Title: SS501 Story HyunMin Ver.

Author: Bluedevil9293 a.k.a Dean Choi a.k.a Ayumu Sakurazawa.

Part: 4 / ?

Rated: T.

Cast: Kim Hyun Joong & Park Jung Min

Genre: Romance, Drama.

Warning: Yaoi, Shonen-ai, Boys Love, BoyXBoy, Typo, Gaje, M-preg Don't Like Don't Read.

Summary: Hyun Joong stress berat akibat Jung Min yang terus-terusan mengejar-ngejar dirinya. Sampai-sampai ia harus menikahi namja manis satu itu karena sebuah kejadian fatal yang telah mereka berdua perbuat. HyunMin SS501 Couple, Yaoi, BL, rated M.

^_^ Aborsi ^_^

Author Pov…

Hyun Joong berjalan pelan sambil memandangi sekelilingnya. Semua serba putih. 'Ini surga kah?' pikir Hyun Joong. Ia tak tahu bagaimana mulanya hingga ia bisa sampai ditempat serba putih itu. Walau pun tempat itu didominasi dengan warna putih, tapi tetap saja terdapat kesan menentramkan hati dari tempat yang tak ia ketahui dimana itu.

Hyun Joong terus berjalan sambil menatap ke daerah disekitarnya hingga matanya kini menatap lurus pada seorang anak kecil yang tampak sedang asik bermain kapal-kapalan disebuah sungai kecil yang lagi-lagi airnya sangat putih bagaikan susu. Hyun Joong menatap anak tadi dengan tatapan tajam. Ia telusuri setiap lekuk tubuh anak kecil tadi, satu hal yang dapat ia simpulkan. Anak itu sangat mirip dengan dirinya dan juga Jung Min. Sebenarnya siapa gerangan namja kecil didepannya kini itu?

Hyun Joong masih terus menatap namja kecil tadi sambil berjalan mendekatinya hingga kini jarak keduanya hanya terpaut lima langkah saja. Hyun Joong terdiam ditempatnya sambil terus menatap anak kecil tadi. Namun dengap perlahan anak kecil yang sedang asik bermain itu menolehkan pandangannya kearah Hyun Joong. Anak kecil tadi tersenyum manis pada Hyun Joong, sebuah senyuman yang sama seperti yang sering ia lihat dari dongsaengnya Jung Min.

"Appa kemari, temani aku bermani" kata anak tadi riang sambil berlari kearah Hyun Joong lalu menarik tangan namja tampan itu untuk ikut mendekati tepian sungai dan bermain bersama. Awalnya Hyun Joong cukup kaget saat mendengar anak kecil tadi memanggil dirinya dengan sebutan 'Appa'. Namun perlahan ia pun mulai terhanyut dalam kenyamana yang entah bagaimana bisa cukup ia nikmati.

Hyun Joong duduk disebuah batu besar yang terdapat dipinggir sungai sambil menatap anak kecil tadi yang masih terus bermain dengan kapal-kapalannya. Hyun Joong tanpa sadar tersenyum lebar saat melihat tingkah mengemaskan anak kecil yang tadi sempat memanggilnya 'Appa'. Senyuman Hyun Joong terhenti saat ia melihat posisi anak kecil didepannya yang sangat membahayakan. Anak kecil itu bisa jatuh kapan saja kedalam sungai, pikir Hyun Joong.

"Hey, awas.!" Seru Hyun Joong yang langsung berlari mendekati anak kecil tadi yang nyaris saja terjatuh. Hyun Joong Mengengam salah satu tangan anak kecil tadi dengan erat.

"Huft… Gomawo appa, hampir saja tadi aku terjatuh ke dalam Arrggghhhtt…" teriak anak kecil itu lagi saat ia kembali terpeleset dan hampir jatuh kedalam sungai yang entah kenapa dengan perlahan sungai tadi tampak semakin dalam. Hyun Joong dengan paniknya masih mengengam tangan anak tadi.

Hyun Joong tak tahu kenapa tiba-tiba saja semua suasana serba putih tadi perlahan berubah menjadi hitam kelam. Dan saat ini posisi keduanya sedang berada di pinggir jurang. Hyun Joong sedang berusaha menarik anak kecil yang ternyata hampir terjatuh dari jurang tadi. Dibawah sana, tepatnya dibawah jurang itu Hyun Joong bisa melihat sebuah tempat yang sangat mengerikan.

"Tenanglah, aku akan berusaha menarikmu keatas sini" kata Hyun Joong kepada anak kecil yang saat ini berusaha ia tarik dengan sekuat tenaga.

"Appa, aku takut" anak tadi mulai menangis, Hyun Joong pun sedikit kasihan pada anak tadi. "Appa cepat tolong aku, aku belum mau mati" kata anak tadi lagi.

