Hetalia Axis Power © Hidekaz Himaruya – sensei
CInderella © Entahlah
Garing / OOC / Gaje / warning – warning lain yang biasa diwarningkan author pada readers yang pastinya readers sudah hafal dooonnnggg~
Bab I | Arthierella |part 2 of 2
"Woii! Liat aja ntar gue bakalan nyusul !" Arthie pun mulai tersulut emosinya
"Mau naik apaan?"
"Gue masih punya kaki !"
"Gak awesome banget ke pesta jalan kaki…"
Arthie memanyunkan bibirnya. Benar kata Gilberta. Gak awesome banget ke istana mau pesta jalan kaki.
Dengan langkah gontai Arthie menuju kamarnya. Ia berpikir keras bagaimana caranya agar ia bisa ke pesta itu. Sebenarnya sih Arthie nggak kepengen – kepengen banget ya ikutan pesta begitu. Tapi gengsi dong Gilberta sama Fransisca yang aneh begitu bisa datang kok dia yang terbilang 'agak' normal nggak bisa dateng. Tahu kan kalo gengsinya si Arthie itu setebel alisnya.
Ding !
Tiba – tiba Arthie ingat sesuatu. Ia ingat pernah dibelikan ibu aslinya gaun! Seingatnya gaun itu bagus banget… warnanya pink dengan bertabur bunga yang indah… hhohohoho~ jadi inget dulu waktu Arthie masih kecil… pernah… em… ya.. ya… ya gitu deh ntar kalo diceritain kelamaan hhaha~.
Nah, kembali ke Arthie…
Karena teringat oleh gaunnya itu. Dengan semangat '45 Arthie membongkar kotak pakaian lamanya. Sepertinya disimpen di sana deh. Dan… taaarraaaaaa…. Dengan pandangan agak kecewa Arthie memandangi gaun lamanya.
'Kecil banget sih… emang udah berapa tahun ya nggak aku pake?' kata Arthie dalam hati. Tak lama kemudian ia menepuk dahinya sendiri, "Oh iya… ini kan gaun pas ultah ke 5 dulu… makanya… kecil benjet.. adududuh~" Arthie melempar gaun mininya ke sudut kamarnya. Ia tak punya baju bagus lagi. Punya bagus sedikit aja langsung diminta ..bukan… direbut si Fransisca flamboyan mesum nan menyebalkan itu. Kalau saja dia tak di bela Ivana,, si ibu – ibu penggemar vodka gila agak psycho.
"Ggggrrrrr~ pengen gue becek – becek, lipet – lipet, injek – injek tuh flamboyan mesum sama albino awsem! *^!%!$%$!%&(^!" Arthie mulai komat – kamit sendiri. Entah lagi sewot sama Gilberta dan Fransisca atau lagi baca – baca mantra santet, hanya Arthie, author, dan Tuhan yang tahu.
BBWWWOOOOOSSSHHHH~
"Halo… ini peri line 45, Nesia! Ada yang bisa saya bantu?" tiba – tiba sesosok mirip manusia tapi bukan, tapi nggak juga. Tapi manusia kok.. bukan juga sih. Gimana ya? Ya nggak gimana – gimana juga sih.
"Hooorreeee~ ! Berhasil! Setelah sekian lama… mantraku…. Kamu, ibu peri kan?" tanya Arthie sambil sambil S3 ( senyum – senyum sendiri )
"Bukan! Nesia bukan ibu peri ! Tapi ibu pertiwi! Tapi jangan panggil ibu! Panggil aku mbak peri aja! Mbak Nesia yang cantik dan imut meski mirip marmut, yang penting tetep yahhuuudd! Hhihihihi~"
"Ee…. Mbak peri?"
"Iya, kan Nesia masih muda. Jangan asal panggil ibu aja! Emang situ anakku?"
"Emm…. Iya deh… mbak Nesia kan tadi aku panggil….. nah… aku juga mau dong ke pesta di istana yang tadi Gilberta sama Fransisca pergi ke sana… pake baju cantik…. Sepatu cantik…"
"Piring cantik…. Gelas cantik…. Payung cantik….. Nesia cantik…. Hohohoho~"
"Errr… nggaakk .. nggak usah makasih, kalo itu di dapur udah banyak…."
"Ooo… gitu…. terus?"
"Terus… transport ke istana juga ya… yang bagus pokoknya! Bisa nggak?" mohon Arthie penuh harap.
"Emmm… kasih nggak ya? Kasih nggak ya?"
