Lama banget ya updatenya? mianhae =.=

Chapter 5

Seusai sarapan pagi seluruh keluarga Cho berkumpul di ruang keluarga rumah mereka. Tepatnya kedua orang tua Kyuhyun ingin meminta penjelasan mengenai apa yang telah terjadi pada anaknya kemarin malam. Malam yang sudah sangat larut membuat sepasang suami istri itu menunda untuk meminta keterangan dari Kyuhyun hingga pagi ini.

"Kyu, jelaskan pada kami apa yang terjadi padamu malam itu. Mengapa kau tiba-tiba minta maaf pada umma." Tanya umma Kyu memulai pembicaraan.

"Mianhae umma, appa.. Ini semua kesalahanku karena tidak mendengarkan nasihat kalian."

"Aku terlalu bodoh.. Vic menipuku.." Karena merasa bersalah tidak berbakti pada orang tuanya, Kyuhyun hanya bisa menundukka kepalanya. Ia merasa seperti diinterogasi karena melakukan kesalahan besar.

"Menipu bagaimana maksudmu, Kyu?" Tanya appa Kyu lebih penasaran.

"Ia.. ia hamil. Tapi bukan anakku. Ia selingkuh dengan laki-laki lain. Malam itu aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku. Aku menyesal.. aku sungguh menyesal. Aku mohon maafkanlah aku." Kyuhyun memegang wajahnya sendiri dengan kedua tangannya. Itu sengaja dilakukan karena ia tidak mau terlihat menangis di depan kedua orangtuanya.

"Aku ini sangat bodoh. Bahkan aku membelikan apartemen mewah untuk selingkuhannya itu. Aku menyesal menikah dengannya. Karenadia, aku menolak cinta yang tulus untukku. Aku bodoh.. sangat bodoh!" Kyuhyun semakin menenggelamkan wajahnya, menatap lebih dekat sofa yang didudukinya. Ia tidak berani menatap orangtuanya.

"Tidak ada yang salah denganmu, Kyu. Kau hanya tidak bisa membaca sifat buruk orang lain padamu. Appa harap, kau bisa belajar dari peristiwa ini. Appa juga minta maaf karena telah menentang perkataan umma juga." Appa Kyu jadi ikut bersedih dengan kegagalan rumah tangga anaknya. Biar bagaimana pun, ia lah yang member ijin pada kyuhyun untuk menikahi Vic. Andai saja ia tidak mengijinkan, pernikahan itu tak akan pernah terjadi. Dan Kyuhyun tidak akan merasakan kehancuran seperti ini.

"Jangan saling menyalahkan. Ini semua sudah terjadi. Bangkit dan tataplah masa depan yang indah di hadapanmu." Kini Kyuhyun menyadari, betapa ia memiliki seorang umma yang sangat bijaksana. Bahkan lebih bijaksana dibandingkan appanya sendiri. Mulai saat ini Kyuhyun berjanji tidak akan membangkang lagi pada ummanya.

"Aku.. aku akan menikahi Sungmin hyung, umma." Ucap Kyuhyun dengan wajah datar.

"Mwo?" Kaget appa Kyu dengan tatapan membingungkan.

"Yaa Cho Kyuhyun! Sudah cukup kau menyakiti perasaan Sungmin dengan menikahi Vic. Kau mau menikahinya sedangkan kau menghamili gadis lain. Kau keterlaluan Cho Kyuhyun!" Appa Kyu marah besar mendengar pernyataan anaknya itu. Kenapa ia bisa punya anak seperti Kyuhyun yang sikapnya begitu egois.

"Appa benar Kyu-ah.. umma merasa ada kehangatan dalam dada umma mendengar umma akan punya cucu dari gadis lain, bukan Victoria. Gadis itu, pasti gadis baik-baik bukan?" Tanya umma Kyu.

"Ani umma, appa.. dia seorang namja." T, Kyuhyun jadi kut ucapannya salah lagi, Kyuhyun jadi bicara sepotong-potong.

"MWO?" Sukses kalimat Kyuhyun itu membuat tuan dan nyonya Cho membelalakan matanya karena terkaget-kaget.

"Apa maksudmu Kyuhyun-ah?" Appa Cho tersulut lagi amarahnya.

"Sungmin hyung.. dia mengandung anakku."

"Sungmin? Kau bicara apa Kyu? Jelaskan pada umma yang sebenarnya!"

