Title: SS501 Story HyunMin Ver.
Author: Bluedevil9293 a.k.a Dean Choi a.k.a Ayumu Sakurazawa.
Part: 5 / ?
Rated: T.
Cast: Kim Hyun Joong & Park Jung Min
Genre: Romance, Drama.
Warning: Yaoi, Shonen-ai, Boys Love, BoyXBoy, Typo, Gaje, M-preg Don't Like Don't Read.
Summary: Hyun Joong stress berat akibat Jung Min yang terus-terusan mengejar-ngejar dirinya. Sampai-sampai ia harus menikahi namja manis satu itu karena sebuah kejadian fatal yang telah mereka berdua perbuat. HyunMin SS501 Couple, Yaoi, BL, rated M.
^_^ Usaha ^_^
Hyun Joong Pov…
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan yang cukup kencang, sering kali beberapa kendaraan lain membunyikan klakson mobil mereka karena geram melihat cara menyetirku yang sedikit ugal-ugalan ini. Aku mengendarai mobil seolah-olah jalanan ini milikku saja. Sepertinya aku memang harus sedikit memperhatikan cara menyetirku. Aku juga harus memperhatikan para pengendara lainnya bukan. Akhirnya aku pun menurunkan kecepatan mobilku sebelum akhirnya aku di tilang dan tak bisa menemui Jung Min lalu mulai menyesal seumur hidupku.
Jangan salahkan aku karena semua itu tadi. Salahkan saja niat bodoh Jung Min yang ingin membunuh anaknya sendiri… eugh.. salah, maksudku anak kami bukan hanya anaknya saja tapi anakku juga. Ya anak kami yang kini ada didalam rahimnya yang usianya masih menghitung minggu itu. Aish… Oke… Oke… Awalnya memang aku yang salah, aku lah yang tak mau bertanggung jawab dan menikahinya. Aku lari dari kenyataan yang ada, kenyataan kalau aku sebentar lagi akan menjadi seorang appa. Dan sialnya lagi, kini aku menjadi appa yang tak bertanggung jawab karena membiarkan anaknya diambang kematian begitu saja.
Semua ini karena mimpiku semalam yang sangat aneh. Mimpi bertemu seorang bocah laki-laki yang memintaku untuk menyelamatkan dirinya dan tak membunuhnya. Mana mungkin aku bisa melupakan semua mimpiku semalam dengan begitu saja kalau bayangan kesedihan anak tadi dan juga bayangan kesedihan Jung Min selalu berputar didalam memori otakku dan tak mau berhenti-berhenti. Anak itu sangat mirpi dengan ku dan juga Jung Min. Sebuah perpaduan sempurna antara kami berdua. Mungkin saja dia memang anak yang kini ada dirahim dongsaeng baboku itu. Anakku dan juga Jung Min tentunya, bukankah kami membuatnya bersama-sama. Jadi mau tak mau dia juga darah dagingku bukan.
"Arrgh… Sial.!" Umpatku kesal. Bagaimana tidak, saat ini aku terjebak macet. Oh ayolah… ini Seoul bukan Jakarta. Kenapa harus macet mendadak seperti ini. Hey, aku punya urusan mendesak yang sangat berhubungan dengan nyawa seseorang nih. Lebih tepatnya dengan nyawa anakku sendiri yang akan segera dibunuh oleh umma yang sedang mengandungnya. Jadi please… jangan buat masalah lagi dong.
Dengan sedikit kesal aku menkan klakson mobilku berkali-kali tapi tetap saja percuma. Akhirnya aku pun turun dari mobilku dan melihat keadaan didepan sana. Aku sedikit penasaran apa sih yang menyebabkan kemacetan mendadak ini. Aku pun berjalan pelan kearah keramaian didepanku. Setelah sedikit memaksa untuk terus maju kedapan, akhirnya aku bisa melihat semua penyebab kemacetan ini.