"Kasih deh…. "
"Wani piro?"
"…." Arthie terdiam sejenak dan melanjutkan, "Nesia cantik deh….imuut… baik hati.. suka menabung, tidak sombong dan yang paling penting suka menolong"
"Emmmmm… baiklah… gampang deh…. Dengan kekuatan Garuda… Nesia akan membantumu….! Heyyaaaa~!" dengan awesome-nya, Nesia mengayunkan tongkat sihirnya pada Arthie dan…
KKAAAABBOOOOOOOOOMMMMM~ !
"Uhhuukkk…. Uhhuukkk… apaan sih Nesia…. Kok suaranya 'Kaabooomm' begitu? Uhhuukk.. uhukk.." protes Arthie yang sejenak tadi menganggap dirinya diledakkan oleh Nesia.
"Ihihihihi~ itu sound effect nya Nesia rekam dari bom teroris yang meledak di rumah Nesia beberapa waktu lalu.. nah, sekarang coba bercermin deh…"
Arthie menuruti apa yang dikatakan Nesia. Kini ia melihat bayangan dirinya yang tengah mengenakan gaun berwarna biru yang indah dan cantik seperti permintaannya tadi. Rambutnya juga tertata sedemikian rupa hingga ia terlihat lebih anggun sekarang.
"Wew, terima kasih Nesia… sekarang… emmm… transport-nya?" Arthie menagih janji pada Nesia.
"Oh,,, iya… kalau begitu… siapkan satu buah labu… atau bola… atau apa ajalah yang penting bentuknya begitu.. kutunggu di luar ya…"
"Ok!" Dengan sigap Arthie mencari – cari barang yang diminta Nesia di dapur. Namun, di dapur tak ada labu apalagi bola, atau minimal yang mirip labu atau bola lah. Benda yang penting bentuknya begitu juga tak ada. Yang ada hanyalah sebungkus makanan milik…. Giberta mungkin? Ambil saja deehhhh….
Di halaman, Mbak Peri Nesia telah menunggu…..
"Gimana? Dapet apa aja?" tanya Nesia pada Arthie.
"Cuma ini nih….." jawab Arthie sambil menyerahkan benda yang ditemukannya di dapur.
"Eh? Hamburger? Bisa nggak ya? Bisa deh…. Arthie.. taruh itu di sana… Nah,, sekarang pake mantranya si Jawa …. Bumi gonjang – ganjing… Langit kelap – kelip…. The sky on off on off…. "
'hhaaa? The sky on off on off? Nggak salah tuh?' kata Arthie dalam hati
"Hhheeyaaa~ !"
KKAAAABBOOOOOOOOMMMM~ !
"Hhhaaa? Apaan nih?"
"Mobil o'on! Cepetan gih naik udah telat kan?" kata Nesia sambil mendorong Arthie supaya masuk ke dalam mobil.
"Tttaappii,… ttaappiiii…."
"Udah cepetan.! Aku tahu kau udah nggak sabar mau pamer sama si flamboyan ama si awsem kan?"
"Bukan! Nih! Masa' nyeker…." Kata Arthie sambil menunjuk kedua kakinya yang masih telanjang.
"Oh iya ya…. Hihihihi~ sim salabim …" kkaaabbooooomm~ kini sepasang sepatu kaca telah membungkus kedua kaki Arthie.
"Pecah nggak nih?"
"Udah… jangan banyak nanya! Cepetan berangkat ! Udah telat nih…."
"Eh iya…. Makasih ya Nesia~ Dadah bai baiii~" kata Arthie sambil berlalu menggunakan mobil barunya.
"Oh ya! Pulang sebelum tengah malam ya ! jangan lupa !"