Kyuhyun pun menjelaskan semua pada kedua orang tuannya, termasuk bagaimana ia bisa melakukan hubungan terlarangnya pada Sungmin. Awalnya mereka memang sulit percaya, dalam anggapan mereka namja itu mustahil untuk hamil. Namun mendengar kesungguhan cerita Kyuhyun, mereka pun akhirnya mempercayainya. Di sisi lain, mereka juga senang karena bukan orang lain yang mengandung cucunya. Tapi justru orang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.

"Temuilah Sungmin, Kyu.. Bawa ia kepada umma." Umma Kyu tersenyum untuk memberi semangat kepada Kyuhyun agar ia tidak ragu lagi dengan pilihannya.

"Maafkan nenek, Min-ah.." Nenek Lee telah berkata pada Sungmin bahwa ia sudah memberitahu Kyuhyun mengenai kehamilannya.

"Nenek ingin sekali melihatmu bahagia. Kyuhyun memang sudah sepatutnya mengetahui."

"Tapi Kyuhyun bahkan tidak menemuiku, Nek. Ia tidak pernah peduli padaku. Apalagi kini istrinya sedang hamil juga." Sungmin mengetahu kehamilan Vic dari sang nenek sendiri yang telah diberitahu Kyuhyun sebelumnya.

"Kau salah, Min. Kyuhyun tak pernah tak peduli padamu. Kemarin ia menunggumu bangun dari tidur, tapi kau tidak bangun juga. Ia tidak mau mengganggu tidurmu. Bahkan ia mengusap peluh di dahimu yang terlihat berkeringat saat tidur. Ia terus membisikkan ke telingamu bahwa ia merindukanmu. Kyuhyun sangat pepduli padamu." Papar nenek Lee pada Sungmin. Kemarin ia memang sengaja mengintip apa yang dilakukan Kyuhyun di kamar Sungmin.

"Tapi ia hanya peduli sebatas dongsaeng pada hyungnya. Tidak lebih." Sungmin pun mengundurkan diri dari hadapan sang nenek. Ia hanya butuh sendiri sekarang. Ia berpikir apa yang akan ia katakan nantinya jika Kyuhyun memang menemuinya. Tidak mungkin ia meminta pertanggung jawaban, sedang Kyuhyun sendiri memiliki istri yang juga tengah mengandung sepertinya. Ia terus saja merenung di dalam kamarnya, berharap ada jalan keluar dari masalah yang tengah menghinggapi hidupnya. Lambat laun Sungmin pun akhirnya tertidur. Semenjak hamil, tubuh Sungmin memang sangat lemah. Ia hanya menghabiskan waktnya untuk tidur dan beristirahat. Ia tidak pernah lagi ikut nenek ke kebun untuk membantunya.

Sungmin terbangun dari tidurnya. Kepalanya menjadi bertambah pusing karena hanya tidur-tiduran saja sambil memikirkan masalahnya. Matahari masih bersinar, hanya saja panasnya sudah tidak terasa lagi. Ia tidur sejak pagi sampai siang menjelang sore. Sungmin pun bangkit dari ranjangnya dan pergi ke halaman depan rumah untuk mencari udara segar. Sudah lama ia tidak pergi bermain dengan Milky, kelinci angora putih kesayangan nenek yang dipelihara di halaman depan. Mungkin dengan pergi melihat Milky ia bisa merasa sedikit terhibur.

Sambil berjalan menuju teras depan, Sungmin mengedarkan pandangannya ke seisi rumah. Rupanya nenek belum pulang dari perkebunannya. Ini memang masih terlalu siang untuk nenek pulang, jadi Sungmin bisa memakluminya.

Ternyata memang benar, di halaman ini membuatnya sedikit tenang. Tanaman-tanaman yang asri bisa memberinya udara segar untuk menjernihkan pikirannya. Ia bisa bermain bersama Milky meski hanya sebatas memberinya makan dan.. sedikit curhat, melepaskan segala beban yang ia hadapi.

"Milky-ah, mungkin kau akan menjadi teman pertama untuk anakku nanti. Jadi kau harus banyak makan, supaya anakku nanti senang melihatmu gemuk." Ucap Sungmin sambil tersenyum pada Milky.

Milky sepertinya tidak menghiraukan ucapan sang majikan. Ia malah pergi berlari meninggalkan Sungmin yang sedang menyodorkan sebatang wortel segar padanya.