Yups, didepanku kini sedang terpasang garis polisi. Sedang ada kecelakaan beruntun ternyata. Ada sekita enam mobil yang tampak dalam keadaan mengenaskan didepanku saat ini. Pentesan saja jadi macet mendadak seperti ini. Sepertinya ini semua tak akan selesai dalam waktu beberapa menit saja bila melihat banyaknya korban yang diakibatkan kecelakaan itu. Dan itu berarti pertanda buruk buatku. Mobilku akan terus kejebak kemacetan ini. Oh ayolah, Jung Min tunggu aku sebentar lagi jangan bunuh anak kita dahulu.
"Permisi ahjumma, boleh tahu sekarang jam berapa?" tanyaku pada seorang ibu-ibu yang sedang berada disampingku. Wanita yang ku sapa tadi pun segera melirik kearah jam yang melingkar di pergelangan lengan sebelah kirinya.
"Sembilan lewat lima puluh lima menit" jawab wanita tadi ramah.
"Ah, gomawo ahjumma" kataku pada wanita tadi, ia mengangguk pelan. Setelah itu aku langsung menyingkir dari kerumunan masa ini. Masih ada yang harus kulakukan dari pada hanya diam menyaksikan kecelakaan tadi. Aku kan harus segera ke Inha Hospital dan menyelamatkan semuanya sebelum aku menyesal seumur hidupku.
"Sial, aku nggak akan punya cukup waktu untuk sampai disana dengan segera. Sekarang aku hanya bisa berharap Jung Min belum melakukan oprasi itu sampai aku datang kesana" harapku dalam hati sambil berusaha keluar dari kerumunan masa yang masih memadati tempatku tadi.
"Kalau aku lari dari sini sampai ke Inha Hospital paling cepat aku baru sampai disana tiga puluh lima menit lagi. Tapi tak ada salahnya kalau aku mencobanya bukan" kataku pelan lalu mulai berlari menyusuri jalan menuju rumah sakit dimana Jung Min kini berada.
^_^ Usaha ^_^
Jung Min Pov…
Aku melirik jam yang melingkar sempurna di pergelangan lengan kiriku berulang-ulang kali, jam tadi tepat menunjukan pukul sepuluh lewat dua puluh lima menit. Entah sudah berapa lama aku menunggu dirumah sakit ini. Aku terus menunggu dengan perasaan takut yang terus bertambah seiring waktu yang juga terus berjalan dengan perlahan namun pasti.
Aku takut… sangat takut malahan. Aku tak tahu kemana perginya semua keberanianku yang semula terkumpul didalam hatiku saat aku memutuskan untuk melakukan aborsi. Padahal tadi sebelum aku berada ditempat ini aku masih dengan semangatnya ingin melakukan semua hal itu, tapi sekarang aku malah merasa sangat takut. Entah kenapa aku merasa sedikit takut saat ini. Apa lagi kalau mengingat opeasi menyakitkan itu sebentar lagi akan terlaksana. Aku butuh seseorang yang bisa menenangkan rasa takutku ini sekarang, tapi sayangnya aku tak tahu siapa orang yang tepat untuk melakukannya. Bukan Young Saeng dan Kyu Jong hyung, bukan Hyung Jun bukan pula Hyun Joong hyung.
Kalau boleh berharap, aku ingin saat ini bisa melihat Hyun Joong hyung disini. Aku sangat yakin, walau hanya melihat saja pasti aku sudah merasa sangat tenang. Aku tak mau berharap lebih seperti berharap Hyun Joong hyung datang kemari secara tiba-tiba lalu mengagalkan semua niatku untuk melakukan aborsi. Aku sudah takut berharap lebih, aku takut tersakiti lagi. Dua kali aku ditolak begitu saja oleh Hyun Joong hyung. Dan aku tak mau merasakan rasa sakit dari sebuah kekecewaan lagi.
Tapi aku benar-benar berharap kalau Hyun Joong hyung akan datang kemari untuk menemaniku melakukan aborsi ini. Setidaknya aku bisa sedikit merasa puas kalau ia memang benar-benar datang. Kalau itu terjadi berarti dia memang masih menganggap bayi ini ada di tengah-tengah hubungan kami yang tak ada apa-apanya ini. Walau pun ia tak mau mengangap anak ini sebagai anaknya atau apa lah itu, setidaknya temani aku disini hyung. Harapku dalam hati.