"Iya…." Sayup – sayup Arthie menjawab. Entah dia akan mengingat pesan Nesia atau tidak. Hal ini membuat Nesia sedikit khawatir
Biarlah Arthie menikmati perjalanannya ke istana dengan mobil buatan mbak Nesia. Nah, sekarang kita lihat keadaan si pangeran Kep… eh..Alfred di istana. Sedang apa ya? Emmm,,, kayaknya lagi siap – siap buat pesta tuh. Alfred lagi berdiri di depan kaca tuh.. ngapain? Ngaca lah…
'Adduuuhhh cakepnya….. mata biru bening, rambut agak kecoklatan, ada antenanya lagi… tambah imut deh… dasar ayah, penting nggak sih ngundang semua cewek – cewek se-kerajaan kumpul buat cari istri untuk aku? Nanti – nanti juga nggak papa kok, muka ca'em, imut, pangeran, kaya dan yang paling penting aku kan HERO. Siapa sih yang nggak pengen punya menantu kayak aku? Nggak bakal nggak laku deh…. Tapi dasar ayah yang terlalu kaku. Aku harus udah nikah di umur segini lah… harus begini lah… begitu lah… aku kan HERO, jadi nggak usah khawatir dong… btw kok diliat lama – lama aku nggak Cuma cakep dan imut tapi keren juga ya…. Hahahahaha~' lagi asyik – asyiknya narsis, tiba – tiba ada seseorang yang memasuki kamarnya. Otomatis Alfred gelagapan salah tingkah. Dia nggak mau ketahuan kalo sedang narsis. Gengsi dong…. HERO kan harusnya rendah hati… nggak narsis… ya nggak? Ya nggak? Nggak juga…
"Eeemmm ,,,, permisi pangeran…. Anda telah ditunggu oleh Yang Mulia Raja Ludwig di depan untuk menemui tamu - tamu" kata Toris sambil sedikit membungkukkan badan.
"Oh, kau Toris…. Ngomong – ngomong tahukah kau Toris, daripada keluar dan menemui tamu – tamu di sana… saat ini aku lebih ingin makan es krim dengan tenang sambil nonton TV" Alfred pun curcol sama Toris
"Maaf pangeran… kita tidak punya TV.." jawab Toris dengan sopan
"Eh? Mana mungkin istana semegah ini tidak ada TV?"
"Kan ini latarnya masa lalu, jadi TV belum diciptakan… nah jadi sebaiknya sekarang pangeran segera menemui para tamu."
"Iya… iya…"
Dengan malas, Alfred keluar dari kamarnya dan menuju aula istana, tempat diadakannya pesta. Di antara kerumunan tamu – tamu, dilihatnya ayah dan ibunya tampak berbincang – bincang dengan beberapa tamu lainnya. Kemudian, dihampirinya kedua orang tuanya itu.
"Ayah…. Pesta macam apa ini?" tanya Alfred pada ayahnya, raja Ludwig dengan setengah berbisik
"Pilihlah di antara mereka ini sebagai istrimu, ayah tidak terlalu memperhatikan status seseorang, jadi kau bebas memilih.." jawab raja Ludwig
"Tapi ayah…"
"Sudahlah.. turuti saja apa kata ayahmu vee~ dia tahu yang terbaik untukmu veee~" ratu Feliciana ikut menimpali.
"Baiklah…." Alfred tidak bisa lagi membantah, apalagi jika ibunya telah berkata… yaaahh… begitulah…
Alfred bergabung dengan tamu – tamu yang memang sebagian terdiri dari wanita. Dalam hati, Alfred mengakui mereka semua cantik, anggun, dan menawan. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang membuatnya tertarik. Dia memang belum tertarik dengan hal – hal seperti itu. Apalagi, beberapa mereka tampak agresif. Seperti yang mendekatinya kini.
"Haaii pangeran Alfred…. Ini aku Fransisca… wanita paling cantik dan seksi di negeri ini…. Ehehehe~ kau pasti tahu itu, kan pada waktu itu kau…..adududuh~"
"Perkenalkan pangeran, aku Gilberta. Mahluk paling awesome di dunia. Tentu saja pangeran juga awesome,, tapi tidak lebih awesome daripada aku…." Gilberta memperkenalkan diri setelah sebelumnya mendorong Fransisca agar menjauh dari hadapan pangeran.
"Apa – apaan sih Gil! Kan aku duluan yang ngajak pangeran ngobrol…. Lagipula mana mau pangeran Alfred mau ngobrol sama awsem kayak kamu" Fransisca membalas mendorong Gilberta dari hadapannya.
"Daripada lu, flamboyan mesum!" Gilberta tak mau kalah dan mendorong balik saudaranya.
Alfred bingung dengan kedua orang yang ada dihadapannya malah bertengkar sendiri, bahkan sebelum dia sempat bicara. Saat akan kabur diam – diam, tiba – tiba seseorang mencengkeram bahunya.