"Milky-ah kau mau kemana? Jangan menjauh!" Ucap Sungmin sedikit berteriak. Namun Milky lagi-lagi tak menaggapinya, mungkin karena keterbatasan bahasa antara manusia dan kelinci. Sungmin yang melihat Milky berlari menuju kolam ikan jadi merasa khawatir. Ia takut Milky akan tercebur jika terus kesana. Ia sangat tahu kalau Milky mudah sekali terserang flu jika terkena air berlebihan. Bahkan nenek pernah bilang kalau kelinci itu dalam tiga hari hanya mandi satu kali.

Sungmin memutuskan untuk mencegah Milky agar tidak terus berlari ke kolam ikan. Baru saja ia bangkit dari duduknya di rumput halaman, kepalanya sudah merasa pusing. Namun ia tetap saja mengejar Milky, hingga akhirnya tubuhnya tak bisa dikendalikan lagi. Sungmin hampir menghempaskan tubuhnya ke hamparan rumput di taman, namun sebelumnya sebuah tangan kekar berhasil mencegahnya terlebih dahulu. Tangan itu melingkar dari belakang tepat pada dada Sungmin dan menahannya agat ridak terjatuh. Tentu saja itu membuat Sungmin terkaget, tangan siapa gerangan yang sudah membantunya agar tidak terjatuh. Sungmin melirik kepada tangan itu yang masih melingkar di dadanya. Itu bukan tangan nenek, lalau siapa? Tapi rasanya begitu hangat di dada Sungmin.

Sungmin sudah bisa membenahi posisi tubuhnya yang setengah terjatuh. Kini ia berdiri dengan tegap meski kepalanya masih terasa pusing. Ia sudah tidak peduli lagi dengan tingkah Milky yang berlarian di sekitar kolam. Sungmin membalikkan tubuhnya ketika dirasa tangan itu sudah tidak melingkar lagi di dadanya. Kini ia sangat kaget melihat siapa orang yang ada di hadapannya, orang yang telah membantunya agar tidak terjatuh.

"Kyu.. Kyuhyun.." Sungmin tak kuat lagi menahan air matanya. Betapa ia sangat merindukan Kyuhyun. Betapa ia telah bersusah payah untuk melupakan Kyuhyun. Mencoba tersenyum meski hatinya terasa begitu sakit. Usahanya itu seperti sia-sia, mengingat kini ia tengah mengandung seorang anak dari Cho Kyuhyun. Sekeras apapun ia mencoba melupakannya, rasa sayangnya pada sang calon bayi tentu akan kembali mengingatkan pada Kyuhyun.

Air mata Sungmin terus mengalir dari mata indahnya. Namun tak ada isakan di sana. Hanya buliran air mata jernih yang dapat melambangkan kesedihannya. Kyuhyun pun menghapus air mata itu dengan telapak tangannya lalu memeluk erat namja manis yang sedang bersedih di hadapannya. Mencoba menyalurkan ketenangan dan kehangatan pada tubuh Sungmin, seseorang yang baru ia sadari bahwa ia sangat mencintainya dan memerlukannya.

"Uljima, hyung.." Tangan Kyuhyun mengusap-usap punggung Sungmin. Ia tak ingin Sungmin terus menangis. Merasakan tubuh Sungmin yang sudah tenang, Kyuhyun melepaskan pelukannya. Ia lalu menggendong Sungmin ala bridal style masuk kedalam rumah dan menuju ke kamarnya. Kyuhyun tahu Sungmin sangat lemah, ia tidak ingin membiarkan Sungmin berjalan sendiri ke kamarnya.

Kyuhyun menidurkan Sungmin di ranjangnya. Baru saja ia akan menarikkan selimut untuknya, Sungmin bangun kembali. Ia duduk di ranjangnya dengan kaki yang masih menyelonjor. Sementara Kyuhyun masih berada di sisi ranjang dengan perasaan yang cemas.

"Tidurlah, hyung.."

"Ani Kyu, aku sudah terlalu banyak tidur."

Kyuhyun mengerti, ia bisa merasakan tubuh Sungmin yang sangat lemah karena kandungannya. Pasti ia sering tidur dan ia tidak akan memaksa Sungmin untuk tidur kembali. Kyuhyun pun duduk di di tepi ranjang Sungmin dan menatap Sungmin dengan intens namun penuh kehangatan.

"Hyung.. boleh aku mengusap perutmu?" Kyuhyun sudah tidak sabar ingin menyentuh buah hatinya yang masih berada dalam kandungan Sungmin.

"Eum.." Sungmin menganggukkan kepalanya. Kyuhyun tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk merasakan kehadiran sang bayi di perut Sungmin.