"Hay… Mau periksa kandungan juga?" sebuah sapaan ramah terdengar olehku dari seorang wanita muda yang sedang duduk disampingku. Aku hanya tersenyum padanya lalu menganggukkan kepalaku pelan. Aku bisa melihat perut besarnya saat ini. Dan ku tebak pasti usia kehamilanya kalau tidak tujuh bulan berarti ya delapan bulan.
"Sudah berapa lama masa kehamilanya?" Tanya wanita muda itu lagi. Sepertinya wanita ini memang banyak ingin tahu ya. Aku memandangi wanita muda disampingku ini, wajahnya masih terlalu muda untuk menjadi seorang umma. Ku perkirakan mungkin usia wanita ini masih sekita dua puluh sampai dua puluh satu tahun.
"Lima minggu" jawabku pelan sambil mengelus perut rataku dengan perlahan. "Kalau kamu?" tanyaku berbasa-basi pada wanita disampingku ini.
"Delapan bulan lebih, hampir Sembilan dan sebentar lagi akan segera lahir" kata wanita itu sambil tersenyum ramah padaku. Tampak sekali kalau dia seperti sudah tak sabar menantikan kelahiran anaknya sendiri. Andai aku juga bisa seperti wanita ini, menantikan kelahiran sang buah hati dengan penuh rasa tak sabar serta penasaran. Tapi semua angan-angan itu harus ku enyahkan jauh-jauh dari pikiranku mengingat apa tujuanku sebenarnya datang ke rumah sakit ini.
"Suamimu mana? Kenapa tak ikut menemani juga? Bukankah kamu sudah hamil tua seperti sekarang" kataku lagi, wanita ini masih saja menampakkan senyuman dibibirnya padaku. Santai sekali dia, pikirku lagi.
"Aku tak memiliki suami" kata wanita itu. Ups… aku tak tahu kalau ia juga sama denganku, sama-sama tak punya suami. Jadi tolong maafkan aku atas ke tidak sopananku tadi.
"Mianhae, aku tak bermaksud menyingungmu" kataku menyesal.
"Tak apa, aku nggak merasa tersinggu kok. Lagian memang sudah kenyataan kalau aku tak memiliki suami" kata wanita itu dengan senyuman yang terus ia perlihatkan. Sepertinya ia cukup menikmati hidupnya dan tak membuat hidupnya itu menjadi susah. Beda sekali dengan diriku.
"Mianhae, kalau boleh tahu memangnya appa dari anakmu kemana?" tanyaku pada wanita tadi. Aku tahu tak sopan bertanya seperti itu, tapi aku sangat penasaran. Dan sifat ingin tahu ku ini sudah tak bisa terbendung lagi.
"Anak yang ku kandung ini buah cintaku dengan kekasihku dulu. Sebenarnya kami hampir menikah, tapi ternyata Tuhan berkata lain. Kekasihku menderita sebuah penyakit parah dan dua minggu sebelum pernikahan kami ia sudah dipanggil ke surga oleh yang maha kuasa…" kata wanita itu mulai bercerita. Aku sedikit kaget saat ia mulai bercerita. Ku pikir ia tak akan mau membagi ceritanya yang seharusnya menjadi rahasianya saja itu padaku.
"… Awalnya aku begitu terpuruk hingga hampir mengalami keguguran. Namun dengan perlahan aku bangkit demi anak yang dititipkan kekasihku ini. Aku nggak akan menyia-nyiakan semua kesempatan yang ada. Anak ini anugerah untukku" kata wanita tadi dengan mudahnya. "Mianhae, aku malah jadi curhat ke kamu" kata wanita itu.
"Tak apa, malahan aku yang seharusnya meminta maaf karena sudah dengan lancang mengetahui kisah menyedihkanmu itu. Tapi aku salut padamu, kamu masih bisa bertahan. Kalau aku yang jadi kamu pasti aku nggak akan bisa setegar kamu" kataku apa adanya. Jangankan seperti wanita ini, menjadi diriku sekarang aja aku nggak bisa tegar. Oh… aku ingin bisa setegar wanita satu ini dalam melewati semua cobaan yang menimpa diriku ini.