"Pangeran, mereka berdua adalah anak – anakku. Berdansalah dengan mereka" kata Ivana dengan senyum yang seperti biasa. Senyum yang manis namun mengintimidasi. Mau tak mau Alfred diam di sana menyaksikan kedua bersaudara itu bertengkar sementara ibunya hanya senyum – senyum saja melihatnya. Siapa sih yang seneng kalo deket – deket Fransisca yang lagi bertengkar sama Gilberta sementara ada orang yang senyum – senyum di sebelahnya dengan aura mengintimidasi? Author aja males ngetiknya, apalagi Alfred yang jadi korban langsung. Bahkan aura ke-HERO-an Alfred aja males melerai mereka, padahal biasanya HERO kan melerai pertengkaran gitu… ya nggak? Ya nggak? Nggak juga …..… lagi – lagi… bosen ah.
Alfred hampir saja tak bisa pergi dari sana selamanya kalau saja tak ada keributan yang tiba – tiba terdengar dari luar.
KKAAABBOOOOOOMMM~ !
Dengan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, ia segera berlari keluar selain untuk kabur juga karena penasaran. Siapa sih yang nggak penasaran…. Hasyah… Iya, iya. Semua orang penasaran kecuali yang tidak segera mencari tahu apa yang terjadi di luar. Termasuk Alfred, seperti yang sudah dibicarakan tadi. Di luar, Alfred terpana melihat ada sesuatu yang nyangkut di patung kebanggaan ayahnya, yaitu…. sebuah mobil ! Wow mobil gitu loh! Siapa sih yang bawa – bawa mobil? Kan ceritanya belom diciptain jadi waow benjet geetthoo… wwaaooww … w-a-o-w …waow… apalagi bentuknya… waow.. hamburger! Lagi – lagi waow… w-a-o-w ! Makanan kesukaannya jadi desain yang waow benjet… hmmm…. Siapa sih yang punya? Dengan segala rasa ingin tahu, Alfred menghampiri salah satu saksi mata yang masih hidup. Penjaga gerbang kerajaan, Heracles.
"Eh, Her… siapa sih yang bawa – bawa tuh mobil?"
"Entahlah Pang… saya.. sedang….tidur… tiba..tiba…ada ..yang….nyangkut…di..sana…" jawab Heracles setengah tidur.
"Eh? Pang? Lu kirain pang – pang ha?" keberatan Alfred percuma saja, karena Heracles sudah tertidur lagi.
Alfred sadar ia tak bisa mengandalkan Heracles penjaga gerbang yang tukang tidur. kok bisa tukang tidur jadi penjaga gerbang? Nah itu dia… Alfred juga nggak ngerti. Jadi dia nggak bisa cerita gimana kok Heracles bisa jadi penjaga gerbang. Nah, pas lagi asyik – asyiknya mikirin Heracles… tiba – tiba dari dalam mobil keluarlah sesosok manusia (mungkin) dengan rambut blondenya dan gaun cantik berwarna biru. Dan Alfred benar – benar terpana dengannya. Sebenernya sih keluarnya biasa aja, malahan nggak anggun sama sekali. Soalnya yang keluar sambil mengumpat dan nendang – nendang tuh mobil yang udah bobrok nabrak patung. Tapi, kalo dari sudut pandang Alfred begini….. yah mahluk itu… .. ya bener itu memang Arthie… tapi si Alfred di ceritanya belum tahu itu Arthie.. oke… jangan kasih tahu Alfred ya… oke… kalo kasih tahu ntar aku santet…
Nah kembali, ini dari sudut pandang Alfred. Arthie keluar dari mobilnya sambil ngibas – ngibasin rambut blondenya yang halus, rada slow motion gitu sambil agak berkilau – kilau gitu juga. Trus dia menari – nari dengan anggun di depan mobil krebipeti-nya. Pas dia nengok ke arah Alfred, pandangan mereka berdua ketemu. Alfred tambah deg – degan, apalagi liat mata Arthie yang ijo… wwzzzttt… kayak ada yang nyetrum di dada Alfred. 'Waow, matanya ijo… mata duitan kah?'
Alfred kacamatanya nggak dipake kali ya? Orang Arthie lagi mencak – mencak sewot sama mobilnya kok dibilang menari – nari dengan anggun.
Alfred yang rada cengo beberapa saat , akhirnya sadar dan segera menghampiri bidadarinya, Arthie. Arthie yang emang nggak begitu ngeh sama Alfred gara – gara masih sewot dan mengeluarkan kata – kata yang sebaiknya tak usah dipublikasikan jadi rada kaget pas ditegur Alfred.
"Eh… ada apa ya?" tanya Arthie yang rada curiga sama Alfred yang kini senyum – senyum sendiri, nggak ada yang nemenin.
.
"Mari nona, bergabung dengan pesta di dalam.." jawab Alfred sok baik.