"Ku mohon tenanglah, aku akan berusaha menolongmu" kata Hyun Joong berusaha mengangkat tubuh kecil anak yang hampir masuk kedalam jurang tadi.

"Appa, jangan bunuh aku" kata anak tadi sambil terus terisak.

"Tak akan, bertahanlah ku mohon" pinta Hyun Joong sambil terus berusaha menarik anak tadi keatas. "Ku mohon bertahanlah…. Tolong… Jangan putus asa" kata Hyun Joong lagi.

"Tidak… Uh… Bertahanlah…" Hyun Joong semakin panik saat merasakan gengaman tangan anak tadi pada tangannya sedikit melonggar dan hampir terlepas.

"Appa, jangan bunuh aku" pinta anak itu. Dan perlahan gengaman tangan keduanya terlepas. Anak tadi pun jatuh kedalam jurang tepat didepan mata Hyun Joong.

^_^ Aborsi ^_^

"Tttttiiiiidddddaaaakkkkk…." Teriak Hyun Joong lantang, ia segera bangun dari posisi berbaringnya jadi terduduk. "Huh.. Huh… Huh… Huh… Huh…" Hyun Joong berusaha mengatur nafasnya yang sangat memburu. Ia baru sadar kalau ternyata barusan ia sedang bermimpi sangat buruk. Ia bermimpi bertemu dengan anak yang sangat mirip dirinya dan Jung Min. Dari mimpi tadi Hyun Joong masih bisa mengingat dengan jelas permintaan sang anak yang tak ingin di bunuh. Anak itu meminta padanya dengan wajah yang sangat memelas, dan itu semua tak bisa ia lupakan begitu saja.

"Huh… Huh… Huh… Ternyata hanya mimpi saja" kata Hyun Joong pelan sambil mengusap wajahnya yang penuh dengan peluh yang mengalir dengan sedikit deras. "Tapi kenapa semua terasa begitu nyata. Dan anak itu… Arrgghhttt… Aku jadi kacau karena pernyataan Jung Min tadi sore" kata Hyun Joong frustasi sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Hyun Joong pun kembali teringat dengan kata-kata Jung Min padanya tadi sore.

"Cukup hyung, aku terlalu tersakiti saat ini"

"Aku akan melakukan aborsi hyung"

"Aku sudah menemukan seorang dokter yang mau melakukan aborsi untukku. Besok datang saja ke Inha Hospital kalau hyung bersedia mendampingiku"

"Aborsinya akan dilakukan pukul sepuluh pagi besok hyung. Aku berharap hyung bersedia datang. Annyeong"

Semua kata-kata Jung Min itu terus berputar-putar dalam ingatan Hyun Joong bagaikan kaset rusak yang tak mau dihentikan dan terus saja berputar serta mengingatkan pada dirinya potongan-potongan memori yang terjadi beberapa saat yang lalu. Dari semua potongan-potongan memori itu, Hyun Joong masih mengingat dengan sangat jelas bagiamana raut kesedihan dan kekecewaan yang terpancar begitu jelas dari wajah manis Jung Min yang sudah berubah menjadi muram. Dan ia lah penyebab hilangnya wajah manis tadi.

"Jung Min" ucap Hyun Joong pelan sambil kembali mengusap wajahnya dengan perlahan. "Mianhae… Aku memang bukan hyung yang baik bagimu" kata Hyun Joong dengan nada cukup menyesal.

"Apa tadi itu pertanda ya?" Tanya Hyun Joong pada dirinya sendiri. "Aku bisa dengan jelas merasakan kesedihan pada wajah anak tadi. Kesedihan yang sama seperti yang ku lihat pada wajah manis Jung Min yang entah sudah sejak kapan tak ku lihat lagi wajah manis itu. Yang ada tinggallah wajah muramnya saja" kata Hyun Joong sedih.

"Dosakah aku bila bersikap begini pada Jung Min? Tuhan… Buat aku mengambil sebuah keputusan yang terbaik. Sebuah keputusan yang tak akan membuatku menyesal dikemudian hari" kata Hyun Joong lagi. Hyun Joong kembali mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Setelah itu ia segera menatap kearah jam digital yang terpajang rapi diatas meja yang berada disamping tempat tidur king size miliknya.

"Pukul satu lewat Sembilan" ucap Hyun Joong pelan. Ia yang merasa masih sedikit mengantuk pun segera merubah posisinya kembali menjadi berbaring. Sebisa mungkin ia mencari posisi yang nyaman untuk menyambung tidurnya yang tadi sempat tergangu. Tak lama setelah Hyun Joong mencoba memejamkan matanya, ia pun akhirnya mulai tertidur.