Wanita tadi tertawa pelan saat mendengar kata-kata ku barusan. "kenapa tertawa?" tanyaku heran. "Aku serius, lho" tambahku lagi.
"Lucu saja mendengar kata-kata kamu tadi, sudah seharusnya bukan kalau kita jadi tegar meghadapi semua masalah yang ada" kata wanita itu. Yah, yang dikatakan wanita ini ada benarnya juga. Tapi semua itu pengecualian terhadapku. Aku nggak akan bisa tegar dengan semudah itu.
"Yah, kamu benar juga sih" kataku pelan. Wanita itu kembali tertawa lagi. Oh… aku ingin seperti dia yang hidupnya bisa ia bawa dari yang seharusnya kelam menjadi berwarna. Kapan aku bisa mewarnai hidup kelamku ini lagi, pikirku.
"Oh ya, namaku Lee Hye Sung" kata wanita tadi sambil mengulurkan tangan kananya padaku.
"Park Jung Min" kataku sambil menyambut tangannya. Kami bersalaman sesaat.
"Wah… nama Onnie mirip nama salah satu penyanyi favoritku, lho" kata Hye Sung membuatku sedikit terkejut. Wah… sepertinya dia salah satu fans girlku. Tapi jangan sampai dia tahu siapa sebenarnya aku, bisa gawat nanti.
"Hanya mirip saja kan" kataku gugup. "Eh, tunggu. Tadi kamu manggil aku apa? Onnie?" tanyaku ulang karena sedikit ganjil dengan panggilan itu. Sekalian mengalihkan pembicaraan sih sebenarnya.
"Hn… Kalau ku lihat sepertinya kamu lebih tua dariku. Jadi bolehkan kalau ku panggil onnie" kata Hyue Sung kembali memamerkan senyumannya itu.
"Ne, tentu saja" kataku. Nggak mungkinkan aku menolaknya lalu ngotot minta di panggil Oppa. Bisa-bisa dia tahu siapa aku ini.
"Onnie, sudah dulu ya. Namaku sudah di panggil oleh dokter" kata Hye Sung, aku pun langsung menganggukan kepalaku pelan.
"Semoga bayimu sehat-sehat saja ya" kataku pada Hye Sung, dia mengangguk pelan.
"Onnie juga, semoga bayinya sehat. Annyeong Onnie, sampai ketemu lain kali" katanya pelan sambil tersenyum lagi padaku.
"Annyeong" jawabku, setelah itu ia pun langsung pergi meninggalkanku sendiri lagi. Huft… dengan malas aku menghembuskan nafasku sedikit panjang sambil mengelus-elus peruku pelan. Aku masih menunggu giliranku untuk dipanggil oleh dokter. Entah kenapa sampai detik ini namaku belum juga di panggil-panggil.
"Sepuluh lewat empat puluh" kataku pelan sambil melirik jam tanganku. Sudah lewat empat puluh menit dari jam yang seharusnya. Aku tak tahu apa saja yang para dokter itu lakukan. Mereka seperti sengaja mengulur-ulur waktuku untuk melakukan aborsi ini. Yah, aku tahu sih kalau saat ini sedang banyak pasien jadi mungkin saja para dokter-dokter itu sedang sibuk mengurusi satu persatu para wanita hamil lainnya terkecuali aku yang seorang namja tentunya.
"Nyonya Park Jung Min, giliran anda. Silahkan ikut saya" kata seorang suster. Akhirnya setelah menunggu sangat lama, namaku pun akhirnya di panggil juga. Aku segera beranjak dari tempatku duduk tadi lalu dengan perlahan mulai melangkah mendekati suster tadi.
"Silahkan masuk, dokter Shin sudah menunggu anda didalam" kata suster tadi ramah. Aku pun menganggukan kepalaku lalu berjalan memasuki ruangan dimana sebelumnya suster tadi sudah terlebih dahulu masuk kedalamnya. Sebelum ikut masuk aku sempat menoleh kebelakuaknku berharap Hyun Joong hyung tiba-tiba menunjukan sosoknya disana.
"Sepertinya percuma untuk berharap lagi" kataku pelan lalu kemudian masuk kedalam ruangan bersama suster yang tadi memanggil namaku.
^_^ TBC Again… ^_^