"Lha ini gimana?" tanya Arthie sambil tunjuk – tunjuk ke mobil krebipeti-nya
"Itu biar saya urus nanti… mari…." Tawar Alfred sambil mengulurkan tangannya
"Oh, baiklah…." Arthie pun segera berjalan memasuki istana, nggak sabar mau pamer sama Fransisca dan Gilberta.
Alfred yang sedikit ndongkol karena uluran tangannya tak bersambut segera mengikuti Arthie dari belakang sambil garuk – garuk kepalanya yang nggak gatel. Di dalam istana, kemana aja Arthie pergi, Alfred selalu ada di belakangnya. Arthie ke pojok sana nyari Gil dan Fran, Alfred ngikut. Arthie ke pojok yang satunya lagi nyari Gil dan Fran, Alfred ngikut. Arthie ke kamar mandi mau buang samting, eh Alfred juga ikutan. Karena agak risih diikutin terus, akhirnya Arthie nglabrak Alfred.
"Mau apa sih?"
"Mau kamu…"
Seketika Arthie jadi sewot, misinya mau pamer jadi agak kesendat – sendat ama stalker dadakan ini. Meki, dalam hati…. Seneng juga sih. Arthie benar – benar kaget saat tiba – tiba Alfred meraihnya dan mengajaknya berdansa. Karena tak bisa dan agak segan mengelak dan sebenernya seneng juga tuh Arthie diajak nge-dance… eh maksudnya berdansa sama Alfred, Arthie tak menolak. Alfred senyum – senyum sendiri dan memandangi Arthie terus, Arthie yang merasa dipandangi terus pun jadi agak salah tingkah.
"Kenapa sih? Ngeliatnya gitu banget?" tanya Arthie sambil tetep jaim
"Kamu cantik…" jawab Alfred sambil tetep senyum
Arthie segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah. 'Cantik'. Seketika Arthie teringat akan Mbak Peri Nesia. 'Nesia sedang apa ya?' tanya Arthie dalam hati. 'Mobilnya rusak apa nggak papa ya?'
"Hey…"
"Hn…."
"Tahukah kau apa yang lebih tebal dari alismu?"
"Apa?"
"Rasa sayangku padamu…."
Mendengarnya Arthie antara pengen ketawa, eneg, dan agak tersinggung gara – gara pembicaraannya bawa – bawa alis lapis kebanggaannya itu. Tetapi, Arthie tetap menahan emosinya dan hanya menaggapi dengan, "Oh". Jaim ggeetthhoooo…..
"Hey…."
"Hn…."
"Kuharap kamu nggak akan pergi ke taman bunga…"
"Hm? Why?" Arthie mengernyitkan dahinya mendengar itu.
"Aku takut mereka akan layu karena cemburu dengan kecantikanmu…" jawab Alfred sambil senyum… tetep…
Sekali lagi Arthie dibuat perasaannya campur aduk antara pengen ketawa, eneg, dan seneng.
"Hey…."
"Hn…"
"Aku nggak perlu gula lagi kalau minum kopi bersamamu…"
"Why?" Arthie mulai tertarik dengan lanjutan – lanjutan apa yang akan muncul dari mulut pria bermata biru itu.
"Karena dengan melihatmu saja udah terasa manis banget kok…." Kata Alfred yang kini senyumnya makin lebar aja.
'Boleh juga nih orang…. Tapi… tetep aja aneh….' Kata Arthie dalam hati.
"Hey…."
"Apa lagi?" Mendengarnya Alfred semakin bersemangat karena orang dihadapannya tak lagi hanya mengeluarkan kata 'Hn' saja.
"Tahukah kau ada keindahan dan keajaiban yang melebihi pelangi?"
"Nggak tuh…" Arthie menjawab seperti itu dengan sengaja. Meski ia sudah tahu kelanjutannya, tetapi ia ingin mendengarnya langsung dari Alfred.
"Yaitu kamu... kamu benar – benar keajaiban dan keindahan yang luar biasa bagiku."
'Tuh kan… tuh kan… bener' kata Arthie dalam hati yang senang dengan gombalan – gombalan yang diobral Alfred padanya.
"Sepertinya aku telah menemukannya…" kata Alfred tiba – tiba saja.
Mendengarnya, dalam hati Arthie bertanya – tanya, 'nemu apa? Nemu duit?'. Arthie sebenarnya ingin bertanya, tapi…. Hasrat ke-jaim-annya mencegahnya. Sehingga ia memilih untuk diam saja dan tanpa terasa mereka berdua telah berdansa lama sekali. Bahkan Arthie telah lupa tujuan utamanya, pamer. Bahkan Alfred juga telah membuatnya lupa dengan peringatan Nesia, hingga saat jam di istana berbunyi 12 kali.
