi layaknya bangsawan" nasihat Toris, pelayan kerajaan.
"Aku lebih nyaman bila seperti ini Toris…."
"Tapi, nanti aku bisa dimarahi raja Ludwig apabila kau tak mau memakai pakaian ini pangeran…"
"Don't worry ! Kau sudah seperti keluarga bagi kami. Ayahku tak akan memarahimu, lagipula ibuku, ratu Feliciana adalah orang yang lembut meskipun agak yaaaa,,,"
"Tapi pangeran…."
"Aku akan membelamu kalau kau tetap dimarahi. Santai saja… aku kan hero!"
"Tapi…."
"Tapi jika kau tetap seperti itu kau tak akan mendapat pendamping hidup Alfred. Meski kau seorang pangeran atau hero ataupun apalah.." raja Ludwig dengan wajah tegasnya tiba – tiba memasuki kamar pangeran Alfred.
"A… ayah…"
"Malam ini kau harus berpenampilan layaknya seorang bangsawan"
"Memangnya malam ini ada apa? Apakah ada yang penting?" tanya Alfred yang heran dengan permintaan ayahnya.
"Malam ini adalah pesta untuk mencarikanmu istri, ayah dan ibu telah mengundang seluruh wanita di negeri ini. Kau bebas memilih. Jadi bersiaplah… jaga perilakumu juga…" lanjut raja Ludwig
"Pesta? Baiklah… tetapi istri? Aku belum siap ayah…"
"Kau tak akan jadi raja tanpa ratu anakku…"
"Seorang hero juga butuh pendamping pangeran…."
"Toris…. Bahkan kau juga…." Alfred menghela nafas sambil mengambil pakaian yang dibawa Toris dan berlalu untuk bersiap.
Arthie benar – benar capek hari ini. Tak disangkanya, setelah memotong kayu yang banyak ia masih tetap harus memperbaiki genteng dan mencuci rambut Fransisca. Namun, hal yang tak biasa terjadi hari ini. Tiba – tiba saja keinginan berdandan kedua saudaranya meluap – luap. Sehingga Arhie juga ikutan sibuk. Ia berlari ke sana – kemari memenuhi kebutuhan kadua kakaknya. Mengambilkan baju ini itu, sepatu ini itu dan mencocokkan semuanya. Menjelang petang, barulah Arthie mengetahui semuanya.
"Whaattss? Kalian mengapa tidak memberitahuku?" ujar Arthie kaget mendengar penjelasan Fransisca saat mengantar mereka ke depan rumah.
"Penting ya?" ujar Gilberta ketus yang membuat Arthie ingin memukulnya saat itu juga namun ditahannya.
"Hhhooohooohoo~ maaf ya Arthie sayang … kau tak bisa ikut… kau tak punya pakaian bagus satupun untuk ke istana… hhhohoho~" ejek Fransisca dengan nada yang amat sangat menyebalkan. Hampir saja Arthie menghajarnya.
"Ayo anak – anak, kita berangkat…." Panggil Ivana dari dalam kereta kuda yang baru saja datang.
"Iyaa~ bai – bai Arthie~ nanti aku ceritakan bagaimana sang pangeran melamarku…. Hhhohoho~" kata Fransisca genit
"Woii! Liat aja ntar gue bakalan nyusul !" Arthie pun mulai tersulut emosinya
"Mau naik apaan?"
"Gue masih punya kaki !"
"Gak awesome banget ke pesta jalan kaki…"
Arthie memanyunkan bibirnya. Benar kata Gilberta. Gak awesome banget ke istana mau pesta jalan kaki.
TBC ke part 2
Nyahahaha~ dikit ya? dikit? kasihan... XDD #plaakk!
ini reply bwt ripiu (khsus yg blm saia bales) XD
pemimpin fujoshi : okee... okeee... ini apdet... XD
ImyGie-Chan : eh? kenalan epbe? benarkah? #plaakk sapa saia di epbe dong... XD
oke... oke... req masuk list dulu... Nesiaa~ catet!
L'Anse yang malas login P : Iyaaa... ampuuuunnn... jangan santet saia... DX *gemetar-gemetar
-langit : raep? bisa gak ya? nggak tahu deehh~ gomen ya... DX ceritanya masuk list dulu ya... XD
bara no hana-chan : okeee~ okeee~ ntar Kuro bikinin... tapi antre yaaa~ XDD