"Baby-ah, ini appa. Kau merasakannya eoh? Apa kau merindukan appa? Maafkan appa karena baru mengetahui kehadiranmu." Kyuhyun benar-benar merasakan kehangatan di sana. Jantungnya berdebar kencang saat menyentuh perut Sungmin. Dadanya membuncah. Ada kebahagiaan di sana.

"Jangan seperti itu, Kyu. Kau hanya akan membuatku merasa tersiksa." Jujur Sungmin sangat bahagia mendengar perkataan Kyuhyun pada bayinya. Tapi ia takut akan berharap lebih pada Kyuhyun. Ia sadar posisinya di hadapan Kyuhyun. Kyuhyun bukanlah siapa-siapa baginya. Orang yang dicintainya itu pasti akan lebih memilih sang istri yang juga sedang mengandung anaknya.

"Tidak hyung. Biarkan aku seperti ini. Aku ingin anak kita tahu kalau appanya sangat mencintainya." Ucap Kyuhyun sedikit bersedih mendengar larangan Sungmin.

"Kau tak serius dengan uncapanmu, Kyu.." Sungmin masih ada sedikit kekhawatiran di hatinya. Takut kalau ucapan Kyuhyun memang hanya selintas kemudian dilupakannya lagi.

Kyuhyun merasa kecewa karena Sungmin tidak mempercayainya. Ia pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil minimalis yang sangat cantik. Dibukanya kotak itu dan terlihatlah sepasang cincin yang sangat elegan bertengger manis di dalamnya.

"Menikahlah denganku, hyung!" Ucap Kyuhyun sambil meyodorkan kotak berisi sepasang cincin itu ke hadapan Sungmin.

Sungmin menangis. Air matanya kembali menyeruak ke permukaan. Mengalir membasahi pipi chubbynya.

"Jangan bermain-main Cho Kyuhyun! Aku tidak mau merusak rumah tanggamu!" Sungmin sedikit marah, namun suaranya masih terdengar lemah.

Kyuhyun menutup kembali kotak cincin itu, lalu diletakkannya di atas meja nakas yang berada di samping ranjang Sungmin. Tubuhnya mendekati Sungmin dan kembali memeluk namja cantik itu.

"Kau tak pernah merusak rumah tanggaku. Vic sendiri yang merusaknya. Ia.. ia selingkuh dan mengandung anak namja lain."

Kyuhyun sedikit terisak. Sungmin kaget mendengar pernyataan Kyuhyun itu. Ia baru tahu mengetahui peristiwa tersebut. Jadi sekarang rumah tangga Kyuhyun dengan wanita itu memang sudah rusak. Sungmin sedikit lega, mungkinkah ada harapan untuknya.

Kyuhyun melepaskan pelukannya. Ia kembali menatap Sungmin dengan lembut. Diraihnya telapak tangan Sungmin dan menggenggamnya dengan erat. Ia mencoba mencoba meyakinkan Sungmin akan ketulusannya.

"Hyung, aku tak pernah merasa ada kebahagiaan dalam rumah tanggaku. Aku selalu merindukanmu. Aku ingin sekali setiap hari menemuimu. Tapi kau melarangku karena ingin melupakanku. Aku menahan kerinduanku selama ini. Hingga kemarin aku datang kemari tak peduli kau akan marah padaku. Tapi kau hanya tertidur. Dan nenek memberitahuku kalau kau mengandung anakku."

"Hyung, saranghae! Aku mencintaimu hyung, percayalah padaku. Dulu aku mengira cinta itu hanya sebatas keluarga. Tapi kini aku sadar hyung, aku mencintaimu layaknya seorang kekasih." Kyuhyun berbicara panjang lebar untuk meyakinkan Sungmin.

Sungmin tak peduli lagi apa alasan Kyuhyun. Mendengar Kyuhyun mencintainya itu sudah membuatnya merasa begitu bahagia. Sungmin kembali menangis, namun tangisan ini berbeda dari sebelumnya. Kyuhyun mengusap air mata itu dan kembali memeluknya.

"Saranghae hyung! Jongmal saranghae!" Kyuhyun terus mengucapkan kata cinta itu sambil memeluk Sungmin.

"Na do saranghae, Kyu.." jawab Sungmin sambil masih terisak dalam pelukan Kyuhyun.

Kyuhyun melepaskan pelukannya.