DING! ….. DING!... DING!...
Suara jam dinding yang keras telah menyadarkan Arthie akan peringatan Nesia yang menyuruhnya pulang sebelum tengah malam. Sebenarnya, ia tak tahu apa yang akan terjadi jika ia tak mengindahkan peringatan Nesia. Tapi, untuk mencari amannya, Arthie segera melepaskan diri dari pelukan Alfred dan berlari begitu saja keluar istana. Tentu saja Alfred bingung melihat Arthie yang tiba – tiba saja pergi. 'Apa dia pergi karena aku bau nggak enak? Atau, karena dia sendiri yang baunya nggak enak dan malu lalu kabur?' Alfred mulai berpikir yang macam – macam.
Arthie dengan sekuat tenaga berlari keluar. Saat itu, tiba – tiba bajunya kembali seperti semula. Dengan itu, Arthie mengetahui arti peringatan dari Nesia. Tiba – tiba ia teringat dengan mobil krebipeti. Jika ia terlambat pulang, maka ia akan jalan kaki! Memikirkan kemungkinan buruk itu, Arthie segera memacu larinya agar lebih kencang, namun itu justru membuat nya jadi kurang hati – hati dan tanpa sengaja menginjak sesuatu yang… emppuukkk…
MMMRRRREEEEEEOOOOOOWWWWW !
Arthie langsung jatuh jempalitan sekalian turun dari tangga di depan pintu masuk istana.
Dhuk! Dhuk! Dhuh..dhukk…dhuukk….
"Adudududuh… aduh… aduh…"
Arthie segera bangun dan melihat salah satu sepatunya ketinggalan di atas bersama sesuatu yang diinjaknya tadi. Yang dikiranya kucing ternyata penjaga gerbang, Heracles yang sedang tidur. Daripada mengambil sepatu dan ketahuan Heracles, Arthie lebih memilih menghampiri mobil krebipeti. Namun, Arthie kecewa karena mobil krebipeti telah kembali jadi bentuk aslinya. Dan dengan sisa – sisa kekuatanya, maka Arthie terpaksa pulang dengan jalan kaki dengan sesekali mengumpat dan menendang – nendang apa saja yang ada di dekat kakinya.
Sementara itu, di belakang pangeran Alfred berlari dengan susah payah. Dalam hati ia menyesal karena terlalu banyak mengonsumsi hamburger dan cola, yang kini benar – benar terasa dampaknya. Tubuhnya tidak fit lagi dan larinya jadi lambat. Bahkan ia tak konsentrasi lagi karena tanpa sengaja, di depan pintu istana ia menginjak sesuatu.
MMMRRRREEEEEEEEEEOOOOWWWW!
Seperti Arthie juga, Alfred terjatuh dan meluncur dengan tidak mulus menuruni tangga.
"Adudududuh~ Heracles! Jangan tidur di sembarang tempat!" kata Alfred setelah bangun dari jatuhnya yang membuatnya sedikit pusing.
"Maaf… Yang…Mulia…." Jawab Heracles sambil setengah sadar.
"Hey.. Apakah kau tadi melihat seseorang dengan gaun biru keluar dari istana?" anya Alfred pada Heracles.
"Entahlah… aku…sedang…tidur…. Dan… merasa … terinjak….saja…" jawab Heracles apa adanya
"Emmm… apa itu?" tanya Alfred melihat ada sesuatu yang menyangkut di kepala Heracles dan mengambilnya."Sepatu kaca? Mungkinkah? Cari nggak ya? ...Cari." lanjut Alfred kemudian sambil menghitung kancing bajunya.
Esoknya, Arthie benar – benar menyesal mengahdiri pesta semalam. Benar – benar melelahkan! Nabrak patung, lari – lari keluar istana, pulang jalan kaki. Untung saja ia pulang sebelum saudara –saudaranya tiba di rumah. Jika tidak, bisa saja dia diledek karena jalan kaki dari istana hingga rumah hanya demi pesta. Keajaiban dari Nesia pun hanya bertahan hingga tengah malam waktu itu saja. Semuanya berubah kembali seperti semula. Kecuali, sepatu kacanya yang tinggal sebuah saja. Yang sebuah lagi ia ikhlaskan untuk Heracles yang telah diinjak olehnya. Kasihan sekali dia pikir Arthie.