^_^ Aborsi ^_^

Jung Min Pov…

Disinilah aku sekarang berada. Tepat didepan sebuah rumah sakit yang akan menjadi tempat dimana aku mengambil sebuah keputusan yang sangat besar. Aborsi, itu tulah keputusan besar yang sebenarnya sangat sulit untukku ambil. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak mungkin membesarkan anak ini sendirian. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya kalau aku menjadi single parent bagi anak yang tengah ku kandung ini. Pasti aku tak akan kuat menjalani itu sendirian. Karena itulah aku mengambil jalan terbodoh ini.

'Oh baby, maafkan umma ya aegya' kataku dalam hati seraya membelai lembut perut datarku. Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Setelah itu dengan langkah perlahan aku mulai masuk kedalam rumah sakit menuju kebagian informasi dan mendaftarkan proses aborsi yang ku inginkan. Setelah mendaftarkan semuanya, aku menunggu namaku akan dipanggil nantinya.

"Nyonya Park Jung Min" panggil seorang suster tak lama setelah aku mulai menunggu tadi. Aku pun segera mendekati suster yang menyerukan namaku itu. Sebenarnya aku sedikit aneh dengan panggilan 'Nyonya' tadi, biar bagaimana pun kan aku ini seorang namja bukan yeoja. Tapi tak apalah, toh suster itu tak akan tahu kalau aku ini namja karena aku sedang menyamar saat ini. Paling juga dokter yang akan mengoprasiku nanti saja yang tahu kalau aku ini namja.

"Selamat pagi" sapa suster tadi, aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman manis saja. "Apa nyonya yakin ingin mengugurkan kandungan anda? Apa anda sudah memikirkan semuanya kembali?" Tanya suster tadi, aku hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. Dan tampaknya suster itu mengerti dengan maksud angukan kepalaku tadi. Buktinya saja ia sedikit menghela nafas, kecewa mungkin.

"Kalau anda sudah sangat yakin dan tak akan menyesal natinya, tanda tangan dan berilah stempel dibagian sebelah sini" kata suster itu sambil menyerahkan selembar kertas yang setelah ku baca ternyata itu adalah surat keterangan aborsi. Setelah membacanya aku pun langsung menandatangani surat tadi tepat di tempat yang suster itu minta.

"Apa anda sendiri?" Tanya suter itu padaku yang ku jawab dengan anggukan kepala saja. "Lebih baik anda menghubungi ayah dari anak anda agar ia bisa mendampingi anda nanti" saran sang dokter dan aku kembali menganggukan kepalaku. Suster tadi tersenyum ramah padaku. "Karena semua persiapan operasi sedang disiapkan, nyonya bisa menunggu sebentar ya" kata suster itu lagi, dan aku lagi-lagi hanya menganggukan kepala lalu berjalan menuju ruang tunggu dan duduk disalah satu bangku yang ada disana.

Saat ini aku bisa melihat sekelilingku penuh dengan para ibu-ibu hamil yang tampak sangat bahagia menantikan kelahiran anak-anak mereka. Ibu-ibu hamil disekitarku sangat beragam dari yang perutnya masih terlihat rata seperti diriku sampai yang sudah tampak membesar. Dan ku perkirakan pasti umur kandungannya sekitar delapan atau Sembilan bulan. Selain itu, ada juga para ibu-ibu yang sedang membawa anak bayi mereka untuk diperiksa bulanan. Satu hal yang terlintas dalam otakku, bayi-bayi itu sangat lucu. Apakah bila anak dalam rahimku ini lahir akan selucu mereka ya?

Aku membuka dan menutuk flip handphone miliku berkali-kali. Aku jadi sedikit terpikir dengan kata-kata suster tadi yang menyuruhku untuk memanggil appa bayi yang sedang ku kandung ini. Apa aku harus menghubungi Hyun Joong hyung dan menyuruhnya datang kemari untuk mendampingiku ya? Tapi kalau ku hubungi dia apa dia mau datang kemari? Entahlah, sepertinya itu semua akan percuma saja. Lebih baik aku tak menghubunginya saja. Kalau dia mau datang, ya datanglah. Aku pasti akan sedikit senang bila ia datang. Apa lagi bila ia datang untuk mencegah niat bodohku ini, pasti aku akan sangat bahagia.

^_^ Aborsi ^_^

Tiga orang namja yang tak lain adalah Young Saeng, Kyu Jong dan Hyung Jun berlari dengan sedikit terburu-buru menuju kamar apartement milik Hyun Joong. Mereka bertiga tahu kalau nanti jam sepuluh pagi Jung Min akan melakukan semua niat bodohnya yang tak lain adalah aborsi. Ketiganya tak mau Jung Min melakukan itu, dan jadilah sekarang mereka berlari menuju apartement Hyun Joong dan merayu hyung mereka itu untuk mengagalkan usaha gila Jung Min.