"Aku tahu. Aku tahu betapa besarnya cintamu padaku, hyung. Maka ijinkan aku membalas cintamu dengan yang lebih besar dari lagi." Sungmin menganggukkan kepalanya. Wajah Kyuhyun perlahan mendekati wajah Sungmin. Sungmin menyadari apa yang akan Kyuhyun lakukan, ia pun memejamkan matanya begitu saja. Kini mereka saling berciuman dengan lembut menylurkan perasaan masing-masing. Tanpa disadari ada sesosok wanita paruh baya yang melihat aksi mereka dari luar kamar sambil tersenyum. Nenek Lee. Rupanya keputusan untuk memberitahu Kyuhyun akan kehamilan Sungmin tidak percuma. Derai kebahagiaan sudah menanti di penghujung kehidupan Sungmin. Ia berdoa semoga kebahagian itu tidak pernah sirna dari kehidupan cucu tersayangnya.

"Aku seperti punya cucu seorang wanita." Nenek Lee tersenyum dan bersuara sedikit keras untuk menyadarkan Sungmin dan Kyuhyun. Kemudian ia berlalu pergi dari kegiatannya mengintip dari kamar Sungmin. Mendengar suara nenek, kedua sejoli itu melepaskan ciumannya dan tersenyum penuh arti.

"Jadi kau mau menikah denganku kan?" Tanya Kyuhyun lagi hanya ingin memastikan.

Sungmin menunduk malu. Ia benar-benar seperti seorang wanita sekarang. Bahkan isendiri merutuki nasibnya yang seperti itu. Kenapa ia tidak bisa bersikap gentle di hadapan Kyuhyun.

"Eum.. pakaikan aku cincin itu di hari pernikahan nanti." Jawab Sungmin masih sambil menunduk malu. Kyuhyun tersenyum mendengarnya.

"Nenek, aku ingin membawa Sungmin hyung kembali ke rumah umma. Jika setiap hari aku harus kemari, itu akan sangat melelahkan." Kyuhyun meminta izin pada nenek untuk memboyong Sungmin ke rumahnya. Sekarang mereka bertiga ada sedang ada di ruang tamu rumah itu.

"Kalau begitu, datanglah seminggu sekali." Ucap nenek tidak peduli.

"Tapi aku akan merindukannya, Nek!"

"Kalau begitu, kau tinggallah di sini." Nenek kembali tidak peduli.

"Tapi dari sini ke kantor sangat jauh. Itu juga akan melelahkan."

"Kalau begitu, carilah pekerjaan di sini. Kau bisa membantu nenek di usaha perkebunan."

"Tapi Nek!"

"Hahaha.. Cho Kyuhyun kau lucu sekali." Nenek Lee tertawa dengan renyahnya, membuat Kyuhyun dan Sungmin bertanya-tanya bingung.

"Bawalah Sungmin ke tempatmu. Aku juga sudah lelah mengurusinya. Belum lagi aku harus mengurusi perkebunan." Huh, ternyata nenek hanya bercanda saja pada Kyuhyun.

"Jadi nenek tidak ikhlas merawatku.." Sungmin merengkuh lengan nenek dan berkata manja padanya.

"Tidak chagy, nenek hanya bercanda." Nenek Lee mengusap rambut Sungmin dengan lembut.

"Kau harus berbahagia bersama Kyuhyun. Kau mau janji pada nenek kan?" lanjutnya lagi.

"Aku berjanji, Nek." Sungmin tersenyum dan memeluk tubuh nenek dengan penuh cinta.

"Aku juga berjanji akan membahagiakan Sungmin hyung!" Kyuhyun ikut-ikutan bicara agar nenek Lee tidak khawatir terhadap cucunya.

"Umma.. appa.. aku membawa menantu kalian!" Kyuhyun terlihat sangat senang ketika memasuki rumah keluarga Cho, rumahnya orangtuanya sendiri.

Umma dan appa Kyuhyun beranjak dari duduknya di ruang keluarga mendengar teriakan Kyuhyun tersebut. Mereka berjalan mendekati suara itu.

"Sungmin.." Umma Kyu mendekat kepada Sungmin dan memeluknya dengan erat. Setelah puas memberinya pelukan, umma Kyu menangkupkan kedua tangannya di pipi chubby Sungmin dengan mata yang berkaca-kaca.

"Min, apa kau merasa tertekan selama ini?" Tanya umma Kyu.

"Tidak, Bibi.. aku baik-baik saja." Jawab Sungmin sedikit berbohong. Ia tidak mau calon mertuanya itu khawatir.

"Hei, sekarang panggil aku umma. Kau akan menjadi menantu kami, bukan?"

"Ne, umma.." Jawab Sungmin sedikit malu.