Namun, sejak kejadian itu, ia terus saja memikirkan pemuda yang berdansa dengannya malam itu. Arthie mulai ketularan virus berlebihan Alfred. Ia membayangkan Alfred saat itu,begitu bersinar, bermata biru bening, rambut coklat dengan antena, mungkin jika antena itu dicabut, seluruh ingatannya akan hilang, bahkan jiwanya juga bisa saja tergantung pada antena itu….. apasih… Arthie mulai berpikir yang bukan – bukan.
"Hei…. Heii…. Melamun saja kau. Cepat, rambutku ini butuh didandani yang rapi dan indah…" teguran Fransisca mengejutkan lamunannya.
"Iya…iya.. dasar kodok flamboyan mes….."
"Hoi Fran….! Bersiaplah ! Katanya pangeran akan datang hari ini ke rumah kita!" tiba – tiba Gilberta masuk ke kamar Fransisca dan memotong perkataan Arthie.
"Eh? Benarkah? Akankah ia datang melamarku? Arthie! Cepetan!" Fransisca jadi heboh sendiri
"Iya, tapi aku lebih berharap adiknya juga ikut datang… sudah lama aku tak bertemu Mattie~ oh Mattie imutnya dirimu~" kata Gilberta sambil senyum – senyum gaje yang agak bahaya.
"Mattie? Maksudmu pangeran Matthew itu? Yang pendiam sambil bawa – bawa beruang? Darimana kau kenal?" tanya Fransisca heran
"Pas pesta beberapa minggu yang lalu, kami ketemu di sana dengan awesome-nya ehehehe~"
"Daripada dia, aku lebih memilih pangeran Alfred, matanya biru, rambutnya yang coklat, tapi sayangnya dia punya antena yang aneh… sebaiknya dipotong saja. Pasti bagus!"
'Eh? Mata biru? Rambut cokelat? Antena? Jadi….' Arthie sedikit tercengang mendengar penjelasan Fransisca. Dia tak sadar malam itu telah berdansa dengan seorang pangeran. 'Sialan…. Tahu begitu kemaren langsung pamer aja sama Frans dan Gil ! Iiissshhh~!'
"Anak – anak,, keluarlah… pangeran Alfred udah datang tuh…." Tiba – tiba Ivana muncul dan menyuruh Frans dan Gil segera keluar. Arthie yang ingin memastikan ikutan keluar, tapi Ivana tersenyum mengerikan padanya dan menyuruhnya berada di dalam saja. Dalam hati, ia heran mengapa tak pernah bisa menolak ibu tirinya. Apakah karena aura menekan yang ia miliki? Entahlah…
Akhirnya, Arthie hanya bisa mengintip dari balik tirai yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang keluarga di rumahnya.
"Jadi…. Maksud…. Kami…. Kemari… adalah….mencari…pemilik….zzzzz…zzz.." PLAK! "eh… maaf… kami… mencari… pemilik…. Sepatu…. Kaca… ini….jadi…dimohon…semua…anak…anda… mencobanya….. tanpa…kecuali…." Heracles memberikan penjelasan dengan ngantuk – ngantuk gimana….gitu.
"Baiklah…. Gil… ayo..coba sepatu ini…." Panggil Ivana pada Gilberta
"Eh…eh… baiklah…" Gilberta mencoba memakai sepatu yang dipakaikan oleh Heracles. Dan ternyata kaki Gilberta terlalu besar untuk sepatu itu. Gilberta yang memang pada dasarnya tak berniat dengan sepatu kaca itu mundur dengan hati yang lega karena tidak berjodoh dengan pangeran Alfred. Ia lebih mendambakan Mattie, yang polos, lucu, imut, unyu – unyu deh pokoknya….
"Fransisca… sekarang cobalah…"
"Baiklah! Pasti muat deh…. Hhohohoho~ iya kan pangeran Alfie…" Fransisca mengedipkan sebelah matanya pada Alfred dan Alfred pun tiba – tiba tubuhnya merinding dan berkeringat dingin.
"Ayooollaaahhh mmaassuuukkk!" Fransisca memaksakan kakinya untuk bisa masuk ke dalam sepatu kaca itu meski jelas – jelas kakinya juga terlalu besar. Hal itu membuat semua yang ada di sana merasa kasihan pada sepatu yang dimasuki oleh kaki nista kecuali Gilberta tentunya yang sedang membayangkan imutnya pangeran Mattie dengan ekspresi wajah yang mencurigakan.