"Hyung cepat buka pintunya" kata Hyung Jun sedikt memaksa pada Young Saeng yang sedang berusaha membuka pintu apartement milik Hyun Joong dengan kunci miliknya.

"Sabar sedikit kenapa sih" kata Young Saeng, dan akhirnya pintu pun terbuka. Ketiganya langsung masuk kedalam apartement dengan sedikit terburu-buru. Mereka bertiga langsung berjalan menuju kamar Hyun Joong. Ketiganya yakin kalau hyung mereka itu pasti masih terlelap padahal saat ini jam sudah menunjukan pukul Sembilan lewat dua puluh lima menit. Dan benar saja dugaan mereka, Hyun Joong masih terlelap diatas tempat tidurnya dengan sebuah selimut hangat yang mengulung tubuhnya. ketiganya pun langsung mendekati hyung mereka itu dan berusaha membangunkannya.

"Hyung… bangun hyung… bangun…" ketiga namja tadi terus mengoyang-goyangkan tubuh Hyun Jong dengan sedikit brutal hingga membuat namja tampan tadi mengeliat tak nyaman. Lalu dengan perlahan Hyun Joong pun mulai membuka matanya dan menatap heran pada ketiga dongsaengnya yang entah sejak kapan sudah ada didepannya.

"Kalian, kenapa ada disini?" Tanya Hyun Joong heran. Merubah posisi tidurnya jadi terduduk sambil mengucek-ngucek matanya sesekali.

"Hyung cepat sadar dan pergilah ke rumah sakit" suruh Kyu Jong sedikit memaksa.

"Memangnya kenapa aku harus ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" Tanya Hyun Joong polos karena ia belum sepenuhnya sadar.

"Hyung ayo cepat selamatkan anakmu" paksa Young Saeng sambil menarik tangan kiri Hyun Joong.

"Anak?" pikir Hyun Joong heran. "MWO.!" Teriak Hyun Joong lantang saat akhirnya ia teringat dengan Jung Min. Dengan secepat kilat ia pun turun dari atas tempat tidur hendak pergi menuju tempat dimana Jung Min kini berada setelah sebelumnya ia sempat melirik pada jam digital miliknya yang menunjukan jam Sembilan lewat tiga puluh tiga menit.

"Hyung tunggu" cegah Young Saeng sambil mengejar Hyun Joong keluar kamar.

"Waeyo?" Tanya Hyun Joong heran.

"Ganti bajumu dulu, masak mau ke rumah sakit pakai baju tidur begitu" kata Young Saeng mengingatkan.

"Nggak akan keburu Younggie" kata Hyun Joong singkat.

"Tapi setidaknya pakai ini" kata Young Saeng sambil melemparkan mantel tebal miliknya.

"Dan pakai ini juga hyung" kata Hyung Jun sambil memberikan beberapa alat penyamaran pada Hyun Joong.

"Gomawo" kata Hyun Joong pada kedua dongsaengnya itu. Setelah berkata seperti itu, Hyun Joong pun segera beranjak pergi lagi.

"Hyung tunggu" kini giliran Kyu Jong lah yang memanggil namanya saat Hyun Joong sudah berada di depan pintu apartementnya sendiri. Hyun Joong pun menatap Kyu Jong dengan sedikit kesal karena ia kembali dihentikan.

"Apa lagi?" Tanya Hyun Joong dengan nada sedikit kesal.

"Tangkap" kata Kyu Joong sambil melemparkan sebuah kunci mobil pada Hyun Joong yang dengan refleks ditangkap oleh namja tampan itu. "Pakai mobilku saja ke rumah sakitnya hyung, tadi aku mencari kunci mobil hyung tapi nggak ketemu" kata Kyu Joong. Hyun Joong tersenyum pada ketiga dongsaengnya itu.

"Gomawo" kata Hyun Joong lagi.

"Kita nggak butuh kata terima kasih hyung, yang kita butuhkan itu Jung Min ada disini lengkap dengan kehidupan didalam perutnya" kata Young Saeng.

"Ya, do'akan saja aku nggak telat" kata Hyun Joong.

"Good Luck hyung" kata Hyung Jun. Hyun Joong menganggukan kepalanya lalu segera pergi menuju mobil milik Kyu Jong. Ia menjalankan mobil tadi dengan sedikit cepat. Ia buru-buru, tak ingin terlambat walau pun itu hanya sedetik saja.

Berkat mimpi anehnya semalamlah yang kini berhasil membuat Hyun Joong panik setengah mati. Ia tahu akan kesedihan anaknya yang ada didalam kandungan Jung Min, karena itu lah ia berharap bisa menyelamatkan apa yang memang seharusnya ia selamatkan.

^_^ TBC Again ^_^