"Kalau begitu, panggil juga aku appa!" Appa Kyu tidak mau kalah dengan istrinya.

"Ap..pa.."

Mereka berempat tertawa dengan bahagia. Sepertinya kebahagiaan akan kembali menyelimuti rumah keluarga Cho. Terlebih sebentar lagi akan hadir malaikat kecil yang akan melengkapi kebahagiaan mereka dengan tangis dan tawanya.

Tiga hari setelah Sungmin kembali ke rumah keluarga Cho, mereka pun segera melangsungkan pernikahan sederhana di sebuah gereja. Alasannya Kyuhyun tidak mau berlama-lama menjabat statusnya sebagai duda. Hanya keluarga dan teman-teman dekat di perusahaan yang diundang dalam pernikahan itu. Kyuhyun tak ingin banyak undangan karena sebelumnya ia telah memeriksakan kandungan Sungmin ke Dokter. Dokter bilang kandungannya sangat lemah, sedikit saja Sungmin memandang sesuatu yang ramai akan membuatnya pusing. Kyuhyun tidak mau itu terjadi pada Sungmin. Memang Sungmin tidak mual-mual seperti orang hamil pada umumnya, tapi sepertinya rasa pusing yang sering dialaminya jauh lebih menyiksa daripada mual-mual.

"Minnie.." Panggil Kyuhyun pada Sungmin dan mendekati tubuh istrinya itu. Sungmin sedang duduk berselonjor di atas tempat tidur karena kelelahan sehabis pesta pernikahan. Ia sedikit kaget mendengar panggilan itu.

"Kau memanggilku apa, Kyu?"

"Minnie chagy.."

"Aku bukan yeoja, Kyu!" Sungmin merasa kesal nama panggilannya berubah seperti nama yeoja. Ia mempoutkan bibirnya manis.

"Tapi panggilan itu terdengar sangat manis. Lihatlah namja mana yang bisa semanis dirimu eoh?" Kyuhyun memegang kedua pipi Sungmin.

"Aku tidak suka!" Sungmin masih bersikap datar, berharap Kyuhyun mengubah nama panggilnya.

"Tapi aku suka.. ayolah chagy!" Kyu sedikit merajuk agar Sungmin mau dipanggilnya Minnie.

"Kalau begitu, biarkan aku memanggilmu Evil Kyu, hehehe.." Sungmin tertawa sendiri menyebut nama panggilan untuk suaminya itu.

"Ya! Aku tidak evil, Minnie!"

"Kau tidak evil, tapi lihatlah! Wajahmu benar-benar seperti evil!" Tangan Sungmin juga meraih pipi Kyu, lalu menggoyang-goyangkannya ke kanan dan ke kiri. Ia ingin memngembalikan perlakuan Kyuhyun padanya tadi.

"Ah, terserah kau saja!" Kyuhyun menjadi cemberut dibuatnya. Ia kemudian masuk ke dalam selimutnya.

"Oke, berarti aku akan terus memanggilmu Evil Kyu. Hehe.." Sungmin pun ikutan masuk ke dalam selimut dan merebahkan tubuhnya.

Tiba-tiba Selimut dari sisi Kyuhyun tersibakkan. Kyuhyun menatap Sungmin yang sudah mulai memejamkan matanya.

"Minnie-ah, ini malam pertama kita bukan?" Tanya Kyuhyun pada istrinya. Ia yakin kalau Sungmin belum tidur meski matanya terpejam.

"Eum, waeyo?" Tanya Sungmin masih dengan mata terpejam. Kyuhyun tersenyum karena pertanyaannya dijawab oleh Sungmin.

"Ayo kita melakukan itu!" Sungmin terbelalak, matanya terbuka dan mengerjap-ngerjam dengan indah. Ia tidak sadar kalau Evil di hadapannya itu bisa saja langsung menerkamnya.

"Eh? Ta..tapi aku sedang hamil, Kyu.."

"Bukankah kau juga dengar, dokter tidak melarangmu melakukan itu. Hanya saja jangan melakukan terlalu sering."

"Tapi Kyu.."

"Hanya satu kali, otte? Masa kita mau melewatkan malam pertama begitu saja?" Kyuhyun sedikit merayu.

"Tapi aku… ehmp.. kyuh.." belum selesai Sungmin bicara, mulutnya sudah dikunci oleh bibir Kyuhyun.

.

.

TBC

Buat readers yg udah setia review ff MiNa, review lagi ya ^^

Mianhae ga bisa bales review kalian semua, huhu...