"Sudah,,, berhenti… nanti pecah!" ucap pangeran Alfred pada akhirnya yang tidak tahan melihat sepatu indah itu diperlakukan dengan nista.
"Ugghhh… sialan…. Padahal hampir saja aku jadi istri Alfie…" gerutu Fransisca. Dalam hati Alfred berkata, 'Amit – amit dah punya istri begitu'
"Sayang sekali,, yang kau cari bukan salah satu dari putriku pangeran…" ujar Ivana
"Tapi,, ini rumah terakhir yang kami kunjungi… namun belum ada yang pas dengan sepatu ini.. aneh sekali… iya kan Heracles… Heracles!... Toris bangunkan dia!" Alfred geleng – geleng kepala melihat Heracles yang dalam waktu singkat bisa tertidur lelap begitu pulas…
PLLAAAKKK!
"Eh… eh… iya pangeran… itu memang…aneh… tapi…. Bukankah di …rumah ini….masih…. ada ….satu…lagi… anak…perempuan…?" kata Heracles yang masih tetep nyambung walaupun sempet ketiduran.
"Benarkah itu nyonya Ivana?" tanya Alfred kemudian
"Benar… tapi ia hanya pesuruh di rumah ini, tak mungkin ia bisa memiliki sepatu seindah ini pangeran.." Ivana pun beralasan
"Eeemmm tapi… mungkin saja….." Alfred mengalihkan seluruh pandangannya di ruangan itu sembari berpikir. Dalam salah satu foto keluarga yang terpasang,, terlihat seorang anak kecil berambut blonde dan bermata hijau… 'mata itu… mata hijau…mata duitan…..' Alfred seketika berjalan ke arah ruang keluarga. Disibaknya tirai yang menghubungkan ruang tamu dan ruang keluarga. Di sana ia menemukan Arthie sedang berdiri dan menatapnya dengan heran. Kemudian tanpa ba bi bu, Alfred menariknya dan membawanya ke ruang tamu.
"Heracles.. Toris… suruh dia mencoba sepatu itu!" perintah pangeran Alfred.
Semua orang terpana saat melihat kaki Arthie cocok sekali dengan sepatu itu. Sebenarnya sih biasa aja… tapi biar sedikit dramatis, semuanya jadi terpana…. Bahkan Fransisca sampe pingsan tak percaya. Saat itulah tiba – tiba Mbak Peri Nesia muncul…
"Haaiii semuuaaa~ Mbak Nesia ting ting kembali…..!" kemudian mbak Nesia pun mengayunkan tongkatnya pada Arthie dan mengubah penampilan Arthie jadi persis seperti malam pesta itu.
"Arthie…. Sepatu kamu yang satu mana? Nggak awesome dong kalo Cuma pake satu sepatu…. Hihihihi~" tegur Nesia pada Arthie.
"Oh, iya… aku ambil deh…" Arthie masuk ke kamarnya dan kembali dengan menggunakan sepasang sepatu kaca yang lengkap.
"Nah… sempurna! Sekarang kalian terusin sendiri ya…..baiii baiiii~" seketika Nesia pun menghilang kembali… entak ke mana… ke rumah kiku kali…
"Yeeeeeee~ akhirnya! Siapa namamu? Arr… Artt…?"
"Arthie…"
"Yyaaaaaa! Arthie…. Ayo kita pulang…" kata Alfred sambil tarik tangan Arthie begitu aja
"Eh? Pulang? Ke mana?" tanya Arthie kebingungan.
"Ke istana lah…"
"Aku kan bukan warga istana…"
"Mulai sekarang iya…. Kau kan istriku…"
"Eh?"
OWARI~
Kuro : Ayeeee~ selesai~ XD gomen kalo kurang memuaskan… (_ _)
Nesia : Berikutnya apa nih Kur?
Kuro : Apaan y? Beok aja de… surpres… kkkk~ XDD
Arthur : Wooiiii! Kuro kurang ajar! Mataku hijau bukan berarti mata duitan ya!
Kuro: dududududu~ *pergi
Arthur : Woooiiii! Dengerin orang kalo lagi ngomong !
Kuro : Prreeeedd… istrimu ngambek tuh….
Alfred : mana – mana ? Arthie…. Tenang… HERO datang !
Arthur : Siapa yang istrinya Alfred ha?
Kuro : Kau… =..=
Alfred : Arthie~~ *kejar Arthie
Arthur: Hwwaaaa~ Awas lo Kur! *kabur
Kuro : dudududu~ =3=
